Tuesday, 23 June 2020

Elizabeth Hawley, Nenek Tua Penguasa Dunia Mountaineering Himalaya

Dalam ukuran keabadian, pena dan tulisan tentu saja lebih kuat daripada pedang, lebih kokoh daripada batu, dan lebih berpengaruh daripada kekuasaan.

Elizabeth Hawley Himalaya


Sebagai bagian terakhir dari daftar utama Dewi Gunung saya akan menempatkan satu nama dengan sosok yang menarik dan unik. Ia mungkin saja tidak pernah mencapai puncak gunung mana pun, tidak pernah memasang crampon di bawah tapak sepatunya, tidak pernah melingkarkan harness pada pinggangnya, dan juga tidak pernah mengayunkan kapak es untuk mendaki gunung-gunung populer di dunia. Lantas jika demikian, apa istimewanya ‘perempuan tua’ dengan barisan buku-buku tebal di belakangnya itu?

Dalam dunia pendakian gunung atau mountaineering di Himalaya, pena Elizabeth Hawley jauh lebih ‘tangguh’ dari pada kapak es mana pun.  Pulpen dan kertas yang menemani hari-harinya adalah canvas sang legenda ini dalam mengukir mahakarya. Ia memang tidak pernah menggenggam kapak es, bergelantungan di tali, atau berdiri tegak merentangkan tangan di atas puncak-puncak tertinggi Himalaya. Akan tetapi apa yang dilakukan oleh Elizabeth dengan penanya, akan berpengaruh kepada setiap pendaki gunung yang datang untuk mendaki menara-menara Himalaya. Elizabeth dihormati secara luas oleh komunitas mountaineering internasional dan secara individu, Elizabeth juga dihormati dan menjadi sahabat para pendaki gunung terbaik di dunia.

Elizabeth Ann Hawley lahir di Chicago, Amerika Serikat, pada 09 Nopember 1923. Dalam dunia mountaineering Himalaya dan kalangan para pendaki profesional, Elizabeth dikenal dengan berbagai julukan yang mengisyaratkan reputasi literaturnya yang luar biasa. Sir Edmund Hillary menyebutnya sebagai ‘a bit of a terror’, sementara Reinhold Messner mengomenntarinya sebagai ‘first class journalist’, Kurt Diemberger menyebutnya sebagai ‘living archive’, sementara Peter Bodde, salah satu duta besar Amerika Serikat untuk Nepal menyebut Elizabeth Hawley sebagai ‘living treasure’. Namun julukan yang paling umum untuk menggambarkan kinerja dan dedikasi Elizabeth dalam dunia pendakian adalah; ‘The Sherlock Holmes of the Mountaineering World’.

Berbagai julukan ini tentu saja tidak disematkan tanpa alasan oleh orang-orang yang dikenal luas reputasi mountaineering mereka. Ada sebuah tindakan yang konsisten dari seorang Elizabeth Hawley hingga kemudian dunia mountaineering internasional mengakui dirinya sebagai pencatat sejarah mountaineering paling akurat di Himalaya, bahkan mungkin dunia.

arcopodojournal
Sergio Martini menjadi salah satu pendaki besar dari Italia yang 'terpaksa' memperbaiki pencapaiannya di Lhotse karena statusnya diragukan oleh Elizabeth Hawley (sumber: pinterest)

Sebelum terjun secara konsisten sebagai detektif dunia mountaineering di Himalaya, Elizabeth pernah bekerja sebagai pencari fakta dan riset pada majalah Fortune di New York. Pekerjaan ini dilakukan oleh Elizabeth saat ia pindah secara permanen ke Nepal pada tahun 1959.  Sebelumnya Elizabeth memang sudah pernah mengunjungi Nepal pada tahun 1957 sebagai bagian dari perjalanan yang ia lakukan.

Di Nepal, entah mengapa Elizabeth merasa betah dan seolah menemukan alasan bahwa ia harus menetap di sana. Dalam kalimat Elizabeth Hawley, Nepal ia gambarkan sebagai; “Sebuah tempat di mana anda dapat melihat akan jadi apa dunia ini nantinya”, dan atas dasar alasan itu kemudian pada tahun 1959, Elizabeth memutuskan untuk meninggalkan Amerika Serikat dan tinggal di Nepal secara permanen.

Setelah bekerja sekitar satu tahun untuk majalah Fortune, Elizabeth kemudian pindah menjadi jurnalis untuk majalah Time pada tahun 1960. Dan Time pun tak dapat membendungnya untuk waktu yang lama karena pada tahun 1962, Elizabeth kembali memilih untuk bekerja pada Reuters. Saat bekerja di Reuters, pada tahun 1963 Elizabeth memulai reportase pertamanya untuk mountaineering dengan meliput salah satunya adalah Ekspedisi America ke Everest di mana Jim Whittaker berhasil mencapai puncak, dan menjadi orang Amerika pertama yang melakukannya.

Pada dasarnya Elizabeth Hawley dikenal secara luas sebagai reporter dengan reputasi yang kuat dalam kalangan perpolitikan Nepal. Ia mengenal dengan baik orang-orang kuat yang memiliki pengaruh politik di Nepal. Namun bagaimana pun juga, Elizabeth merasa bahwa pengaruh terkuat di Nepal adalah pendakian gunung di mana raksasa seperti Everest berada, dan untuk itulah, mountaineering kemudian lebih menarik bagi Elizabeth.

Dalam melakukan reportasenya, Elizabeth Hawley dikenal sangat teliti, akurat, dan jarang melakukan kekeliruan. Ia seringkali menemui para pemimpin ekspedisi untuk mewawancarai mereka sebelum para pendaki gunung itu berangkat ke belantara beku Himalaya, Elizabeth bertanya tentang rencana perjalanan, target, dan berbagai hal untuk melengkapi data yang ia miliki. Dan ketika ekspedisi itu pulang lagi ke Kathmandu, Elizabeth akan menemui mereka kembali untuk bertanya apa yang telah dicapai, apa yang tidak, apa yang telah terjadi selama di gunung, dan sebagainya.

Semakin lama bekerja bersama para pendaki gunung dengan berbagai tipe dan gaya, Elizabeth pun semakin piawai melakukan pekerjaannya. Ia dikenal luas memiliki pertanyaan yang kadang membuat para pendaki gunung ‘ketakutan’ jika bicara tidak benar. Akurasi data-data dan pengalaman yang dimiliki oleh Elizabeth seolah mampu membaca jika seseorang menutupi kebenaran. Naluri detektifnya membuat para pendaki gunung gusar dan takut untuk tidak bicara yang sebenarnya.

Dengan catatan pendakian yang demikian lengkap, detail, akurat, serta dikumpulkan dalam waktu yang sangat lama (sejak tahun 1963), hasil kerja Elizabeth Hawley ini kemudian dirangkum dalam sebuah catatan besar yang disebut dengan The Himalayan Database. Catatan ini merangkum semua pendakian, ekspedisi, dan apa pun yang berkaitan dengan aktivitas mountaineering di Himalaya.

Perlu juga mendapat penegasan di sini bahwa objek catatan dari Himalayan Database yang dibuat oleh Elizabeth Hawley selama bertahun-tahun adalah untuk pendakian di Himalaya dengan pintu masuk melalui Kathmandu, Nepal. Jadi objek tulisan Elzabeth adalah aktivitas pendakian di gunung-gunung seperti Everest, Lhotse, Makalu, Annapurna, dan lain sebagainya. Sementara untuk gunung tinggi yang masuk wilayah Karakoram seperti K2, Nanga Parbat, Broad Peak, Hidden Peak dan lainnya, meskipun masuk pula dalam pencatatan Elizabeth Hawley, namun tentu tidak sedetail seperti Everest dan gunung Himalaya lainnya.

Dalam melakukan pekerjaannya ini, tidak jarang Elizabeth Hawley berhadapan dengan para pendaki gunung dengan tabiat keras dan garang. Namun bukannya takut atau pun ciut, Elizabeth Hawley justru lebih banyak kemudian yang menjadi teman dekat mereka. Dengan catatannya yang demikian lengkap dan akurat, data milik Elizabeth kemudian menjadi persayaratan penting bagi para pendaki gunung untuk memverifikasi pencapaian mereka, atau supaya klaim mereka atas sebuah pencapaian mountaineering di Himalaya, mendapat pengakuan pula dari data milik Elizabeth dalam Himalayan Database-nya.

arcopodojournal
Foto atas: Elizabeth Hawley bersama dengan Reinhold Messner pada tahun 2004 (source; Alpinist.com). Foto bawah: Elizabeth Hawley bersama dengan Ueli Steck (source:Alpin.de)

Data yang dibuat, dipegang, dan dipergunakan oleh Elizabeth Hawley dihormati secara luas dalam lingkup internasional. Untuk siapa pun pendaki yang membutuhkan pengakuan atas prestasi mereka di Himalaya harus menemui Elizabeth Hawley dan menuturkan pendakian mereka secara lengkap. Namun tentu tidak semua orang bersedia dengan rendah hati menemuinya, beberapa pendaki yang lain justru menganggap Elizabeth hanyalah seorang nenek tua pikun yang sudah tidak perlu diperdulikan lagi.

Karena catatan Himalayan Database milik Elizabeth Hawley adalah catatan tidak resmi yang kadang lebih komprehensif dari data kementrian Nepal sekali pun, maka kadang muncul sengketa terkait dengan beberapa klaim pencapaian dalam mountaineering. Ketika pemerintah Nepal mungkin meratifikasi sebuah pencapaian di atas gunung, Elizabeth justru meragukannya, atau pada kesempatan yang lebih banyak, membubuhkan tanda khusus sebagai pendakian sengketa dalam catatannya. Dan beberapa pencapaian sengketa yang cukup populer dalam catatan Elizabeth Hawley antara lain adalah;

  • Pencapaian Oh Eun Sun di Kanchenjunga

Baik Oh Eun Sun mau pun Edurne Pasaban (kita telah membahas ini pada beberapa halaman sebelumnya), sama-sama menemui Elizabeth Hawley untuk menjelaskan pendakian mereka. Klaim Eun Sun yang mendaulat dirinya sebagai perempuan pertama yang mencapai 14 puncak delapan ribu meter mendapat interupsi di Kanchenjunga. Dan Analisa foto puncak milik Eun Sun kemudian memperkokoh dugaan ketidakvalidan klaim yang dilakukannya, Elizabeth mempertanyakan ini. Kasus ini ditutup dengan pernyataan dari Federasi Mountaineering Korea Selatan yang kemudian menyatakan bahwa Eun Sun memang tidak mencapai puncak di Kangchenjunga.

  • Pendakian Ed Viesturs di Shishapangma

Ed Viesturs adalah pendaki gunung Amerika Serikat pertama dan satu-satunya yang berhasil mencapai 14 puncak delapan ribu meter Himalaya. Namun dalam catatan Himalayan Database Elizabeth Hawley, pendakian Viesturs di Shishapangma tidak dapat diterima. Hal ini dikarenakan puncak yang dicapai oleh Viesturs di Shishapangma bukanlah puncak utama dari gunung itu, melainkan Central Summit yang ketinggiannya juga di atas 8.000 meter. Dalam catatan Hawley, ia tidak akan menerima dan mentoleransi pencapaian itu. Jika Viesturs ingin diverifikasi dalam datanya sebagai pemuncak 14 gunung delapan ribu meter yang diakui, Elizabeth menyarankannya untuk mendaki kembali Shishapangma dan meraih puncak utama.

  • Pendakian Alan Hinkes di Cho Oyu

Seperti halnya kasus Ed Viesturs di Shishapangma, masalah serupa juga terjadi pada pendakian Alan Hinkes di Cho Oyu pada tahun 1990. Alan Hinkes adalah pendaki gunung Inggris dan satu-satunya orang Inggris yang mengklaim berhasil mencapai 14 puncak delapan ribu meter. Namun di Cho Oyu, pendakian Hinkes diperdebatkan oleh Elizabeth. Berdasarkan data dan jurnalnya, pendakian Hinkes di Cho Oyu hanya mencapai sebuah dataran tinggi yang bukan merupakan puncak tertinggi gunung itu. Seperti Viesturs, Hinkes harus mendaki ulang jika pencapaiannya di Cho Oyu ingin diakui.

  • Pendakian Sergio Martini dan Fausto De Stefani di Lhotse

Tahun 1997, pendakian yang dilakukan oleh duo mountaineer Italia bernama Sergio Martini dan Fausto De Stefani di Lhotse diberi tanda sengketa oleh Elizabeth Hawley. Permasalahannya juga hampir sama dengan Hinkes mau pun Viesturs. Merespon hal ini, Martini kemudian mendaki ulang Lhostse untuk mengkonfirmasi keberhasillannya, ia kemudian menjadi orang ke-7 di dunia yang berhasil mencapai 14 puncak delapan ribu meter dan menjadi orang Italia ke-2 setelah Reinhold Messner. Sementara Fausto De Stefani menolak untuk melakukan pendakian ulang di Lhotse, dan karena itu hingga sekarang status pendakiannya di Lhotse masih diberi marka sengketa oleh Himalayan Database.

  • Konfirmasi Penyebab Hilangnya Benoít Chamoux di Kangchenjunga

Ada dua orang yang memeperebutkan podium kedua tahta 14 puncak delapan ribu meter setelah Jerzy Kukuczka, kedua orang itu adalah Enhard Loretan dari Swiss, dan Benoít Chamoux dari Perancis. Pada tahun 1995 kedua pendaki ini bertemu di Kangchenjunga untuk mencapai puncaknya. Menariknya, baik bagi Chamoux mau pun bagi Loretan, Kangchenjunga adalah gunung 8.000 meter terakhir dalam list mereka. Dan karena itu pula ada kemungkinan muncul aroma rivalitas yang cukup sengit pada musim itu. Sementara Enhard Loretan dan Jean Troilet berhasil mencapai puncak, Benoít Chamoux dan Pierre Royer justru menghilang dalam pendakian ini. Dan investigasi serta laporan yang dikemukakan oleh Hawley dalam kasus ini adalah adanya kemungkinan pemaksaan waktu summit push oleh Benoít Chamoux guna menyamai Loretan, sementara dirinya sendiri masih belum cukup beraklimatisasi.820.1

Khusus untuk Chamoux, selain investigasi kematiannya di Kangchenjunga, Elizabeth Hawley juga meletakkan marka sengketa untuk dua pendakiannya yang lain, yakni di Cho Oyu dan di Makalu.

Dengan berbagai bukti betapa kuatnya pengaruh Elizabeth Hawley dan catatan yang ia buat dalam dunia pendakian gunung di Himalaya, maka tak begitu mengherankan mengapa namanya penulis cantumkan dalam buku ini. Elizabeth meskipun tidak pernah mendaki gunung, tidak pernah memegang kapak es, dan tidak pernah memasang crampon di tapak sepatunya yang mungil. Namun tutur katanya yang tegas dan tajam, interogasinya yang akurat, penyelidikannya untuk mencari kebenaran yang sangat jarang keliru, dan guratan penanya yang terperinci, membuat banyak komunitas mountaineering dunia sangat menghormatinya. Dalam pengertian yang unik, rasanya tidak berlebihan untuk mengatakan bahwa Elizabeth Hawley juga adalah salah satu Dewi Gunung, Dewi Gunung yang melambangkan kekuatan, pengaruh, dan kemampuan luar biasa seorang perempuan dalam dunia yang disebut dengan mountaineering.

elizabeth hawley
Elizabeth Hawley meninggal dunia pada 26 Januari 2018 dalam usia 94 tahun, ia dikremasi di Nepal dan meninggalkan seorang keponakan  dengan isteri dan dua anak mereka, Elizabeth Hawley tidak pernah menikah hingga akhir hayatnya. Sumber foto: ECS Nepal

Pencapaian dan Warisan

  • Pencapaian terbesar Elizabeth Hawley tentu saja adalah The Himalayan Database, sebuah mahakarya jurnalistik dunia mountaineering yang tidak ada duanya, abadi sepanjang masa.

 

Penghargaan dan Penghormatan

  • Peak Hawley di Pegunungan Dhaulagiri yang diberi nama oleh pendaki Perancis,  Francois Damilano, saat ia mencapainya sebagai fisrt ascent pada 9 Mei 2008.
  • Menerima Queen’s Service Medal dari pemerintah Selandia Baru pada tahun 2004.
  • Dianugrahi King Albert I Memorial Foundation Medal oleh pemerintah Swiss tahun 1998.
  • Orang pertama yang dianugarhi Sagarmatha National Award oleh pemerintah Nepal.

 

Buku dan Biografi

  • I’ll Call You in Kathmandu: The Elizabeth Hawley Story, ditulis oleh Bernadette McDonald, rilis tahun 2005.
  • Keeper of the Mountains, ditulis oleh Bernadette McDonald, rilis tahun 2012.
  • The Himalayan Database: The Expedition Archives of Elizabeth Hawley, dituliskan oleh Richard Salisbury dan diterbitkan oleh American Alpine Club, rilis tahun 2004.
  • The Himalaya by Numbers: A Statistical Analysis of Mountaineering in the Nepal Himalaya, ditulis oleh Richard Salisbury, terbit tahun 2012.
  • Sebuah film berjudul Keeper of the Mountains, rilis tahun 2013 dengan sutradara Allison Otto.
  •  

Footnote:

820.1     Detail hilangnya Benoít Chamoux di Kanchenjunga beserta drama rivalitasnya dengan Enhard Loretan dapat dibaca dalam buku One Last Climb yang saya hadirkan dalam 3 jilid.

 

Artikel ini dikutip dari buku DEWI GUNUNG karya Anton Sujarwo

Untuk referensi penulisan dan informasi lebih lengkap mengenai buku-buku mountaineering karya Anton Sujarwo, dapat dilihat di sini.


No comments:

Post a comment

Tulisan Terbaru

PEMUNCAKAN DAN TRAGEDI DI GUNUNG PALING SULIT DI DUNIA

Gunung K2 yang merupakan gunung tertinggi ke-2 di dunia dan merupakan satu-satunya gunung 8.000 meter yang belum tersentuh puncaknya pa...