Wednesday, 12 August 2020

SEJARAH LENGKAP PENDAKIAN SEVEN SUMMIT ATAU 7 PUNCAK DUNIA

 

Untuk dapat mendaki dengan benar dan penuh kesungguhan di gunung-gunung raksasa, seseorang harus membebaskan dirinya dari rasa takut. Ini berarti seseorang harus memahami dan mengatakan pada dirinya sendiri sebelum melakukan sebuah pendakian yang besar, bahwa ia bisa saja mati di gunung yang sedang ia daki - Doug Scott

 

Artikel ini dikutip secara penuh dari buku 9 Puncak Seven Summit karya Anton Sujarwo. Untuk informasi bukunya dapat dilihat disini.

 >>> KLIK TAUTAN INI UNTUK MENDAPATKAN BUKU-BUKU PENDAKIAN GUNUNG TERBARU DI INDONESIA <<<

Latar Belakang Munculnya Ide Seven Summit

Istilah seven summit merupakan salah satu bentuk pencapaian yang cukup prestisius dalam dunia mountaineering. Tidak diketahui siapa sebenarnya yang memiliki ide awal sebagai tokoh intelektual di balik kemunculan gagasan ini. Namun, nama yang paling sering dikaitkan dengan istilah seven summit adalah seorang pengusaha Amerika bernama Richard Daniel Bass atau yang lebih populer dengan sebutan Dick Bass. Selain Bass, nama Reinhold Messner juga tak dapat dilepaskan dari istilah seven summit, karena pada perkembangannya, konsep yang ditawarkan Messner secara teknis jauh lebih menantang daripada yang dipopulerkan oleh Bass. Dan kedua konsep yang ada kemudian, baik konsep Dick Bass maupun konsep Reinhold Messner, menjadi dua konsep paling populer sebagai acuan garis besar dalam kepopuleran grand slam seven summits.

Akan tetapi pada tahun 1956, jauh sebelum nama Dick Bass dan Reinhold Messner muncul,  William D. Hacket, seorang pendaki gunung dari Amerika telah membukukan keberhasilan mendaki lima puncak tinggi di lima benua; Puncak Denali yang ia capai pada tahun 1947, Aconcagua pada tahun 1949, Kilimanjaro pada 1950, Kozciuszko pada tahun 1956, dan Mont Blanc juga pada tahun 1956. Ketika tur puncak tertinggi benua ini dilakukan oleh Hacket, seven summit belum ditemukan istilahnya, namun secara konsep Hacket telah meletakkan sasarannya pada tujuh puncak tertinggi benua yang saat ini dikenal sebagai seven summit.

Hacket adalah salah satu mountaineer generasi awal Amerika. Ia tercatat sebagai orang pertama yang berhasil mendaki gunung McKinley dan juga gunung Logan di Amerika Utara. Sementara di Aconcagua dan Kenya, Hacket juga menjadi orang Amerika pertama yang berhasil mendakinya.

Ada sedikit perbedaan konsep yang dimiliki Hacket dengan dua konsep utama seven summit yang saat ini lebih populer versi Richard Bass dan Reinhold Messner. Dalam daftar yang menjadi pedoman Hacket, benua Eropa tidak diwakili oleh Elbrus seperti yang saat ini kita tahu. Namun benua biru itu diwakili oleh Mount Blanc yang secara data lebih rendah daripada Elbrus. Hipotesa yang diberikan Hacket dengan memasukkan nama Mount Blanc adalah sama seperti alasan yang menjadi perbedaan konsep seven summit versi lain.1.1

Seperti yang telah diketahui secara luas, bahwa adanya perbedaan konsep seven summit yang ada disebabkan oleh definisi dari penetapan batas wilayah benua yang dipersepsikan berbeda oleh masing-masing pembuat konsep itu sendiri. Umumnya yang menuai persepsi berbeda adalah batasan benua Eropa dan benua Oceania.1.2 Adanya perbedaan pendapat mengenai batas benua ini adalah sebab utama terjadinya perbedaan pandangan mengenai konsep seven summit yang ada. Selain kadang memang dilandasi pula oleh alasan teknis, tingkat kesulitan, tantangan, dan berbagai alasan  lainnya.

Setelah terverifikasi berhasil mendaki lima puncak di lima benua, William Hacket berencana untuk melengkapi turnya dengan mendaki Vinson Massif di Antartika, dan Mount Everest di Himalaya pada tahun 1960. Akan tetapi dikarenakan oleh berbagai kendala (kekurangan dana dan juga radang dingin), Hacket tidak pernah bisa menambah koleksi puncak benuanya lebih dari lima.

Sekitar satu dekade setelah Hacket, sosok lain yang juga patut mendapat tempat dalam catatan sejarah seven summit adalah Naomi Uemura, seorang penjelajah solo dan pendaki gunung ulung dari Jepang. Seperti halnya Hacket, Uemura juga telah berhasil mengantongi lima puncak gunung di lima menara tertinggi benua dalam kisah pendakiannya. Gunung-gunung yang telah berhasil didaki oleh Uemura adalah; Mont Blanc tahun 1966, gunung Kilimanjaro juga tahun 1966, gunung Aconcagua tahun 1968, gunung Everest tahun 1970, dan gunung Denali yang juga didaki oleh Uemura pada tahun 1970, tiga dari pendakian Uemura, dilakukannya secara solo.1.3

Pada tahun 1978, Naomi Uemura pernah melakukan petualangan ke Kutub Utara sendirian, namun sayangnya pada kesempatan itu ia tidak memiliki kesempatan untuk mendaki hingga ke puncak Vinson Massif yang merupakan puncak tertinggi di benua putih tersebut. Beberapa waktu kemudian, Uemura mempersiapkan diri kembali ke Kutub Utara untuk mendaki Vinson Massif guna melengkapi lima puncak gunung yang telah ia koleksi.

Selama dalam persiapan ekspedisi Vinson Massif, Uemura melakukan pendakian solo kembali ke Denali pada tahun 1984 yang kali ini dilakukannya pada musim dingin. Sayangnya dalam perjalanan turun dari puncak Uemura menghilang, diduga kuat ia lenyap disapu badai musim dingin gunung Denali yang terkenal memang sangat ganas.

 

Legenda pendaki gunung solo dari Jepang, Naomi Uemura, dalam salah satu ekspedisi di kutub. Selain terkenal dengan pendakian solo, Uemura juga adalah seorang konseptor awal ide seven summits- Sumber foto: Ira Block.com

Figur Naomi Uemura dan William Hacket adalah dua bukti penting yang menunjukkan bahwa ide dan konsep seven summit tidaklah dapat dialamatkan pada sosok Reinhold Messner atau Richard Bass saja. Obsesi yang ada pada diri Wiliam Hacket dan Naomi Uemura untuk menggenapi lima puncak menara benua yang mereka daki dengan dua puncak lagi yang tersisa, adalah catatan penting bagi cikal bakal ide seven summit yang kemudian lebih mendunia.

 

Konsep 7 Puncak Para Pionir

Richard Bass dan Frank Wells1.4 merumuskan sebuah konsep tantangan mountaineering yang mereka anggap menarik bernama the seven summits. Konsep seven summits yang dirumuskan oleh dua orang bisnisman sukses Amerika ini adalah dengan mendaki tujuh puncak tertinggi di tujuh benua di dunia.1.5 Adapun gunung-gunung yang menjadi list Dick Bass–Frank Wells adalah sebagai berikut:

  1. Gunung Everest 8.848 meter (Asia)
  2. Gunung Elbrus 5.642 meter (Eropa)
  3. Gunung Kilimanjaro 5.895 meter (Afrika)
  4. Gunung Denali 6.194 meter (Amerika Utara)
  5. Gunung Aconcagua 6.961 meter (Amerika Selatan)
  6. Gunung Vinson Massif 4.892 meter (Antartika)
  7. Gunung Kozciuszko 2.228 meter (Australia)

Richard Bass tidak membuang waktu setelah membuat rumusan konsep ini, ia segera mendakinya satu-persatu. Hingga tak lama kemudian, pada tanggal 30 April 1985, Richard Bass telah menyelesaikan pendakiannya di Everest dengan bantuan pemandu David Breashears dan Sherpa Ang Phurba. Setelah menyelesaikan puncak terakhir dalam list konsep summit yang ia rumuskan, Bass menulis buku berjudul Seven Summits (ia menjadi co-writer di sana) sebagai sebuah rekam jejak atas keberhasilannya mencapai tujuh puncak benua tersebut.

Pada pendakiannya di Everest, selain secara resmi mengokohkan nama Richard Bass sebagai orang pertama di dunia yang berhasil mendaki seven summit secara lengkap (versinya sendiri), Bass juga memperoleh predikat lain dengan mematahkan rekor Chris Bonington sebagai pendaki tertua Everest. Bass mencapai puncak Everest pada usianya yang ke-55 tahun, sedangkan lima tahun sebelumnya, Bonington baru saja turun dari puncak Everest pada usianya yang tepat setengah abad.

Beberapa orang yang menilai cukup sinis, menganggap kemampuan Bass untuk menjadi orang pertama yang terverifikasi berhasil mendaki seven summit adalah karena tak lepas dari kesuksesannya sebagai pengusaha. Bass dianggap dapat dengan mudah mendaki puncak-puncak tersebut dengan dukungan kantongnya yang tebal. Bass adalah pengusaha minyak yang sukses, pemilik resort ski Snowbird di Utah, juga memiliki sebuah peternakan besar di Texas.

Richard Bass atau Dick Bass di Puncak Everest. Keberhasilan ini sekaligus mengantarkan nama Bass sebagai seven summiter pertama dunia.- Sumber foto: Washington Post

Akan tetapi tampaknya alasan untuk mengkerdilkan kemampuan Bass dibidang mountaineering, tidak cukup tepat jika hanya disandarkan pada kondisi finansialnya semata. Frank Wells yang juga dapat dikatakan cukup sukses secara finansial, ternyata tidak dapat menemani Bass sebagai seven summiter pertama. Ketika gagal dalam pendakiannya yang pertama di Everest, Wells tak pernah berniat mencobanya lagi. Hal ini dapat disimpulkan bahwa, selain memiliki anggaran besar, tekad Bass adalah modal lain yang ia miliki hingga sukses menjadi the first seven summiter.

Berbeda dengan Bass, Messner yang sebelumnya telah mendaki Carstensz Pyramid atau Puncak Jaya pada tahun 1971, Aconcagua 1974, McKinley 1976, Kilimanjaro 1978, dan Everest juga ditahun 1978, mengumumkan list yang ia anggap lebih tepat untuk dijadikan seven summits versi dirinya sendiri. Daftar menara tujuh benua yang disusun oleh Messner adalah sebagai berikut;

  1.  Gunung Everest 8.848 meter (Asia)
  2. Gunung Elbrus 5.642 meter (Eropa)
  3. Gunung Kilimanjaro 5.895 meter (Afrika)
  4. Gunung Denali 6.194 meter (Amerika Utara)
  5. Gunung Aconcagua 6.961 meter (Amerika Selatan)
  6. Gunung Vinson Massif 4.892 meter (Antartika)
  7. Gunung Carstensz Pyramid atau Puncak Jaya 4.884 meter (Indonesia)

Daftar milik Messner ini segera menjadi lebih banyak mendapat persetujuan komunitas mountaineering dari pada yang digunakan Bass. Messner dan Bass sama-sama sepakat mengambil Elbrus sebagai puncak tertinggi Eropa,1.6 namun untuk benua Oceania, keduanya berbeda pendapat, Messner memilih Puncak Jaya di Pegunungan Sudirman Indonesia, sedang Bass memilih gunung Kozciuszko di Australia.

Namun jika dilihat lebih jauh dari sudut pandang geologi, hanya ada enam benua di bumi ini, yakni Afrika, Antartika, Australia, Eurasia, Amerika Selatan, dan Amerika Utara. Eropa tidak dapat dianggap sebagai sebuah benua yang mandiri karena lokasi daratannya yang merupakan bagian dari Eurasia. Akan tetapi jika dilihat dari perspektif politik dan ekonomi, Eropa dianggap sebagai sebuah benua yang mandiri, sehingga Elbrus yang terletak pada perbatasan Asia di Rusia selatan dapat dijadikan sebagai puncak gunung yang mewakili Eropa, bukannya Mont Blanc di Alpen yang secara elevasi lebih rendah daripada Elbrus.

Perbedaan pendapat daftar seven summit antara Bass dan Messner untuk Oceania (gunung Carstensz Pyramid dan Kosciuszko) juga pada dasarnya mendapat penjelasan lain dari sisi geologi. Wilayah ini tidak dapat disebut benua sesuai pengertian aslinya, namun hanya sebagai wilayah Pasifik barat daya yang meliputi Australia, Selandia Baru, kepulauan Fiji, Papua Nugini (Irian Jaya), Samoa, dan beberapa pulau lain di kawasan tersebut lainnya.

Pattrick Allan Morrow, seorang pendaki gunung dan fotografer asal Kanada juga muncul ikut meramaikan ide seven summit ini dengan terjun pula berkompetisi bersama Richard Bass untuk menjadi seven summiter pertama. Yang membedakan Morrow dari Bass adalah pilihannya untuk mematuhi daftar yang dibuat Messner sebagai prioritas.

Di tahun berikutnya setelah keberhasilan Richard Bass sebagai the first seven summiter, Morrow pun mengumumkan namanya sebagai orang kedua (versi Richard Bass) dan orang pertama (versi Messner) yang berhasil mendaki secara lengkap tujuh puncak benua.

Pendakian seven summit yang dilakukan Morrow terverifikasi sebagai berikut; Denali pada tahun 1977, Aconcagua tahun 1981, Everest tahun 1982, Kilimanjaro tahun 1983, Kosciuszko tahun 1983, Vinson Massif tahun 1985,  Elbrus tahun 1985, dan Carstensz Pyramid Puncak Jaya pada 7 Mei 1986.

Pat Morrow bersama Dick Bass menjadi the first person dalam masing-masing tahta Seven Summits. - Sumber foto: Cranbrook Daily Townsman

Dari sudut pandang gunung, daftar Messner dengan memasukkan Puncak Jaya memang lebih menantang. Seperti diketahui, Carstensz Pyramid memiliki karakter ekspedisi yang lebih sulit dibandingkan gunung Kosciuszko yang dapat didaki lebih mudah. Setidaknya ini adalah argumentasi yang disampaikan Pattrick Morrow dalam membela daftar seven summit milik Messner.

Lebih lanjut Morrow menambahkan lagi; “Sebagai pendaki pertama (daftar Messner) dan kolektor kedua (daftar Bass), saya merasa dengan sangat yakin bahwa gunung Carstensz Pyramid adalah gunung tertinggi di Australasia, dan lebih pantas untuk menjadi tujuan seorang pendaki sejati (dalam target seven summit)

Lebih lanjut Morrow juga memberi pendapat mengenai Messner yang menjadi pencetus datfar list yang ia ikuti “Satu-satunya alasan mengapa dia (Reinhold Messner) bukan orang pertama yang berhasil menjadi seven summitter adalah karena kesibukannya di fourteen eight thousander

Seperti diketahui, Reinhold Messner memang bukan orang pertama yang berhasil menjadi seven summitter meski pun ia adalah salah satu orang yang menetapkan daftar ke tujuh puncak yang di kemudian hari menjadi daftar yang paling banyak digunakan dan dijadikan rujukan, walau pun beberapa pendaki pada akhirnya mendaki pula gunung Kosciuszko di Australia untuk memenuhi daftar seven summits versi Richard Bass.

Dari nomor urut seven summiter, Messner berada pada posisi ketiga (menurut daftar Bass, di belakang Richard Bass dan Pattrick Morrow) dan berada pada posisi runner up (menurut daftarnya sendiri) di belakang Pattrick Morrow. Namun hal ini tentu bukan sebagai bentuk ‘kekalahan’ Messner dalam perlombaan seven summit. Seperti yang disampaikan Pat Morrow sendiri, Messner saat itu sedang sibuk mengejar grand slam yang lebih besar yakni fourteen eight thousander atau the crown of Himalaya.

Dan itu tidak berakhir percuma, posisi Messner sebagai yang ketiga di list seven summiter, dicover secara sempurna dengan prestasinya sebagai pendaki pertama di dunia yang berhasil mencapai empat belas puncak delapan ribu meter tanpa tabung oksigen. Untuk catatan lebih jauh, Messner juga masih menduduki urutan pertama dalam daftar seven summiter, jika hal itu diukur dari pendakian yang dilakukan tanpa tabung oksigen. Jadi kesimpulannya, posisi finish di nomor urut dua dan tiga bagi Messner bukanlah sebuah kekalahan, hampir semua komunitas mountaineering dunia masih mendaulatnya sebagai salah satu mountaineer terbesar sepanjang masa.

Reinhold Messner, sang dewa gunung. Orang yang dianggap sebagai salah satu pendaki gunung terbesar sepanjang masa. - Sumber foto: CLADglobal.com

Kritik, Saran dan, Opsi Baru

Dengan adanya tiga konsep seven summit yang berbeda dari Richard Bass, Reinhold Messner, juga versi William Hacket-Naomi Uemura, maka terdapat sedikit perselisihan mengenai manakah dari daftar tersebut yang benar-benar tepat untuk dijadikan sebagai target pendakian grand slam seven summit?.

Jalan keluar dari perselisihan ini ditemukan dengan sangat mudah solusinya, dan hampir sebagian besar publik mountaineering dunia umumnya menyetujui solusi ini. Seperti yang dilakukan oleh Pat Morrow dan juga Messner dalam melengkapi daftar seven summit mereka secara total, baik daftar versi Bass, maupun versi Messner sendiri. Maka saran serupa juga adalah jalan keluar untuk memenuhi kualifikasi seven summit versi Hacket dan Uemura.

Saran terbaiknya adalah dengan mendaki semua gunung yang menjadi puncak benua baik menurut Hacket–Uemura, Messner, maupun Richard Bass. Dengan demikian, maka daftar gunung-gunung yang menjadi tujuan seven summit secara lengkap dari keempat pionir tersebut adalah sebagai berikut;

  1. Gunung Everest 8.848 meter (Asia)
  2. Gunung Elbrus 5.642 meter (Eropa)
  3. Gunung Kilimanjaro 5.895 meter (Afrika)
  4. Gunung Denali 6.194 meter (Amerika Utara)
  5. Gunung Aconcagua 6.961 meter (Amerika Selatan)
  6. Gunung Vinson Massif 4.892 meter (Antartika)
  7. Gunung Carstensz Pyramid atau Puncak Jaya 4.884 meter (Indonesia)
  8. Gunung Mont Blanc 4.810 meter, Perancis (Eropa)
  9. Gunung Kosciuszko 2.228 meter (Australia)

Daftar tersebut adalah yang paling banyak disarankan untuk dijadikan target pendakian para pendaki yang mendambakan seven summiter. Dengan mengantongi semua puncak gunung dalam daftar tersebut, seorang pendaki akan secara otomatis terpenuhi syaratnya untuk menjadi seorang seven summiter dari versi mana pun, baik versi Messner, versi Bass, maupun versi Hacket–Uemura.

Saat ini hampir semua pendaki yang memburu seven summit, akan melakukan pendakian mengikuti list Messner sebagai prioritas mereka, namun umumnya juga akan mendaki gunung Kosciuszko di Australia untuk menggenapi daftar versi Bass.

Akan tetapi, sebagian besar pendaki akan memilih gunung Elbrus saja sebagai perwakilan benua Eropa, yang artinya bahwa Mont Blanc yang masuk list utama versi Hacket-Uemura tidak dirasa perlu lagi untuk didaki lagi setelah mereka berhasil mencapai puncak Elbrus.

Hingga saat ini, tercatat telah 416 orang yang berhasil mencatatkan dirinya sebagai peraih grand slam seven summiter. 291 orang dengan mendaki Carstensz Pyramid, 263 orang yang mendaki Kosciuszko, dan 148 orang yang mendaki kedua-duanya. Dari 416 orang seven summiter, 71 orang di antaranya adalah wanita, 345 orang laki-laki, dan hanya 8 orang yang berhasil melakukannya tanpa dukungan tabung oksigen, serta 8 orang pula yang tercatat telah meninggal dunia.1.7

Dari jumlah ini, Jordan Romero dari Amerika tampil sebagai pendaki termuda yang berhasil melengkapi puncak seven summit baik versi Casrtensz Pyramid maupun Kosciuszko, Romero mencapai prestasi seven summiters pada usia 15 tahun 165 hari.

Sementara itu untuk usia tertua dipegang oleh Werner Berger dari Kanada (76 tahun 5 bulan 30 hari), waktu tercepat penyelesaian pendakian seven summit dipegang oleh Colin O’Brady dengan catatan waktu hanya 131 hari1.8 up to date, sementara waktu terlamanya dipegang oleh Sherman Bull dari Amerika dengan durasi selama 41 tahun 9 bulan.

Jordan Romero masih menjadi pemegang rekor pendaki termuda dalam sirkuit seven summit hingga saat ini - Sumber foto: Google

Melihat angka keberhasilan yang cukup banyak ini, muncul juga beberapa kritik mengenai grand slam seven summit yang dianggap ‘tidak begitu menantang lagi’. Dan orang pertama yang menyampaikan kritik tersebut adalah John Krakauer, sosok yang lebih banyak dikenal karena bukunya Into Thin Air pada musibah Everest 1996 yang menuai kontroversi dan tentangan dari banyak pihak.

Menurut Krakauer, secara teknis pendakian seven summit baik versi Messner lebih-lebih versi Bass, bukanlah jenis tantangan yang dapat dianggap ‘super’ lagi dalam ranah mountaineering. Lebih lanjut Krakauer mengatakan bahwa gunung K2 (tertinggi kedua setelah Everest) memiliki nilai tantangan yang lebih besar baik secara teknis mau pun kesulitan daripada Everest itu sendiri, sementara tantangan dari sisi iklim, cuaca, suhu rendah, dan angin tetap sama.

Dalam mengkritik seven summits ini, Krakauer tidak bertepuk sebelah tangan, Bill Allen pendaki yang telah dua kali berhasil mendaki seven summit (double seven summits) menjawab kritik Krakauer ini dengan mengatakan;

Mendaki puncak gunung tidak akan menjadikan kita tua, puncak delapan ribu meter yang dianggap merupakan tantangan paling besar dalam mountaineering, terletak dalam wilayah yang lebih sempit dari keseluruhan bumi yang luas ini. Selain itu mendaki 14 puncak gunung delapan ribu meter secara lengkap juga merupakan sebuah hal yang jauh lebih berbahaya, beberapa pendaki sekarat, mati, ketika mereka baru berhasil mencapai sebagian dari empat belas puncak itu. Selain itu, memang ada empat belas puncak utama yang tercatat secara resmi, namun beberapa puncak juga (yang tidak resmi) mencapai ketinggian yang sama, sehingga cukup ironis ada beberapa orang yang mencapainya, namun tidak dapat diakui sebagai bagian dari fourteen eight thousander”.

Karena kritik Krakauer ini, atau kritik orang lain yang bernada sama, juga balasan kritik dari Bill Allen yang mengomentari pencapaian fourteen eight thousander sebagai sebuah tingkat yang terlalu tinggi untuk dikejar mayoritas pendaki gunung dunia, maka bermunculan pulalah ide-ide tentang apa yang kemudian disebut Seven Second Summits, Seven Third Summits, The Explorers Grand Slam (seven summits + dua kutub), Himalayan Double Header, 1.9 ataupun istilah paling baru yang disampaikan Reinhold Messner ketika kematian Ueli Steck di tebing Nuptse beberapa waktu lalu, Himalayan Horseshoe (Nuptse, Everest, Lhotse single tour). Tampaknya kemunculan istilah-istilah ini selain terkait sebagai jawaban kritik seperti yang dilontarkan Krakauer, juga merupakan jawaban dari pertanyaan klasik mountaineering mengenai pencapaian yang rasanya tak pernah memiliki garis finish atau batasan, “lalu apa lagi?”

Untuk grand slam pengganti sejenis seven summit, ide mengenai Seven Second Summits jauh lebih bergaung daripada yang lainnya. Entah siapa pencetus ide ini untuk pertama kalinya, namun hampir semua orang sepakat jika daftar untuk tantangan Seven Second Summit tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Puncak K2, 8.611 meter, Asia.
  2. Puncak Ojos Del Salado, 6.893 meter, Amerika Selatan.
  3. Puncak Logan, 5.959 meter, Amerika Utara.
  4. Puncak gunung Kenya, 5.199 meter, Afrika.
  5. Puncak Dykh-Tau, 5.205 meter, Eropa.
  6. Puncak Tyree, 4.852 meter, Antartika.
  7. Puncak Mandala, 4.760 meter, Australasia.
  8. Puncak Towsend, 2.209 meter, Australia.

Nama Christian Stangl menjadi ikut mencuat dengan hadirnya berbagai istilah baru dalam pencapaian mountaineering ini. Stangl menjadi orang pertama di dunia yang berhasil mendaki tujuh puncak tertinggi di tujuh benua secara lengkap, sekaligus pula mendaki tujuh puncak tertinggi kedua di dunia secara lengkap, dan kemudian juga berhasil mengoleksi tujuh puncak tertinggi ketiga di dunia secara lengkap. Secara eksplisit prestasi Stangl ini lebih populer disebut sebagai Triple Seven Summiter. Dan Stangl adalah orang pertama yang mendominasi hal itu.

Seven Third Summits adalah grand slam turunan dari Seven Summits dan Seven Second Summits. Dan meskipun dalam urutan setiap gunung yang diambil sebagai daftar dari grand slam ini adalah nomor tiga tertinggi dari setiap benua, ini juga tidak dapat dapat dikatakan mudah. Tantangannya tak kalah menakutkan daripada Seven Second Summits.

Pendakian K2 adalah raja dari grand slam Seven Second Summits sebagai gunung yang paling tinggi, sekaligus yang paling sulit untuk ditaklukkan dalam daftar tersebut. K2 meskipun secara ketinggian lebih rendah daripada Everest, dan secara angka kematian masih berada di bawah Annapurna, namun hampir semua mountaineer sepakat jika K2 adalah gunung delapan ribu meter tersulit untuk didaki di dunia. Hal ini memang secara teknis menempatkan Seven Second Summits berada di atas Seven Summits jika dilihat dari faktor kesulitan pendakiannya.

Christian Stangl dari Austria menjadi satu-satunya pemegang rekor Triple Seven Summits - Sumber foto: The Daily Dose

Sementara Seven Third Summits juga memiliki puncak Kangchenjunga di India yang secara otomatis menjadi tantangan tersulit untuk didaki. Dalam buku Mahkota Himalaya telah dibahas bagaimana puluhan nyawa melayang dalam usaha pendakian di Kangchenjunga, bahkan sebelum first ascent puncaknya tercapai.

 Secara lengkap gunung-gunung yang menjadi daftar Seven Third Summit adalah sebagai berikut;

  1. Puncak gunung Kangchenjunga, 8.586 meter, Asia.
  2. Puncak gunung Monte Pissis, 6.793 meter, Amerika Selatan.
  3. Puncak gunung Pico De Orizaba, 5.636 meter, Amerika Utara.
  4. Puncak gunung Skhara, 5.193 meter, Eropa.
  5. Puncak gunung Mawenzi, 5.149 meter, Afrika.
  6. Puncak gunung Mount Shinn, 4.661 meter, Antartika.
  7. Puncak Trikora, gunung Jaya Wijaya, 4.750 meter, Indonesia.
  8. Puncak gunung Mount Twynam, 2.195 meter, Australia.

Seven Third Summit adalah turunan ketiga sekaligus terakhir dalam grand slam seven summit, membuat turunan selanjutnya semacam Seven Four Summits, atau Seven Fifth Summits tidak dapat lagi diakui sebagai sesuatu yang relevan dengan tantangan tersebut. Jika ada seseorang yang suatu ketika mengklaim dirinya atau membuat konsep turunan dari Seven Third Summits, maka tampaknya itu adalah bentuk dari sebuah kemiskinan kreatifitas serta sebuah usaha yang mengada-ada. Publik mountaineering dan para pendaki professional juga mayoritas menyetujui jika dalam grand slam pendakian menara tujuh benua, maka Seven Third Summits adalah batasan final yang semestinya dipatuhi.

Seven Second Summits atau Seven Third Summits adalah opsi baru yang ditawarkan sebagai pencapaian baru bagi insan mountaineering atau para pendaki yang memburu pencapaian-pencapaian besar. Opsi baru ini benar-benar semakin tidak mudah dilakukan saat sebuah istilah ‘Triple Seven Summits’ juga mengemuka terkait kemampuan pendaki menyelesaikan ketiga grand slam tesebut sekaligus. dan Chrsitian Stangl dianggap sebagai salah satu alpinis besar abad modern ini dengan kemampuannya memecahkan kebuntuan pencapaian Triple Seven Summits (Seven Summits, Seven Second Summits, Seven Third Summits) tanpa tabung oksigen dan beberapa di antaranya dilakukannya secara solo.

Rekor Dalam Seven Summits

Setelah Richard Bass, Pattrick Morrow, dan Reinhold Messner berhasil menjadi para pendaki seven summit generasi pertama. Grand slam ini dengan segera mendunia, menggugah banyak pendaki dari berbagai negara, komunitas, dan tingkat skill yang berbeda untuk melakukannya pula. Dengan semakin besarnya animo publik mountaineering dunia terhadap grand slam seven summit, maka dengan cepat pula bermunculanlah beragam rekor dalam pendakian yang berkaitan dengan hal ini. Dan berikut adalah beberapa catatan pendakian seven summit yang rasanya cukup perlu untuk kita ketahui bersama.

Rob Hall1.10 bersama dengan Gary Ball berhasil menjadi dua orang pertama yang menyelesaikan sirkuit seven summit dalam tujuh bulan (seven summits in seven month). Kedua pendaki besar Selandia Baru ini memulai debut mereka di gunung Everest pada 10 Mei 1990, dan menyelesaikannya di puncak Vinson Massif tanggal 12 Desember 1990. Rob Hall dan Gary Ball memilih list seven summit versi Richard Bass, sehingga dalam pendakian ini, mereka tidak memasukkan Puncak Jaya sebagai salah satu tujuan mereka, walau pun beberapa waktu kemudian Rob Hall juga mendaki Carstensz Pyramid untuk menyempurnakan koleksinya.

Sementara Gary Ball, orang yang menjadi mitra Rob Hall ini, adalah salah satu mountaineer populer di Selandia Baru. Ia tercatat pernah mendaki puncak Everest sebanyak dua kali pada tahun 1990 dan tahun 1992, ia juga telah mendaki Mount Cook sebanyak 26 kali.1.11 Pada pendakian Gary Ball dan Rob Hall di Everest tahun 1990, mereka sempat mengudara langsung dalam sebuah stasiun televisi Selandia Baru pada jam-jam utama. Siaran telepon dari puncak Everest oleh Rob Hall dan Garya Ball ini membuat mereka pada bulan selanjutnya disponsosi untuk melakukan pendakian seven summit yang kemudian juga memecahkan rekor sebagai seven summits in seven month.

Selain itu, Gary Ball adalah orang yang juga ikut mendirikan Adventure Consultant bersama Rob Hall tahun 1991, sebuah agen pendakian gunung yang mencuat namanya pada tragedi Everest 1996. Adventure Consultant sendiri dapat dikatakan sebagai salah satu pionir dalam layanan pendakian komersial ke Everest, yang sekaligus ikut andil juga dalam membawa Everest ke dalam era post modern, sesuatu yang dipandang oleh beberapa pendaki sebagai babak eksploitasi dan komersialisasi Everest secara massif.

Gary Ball (kiri) dan Rob Hall (kanan) di Base Camp K2 pada tahun 1992. Tahun berikutnya (1993) Ball tewas di Dhaulagiri, dan tiga tahun kemudian (1996) Hall tewas di Everest. - Sumber foto: Mountain of Travel Photos

Gary Ball tewas pada tahun 1993 di Dhaulagiri, saat ia terserang pulmonary edema dalam proses pendakian. Rob Hall yang menjadi partner setianya menguburkan mayat Ball pada sebuah ceruk di gunung Dhaulagiri. Sementara Rob Hall yang terus melanjutkan hidup dengan mendaki gunung, juga tak pernah berpikir, jika tiga tahun kemudian ia pun harus kehilangan nyawanya sendiri di gunung Everest pada sebuah musibah yang begitu fenomenal dan dramatis.

Setelah Gary Ball dan Rob Hall, Junko Tabei dari Jepang memecahkan rekor sebagai pendaki wanita pertama yang berhasil mencapai seven summits. Sebelumnya Tabei juga telah memegang rekor lain, yakni sebagai pendaki wanita pertama di dunia yang mencapai puncak Everest pada 16 Mei 1975. Tur seven summit yang dilakukan oleh Junko ditutupnya di puncak Carstensz Pyramid Puncak Jaya pada 28 Juni 1992, hari di mana ia secara resmi menyandang rekor sebagai the first woman seven summiter.

Sosok selanjutnya setelah Junko Tabei adalah Mary Lafever, pendaki wanita Amerika pertama yang menjadi seven summiter setelah menyelesaikan pendakiannya di gunung Kosciuszko di Australia pada 11 Maret 1993. Sebelumnya Mary Levefer yang kadang disebut Dolly Lafever ini telah mendaki Everest di saat usianya mencapai 47 tahun, usia yang membuatnya menyandang predikat sebagai pendaki wanita tertua di puncak Everest.

Junko Tabei dari Jepang menjadi pendaki perempuan pertama yang mencapi puncak Everest, juga sebagai perempuan pertama yang mencapai puncak seven summit secara lengkap. - Sumber foto: Elperiodico.net

Tiga tahun setelah Lafever, tepatnya tahun 1996, Chris Haver mempersembahkan ‘medali’ lain bagi Amerika dengan menjadi pendaki Amerika pertama yang bermain ski dari tujuh puncak benua. Gunung pertama yang menjadi titik awal debut Haver adalah Everest yang berhasil ia daki pada tahun 1989 saat ia berusia 23 tahun, kemudian Haver melanjutkan ke McKinley pada tahun 1993, dan Kilimanjaro pada awal 1994.

Masih di tahun yang sama, Haver juga menyelesaikan misinya di Elbrus, Kosciuszko, dan juga Vinson Massif. Misi Haver selesai pada tahun 1996 ketika ia berhasil mendaki dan bermain ski dari puncak gunung Aconcagua di Argentina pada usianya yang kurang dari dua minggu genap 30 tahun.

Yasuko Namba adalah runner up seven summiter setelah Junko Tabei dalam sejarah mountaineering wanita Jepang, Yasuko menggenapkan pendakian tujuh puncaknya di Everest pada bulan Mei tahun 1996, yang mana itu juga merupakan hari kematian bagi Yasuko ketika ia terjebak pada perjalanan turun dari puncak. Yasuko mendaki Everest bersama tim Adventure Consultant pimpinan Rob Hall. Musibah itu sendiri menewaskan empat anggota Adventure Consultant, termasuk sang pemimpin tim.

Tahun 2000, pendaki Kroasia paling populer Stipe Božić juga berhasil mencapai seven summit, Božić adalah orang Eropa kedua setelah Reinhold Messner yang berhasil mencapai puncak Everest 2 kali.

Susan Ershler dan Phil, menjadi pasangan pertama yang berhasil mendaki tujuh puncak benua, setelah mereka mencapai puncak Everest pada 16 Mei 2002. Ershler adalah pendaki wanita Amerika keempat yang berhasil mendaki seven summit. Selain itu Ershler juga adalah seorang pembicara motivasi yang banyak menyampaikan kuliah dan pelatihan berdasarkan pengalamannya dalam mendaki gunung.

Tanggal 17 Mei 2006, seorang pendaki gunung asal Inggris bernama Rhys Jones berhasil menjadi seven summiter termuda pada usianya yang pas 20 tahun. Satu tahun berikutnya, Mei 2007, Samantha Larson pendaki cantik berusia 18 tahun dari Long Beach, California, Amerika, mengalahkan rekor Jones dengan berhasil pula menjadi seven summiter pada usianya tepat 18 tahun 220 hari. Selain sebagai sebagai seven summiter wanita termuda, Samantha juga menjadi pemegang rekor sebagai pendaki wanita termuda di Everest non Nepal.

Dalam rekor seven summiter, Samantha Larson dan ayahnya, Dr. David Larson juga menjadi ayah dan anak (wanita) pertama yang melakukan pendakian Seven Summits secara komplit, baik untuk daftar seven summit versi Messner, maupun seven summit versi Dick Bass.

Susan Ershler dan Phil Ershler menjadi pasangan seven summiter pertama di dunia setelah berhasil mencapai puncak Everest tahun 2002.  - Sumber foto: Seattle PI

Seorang pendaki dan atlit wingsuit base jumping muda dari kota yang sama dengan asal Samantha Larson, California, bernama Johny Robert Strange, atau yang lebih dikenal sebagai Johny Strange juga pernah memegang rekor pendaki termuda seven summit pada usianya yang ke 17 tahun 161 hari di bulan Juni 2009. 26 Mei 2011, Geordie Stewart juga pernah menjadi pendaki Inggris termuda yang mencapai seven summit pada usianya yang ke-22 tahun lebih 21 hari. Sosok lain yang kemudian melibas predikat termuda seven summit adalah George Atkinson dari Inggris yang mencapai puncak seven summit pada usia 16 tahun, Atkinson memegang rekor itu hanya selama tujuh bulan sebelum akhirnya dikalahkan oleh Jordan Romero dari Amerika yang menyelesaikan tour seven summitnya pada usia 15 tahun.

Patut dicatat juga pada masa-masa ini nama pendaki wanita India bernama Khrusnaa Patil. Patil adalah wanita India pertama dan termuda yang mencapai puncak Everest. Pada kisaran tahun 2009–2010 Patil pernah membuat semacam tantangan dalam tour seven summitnya. Ia menantang siapa pun (tapi harus wanita) untuk menyelesaikan waktu pendakian seven summit mengalahkannya. Dalam tantangan ini Patil telah berhasil mencapai semua puncak benua kecuali McKinley sebelum tahun 2010. Akan tetapi tampaknya takdir berkata lain untuk Patil, pada pendakian seven summitnya yang terakhir di Denali atau McKinley, Patil terpaksa harus menelan kegagalan setelah guide yang menemaninya jatuh sakit dan tak dapat lagi melanjutkan ekspedisi.

Rekor lain dalam dunia seven summit adalah apa yang dilakukan Kit Deslauriers dengan menjadi wanita pertama yang mendaki seven summit hingga ke puncak dan turun menggunakan ski. Debut Deslauriers ini dimulai pada bulan Mei tahun 2004 ketika mendaki puncak Denali dan turun menggunakan ski dari sana. Tahun 2005, Deslauriers melanjutkan tournya dengan descending menggunakan ski dari puncak Elbrus, Kosciuszko, Vinson Massif, Aconcagua. Awal tahun 2006, Kilimanjaro di Afrika juga berhasil dituruni oleh Deslauriers dengan ski. Sementara untuk tantangan terakhir sekaligus tertinggi, puncak Everest, berhasil dilakukan Deslaurers pada 18 Oktober 2006, jam 11 pagi waktu setempat.

Tiga bulan setelah rekor Deslauriers tercipta, dua pendaki dan atlit ski dari Swedia (Olof Sundström dan Martin Letzter) juga berhasil melakukan descending dari semua puncak seven summit menggunakan ski. Lebih jauh, Sundström dan Letzter juga bermain ski pada salah satu bagian dari Carstenz Pyramid, sehingga menyempurnakan rekor mereka sebagai pemain ski seven summits dalam dua list sekaligus (versi Messner dan versi Bass).

Perlombaan kecepatan menyelesaikan seven summit juga menjadi hal yang menarik pula untuk kita ketahui bersama. Dan pendaki India bernama Malli Mastan Babu berhasil menjadi pemegang rekor yang pertama dengan waktu pendakian total 172 hari pada tahun 2006. Henrik Kristiansen dari Denmark juga berhasil menyusul prestasi Mastan Babu pada tahun 2008 dengan mencatatkan waktu hanya 136 hari untuk menyelesaikan seven summit (termasuk gunung Carstensz Pyramid dan Kosciuszko), lebih cepat 36 hari dari Mastan Babu untuk menyelesaikan daftar Bass.1.12 Rekor Kristiansen ini juga mengalahan rekor Ian McKeever, pendaki dari Irlandia yang tewas tersambar petir di Kilimanjaro, yang sebelumnya juga berhasil mencatatkan rekor 156 hari dalam menyelesaikan tour pendakian seven summit.

Selanjutnya nama yang juga menarik dalam rekor seven summit adalah Vernon Tejas, pendaki gunung sekaligus guide professional dari Amerika. Tejas mengalahkan rekor Kristiansen dengan selisih hanya dua hari, ia memulai pendakian seven summitnya pada 18 Januari 2010 di Vinson Massif, dan selesai tanggal 31 Mei 2010 di puncak Denali, total 134 hari yang dibutuhkan Tejas untuk menyelesaikan seven summit.

Vernon Tejas adalah salah satu mountaineer top Amerika, ia memiliki segudang prestasi dan pengalaman mountaineering. Hingga saat ini ia adalah satu-satunya orang yang telah sepuluh kali menyelesaikan pendakian seven summit dalam daftar Bass, dan tiga kali untuk daftar Messner.

Tejas juga diketahui sebagai orang pertama yang mencapai tujuh puncak tertinggi benua secara soloing, bahkan untuk gunung Denali saja, Tejas telah mendakinya sebanyak 54 kali, dengan catatan sebagai first solo winter ascent1.13 dan  juga first paraglider descent. Pada pendakian solo musim dinginnya di Denali, Tejas sempat mengibarkan bendera Jepang di puncak, ini ia lakukan sebagai penghormatannya kepada sosok Naomi Uemura.

Diketahui juga, bahwa Tejas telah mendaki paling tidak 11 kali di puncak Everest, 34 kali di gunung Elbrus, 25 kali di gunung Aconcagua, 3 kali di Carstensz Pyramid,1.14 36 kali di Vinson Massif, 15 kali di Kilimanjaro, 3 kali di Mont Blanc dan 2 kali di gunung Rainer. Sedangkan di Gunung Logan Amerika Utara, dan Gunung Hunter (masih wilayah Denali) Tejas tercatat sebagai orang yang melakukan pendakian musim dingin pertama. Sementara gunung lain yang juga pernah dijelajahi oleh Tejas adalah Cho Oyu, Chimborazo, Matterhorn, Cotopaxi, Kinabalu, Saint Elias, dan masih banyak lagi.

Vern Tejas dengan deretan rekor seven summitnya yang spektakuler. - Sumber foto: Alchetron

Daftar rekor seven summit masih berlanjut dengan nama Carlos Soria Fontán yang tercatat sebagai seven summiter tertua (71 tahun) pada tahun 2010, untuk kemudian rekor ini dipatahkan oleh Werner Berger dari Kanada yang menjadi seven summiter pada usia 76 tahun (21 November 2013).

Cason Crane memegang rekor yang lebih unik dengan menjadi gay/homoseksual pertama yang mencapai seven summit.1.15 Kemudian ada juga nama Tashi Malik dan Nushi Malik, dua saudara kembar wanita dari India yang menjadi saudara kembar pertama yang berhasil menjadi seven summiter.

Tashi Malik dan Nushi Malik adalah dua saudara kembar yang cukup berhasil dalam dunia mountaineering. Selain sebagai seven summiter kembar pertama, mereka juga tercatat sebagai pendaki kembar wanita Everest yang pertama, saudara kembar pertama yang menyelesaikan Adventures Grand Slam & the Three Pole Chalengge (Kutup Utara, Kutup Selatan, dan Mount Everest), saudara kembar pertama yang mencapai Kutup Selatan, saudara kembar pertama yang mencapai Kutub Utara, dan juga saudara kembar pertama yang berhasil mencapai puncak Mount Cook di Selandia Baru.

Tashi Malik dan Nungshi Malik, saudara kembar asal India yang dianggap paling sukses dalam mountaineering. Sumber foto: google.com

Vanessa O’Brien akhirnya tampil menjadi wanita pertama yang mencapai puncak seven summit dengan waktu tercepat pada tahun 2013 (sebelumnya sempat didambakan oleh Khrusnaa Patil). Catatan waktu O’Brien adalah 10 bulan. Di samping nama Vanessa, ada juga Janusz Kochański dari Polandia yang berhasil mencatatkan waktu pendakian seven summit daftar Messner selama 126 hari, dimulai dari 14 January 2017 di Vinson Massif, dan berakhir di Everest pada 20 Mei 2017.

Pendaki yang akhirnya memegang rekor tercepat dalam seven summiter, baik versi Bass maupun versi Messner adalah Colin O’Brady1.16 dari Amerika yang menyelesaikan keseluruhan pendakiannya selama 131 hari. O’Brady memulai debutnya di Vinson Massif pada 17 Januari 2016, kemudian Aconcagua pada 31 Janurari 2016, Kilimanjaro 9 Februari 2016, Kosciuszko 17 Februari 2016, Carstensz Pyramid 4 Maret 2016, Elbrus 10 Maret 2016, Everest 19 Mei 2016, dan terakhir McKinley pada 27 Mei 2016.

Dalam pendakiannya ini O’Brady juga sekaligus tampil sebagai orang tercepat yang menyelesaikan Explorers Grand Slam & Three Pole Chalengge dengan waktu 139 hari. Selain puncak seven summit, O’Brady juga tercatat pernah mendaki Manaslu, Cayambe, Cotopaxi, Chimborazo, Fuji, Saint Helens, dan yang lainnya.

Tanggal 14 Mei 2018, rekor Kochanski dipatahkan oleh seorang pendaki Australia bernama Steve Plain yang berhasil menyelesaikan sirkuit grand slam seven summits hanya dalam waktu 117 hari, sembilan hari lebih cepat dari Janush Kochanski. Plain memulai pendakiannya di Vinson Massif pada tanggal 16 Januari 2018 berlanjut kemudian secara berurutan ke Denali, Elbrus, Aconcagua, Kilimanjaro, Carstensz Pyramid dan terakhir Everest pada 14 Mei.

Colin O’Brady menjadi yang tercepat dalam sejarah Seven Summits sebelum dipatahkan rekornya oleh Steve Plain dari Australia. - Sumber foto: Portland Tribune


Rekor kecepatan pendakian seven summit yang diciptakan oleh Steve Plain belum terkalahkan hingga saat ini. Namun salah satu hal penting dari keberhasilan Plain adalah kemampuannya melawan tantangan dan rintangan. - Sumber foto: SoundCloud

 Pendakian Steve Plain dan kesuksesannya sebagai pemegang rekor seven summiter tercepat saat ini juga mengundang kekaguman lain, karena pada beberapa tahun sebelum rekor itu ia buat, Plain pernah mengalami cidera leher yang cukup parah yang oleh dokter dinyatakan tak mungkin bisa digunakan untuk aktivitas berat apalagi untuk mendaki gunung tinggi yang sangat berisiko. Keberhasilan Plain bukan hanya menunjukkan bahwa ia memiliki kemampuan untuk menciptakan rekor dalam dunia mountaineering yang penuh nilai prestisius, namun juga Steve Plain membuktikan bahwa vonis dokter tidak selalu benar. Dan karena itu sudah semestinya tidak membuat seorang pasien merasa putus asa dan kehilangan semangat.

*

>>> KLIK TAUTAN INI UNTUK MENDAPATKAN BUKU-BUKU PENDAKIAN GUNUNG TERBARU DI INDONESIA <<<


No comments:

Post a Comment

Tulisan Terbaru

PEMUNCAKAN DAN TRAGEDI DI GUNUNG PALING SULIT DI DUNIA

Gunung K2 yang merupakan gunung tertinggi ke-2 di dunia dan merupakan satu-satunya gunung 8.000 meter yang belum tersentuh puncaknya pa...