Saturday, 29 August 2020

Perempuan Pendaki Gunung Solo Terkuat di Dunia

 


Artikel ini dikutip dari buku berjudul DEWI GUNUNG karya Anton Sujarwo

“Jika seseorang memberi saya selamat karena saya adalah wanita pertama yang mendaki Shipton Spire secara solo, itu artinya ia sedang meremehkan pencapaian saya, karena di atas gunung, pria dan wanita ada dalam tempat yang setara Silvia Vidal

Bila kita mengatakan bahwa salah satu pesona terbesar dari mountaineering adalah pendakian solo, maka ini menjadi lebih menarik ketika ia dilakukan oleh seorang wanita. Pada dasarnya ada banyak pendaki gunung solo wanita yang signifikan di atas tebing-tebing dan pegunungan, yang mencetak prestasi dan pencapaian dalam langkah-langkah hening mereka. Kita telah mengulas tentang Alison Jane Hargreaves yang mendaki Everest secara solo, tanpa tabung oksigen dan juga tanpa bantuan sherpa. Dan kali ini, sosok yang akan kita bahas adalah seorang wanita yang seringkali dikatakan sebagai maestronya pendakian solo di atas gunung-gunung yang sulit. Sosok ini dengan segala pesona yang ia miliki, memiliki kepantasan untuk mendapatkan predikat sebagi pemilik semangat mountaineering tradisional yang masih sangat terjaga.

Berbeda dengan para pendaki gunung perempuan solo lainnya, yang mungkin menghabiskan waktu hanya beberapa hari dalam aksi monumental mereka, yang juga kadang aksi itu ada dalam ruang lingkup tempat yang dengan mudah terjamah oleh publikasi media. Silvia Vidal, pendaki gunung perempuan yang lahir di Barcelona pada tanggal 17 Desember 1970, memiliki differensiasi yang lebih baik. Silvia dalam perjalanan pendakian solonya, lebih memilih gunung-gunung terpencil, yang jauh dan terasing, yang tidak mudah diakses dan dicapai lokasinya.

Dan ia juga nampaknya sangat menikmati petualangan solo yang dilakukan dalam waktu yang lama. Jika pendaki gunung lain sudah merasa lama dengan sendirian di atas gunung selama satu minggu, maka Silvia Vidal dapat melakukan hal itu bisa hingga tiga bulan lamanya. Perempuan tangguh ini dengan senang hati menghabiskan hari-harinya selama tiga bulan dengan sendirian berjalan di atas gunung yang hening, atau memanjat di atas tebing yang tak berpenghuni. Ia dengan segala determinasi yang dimiliki, benar-benar memiliki kualifikasi sebagai pendaki gunung solo yang sejati.

Pengembaraannya dalam pendakian solo, komunikasinya dengan alam raya yang megah dan liar, kesendiriannya dalam merayapi tebing-tebing yang tak pernah didatangi manusia sebelumnya, nampaknya juga mampu memberi pengajaran yang dalam pada Silvia Vidal. Ia selain dikenal sebagai petualang dan pendaki gunung dengan karakteristik solo yang sejati, juga dikenal dengan filosofinya tentang kehidupan yang dalam. Silvia menjadi salah satu dari sedikit pendaki modern yang mampu menterjemahkan aksara mountaineering dalam untaian kata-kata yang dalam dan bermakna. Ia seringkali menggunakan perumpamaan yang menarik sebagai cara baginya untuk melukiskan sesuatu.

arcopodo journal
Source: Climbing Magazine

Sebelum menekuni aktivitas pendakian gunung dan rock climbing yang membuatnya melakukan ekspedisi selama berbulan-bulan, Silvia Vidal adalah seorang mahasiswa yang kuliah di Barcelona dan mengambil jurusan PE (Physical Education) atau Pendidikan Olahraga. Alih-alih memanjat tebing dan mendaki gunung, materi kuliah dan yang ia geluti lebih banyak membawanya pada materi tentang atletik, berlari, dan beberapa jenis olahraga lainnya. Namun karena materi itu juga mengharuskan mahasiswanya untuk mengenal apa itu rock climbing, Silvia pun berkenalan dengan panjat tebing.

Pengalaman pertama memanjat tebing nampaknya demikian berkesan pada Silvia, ia kemudian demikian menyukai aktivitas ini. Apa yang ia dapatkan dari memanjat tebing membuat ia sangat tertarik. Namun demikian, keseriusan Vidal untuk terjun secara totalitas dalam aktivitas alpinisme tidak terjadi sampai ia setahun telah mengenal rock climbing.

Setelah benar-benar terjun dalam aktivitas alpinis yang serius, dalam waktu dua tahun Vidal telah membuktikan kompetensinya dengan baik. Tahun 1996, Spanish Mountain Federation menganugrahinya Piolet d’or Award atas pencapaiannya memanjat Principado de Asturias yang ada di Spanyol Utara. Selain di Spanyol sendiri, Vidal juga pernah mendaki Monntseratt dan juga di Yosemite, dua tempat yang dianggap sakral bagi pemanjat tebing Eropa dan Amerika.

Pencapaian besar Silvia Vidal yang pertama mungkin adalah tahun 1999, ketika ia bersama dengan Miguel Puigdomenech dan Pep Masip berhasil membuat rute Sol Solet di Amin Brakk, Karakoram, Pakistan. Amin Brakk sendiri adalah sebuah gunung batu dengan tinggi hampir 6000 meter, belum pernah tersentuh sama sekali oleh para pendaki gunung sebelum kedatangan Silvia Vidal dan dua temannya. Dan pendakian Amin Brakk oleh tim Spanyol ini tentu saja kemudian membuat first ascent gunung tersebut.

Source: Alpinist.com

Yang menarik dari pendakian Sol Solet adalah teknik alpine style dan juga ketahanan para pendaki saat melakukannya. Dalam pendakian ini tim Silvia Vidal setidaknya harus bertahan selama 32 hari berturut-turut di atas tebing. Selain itu, sampai pendakian ini selesai mereka hanya memasang 31 baut dan 27 camalot saja untuk membantu mereka melewati tebing-tebing yang benar-benar mulus dan tidak memiliki crack. Sehingga pada tahun 2001 tak mengherankan ketika American Alpine Journal menyebut apa yang dilakukan oleh tim Spanyol di Amin Brakk ini sebagai ‘salah satu test daya tahan mountaineering yang paling mengesankan’.

Selanjutnya pada tahun 2004, Silvia Vidal kembali membuat pendakian mengesankan di Neverseen Tower, Himalaya. Dalam pendakian ini Silvia berpartner dengan Eloi Callado, dan mereka mengukir rute Mai Blau dengan garis pendakian hampir satu kilometer. Akan tetapi salah satu pencapaian terbesar seorang Silvia Vidal terjadi pada tahun 2007, ketika ia memutuskan melakukan ekspedisi solo ke Karakoram dan memanjat Shipton Spire yang perkasa.

Pendakian Vidal ini adalah salah satu prestasi monumentalnya yang luar biasa, ia secara solo menghabiskan waktu setidaknya 21 hari dari tanggal 10 sampai dengan 30 Juli 2007. Vidal benar-benar sendirian, ia tidak membawa radio atau alat komunikasi apa pun, bahkan pada saat pendakian itu ada 12 hari badai dan salju lebat turun mempersulit langkahnya. Namun kemudian pada akhir bulan Juli ia berhasil mencapai puncak dan membuat sebuah rute spektakuler yang kemudian ia beri nama Life is Lilac (Hidup itu Unggu). Dan sampai hari ini, Life is Lilac yang dibuat first ascent secara solo oleh Silvia Vidal di Sisi Timur Laut Shipton Spire adalah salah satu rute paling mengesankan di tebing Karakoram.

Setelah Life Is Lilac, Vidal kemudian membuat pendakian monumental lainnya pada tahun 2012 dengan memanjat Espiadimonis Route (Rute Kupu-Kupu) yang ia ciptakan saat mendaki solo di Serrania Avalancha di Patagonia. Dalam pendakian ini Vidal kembali menghabiskan hari-harinya selama 32 hari di atas tebing sendirian, tanpa alat komunikasi, dan juga diguyur hujan yang tak kunjung berhenti.

Silvia Vidal saat membuat rute Life is Lilac di Shipton Spire, Karakoram, Pakistan, tahun 2007. Life is Lilac adalah salah satu mahakarya terbaik dari Silvia Vidal.Sumber foto: Planetmountain

Espiadimonis adalah salah satu pencapaian Vidal yang sangat impresif setelah Life is Lilac. Bahkan sebelum berhasil mencapai kaki gunung dan mulai memanjat Serrania Avalancha, Vidal harus berjalan menembus hutan tropis Chili yang lebat. Dan dalam 32 hari di atas tebing tanpa putus itu, setidaknya 16 hari harus dihabiskannya berdiam diri dalam portaledge karena hujan yang terus menerus. Menjadi sebuah pendakian yang sangat luar biasa bagi Vidal di saat seperti itu di mana ia tak sedikit pun goyah, ia tetap teguh mendaki dalam kesendirian dan bertekad pulang dengan membawa keberhasilan.

Pendakian lain yang cukup penting dari Silvia Vidal adalah saat ia membuat rute Un Pan Mes di West Face of Xanadu pada bulan Juli tahun 2017. Xanadu sendiri adalah salah satu pegunungan di Alaska, dan seperti biasanya, Vidal membuat pencapaiannya ini secara solo.

Dalam pendakiannya, Silvia Vidal seringkali memperlakukan dirinya benar-benar seolah masuk dalam dunia baru yang terasing. Ia sangat jarang sekali membawa alat komunikasi selama pendakian berlangsung, baik itu radio, telepon, atau komunikasi internet lainnya. Ia bahkan seringkali melakukan penjelajahan tanpa peta dan GPS. Sebagai gantinya, Vidal lebih mengandalkan insting dan intuisinya.

Apa yang ia lakukan ini nampaknya menerapkan prinsip alpine style yang benar-benar murni, ia adalah super woman yang memilih melakukan segala sesuatunya sendiri dengan cara yang paling tradisional. Di Xanadu, Alaska, misalnya ia menghabiskan waktu selama 37 hari hanya untuk mengangkut peralatan sendirian menuju kaki gunung. Ia membiarkan dirinya jatuh dalam pelukan alam yang dalam, sangat ekslusif dan sendirian.

Dengan tinggi 5.852 meter dan bentuknya yang laksana mata tombak, Shipton Spire benar-benar menjadi sebuah medan sempurna untuk big wall rock climber sejati, dan di tempat inilah Life is Lilac diciptakan oleh Silvia Vidal. Sumber foto: Google

Dari sisi gaya, apa yang dilakukan oleh Silvia Vidal mungkin merupakan puncak dari sebuah gaya alpine style yang paling murni, sebuah gaya dari petualangan solo dalam mountaineering (big wall climbing) yang paling tinggi. Hanya ada sedikit orang di dunia yang mungkin mau melakukan ini, dan Vidal mungkin adalah salah satunya yang paling istimewa.

Silvia Vidal seringkali memperlakukan dirinya benar-benar seolah masuk dalam dunia baru yang terasing. Ia sangat jarang sekali membawa alat komunikasi selama pendakian berlangsung, baik itu radio, telepon, atau komunikasi internet lainnya. Ia bahkan seringkali melakukan penjelajahan tanpa peta dan GPS.

Akan tetapi keputusan untuk mendaki seperti yang Vidal lakukan juga memiliki banyak konsekuensi. Kita tidak perlu membicarakan konsekuensi teknis yang berujung pada kematian, namun konsekuensi komitmen juga seringkali menyambangi Vidal.

Memutuskan untuk melakukan sebuah pendakian yang luar biasa tanpa mau berhubungan dengan dunia luar adalah sebuah tindakan yang mungkin tidak bisa diterima oleh sponsor. Sponsor pada satu sisi memang membutuhkan atlit tangguh dan berprestasi untuk menjadikan image produk mereka populer, memang membutuhkan rock climber berbakat untuk menjadi brand ambassador produk dan merek mereka. Akan tetapi menjadi hal yang berbeda kemudian jika sang pendaki gunung atau pemanjat tebing tersebut memilih untuk tidak menggembar-gemborkan pendakiannya. Jika pendakian dilakukan secara terasing, tanpa komunikasi, tanpa up date sosial media, lantas bagaimana dengan tugas mempromosikan produk yang merupakan bagian penting dari sebuah  fungsi sponsorship?

Silvia Vidal nampaknya siap dengan itu semua, dan karena itu kadang-kadang ia memiliki masalah pada sponsor. Namun Vidal tak menyerah, ia lebih memilih membiayai sendiri perjalanannya, daripada mengubah gaya mendaki gunungnya yang luar biasa.

Update, saya menulis bagian ini setelah sampel pra cetak buku Dewi Gunung selesai;

Sebelum hampir seluruh dunia memberlakukan lockdown terkait dengan pandemi wabah Covid-19 atau Coronavirus Sars-Cov19, Silvia Vidal telah berangkat seorang diri untuk membuat mahakarya mountaineering lainnya. Dari tanggal 7 Februari 2020, Silvia telah berangkat menuju Patagonia untuk memuat pemanjatan first ascent di sisi barat Cerro Chileno. Dalam ekspedisi ini Silvia menghabiskan waktu selama 33 hari penuh, baik untuk membawa masuk perlengkapannya menembus belantara Chili, mau pun untuk melakukan pemanjatannya sendiri.

source: Desnivel


Silvia menyelesaikan ekspedisinya pada tanggal 10 Maret 2020, dimana dunia sudah berubah jauh lantaran pandemi Covid-19 yang masih belum ditemukan vaksinya hingga hari ini (22 April 2020). Selama dalam pendakiannya di Cerro Chileno ini, seperti biasanya, Silvia Vidal tidak membekali dirinya dengan alat komunikasi apa pun, ia memilih sendiri dan terisolasi. Oleh Silvia Vidal, rute solo fisrt ascent yang dibuatnya di west face Cerro Chileno ini kemudian diberi nama dengan; Sincronia Magica.

 

Pencapaian dan Warisa 

  • 1996 – Principado de Asturias Route di Spanyol Utara.
  • 1999 – Sol Solet Route di Amin Brakk, Karakoram, Pakistan, bersama dengan Pep Masip dan Miguel Puigdomenech. Diklaim sebagai salah satu pencapaian alpine style dan daya tahan pendakian yang paling luar biasa.
  • 2004 – Mai Blau Route di Neverseen Tower, Himalaya, bersama denga  Eloi Callado.
  • 2007 – First ascent, first solo ascent Life is Lilac di Shipton Spire, Karakoram, Pakistan.
  • 2012 – First ascent, first solo ascent, solo expedition di rute Espiadimonis, Patagonia.
  • 2007 – First ascent dan fisrt solo ascent Un Pan Mes Rouet di Xanadu, Alaska.

 

Penghargaan

Ø  Piolet d’Or Award dari Spanish Mountain Federation tahun 1996.

 

 

No comments:

Post a comment

Tulisan Terbaru

PEMUNCAKAN DAN TRAGEDI DI GUNUNG PALING SULIT DI DUNIA

Gunung K2 yang merupakan gunung tertinggi ke-2 di dunia dan merupakan satu-satunya gunung 8.000 meter yang belum tersentuh puncaknya pa...