Tuesday, 7 July 2020

KISAH SURVIVAL PALING MENGAGUMKAN DI HIMALAYA

Pendaki gunung yang berpengalaman tidak terintimidasi oleh gunung, tetapi ia terinspirasi olehnya - William Arthur Ward

Artikel ini dikutip dari buku MAUT DI GUNUNG TERAKHIR karya Anton Sujarwo. Info tentang bukunya dapat dilihat disini.

***

“Kita harus turun Jean, terlalu berbahaya!”

Teriakan Pierre Beghin yang keras dan lantang itu hanya mampir sebentar di telinga Jean Christophe Lafaille yang sedang berjibaku memegang kapak es dengan kedua tangannya. Angin bercampur salju yang bertiup sekitar lima menit yang lalu kini telah menjelma badai, mengamuk dengan dahsyatnya.

“Turun, turun, kita harus turun!” teriak Beghin kembali.

Lafaille yang merespon teriakan Beghin hanya dengan gerakan tangan dan anggukan nampaknya tidak memuaskan hati Beghin, jadi kemudian Lafaille balas berteriak menyahuti teriakan Beghin

“Ya, ya kita turun sekarang!”

Dua pendaki Perancis itu kemudian memulai perjalanan turun mereka di Dinding Selatan Annapurna, dinding gunung delapan ribu meter dengan predikat paling berbahaya di dunia.


South Face Annapurna adalah daya tarik lain dari pendakian gunung 8.000 meter yang masih tersisa di Himalaya. Sisi selatan dari gunung ini pertama kali dijajal oleh tim Inggris pimpinan Chris Bonington pada tahun 1970. Ekspedisi Inggris saat itu yang beranggotakan Chris Bonington, Ian Clough, Don Whillans dan Dougal Haston berhasil mencapai puncak menggunakan dukungan tabung oksigen. Namun sebuah musibah terjadi saat perjalanan turun mereka, Ian Clough ditimpa sebuah serac yang lepas, dan kemudian tewas.

Setelah pendakian Chris Bonington dan ekspedisi Inggris tahun 1970 tersebut, belum ada pendaki atau ekspedisi lain yang tertarik mengunjungi Wajah Selatan Annapurna yang mematikan itu. Hingga tahun 1992, Pierre Beghin yang merupakan bintang alpinis yang sedang bersinar dari Perancis mengajak rekan senegaranya untuk mengunjungi Tebing Selatan Annapurna, dan mencoba keberuntungan mereka juga di sana.

Jean Lafaille dan Pierre Beghin pada tahun-tahun itu adalah dua pendaki Perancis dengan torehan prestasi yang sangat gemilang. Di Pegunungan Alpen Eropa keduanya telah membuktikan kapabilitas dan keterampilan mendaki mereka yang luar biasa mengagumkan. Dan Himalaya yang merupakan kiblat utama aktivitas mountaineering dunia, merupakan arena di mana seorang mountaineer dan pendaki gunung sejati dapat menguji dan memperoleh pengakuan yang sebenarnya.

arcopodojournal
Ian Clough bergelantungan untuk melakukan traversing di dinding selatan Annapurna dalam eksepedisi tahun 1970. Tidak ada yang menyangka dalam perjalanan turun setelah mencapai puncak, Ian akan tewas dihantam serac yang runtuh. Sumber foto: Pinterest

Jean Lafaille dan Pierre Beghin adalah layaknya para pendekar ketinggian yang lain, adalah orang-orang yang menganut ideologi mendaki gunung dengan cara pandang yang tradisional. Bagi mereka sebuah gunung adalah kanvas terbaik untuk mengukir lukisan prestasi. Dan lukisan terbaik tidak diciptakan dengan cara dan gaya yang biasa. Berbekal kemampuan mendaki yang telah terlatih, semangat alpinisme yang masih memuja nilai-nilai dan estetika, Beghin mengajak Lafaille untuk memanjat tebing selatan Annapurna yang mengagumkan, salah satu medan bagi alpinis sejati untuk membuktikan kualitas dan kemampuan terbaik mereka.

Annapurna South Face sendiri adalah sebuah tebing nyaris vertikal yang menjulang hingga puncak utama dengan ketinggian 8.091 meter. Dari sudut yang tepat, Annapurna South Face terlihat seperti mata pisau yang menengadah seolah merobek langit. Tebing Selatan Annapurna sangat luas, dan sangat memenuhi syarat untuk menghilangkan dahaga petualangan seorang pendaki gunung dengan semangat alpinisme yang murni. Ada banyak rute yang dapat diambil di bagian selatan wajah gunung Annapurna ini. Dan semuanya tidak ada yang akan dengan mudah dapat dilalui.

Bagi para pendaki dengan semangat alpinisme dan pioneering yang tinggi seperti Pierre Beghin, Jean Christophe Lafaille, Chris Bonington, Ian Clough, Dougal Haston dan lainnya, Annapurna South Face adalah sebuah canvas sempurna untuk membuat lukisan mereka sendiri. Jadi saat first ascent South Face Annapurna tercapai pada tahun 1970 oleh ekspedisi Bonington, itu sama sekali tidak mengurangi nilai tantangan yang sisi selatan gunung itu sediakan. Masih ada banyak tempat, dan juga banyak bahaya tentunya bagi para alpinis yang ingin mencoba merayapinya.

Tahun 1970 pendakian Wajah Selatan Annapurna sukses dilakukan dengan menempuh pendakian bergaya ekspedisi, sesuatu yang umum dilakukan di gunung-gunung besar Himalaya. Tahun 1992, Beghin dan Lafaille ingin memperbaiki pencapaian itu dengan melakukan pendakian yang lebih cepat dan ringan. Jean Lafaille dan Pierre Beghin datang ke kaki gunung Wajah Selatan Annapurna dengan semangat alpine style murni. Mereka akan mendaki tebing mematikan itu dengan peralatan yang seminimal mungkin, tanpa sherpa, tanpa porter, dan tanpa tali tetap atau fix rope8.1.

Dengan mengadopsi gaya alpine style, berarti tidak banyak peralatan pendakian yang dapat dibawa oleh kedua pendaki Perancis itu. Keduanya hanya memprioritaskan barang-barang yang sangat penting saja untuk dibawa, bahkan perlengkapan memanjat tebing pun keduanya membawa dalam jumlah yang terbatas. Karena keterbatasan jumlah peralatan yang dibawa  maka Beghin dan Lafaille harus mengatur penggunaan peralatan mereka dengan seksama. Bahkan di tengah badai yang mengamuk seperti sekarang ini, keduanya pun harus menghemat penggunaan perlengkapan pendakian mereka.

Beghin menyisipkan sebuah anchor berbentuk camalot8.2 dan memulai rappeling dari ketinggian 7.400 meter. Setelah Beghin berada pada ujung tali, kemudian gantian Lafaille yang turun dan melakukan rappeling. Karena perlengkapan yang terbatas, anchor yang dipasang oleh Beghin rata-rata adalah anchor tunggal. Atau tidak terdapat jangkar tambahan yang dapat mengantisipasi jatuh ketika anchor pertama gagal bekerja.

Angin masih bertiup dengan kencang membawa butiran-butiran salju yang berhamburan menutupi pandangan. Lafaille dan Beghin sebenarnya hanya butuh kurang lebih 700 meter lagi untuk mencapai puncak tertinggi Annapurna I. Sayangnya badai dan cuaca yang memburuk dengan sangat drastis ini membuat keduanya terpaksa mundur sementara untuk mencari tempat berlindung di ketinggian yang lebih rendah.

Jangkar tunggal pertama yang disisipkan Beghin bekerja dengan sempurna, Lafaille dan dirinya dapat melakukan rappeling dan turun hingga ujung tali dengan aman. Jangkar kedua juga memberikan hasil yang sesuai dengan perhitungan Beghin, jangkar ketiga pun demikian. Dan jangkar tunggal keempat pun tak kalah baik dalam menahan tali yang dibebani bobot tubuh Beghin dan Lafaille yang menuruninya secara bergantian.

Seperti sebelumnya, anchor yang digunakan Beghin pada pitch descending kelima ini juga berupa sebuah camp. Jangkar tunggal itu ia sisipkan di sebuah celah tebing yang menurut perhitungan Beghin sebelumnya, akan aman untuk dijadikan sebagai penahan mereka untuk melakukan rappeling.

“Ok, aku akan turun lebih dulu”

Lafaille hanya mengangguk sambil tetap berpegangan dengan kapak esnya, giginya bergemeletukan menahan hawa dingin dan badai salju yang berhembus dengan kencang di dinding telanjang tebing selatan Annapurna itu.

Beghin memulai rappeling dengan sedikit menendang dinding gunung untuk memperoleh sedikit gaya pegas dalam mempercepat proses rappelingnya. Semua berjalan lancar saat Beghin berhasil mencapai jarak lima meter, enam meter, tujuh meter, delapan dan sembilan meter. Akan tetapi ketika Beghin yang sedang tergantung pada tali pada ketinggian 7.240 meter di tebing Annapurna South Face yang nyaris vertikal itu mencapai jarak kurang lebih sepuluh meter dari posisi jangkar tunggal yang dipasangnya, sesuatu yang tak terduga kemudian terjadi!

Crakk!!!

Anchor tunggal itu tiba-tiba terlepas! Dan melesat terjun mengikuti bobot tubuh beghin yang membebaninya!

Tak ada teriakan atau suara yang keluar dari mulut Beghin yang sepersekian detik kemudian sudah menjauh ratusan meter dari posisi Lafaille. Lafaille sendiri yang terkesiap dengan kejadian yang barusan terjadi di depannya, memaku, menempel lebih erat ke dinding selatan Annapurna yang masih diamuk badai. Tak ada yang dapat ia lakukan. Jangankan menahan atau menangkap anchor itu supaya tidak melayang jatuh, pegangannya sendiri di kedua kapak es nyaris terlepas saking kagetnya.

“Oh my God! oh my God!

Ucap Lafaille berulang-ulang, ia memejamkan mata, menempelkan wajahnya di dinding es Annapurna South Face yang membeku. Beberapa saat kemudian baru ia berani melirik ke jurang di mana Pierre Beghin barusan terjun bebas. Tak ada apa-apa lagi di sana, hanya ruang kosong hampa dengan selimut badai yang masih melolong dengan ganas.

>>> KLIK TAUTAN INI UNTUK MENDAPATKAN BUKU-BUKU PENDAKIAN GUNUNG TERBARU & TERPOPULER DI INDONESIA <<<

Pierre Beghin sudah pasti tewas, tak diragukan lagi untuk hal itu. Jadi tidak ada perlunya bagi Lafaille untuk mengkhawatirkan temannya tersebut. Sekarang yang menjadi pokok kekhawatiran adalah dirinya sendiri, bagaimana ia menuruni tebing nyaris vertikal ini sendirian dan tanpa tali serta peralatan.

Tunggu, tanpa tali dan peralatan?

Ya, tanpa tali dan peralatan, karena semua perlengkapan teknis pendakian terutama tali, camp, carabiner, anchor dan lain sebagainya ada di ransel Beghin, dan ia sekarang telah hilang di dasar jurang sisi selatan Annapurna yang haus nyawa.

Cukup lama Lafaille terpaku di tebing itu, bingung dan shock dengan apa yang terjadi, sekaligus juga bimbang memikirkan langkah apa yang harus ia tempuh untuk meneruskan perjalanan turun.

“Konsentrasi, konsentrasi, konsentrasi!”

Rapal Lafaille berulang-ulang, seolah sedang mengingatkan orang lain yang sedang kebingungan dalam dirinya sendiri.

Sekitar sepuluh menit setelah kejadian naas yang membuat jangkar tunggal Pierre Beghin tercabut berlalu, barulah perlahan-lahan Lafaille yang meringkuk di dinding selatan Annapurna itu berani menggerakkan kakinya kembali untuk memulai perjalanan turun secara tradisional, yaitu dengan mengandalkan dua kapak es dan sepasang cakar crampon di sepatunya.

Medan kombinasi salju, batu dan es yang menjadi elemen-elemen dasar pembentuk Annapurna South Face membutuhkan sebuah konsentrasi tingkat tinggi dalam menuruninya. Apalagi tanpa bantuan perlengkapan seperti tali dan sebagainya, turun di tempat seperti itu tentu sangat berbahaya. Kemiringan medan yang ditempuh oleh Lafaille berkisar pada angka 80°. Sebenarnya bukan sesuatu yang terlalu sulit bagi Lafaille untuk melewatinya dalam kondisi normal dan perlengkapan lengkap. Namun di tengah badai yang mengamuk dan sama sekali tanpa tali, perjalanan itu sungguh membuat lututnya gemetar.

arcopodojournal
Pierre Beghin, bintang alpinis Perancis dengan segudang prestasi mountaineering yang mengagumkan. Beghin menjadi pendaki gunung kedua setelah Ian Clough yang tewas di dinding selatan Annapurna. Sumber foto: Google image 

Lafaille terus turun dengan sabar, membaca setapak demi setapak langkah kakinya, memastikan ujung lancip kapak esnya masuk ke permukaan es dengan baik dan mampu menahan bobot tubuhnya. Juga memastikan kuku crampon yang ada di ujung sepatunya tertancap dengan baik dan tidak lari tergelincir.

 

arcopodojournal
Sebuah sketsa yang menggambarkan detik-detik saat anchor tunggal yang disisipkan oleh Pierre Beghin terlepas di tebing selatan Annapurna. Kejadian di Annapurna ini membunuh salah satu pendaki terbaik Perancis, sekaligus pula melahirkan legenda alpinis dari Perancis selanjutnya. Sumber foto: Climbing Magazine 

Dengan semua ritme yang sabar dan tak mengurangi konsentrasi seperti itu, pada pukul sembilan malam akhirnya Lafaille berhasil mencapai bivak di mana ia dan Beghin menghabiskan kegelapan pada malam sebelumnya.

Keesokan harinya badai masih belum juga berhenti, dan Lafaille terpaksa harus menghabiskan satu malam lagi di bivak. Akan tetapi ketika ia menemukan seutas tali dengan panjang 20 meter dan diameter 6 milimeter tak jauh dari bivak, Lafaille memutuskan untuk meneruskan kembali perjalanan turunnya8.3.

Dengan berbekal tali cord sepanjang 20 meter, dua buah carabiner, dan keberanian yang dipompa dengan segenap konsentrasi, Lafaille memulai perjalanan turunnya kembali. Untuk menggantikan pasak tebing sebagai jangkar, Jean Lafaille menggunakan pasak tenda, tiang tenda, bahkan menurut sebuah sumber yang lain, kadang-kadang menggunakan botol plastik yang ia modifikasi. Dalam proses rappeling yang menegangkan ini, Lafaille bahkan sempat menjatuhkan crampon pada salah satu sepatunya. Namun entah bagaimana, benda itu ditemukannya lagi dua jam kemudian, tergeletak di atas salju dalam rute turun yang ia lalui. 

Setelah berkali-kali melewati medan-medan yang sulit dengan perlengkapan ala kadarnya, Lafaille akhirnya sampai pada tempat di mana ia dan B├ęghin telah memasang tali tetap atau fixed rope8.4. Akan tetapi sebuah musibah tambahan membuat kegembiraan Lafaille yang baru saja merasa senang karena sampai pada fix line tiba-tiba memudar. Dalam sebuah situasi yang tak terduga, sebongkah batu yang tidak begitu besar meluncur dengan deras, menabrak Lafaille dan mematahkan salah satu lengannya.

Didera oleh keletihan yang amat sangat juga rasa sakit karena lengan yang patah, membuat Lafaille memutuskan untuk beristirahat di sebuah lereng yang cukup aman. Lafaille menghabiskan waktu dua hari lamanya di lereng tersebut, berharap ada pendaki lain yang naik ke atas dan menyelamatkannya. Pada titik ini, kondisi Jean Lafaille benar-benar memprihatinkan, untuk menghidupkan kompor saja guna mencairkan salju, ia membutuhkan waktu satu jam dengan satu lengannya yang masih utuh.

Dua hari Lafaille menghabiskan waktu untuk beristirahat, sambil membangun harapan bahwa akan ada yang datang menolongnya. Namun sampai matahari hari kedua kembali tenggelam, tak ada seorang pun yang naik untuk membantu Lafaille.

Sementara di bawah sana, sebenarnya ada sebuah tim pendaki lain dari Slovenia yang juga sedang mencoba melakukan pendakian Annapurna South Face. Namun karena garis rutenya berlainan dengan rute yang diambil Lafaille dan Beghin, mereka tidak dapat mengaksesnya. Selain itu, rute yang diambil oleh dua pendaki Perancis tersebut juga secara teknis jauh lebih sulit dan berbahaya, sehingga walaupun para pendaki Slovenia itu tahu bahwa Lafaille terjebak di atasnya, belum tentu mereka mampu untuk mencoba melakukan upaya penyelamatan terhadap Lafaille. Tindakan penyelamatan di tempat seperti Annapurna South Face, tanpa dilandasi oleh keterampilan dan skill yang mumpuni, pada perkembangannya dapat saja berubah menjadi sebuah aksi bunuh diri. Alih-alih berhasil melakukan penyelamatan.

Lafaille masih terduduk di atas lereng, badai yang sudah reda membuat pandangannya cukup jelas ke bawah sana, di mana ia melihat melihat kerlap-kerlip lampu kamera para trekker yang sedang berfoto di rute Annapurna Circuit.

“Aku begitu dekat dengan kehidupan, namun aku juga sangat jauh daripadanya. Adakah orang-orang di bawah sana yang tahu jika aku sedang sekarat di sini?” gunam Lafaille dalam hati.

Tidak ada perasaan yang lebih menyiksa bagi Jean Christophe Lafaille selain mengetahui bahwa dirinya begitu dekat pada kehidupan dengan melihat lampu para trekker di Annapurna Circuit yang berkerlap kerlip. Namun di saat yang sama, juga menyadari bahwa tak ada satu pun orang yang dapat menjangkaunya. Perasaan ini sangat menyiksa bagi Lafaille.

Dan pada dasarnya keputusannya untuk beristirahat dua hari di lereng terbangun atas perasaan itu pula, bahwa mungkin saja akan ada sebuah tindakan heroik untuk menyelamatkannya. Akan tetapi setelah lama menunggu, harapan Lafaille untuk ditolong tampaknya sirna. Jadi ia harus kembali menguatkan hatinya untuk meneruskan perjalanan turunnya secara mandiri. Tak ada gunanya berharap bantuan di tempat seperti itu, tidak akan ada hasilnya.

Lafaille membulatkan tekadnya untuk meneruskan perjalanan turun kembali. Dengan satu tangan yang patah proses itu akan semakin tidak mudah untuk dilakukan. Saat rappeling di fix rope melewati bagian yang paling curam, Lafaille menemukan dirinya sangat kesulitan mengendalikan laju jatuhnya jika hanya dengan satu tangan. Karena itu pada proses rappeling yang menyiksa itu, terkadang Lafaille harus menggunakan giginya untuk membantu memberi pengereman pada tali yang ia gunakan. Dan itu sungguh tidak mudah untuk dilakukan.

Melihat bahwa rappeling dengan kondisi demikian akan sangat berisiko, Lafaille kemudian berhenti sejenak untuk kemudian kembali mengubah teknik turunnya menjadi down climbing, melangkah dengan sangat hati-hati, mencari pijakan untuk bisa turun dengan selamat dan tidak terluka lebih lebih parah.

“Rasanya lebih mudah bagiku untuk terjun dan bergabung bersama Pierre Beghin di bawah sana”

Sisi mengerikan hati Jean kadang-kadang menggodanya untuk melakukan tindakan bodoh dan cepat, namun semua perasaan itu dapat ia tekan untuk tidak berlanjut menjadi sebuah gerak refleks.

arcopodojournal
Jean Christophe Lafaille (kiri) dan Pierre Beghin di Base Camp Annapurna South Face sebelum pendakian mereka di tebing itu. Sumber foto: Pierrebeghin.com

Isu sendiri berkembang dengan mudah. Tidak adanya komunikasi yang terjadi antara Jean Christophe Lafaille dan pihak base camp mau pun pendaki yang lain telah memunculkan sebuah kesimpulan lain. Para pendaki Slovenia dan pihak base camp Annapurna umumnya telah berasumsi bahwa Jean Lafaille dan Pierre Beghin tidak mampu menyelamatkan diri dari badai yang mengamuk di dinding selatan Annapurna beberapa hari sebelumnya.

Setelah ditunggu beberapa hari dan tidak juga ada kabar baik mengenai dua pendaki Perancis itu, sebuah berita duka cita telah dikirimkan pula kepada keluarga mereka di Perancis. Akan tetapi ketika beberapa saat kemudian sosok semampai Jean Christophe Lafaille tiba di base camp para pendaki Slovenia dengan tangan patah dan wajah seperti habis keluar dari neraka, situasi pun menjadi gempar.

Tak ada yang menyangka Jean masih hidup dengan semua tantangan dan kesulitan yang ia hadapi di South Face Annapurna. Namun itulah kemudian yang terjadi.

Berita duka kematian Beghin yang telah beredar, diperkuat dengan data dan cerita yang disampaikan Lafaille setelahnya. Sementara berita duka kematian Lafaille sendiri, kemudian berubah menjadi salah satu kisah survival dan penyelamatan mandiri paling mengagumkan di Himalaya.

*

Footnote;

8.1     Fix rope hanya dipasang oleh keduanya disebuah tebing paling curam dari rute yang mereka lewati.

8.2    Jangkar tebing berbentuk pipih seperti piring setengah yang disisipkan pada celah yang ada dipermukaan tebing.

8.3  Tali itu memang ditinggalkan oleh Pierre Beghin dan Lafaille sebelum terus mendaki meninggalkan bivak, namun kondisi Lafaille yang shock membuatnya lupa jika ia memiliki seutas tali kecil tersebut.

8.4  Pada teknik alpine style, pemasangan tali tetap pada beberapa bagian yang dianggap paling berbahaya dari sebuah medan pendakian, biasanya dimaklumi. Fixed rope yang mengurangi makna alpine style hanya diartikan bila dipasang sepanjang jalur pendakian, atau pada sebagian besar lintasan pendakian.

 

 


 

 

 


1 comment:

  1. Ilmu yang sangat penting untuk dipelajari para pendaki

    ReplyDelete

Tulisan Terbaru

PEMUNCAKAN DAN TRAGEDI DI GUNUNG PALING SULIT DI DUNIA

Gunung K2 yang merupakan gunung tertinggi ke-2 di dunia dan merupakan satu-satunya gunung 8.000 meter yang belum tersentuh puncaknya pa...