Monday, 20 July 2020

Profil Catherine Destivelle, Sang Dewi Gunung dari Perancis

Tanpa tali, tidak ada rasa takut. Karena kemungkinan untuk terjatuh, sama sekali tidak terpikirkan- Catherine Destivelle

Membicarakan seorang perempuan Perancis bernama Catherine Monique Zuzanne Destivelle tidak dapat tidak, harus juga membicarakan mengenai seorang legenda alpinis terkemuka abad 20 bernama Jeff Lowe. Jika saja Catherine Destivelle tidak berjumpa dengan Jeff Lowe dalam perjalanan hidupnya, kita mungkin tidak akan menemukan namanya dalam daftar utama buku Dewi Gunung ini. Dalam memoar seorang Catherine Destivelle, dapat dikatakan bahwa pemikiran, inspirasi, dan juga didikan Jeff Lowe-lah yang membuat seorang gadis Perancis yang biasa bertarung dalam kompetisi rock climbing, berpindah jalur untuk menjadi seorang alpinis sejati dan pendaki gunung yang melegenda. 

Ada banyak sekali prestasi signifikan seorang Catherine Destivelle dalam dunia pendakian gunung dunia. Ia adalah perempuan pertama di dunia yang memanjat sisi maut Eiger North Face secara solo pada musim dingin dengan durasi hanya 17 jam. Ia juga pernah memanjat Trango Tower (Nameless) di Karakoram bersama dengan Jeff Lowe. Pernah juga melaksanakan pemanjatan signifikan di Latok I Sisi Utara, dan masih bersama dengan Jeff Lowe. 

Selain berbagai pemanjatan dan ekspedisi mountaineering yang signifikan semacam itu, Destivelle juga adalah seorang penulis yang produktif. Ia setidaknya telah menulis 10 judul buku yang berkisah tentang petualangannya di tebing-tebing gunung raksasa. Bahkan semenjak tidak lagi aktif dalam berbagai ekspedisi mountaineering profesional, Catherine Destivelle menjadi seorang penerbit buku-buku khusus mountaineering di Perancis. 

Catherine Destivelle lahir di Oran, French Algeria810.1 pada tanggal 24 Juli 1960. Meskipun lahir di Aljazair, Catherine memiliki kedua orang tua yang asli Perancis. Ayahnya adalah seorang pendaki gunung amatir bernama Serge Destivelle, sementara ibunya sendiri bernama Annie Destivelle. Catherine merupakan anak tertua dari enam bersaudara, dan ketika Catherine menginjak usia remaja, keluarganya meninggalkan Oran dan menetap di Savigny sur Orge, sebuah kota kecil berjarak sekitar 20 kilometer dari Paris. 

Pada saat usia Catherine menginjak 12 tahun, ia belajar bouldering di Fontainebleau, memanjat tebing di Burgundy, dan juga menjadi seorang pendaki gunung di Massif des Ecrins. Bakat dan keterampilan Destivelle di atas tebing dan bebatuan sudah terlihat sejak kecil. Selain lebih cekatan dan cepat dalam belajar, Catherine juga nampak demikian antusias sekaligus sangat berminat dalam dunia petualangan. Selama belajar bouldering dan memanjat tebing, Catherine berjumpa dan menimba ilmu dari banyak pendaki berpengalaman Perancis, termasuk di antaranya adalah Pierre Richard yang merupakan salah satu rock climber Perancis terbaik masa itu. 

Bersama dengan Pierre Richard juga kemudian, Catherine Destivelle mulai menunjukkan kemampuannya sebagai seorang alpinis yang visioner dan berbakat. Ia mendaki ke banyak pegunungan Alpen dan membuat rute-rute yang cukup signifikan. Pada usianya yang mencapai 17 tahun, Destivelle telah memimpin dunia rock climbing untuk beberapa rute sulit yang cukup terkenal seperti; Cousy-Desmaison Route (ED, 800m), north face of l'Olan (3564m), the Devies-Gervasutti Route (TD+, 1050m), northwest face of l'Ailefroide (3848m), American Direct (ED1: 5.10+ A0, 1100m), dan west face of le Petit Dru (3732m).810.2 

Pada masa membuat beberapa pendakian signifikan bersama dengan Pierre Richard ini, Catherine Destivelle juga menjalani pendidikannya di Ecole de kinésithérapie de Paris jurusan Fisioterapi. Dan pada kisaran tahun antara 1981 sampai dengan tahun 1985 Catherine menekuni profesinya sebagai seorang fisoterapis. Profesinya ini membuat aktivitas pendakian gunung dan pemanjatan tebing yang dilakukan oleh Catherine menjadi terhenti. Kesibukannya dalam karir sebagai seorang fisioterapis membuat Catherine harus memilih antara menjadi seorang perempuan karir, atau meneruskan aktivitasnya sebagai seorang pendaki gunung. 

Keputusan Catherine ini kemudian berubah ketika berjumpa dengan Lothar Mauch selama syuting untuk film E Pericoloso Sporgersi. Tahun 1985 setelah memutuskan bahwa ia akan kembali ke dunia rock climbing dan pendakian gunung, Catherine juga mendapat profesi sebagai stuntman810.3 dalam beberapa film dan program televisi. Dan perjumpaan Catherine dengan Lothar Mauch ini adalah salah satu titik balik di mana Catherine Destivelle mempertimbangkan dan memutuskan dirinya untuk bertanding dalam kompetisi rock climbing profesional. Tak hanya itu, pada titik ini Lothar juga menjadi pelatih Catherine, menjadi belayernya, dan juga menjadi teman dalam berbagai petualangannya.

Catherine Destivelle menjadi rock climber, alpinis, mountaineer, sekaligus penulis buku yang produktif. Sumber foto: Listal 

Segera pada tahun 1985 itu Catherine memasuki dunia kompetisi rock climbing, dan ia memenangkan Sportroccia.810.4 Dalam Sportroccia tahun 1985 yang merupakan tahun pertamakali event ini dilaksanakan, Destivelle menempati juara pertama untuk kelas rock climber wanita, sementara untuk rock climber pria dimenangkan oleh Stefan Glowacz dari Jerman. Di tahun selanjutnya (1986), Catherine Destivelle kembali menjuarai perlombaan kategori rock climber wanita, dan kali ini bersanding dengan legenda rock climber Perancis bernama Patrick Edlinger yang memenangkan kompetisi untuk kategori rock climber pria. 

Menjelang akhir tahun 1980-an ini, Catherine Destivelle telah menjadi sosok familiar yang diikuti oleh banyak media. Ia pada titik ini, juga secara prestasi dan kompetisi rock climbing, bersaing dengan salah satu legenda pemanjat tebing perempuan yang lain bernama Lynn Hill. Mereka secara bergantian menjuarai berbagai macam turnamen dan kompetisi. 

Catherine Destivelle dan Lynn Hill dapat dianggap sebagai duo rival yang sama-sama memiliki kemampuan menakjubkan di atas bebatuan dan tebing-tebing. Dan dilihat dari sudut pandang tinta sejarah yang mereka ukir terkait dengan ekssitensi sosok perempuan dalam mountaineering, dapat dibilang Catherine Destivelle dan Lynn Hill menempati tempat yang sama-sama penting. Oleh karena itu, pada beberapa lembar di depan kita akan menemukan juga nama Lynn Hill ada pada daftar utama buku Dewi Gunung ini. 


Panggilan Alpinis Sejati 

Perjumpaan Catherine Destivelle pada Jeff Lowe terjadi pada kisaran tahun 1988-1989 di mana Destivelle mengikuti kejuaraan rock climbing di Grenoble dan Snowbird yang di-handle oleh Jeff Lowe. Dan pada tahun 1990, secara resmi Catherine Destivelle mengundurkan diri dari dunia kompetisi rock climbing untuk kembali pada dunia alpinis, mountaineering dan pendakian gunung, sesuatu yang memang telah menjadi passion sejatinya. Saat inilah kemudian yang menjadi titik balik terbesar dari seorang Catherine Destivelle, inspirasi yang ia peroleh dari Jeff Lowe dan konsekuensinya untuk belajar dengan tekun, tidak hanya membuat Destivelle kembali ke dunia alpinis dan mountaineering, namun membuat namanya menjadi legenda dalam sejarah. 

Mungkin muncul sebuah pertanyaan dalam benak kita, apa sebenarnya yang didapatkan oleh Catherine Destivelle dari Jeff Lowe sehingga ia begitu terinspirasi dan yakin meninggalkan dunia kompetisi rock climbing yang membuatnya namanya tersohor? Untuk menjawab rasa penasaran ini, kita setidaknya juga harus mengenal dan mengetahui sosok Jeff Lowe sendiri, seorang pendaki gunung abad 20 yang diakui adalah sebagai salah satu yang terbaik.810.5 
Jeff Lowe dalam salah satu session Winter X Games yang ia perkenalkan. Inovatif dan semangat petualangan membuat nama Jeff Lowe tetap dikenang hingga sekarang. Sumber foto: New York Times 

Jeff Lowe adalah seorang pendaki gunung legendaris dari Amerika Serikat, ia terkenal sebagai sosok yang visioner, inovatif dan tangguh. Di atas gunung-gunung Kanada, Alpen dan Himalaya, Jeff Lowe popular dengan gaya alpine style-nya. Mendaki gunung bagi Jeff Lowe adalah dengan tim kecil yang efektif, efisien, serta dengan perlengkapan yang minimal. Konsep yang sama jika kemudian kita bandingkan dengan nama-nama legendaries lainnya semacam Alex MacIntyre atau pun Voytek Kurtyka. 

Dalam karir mountaineeringnya yang luar biasa. Jeff Lowe telah menciptakan banyak sekali prestasi yang signifikan di atas gunung. Ia dipercaya telah membuat lebih dari 1000 fisrt ascent sepanjang hidupnya. Maka tidak mengherankan mengapa dalam American Alpine Club di Amerika, atau dalam Alpine Club di Inggris, Jeff Lowe adalah anggota kehormatan. Selain itu ia juga di anugrahi Piolet d’Or Lifetime Achievement Award pada tahun 2017. Karena menjadi tokoh besar dalam dunia sport climbing kompetisi dan dunia alpinisme dan mountaineering professional, maka Jeff Lowe memang dicintai dan dikagumi oleh banyak kalangan. 

Di America, Jeff Lowe banyak sekali membuat pendakian inovatif seperti first winter ascent di Grand Teton West Face pada tahun 1972. Sementara di Nepal, nama Jeff Lowe berkibar untuk pendakian solo Ama Dablam tahun 1979, Trango (Nameless) Tower tahun 1990, atau Latok I tahun 1978. Di Alpen sendiri Jeff Lowe mengukir namanya dalam sebuah rute paling prestisius di Eiger North Face pada tahun 1991, rute itu kemudian ia beri nama Metanoia. 

Pemikiran-pemikiran yang dimiliki Jeff Lowe, prinsip dan filosofi yang ia kembangkan dalam pendakian gunung nampaknya telah membuat Catherine Destivelle benar-benar terinspirasi. Pada perkembangannya kebersamaan Catherine bersama Jeff Lowe dalam berlatih, dalam memanjat, dan juga dalam mempersiapkan ekspedisi mountaineering, pada akhirnya membuat Destivelle juga berani menetapkan sebuah target besar dalam pendakiannya. 

Selain target besar yang didasari pengaruh pemikiran Jeff Lowe, Catherine Destivelle juga meningkat secara drastis dalam hal teknik dan kualitas level pendakiannya. Dan pada tahun 1992, segala transformasi itu berbuah dengan sempurna ketika Destivelle berhasil menaklukkan Eiger North Face sebagai pendakian perempuan solo pertama dalam waktu 17 jam. Dan itu terjadi satu tahun tepat setelah Jeff Lowe menciptakan rute fenomenal Metanoia di tempat yang sama. 

Selama tahun 1990-an, dapat dikatakan bahwa Destivelle mencapai kegemilangan pencapaiannya yang luar biasa. Selain melakukan pendakian secara solo di berbagai tebing paling mengagumkan di dunia, Destivelle juga berpartner dengan para pendaki gunung terbaik dunia pada masa itu. Pencapaian eksplorasi mountaineering yang dilakukan oleh Destivelle ini meskipun terinspirasi dari Jeff Lowe, namun tentu saja didukung pula oleh kerja keras, talenta dan konsistensinya yang luar biasa. Masuknya seorang alpinis perempuan seperti Destivelle pada ekspedisi-ekspedisi besar dan monumental telah menunjukkan pengakuan yang luar biasa, bukan saja atas kemampuan seorang Destivelle, namun juga atas ketangguhan seorang pendaki gunung perempuan di atas gunung-gunung yang sulit dan sangat teknis. 

Catherine Destivelle dalam salah satu pendakiannya di Alpen. Dengan pencapaiannya yang luar biasa, tidak mudah menemukan nama yang setara dengan dirinya dalam dunia mountaineering modern sekarang. Sumber foto: CatherineDestivelle

Selain Jeff Lowe, sosok yang kemudian menjadi partner ekspedisi Catherine Destivelle adalah Erik Decamp, seorang pendaki gunung Perancis yang kemudian menjadi suaminya. Decamp dan Destivelle pernah mendaki sisi barat daya Shishapangma pada tahun 1994, kemudian sisi selatan Annapurna masih pada tahun yang sama. 

Di Antartika, Catherine Destivelle dan Erik Decamp pernah menjadi first ascent sebuah puncak gunung yang mereka beri nama sebagai Peak of 4111. Menjelang tahun 2000-an, Destivelle mulai lebih banyak berfokus pada karirnya sebagai penulis dan pembicara, dan mengurangi ekspedisi mountaineering yang ia geluti. 

Pencapaian dan Warisan 

Catherine Destivelle memiliki banyak sekali pencapaian dalam kariernya sebagai pendaki gunung, alpinis, penulis, stuntman film mau pun sport climber. Dan berikut adalah daftar pencapaian yang paling penting dari seorang Catherine Destivelle untuk masing-masing bidang tersebut. 

Sport Rock Climbing 

  • 1983 – La Dudule, Saussois, Perancis (rock climber perempuan ke-3 di dunia mencapai grade 7a)
  • 1985 – Pichenibule, Verdon, Perancis (rock climber perempuan ke-3 mencapai grade 7b+)
  • 1985 – Fleur de Rocaille, Mouriès, Perancis (rock climber perempuan pertama mencapai grade 7c+/8a)
  • 1988 – Rêve de Papillon, Buoux, Perancis (perempuan keempat mencapai grade 8a)
  • 1988 – Elixir de Violence, Buoux, Perancis (8a)
  • 1988 – Samizdat, Cimaï, Perancis (8a)
  • 1988 – La Diagonale du Fou, Buoux, Perancis (8a)
  • 1988 – Chouca, Buoux, Perancis (rock climber pertama di dunia yang mencapai grade 8a+

Pendakian dan Pemanjatan Solo 

  • Pillar Bonatti di Aiguille du Dru pada bulan Oktober 1990.
  • Destivelle Route di Aiguille du Dru yang diciptakan oleh Catherine pada bulan Juni tahun 1991. Ia membuat rute ini selama 11 hari (dari tanggal 24 Juni – 4 Juli 1991), dan untuk yang pertamakalinya nama seorang rock climber wanita disematkan untuk rute yang dibuatnya.
  • Bulan Maret tahun 1992 memanjat Heckmair Route di Eiger North Face dalam waktu 17 jam (salah satu prestasi terbesar Destivelle yang paling populer)
  • Menyelesaikan rute Walker Spur di Grandes Jorasses pada bulan Februari 1993.
  • Menyelesaikan pemanjatan Bonatti Route di Wajah Utara Matterhorn pada bulan Februari 1994.
  • Tahun 1999 bulan Juni menyelesaikan North Face Direct Route di Cima Grande di Lavaredo.

Ekspedisi Mountaineering 

  • Tahun 1990 bersama dengan Jeff Lowe memanjat Rute Yugoslavia di Trango Nameless Tower, Karakoram, Pakistan.
  • Tahun 1992 memanjat wajah utara Latok I bersama dengan Jeff Lowe, pendakian terhenti pada ketinggian 5800 meter karena permasalahan pada kesehatan Lowe.810.6
  • Tahun 1994 memanjat Left Hand Couloirs sisi barat daya Shishapangma bersama dengan Erik Decamp. Rute yang mereka gunakan adalah rute yang pernah dilalui oleh Voytek Kurtyka, Enhard Loretan dan Jean Troilet.
  • Tahun 1996 first ascent di 4111 di Elsworth Mountains, Antartika, bersama dengan Erik Decamp.

Buku yang ditulis Catherine Destivelle antara lain adalah; 

  • Danseuse De Roc, 1987.
  • Rocs Nature (foto oleh Gérard Kosicki), 1991.
  • Annapurna: Duo pour un 8000 (bersama Érik Decamp), 1994.
  • L'apprenti alpiniste: L'escalade, l'alpinisme et la montagne expliqués aux enfants (bersama Érik Decamp dan Gianni Bersezio), 1996.
  • Ascensions, 2003.
  • Le petit alpiniste: La montagne, l'escalade et l'alpinisme expliqués aux enfants (bersama Érik Decamp dan Claire Robert), 2009.
  • Rock Queen, 2015.
  • L'escalade, tu connais?, 2017.
  • L'alpinisme, tu connais?, 2019.

Beberapa judul film dengan Catherine Destivelle sebagai bagian pentingnya (sebagai subjek, stunt, atau membahas ekspedisi yang dilakukannya) 

  • E Pericoloso Sporgersi, Robert Nicod, 1985
  • Seo, Pierre-Antoine Hiroz, 1987
  • Solo Thai, Laurent Chevallier, 1989
  • Nameless Tower, David Breashears, 1990
  • 11 Jours dans les Drus, Gilles Sourice, 1991
  • Eiger, Stéphane Deplus, 1992
  • Ballade à Devils's Tower, Pierre-Antoine Hiroz, 1992
  • La Cascade, Pierre-Antoine Hiroz, 1997
  • Rock Queen, Martin Belderson, 1997
  • Au-delà des cimes, Rémy Tézier, 2008

Footnote: 

  • 810.1 Negara Kolonial Perancis Aljazair, sebelum Aljazair memperoleh kemerdekaan mereka sendiri.
  • 810.2 Wikipedia.
  • 810.3 Pemeran pengganti untuk adegan-adegan yang sulit, Catherine Destivelle dalam hal ini menggantikan peran dalam adegan memanjat tebing yang merupakan keahliannya.
  • 810.4 Kejuaraan rock climbing pertama di tingkat internasional. Kompetisi ini dilaksanakan Bardonecchia dan Arco, Italia.
  • 810.5 Profil Jeff Lowe juga dapat dilihat dalam buku Dunia Batas Langit.
  • 810.6 North face of Latok I masih belum berhasil didaki hingga sekarang. Ekspedisi yang cukup signifikan di tempat ini terakhir kali dilakukan oleh Luka Strażar, Aleŝ Ĉesen (dari Slovenia) dan Tom Livingstone (dari Inggris). Mereka menggunakan punggungan utara hingga ketinggian 7.145 meter sebelum berbelok menggunakan rute normal menuju puncak. Pendakian mereka lakukan pada 9 Agustus 2018. Dan hingga saat ini, status North Face of Latok I masih tidak tertaklukkan atau unclimbed. 



No comments:

Post a comment

Tulisan Terbaru

PEMUNCAKAN DAN TRAGEDI DI GUNUNG PALING SULIT DI DUNIA

Gunung K2 yang merupakan gunung tertinggi ke-2 di dunia dan merupakan satu-satunya gunung 8.000 meter yang belum tersentuh puncaknya pa...