Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

PROFIL DAN SINOPSIS BUKU PENDAKIAN GUNUNG TERBAIK; DUNIA BATAS LANGIT

Salah satu buku pendakian gunung terbaik di Indonesia yang membahas sejarah dunia mountaineering secara lengkap adalah Dunia Batas Langit. Ini adalah satu-satunya buku yang ditulis oleh penulis tanah air dengan cakupan bahasan komplit tentang pendakian gunung.

Lantas apa saja isi buku mendaki gunung Dunia Batas Langit?

Berikut profil, isi dan sinopsisnya.

Sinopsis Buku Pendakian Gunung Terbaik: Dunia Batas Langit

Source: Arcopodo Journal

Orang-orang dengan jaket tebal, kacamata berwarna, menggenggam kapak es, harness dan carabiner menghiasi pinggang, berjibaku meniti punggungan gunung dalam sebuah perjuangan menuju puncak. Ada yang mencapai puncak dengan mudah, ada yang mengambil jalan sulit, bahkan ada pula yang kemudian harus kehilangan nyawa dalam upaya itu.

Buku ini membahas dengan sangat lengkap profil dan sejarah aktivitas mountaineering atau pendakian gunung. Mulai dari cikal bakal aktivitas ini bermula, perkembangannya, persebarannya ke seluruh dunia, profil teknisnya, legenda-legenda yang melingkupinya, hingga kepada nama-nama besar yang telah mengguratkan kisah abadi mereka dalam mountaineering dunia.

Selain itu buku ini juga menguraikan secara sederhana dan komplit berbagai peristiwa aktual dalam dunia mountaineering saat ini. Berbagai award dan penghargaan dalam aktivitas mountaineering, komersialisasi gunung Everest, munculnya istilah the next Everest, sampai kepada profil 100 merek-merek paling populer di seluruh dunia yang secara konsisten mendukung aktivitas mountaineering.

Jika kata mountaineering diumpamakan sebagai ruangan gelap, maka buku ini menjadi pelita untuk meneranginya. Jika kata mountaineering adalah sebuah misteri dalam kotak tertutup, maka buku ini adalah kunci untuk membukanya. Pendek kata, ide buku ini berangkat dari sebuah pertanyaaan; Apa itu mountaineering?

Lalu uraiannya menjadi jawaban semua yang ingin kita ketahui tentang pertanyaan tersebut.

Profil Buku Pendakian Gunung Terbaik: Dunia Batas Langit

Source: Arcopodo Journal

  • Judul: DUNIA BATAS LANGIT -  Jejak Pencapaian Berbagai Puncak Gunung Dunia Dalam Pengembaraan Mountaineering Yang Luar Biasa
  • Penulis: Anton Sujarwo
  • Tebal: 555 halaman
  • Genre: Mountaineering
  • Penerbit: Phoenix Publishers
  • Ukuran: 14 x 21 cm
  • Cover: Standard
  • Kertas: Bookpaper

Ringkasan Isi Buku Pendakian Gunung Terbaik: Dunia Batas Langit

Source: Arcopodo Journal

Lebih dari sekedar sebuah bidang olahraga dan aktivitas fisik semata, mountaineering atau pendakian gunung adalah sebuah gaya hidup, perjalanan spiritual, refleksi perjuangan, langkah penempa diri, jurnal semangat dan mental, serta sebuah disiplin ilmu yang mengajarkan kesederhanaan dalam sebuah pencapaian yang sejati.

Menjadi sesuatu yang sangat disayangkan ketika kemudian kita menemui masa-masa dimana ada sebuah gelombang besar generasi muda yang demikian menggandrungi aktivitas pendakian gunung dan mountaineering ini, namun di sisi lain kita juga mendapatkan bahwa nilai-nilai yang semestinya dapat diperoleh melalui aktivitas ini, menguap hampa karena ketidaktahuan mereka.

Mountaineering atau pendakian gunung adalah sebuah aktivitas yang multi manfaat, tidak hanya untuk kesehatan fisik semata, namun juga kesehatan mental dan spiritual. Mountaineering menjadi sebuah pilihan yang anggun untuk memberi pengajaran kepada para pelakunya guna mengambil teladan dari nilai-nilai yang terkandung dalam aktvitas ini. Karena itu, nampaknya menjadi sebuah tugas bagi kita, yang mungkin sedikit memahami hakikat aktivitas mountaineering dan pengajaran didalamnya, untuk menyampaikan pesan ini kepada generasi muda yang mulai jatuh cinta dan menyukai kegiatan pendakian gunung.

Gelombang massif ‘back to nature’ (khususnya aktivitas mendaki gunung) adalah gelombang yang memiliki skala global. Artinya gelombang ini tidak hanya terjadi di Indonesia saja, namun terjadi hampir di seluruh bagian dunia. Ada sebuah kecendrungan dari generasi milenial saat ini untuk lebih banyak beraktivitas di alam bebas. Dan  di Indonesia kita melihat salah satu yang paling diminati adalah pendakian gunung atau mountaineering.

Meningkatnya minat terhadap aktivitas pendakian gunung atau mountaineering di Indonesia dengan cukup pesat telah menimbulkan cukup banyak konsekuensi. Dan salah satu dari sekian banyak konsekuensi tersebut adalah membludaknya pengunjung gunung-gunung yang terkadang bahkan tidak mengerti untuk apa sebenarnya mereka ada di sana.

Source: Millet Mountain

Ada sebuah ‘demam’ ikut-ikutan trend yang terjadi, yang pada hakikatnya bukanlah alasan yang bagus untuk masuk dalam sebuah aktivitas mountaineering atau pendakian gunung. Kemudian jika ditelusuri lebih jauh, demam trend ini terkadang berakar pada kurangnya informasi yang akurat, lengkap dan komprehensif tentang dunia pendakian gunung itu sendiri. Kurangnya informasi ini menjadi salah satu sisi yang setidaknya perlu menjadi perhatian kita bersama. Dan atas dasar tersebutlah salah satunya, buku ini kemudian ditulis dan Allhamdulillah sekarang ditebitkan.

Pada pembahasan pertama buku Dunia Batas Langit ini akan diuraikan cikal bakal dan asal muasal olahraga mountaineering dan pendakian gunung. pengertian mountaineering, sejarah berawalnya, motivasi yang mendasari seseorang melakukan pendakian gunung akan diuraikan secara lengkap.

Lalu proses perkembangan aktivitas mountaineering yang kemudian berkembang menjadi semacam gaya hidup kaum bangsawan Eropa pada masa awal. Dilanjutkan pula dengan pembahasan masa-masa yang disebut dengan Golden Age of Alpinism, dimana puncak-puncak utama Pegunungan Alpen Eropa berhasil dicapai puncaknya.

Puncak gunung populer Eropa seperti Eiger, Grandes Jorasses, Jungfrau, Mont Blanc dan lain sebagainya dijejalahi pada masa ini. Masa-masa ini juga diisi dengan begitu banyak nama pendaki gunung terkenal era pioneering seperti Mathias Zurbriggen, Edward Whymper, Michel Croz, Charless Hudson, John Tyndall dan lain sebagainya. Para pelopor pendakian gunung Alpen ini menginspirasi banyak orang dengan pendakian mereka yang monumental dan mengagumkan.

Golden age of alpinism ditutup dengan pencapaian puncak Matterhorn serta kematian yang menyertainya. Edward Whymper dan Jean Antoine Carrell yang menjadi tokoh utama drama first ascent Matterhorn diulas cukup banyak dalam pembahasan ini.

Source: Amazon.com

Pada saat yang sama, aktivitas mountaineering kian populer dan masyhur. Pendakian gunung mulai menyebar ke hampir seluruh penjuru dunia pada kisaran tahun 1890, menyentuh hampir semua benua yang ada di dunia. Pegunungan Pyrenees, Pegunungan Saint Elias, Pegunungan Andes, Kaukasus, Kilimanjaro, hingga gunung Aoraki di Selandia Baru dijejalahi pada masa ini. Pembahasan pada bagian ini akan menyebutkan secara lengkap proses pencapaian puncak-puncak utama berbagai pegunungan tersebut serta siapa saja nama yang kemudian tampil menjadi legenda dalam sejarah pendakiannnya.

Bab kedua kemudian akan secara khusus membahas sejarah masuknya aktivitas mountaineering di Himalaya, wilayah yang kemudian menjadi poros utama aktivitas mountaineering yang sebenarnya. Beberapa halaman awal pada bab ini akan menjelaskan landskap Pegunungan Himalaya secara ringkas, baik dari sisi teritorialnya, iklimnya, sosial budayanya, hingga kepada nilai spiritual yang ada didalamnya.

Gunung-gunung yang dianggap suci di Himalaya seperti Machapuchare atau The Tail Fish Mountain, Kailash, Gangkar Puenzum, Nanda Devi dan yang lain akan mendapat sorotan secara khusus dalam pembahasan bab dua. Selain berkorelasi dengan keyakinan penduduk native Nepal dan Tibet, kesucian gunung-gunung ini juga memiliki kaitan yang erat dengan empat kepercayaan paling populer di kawasan tersebut.

Pembahasan bab kedua ini tidak ketinggalan juga mengangkat profil puncak-puncak utama di Pegunungan Karakoram, Pakistan, yang pada beberapa kesempatan kadang disebut juga sebagai bagian dari raksasa Himalaya. Nanga Parbat, K2, Gasherbrum 1 dan 2, Chogolisa, Baltoro yang perkasa, akan diulas secara panjang lebar dalam pembahasan ini.

Selanjutnya secara khusus bab 2 akan menyoroti kompetisi para perintis untuk mencapai first ascent puncak-puncak Himalaya. Secara umum bahasan pada bagian ini akan menitikberatkan pada sejarah pendakian gunung-gunung delapan ribu meter Himalaya. Siapa saja yang menjadi pelakunya? Bagaimana kronologi pendakiannya? Apa saja tantangannya? dan lain sebagainya.

Source: Rock and Ice Magazines

Pada kisaran awal tahun 1920-an perhatian mungkin akan lebih banyak kepada ekspedisi-ekspedisi Inggris yang berupaya untuk mencapai Puncak Everest. Nama seperti George Leigh Mallory, Irvine Andrew, Granville Bruce, Oscar Eickenstein, Martin Conway, Albert Mummery akan banyak disebut terkait dengan kiprah mereka yang demikian signifikan dalam upaya mencapai puncak delapan ribu meter sebagai yang pertama.

Kematian-kematian legendaris yang menimpa nama Hermann Buhl di Chogolisa, Mallory-Irvine di Everest, Mummery di Nanga Parbat akan dibahas pula pada bab dua ini. Kemudian peran signifikan yang dimainkan oleh Tenzing Norgay pada fisrt ascent Everest, Walter Bonatti dan Amir Mehdi di K2 akan mendapat perhatian khusus di bagian ini. Selain menyimak kontroversi yang terjadi di sana, kita juga akan melihat sisi lain dari sebuah perlombaan mountaineering yang nampaknya telah menabrak batasan-batasan sportivitas nilai mountaineering sejati.

Masuk ke bahasan selanjutnya, pembahasan akan secara khusus difokuskan pada pengenalan aktivitas mountaineering dipandang dari sisi teknis. Dimulai dengan uraian mengenai gaya alpine style dan expedition style. Berbagai macam teknis dan medan dalam pendakian, apa saja perlengkapan yang digunakan untuk mengarungi medan-medan tersebut, akan dirinci pada bagian ini.

Tempat berlindung atau shelter yang terdiri dari berbagai macam jenis, baik yang alami maupun artificial juga akan diuraikan pada pembahasan tersebut. Tenda sebagai satu-satunya tempat berlindung yang dipahami mayoritas peminat pemula aktivitas pendakian gunung di Indonesia, ternyata bukan satu-satunya shelter yang umumnya digunakan dalam mountaineering. Apa saja jenis tempat berlindung tersebut, bagaimana penjelasannya, semuanya akan dibahas dalam bab tiga buku ini.

Kemudian bab ini akan menguraikan pula berbagai risiko yang mengintai dalam aktivitas mountaineering secara umum. Sumber bahaya yang bersifat objektif maupun subjektif akan diuraikan secara komplit. Apa itu High Altitude Cerebral Edema (HACE), apa itu High Altitude Pulmonary Edema (HAPE), kemudian apa itu hipothermia, hipoxia, dan berbagai penyakit ketinggian lainnya. Potensi longsoran atau avalanche, badai, rockfall, sampai kepada aktivitas vulkanisme pada pendakian gunung berapi juga disampaikan secara lengkap dalam uraian bab ketiga ini.

Source: Alaska Mountaineering School

Pembahasan tentang berbagai pegunungan dunia yang menjadi medan mountaineering akan mengakhiri uraian pada bab tiga. Pada wilayah Amerika Selatan kita akan melihat bahwa selain Andes yang mempesona, ada juga sekumpulan pilar-pilar langit di Patagonia. Lalu di Amerika ada Saint Elias, selain tentu saja Denali dan alam Alaska-nya yang luar biasa. Berpindah ke Eropa ada Alpen yang tetap menjadi daya tarik tak terkalahkan, selain juga ada Pegunungan Kaukasus, Siberia, Dataran Tinggi Balkan, Pyrenees dan yang lainnya.

Pegunungan Himalaya, Karakoram, Hindu Kush, Tien Shan, Pamir, Ural menjadi magnet terkuat dari Asia yang menjadi poros utama aktivitas pendakian gunung dunia. Kemudian saat landskap mountaineering melebar ke arah benua Australia dan Selandia Baru maka tampillah Pegunungan Alpen Australia dan Pegunungan Aoraki. Sementara jika merujuk pada cakupan wilayah yang lebih lokal, kita akan menemukan bahwa Pegunungan Jaya Wijaya, Sudirman, Bukit Barisan, gunung-gunung api di pulau Jawa, serta melebar ke Pegunungan Hkakabo Razi di Myanmar, adalah daftar medan mountaineering yang eksis di Asia Tenggara.

Masuk ke bab empat pembahasan akan lebih menarik dengan dibahasnya lima legenda yang dianggap paling familiar dan layak untuk diketahui publik mountaineering Indonesia. Kisah-kisah yang diangkat ini merupakan kisah yang memuat banyak pelajaran dan hikmah, khususnya dalam ranah dunia pendakian gunung.

Kisah pertama adalah sebuah kisah yang populer dengan nama Touching The Void yang mengangkat nama Joe Simpson dan Simon Yates  terkait dengan petualangan mereka di Siula Grande, Amerika Selatan. Beberapa orang yang mungkin telah membaca atau menonton film tentang kisah ini, bisa saja berkata kisah tersebut tak lagi menarik jika dibahas dalam buku ini. Namun tunggu dulu, pada kisah yang kedua kita akan melakukan sedikit studi komparatif antara kisah Joe Simpson dan kisah yang dialami oleh dua legenda mountaineering Inggris di Baintha Brakk, Doug Scout dan Chris Bonington.

Kisah tentang survival yang harus dijalani oleh Doug Scout dan Chris Bonington di Baintha Brakk atau The Ogre akan kita lihat perbandingannya dengan kisah Joe Simpson di Siula Grande. Perbandingan ini mencakup sikap dan motivasi yang ditunjukkan keduanya dalam menghadapi saat-saat paling genting dalam hidup mereka.

Source: Himalayan Glaciers

Lanjut kisah legenda yang ketiga bercerita tentang kemampuan bertahan hidup paling legendaris di gunung Himalaya yang dilakukan oleh Jean Christophe Lafaille ketika harus turun dari dinding selatan Annapurna menggunakan perlengkapan yang sangat terbatas.

Determinasi, motivasi, daya tahan, dan skill bertahan hidup legenda pendaki gunung Perancis ini akan ditekan sampai pada titik terendahnya. Kemampuan Lafaille untuk bangkit dan tetap hidup adalah sebuah pelajaran sangat penting bagi kita bersama bahwa semangat dan ketangguhan untuk tetap bertahan adalah harta paling berharga di tengah situasi dan kondisi yang paling buruk sekalipun.

Pada legenda yang keempat tidak ada lagi uraian mengenai survival dan penderitaan. Dalam uraian kali ini kita akan membahas mengenai kontroversi yang terjadi pada salah satu medan rock climbing paling menantang di Amerika Selatan, yaitu Patagonia, dimana Cerro Torre yang menjadi objek utamanya.

Dari pendakian fisrt ascent yang penuh keraguan oleh Cesare Maestri, kontroversi ‘pembunuhan’ semangat alpinisme dengan pembuatan Compressor Route  juga oleh Maestri, pendakian David Lama dengan tim Red Bull-nya yang mendapat kritik keras dari American Alpine Club, sampai kepada silang pendapat mengenai penetapan apakah standar estetika sebenarnya dari sebuah semangat alpinisme atau mountaineering. Semuanya ada dalam uraian kisah yang keempat ini.

Dibanding empat kisah sebelumnya, kisah terakhir ini mungkin yang paling populer dikenal di Indonesia. Kisah tentang Rob Hall dan Scott Fischer yang tewas pada bulan Mei tahun 1996 di Everest sangat familiar untuk diketahui secara luas, bukan saja karena epiknya, namun juga karena kontroversi yang menyelimuti kisah ini sebenarnya.

Source: Summit Climb

Bagi sahabat pembaca yang sudah menonton film Into Thin Air atau Everest, maka kisah yang ini tentu bercerita tentang pristiwa yang sama. Akan tetapi uraian dalam buku ini akan sangat menarik untuk disimak. Karena sumber utama kisah terakhir bab empat dalam buku ini bukan dari buku John Krakauer, bukan dari buku Anatoli Boukreev, bukan dari tulisan Lane Gammelgaard, dan bukan pula dari kisah yang dituturkan Beck Weathers.

Namun sumber utama dan tungal kisah yang diuraikan dalam buku ini disarikan dari tulian Ed Viesturs dalam bukunya No Shortcut to the Top. Sahabat pembaca nanti bisa melihat dan membandingkan ternyata ada cukup banyak hal yang kita lewatkan jika mengetahui kisah legendaris ini hanya dari filmnya saja.

Masuk ke bab yang kelima uraian akan difokuskan pada sekitar 70 nama besar paling signifikan sepanjang sejarah pendakian gunung dunia. Dalam uraian ini penulis membagi nama-nama populer dalam empat kategori untuk memudahkan kita mengenal dan mengetahui kontribusi dan sumbangsih mereka dalam dunia mountaineering secara global.

Pembagian kategori ini didasarkan pada masa kemunculannya dan juga periode eksistensi mereka. Periode para pionir, periode para legenda, periode masa kini dan prediksi untuk masa depan. Sahabat yang familiar dengan nama seperti Reinhold Messner, Walter Bonatti, Maurice Herzog,  George Mallory, Edmund Hillary sampai kepada nama seperti Ueli Steck, Alex Honnold dan Kilian Jornet pun mendapat tempat dalam daftar ini.

Lantas apa saja yang mereka lakukan dan apa alasan utama nama mereka dimasukkan dalam list tersebut, jawabannya ada dalam pembahasan panjang lebar di bab lima.

Source: Via Dinarica

Dalam buku Wajah Maut Mountaineering Indonesia, penulis mengemukakan sebuah ide tentang award atau penghargaan yang dapat diberikan kepada para petualang atau pendaki gunung Indonesia yang diangap memiliki prestasi dan layak untuk diapresiasi. Pada pembahasan bab enam buku ini, akan ditampilkan lima profil award serupa dalam tatanan internasional. Pada prosesnya, lima award seperti inilah kemudian yang menjadi inspirasi bagi saya untuk menuliskan ide tentang award untuk para insan petualang Indonesia dalam buku Wajah Maut Mountaineering Indonesia.

Apa saja penghargaan dan award dalam tingkat internasional yang dimaksud,  apa saja yang menjadi objek penilaian, siapa saja yang berhak menjadi nominasinya, dan apa jenis award yang kemudian diberikan kepada sang penerima? semua jawabannya diuraikan secara lengkap dalam bab enam.

Isu tentang komersialisasi mountaineering yang demikian massif, terutama di Everest, memunculkan sebuah ide bernama Syndrome Anti Everest yang pertamakali disampaikan oleh John Krakauer saat menjadi salah satu pembicara dalam film Meru. Pada perkembangannya keresahan akan komersialisasi yang demikian deras ini mengorbitkan pula sebuah pemikiran untuk mencari gunung lain yang dapat menggantikan posisi Everest.

Keinginan untuk mencari The Next Everest ini merupakan upaya ‘pelarian’ (dapat kita istilahkan demikian) bagi para pendaki tradisional yang tetap memegang teguh nilai estetika mountaineering yang sejati. Para pendaki tradisional yang malang ini terpaksa meninggalkan Everest karena gempuran pendaki komersial yang kian membludak dari hari ke hari.

Apa saja yang kemudian menjadi dampak komersialisasi Everest?

Source: Pinterest

Ada banyak jawaban yang kemudian muncul. Kemudian ada pula silang pendapat dan tanggapan dari para pendaki gunung populer tentang laju komersialisasi ini. Nama Edmund Hillary, Reinhold Messner, Conrad Anker akan ikut diangkat dalam bab ini terkait dengan tanggapan mereka tentang tema ini. Dan ternyata tidak semua pendaki tradisional menganggap komersialisasi pendakian gunung sebagai sesuatu yang buruk. Apa maksudnya? temukan jawabannya dalam pembahasan bab tujuh ini nanti.

Selain itu, bab tujuh akan juga mengemukakan tujuh destinasi yang dianggap memiliki kapabilitas dan kelayakan untuk dijadikan the next Everest, dan  salah satunya ada di Asia Tenggara yang fisrt ascent-nya sendiri masih merupakan pertanyaan besar. Apa saja kemudian yang dianggap layak menggantikan Everest itu? Apa pertimbangannya? Bab tujuh adalah uraian jawabannya.

Bab delapan atau yang terakhir dalam buku ini akan membahas 100 merek atau brand paling populer yang konsisten mendukung aktivitas mountaineering di seluruh dunia. Bahasan yang merupakan pelengkap ini saya anggap cukup penting untuk ditampilkan pada bagian terakhir buku untuk menambah wawasan kita bersama mengenai berbagai produk dan merek alat pendakian gunung yang mulai menjamur di tanah air.

Ada sedikit segmentasi yang saya kira kurang bijaksana hadir di tengah-tengah maraknya ketertarikan pada dunia pendakian gunung Indonesia. Segmentasi ini adalah segmentasi pendaki yang didasarkan pada merek-merek produk yang mereka gunakan, yang pada perkembanganya melahirkan sebuah istilah berlebihan yang disebut pendaki dewa.

Tidak ada pendaki dewa jika itu didasarkan hanya karena merek yang mereka gunakan. Dalam bahasan terakhir yang menampilkan seratus brand mountaineering populer ini, kita akan melihat bahwa yang terbaik bahkan kadang juga memiliki ‘cacat’.

Source: iStock

Tampilan brand-brand ini juga merupakan sebuah tambahan pengetahuan saja bagi kita untuk lebih bijaksana. Karena kadang ada sesuatu yang dilupakan oleh generasi pendaki milenial zaman sekarang, bahwa mendaki gunung sama sekali bukan bagaimana berbusana ala pendaki gunung. Produk dan merek adalah sarana dan alat pendukung aktivitas mendaki gunung, namun sama sekali bukan intisari dari sebuah makna pendakian gunung itu sendiri.

Saya berharap uraian-uraian dalam buku ini dapat membantu kita untuk memahami aktivitas mountaineering secara utuh. Dapat membantu generasi muda Indonesia yang memiliki ketertarikan dan minat kepada dunia pendakian gunung untuk mengetahui lebih banyak tentang mountaineering dan apa saja yang ada didalamnya.


Saya Anton, saya suka mendaki gunung dan hiking. Saya juga adalah penulis buku mountaineering di Indonesia. Beberapa buku karya saya tentang dunia pendakian gunung yang sudah diterbitkan adalah;

  • Wajah Maut Mountaineering Indonesia
  • Dunia Batas Langit
  • Mahkota Himalaya
  • Merapi Barat Daya
  • Maut Di Gunung Terakhir
  • MMA Trail
  • Sejarah Pendakian Tebing Utara
  • 9 Puncak Seven Summit
  • Dewi Gunung
  • Gunung Kuburan Para Pemberani
  • Hari Terakhir Di Atas Gunung
  • Mimpi Di Mahameru

Semua buku-buku tersebut dapat diperoleh dengan mudah di beberapa marketplace atau langsung melalui tautan aplikasi whatsapp disini.

Tulisan saya yang lainnya juga bisa ditemukan di:

Terimakasih telah mengunjungi Arcopodo Journal.com

 

 

 

Posting Komentar untuk "PROFIL DAN SINOPSIS BUKU PENDAKIAN GUNUNG TERBAIK; DUNIA BATAS LANGIT"