Tuesday, 2 June 2020

Pendaki Gunung Penakluk Para Raksasa

Lionel Terray lahir pada 25 Juli 1921 di kota Grenoble, Perancis. Sebelum tumbuh menjadi salah satu pendaki gunung Perancis yang paling produktif dan legendaris, Terray pernah ikut berpartisipasi membela negaranya dalam kecamuk perang dunia kedua melawan Jerman. Dalam tugasnya sebagai seorang prajurit ini, Lionel bertemu dengan Gaston Rebuffat, legenda alpinisme lain dari Perancis yang disebut-sebut sebagainya ‘sufinya para pendaki gunung dunia’. Terray dan Rebuffat bertugas dalam sebuah resimen yang khusus berperang di pegunungan Alpen bernama Jeunesse et Montagne, sebuah resimen yang menekankan kemampuan pendakian gunung yang baik dalam pelaksanaan tugasnya.

>>> KLIK TAUTAN INI UNTUK MENDAPATKAN BUKU-BUKU PENDAKIAN GUNUNG TERBARU & TERPOPULER DI INDONESIA <<<

Setelah perang usai dan Jerman kemudian menyerah pada sekutu, Lionel Terray pindah ke Chamonix di mana kemudian ia berteman dengan Louis Lachenal, orang yang kemudian menjadi salah satu sahabat baiknya. Di Chamonix Lionel Terray dan Louis Lachenal segera menjadi tim yang tangguh sebagai pemandu ski dan pendakian gunung. Dua orang itu seringkali memecahkan banyak rekor kecepatan pada pendakian-pendakian sulit yang membutuhkan kemampuan teknikal tinggi.  Terray dan Lachenal mengukir nama mereka dalam banyak rute-rute paling menantang di Eropa seperti Walker Spur di Grandes Jorasses, Punggungan Selatan Aiguille Noire de Peuterey, Sisi Timur Laut Piz Badile dan juga pendakian ulangan pertama yang sukses di Eiger North Face (the second ascent).

Tahun 1950, Lionel Terray, Louis Lachenal dan Gaston Rebuffat direkrut oleh Maurice Herzog untuk mengikuti ekspedisi Annapurna yang kemudian berhasil tampil sebagai first ascent pertama gunung delapan ribu meter Himalaya. Sebenarnya dalam ekspedisi Annapurna tahun 1950 masih ada beberapa nama alpinis Perancis terkenal lainnya selain dari empat nama yang telah disebutkan sebelumnya. Beberapa pendaki gunung Perancis yang populer itu misalnya Jean Couzy, Marcel Schatz, dan juga Marchel Ichac.

Pasca ekspedisi Annapurna yang meskipun sukses namun telah merenggut jari-jari tangan serta kaki Maurice Herzog dan juga Louis Lachenal, ada banyak perubahan yang terjadi. Herzog dan Lachenal terpaksa mengundurkan diri dari dunia pendakian gunung-gunung tinggi, Gaston Rebuffat juga menarik diri dari pendakian gunung tinggi Himalaya dan lebih memfokuskan dirinya sebagai pemandu di Alpen, serta menemukan rute-rute pendakian ‘rahasia’ pegunungan Alpen. Selain itu Rebuffat juga terjun menjadi seorang penulis dan sutradara pegunungan yang berhasil, Starlight and Storm adalah salah satu karya monumentalnya yang masih sangat laris hingga saat ini. Hanya Lionel Terray dan Jean Couzy kemudian yang meneruskan petualangan mereka ke beberapa gunung tinggi di dunia pasca ekspedisi Annapurna.

Dari Patagonia Hingga Makalu

Tahun 1952, Lionel Terray bersama dengan Guido Magnone berangkat ke Amerika Selatan menuju sebuah tempat yang sekarang dianggap sebagai salah satu ‘rumah suci’ bagi aktivitas alpinisme dan pendakian gunung yang bernama Patagonia. Di tempat itu, Terray dan Magnone mengukir nama mereka secara abadi dalam sebuah pendakian first ascent di Cerro Fitzroy.

Cerro Fitzroy atau Fitzroy saja, atau Cerro Chaltel, atau kadang disebut sebagai Chaltén, atau pada media lain disebut juga Monte Fitz Roy, adalah sebuah gunung tertinggi dalam region Patagonia. Ketinggian Fitzroy adalah 3.375 meter dan merupakan salah satu destinasi rock climbing dan mountaineering yang banyak diminati hingga sekarang. Di Fitzroy, Lionel Terray dan Guido Magnone mencetak prestasi mereka pada tanggal 2 Februari 1952 melalui rute Southeast Ridge atau rute tenggara. Rute yang digunakan oleh Terray dan Magnone saat itu bertahan menjadi rute standar pendakian Fitzroy hingga sekarang (dengan beberapa variasi tambahan). Selain dinamakan Terray Magnone Route, atau kadang Southeast Ridge Route, rute ini lebih dikenal dengan sebutan sebagi Franco Argentine Ridge Route.

Secara teknis Fitz Roy memang bukan yang tersulit di Patagonia Range, ada Cerro Torre yang memiliki keunggulan teknis itu disana. Namun dari sisi ketingggian Fitz Roy adalah raja di Patagonia, dan puncaknya diraih oleh Lionel Terray pada tahun 1952. Sumber foto: chaltenmountainguides.com 

Setelah berhasil membuat first ascent di Fitz Roy bersama Magnone, Lionel Terray tidak berhenti. Masih di tahun 1952 bahkan ia membuat sebuah first ascent lagi di gunung Huanstan di Peru, bagian dari Amerika Selatan yang lain. Di Huanstan yang memiliki ketinggian 6.369 meter ini Terray mencetak prestasi bersama seorang pendaki sekaligus geologis Belanda bernama Cees Egeler, kedua orang ini pada masa ekspedisi Huanstan lebih dikenal dengan sebutan Tom de Booy. Mengingat Huanstan adalah pendakian yang dari semuanya adalah teknis, maka tidak mengherankan mengapa pendakian first ascent Terray dan Egeler ini dapat dikatakan sebagai salah satu pendakian yang lumayan mengagumkan di Amerika Selatan masa itu.

Dua tahun setelah Fitz Roy dan Huanstan, Lionel Terray kembali mencetak pendakian first ascent lain yang mengagumkan. Kali ini ia tampil bersama Jean Couzy di puncak gunung Makalu sebagai yang pertama kalinya pada tanggal 15 Mei 1955. Esok harinya setelah Couzy dan Terray turun, Jean Franco, Guido Magnone dan Sherpa Gyaltsen Norbu juga mencapai puncak. Dan pada lusanya diikuti pula oleh Jean Bouvier, Serge Coupe, Pierre Leroux dan Andre Vialatte. Total ada sembilan orang dari Ekspedisi Perancis yang berturu-turut mencapai puncak Makalu pada ekspedisi first ascent tahun 1954. Ini adalah sesuatu yang luar biasa, mengingat umumnya hanya ada satu dua orang saja yang berhasil mencapai puncak pada pendakian first ascent gunung delapan ribu meter lainnya.

Puncak Kemustahilan

Sebelum berhasil di Makalu tahun 1955, Lionel Terray dan tim ekspedisi Perancis pernah gagal pada tahun sebelumnya di gunung tersebut. Setelah gagal di Makalu pada tahun 1954, Lionel Terray dan timmya mendaki ke gunung Chomo Lonzo yang terletak sekitar 5 kilometer dari Makalu. Di Chomo Lonzo, Terray dan Jean Couzy berhasil mencapai puncak melalui rute punggungan barat daya. Bagi ekspedisi Perancis saat itu, pendakian Chomo Lonzo tak lebih sebagai sebuah perenungan dan upaya untuk memahami Makalu sebelum mereka berhasil mendakinya satu tahun kemudian.

Prestasi Lionel Terray selanjutnya diukir di Chacraraju Oeste setinggi 6.112 meter yang terletak di Cordillera Blanca. Di Chacraraju Lionel Terray mengambil sisi timur laut yang berhasil ia capai puncaknya pada tanggal 31 Juli 1956. Puncak Chacraraju yang dicapai Terray dari North East Face ini dinamakan dengan ‘The Imposible Peak’ atau “Puncak Kemustahilan’ karena tingkat teknis dan kesulitannya yang demikian mengerikan.

Belum puas hanya berhasil di Chacraraju Oeste, Lionel Terray pada tanggal 18 Agustus 1956 juga berhasil mencapai puncak Taliraju Peak setinggi 5.840 meter melalui sisi North Face. Baik di Chacraraju mau pun di Taliraju, Lionel Terray membukukan pendakian first ascent kembali. Bahkan Taliraju Peak adalah gunung yang diklaim dua puluh tahun lebih luput dari pengamatan para pendaki gunung dunia. Terray menyapa dan mencapai puncaknya dalam ekspedisi pertamanya ke gunung tersebut.

Lionel Terray mendirikan bivak dalam salah satu ekspedisinya. Hampir semua ekspedisi besar yang diikuti oleh Terray berbuah kesuksesan. Sumber foto: Google

 Setelah tahun 1956, Lionel Terray seperti yang disampaikan sebelumnya, berpartisipasi secara signifikan dalam upaya penyelamatan Claudio Corti di Eiger North Face. Keterampilan dan kemampuan teknisnya secara khusus banyak disorot oleh Jack Olsen dalam bukunya yang berjudul Climb Up to Hell. Sewaktu Lionel Terray sedang bergelantungan di Eiger North Face dalam upaya penyelamatan Claudio Corti dan tiga temannya yang pada akhirnya tewas, Guido Magnone telah menyarankan percobaan untuk mendaki gunung Jannu atau Kumbhakarna Mountain setinggi 7.710 meter di Nepal, yang secara teknis sangat menantang. Ekspedisi yang kemudian dipimpin oleh Jean Franco ini gagal mencapai puncak pada tahun 1959, mereka berhenti sekitar 300 meter di bawah puncak tertinggi sang gunung raksasa Kumbhakarna.

Menaklukkan Sang Raksasa



Kegagalan sahabatnya (Guido Magnone dan Jean Franco) di Jannu telah melecut semangat Lionel Terray untuk mengunjungi gunung tersebut pada tahun 1962. Dengan sebuah ekspedisi yang berada di bawah kepemimpinan Terray, tim ekspedisi Perancis berangkat menuju Jannu pada bulan April tahun 1962. Dengan semua strategi dan pengalamannya, Terray kembali mengulangi kesuksesan ekspedisi Makalu di gunung Jannu dengan mencapai puncak tertingginya pada tanggal 27 April.

Pendakian first ascent hari pertama Jannu diisi oleh para pendaki Perancis yang terdiri dari Rene Desmaison, Paul Keller, Robert Paragot dan Gyaltsen Michung Sherpa. Selanjutnya pada tanggal 18 April 1962 atau hari kedua ekspedisi first ascent, Lionel Terray, Andre Bethraud, Jean Bouvier, Pierre Leroux, Yves Pollet Villard, Jean Ravier dan Wangdi Sherpa juga berhasil mencapai puncak Kumbhakarna. Ada sebelas orang pendaki dari ekspedisi Perancis yang berhasil mencapai puncak Jannu pada tahun 1962 dalam pristiwa first ascentnya, sebuah kejadian yang mirip dengan kesuksesan di Makalu. Ini dalam banyak pendapat, dilihat sebagai sebuah penegasan kemampuan Lionel Terray dalam mendaki gunung sekaligus mengorganisir anggotanya untuk mencapai tujuan dengan pencapaian yang maksimal, tidak banyak para legenda yang mampu melakukan hal itu.

Dari Jannu, Lionel Terray kemudian memimpin ekspedisi lain ke gunung Huntington di Alaska setinggi 3.731 meter pada tahun 1964. Di gunung ini, Terray juga mencetak first ascent melalui pendakian yang ia ambil dari rute Barat Laut. Rute yang digunakan oleh Terray ini kemudian lebih dikenal dengan sebutan French Ridge atau North West Ridge.

Melihat deretan prestasi yang berhasil dibukukan oleh Lionel Terray, baik dalam kapasitasnya sebagai pendaki utama, mau pun sebagai pemimpin ekspedisi, memang tidak berlebihan rasanya jika ada yang mengatakan bahwa Terray adalah penakluk para raksasa. Fitz Roy, Makalu, Chomo Lonzo, Jannu dan yang lainnya adalah deretan pegunungan dengan kesulitan teknis yang sangat signifikan. Bahkan hingga sekarang pendakian di Jannu kerap kali dianugrahi Piolet d’Or sebagai pengakuan bahwa pendakian di gunung tersebut dari berbagai sisi memang menyajikan tantangan alpinisme yang tinggi.

Di Annapurna meskipun saat itu Lionel Terray dan Gaston Rebuffat tidak mencapai puncak, sama sekali bukan karena keduanya tidak memiliki kemampuan untuk mencapainya, namun karena sikap rela berkorban dua legenda Perancis itu untuk menolong rekan mereka. Pada dasarnya banyak orang berspekulasi jika saja yang mencapai puncak itu adalah Rebuffat dan Terray, kemungkinan keduanya dapat melakukanya dengan lebih cepat sehingga mampu menghindari radang dingin seperti yang dialami Louis Lachenal dan Maurice Herzog. 

Akan tetapi jiwa alpinisne dan pendakian tidak melulu harus diisi dengan ambisi untuk mencapai puncak tertinggi atau menjadi yang pertama, kadang memberikan kontribusi yang kemudian menjadi kunci keselamatan pendaki lain adalah sesuatu yang jauh lebih berharga. Gaston Rebufat dan Lionel Terray di Annapurna membuktikan bahwa mereka memang pantas menjadi legenda karena jiwa besar dan semangat humanis mereka yang demikian tinggi dan mulia.



***

Artikel ini dikutip dari draff buku HARI TERAKHIR DI ATAS GUNUNG karya Anton Sujarwo. Referensi penulisan dapat dilihat pada bukunya langsung. Informasi buku Anton Sujarwo lainnya dapat dilihat disini

No comments:

Post a Comment

Tulisan Terbaru

PEMUNCAKAN DAN TRAGEDI DI GUNUNG PALING SULIT DI DUNIA

Gunung K2 yang merupakan gunung tertinggi ke-2 di dunia dan merupakan satu-satunya gunung 8.000 meter yang belum tersentuh puncaknya pa...