Tuesday, 1 September 2020

Pendaki Perempuan Pertama yang Mencapai Puncak Everest Secara Solo

 

Untuk mendapatkan pengakuan, seorang pendaki perempuan harus bekerja lebih keras daripada kebanyakan pendaki pria Alison Jane Hargreaves


Artikel ini dikutip dari buku DEWI GUNUNG karya Anton Sujarwo

Kisah Perempuan Pertama di Dunia yang Mencapai Puncak Everest Secara Solo dan Tanpa Tabung Oksigen 


>>> KLIK TAUTAN INI UNTUK MENDAPATKAN BUKU-BUKU PENDAKIAN GUNUNG TERBARU DI INDONESIA <<<

Prestasi puncak dari seorang Alison Hargreaves adalah ia merupakan perempuan pertama di dunia yang mendaki Everest secara solo, tanpa tabung oksigen, tanpa sherpa, dan juga tanpa fix line. Namun sebenarnya selain prestasi itu, Alison juga membuat banyak pendakian lain yang membuat namanya melambung. Bahkan pada tahun 1988, Alison yang saat itu tengah mengandung anak pertamanya pernah menyelesaikan pemanjatan di Eiger North Face bersama James Ballard, suaminya. Dan tidak hanya Eiger, Alison juga kemudian mengukir namanya dalam 5 tebing utara lain di Eropa dalam waktu satu musim, dan secara solo.

Alison Jane Hargreaves lahir pada tanggal 17 Februari 1962 di Belper, Derbyshire, Inggris. Setelah menyelesaikan sekolah menengahnya di Belper High School, Alison kemudian meninggalkan rumahnya untuk mengejar impiannya sebagai seorang pendaki gunung profesional. Ia kemudian berkenalan dengan James Ballard dan tak lama kemudian keduanya memutuskan untuk menikah. Baik James Ballard mau pun Alison Hargreaves adalah lulusan Universitas Oxford jurusan mate-matika. Namun seperti pada banyak pendaki gunung besar lainnya, Alison lebih tertarik pada gunung daripada rangkaian rumus dalam sains dan mate-matika.

Kisaran tahun 1990-an, Alison dan James Ballard memutuskan untuk pindah ke Spean Bridge, sebuah tempat di Dataran Tinggi Skotlandia. Spean Bridge kemudian menjadi tempat yang ideal bagi keluarga Ballard, terutama Alison, untuk memperdalam minat dan bakatnya dalam mountaineering.

Alison adalah generasi pendaki gunung yang kuat, satu generasi dengan nama-nama besar seperti Doug Scott dan Chris Bonington. Dan sebagai wanita, Alison cukup komplek menghadapi berbagai rintangan dan tantangan dalam karirnya sebagai pendaki gunung. Ia pada dasarnya tidak begitu suka dengan popularitas, namun prestasi dan pencapaiannya di atas gunung tidak menyembunyikan dirinya dari sorotan media yang penasaran. Dan media yang penasaran, publik yang kadang melihat suatu objek berdasarkan sudut pandang yang terbatas, pada banyak kondisi lebih sering melontarkan kritik dan cercaan pedas kepada siapa pun yang dianggap layak menerimanya. Termasuk pula dalam kasus ini, Alison Jane Hargreaves.

“Orang-orang akan selalu menemukan kesalahan pada dirimu, tidak peduli apa pun yang akan kamu lakukan”

Ucap Alison suatu ketika, saat diminta tanggapannya mengenai kritik yang ia terima. Kritik itu terjadi saat ia yang hamil 5 bulan memutuskan untuk mendaki Eiger North Face bersama suaminya.

Alison Jane Hargreaves dalam ekspedisinya di Kangtega. Sumber foto: Google image

Dalam kacamata yang objektif, kita pun harus memahami bahwa kritik yang diterima Alison dengan mendaki Eiger North Face pada saat mengandung bukanlah hal yang tidak beralasan. Tindakan itu meskipun dilakukan bersama suaminya sendiri tentu sangat berisiko dan berbahaya. Eiger North Face adalah salah satu tebing paling atraktif di muka bumi, panjang lintasan vertikalnya hampir dua kilomoter, perpaduan antara batu-batu, salju, dan juga es. Hal ini tentu saja sangat rentan bagi dirinya dan bayi yang dikandungnya. Jadi pada point ini kita memiliki persetujuan dengan nada kritik yang menganggap apa yang dilakukan Alison dengan memanjat Eiger North Face pada saat hamil, bukanlah tindakan bijaksana.

Namun kritik seperti ini juga pada dasarnya harus objektif, tidak hanya pada Alison yang notabene adalah wanita. Kritik senada juga harusnya dilontarkan pada para pendaki pria yang melakukan hal serupa, misalnya pergi mendaki gunung di saat isterinya sedang hamil. Bukankah risiko dan kesengsaraan yang diterima juga kurang lebih sama jika kemudian terjadi musibah dalam pendakian tersebut? Ini seperti kita kemudian membandingkan Alison Hargreaves yang mendaki Eiger North Face saat hamil dengan Rob Hall yang tewas di Everest saat isterinya juga sedang hamil. Adakah kesamaan persepsi terkait risiko kehamilan dan potensi yang akan dialami sang bayi jika membandingkan dua kondisi ini? Mengapa Alison dihujani kritik sementara Rob Hall tidak terkait dengan keputusannya meninggalkan isterinya yang sedang hamil untuk mendaki Everest?

Jangankan seorang wanita yang memiliki konsekuensi mengandung, melahirkan, menyusui dan membesarkan anak ketika ia memutuskan untuk menjadi seorang ibu, seorang pendaki laki-laki saja yang tidak akan melewati fase hamil dan melahirkan, tidak semua memiliki keberanian untuk berumah tangga ketika kehidupan sebagai pendaki gunung menjadi pilihan mereka

Membandingkan antara Alison Hargreaves yang mendaki Eiger North Face saat hamil dengan Rob Hall yang meninggalkan isterinya yang sedang hamil untuk mendaki Everest tentu bukan perbandingan yang apple to apple. Meskipun demikian, dua kasus ini sudah cukup jelas untuk melihat bahwa memang kesenjangan dan diskriminasi antara pendaki gunung perempuan dan pendaki gunung laki-laki masih terus ada. Meskipun teknologi dan zaman sudah jauh berkembang, perjuangan untuk menghilangkan hal semacam ini masih akan menempuh jalan yang panjang.

Bagian paling menarik dari seorang Alison Jane Hargreaves terkait dengan jati dirinya sebagai salah satu alpinis perempuan terkemuka dunia bagi saya adalah konsistensi yang tetap ia pegang teguh sebagai seorang ibu dan juga seorang isteri. Meskipun mendaki gunung adalah prioritas dalam hidup Alison, namun naluri sebagai seorang wanita membuat ia tetap mengambil keputusan yang tidak mudah dengan menjadi ibu dari anak-anaknya.

Pada profil Fanny Bullock Workman, atau pada profil Wanda Rutkiewicz, kita telah menemukan sebuah dilematis yang berbeda. Fanny meskipun memiliki dua orang anak di Amerika, memilih untuk menitipkannya pada pengasuh. Fanny lebih memilih berlepas tangan dengan pertumbuhan dua orang anaknya. Sementara untuk Wanda Rutkiewicz sendiri meskipun tidak sama persis, namun memiliki garis merah yang hampir mirip. Wanda memang tidak memiliki anak, dua pernikahannya gagal, suaminya ia tinggalkan untuk memilih gunung yang lebih ia cintai.

Alison Jane Hargreaves. sumber foto: Minden pictures

Akan tetapi dalam pribadi seorang Alison Jane Hargreaves kita menemukan sebuah pribadi yang lebih menarik. Ia tetap memilih memiliki anak, tetap memilih hidup bersama suaminya, namun di lain sisi Alison juga konsisten dengan nalurinya sebagai seorang mountaineer sejati. Ia tetap memiliki obsesi besar untuk menaklukkan 3 puncak gunung tertinggi di dunia (Everest, K2 dan, Kangchenjunga). Menyelaraskan kehidupan sebagai seorang pendaki gunung dengan kehidupan normal sebagai seorang ibu rumah tangga tentu adalah sebuah profesi yang tidak mudah. Dan atas pilihannya ini, sudah selayaknya Alison mendapat apreasiasi.

Jangan salah, beberapa orang justru bahkan tidak berani memiliki komitmen berumah tangga saat terlibat dalam urusan pendakian gunung atau alpinisme. Jangankan seorang wanita yang memiliki konsekuensi mengandung, melahirkan, menyusui dan membesarkan anak ketika ia memutuskan untuk menjadi seorang ibu. Seorang pendaki laki-laki saja yang tidak akan melewati fase hamil dan melahirkan, tidak semua memiliki keberanian untuk berumah tangga ketika kehidupan sebagai pendaki gunung menjadi pilihan mereka.

Alison Hargreaves dalam ekspedisinya di K2 tahun 1995, foto ini diambil beberapa hari sebelum ia mencapai puncak dan kemudian tewas dalam perjalanan turun. Sumber foto: Google image

K2 dan Nanga Parbat

Gunung Everest, K2 dan Kangchenjunga adalah rangkaian 3 gunung tertinggi di dunia yang menjadi target Alison tahun 1995. Setelah sukses besar di Everest dengan pendakiannya yang solo, tanpa tabung oksigen, dan tanpa sherpa, Alison kemudian berencana untuk meneruskan pendakiannya di K2 untuk kemudian dilanjutkan ke Kangchenjunga. Namun sayang di K2, gunung kedua tertinggi di dunia yang terletak di atas perbatasan antara China dan Pakistan ini, obsesi Alison harus terkubur bersama dengan tubuhnya yang juga menghilang.

Berdasarkan laporan kejadian pada saat itu, Alison dan beberapa rekan pendakinya yang lain, termasuk juga seperti pendaki Amerika Serikat bernama Rob Slater, tewas digulung badai gunung K2 yang ganas. Tubuh Alison tak pernah ditemukan hingga hari ini. Saat tewas di K2, Alison meninggalkan anaknya pertamanya yang bernama Tom Ballard dalam pada usia 6 tahun, sedangkan Kate Ballard berusia 3 tahun.

Tahun 2019, bulan Maret tanggal 9, berpuluh tahun setelah kepergian Alison yang penuh duka di K2. Keluarga Ballard kembali dirundung air mata yang deras. Tom Ballard, anak sulung Alison dan James, bayi yang ada dalam kandungannya saat ia mendaki Eiger North Face tahun 1988, kini tewas di gunung seperti ibunya. Jika petualangan Alison kemudian berakhir di K2, maka sang anak kemudian tewas di Nanga Parbat, Gunung Pembunuh yang sama tidak ramahnya seperti K2.

Tom Ballard sama seperti ibunya dalam urusan prestasi di atas gunung. Prestasi puncak Tom Ballard dalam alpinisme dan mountaineering adalah pada musim dingin tahun 2014-2015 ketika ia berhasil menyelesaikan pendakian enam wajah utara Eropa secara solo dan dalam satu musim dingin. Enam wajah utara Eropa tersebut adalah Eiger North Face, Matterhorn North Face, Grandes Jorasses North Face, Piz Badile North Face, Petit Dru North Face dan, Tre Cima di Lavaredo North Face812.1. Sebelum Tom, belum ada satu pun pendaki gunung di dunia yang berhasil mendaki enam tebing mematikan ini secara solo dan dalam musim dingin. Tom adalah yang pertama kali melakukannya.

Alison, Kate, dan Tom berfoto bersama sebelum keberangkatan Alison ke K2 yang kemudian membuat ia tidak pernah kembali lagi. Sumber foto: Google image 

Di Nanga Parbat, Tom Ballard berpartner dengan Daniele Nardi dari Italia. Keduanya bertujuan untuk mencapai puncak Nanga Parbat pada musim dingin dari jalur Diamir Face. Namun malang bagi Tom Ballard dan Daniele Nardi, sebuah longsoran menghentikan mereka sebelum berhasil mencapai puncak.

Profil lengkap dan detik-detik kematian Alison Hargreaves di K2 pada tahun 1995 dapat dibaca dalam buku saya yang berjudul Gunung Kuburan Para Pemberani, InsyaAllah rilis pertengahan tahun 2020 ini. Buku ini merupakan serial kedua daru buku One Last Climb yang terdiri dari 3 jilid. Judul pertama dan jilid pertama dari seri ini berjudul Maut Di Gunung Terakhir dan sudah dirilis tahun 2019 lalu.

>>> KLIK TAUTAN INI UNTUK MENDAPATKAN BUKU-BUKU PENDAKIAN GUNUNG TERBARU DI INDONESIA <<<

Pencapaian Monumental

  • Perempuan pertama di dunia yang berhasil mencapai puncak Everest secara solo tanpa tabung oksigen, tanpa bantuan sherpa dan juga fix line.
  • Perempuan pertama yang menyelesaikan pemanjatan Great North Face of the Alps dalam satu musim secara solo.


Footnote

    1. 812.1 Profil dan sejarah enam wajah Eropa ini secara lengkap dapat dibaca kembali pada buku saya yang ke-8 berjudul; Sejarah Pendakian Tebing Utara.

 

 

 

 

 

 

No comments:

Post a Comment

Tulisan Terbaru

PEMUNCAKAN DAN TRAGEDI DI GUNUNG PALING SULIT DI DUNIA

Gunung K2 yang merupakan gunung tertinggi ke-2 di dunia dan merupakan satu-satunya gunung 8.000 meter yang belum tersentuh puncaknya pa...