Tuesday, 22 September 2020

Persaudaraan Di Gunung Kejam & Upaya Penyelamatan Paling Historis Dalam Sejarah K2

 “Kami memasuki gunung K2 saat itu sebagai orang asing yang tidak saling mengenal, tetapi kami meninggalkannya (K2) sebagai saudara" Charles Houston

 

Poster film The Summit yang rilis tahun 2012 berkisah tentang musibah di gunung K2 tahun 2008. Dengan imajinasi yang lebih jauh ke belakang, kita mungkin dapat pula membayangkan bahwa pristiwa The Belay yang terjadi 59 tahun sebelum film ini dirilis, memiliki gambaran yang tidak jauh berbeda seperti yang dilukiskan oleh cover The SummitSumber foto: Google image

>>> KLIK TAUTAN INI UNTUK MENDAPATKAN BUKU-BUKU PENDAKIAN GUNUNG TERBARU DI INDONESIA <<<  

EKSPEDISI KE-4 DI K2


Dalam daftar nama-nama para pendaki gunung dunia dengan prestasi yang patut untuk dicatat dan diingat, nama Art Gilkey dengan berat hati harus kita katakan, belum layak untuk dimasukkan dan disebut legenda. Pencapaian Art Gilkey dalam mountaineering biasa-biasa saja, bahkan bisa dibilang masih jauh dibawah kelayakan untuk disebut menarik. Satu-satunya prestasi tertinggi Gilkey dalam pendakian gunung adalah keikutsertaannya dalam ekspedisi Amerika tahun 1953 ke gunung K2 yang dipimpin oleh Dr. Charles Snead Houston, pendaki Amerika yang juga ikut berpartisipasi dalam ekspedisi Inggris Amerika pada tahun 1936 ke Nanda Devi. Keikutsertaan Art Gilkey ke K2 pada tahun 1953 ini sekaligus menjadi moment yang membuat namanya dicatat abadi dalam sejarah mountaineering dunia meskipun dari sisi pencapaian, ekspedisi ini tak mencapai apa-apa selain kematian dan kegagalan. Penjelajahan lain dari nama Art Gilkey yang dapat kita temukan dalam catatan sejarahnya adalah petualangannya ke Alaska pada tahun 1950 dan 1952, namun tidak ada catatan signifikan mengenai apa yang telah dilakukan Gilkey dalam dua kali kunjungannya ke Alaska tersebut.

Daripada sebagai seorang mountaineer, Art Gilkey pada umumnya lebih banyak dikenal sebagai seorang ilmuwan geologis yang cukup berwawasan. Disertasi Gilkey yang berjudul “Fracture Pattern of the Zuni Upliff” telah mengantarkan namanya untuk meraih gelar Doktoral pada beberapa waktu menjelang kematiannya. Zuni Upliff atau Zuni Mountain yang menjadi objek penelitian dalam disertasi Gilkey adalah sebuah gunung yang terletak di negara bagian Cibola Country, barat laut New Meksiko, puncak tertinggi dari gunung ini adalah Mount Sedgwick yang memiliki ketinggian elevasi sejauh 2.821 meter.

Perjalanan Art Gilkey ke Alaska pada dasarnya juga merupakan bagian dari jurnal ilmiahnya, meskipun hal ini membuka peluang juga bagi Gilkey untuk mengenal lebih jauh medan yang telah menjadi bidang ketertarikan saintisnya. Dalam ekspedisi Amerika ke gunung K2 tahun 1953, nama Art Gilkey bukan satu-satunya ilmuwan yang direkrut sebagai anggota pendakian. Selain Gilkey ada beberapa nama lain yang juga bergabung dalam ekspedisi kecil ini untuk alasan petualangan, ambisi penaklukan, dan juga ilmu pengetahuan.

Charless Houston yang menjadi kunci dari ekspedisi orang-orang Amerika ke K2 tahun 1953 ini adalah orang yang juga sudah pernah mendatangi gunung ini pada tahun 1938 sebelumnya. Sampai ekspedisi Amerika tahun 1953, terhitung baru ada empat usaha serius untuk mencapai puncak K2 sejak gunung ini muncul dalam peta sebagai salah satu destinasi pendakian gunung Himalaya dan Karakoram.

Upaya pertama mendaki K2 dilakukan oleh Oscar Eickenstein, Aleister Crowley, Jules Jacot-Guillarmod, Heinrich Pfannl, Guy Knowles dan juga Victor Wessely melalui punggungan timur laut pada tahun 1902. Ekspedisi ini gagal mencapai puncak dan mendapat begitu banyak rintangan.

Rintangan pertama Eickenstein dan Aleister Crowley ditangkap oleh pihak pemerintah setempat atas permintaan dari Martin Conway.13.1 Tuduhan spionase yang dialamatkan kepada Eickenstein dan Crowley diduga hanyalah rekayasa Conway untuk menghambat upaya ekspedisi pertama ini mencapai puncak K2.

Selanjutnya tantangan kedua yang menimpa ekspedisi Inggris dan Swiss ini adalah perjalanan yang demikian berat hanya untuk mencapai kaki gunungnya. Berdasarkan catatan masa itu dibutuhkan waktu empat belas hari bagi tim ekspedisi pimpinan Oscar Eickenstein untuk bisa mencapai kaki gunung K2.

Tantangan ketiga adalah sakit yang menimpa beberapa anggota ekspedisi, Aleister Ceowley terkena efek residual malaria sementara Heinrich Pfannl menunjukkan gejala edema. Kemudian ada juga cuaca buruk yang seolah tak mau beranjak dari K2. Selama ekspedisi berlangsung hanya ada 8 hari yang cerah di antara 68 hari masa pendakian. Meskipun demikian ekspedisi ini bertahan pada ketinggian 6.500 meter dan membuat rekor yang menakjubkan bertahan lebih dari dua bulan di atas ketinggian mematikan.

Foto buram Dr. Charles Houston saat meniti jembatan tali di salah satu medan pendakian Himalaya. Houston dapat dibilang sebagai sosok pertama yang memperkenalkan bermacam teori tentang penanganan medis untuk penyakit ketinggian. Sumber foto: Los Angeles Time

Mempertimbangkan kondisi peralatan pada masa itu, tantangan alam buas yang tak kenal belas kasihan, juga kondisi pakaian yang dapat melindungi anggota ekspedisi yang berlangsung hampir selama ekspedisi, upaya pertama di K2 ini patut untuk mendapatkan apreasiasi tentang semangat dan keberanian mereka. Meskipun pada akhirnya, kombinasi segala rintangan ini dan juga konflik pribadi antar anggota ekspedisi (antara yang ingin meneruskan ekspedisi dan ingin mengubah rencana di lain hari), membuat upaya pendakian puncak K2 yang pertamakalinya disudahi dengan kegagalan. Ketika tidak ada lagi yang dapat ia lakukan untuk meneruskan pendakian, Eickenstein memutuskan untuk menarik semua anggotanya mundur dari K2.

Ekspedisi kedua yang mendatangi K2 adalah pada tahun 1909 dibawah komando Duke of the Abruzzi, pangeran Luigi Amadeo. Tim ini mengambil rute sisi tenggara gunung, namun terhenti pada ketinggian 6.250 meter di sebuah tempat yang dinamakan South East Spur13.2.

Merasa buntu melalui rute tenggara, Luigi Amadeo mengajak timnya untuk mengitari gunung dan mencari sisi yang paling memungkinkan bagi mereka untuk naik. Akan tetapi setelah mencoba semua sisi K2 dan tak menemukan celah yang memungkinkan, Duke of the Abruzzi kemudian mengatakan bahwa K2 selamanya tidak akan pernah bisa didaki. Kemudian ia pindah ke Chogolisa, di mana ia dan para pendakinya terhenti 150 meter sebelum mencapai puncak karena dihalau oleh badai gunung Chogolisa yang ganas.

Nama Charles Houston kemudian muncul pada tahun 1938 untuk pertamakalinya di K2. Houston dan timnya menyimpulkan bahwa rute melalui Abruzzi Spur yang ditinggalkan oleh pangeran Luigi Amadeo tahun 1909, adalah rute yang paling mungkin untuk mencapai puncak K2. Pendakian Houston dan timnya berhenti pada ketinggian 8.000 meter ketika kehabisan suply makanan dan risiko cuaca buruk mengusir tim ini dari dinding gunung.

Setahun setelah kehadiran Houston di K2, gunung itu kedatangan tamu lagi. Kali ini seorang pendaki gunung berdarah Jerman Amerika bernama Fritz Wiessner yang bahkan mampu mendaki mencapai ketinggian 200 meter di bawah puncak tertinggi K2. Namun sirdarnya yang bernama Pasang Dawa Lama meminta untuk menghentikan pendakian ketika empat anggota ekspedisi13.3 hilang ditelan badai.

Ada sebuah asumsi yang berkembang jika Fritz Wiessner bersikeras untuk melanjutkan pendakian, kemungkinan besar puncak K2 dapat dicapai pada tahun 1939, artinya tidak harus menunggu tahun 1954 dimana ekspedisi Italia pimpinan Ardito Desio membuat first ascent melalui nama Lino Lacedelli dan Achille Compagnoni.

Namun demikian, keputusan untuk mundur saat itu dinilai sudah tepat bagi sebagian besar pendaki gunung dunia. Seumpama saja Wiessner bersikeras untuk tetap melanjutkan pendakian dan mencapai puncak K2, maka keberhasilan itu tak akan bisa dirayakan dengan sempurna. Kehilangan empat nyawa dalam sebuah ekspedisi sama sekali bukan bagian dari makna kesuksesan first ascent gunung tersulit di dunia. Jika Wiessner tetap memaksakan diri mengikuti ambisinya saat itu, ia mungkin akan dikenang sebagai salah satu alpinis brutal dan tak berpikemanusiaan yang pernah ada. Untung saja ia mengikuti permintaan sirdarnya, dan reputasinya kemudian tetap bergaung sebagai salah satu pionir pemanjat tebing terbaik di Amerika hingga sekarang.

Hanya Charles Houston yang tertarik untuk kembali lagi ke K2 di antara empat ekspedisi sebelumnya. Mulanya Houston berniat untuk mengunjungi gunung ini pada tahun-tahun sebelum pertengahan abad ke-20, namun karena perang dunia ke-2 yang meletus membuat rencananya terpaksa ditunda. Tahun 1953 akhirnya pemerintah otoritas Pakistan mengeluarkan izin untuk Charles Houston kembali ke K2. Dan pada upayanya yang kedua ini, Houston ingin menerapkan sebuah gaya pendakian yang berbeda dengan sebelumnya.

Di Amerika, Houston merekrut dan menyeleksi beberapa pendaki gunung dan juga ilmuwan yang tertarik untuk ikut ekspedisi. Tim ini nantinya direncanakan akan melakukan pendakian secara alpine style, meskipun pada kenyataannya jasa Hunza (porter di Pakistan) tetap digunakan walau hanya bisa mencapai Camp II.

Pendakian ini juga nantinya direncanakan tidak akan menggunakan tabung oksigen, bukan karena para pendaki itu sepakat tak membutuhkannya, namun mereka sepakat bahwa membawa benda itu akan terlalu memberatkan pendakian yang sudah tidak didukung oleh sumberdaya yang cukup lagi.

Sebelum ekspedisi bertolak menuju Pakistan, terkumpul delapan nama yang siap melakukan pendakian menuju K2. Berikut adalah profil singkat mereka;

  1. Charles Houston, pemimpin ekspedisi sekaligus orang paling berpengalaman di gunung Himalaya. Experience Houston di Nanda Devi dan K2 pada beberapa tahun sebelumnya telah membuatnya dianggap paling mengerti skenario pendakian.
  2. Robert Bates, seorang pendaki gunung, penulis sekaligus guru. Bates sama seperti Houston, ia juga adalah alumni ekspedisi K2 tahun 1938. Pengalaman lain dari Bates adalah ia merupakan teman Bradford Washburn saat melakukan pendakian first ascent di Mount Lucania di Yukon.
  3. Robert Bob Craig, seorang pria berusia 28 tahun yang berprofesi sebagai instruktur ski mountaineering yang berpengalaman dari Seattle, Craig telah melakukan pendakian first ascent secara mengesankan di Devil’s Thumb, British Columbia.
  4. Dee Molenaar, seorang pelukis landskap berusia 34 tahun, merupakan teman dari Bob Craig. Selain seorang seniman, Molenaar juga adalah seorang geologist berpengalaman, ia juga telah menyelesaikan pendakian Mount Saint Elias, Alaska beberapa waktu sebelumnya.
  5. Art Gilkey, seorang geologist dan ilmuwan yang mempelajari gletser dari Iowa. Selain ilmuwan murni, latar belakang lain dari Art Gilkey adalah seorang pemanjat tebing.
  6. Peter Kittilsby Schoening atau Pete Schoening, pendaki gunung dari Seatlle. Selain pendaki gunung, Schoening juga berprofesi sebagai seorang insinyur kimia. Pengalamannya yang cukup signifikan sebelum tahun 1953 adalah memimpin ekspedisi pendakian yang sukses di Yukon.
  7. George Bell, seorang fisikawan, imuwan nuklir berusia 27 tahun dari Los Alamos yang telah membuat banyak pendakian first ascent di Peru.
  8. Letnan Kolonen Harry Reginald Antony Streather atau Tony Streather, seorang perwira angkatan bersenjata Inggris yang sebelumnya hanya bertugas untuk membantu transportasi. Namun karena skill dan kecakapannya kemudian direkrut sebagai salah satu anggota utama ekspedisi. Salah satu hal yang menjadi pertimbangan mengapa Streather direkrut menjadi anggota tim utama adalah pengalamannya mendaki Tirich Mir di Pakistan saat bergabung dengan ekspedisi Norwegia tahun 1951.

Pada dasarnya Charles Houston sangat berharap dapat mengajak William House, salah satu pendaki tangguh yang memiliki peran besar pada ekspedisi pertama Houston tahun 1938. Namun sayang, dengan alasan bisnis yang tak dapat ia tinggalkan, House tak dapat bergabung dalam ekspedisi ini. Nama pendaki Amerika yang tangguh lainnya seperti Willi Unsoeld, Paul Petzoldt dan Fritz Wiessner sendiri tidak ikut bergabung dikarenakan merasa tidak sreg dengan komposisi anggota. Keputusan yang kemudian membuat nama mereka tidak dapat ikut dicantumkan dalam sebuah kisah mountaineering Amerika yang paling heroik dan abadi sepanjang sejarah pendakian gunung K2.

Selain mengadopsi teknik alpine style yang ringan dan cepat, ekspedisi Amerika yang diberi judul American Karakoram Expedition 1953 ini juga memutuskan untuk tidak menggantungkan logistik ekspedisi kepada sponsor. Houston dan kawan-kawannya, umumnya masih menerima dukungan sponsor dalam bentuk peralatan dan perlengkapan, namun ekspedisi ini menolak dengan keras dukungan dalam bentuk uang.

Untuk masalah biaya, sepenuhnya ditanggung oleh masing-masing anggota ekspedisi yang ikut berpartisipasi. Anggaran biaya sebesar $32.000 yang dibutuhkan untuk ekspedisi pada masa itu diperoleh melalui iuran pribadi anggota ekspedisi, beberapa hadiah, juga uang muka yang dibayarkan oleh National Broadcasting Corporation dan Saturday Evening Post untuk film dan serangkaian artikel surat kabar yang ditulis selama ekspedisi.

Dana lain dari ekspedisi ini juga diperoleh melalui pinjaman signifikan dari masing-masing anggota tim dari pihak lain. Adapun tawaran uang dari pemerintah dan juga badan mountaineering Amerika yang lainnya, secara umum ditolak oleh tim ekspedisi Houston. Sikap ini dinilai oleh beberapa pengamat mountaineering sebagai salah satu upaya dari ekspedisi Amerika tahun 1953 ke Karakoram ini untuk tetap independen dan tidak bisa ‘didikte’ oleh sponsor mereka. Meskipun pada dasarnya ekspedisi ini dapat dikatakan mengalami banyak kendala dalam hal pengumpulan biaya ekspedisi.

Pada tanggal 20 Juni 1953, ekspedisi ini telah mencapai base camp utama gunung K2 setelah melewati hari-hari awal yang melelahkan untuk melintasi Gletser Baltoro di wilayah Askole. Pendakian pada awalnya berjalan dengan lancar meskipun mengalami kemajuan yang sangat lambat. Lambatnya proses pendakian ini juga merupakan imbas dari strategi pendakian yang telah dijalankan oleh Houston. Pengalaman Houston saat mendaki Nanda Devi dan juga K2 pada tahun 1939 telah membuatnya menerapkan prinsip untuk membuat persediaan logistik siap sedia dan tersisi penuh di setiap Camp. Hal ini dilakukan oleh Houston guna mewaspadai kemungkinan untuk berbalik jika saja cuaca buruk membuat mereka terpaksa mundur dari K2 nantinya.

Menara raksasa K2 dengan hamparan Gletser Goldwin Austin yang luas. Sejak awal sejarah pendakiannya, kecamuk badai K2 terkenal dengan keganasan dan kekejamannya yang hampir selalu memakan korban. Sumber foto: Google image 

Sekitar tanggal 1 Agustus, keseluruhan anggota tim ekspedisi telah berhasil bergerak hingga mencapai ketinggian 7.800 meter di Camp VIII. Keesokan harinya sudah terbayang di benak para petualang Amerika itu bahwa mereka akan berhasil mencapai puncak K2 sebagai first ascent. Sayangnya impian ini tiba-tiba harus terhenti dari benak para pendaki itu, karena cuaca K2 yang selama bulan Juni dan Juli bersahabat dengan cukup baik, kini berubah menjadi beringas dan mematikan.

Satu atau dua hari kemudian, cuaca bahkan berubah lebih brutal dan berlangsung terus menerus. Badai di K2 seolah tak mau berhenti mencoba untuk mengusir para pendaki Amerika itu untuk segera meninggalkan tempat tersebut. Mulanya Charles Houston dan kawan-kawan, dapat dikatakan tidak terlalu terpengaruh dengan kondisi itu. Jangankan frustasi untuk segera mengakhiri pendakian, terpikirkan untuk mundur pun tidak ada dalam pikiran para pendaki gunung Amerika itu.

Melihat kondisi cuaca yang tak kunjung menunjukkan harapan karena badai telah berlangsung hampir satu minggu lamanya tanpa ada tanda-tanda akan berakhir. Tujuh orang pendaki itu mulai mendiskusikan siapa saja yang akan dipilih untuk melakukan final summit push, mengingat tidak mungkin semuanya dapat mencapai puncak dalam dekapan gunung kejam yang sedang mengamuk itu. Namun rencana ini juga pada akhirnya harus buyar. Malam keempat badai yang meraung sepanjang malam telah memicu salah satu tenda mereka ambruk, kondisi yang kemudian memaksa Charles Houston dan George Bell untuk masuk ke tenda lain yang juga sebenarnya sudah over kapasitas.

Pada hari keenam di Camp VIII, window mulai tersibak dan menawarkan kepada anggota ekspedisi untuk sedikit bergerak mengevaluasi langkah mereka. Dan pada saat inilah untuk yang pertamakalinya rencana untuk mundur dan menyerah kepada keganasan K2 mulai dibicarakan.

Esok harinya cuaca membaik yang memungkinkan untuk melakukan upaya summit attack, namun pemikiran ini kemudian dengan cepat menguap ketika Art Gilkey yang sedang berada di luar tenda tiba-tiba hilang keseimbangan dan ambruk. Charles Houston yang memang merupakan seorang dokter segera mendiagnosa Gilkey dan menyimpulkan bahwa ia telah terserang thrombophlebitis atau pembekuan darah pada jaringan vena, yang di atas dataran rendah merupakan penyakit berbahaya, namun diketinggian 7.800 meter, kalimat lain untuk menyebut penyakit ini adalah ‘kematian’.

Meskipun mengetahui betapa berbahayanya penyakit yang telah membuat Gilkey roboh, sama sekali tidak terpikir bagi ketujuh pendaki itu untuk meninggalkannya sendirian di atas gunung. Bagaimana pun juga Art Gilkey harus dibawa turun. Namun karena tak lama kemudian badai kembali melolong di K2, membuat rencana untuk turun terpaksa dibatalkan dan semua pendaki kembali meringkuk di dalam tenda yang kesempitan.

Diagnosa lanjutan yang dilakukan oleh Houston membuat kondisi tim ini semakin menyedihkan, penyakit thrombophelibitis yang diderita Gilkey telah berkembang semakin parah, bahwa penyakit itu telah pula mengundang gejala pulmonary embolism. Pulmonary embolism sendiri adalah penyumbatan arteri di paru-paru oleh zat yang telah berpindah dari tempat lain melalui pembuluh darah. Dalam kasus Art Gilkey, pembengkakan pada kakinya dan terpapar pada ketinggian mematikan, itulah yang secara signifikan telah membuat ia menderita pulmonary embolism.

Tanggal 10 Agustus situasi semakin kritis, kondisi Gilkey dengan cepat memburuk dan drop, sementara mereka semua masih terperangkap dalam badai 7.800 meter gunung K2. Tanpa ada upaya untuk turun dan melakukan sesuatu, kondisi ini tidak hanya akan membawa kematian bagi Gilkey, tapi juga seluruh anggota tim. Dengan memperhitungkan bahaya badai dan avalanche yang sambung menyambung tiada henti, tim ini kemudian memutuskan untuk segera turun meski apa pun risikonya.

Camp ekspedisi Amerika di gunung K2 pada tahun 1953, sebelum pristiwa heroik dan legendaris itu terjadi. Sumber foto: The New York Times

Tidak ada pikiran dan ambisi lagi untuk mencapai puncak K2 dan membuat first ascent dalam benak Charles Houston dan kawan-kawan. Sekarang fokus mereka adalah segera turun meninggalkan gunung dan menyelamatkan Art Gilkey yang sedang sekarat. Dengan memasukkan Gilkey dalam sleeping bag, dibalut oleh tandu darat dari bahan canvas, dibebat oleh tali seperti mummi, tubuh Gilkey mulai ditarik dan kadang diturunkan melewati neraka yang kejam gunung K2.

Proses evakuasi berjalan dengan sangat sulit dan mengkhawatirkan. Menarik atau menurunkan sesosok tubuh dengan berat mencapai 60kg lebih bukanlah perkara yang menyenangkan untuk dilakukan. Dan ini mereka harus melakukannya di K2, pada ketinggian 7.800-an meter, di tengah raungan badai dan risiko avalanche yang ingin menyergap nyawa mereka dengan cepat. Ini benar-benar sebuah mimpi buruk yang tidak dapat dihindari. Meski bagaimana pun, akhirnya proses evakuasi ini berhasil turun hingga ketinggian 7.600 meter, tersisa sebuah medan yang harus dilalui dengan traversing untuk mencapai Camp VII di mana mereka bisa beristirahat.

Medan yang harus dilintasi tersebut adalah sebuah selokan atau couloir yang tidak terlalu lebar namun cukup berbahaya. Ujung dari selokan itu langsung bermuara pada Gletser Goldwin Austin yang menganga menunggu mangsa sejauh ribuan meter di bawah tebing. Dibutuhkan sebuah teknis yang matang untuk dapat melewati medan semacam ini, apalagi dalam kondisi membawa tubuh Art Gilkey yang terbungkus tak berdaya.

Pete Schoening kemudian mengambil posisi di atas tubuh Gilkey, ia membenamkan kapak esnya sedalam mungkin kemudian melilitkan tali yang menahan tubuh Gilkey ke badan kapak untuk kemudian kembali ke pinggang Schoening melalui tangan kanannya.

Waktu saat itu menjelang tengah hari di K2, badai masih bertiup menakutkan meski tidak sebrutal hari sebelumnya, gemuruh avalanche dengan skala yang tidak terlalu besar juga kerapkali mampir ke telinga. Perencanaan yang disusun oleh Houston dan para pendaki yang lain dalam melewati couloir ini adalah dengan membuat semacam bandul atau derek, sehingga mereka bisa menarik tubuh Art Gilkey dari seberang selokan.

Sebelum rencana ini dilakukan, Bob Craig yang sebelumnya hampir saja jatuh ke jurang dihantam avalanche, memilih untuk istirahat sejenak di ice shelf dan menenangkan diri. Ia juga melepaskan tali yang menghubungkannnya dengan Molenaar untuk memberi ruang pada Molenaar supaya lebih leluasa bergerak. Ketika Craig melepaskan talinya, Molenaar mengambil tindakan pencegahan dengan mengikat dirinya pada tali yang lebih longgar yang terhubung dengan tubuh Art Gilkey.

Sebelum pekerjaan menyeberang couloir itu benar-benar dimulai, George Bell yang berdiri tidak jauh dari tubuh Art Gilkey kehilangan keseimbangan dan terpeleset jatuh. Ketika Bell terjatuh, tubuhnya menabrak kaki Streather yang kemudian membuat Streather oleng dan ikut terjatuh. Jatuhnya Streather menarik tali kedua yang menghubungkan dirinya dengan Charles Houston dan Robert Bates, membuat kedua pendaki itu juga terjengkang dari posisi mereka!

Tidak ada yang dapat menahan laju jatuh keempat pendaki yang terjerat tali itu kecuali tali yang menghubungkan Molenaar dengan tubuh Art Gilkey, yang beberapa saat yang lalu baru saja dikaitkan oleh Molenaar ketika Bob Craig melepaskannya untuk beristirahat. Tali itu diraih (dikaitkan/dicantolkan) dengan cepat oleh Streather ketika ia terseret jatuh. Molenaar yang terhubung dengan tali langsung terjatuh pula sambil menarik pula tubuh Art Gilkey yang tidak berdaya dalam balutan sleeping bag seperti mummi. Sekarang ada enam tubuh yang tergantung di dinding K2 yang siap meluncur dengan kecepatan roket ke Gletser Goldwin Austin. Satu-satunya yang membuat laju itu terhenti adalah seutas tali yang menghubungkan antara Art Gilkey dengan Pete Schoening.

Pete Schoening dengan sigap dan spontan mencondongkan dirinya ke arah kapak yang ia tanam sebelumnya untuk mendapatkan lebih banyak gaya dan kekuatan dalam menahan tali yang tiba-tiba berubah kencang laksana kawat baja karena dibebani oleh enam tubuh temannya. Selama lima menit kemudian, mungkin adalah saat-saat paling monumental dalam hidup Schoening ketika ia bertahan sekuat tenaga untuk tidak ikut terjatuh dan menjadi satu-satunya jangkar penahan bagi keenam rekannya.

Ini menjadi sesuatu yang sangat luar biasa, tentang bagaimana Schoening bisa bertahan begitu rupa. Kejadian ini bukan hanya sebuah keterampilan dan ketangkasan seorang pendaki gunung terbaik, namun juga telah menjadi sebuah keajaiban yang menakjubkan. Pada ketinggian di mana seseorang tidak dapat berpikir dengan jernih karena pengaruh ketinggian, alih-alih hanya untuk melakukan tindakan yang cepat dan tangkas, namun Pete Schoening juga mampu melewati masa super kritis itu dengan mengambil tindakan yang tepat dan efektif.

Pete Schoening Sumber foto: Gripped Magazine


Ketika jatuhnya terhenti, kondisi menjadi cukup kacau dan berantakan. Bell terbaring dengan napas yang hampir habis, Molenaar merintih memegangi pahanya yang berdarah, Houston pingsan tak sadarkan diri di tebing jurang yang lebih dalam, sementara Sreather yang sempat panik berupaya memperbaiki posisinya. Robert Bates yang pulih lebih cepat dari kejadian itu segera mendekati Houston yang beberapa meter ada di bawahnya. Mata Houston yang terbuka namun tampak membingungkan membuat Bates berasumsi bahwa sahabatnya itu baru saja terguncang dengan hebat.

          “Dimana kita, apa yang kita lakukan di sini?”

Tanya Houston kepada Bates yang sudah berdiri di sampingnya.

          “Kita terjatuh Houston, kau pingsan”

Jawab Bates sambil memandangi temannya yang masih kebingungan.

Dalam kondisi demikian, tim babak belur itu tidak memiliki kemampuan untuk menaikkan Charles Houston, ia harus bergerak sendiri kembali ke atas. Namun kondisi Houston yang kebingungan dan nampaknya terguncang hebat membuat laki-laki itu seolah gusar untuk bertindak. Melihat kenyataan itu, Bates meraih tubuh Houston dan merangkulnya untuk membantu Houston berdiri

“Charlie, jika kau ingin melihat Dorcas dan Penny lagi, maka naiklah ke sana sekarang” kata Bates.

Motivasi itu bekerja dengan efektif, karena sesaat kemudian mata Houston lebih terbuka dan ia mulai bergerak. Bagaimama pun juga Dorcas dan Penny adalah dua nama yang sangat ia cintai. Isteri dan puterinya itu menunggu ia pulang dalam kondisi hidup, dan bayangan wajah dua orang itu memberi tenaga dan energi baru untuk Houston.

Sketsa posisi jatuhnya anggota ekspedisi Amerika di gunung K2 pada tahun 1953. Sumber foto: The American Alpine Club
Ada cukup banyak ilustrasi posisi Pete Schoening yang ditampilkan terkait dengan peristiwa The Belay. Dan gambar di atas adalah salah satunya. Sumber foto: Gripped.com

 

KECELAKAAN ATAU PENGORBANAN?


Setelah keadaan yang sangat menegangkan itu berlalu, maka sekarang dibutuhkan untuk membuat yang terluka berlindung dan beristirahat. Tubuh Art Gilkey yang terluka ditempatkan di sebuah selokan kecil dengan diikat pada dua buah kapak es yang tertancap erat dalam permukaan salju. Sementara yang lain bergerak ke seberang couloir untuk mendirikan tenda pada sebuah langkan yang agak rata.

Charles Houston, George Bell, Pete Schoening dan Dee Molenaar ditempatkan di dalam tenda, sementara itu Robert Bates, Tony Streather dan Bob Craig bergerak menuju tempat Art Gilkey untuk membawanya ke tenda pula. Namun sesampainya di tempat di mana Gilkey sebelumnya berada, ketiga pendaki itu tidak menemukan apa-apa selain sebuah jejak longsoran salju yang baru saja menyapu tempat tersebut.

“Memang seolah-olah tangan Tuhan telah menyapunya”

Tulis Robert Bates dalam bukunya saat mengomentari pristiwa itu.

Keesokan harinya setelah melewati malam yang penuh dengan kengerian, Charles Houston dan timnya  menemukan dirinya berjalan menuruni rute yang ternyata menjadi rute jatuhnya Art Gilkey. Ada banyak bekas sleeping bag dan kain tenda yang digunakan membebat Gilkey berserakan sepanjang rute, potongan-potongan tali dan juga darah berceceran tak karuan di berbagai tempat pada permukaan salju.

“Jelas kami telah menuruni rute yang sama yang dilalui oleh Art, dan kami berjalan mengikuti darah Art. Hanya ada darah, darah, dan darah, kami tidak membicarakan hal tersebut dalam waktu yang lama”.

Tujuh pendaki Amerika yang tersisa itu mencapai base camp K2 empat hari kemudian. Mereka telah melalui hari-hari neraka di K2, gunung kejam itu telah merenggut Art Gilkey dalam perjalanan pertamanya ke Himalaya. Namun gunung adalah gunung, tidak ada unsur perasaan dan belas kasihan di dalamnya, ketika seseorang mendatanginya, maka artinya ia juga telah siap dengan segala konsekuensi dan risikonya.

*


Pasca pendakian yang monumental itu, Jim Curran, seorang penulis, pendaki gunung, sekaligus pembicara dari Inggris memberi komentarnya atas kematian Art Gilkey. Menurut Curran, kematian Gilkey tak dapat ditepis, memang sangat tragis, namun tidak diragukan telah menyelamatkan nyawa rekan-rekannya yang lain. Dengan kematian Gilkey, tujuh pendaki lainnya dapat berkonsentrasi untuk menyelamatkan nyawa mereka sendiri tanpa harus ‘terbebani’ membawa tubuh Gilkey ke base camp.

Pemikiran Jim Curran ini mendapat persetujuan dari Charles Houston namun tidak dari Pete Schoening. Schoening bagaimana pun juga, tetap optimis dan berkeyakinan bahwa mereka dapat membawa Gilkey dengan selamat jika saja tidak disapu oleh avalanche setelah kejadian terjatuh massal sebelum mencapai Camp VII.

Namun sebuah teori yang lebih menarik disampaikan oleh Tom Horbein yang mengatakan bahwa kematian Art Gilkey adalah sebuah upaya yang dilakukan oleh Gilkey sendiri untuk menyelamatkan nyawa rekan-rekannya. Pendapat ini segera menyulut pro dan kontra. Dalam keadaan terikat dalam kantung seperti mummi, bagaimana mungkin Gilkey dapat melepaskan diri dan mencabut dua kapak es yang menahan tubuhnya?

Meskipun demikian pendapat Hornbein juga tidak dapat ditepis begitu saja, selain reputasi Hornbein yang cukup bagus dalam dunia mountaineering Amerika, teori yang ia sampaikan juga ada benarnya. Karena dapat saja Gilkey melakukan aksi ‘penyelamatan’ bagi rekan-rekannya ketika Charles Houston dan yang lainnya sedang mendirikan tenda dan menghadapi trauma setelah terjatuh. Menyadari bahwa usaha penyelamatan dan membawanya turun telah membahayakan teman-temannya, Gilkey kemudian berusaha melepaskan diri dan membiarkan tubuhnya ditarik gravitasi menuju jurang Goldwin Austin yang menanti kedatanganya dengan tenang.

Kapak es milik Pete Schoening yang digunakannya sebagai jangkar tunggal dalam menyelamatkan rekan-rekannya pada pristiwa dramatis The Belay. Kapak ini sekarang disimpan dalam Museum Mountaineering Amerika di Colorado. Sumber foto: Google image

Pada awalnya Houston tak sependapat dengan teori yang disampaikan Horbeirn ini, apalagi sebelumnya Art Gilkey juga sempat disuntik dengan morfin untuk mengurangi rasa sakit pada tubuhnya. Pengaruh morfin dalam pertimbangan Houston akan membuat Gilkey terlalu lemah untuk dapat melepaskan diri. Akan tetapi, meninjau kembali pristiwa itu untuk film dokumenter tahun 2003, Charles Houston menjadi yakin bahwa pada dasarnya Art Gilkey memang sengaja mengakhiri hidupnya sendiri untuk meringankan beban rekannya yang lain.

Bertolak belakang dengan Houston, pendaki lain seperti Robert Bates tetap bersikukuh yakin bahwa Art Gilkey tewas karena kecelakaan, bukan karena bunuh diri. Hingga sekarang tidak ada yang dapat benar-benar memastikan motif kematian Art Gilkey, apakah itu merupakan kecelakaan karena disapu longsoran salju, ataukah karena tindakan kepahlawanan untuk menyelamatkan nyawa rekan-rekannya yang lain?

>>> KLIK TAUTAN INI UNTUK MENDAPATKAN BUKU-BUKU PENDAKIAN GUNUNG TERBARU DI INDONESIA <<<

*

Footnote:

13.1 Pendaki Inggris yang lain dan memiliki kompetisi pribadi dengan Eickenstein.

13.2 Di kemudian hari lebih populer dengan Abruzzi Spur, salah satu bagian dari rute standar pendakian K2 saat ini. 

13.3 Dudley Wolfe, Pasang Kikuli, Pasang Kitar dan Pasang Pinsto.


ARTIKEL INI DIKUTIP SECARA UTUH DARI BUKU GUNUNG KUBURAN PARA PEMBERANI KARYA ANTON SUJARWO

No comments:

Post a Comment

Tulisan Terbaru

PEMUNCAKAN DAN TRAGEDI DI GUNUNG PALING SULIT DI DUNIA

Gunung K2 yang merupakan gunung tertinggi ke-2 di dunia dan merupakan satu-satunya gunung 8.000 meter yang belum tersentuh puncaknya pa...