Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

PROFIL DAN SINOPSIS BUKU PENDAKIAN GUNUNG TERBARU; HARI TERAKHIR DI ATAS GUNUNG

Beberapa bulan yang lalu, Arcopodo Journal merilis buku pendakian gunung terbaru karya Anton Sujarwo yang berjudul Hari Terakhir Di Atas Gunung. Ini adalah buku yang sangat menarik dan menjadi salah satu paket penting dalam koleksi buku mountaineering karya Anton Sujarwo sebelumnya.

Nah, apa saja sebenarnya isi buku pendakian gunung Hari Terakhir Di Atas Gunung ini? Apa saja yang coba untuk diangkat oleh penulis kemudian dibagikannya kepada para pembaca Indonesia pada umumnya?

Yuk, simak profil dan sinopsisnya berikut ini.

Sinopsis Buku Pendakian Gunung Terbaru; Hari Terakhir Di Atas Gunung

Apa Isi Buku Tentang Pendakian Gunung Hari Terakhir Di Atas Gunung?

Dua  buku ONE LAST CLIMB yang sudah dirilis sebelumnya, telah memberi gambaran yang cukup jelas megenai hakikat dari dunia pendakian gunung yang sebenarnya sangat dekat dengan tragedi dan malapetaka. Baik dalam buku Maut Di Gunung Terakhir yang terbit tahun 2019, atau pun dalam buku Gunung Kuburan Para Pemberani yang dirilis pada tahun 2020, telah dijelaskan dengan sangat detail bagaimana kematian merenggut para pendaki gunung terbaik di dunia.

Nah, dalam buku yang ketiga ini pun, kisah itu akan kembali dilanjutkan dengan kematian hampir 50 nama pendaki gunung dengan reputasi terbaik di dunia.

Kisah pertama dalam buku ini akan dimulai dari cerita seorang legenda Perancis yang membuat begitu banyak pendakian mengagumkan semasa hidupnya. Ia berperan besar dalam ekspedisi pencapaian puncak Annapurna I pada tahun 1950 dimana Maurice Herzog dan Louis Lachenal menjadi summiter pertama dunia yang menaklukkan puncak delapan ribu meter.

Nama dalam kisah yang pertama ini juga akan diulas dalam sudut pandang partisipasinya di gunung Eiger saat ikut dalam operasi penyelamatan Claudio Corti. Ekspedisinya di gunung Makalu, di gunung Jannu, dan di berbagai gunung lainnya di dunia akan melengkapi pula pengetahuan kita tentang sosok pertama ini. Ulasan mengenai Lionel Terray akan ditutup dengan kisah tentang kematiannya yang masih menjadi misteri mengenai apa penyebab yang sesungguhnya ia bisa terjatuh di tebing Vercors?

Kisah kedua akan dilanjutkan dengan kematian seorang pendaki Spanyol benama Inaki Ochoa yang juga merupakan salah satu pendaki terbesar abad modern. Kematian Inaki ini menarik untuk diperhatikan bersama karena ia terjadi di salah satu tebing Himalaya yang paling menantang.

Lionel Terray - Antoine Immobilier

Selain itu, upaya penyelamatan pendaki Spanyol ini juga didominasi oleh para pendaki gunung terbaik dunia seperti Ueli Steck, Denis Urubko, Alexey Bolotov dan juga Don Bowie. Permintaan secangkir kopi oleh Inaki Ochoa kepada Ueli Steck sebelum ia menghembuskan napasnya yang terakhir membuat kisah ini semakin menarik itu kita ingat bersama.

Kematian ketiga datang dari legenda Perancis yang lain bernama Pierre Beghin yang juga tewas di tempat yang sama dengan tempat tewasnya Inaki Ochoa de Olza. Annapurna South Face menjadi medan yang kemudian berkembang menjadi salah satu ladang pembantaian para pendaki gunung terbaik dunia.

Selain berkisah tentang detik demi detik tewasnya Pierre Beghin di tebing Selatan Annapurna, cerita ketiga ini juga akan mengulas berbagai pendakian spektakuler yang dilakukan oleh Pierre Beghin. Pendakiannya di Makalu yang membuatnya nyaris kehilangan nyawa sekaligus juga mengorbitkan namanya sebagai pendaki gunung Perancis paling bersinar ketika itu, juga disorot secara spesial dalam penuturan kisah ini.

Setelah Beghin dan kematianya di Annapurna South Face, kisah keempat akan diisi oleh pendaki gunung dari Inggris sekaligus juga seorang tokoh dalam bela diri khas Jepang. Julie Tullis dan pendakiannya di K2 bersama dengan Kurt Diemberger yang berakhir tragis akan diulas dengan lengkap dalam bagian ini.

Berbicara tentang Julie Tullis dan kematiannya di gunung K2 pada tahun 1986, artinya kita berbicara pula tentang sebuah musim pendakian di gunung K2 yang dianggap paling mengerikan dimana 13 pendaki gunung terbaik dunia tewas dalam rentang waktu kurang dari tiga bulan. Pada konteks ini dalam kisah yang keempat, justru cerita tentang Black Summer K2 jauh lebih banyak ditonjolkan dibandingkan kematian Julie Tullis sendiri yang merupakan salah satu korban dalam tragedi tersebut.

Inaki Ochoa - ExplorerWeb

Beralih ke kisah yang kelima, kita akan kembali bertemu dengan salah satu pendaki gunung Inggris yang lain bernama Dougal Haston. Jika kamu sudah membaca pula jilid kedua buku ini yang berjudul GUNUNG KUBURAN PARA PEMBERANI, maka kamu tentu tidak akan asing dengan nama Dougal Haston. Ia adalah pendaki gunung Inggris yang menjadi partner John Harlin II di hari kematiannya saat membuat rute pendakian tegak lurus di Eiger North Face.

Dougal Haston memiliki pribadi yang unik dan nyentrik. Sebelum mendaki gunung dan menekuni aktivitas ini secara profesional, Dougal Haston adalah seorang pemuda pembuat onar. Sebuah kejadian dalam hidup Haston kemudian membuat ia berubah drastis menjadi seorang pemikir dan pendaki gunung sejati dengan pencapaian yang tinggi.

Nah, kejadian apa yang telah mengubah Haston demikian signifikan? Kamu dapat menemukannya dalam kisah yang kelima di buku ini.

Kisah keenam akan berfokus pada salah satu tokoh pendakian gunung musim dingin dari Polandia bernama Arthur Hajzer. Kamu yang pernah membaca jilid pertama buku One Last Climb berjudul MAUT DI GUNUNG TERAKHIR, tentu akan banyak menemukan nama pendaki besar Polandia ini dalam kisah tentang tewasnya Jerzy Kukuczka di tebing selatan gunung Lhotse.

Arthur Hajzer adalah partner yang paling sering menemani Jurek dalam berbagai perjalanan mountaineeringnya. Kematian dan kiprah luar biasa seorang Arthur Hajzer dalam dunia pendakian gunung Himalaya dan Karakoram, juga tentang inovasinya dalam membangun dua brand terkenal perlengkapan outdoor Polandia, akan dapat kamu temukan dalam kisah yang keenam ini nanti.

Source: Amazon.com

Selanjutnya kisah ketujuh akan membuat kita mundur agak jauh ke hampir satu setengah abad sebelumnya dimana Matterhorn menjadi salah gunung yang belum tertaklukkan di Eropa. Michel Croz akan menjadi fokus central dalam cerita ini ketika ia ikut tewas dalam tragedi first ascent Matterhorn yang diketuai oleh penulis dan pendaki gunung dari Inggris bernama Edward Whymper.

Dari sudut pandang yang menarik, kamu akan melihat bagaimana kematian Michel Croz di Matterhorn ini, mungkin saja disebabkan oleh sebuah kompetisi mountaineering antara pendaki gunung Italia dan pendaki gunung Inggris.

Dari Matterhorn pada abad ke-18, kisah akan kembali ke abad-19 dimana Tom Patey tewas saat memanjat The Maiden sea stack yang ada di lepas pantai Skotlandia.

Seperti Dougal Haston, Patey juga adalah sosok nyentrik dan menarik. Ia adalah seorang dokter yang lebih sering mendaki gunung ketimbang membuka praktik. Kemampuannya di atas gunung, jelas mengungguli banyak pendaki biasa. Tom Patey adalah kunci kesuksesan ekspedisi Inggris di banyak rute pendakian gunung kelas dunia seperti di Rakaposhi dan Mustagh Tower.

Setelah Tom Patey yang tewas di atas karang-karang tajam lepas pantai Skotlandia, kisah kesembilan akan membawa kita pada salah nama besar pendakian gunung Rusia yang juga ikut berpartisipasi dalam ekspedisi Kopassus Indonesia ke gunung Everest pada tahun 1997. Tokoh utama yang diceritakan dalam kisah nomor sembilan ini adalah Vladimir Bashkirov yang tewas di gunung Lhotse.

Vladimir Bashkirov (paling kanan jaket merah) bersama pendaki tim Kopassus Indonesia 1997 - Russianclimb

Vladimir Bashkirov dikenal sebagai salah satu pendaki gunung disiplin dan seringkali dipercaya sebagai kepala ekspedisi. Pun dalam kematiannya di gunung Lhotse ini, kamu juga akan melihat profil seorang Vladimir Bashkirov terkait dengan perhatian, ketegasan dan juga konsistensi disiplinnya sebagai seorang pendaki gunung.

Kisah kesepuluh dalam buku yang sahabat baca ini akan membawa kita pada sebuah sudut pandang yang lebih menarik dalam aktivitas pendakian gunung dunia. Secara fokus, kisah  ini akan menyoroti tewasnya sepasang sejoli dari Perancis di gunung K2 pada tahun 1986. Sepasang sejoli yang dimaksud adalah Liliane Barrard dan Maurice Marrard yang tewas dalam tragedi K2 Black Summer.

Namun sudut pandang penceritaan kisah ini juga akan diperluas lagi. Topik pembicaraan tidak hanya akan bercerita mengenai detik-detik terbunuhnya pasangan pendaki gunung Perancis di dinding Savage Mountains, namun juga akan bertutur bagaimana romantika asmara yang ada di atas gunung pada sebuah konsep dan cara pandang yang berbeda, dapat kita lihat sebagai sesuatu yang berbahaya.

Tidak hanya Maurice Barrard dan Liliane Barrard saja dalam buku ini yang akan menjadi pokok tinjauan penulis dalam menyampaikan opininya. Akan tetapi keberhasilan pasangan pendaki gunung yang lain seperti Nives Meroi dan Romano Benet, atau seperti Ralf Dujmovits dan Gerlinde Kaltenbrunner, juga akan menjadi bagian dari sudut pandang penulis untuk menangkap pesan terbaik pada peristiwa kematian sepasang sejoli Perancis di K2 Black Summer.

Menarik pula untuk berbicara tentang K2 Black Summer karena ini adalah salah satu peristiwa yang penulis memiliki sumber penulisan sangat kuat.  Sumber utama tentang tragedi tersebut dimuat dalam buku berjudul K2 Triump And Tragedy  yang ditulis oleh Jim Curran. Jim Curran sendiri adalah pendaki gunung, penulis, sekaligus pembuat film dalam ekspedisi K2 tahun 1986.

Nah, tulisan Jim Curran yang tertuang dalam buku K2 Triump and Tragedy, adalah salah satu sumber penulisan penulis untuk menggambarkan berbagai kematian tragis dalam kisah K2 Black Summer.

BACA PULA:

Buku Jim Curran; K2 Triump and Tragedy yang menjadi salah satu sumber utama penulisan K2 Black Summer - Amazon.uk 

Kisah kesebelas dalam buku ini dan menjadi kisah terakhir yang ditulis dalam gaya bercerita historical fiction dalam paket buku One Last Climb akan membahas dengan sangat lengkap dan mendetail kematian Ueli Steck di tebing Nuptse pada tahun 2018 silam.

Hingga sekarang, penyebab pasti kematian Ueli Steck masih menjadi misteri yang belum terpecahkan. Akan tetapi dalam buku ini nanti, sahabat pembaca bisa menemukan beberapa fakta yang menarik berdasarkan keterangan Vinayak Jaya Malla dan Tenji Sherpa yang menjadi saksi yang nampaknya, paling banyak tahu tentang apa yang sebenarnya terjadi dengan Steck di hari kematiannya.

Saat berbicara tentang Ueli Steck, maka kita juga membicarakan seorang raja dalam pendakian gunung modern. Steck adalah mesin swiss yang tak terkalahkan semasa hidupnya. Namanya sendiri identik dengan tiga pendakian gunung paling bergengsi di dunia yaitu, speed ascent, soloing dan juga Eiger North Face. Jika kita menyebut nama Steck, maka tiga bagian itu juga tidak bisa lepas darinya. Dan dalam buku ini, hal itu tentu saja dibahas secara mendetail dan panjang lebar.

Ueli Steck dan kematiannya di Nuptse sama sekali bukan kisah terakhir tentang kematian para legenda mountaineering di atas puncak dan tebing gunung-gunung dunia. Untuk itulah kemudian, penulis menambahkan satu bab lagi yang berisi nama-nama pilihan dan cuplikan singkat profil serta kematian mereka di atas gunung. Total ada 33 nama dalam bab tambahan ini yang karena keterbatasan tempat dan waktu, dengan terpaksa harus penulis tuliskan secara ringkas saja.

Hal yang lebih menarik bahkan ketika saya sedang menulis buku ini, berita kematian para pendaki gunung dunia terus saja terjadi dan berdatangan. Bahkan di bulan Februari tahun 2021, buku ini terpaksa harus ditambah jumlah halamannya dengan mencantumkan pula nama Muhammad Ali Sadpara dan beberapa pendaki lainnya yang tewas di gunung K2 dalam upaya pemuncakan musim dingin.

Ueli Steck - Pinterest

Nah sabahat pembaca semua, itu adalah kira-kira isi dari buku jilid terakhir dari One Last Climb ini. Saya masih mengadaptasikan gaya penulisan historical fiction pada kisah-kisah utama yang juga bersumber pada data-data yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.

Dan seperti pada buku-buku yang saya tulis sebelumnya, pada buku ini saya juga memiliki harapan.

Harapan saya adalah; semoga kisah, cerita, legenda, informasi dan apa pun muatan dalam buku ini yang sahabat pembaca peroleh, dapat bermanfaat bagi kita semua dam bisa menjadi motivasi para pendaki gunung Indonesia untuk membuat pencapaian yang serupa di kancah dunia.

Terakhir tentu saja saya berdoa kepada Allah, semoga tulisan-tulisan saya membawa manfaat untuk saya secara pribadi. Allah jadikan sumbangan yang tiada banyak nilainya bagi wawasan dan pengetahuan mountaineering ini, sebagai amal baik dan jariyah bagi penulis yang mudah-mudahan mendapat ridho dan rahmat untuk diri penulis, baik di dunia, lebih-lebih di akhirat nanti.

Sinopsis Buku Mendaki Gunung; Hari Terakhir Di Atas Gunung

Source: Koleksi Pribadi

Sebagai bagian pamungkas dari buku One Last Climb, buku ini tentu saja akan menyajikan kisah-kisah paling heroik, mengagumkan dan kaya dari para legenda pendaki gunung terbaik dunia yang berujung pada kematian. Ada sekitar 50 nama pendaki yang dirangkum dalam buku ini, yang mereka dengan cara yang berbagai macam, menemukan tepian hidup mereka dalam arena gunung-gunung paling atraktif di dunia.

Kisah dibuka dengan profil seorang alpinis besar dari Perancis yang sering dijuluki sebagai ‘Penakluk Para Raksasa’ karena peran sentralnya dalam ekspedisi paling mengagumkan di gunung-gunung tinggi paling sulit dicapai oleh manusia. Kemudian buku ini juga ditutup dengan profil, perjalanan pendakian dan juga analisis lengkap kematian sang ‘Swiss Machine’ yang di abad modern, dianggap sebagai seorang raja alpinis yang sebenarnya.

Dan diantara sang Penakluk Para Raksasa dan Swiss Machine, ada banyak kisah lain yang juga sangat mengagumkan seperti; Romeo dan Juliet Puncak Himalaya, Mick Jagger dari Puncak Gunung, atau tentang pendekar samurai dari Inggris yang juga gugur saat turun dari raksasa gunung K2. K2 entah bagaimana, menjadi medan pendakian gunung yang paling istimewa, paling berbahaya, dan paling banyak memakan manusia. Dan di buku ini pula, Anda akan menemukan sebagian pendaki yang diceritakan, tewas dalam dekapan sang gunung maut K2.

Kisah-kisah utama dalam buku ini seperti dua jilid sebelumnya, ditulis dengan gaya historical fiction. Data yang kuat dan penulisan yang akurat serta sangat mudah dipahami, menjadi kekuatan penceritaan dalam buku ini. Bahkan pada bagian akhir buku ini, Anda akan menemukan ulasan profil tentang para pendaki gunung yang tewas pada bulan Januari – Februari tahun 2021 di Savage Mountain  yang beritanya sempat membuat fans mountaineering di dunia mandi dengan air mata duka dan juga doa.

Profil Buku Mountaineering Hari Terakhir Di Atas Gunung

Source: Arcopodo Journal

  • Judul: Hari Terakhir Di Atas Gunung
  • Penulis: Anton Sujarwo
  • Genre: Mountaineering dan Petualangan
  • Published by: Arcopodo Journal
  • Tebal: 504 Halaman
  • Ukuran: 14 x 21 cm
  • Cover: Standard
  • Kertas: Book paper ivory 230gr
  • Keterangan: Jilid terakhir dari paket buku One Last Climb

 

Saya Anton, saya suka mendaki gunung dan hiking. Saya juga adalah penulis buku mountaineering di Indonesia. Beberapa buku karya saya tentang dunia pendakian gunung yang sudah diterbitkan adalah;

  • Wajah Maut Mountaineering Indonesia
  • Dunia Batas Langit
  • Mahkota Himalaya
  • Merapi Barat Daya
  • Maut Di Gunung Terakhir
  • MMA Trail
  • Sejarah Pendakian Tebing Utara
  • 9 Puncak Seven Summit
  • Dewi Gunung
  • Gunung Kuburan Para Pemberani
  • Hari Terakhir Di Atas Gunung
  • Mimpi Di Mahameru

Semua buku-buku tersebut dapat diperoleh dengan mudah di beberapa marketplace atau langsung melalui tautan aplikasi whatsapp disini.

Tulisan saya yang lainnya juga bisa ditemukan di:

Terimakasih telah mengunjungi Arcopodo Journal.com

 

 

 

 

Posting Komentar untuk "PROFIL DAN SINOPSIS BUKU PENDAKIAN GUNUNG TERBARU; HARI TERAKHIR DI ATAS GUNUNG"