Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

MALA PETAKA GUNUNG K2: KRONOLOGI TEWASNYA ROMEO JULIET DARI PUNCAK HIMALAYA (Bagian 2)

Sambungan dari Artikel: Mala Petaka Gunung K2 dan Tewasnya Romeo Juliet Puncak Himalaya

Pasangan Maurice Barrard dan Liliane Barrard adalah sebuah kisah romantis dari Himalaya yang berujung dengan air mata. Keputusan Parmentier untuk menunggu keduanya di Camp 3 berakhir dengan kesia-siaan. Liliane dan Maurice tak pernah muncul di tempat itu yang kemudian membuat Parmentier dengan berat hati terpaksa melanjutkan perjalanan turun untuk menyelamatkan nyawanya sendiri.

Parmentier pada dasarnya juga hampir tidak bisa mencapai base camp jika saja BenoƮt Chamoux tidak meninggalkan radio untuknya. Kombinasi antara kelelahan, kehabisan tenaga, dehidrasi dan kurang konsentrasi, membuat Parmentier mengalami kesulitan menemukan jalan untuk turun.

Dengan bantuan radio yang diberikan oleh Chamoux sebelumnya, para pendaki yang ada di base camp berhasil memandu Parmentier untuk menemukan tanda-tanda yang signfikan menuju base camp yang akhirnya bisa pula menyelamatkan nyawa Parmentier. Ia tiba di base camp tiga hari kemudian, walau pun dengan wajah seperti baru keluar dari neraka, tapi Parmentier bersyukur, ia masih hidup.

Penemuan Jasad Maurice dan Liliane Barrard

Satu bulan setelah Maurice Barrard dan Liliane Barrard hilang di gunung K2, sebuah ekspedisi Korea menemukan tubuh perempuan cantik dari Perancis yang sudah kaku dan luruh itu pada ketinggian 5.330 meter.

Karena kondisinya masih cukup baik, dengan cepat tubuh  tak bernyawa itu dikenali sebagai Liliane Barrard, si Juliet yang menghilang satu bulan sebelumnya setelah berhasil membukukan pemuncakan di K2.

Melihat posisi di mana Liliane ditemukan, setidaknya ia telah bergerak cukup jauh menuju base camp. Posisi terakhir Maurice dan Liliane Barrard diidentifikasi oleh Wanda Rutkiewicz dan Michel Parmentier berada pada sekitar ketinggian 8.000 meter. Sementara saat ditemukan oleh ekspedisi Korea satu bulan kemudian, Liliane sudah berada pada ketinggian 5.330 meter.

Jadi saat dinyatakan menghilang, Liliane sudah bergerak sejauh hampir 3 kilometer menuju base camp. Namun  di tengah badai dan kelelahan, Liliane nampaknya telah salah mengambil jalan.

Ada pun sang Romeo yang juga ikut lenyap saat itu, baru berhasil ditemukan pada tahun 1998, atau 12 tahun setelah ia hilang.

Berbeda dengan Liliane yang nampaknya tewas dalam upayanya tetap turun menuju ke base camp, Maurice ditemukan dalam gletser tepat di atas base camp. Melihat posisi di mana tubuhnya ditemukan, kuat dugaan bahwa Maurice telah terjatuh saat berusaha turun, atau mungkin dihempas longsoran ketika badai menyapunya pada tahun 1986 tersebut.

Romantisme Mountaineering

Source: Unsplash

Liliane Barrard dan Maurice Barrard adalah wajah lain dari dunia mountaineering. Keduanya melukiskan sebuah drama romantisme tidak hanya kepada aktivitas mountaineering yang notabene menjadi altar suci bagi para pendaki gunung tradisional seperti mereka. Namun juga kehadiran Maurice dan Liliane telah membuat sebuah figur romantisme yang tercipta di antara dua sejoli yang terpatri dalam upaya pemuncakan puncak-puncak Himalaya dan Karakoram.

Maurice dan Liliane telah membawa gerbang baru bagi kehadiran pendaki gunung yang meletakkan eksotisme cinta dan romantisme dalam tatanan mountaineering dunia.

Cinta dan romantisme yang sebelumnya hanya terjalin antara sang pendaki dengan alam liar yang menjadi medan pendakiannya, menjadi lebih kompleks dan berwarna setelah kehadiran pasangan Barrard di sana. Keputusan Liliane dan suaminya untuk mendaki gunung-gunung tinggi Himalaya secara bersama, berbaur dalam gempuran badai dan kesulitan, telah menempatkan cinta yang terjalin di antara sepasang suami isteri itu, menjadi kisah cinta tertinggi di dunia secara harfiah.

Pada perjalanannya kemudian, sejarah mencatat kehadiran pasangan-pasangan lain dalam catatan mountaineering dunia. Dan yang paling sukses dari semua itu tentu saja dua sejoli dari Italia, Nives Meroi dan Romano Benet, yang kemudian tampil menjadi pasangan pendaki gunung  pertama yang menyelesaikan pendakian 14 puncak Himalaya secara bersama.

Seperti halnya yang dilakukan oleh Maurice Barrard dan Liliane Barrard dalam pendakian mereka, Nivei Meroi dan Romano Benet juga melakukan semua pendakian mereka dengan alpine style, tanpa sherpa dan tanpa porter.

Jalinan cinta antara Meroi dan Benet yang tersulam dalam ikatan pernikahan, semakin menjadi istimewa rasanya ketika keduanya berhasil pula memuncaki  14 puncak gunung di Karakoram dan Himalaya secara bersama-sama.

Amankah Mendaki Gunung Bersama Pasangan?

Source: BBC

Pencapaian pendakian gunung secara berpasangan pada hakikatnya memang bukan sebuah prestasi signifikan dalam mountaineering.

Pendakian seperti ini tidak sama ‘derajatnya’ jika kita bandingkan dengan pendakian dengan tanpa tabung oksigen misalnya, atau first ascent misalnya, atau pendakian melalui rute baru misalnya, mau pun jika dibandingkan dengan pencapaian outstanding secara solo.

Akan tetapi pendakian yang dilakukan sepasang kekasih di atas pegunungan berbahaya yang nyaris selalu bersinggungan dengan maut, adalah sebuah prestasi istimewa yang unik. Bukan pencapaian terbesar dalam tatanan eksplorasi dan penjelajahan, namun sangat spesial dan bernilai untuk diceritakan dan dikisahkan.

Orang-orang seperti sosok Maurice Barrard, Liliane Barrard, Nives Meroi dan Romano Benet, adalah para pendaki istimewa yang telah menghidupkan sisi lain dari mountaineering dunia.

Kisah asmara mereka, baik yang berujung kebahagiaan dengan kesuksesan (seperti Romano Benet dan Nives Meroi), mau pun yang berujung tragedi (seperti kasus Liliane Barrard dan Maurice Barrard) adalah kisah-kisah yang telah memantik sebuah kekaguman publik secara luas. Dan pada sisi yang lebih istimewa, juga telah menerbitkan sebuah rasa simpati melankolis dari masyarakat yang mengikuti cerita mereka.

Source: Mountainfilm Graz

Namun pendakian dengan pasangan seperti yang dilakukan oleh duo Barrard atau pun seperti Nives Meroi-Romano Benet memiliki romantikanya sendiri. Pada beberapa bagian yang lebih detail, kisah seperti ini tidak hanya bertutur melulu tentang betapa indahnya atau betapa romantisnya. Akan tetapi pada beberapa sudut pandang yang lebih kompleks, ada banyak hal pula yang menjadikan mendaki gunung bersama pasangan adalah sesuatu yang lebih berbahaya dan berisiko tinggi.

Pada dasarnya gunung bukanlah tempat yang ramah untuk memadu kasih, khususnya untuk gunung-gunung ganas seperti di Himalaya dan Karakoram, atau seperti gunung K2 yang terkenal karena kekejamannya.

Di gunung seperti itu, sama sekali tidak ada belas kasih atau simpati, atau rasa iba kepada sepasang kekasih yang mungkin saja diamuk cinta. Ketika badai menerjang, atau longsoran meluncur, atau gravitasi seolah menyeret tubuh, semua akan terjadi seperti biasanya, tak akan ada pengecualian meskipun yang di atasnya adalah sepasang kekasih yang sedang jatuh cinta.

Berkaca pada alasan yang agak aneh ini, kondisi moral dan psikologis seorang pendaki gunung akan dengan mudah terguncang dan terpengaruh hebat jika ia dan pasangannya terperangkap dalam jebakan maut di pegunungan.

Seorang pasangan harus mengimbangi kemampuan mendaki pasangannya, dan itu artinya, harus ada penyesuaikan gerak, kecepatan dan juga ritme. Dan pada sisi yang lebih serius, penyesuaian seperti ini kadang juga memiliki konsekuensi yang lebih serius dan mematikan.

Source: Alchetron

Seorang suami atau isteri memiliki kecendrungan yang tidak akan meninggalkan pasangannya saat menghadapi kondisi sulit di atas gunung. Pada situasi seperti ini maka peluang akan keterpaparan terhadap bahaya meningkat menjadi dua kali lipat.

Pasangan pendaki (dalam artian sejoli) yang memiliki salah satu pasangan yang rentan dan lemah dengan risiko pegunungan, tidak hanya berpotensi untuk memperbesar bahaya bagi pendaki yang lemah itu, namun juga turut serta secara signifikan mempengaruhi kondisi ketahanan psikologis pasangannya.

Pernyataan ini sama sekali bukan sebagai sebuah judgement bahwa jalinan cinta di atas badai Himalaya adalah sebuah ikatan yang mengancam nyawa. Namun ini adalah sebuah kesimpulan yang sementara dapat kita ambil berdasarkan beberapa kejadian yang memiliki korelasi dengan hal tersebut.

Maurice Barrard dalam kondisi apa pun mungkin tidak akan pernah meninggalkan Liliane. Dan begitu pun sebaliknya dengan Liliane, tak akan pernah meninggalkan Maurice dalam kondisi bagaimana pun. Posisi Liliane yang berhasil turun sejauh hampir 3 kilometer dari tempat terakhir ia terlihat, telah memberi dugaan lain bagi publik mountaineering yang menyimak kisah ini.

Liliane bisa jadi meneruskan proses turunnya (pada jalur yang salah) setelah Maurice jatuh ke jurang dan ia tidak memiliki apa pun lagi untuk membantunya, atau untuk sekedar berharap. Tidak ada pilihan bagi Liliane saat itu kecuali terus turun dan turun.

Akan tetapi jika saja Maurice saat itu tidak terjatuh, namun ambruk sekarat di tengah badai di samping Liliane, maka ada kemungkinan sangat besar bahwa Liliane akan menemaninya sampai malaikat pencabut nyawa mengunjungi mereka berdua.

Komitmen Sehidup Semati

Hayden Kennedy & Inge Perkins - Climbing Magazines

Ada sebuah komitmen dalam jalinan cinta kasih yang sudah umum diketahui oleh manusia sebagai bagian dari kisah epik melankolis sebuah drama percintaan. Komitmen sehidup semati yang terdengar klise pada banyak telinga, kadang memang menemukan eksistensinya dalam banyak cerita, tak terkecuali pula di atas puncak gunung. Kehilangan seorang kekasih di depan mata kepala mereka sendiri telah mendatangkan dampak psikologis sangat dahsyat bagi seorang kekasih. Dan pada kondisi yang lebih umum, hal ini seringkali menimbulkan stimulan untuk menyusul.

Pukulan sangat telak sehingga menghadirkan keinginan untuk menyusul (menuju kematian pula) ini adalah sebuah fakta yang tidak mudah untuk dibantah. Kejadian paling baru yang mungkin dapat kita ingat adalah kasus bunuh diri Hayden Kennedy setelah kekasih hatinya dikubur oleh longsoran salju saat melakukan ski di Imp Peak, Madison Range, Amerika Serikat, tahun 2017 silam.

Hayden Kennedy sendiri adalah alpinis muda kelas dunia dengan prestasi yang sangat signifikan. Hayden pernah mendaki di Patagonia, traversing di Cerro Torrre bersama Rolando Garibotti dan juga Alex Honnold, pernah mencapai puncak K7 di Karakoram, dan juga pernah memanjat Trango Tower di kawasan Pegunungan Baltoro.

Namun demikian, prestasinya yang demikian menawan dalam mountaineering tidak mampu menahan besarnya hantaman psikologis dan mental tatkala Inge Perkins kekasihnya, tewas tenggelam dalam avalanche saat mereka sedang bermain ski di lereng Imp Peak.

Tidak lama setelah kejadian tragis yang merenggut nyawa Inge Perkins, Hayden Kennedy ditemukan tewas karena overdosis obat penghilang rasa sakit.

Gerlinde Kaltenbrunner & Ralf Dujmovit - The Times

Dalam catatan yang ditulisnya, Kennedy demikian terpukul dengan kematian Perkins. Walaupun avalanche tidak membunuh Hayden Kennedy bersama Inge Perkins, namun avalnache itu telah membunuh semangat, mental dan jiwa Kennedy, dan hanya butuh beberapa jam kemudian bagi raga Hayden untuk menyempurnakan kematian itu.

“Mengapa ada orang yang bisa bertahan hidup di gunung, sementara yang lainnya tidak?”

Tanya Kennedy dalam salah satu catatannya suatu ketika. Sebuah pertanyaan yang bersumber dari perenungan anak muda yang melanglang buana dan bertualang ke berbagai pegunungan signifikan dunia, namun mungkin saja kurang memahami bahwa ada hal lain yang jauh lebih besar mengatur kehidupan ketimbang hanya dugaan akal dan pikiran manusia.

Bagaimana pun kita melihat permasalahan ini, sudut pandang apa pun yang kita gunakan, namun tidak dapat kita tepis bahwa keputusan pendaki gunung muda sangat berbakat Hayden Kennedy mengakhiri hidupnya adalah dipicu dengan kematian Inge Perkins di Imp Peak saat itu.

Ini adalah bagian dari implikasi sisi lain sebuah pendakian gunung yang dilakukan berpasangan.

source: Unsplash

Ada sebuah kecendrungan untuk ‘sehidup semati’ yang kemudian membuat tidak hanya satu kabar duka yang mengudara, namun dua. Jika pun sang kekasih bisa selamat dari renggutan maut di gunung, di mana kekasihnya terbunuh, maka akan ada sebuah luka yang sangat dalam, ada sebuah hantaman psikologis dan mental yang demikian parah mendera jiwa mereka. Dan pada beberapa orang, hal ini sama saja artinya dengan kematian itu sendiri.

Dalam kasus ini, kita tidak ingin mengatakan bahwa mendaki bersama pasangan kekasih itu adalah sesuatu yang berbahaya. Itu adalah sebuah perjalanan yang indah, yang manis, dan penuh dengan pelajaran untuk mengisi jiwa dan pengertian.

Namun yang perlu untuk diingat oleh setiap orang yang berniat melakukannya, bahwa ini juga adalah perjalanan yang memiliki potensi risiko lebih besar, dan dibutuhkan sebuah komitmen tingkat tinggi untuk mampu menjalaninya.

:::

Artikel ini dikutip dari buku HARI TERAKHIR DI ATAS GUNUNG  karya Anton Sujarwo

:::


Saya Anton, saya suka mendaki gunung dan hiking. Saya juga adalah penulis buku mountaineering di Indonesia. Beberapa buku karya saya tentang dunia pendakian gunung yang sudah diterbitkan adalah;

  • Wajah Maut Mountaineering Indonesia
  • Dunia Batas Langit
  • Mahkota Himalaya
  • Merapi Barat Daya
  • Maut Di Gunung Terakhir
  • MMA Trail
  • Sejarah Pendakian Tebing Utara
  • 9 Puncak Seven Summit
  • Dewi Gunung
  • Gunung Kuburan Para Pemberani
  • Hari Terakhir Di Atas Gunung
  • Mimpi Di Mahameru

Semua buku-buku tersebut dapat diperoleh dengan mudah di beberapa marketplace atau langsung melalui tautan aplikasi whatsapp disini.

Tulisan saya yang lainnya juga bisa ditemukan di:

www.penulisgunung.id

www.penulismodern.id

www.arcopodojournal.id

www.akasakaoutdoor.co.id

Terimakasih telah mengunjungi Arcopodo Journal.com

 

 

 

 

Posting Komentar untuk "MALA PETAKA GUNUNG K2: KRONOLOGI TEWASNYA ROMEO JULIET DARI PUNCAK HIMALAYA (Bagian 2)"