Monday, 1 June 2020

Detik-Detik Tewasnya Pendaki Gunung Anatoli Boukreev

“Gunung-gunung besar adalah dunia yang benar-benar berbeda; salju, es, batu, langit dan udara yang tipis. Anda tidak dapat menaklukkan mereka, hanya naik ke puncak mereka untuk beberapa saat, dan untuk itu mereka menuntut banyak hal. Pertarungan bukanlah seperti melawan musuh, atau bersaing seperti dalam olahraga, tetapi melawan diri sendiri, dengan perasaan lemah dan tidak mampu. Perjuangan seperti itu menarik bagi saya, itu sebabnya saya menjadi pendaki gunung..”

Anatoli Boukreev

 

Krakauer Syndrome 

Tahun 1996 menjadi tahun yang penting untuk diingat dalam sejarah mountaineering, terutama di Everest. Tahun itu, sebuah pristiwa besar terjadi yang imbasnya tak pernah usai bahkan puluhan tahun setelahnya. Pristiwa ini adalah sebuah tragedi yang menjadi salah satu musibah paling kontroversial dalam sejarah pendakian gunung tinggi dunia. 

Lima pendaki tewas dalam satu hari pada bulan Mei tahun itu, diamuk badai paling mematikan sepanjang catatan pendakian gunung Everest. Turut menjadi korban dalam pristiwa maut ini adalah Rob Hall, Yasuko Namba, Andi Harris dan Doug Hansen, mereka semua adalah kru dari Adventure Colsultant, sebuah agen pendakian gunung Everest yang diketuai oleh Rob Hall. Sementara Scott Fischers yang juga menjadi korban, memimpin ekspedisinya sendiri saat itu, dibawah bendera agen pendakian yang ia beri label Mountain Madness.

Ikut serta dalam kelompok Scott Fischers adalah para pendaki berpengalaman dengan jam terbang gunung tinggi yang signifikan. Selain Scott Fischers sendiri yang bertindak sebagai pemandu, dalam Mountain Madness diisi juga oleh salah satu nama besar alpinis paling kuat masa itu, Anatoli Boukreev, pendaki Kazakhstan dengan reputasi mountaineering yang mengagumkan. Nama lain yang memperkokoh tim Mountain Madness sebagai pemandu adalah Neil Beidleman. Sementara yang bertindak sebagai sirdar adalah Lopsang Jangbu Sherpa, salah satu sherpa terkuat yang ada di Everest masa itu.

Sementara dari pihak Adventure Consultant pimpinan Rob Hall, bertindak sebagai pemandu antara lain adalah Andy Harris, Guy Cotter dan juga Mike Groom. Seperti yang telah banyak diceritakan dalam berbagai literatur dan media, pada akhirnya perjalanan dari dua agen pendakian ini berakhir tragis, pemimpin ekspedisi masing-masing agen tewas dengan sangat dramatis. Kelompok Rob Hall lebih mengenaskan saat itu, selain kematian Rob sendiri, seorang guide dan dua orang klien mereka juga ikut meregang nyawa pada pristiwa mematikan di hari tersebut.

Everest anatoli boukreev
View Puncak Everest dan Lhotse dilihat dari Lobuche. Everest menjadi gunung paling kuat yang mempopulerkan nama seorang Anatoli Boukreev terkait musibah tahun 1996, namun prestasi terbesar Anatoli sebenarnya tidaklah terjadi di tempat itu. Sumber foto: google

Pasca pristiwa yang mengguncang dunia mountaineering global tersebut, muncul sebuah perdebatan, opini, dan argumentasi saling serang yang tak berkesudahan. Perdebatan dan upaya mencari siapa yang salah dalam musibah ini dimulai dari buku yang ditulis oleh Jon Krakauer, Into Thin Air. Krakauer yang merupakan salah satu pendaki sekaligus berprofesi sebagai wartawan Outside Magazine yang lolos dari badai saat itu, adalah klien yang tergabung dalam kelompok Rob Hall. Kehadiran Krakauer dalam Adventure Consultant pada beberapa pendapat diindikasikan juga sebagai bentuk persaingan sengit antara Adventure Consultant dan Mountain Madness dalam hal popularitas. Sebelum bergabung dalam kelompok Rob, Krakauer diagendakan untuk bergabung dalam kelompoknya Scott. Namun entah karena discount, garansi, bonus atau hal lainnya yang ditawarkan oleh Rob sehingga kemudian membuat Krakauer berpindah ke Adventure Consultant.

Ditinggalkan oleh Krakauer membuat tim pimpinan Scott Fischers-pun harus memutar otak guna menemukan siapa sosok yang dapat digunakan untuk mendongkrak popularitas mereka, atau setidaknya mengimbangi kepopuleran yang akan akan dihadirkan Krakauer untuk Adventure Consultant melalui tulisannya. Pada akhirnya seorang pendaki gunung, sosialita, sekaligus editor desainer ternama dari New York berhasil ditarik masuk dalam tim Scott Fischer. 

Orang itu adalah Sandy Hill Pittman. Sandra atau Sandy yang berprofesi sebagai fashion auditor, penulis, sekaligus sosialita yang cukup ternama, dan secara signifikan mampu meningkatkan atensi dan popularitas bagi tim Mountain Madness. Apalagi Sandy Hill juga telah mendapat kesepakatan dengan NBC Interactive Media untuk menyiarkan perjalanan pendakian mereka di saluran televisi tersebut. Kehadiran sosok-sosok seperti Jon Krakauer dan Sandra Hill Pittman dalam dua agen ekspedisi yang berteman sekaligus bersaing pada tahun 1996 saat itu, dinilai oleh sebagian pihak sebagai indikasi nyata dari obsesi dan ambisi yang besar pada dunia komersial mountaineering, khususnya pendakian Everest.

Dalam laporannya kepada Outside Magazine yang kemudian dibukukan dalam Into Thin Air, Krakauer menuliskan serangkaian analisa dan hipotesanya yang cenderung tendensius. Krakauer dengan jelas-jelas menyematkan kesalahan kepada sosok seperti Anatoli Boukreev, Sandy Hill Pittman dan juga Lopsang Jangbu Sherpa. Menurut opini Krakauer, ketiga orang yang ada dalam tim Mountain Madness tersebut telah menunjukkan sikap-sikap yang tidak relevan dan cakap dalam pendakian mereka di Everest. Lebih jauh Krakauer juga menyulut sebuah perdebatan sengit mengenai hal tersebut, membawa tragedi Everest dalam sebuah penyataan saling tuding yang kian menjauhi nilai-nilai persaudaraan.

Dalam argumentasinya, Krakauer menyerang Anatoli dengan istilah sebagai 'pendaki gunung ulung yang tidak cakap menjadi pemandu’. Hal ini ia dasarkan pada pendapatnya atas tindakan Anatoli yang mendaki tanpa membawa tabung oksigen, tanpa membawa perlengkapan p3k, bahkan tanpa membawa sebuah ransel. 

Menurut Krakauer, Anatoli memang pendaki besar yang tangguh, namun ia bukanlah pemandu pendakian yang cakap, bayaran sebesar $25.000 yang ia terima dari Mountain Madness1.1 adalah sesuatu yang ironis. Keputusan Anatoli untuk tidak membawa tabung oksigen, bahkan tidak membawa ransel yang berisi peralatan cadangan untuk membantu para kliennya pada proses pemuncakan dinilai oleh Krakauer sebagai sebuah tindakan egois yang ingin menang sendiri. Dalam berbagai uraiannya, Krakauer juga menyinggung keputusan Anatoli1.2 untuk turun ke Camp IV lebih dulu, bukannya membantu para pendaki yang mengalami kesusahan untuk turun dari puncak.

Lopsang Jangbu Sherpa yang bertindak sebagai sirdar dalam ekspedisi berujung petaka tersebut juga dituding dalam tulisan Krakauer sebagai sherpa yang enggan melakukan pekerjaan mereka. Argumentasi Krakauer ini didasarkan pada kenyataan tentang beberapa tali yang belum terpasang secara sempurna pada waktu summit day. Juga pada ketidaksiapan fisik Lopsang Jangbu yang sempat muntah pada hari yang sama.

everest 1996
Anatoli Boukreev, Mike Groom, Jon Krakauer, Andy Harris dan beberapa pendaki lain yang berbaris menuju puncak Everest pada tanggal 10 Mei 1996, beberapa jam sebelum pristiwa tragis itu terjadi. Sumber foto: Pinterest 

Sementara tudingan Krakauer pada Sandy Hill Pittman lebih brutal lagi, ia menganggap kehadiran sosok pendaki seperti Sandy adalah manifestasi dari laju komersialisasi Everest yang kebablasan. Sandy Pittman dalam uraian Krakauer dianggap sebagai pendaki dengan uang banyak namun tidak memiliki pengalaman, sebuah subjek yang berbahaya jika ditempatkan di gunung seperti Everest.

Berbagai tudingan Krakauer dalam bukunya ini tentu mendapat reaksi keras dari berbagai pihak. Sikap blame to others people yang diarahkan Krakauer kepada Anatoli Boukreev mendapat banyak reaksi yang beragam, tak terkecuali dari legenda-legenda pendaki besar dunia seperti Reinhold Messner dan Ralf Dujmovits. Sebagai sesama pendaki gunung yang seringkali mendaki tanpa tabung oksigen, Messner dengan lantang mengungkapkan pembelaannya terhadap Anatoli. Selain Messner dan Dujmovits, Ang Jangbu Sherpa, Sandy Hill Pittman dan Neil Beidleman juga mempertahankan pendapat mereka membela Anatoli Boukreev.

Di sisi yang lain, ucapan Krakauer yang mengatakan bahwa Sandy Pittman tidak berpengalaman juga tidak dapat diterima. Sandy seperti yang diketahui banyak orang, adalah pendaki perempuan Amerika pertama yang memegang tahta Seven Summit1.3. Sandy juga telah ikut dua kali ekspedisi Everest sebelum tahun 1996, yakni tahun 1994 dan 1995. Jadi sangat tidak relevan bagi Krakauer menyebut Sandy Pittman sebagai sosok yang minim pengalaman. Catatan pendakian Sandy Pittman menunjukkan bahwa ia bukan sosok baru dalam mountaineering.

Namun bagaimana pun juga, tulisan Krakauer tak urung telah menggiring sebuah bola panas untuk dimainkan berbagai pihak. Dan Anatoli Boukreev adalah sosok yang paling merasa dirugikan atas pernyataan dan opini-opini yang disampaikan Krakauer dalam bukunya.

Saat ini sudah banyak yang menilai bahwa pernyataan Krakauer dalam Into Thin Air tak lebih dari sebuah ketajaman pena seorang jurnalis untuk membangkitkan rasa kebencian kepada seseorang karena sebuah pristiwa yang terjadi. Mark Horrell dalam satu tulisan di blognya mengistilahkan Krakauer Syndrome, untuk pengertian penggiringan sebuah opini yang bertujuan untuk membangkitkan kebencian yang terlahir dari ketidaktahuan di antara para pembaca yang mudah dipengaruhi.

Pendek kata, saat ini dapat disimpulkan bahwa tudingan-tudingan yang disampaikan oleh Jon Krakauer kepada Anatoli Boukreev terkait musibah Everest 1996 adalah sebuah tudingan yang tidak dapat dipertahankan eksistensinya. Selain itu, meski sempat dihujat dan didebat sedemikian rupa, pada akhirnya Anatoli Boukreev tak pernah kehilangan reputasinya sebagai salah satu alpinis dan pendaki gunung paling handal dan berprestasi di dunia.


 Unreal Squeezed Lemon

Cuaca cukup bagus, pemuncakan baru selesai di gunung Denali, saat itu Anatoli Boukreev yang menjadi guide dalam ekspedisi telah berhasil membawa kliennya turun melewati bagian-bagian paling berbahaya dari rute pendakian Denali. Secara umum pendakian yang dipandu oleh Anatoli di Gunung Denali bulan April 1990 ini berjalan dengan sukses dan gemilang, hanya saja terkait dengan pribadi Anatoli sendiri, ia masih memendam beberapa hal  dalam benaknya sebagai buntut dari ekspedisi tersebut.

Hal pertama yang membuatnya gusar adalah kendala bahasa. Anatoli berbahasa Rusia sedangkan kliennya rata-rata berbahasa Inggris. Saat itu kemampuan komunikasi bahasa Inggris Anatoli masih terhitung sangat buruk. Namun bagaimana pun juga ia dapat melewatinya tanpa ada halangan yang benar-benar berarti. 

Hambatan kedua yang membuat Anatoli terhenyak adalah karena ekonomi, ia bukanlah pendaki kaya dengan perbendaharaan climbing gears yang melimpah. Bahkan sebaliknya , Anatoli adalah pendaki gunung dengan talenta luar biasa namun tidak memiliki perlengkapan pendakian yang sempurna. Oleh karena hal tersebut, selama proses ekspedisi Denali bulan April 1990, Anatoli terpaksa meminjam peralatan pendakian kepada beberapa rekannya di Amerika supaya ia dapat melaksanakan tugasnya sebagai guide sebaik mungkin.

Setelah semua  selesai, para pendaki yang dipandu oleh Anatoli sudah kembali ke rumah mereka masing-masing, timbul keinginan dalam hati Anatoli untuk melakukan sesuatu bagi dirinya sendiri di Gunung Denali.

Memandu dan mendaki adalah sesuatu yang berbeda dalam perspektif Anatoli. Karena layaknya semua alpinis besar lainnya, canvas gunung apa pun tak akan dapat dilukis dengan mahakarya terbaik jika proses melukisnya dilakukan oleh terlalu banyak orang. Jadi dengan segenap komitmen dan tekadnya sebagai alpinis dan pendaki gunung sejati, maka Anatoli memutuskan untuk mendaki kembali gunung tertinggi di Amerika Utara itu secara solo melalui rute yang berbeda.

“Are you sure Toty?”

Di kalangan teman-teman dekatnya, kadang Anatoli sering dipanggil Toty. Sebutan akrab ini umumnya banyak digunakan oleh orang-orang yang telah mengenal Anatoli, dan mungkin pernah melakukan beberapa kali pendakian bersamanya.

“Ya, aku kira aku harus melakukan ini sebelum pulang ke Kazakhstan. Aku merasa belum benar-benar mendaki gunung ini kemarin”.

“Apakah kau akan tetap menggunakan Cassin Ridge lagi?”

Anatoli menggeleng mendengar pertanyaan rekannya itu, dari balik kacamata saljunya ia melirik ke bagian sebelah barat gunung Denali.

“Aku akan menjajal West Rib..”

“West Rib Route?”

“Ya, saya kira West Rib akan menolongku, meskipun tidak sebesar kesulitan di rute buatan Riccardo Cassin, namun ini akan cukup membuatku bergairah..”

“Semoga berhasil Toty, dan kembalilah kepada kami dengan utuh”

Anatoli hanya tersenyum lebar mendengar ucapan teman ekpedisinya. Tak ada jawaban yang keluar dari mulut Toty, hanya sebuah tawa dari wajah klimis tanpa jambang dan kumis.

Besoknya Anatoli berangkat pagi-pagi dari base camp, ia hanya membawa sebuah ransel ukuran sedang dan beberapa perlengkapan mendaki standar bagi seorang solo. Langkah Anatoli yang mantap menuju puncak Gunung McKinley di Alaska melalui sisi West Rib diringi oleh doa dan harapan baik dari rekan-rekannya, membuat pendakian itu kemudian menciptakan sebuah rekor spektakuler yang tercatat abadi dalam Climbing Magazine tahun 1990.

Hanya dibutuhkan sepuluh setengah jam bagi Anatoli Boukreev dari base camp untuk mencapai puncak tertinggi gunung Denali melalui West Rib Route. Padahal pada pendakian normal, rute ini biasanya ditempuh dalam waktu tiga sampai empat hari dengan lima camp sebagai persinggahan. Rekor ini menjadi sesuatu yang sangat fantastis pada masa itu, bagaimana seorang pendaki luar Amerika (tepatnya negara rival Paman Sam tersebut, Uni Soviet), mampu menorehkan sebuah prestasi yang nampaknya sangat mustahil untuk dilakukan.

Unreal, imposible!”

Hanya dua kata itu yang disampaikan oleh Denali Park Rangers mengomentari pencapaian yang dilakukan Anatoli tersebut. West Rib adalah sebuah rute pendakian Denali yang dibuka pertama kali pada tahun 1959 oleh empat orang pendaki yang bernama Breitenbach, Buckingham, Corbet dan Sinclair. Secara teknis dan kesulitan, West Rib Route gunung Denali memang masih berada di bawah rute yang dibuat oleh Riccardo Cassin pada tahun 1961. Namun hal ini sama sekali tidak menjadi alasan untuk menyebut West Rib adalah rute yang mudah.

Seorang alpinis dan pendaki gunung sejati seperti Anatoli Boukreev, Hermann Buhl, Walter Bonatti, Gaston Rebuffat, Reinhold Messner dan masih banyak lagi, adalah seniman gunung yang sebenarnya. Jika para pujangga menunjukkan kehebatan mereka dengan bait-bait puisi dan sastra, para arsitek menunjukkan kecakapan mereka dengan membuat bangunan, atau para pemusik yang meluapkan kehebatan mereka dalam nada dan lagu. Maka para pendaki gunung sejati menunjukkan ‘jiwa seni’ mereka di atas gunung, di lereng-lereng terjal, di puncak-puncak setajam pisau. Bagi seorang pendaki gunung, gunung adalah kertas tempatnya menulis syair dan sastra, gunung adalah kerangka dan tiang-tiang tempatnya menciptakan sebuah bangunan yang indah, dan gunung juga adalah simfoni-simfoni denting kecapi tempat mereka mendendangkan lagu-lagu terbaik yang mereka bisa buat.

Maka tidak mengherankan, bagaimana publik bisa terpukau akan mahakarya yang berhasil dilakukan oleh para pendaki gunung sejati itu. Bagaimana publik dapat berdecak kagum dengan fisrt ascent Nanga Parbat dan Broad Peak yang dilakukan oleh Hermann Buhl, bagaimana publik dapat mengeleng-geleng serasa tak percaya ketika mendapatkan kisah Gaston Rebuffat menjadi orang pertama yang berhasil mendaki enam sisi utara paling mematikan gunung Eropa, atau bagaimana pula masyarakat begitu terpukau dengan kemampuan Messner melakukan pendakian Everest tanpa oksigen, secara solo dan untuk yang pertama kalinya di dunia.

Semua pencapaian-pencapaian tersebut adalah mahakarya yang indah. Pada sudut pandang yang lebih unik, kita mungkin tak akan banyak menemukan perbedaan jika membandingkannya dengan Monalisa yang menjadi mahakarya dari Leonardo da Vinci. Atau pada sisi yang lain, kita juga tidak dapat menemukan perbedaan yang benar-benar mencolok ketika membandingkannya dengan karya-karya sastra monumental pujangga sekaliber William Shakespeare dan Leo Tolstoy.

Anatoli adalah seorang pendaki gunung dengan pencapaian yang luar biasa. Tahun 1987 ia mendaki Lenin Peak dengan rekor Solo First Ascent. Tahun 1989 Anatoli ke Kangchenjunga, mencapai puncaknya dan melibas empat puncak delapan ribu meter di Massif Kangchenjunga dengan traversing. Lagi-lagi first traversing. Tahun 1990 ia 'menghajar' Denali dengan dua kali mencapai puncak dalam jarak hanya beberapa hari. Tanggal 10 Mei tahun 1991 mencapai Puncak Dhaulagiri melalui rute baru. Sementara tanggal 7 Oktober di tahun yang sama, Anatoli mencapai Puncak Everest melalui South Col.

Denali didatangi lagi oleh Anatoli pada 14 Mei tahun 1993, kemudian K2 yang mengerikan dicapai oleh Toty pada tanggal 30 Juli tahun itu juga. Berlanjut ke tahun 1994 tanggal 29 bulan April, Anatoli mencapai puncak Makalu II. Dan 15 Mei kemudian Anatoli juga mencapai puncak Main Peak Makalu yang masuk dalam jajaran fourteen eight thousanders.

Anatoli Boukreev dalam salah satu pendakiannya di Himalaya. Dengan segala pencapaiannya yang luar biasa dalam mountaineering, didukung pula oleh pemikirannya yang kritis dan penuh filosofi, tak salah rasanya untuk mengatakan jika Anatoli adalah salah satu pemikir gunung terkemuka yang pernah ada. Sumber: Google

Di tahun 1995 tanggal 17 Mei, Anatoli mencapai puncak Everest melalui punggungan utara. 30 Juni kemudian menjadi pemandu bagi Presiden Republik Kazakstan untuk mencapai puncak Mount Abai. Tanggal 8 Oktober ia mencapai puncak Dhaulagiri dengan memecahkan rekor pendakian tercepat dengan catatan waktu hanya 17 jam 15 menit. Kemudian pada tanggal 8 Desember-nya, Anatoli kembali mencapai puncak delapan ribu meter lainnya yang bernama Manaslu.

Berlanjut di tahun 1996 Anatoli mencapai puncak Everest pada tanggal 10 Mei bersama tim Mountain Madness pimpinan Scott Fischers, sebuah pendakian yang sekaligus reputasinya berusaha diciderai oleh tulisan dan tudingan dari Jon Krakauer. Seminggu setelah mencapai puncak Everest, Anatoli kembali menumpahkan amarah dan duka citanya atas kehilangan banyak kawan di Everest dengan mendaki Lhotse secara solo dengan catatan waktu yang juga memecah rekor, 21 jam 16 menit tanpa tabung oksigen.

Masih di tahun 1996, tepatnya tanggal 25 September, Anatoli mencapai puncak Cho Oyu bersama ekspedisi Kazakstan. Sementara pada 9 Oktober, ia kembali berdiri di puncak utara Gunung Shishapangma. Tanggal 24 April 1997 Anatoli Boukreev kembali lagi ke Puncak Everest sebagai pemandu dan kepala ekspedisi militer Indonesia yang mengantarkan nama Asmujiono sebagai orang yang berhasil mencapai puncak. Tepat satu bulan kemudian (23 Mei), Anatoli kembali lagi mencapai puncak Lhotse. Sementara di tanggal 7 dan 14 Juli, Toty mencapai puncak Broad Peak dan Gasherbrum II, semuanya dilakukan secara solo, tanpa tabung oksigen, dan dalam waktu kurang dari sepuluh hari.

Dengan melihat rangkaian pencapaian Anatoli Boukreev yang luar biasa fantastis ini, maka tak berlebihan untuk mengatakan ia adalah salah satu pendaki terbaik yang pernah dilahirkan di zaman modern. Barisan mahakarya yang telah diukir oleh Anatoli adalah laksana sebuah syair-syair abadi yang tidak akan pernah berhenti dialunkan oleh deru angin di gunung-gunung Himalaya.

*

“Kita harus mencapai puncak pada hari ini juga!”

Suara Reinmar Joswig menggema di antara deru angin di punggung K2. Beberapa anggota tim dalam ekspedisi gabungan internasional itu saling pandang, berusaha mencari respon masing-masing sebelum bersuara menyahuti seruan Joswig.

Reinmar Joswig adalah ketua tim pendakian dalam eskpedisi tersebut, beberapa anggota yang tergabung dalam tim tersebut adalah Peter Metzger dari Jerman, Andy (Andrew) Locke dari Australia, Rafael Jensen dari Norwegia, Daniel Bidner dari Skandinavia, Ernst Eberhardt dari Jerman, dan juga Anatoli Boukreev dari Kazakhstan. Daniel dan Rafael sebenarnya bukanlah bagian dari tim yang diketuai Peter Metzger ini, namun pada upaya pemuncakan mereka mengikuti rute tim Anatoli dan bertemu di atas Camp 4 kemudian melanjutkan perjalanan secara bersama-sama menuju puncak K2.

“Bagaimana menurutmu Andy?” 

Tiba-tiba Peter Metzger bersuara lebih dulu. Ia berbicara kepada Andy Locke yang berdiri dengan tubuh membungkuk, berusaha melawan gravitasi punggung maut K2 yang seolah ingin menyedot tubuhnya.

Andy Locke mengangkat kedua bahunya sambil matanya melirik ke arah Anatoli yang juga tak jauh berada di sampingnya.

“Mungkin Joswig betul, kita sudah terlalu jauh dari tenda, akan sama beratnya untuk kembali ke tenda saat ini dibanding meneruskan perjalanan ke puncak” ujar Anatoli sambil membenarkan letak pijakan cramponnya.

“Tapi kita akan kemalaman, itu terlalu berbahaya” Peter bersuara lagi.

“Aku khawatir cuaca tidak akan sebagus ini besok, jarak kita ke tenda juga cukup jauh untuk kembali” kali ini Locke yang menjawab.

“Anatoli, Peter, dan Andrew, bagaimana menurut kalian, apa kalian mau turun?!”

Suara Joswig ditiup angin lagi setelah mampir ke telinga para pendaki itu. Rafael Jensen yang ada di sampingnya nampak menyeringai menahan sengatan kilau salju yang dibiaskan oleh cahaya matahari. Dari keseluruhan tim ini, Ernst Eberhardt adalah satu-satunya orang yang membatalkan upaya pemuncakan karena kondisi kesehatannya. Ia tinggal di base camp ketika anggota lainnya berusaha meraih puncak K2.

“Kami ikut keputusanmu Joswig, tapi apakah tidak terlalu berbahaya jika nanti kita kemalaman?”

                Jarak antara Joswig dan Peter hampir 10 meter, jadi untuk berkomunikasi mereka harus sedikit berteriak ditambah dengan beberapa gerakan tubuh untuk menjelaskan maksudnya. Di samping Joswig, berdiri Daniel Bidner dan juga Rafael Jensen, mereka berada di bagian bawah, sementara Peter, Anatoli dan juga Andy Locke berada di tempat yang lebih tinggi. Para pendaki itu berada beberapa puluh meter di atas Bottleneck, sebuah spot paling populer sekaligus paling mematikan reputasinya dalam pendakian gunung K2 melalui rute Abruzzi Spur.

“Kita akan mencapai puncak hari ini dan turun dengan cepat, kalian mendakilah lebih dulu, saya dan teman-teman dari Skandinavia ini akan menyusul”

“Ok jika itu keputusanmu”

Mendengar jawaban dari Joswig yang segera menghilang dibawa deru angin, Anatoli yang berada paling depan segera bergerak mendaki kembali, diikuti oleh Peter dan Andy Locke di belakangnya. Hari sudah hampir tengah hari dan mereka baru saja melewati Bottleneck, bagian paling mematikan dari pendakian K2. Setidaknya masih ada 400 meter lagi ketinggian elevasi yang harus dilalui oleh para pendaki itu. Menurut perhitungan Anatoli, secepat apa pun mereka mendaki, mereka tetap akan kemalaman dalam perjalanan kembali.

Meskipun menjadi salah satu rute pendakian yang paling populer, Abruzzi Spur sama sekali bukan jalur mudah. Pada dasarnya Anatoli kurang benar-benar dapat menerima keputusan bahwa mereka harus mencapai puncak sore itu juga, namun ia telah terlanjur menyetujui hal tersebut. Kembali ke tenda dan melakukan percobaan kembali pada keesokan paginya mungkin memang lebih baik, tetapi apakah cuaca akan secerah hari ini nantinya? 

K2 adalah gunung kejam dari semua bidang, cuacanya kejam dan dapat berubah dengan cepat, lereng curamnya kejam, dindingnya kejam, anginnya juga kejam. Jadi ketika cuaca sangat cerah dan indah, itu tidak terjadi setiap hari di K2, dan Anatoli merasa harus memanfaatkannya dengan sebaik mungkin. Karena itu ia memutuskan untuk mencapai puncak hari itu juga, mendukung keputusan yang telah dibuat oleh Reinmar Joswig, ketua tim ekspedisinya.

Seorang pendaki (dalam lingkaran) berjalan traversing menyeberangi couloir dibawah serac Bottleneck rute Abruzzi Spur gunung K2. Bottleneck adalah bagian gunung K2 yang paling banyak memakan korban, sebuah sumber bahkan menyebutkan jika ada 10 kematian di K2, maka 8 umumnya terjadi di areal Bottleneck ini. Sumber foto: weekend.gazeta.polandia

Ketiga pendaki yang berjalan di depan itu semakin jauh meninggalkan Joswig, Rafael dan juga Daniel yang nampaknya belum membuat pergerakan signifikan sejak Joswig meminta mereka mendaki lebih dulu. Pendakian yang sulit di K2 membuat Anatoli, Locke dan Peter berganti-ganti memimpin pendakian. Semua upaya dikerahkan dalam pendakian yang menuntut banyak pengorbanan fisik dan juga mental tersebut. Emosi ketiga pendaki terkenal itu juga serasa diaduk-aduk karena berkejaran dengan waktu. Meskipun pada hakikatnya ketiga pendaki itu sadar bahwa bagaimana pun upaya mereka untuk berpacu dengan waktu, mereka pasti akan kemalaman juga nantinya.

Ketika memasuki sebuah bagian sempit dan paling curam menuju puncak K2, Anatoli dengan sigap mengambil posisi di depan, sementara Andrew Locke dan Peter Metzger yang memang menyadari reputasi Toty mempersilahkan tugas itu untuk dilakukannya. 

Di atas ketinggian 8.500-an meter, berjibaku dengan hembusan angin setajam sembilu, udara dingin yang mencucuk tulang, oksigen yang minim dan sengsara membuat Anatoli benar-benar merasa menghabiskan seluruh kekuatannya untuk menyelesaikan pekerjaan itu. Sekitar beberapa lama kemudian, sebelum jingga senja menggelayut di langit Karakoram, pekerjaan Anatoli selesai. Fixline telah terpasang dengan baik sepanjang rute yang curam dan sempit menuju puncak, membuat pendakian yang dilakukan oleh rekan-rekannya di belakang bisa lebih mudah.

Langit temaram sebagai permulaan senja mulai memayungi langit Concordia dan Gletser Goodwin Austen, malam sebentar lagi akan segera menyelimuti landscape spektakuler di bawahnya, termasuk pula puncak K2 yang perlahan mulai hilang di telan kegelapan. Anatoli, Andrew, dan Peter mencapai puncak tepat sesaat setelah hari mulai gelap. Hanya ada sedikit sukacita dan pelukan, sama sekali tak ada euphoria kemenangan karena telah mencapai puncak saat itu. Merasa puncak sebagai garis finish adalah bahaya paling mematikan dalam setiap pendakian gunung, dan itu pulalah yang dirasakan oleh Anatoli saat itu, ia merasa K2 adalah garis akhir di mana ia dapat beristirahat dengan nyaman setelahnya.

“Selama bertahun-tahun saya berlatih sebagai pembalap ski, dan kemudian menjadi pendaki gunung, saya telah belajar bagaimana memeras energi terakhir saya untuk sampai ke titik finish. Namun ini adalah sebuah tindakan yang sangat berbahaya dalam mountaineering, karena bukanlah akhir dari kompetisimu dangan gunung yang besar. Untuk dapat bertahan hidup, kita harus segera turun dari zona terlarang” (tulisan Anatoli Boukreev di The Climb, mengomentari pendakiannya di K2 pada tahun 1993).

Tidak ada yang benar-benar gembira saat mencapai puncak saat itu, baik Anatoli sendiri, mau pun Peter dan Andrew. Malam yang merayap dengan cepat membuat ketiganya gundah gulana dan segera memutuskan untuk turun. Anatoli dan Peter turun lebih dulu, sementara Andy memanfaatkan sisa cahaya senja dengan menghabiskan satu rol film di kameranya sebelum akhirnya juga menyusul turun.

Tak lama setelah turun, ketiga pendaki itu berpapasan dengan Joswig, Rafael dan Daniel yang masih memutuskan untuk terus mendaki hingga ke puncak. Bagaimana pun juga, Anatoli sudah sangat khawatir dengan situasi turun dalam gelap di gunung tersulit di dunia itu, jadi ia mengingatkan Joswig;

“Ini sudah gelap Jos, kalian akan benar-benar kemalaman saat turun nanti, kurasa sebaiknya kalian ikut turun bersama kami sekarang”.

Joswig menengadahkan kepalanya, melihat ke arah wajah Anatoli Boukreev yang berada pada undakan yang lebih tinggi. Dari balik kacamata saljunya dan diterangi oleh cahaya headlamp, Joswig dapat melihat dengan cukup  jelas kombinasi kelelahan dan kekhawatiran yang terpancar di wajah Anatoli.

“No Toty, kami akan tetap mencapai puncak kemudian menyusul kalian dengan cepat”.

Jawaban Joswig sebenarnya sudah dapat ditebak oleh Anatoli dan juga yang lainnya, ia seorang pendaki yang teguh dan kuat, ia termasuk pendaki dengan kemauan yang sama kerasnya dengan besi bahan pembuat kapak es yang tergenggam di tangannya sekarang.

“How about you Daniel? You still go to summit in this condition?”

Suara Andrew terdengar, ia bertanya kepada Daniel Bidner yang ada di belakang Joswig, nafas Daniel terdengar terengah-engah, ia nampaknya lebih kelelahan dibanding Joswig. Dari ketiga pendaki itu, Rafael Jensen adalah yang paling stabil sejauh ini, ia berjalan beberapa puluh meter di depan Daniel dan Joswig.

“Ya, saya pikir saya bisa melakukannya. Jangan khawatir, kami akan menyusul kalian di tenda, kami ke puncak sebentar dan akan segera turun kembali”.

Tak ada yang dapat dilakukan oleh Anatoli, Peter maupun Andrew untuk membujuk Daniel dan Joswig berbalik. Mereka adalah pendaki profesional, dan di atas ketinggian semuanya faham bahwa keputusan ada di tangan masing-masing.

Kadang memang menjadi sebuah keharusan bagi seorang mountaineer untuk dapat mengerti dan menerima sepenuhnya kapan dia harus mundur dari upaya menuju puncak. Akan tetapi kadang-kadang pula, sebuah ambisi dan keinginan yang terlampau berlebihan dapat menutupi analisa logis yang membuatnya bisa saja berujung pada sesuatu yang tidak menyenangkan.

Mencapai puncak delapan ribu meter di malam hari sama sekali bukan waktu yang ideal. Bertahan di atas ketinggian itu dan menunggu sinar mentari datang juga adalah sesuatu yang menyengsarakan. Meskipun pada beberapa kasus hal itu berhasil dilakukan1.4. Yang paling aman tentu adalah mencapai puncak di saat hari masih terang, dan berusaha secepat mungkin mencapai tenda sebelum matahari tenggelam. Namun itu adalah sebuah kondisi yang ideal, pada situasi tertentu, konsep tersebut kadang sama sekali tidak dapat diterapkan.

Mencapai puncak gunung tersulit di dunia pada waktu magrib dan dipaksa untuk turun di malam hari sama sekali bukan situasi yang menyenangkan. Tak ada kegembiraan untuk itu. Tenaga dan psikis Anatoli secara total sudah diperas habis saat berusaha mencapai puncak tadi, sesuatu yang pada hakikatnya bukanlah tindakan bijaksana. Jadi perjalanan dari puncak K2 menuju tenda terakhir ekspedisi itu adalah perjalanan yang sangat berat dan melelahkan. Baik Peter, Anatoli maupun Andrew harus menguras habis sisa-sisa tenaga mereka yang terakhir supaya tetap bisa bertahan dan tidak jatuh ke jurang saat turun.

Keenam pendaki itu mungkin memiliki fisik yang sama-sama kuat dan tangguh saat berada di ketinggian. Anatoli, Peter dan Andy Locke sudah merasakan sendiri bagaimana mengerikannya turun dari puncak meskipun cahaya temaram senja masih tersisa. Lalu bagaimana dengan Joswig, Daniel dan Rafael nantinya yang mungkin mencapai puncak pada saat dunia benar-benar sudah diselimuti gelap malam?

Namun sekali lagi, keputusan ada di tangan masing-masing. Di atas gunung, manusia memperoleh kemerdekaan sejatinya. Jika Joswig, Daniel dan Rafael tetap bersikeras untuk melanjutkan pendakian hingga ke puncak, maka itu hak mereka, tidak ada yang dapat melarangnya.

“Jika itu memang keputusan kalian, maka baiklah, semoga berhasil”

Hanya itu yang dapat diucapkan oleh Anatoli, Peter dan juga Andy Locke saat menjabat tangan Daniel dan Joswig, melepas langkah mereka yang begitu pelan menuju puncak K2 yang sudah sepenuhnya dilingkupi oleh gulita.

Perjalanan turun Anatoli dan dua rekannya benar-benar penuh perjuangan dan sengsara. Hanya diterangi oleh cahaya headlamp ketiganya harus berjibaku untuk tetap berdiri dengan keseimbangan penuh. Kadang mereka harus menghantamkan crampon mereka beberapa kali ke permukaan es untuk mendapatkan pijakan yang stabil. Kadang juga harus memukul kapak es dengan sekuat mungkin supaya tidak terjatuh. Fix line yang dipasang oleh Anatoli sebelumnya juga sangat berguna, entah bagaimana jadinya jika mereka harus turun di tengah kepekatan malam pada lintasan paling mengancam nyawa tanpa dibantu oleh fix line itu. 

Tiga orang pendaki ini pun akhirnya terpaut cukup jauh dalam perjalanan turun, Anatoli berada paling depan, diikuti oleh Peter, kemudian Andy paling belakang. Dalam pekat malam dan dinginnya udara, berjalan di zona kematian gunung tersulit di dunia, membuat ketiganya tidak dapat memperhatikan satu sama lain, posisi mereka saling berjauhan untuk dapat saling melihat dan mengingatkan.

Kondisi yang penuh dengan perjuangan berat ini dilukiskan oleh Anatoli Boukreev sebagai ‘sequeezed lemon’. Atau layaknya jeruk perasaan yang sudah tidak ada sarinya lagi, namun tetap harus diperas untuk mendapat tetes-tetes terakhir yang masih tersisa. Sisa-sisa tenaga, energi, pikiran, mental dan konsentrasi tetap harus bersinergi dalam tubuh Anatoli, jika ia masih sayang dengan nyawanya, atau masih ingin pulang dalam keadaan hidup.

Andrew Locke
Andrew Locke, salah satu pendaki yang ikut mencapai puncak K2 bersama Anatoli Boukreev. “Saya kira Anatoli adalah pemain gitar yang berbakat..” kenang Andrew dalam bukunya yang berjudul Summit 8.000. Sumber gambar:  Google 

Perjuangan dan kesengsaraan itu pada akhirnya usai menjelang tengah malam ketika lampu headlamp Anatoli menabrak pintu tenda mereka di Camp IV. Namun berita buruk untuk yang lain, dari enam orang pendaki yang berjalan bersama menuju puncak K2 saat itu, hanya tiga orang yang bisa kembali ke Camp IV. Anatoli lebih dulu mencapai tenda, disusul kemudian oleh Andy Locke beberapa jam setelahnya. Menjelang pagi hari muncul juga Rafael Jensen dengan kondisi yang kacau balau tapi masih bisa bernafas dan bergerak.

Sementara tiga orang pendaki lainnya, baik Reinmar Joswig, Daniel Bidner bahkan Peter Metzger sendiri yang berjalan di antara Andy dan Anatoli, tidak pernah berhasil mencapai tenda, ketiganya menghilang dan kemungkinan besar tewas terjatuh setelah berhasil mencapai puncak gunung K2.

*

Gunung Itu Adalah Annapurna 

Menjelang bulan Desember tahun 1997, Anatoli Boukreev dan Simone Moro1.5, ditemani pula oleh seorang sinematografer asal Kazakhstan bernama Dimitri Sobolev berniat untuk mendaki salah satu sisi Annapurna yang masih belum tertaklukkan di musim dingin, Annapurna South Face.

Annapurna South Face atau sisi bagian selatan dari gunung Annapurna I adalah bagian paling sulit dan paling teknis dari pendakian gunung tersebut. South Face Annapurna pertama kali didaki oleh tim Inggris pada tahun 1970. Beberapa alpinis populer Inggris yang mengikuti ekspedisi ini adalah Chris Bonington, Don Whillans, Dougal Haston dan Ian Clough. Meskipun ekspedisi yang diketuai oleh Chris Bonington tersebut berhasil mencapai puncak, namun satu harga yang sangat mahal harus dibayar oleh tim tersebut saat perjalanan turun. Sebuah serac yang patah meluncur deras menyapu ekspedisi Inggris, Ian Clough kehilangan nyawanya dalam kejadian itu.

Annapurna South Face adalah salah satu bagian paling mematikan dari gunung Annapurna. Sebelum kehadiran Anatoli Boukreev tahun 1997, sisi iblis gunung itu telah menelan setidaknya tiga nama alpinis papan atas dunia, Ian Clough, Alex MacIntyre dan juga Pierre Beghin. Ian Clough tewas setelah berhasil mencapai first ascent rute baru yang mereka buat di tahun 1970, MacIntyre tewas tertimpa batuan rontok tepat mengenai kepalanya di tahun 1982, sementara Beghin terjun bebas dari tebing selatan Annapurna itu pada tahun 1992, meninggalkan Jean Christophe Lafaille berjuang sendiri dalam kisah survival paling monumental sepanjang kariernya.

Kisah kematian Alex MacIntyre di Annapurna South Face dapat dibaca di sini.

Annapurna South Face
Dinding Annapurna South Face yang menjadi salah satu medan mountaineering paling menantang di Himalaya, setidaknya lima pendaki legendaris berakhir di tebing ini, Anatoli termasuk salah satunya. Sumber foto: google 

Tahun 1997, sebelum memutuskan untuk mencoba mendaki sisi selatan Annapurna bersama Simone Moro dan Dimitri Sobolev, Anatoli telah melakukan banyak pendakian lain dalam kariernya. Selama bulan Februari hingga April, dihabiskannya untuk mempersiapkan dan menjadi ketua ekspedisi Everest bagi pendakian militer Indonesia yang mengantarkan nama Asmujiono sebagai summiter tunggal pendaki Kopassus Indonesia. Di bulan Mei Anatoli kembali memuncaki Lhotse1.6. Lanjut ke bulan Juli tanggal 7 Anatoli memuncaki Broad Peak, dan seminggu kemudian berhasil pula mencapai puncak Gasherbrum II.

Pada sekitar bulan Maret tahun 1997 sewaktu masih dalam proses persiapan ekspedisi militer Indonesia, Anatoli pernah bermimpi diterjang oleh avalanche yang dahsyat. Dalam mimpi tersebut, Anatoli melihat dirinya disapu oleh sebuah longsoran besar. Banyak orang yang mencarinya, namun tak ada satu pun yang melihatnya meski pun Anatoli merasa bahwa ia berdiri di tengah-tengah para pencari itu. Karena cukup mengganjal dalam pikirannya, maka bunga tidur itu ia ceritakan kepada salah satu sahabat terdekatnya, Vladimir Bashkirov.

“Itu hanya bunga tidurmu Toty, tidak ada yang perlu dikhawatirkan” 

Bashkirov menepuk pundak Anatoli berusaha menghilangkan kegalauan dari wajah sahabatnya itu.

Aku tidak terbiasa dengan mimpi Basky, terakhir kali aku bermimpi pamanku ditembak di Soviet, dan lima bulan setelahnya ia benar-benar tewas di ujung senapan seorang perampok”.

“Jangan bebani pikiranmu dengan hal seperti itu, kematian adalah sesuatu yang pasti terjadi, namun ia adalah misteri”

“Iya, aku paham maksudmu. Namun aku cukup terganggu dengan mimpi ini. Aku tidak begitu percaya tahayul, meskipun kadang-kadang ada benarnya juga” Jawab Anatoli kembali.

“Atau kau berpikir untuk meninggalkan gunung karena mimpi itu?”

Bashkirov mengakhiri kalimatnya dengan tawa agak lebar, menggoda Anatoli.

“Aku kira tak ada salahnya jika kau berpindah profesi Toty. Mimpi yang kau gelisahkan bisa jadi akan benar-benar menimpamu suatu saat nanti. Jika kau menarik diri dari gunung sekarang, kau mungkin dapat menghindari hal itu” Bashkirov menyambung lagi kalimatnya, kali ini dengan mimik yang agak lebih serius.

“Gunung adalah hidupku, pekerjaanku. Sudah sangat terlambat bagiku untuk pergi dan mengambil jalan yang lain..”

Selain kepada Vladimir Bashkirov, mimpi tersebut sempat diceritakan juga oleh Anatoli kepada pacarnya di New Meksiko. Linda Wylie seperti halnya juga Bashkirov, menanggapi mimpi Anatoli tak lebih dari sekedar bunga tidur yang tidak perlu diperdulikan terlalu jauh.

Meskipun reputasi dan aksinya di Everest tahun 1996 sempat mendapat interupsi yang condong menjadi serangan tajam di buku Into Thin Air karya Jon Krakauer, hal itu sama sekali tak mengurangi rasa hormat alpinis-alpinis besar dunia padanya. Hipotesa, opini, perdebatan dan diskusi yang panjang secara umum tak dapat menempatkan Anatoli sebagai pihak yang layak disalahkan dalam masalah tersebut. Pembelaan yang dilakukan oleh Reinhold Messner dan Ralf Dujmovits akan reputasi Anatoli juga mendapat tempatnya sendiri. Jadi meskipun beberapa media1.7 banyak yang tergoda untuk mengikuti hujatan Krakauer kepada Anatoli, secara umum aksi berani dan penuh heroik yang dilakukan oleh Anatoli pada pristiwa tersebut juga tidak mampu untuk dinafikan.

Atas pertimbangan tersebut, maka pada penghujung tahun 1997 oleh American Alpine Club, Anatoli Boukreev dianugrahi David A. Sowles Memorial Award, sebuah penghargaan paling bergengsi dalam bidang mountaineering yang diberikan kepada orang-orang yang memiliki kontribusi dalam upaya menyelamatkan nyawa orang lain di atas gunung, meskipun keselamatan mereka sendiri berada dalam ancaman.

Sekitar tiga minggu sebelum Anatoli diserahi penghargaan tersebut, ia bersama Simone Moro dan Dimitri Sobolev nampak sedang berjalan menuju sisi selatan gunung Annapurna. Mereka sedang dalam upaya menaklukkan tebing maut itu di musim dingin. Sesuatu yang dicoba hampir dua puluh kali1.8 oleh berbagai ekspedisi dan pendaki terbaik dunia lainnya, namun hanya berhasil mencapai puncak sekali saja.

Sebelumnya Anatoli dan Simone merencanakan untuk mendaki sisi selatan tebing gunung Annapurna I itu melalui rute yang pernah dilewati oleh Chris Bonington dan eskpedisinya pada tahun 1970. Akan tetapi ketika mereka mencapai tepian tebing curam yang terjal, helikopter yang mengantar tiga alpinis itu tak dapat mendekat lebih jauh, badai musim dingin kombinasi salju bubuk yang berhambur mengamuk tak memungkinkan helikopter untuk mendarat. 

Setelah terpaksa turun dengan rappeling dari helikopter dan berjalan menuju kaki tebing di mana rute Bonington bermula, maka barulah Anatoli, Simone dan juga Sobolev menyadari, mereka harus merevisi rute pendakian mereka. Salju dengan ketebalan hingga empat meter di beberapa bagian telah menutupi sebagian besar dari rute Bonnington, sesuatu yang tak mungkin untuk dilewati oleh mereka.

“Kita tak mungkin melewati rute ini Toty, terlalu berbahaya..”

Simone Moro membuka gogglesnya dan memicingkan mata melihat Pillar Bonington tak jauh dari tempat mereka. Anatoli yang telah lebih dulu menyadari kondisi tersebut tidak segera menjawab, melainkan melirik ke arah Sobolev, mempertanyakan pendapat pendaki gunung sekaligus pembuat film petualangan kebanggaan Kazakhstan itu.

“How do you think Sobel?” 

Ujar Anatoli dengan logat Rusianya yang demikian payah untuk dinilai dalam aksen Inggris.

Dimitri Sobolev tak menjawab, ia hanya melirik ke arah Simone Moro sambil mengangkat kedua bahunya.

“Kalian berdua yang memutuskan, kalian pendakinya” Sobolev mengakhirinya kalimatnya dengan senyum lebar.

“Apa yang sebaiknya kita lakukan menurutmu Toty?”

Simone Moro kembali bersuara. Meskipun ia sendiri adalah pendaki besar Italia, namun di depan Anatoli, Simone selalu mengedepankan perhitungan pendaki Kazakhstan yang bahasa inggrisnya berantakan itu. Bagi Simone, Anatoli adalah pendaki terkuat yang pernah ia kenal. Pengalaman Simone selama tujuh belas tahun mendaki gunung, hanya sebanding dengan pengalaman satu tahunnya mendaki bersama Anatoli.

“Aku pikir kita akan lebih aman untuk mendaki tebing bagian timur Annapurna Fang ini (7.847 meter). Kita akan menyusuri couloir yang akan langsung membawa kita pada punggungan yang mengarah ke saddle antara puncak Annapurna Fang dan Annapurna II”

Anatoli menghentikan ucapannya sejenak, ia membentangkan gulungan kertas yang dilapisi plastik yang sejak tadi dipegangnya, kertas itu adalah peta Annapurna Range.

“Dari saddle ini kita akan traversing menyusuri punggungan ke arah Puncak Annapurna Fang, kemudian dapat melanjutkan ke target kita di Annapurna I..”

Simone Moro dan Dimitri Sobolev melangkah lebih dekat ke Anatoli. Anatoli kemudian berjongkok di atas tumpukan salju, ranselnya ia lepaskan dan peta yang tadi digenggamnya diletakkan di atas ransel sehingga Sobolev dan Moro yang ikut berjongkok pula dapat melihat benda itu lebih dekat.

“Jadi kita akan mendaki puncak Annapurna Fang lebih dulu..?” 

Sobolev kini yang bertanya, jemarinya mengikuti garis couloir yang ditunjukkan oleh Anatoli sebelumnya.

“Tidak perlu Sobel. Annapurna Fang dapat kita hindari, kita tak perlu mendakinya. Kita akan melipir terus mengikuti punggungan ini yang langsung mengarah ke puncak utama”

“Bukankah ini akan lebih sulit dan membutuhkan waktu yang lebih lama dari rencana awal?” 

Simone Moro menatap lekat ke wajah Anatoli, mempertanyakan keputusan yang dibuat sahabatnya itu barusan.

“Dibanding rute Bonington, pilihan ini memang lebih lama dan lebih teknis, namun secara objektif saya pikir rute ini lebih aman dibanding yang lain”

Sobolev dan Simone manggut-manggut, keduanya adalah pendaki yang kaya akan pengalaman dan juga mengetahui medan Annapurna, apa yang disampaikan oleh Anatoli memang adalah satu-satunya pilihan yang mereka punya jika ingin tetap mendaki Annapurna dari sisi selatan.

“Aku sepakat denganmu, rute itu akan cukup menarik aku pikir”

“Bagaimana denganmu Sobel, apa kau juga sepakat?”

“Kalian bintangnya kawan, aku hanya berurusan dengan kamera, aku ikut kalian..” 

Ucapan Sobel disambut Moro dan Anatoli dengan tawa lebar. Kata ‘bintang’ yang diucapkan oleh Sobolev terasa berlebihan, meskipun memang itu ada benarnya.

Dengan kesepakatan akan pemindahan rute baru tersebut, maka ketiga pendaki itu kemudian mulai berjalan menyusuri salju tebal ke arah kaki bagian timur dari Annapurna Fang yang masih merupakan bagian South Face dari pegunungan Annapurna. Perjalanan itu terasa kian berat karena masing-masing dari mereka harus membawa ransel dengan bobot sekitar 35 kilogram. Berjalan dengan beban seberat itu di tengah salju tebal yang beberapa bagian bisa setinggi pinggang tentu saja bukan merupakan sebuah perjalanan yang mudah.

*

 

Simone Moro Climber
Simone Moro saat ini tampil menjadi salah satu pendaki musim dingin gunung delapan ribu meter terkuat. Pendaki Italia ini telah membukukan empat first ascent puncak 8.000 meter, membuat namanya sejajar denga para ksatria es Polandia yang perkasa. Sebelum tampil menjadi pendaki besar seperti sekarang, Simone pernah beberapa kali berpartner dan ‘berguru’ dengan sang legenda Anatoli Boukreev. Sumber foto: The HimalayanTimes 

Pada tanggal 25 Desember 1997, bertepatan dengan hari natal yang dirayakan secara meriah di Eropa dan Amerika, Anatoli Boukreev, Simone Moro dan Dimitri Sobolev baru saja membuat kemajuan yang konstan dalam pendakian mereka. Ketiga pendaki itu sudah mendaki sejauh hampir 500 meter dari Camp I yang mereka bangun pada ketinggian kurang lebih 5.450 meter. Couloir yang saat ini didaki Anatoli dan dua rekannya berakhir pada sebuah punggungan yang akan mengarah pada saddle Annapurna Fang. Saat itu Simone Moro baru saja menyelesaikan salah satu pitch pemanjatan yang cukup teknis, di bawahnya Anatoli membelay Moro untuk mencegah kemungkinan ia terjatuh dan cidera.

“Simone, talinya habis. Pasang anchormu di sana dulu!” 

Teriakan Anatoli bergema di dinding selatan Annapurna, meminta Simone Moro untuk berhenti dan memasang anchor esnya. Lokasi Simone saat itu sekitar 50 sampai 70 meter dari bibir couloir yang ada di punggungan.

“Oke, aku tunggu kalian di sini!”

Moro balas berteriak menyahuti Anatoli. Di depan Moro saat ini, terbentang tebing couloir yang paling sulit untuk dilewati, sehingga ia membutuhkan bantuan dua temannya itu untuk melewatinya. Setelah memasang sebuah skup es, Simone melepaskan kedua sarung tangannya dan mengambil kamera dari dalam ransel kemudian menjepretkan beberapa lembar foto aktivitas Anatoli dan Sobolev.

Setelah merasa cukup dengan satu dua foto yang ia ambil, Simone bermaksud memasukkan lagi kamera ke ranselnya dan menggunakan sarung tangannya kembali guna mengaitkan salah satu ujung tali yang tersambung ke harnessnya pada skrup es yang baru saja ia pasang. Akan tetapi sebelum semua itu berhasil ia lakukan, telinganya menangkap sebuah gemuruh yang datang tepat dari atas kepalanya. Begitu ia menoleh, ia melihat sebuah balok es1.9 sebesar mobil SUV disertai dengan longsoran salju sedang meluncur dengan cepat ke arah posisi mereka bertiga!

“Toty, Sobel, Awas!”

Simone berteriak mengingatkan kedua rekannya, sudut matanya masih sempat melihat Anatoli dan Sobolev bergerak cepat berupaya menghindari jalur yang akan dilewati longsoran cornice. Simone sendiri saat itu berusaha berjongkok sambil memegang tali yang barusan ia kaitkan ke anchor yang baru saja selesai ia pasang.

Tak ada suara manusia lagi kemudian, tak ada teriakan balasan dari Sobolev atau pun Anatoli Boukreev, suara Simone juga tidak terdengar, semuanya ditelan oleh gemuruh longsoran salju dan balok es yang kadang berdentum menghantam bebatuan.

Dalam sekejab longsoran salju itu menerjang Simone, membawanya meluncur dengan cepat menuruni coloir curam yang baru saja ia daki. Patahan cornice sebesar mobil SUV yang memicu longsoran bergerak cepat menghindari Simone, namun mengarah tepat ke posisi Anatoli dan Sobolev berada. Simone tak dapat mengetahui hal lain lagi selain merasa tapak tangannya yang telanjang seolah terbakar hingga ke tulang karena berusaha sekuat tenaga berpegangan pada tali yang telah ia tambatkan ke anchor skrup es. 

Simone terus meluncur dengan deras, namun selama hanyut dibawa oleh longsoran, Simone berusaha untuk membuat kepalanya tetap ada di permukaan salju yang bergerak. Gerakan laksana film animasi yang mengerikan itu baru berhenti beberapa detik kemudian, ketika Simone Moro menemukan dirinya setengah terkubur di dalam salju. 50 meter dari tenda Camp I yang mereka dirikan kemarin!

Sambil berusaha mengembalikan kesadarannya Simone Moro melihat arloji di tangannya, tepat pukul 12 lebih 37 menit, dan sekarang ia telah terkapar di ketinggian 5.500 meter. Dari ketingian 5.940 meter hingga 5.500 meter, longsoran itu tidak mebutuhkan waktu satu menit untuk menyeret Simone sejauh hampir setengah kilometer!

Simone bangkit dengan sekuat tenaga, telapak tangannya terkelupas berdarah, sementara bahu dan sikunya juga begitu sakit untuk digerakkan yang menandakan bahwa kedua tangannya telah patah. Bajunya juga tercabik-cabik, semua perlengkapan yang melekat dibadannya hilang, kecuali crampon dan harnes yang masih ada di pinggang dan sepatunya.

Simone bangkit dan mulai memanggil nama Anatoli dan Sobolev berulang-ulang.

“Anatoliiii!”

“Sobellll!”

“Toty, Sobel, where aye you?!”

Hampir seperempat jam Simone Moro beteriak memanggil nama dua rekannya yang menghilang itu sambil terhuyung-huyung. Namun tetap tidak ada yang membalas teriakannya selain deru angin selatan Annapurna yang berhembus mendesau lirih di telinganya.

Simone tak yakin ia dapat bertahan lebih lama dengan kondisinya saat itu, maka ketika setelah lima belas menit berteriak memanggil nama Anatoli dan Sobolev tanpa jawaban, ia memutuskan untuk memperbaiki kondisinya yang kacau balau itu di tenda Camp pertama mereka yang hanya berjarak sekitar 50 meter dari tempat teakhir di mana longsoran maut itu berhenti menyeretnya. Moro mengganti pakaiannya yang tercabik-cabik dengan yang ada di dalam tenda kemudian memulai perjalanan turun ke base camp dalam kondisi tangan yang patah dan hanya satu mata yang dapat melihat.

Dibutuhkan enam jam perjalanan bagi Moro untuk mencapai base camp kembali. Di base camp ia disambut koki Nepal yang segera berlari menuju desa terdekat untuk meminta pertolongan begitu mendengar kabar yang dibawa Simone.

Sang koki itu membutuhkan waktu sepuluh jam untuk mencapai desa terdekat, dan kemudian dengan radio menghubungi seorang teman ekspedisi Anatoli dan Simone Moro dari Cho Oyu bernama Nima yang sedang ada di Kathmandu. Atas semua upaya tersebutlah, pada tanggal 26 Desember 1997, sebuah helikopter terbang ke Annapurna South Face untuk mengevakuasi Simone Moro.

Kabar tentang musibah itu sampai ke New Meksiko pada tanggal 26 Desember 1997. Dan dua hari setelahnya, Linda Wylie segera berangkat terbang ke Nepal untuk mencari tahu lebih jauh apa yang telah terjadi dengan kekasihnya.

Beberapa kali upaya untuk mencapai lokasi longsoran di atas Camp I dilakukan menggunakan helikopter, namun cuaca ekstrim akhir Desember yang parah selalu berhasil mencegah tim rescue mencapai Camp I. Pada tanggal 3 Januari 1998, tim pencari berhasil mencapai Camp I dan menemukan tenda yang tak berpenghuni dan tidak ada tanda-tanda ada orang lain yang pernah mengunjunginya selain Simone Moro seminggu sebelumnya.

Menyadari bahwa sudah tidak ada lagi harapan, dengan segala kepedihan dan duka cita, sore harinya di Kathmandu, Linda Wylie mengeluarkan pernyataan yang suram.              

“Ini adalah akhirnya, tidak ada harapan lagi untuk menemukannya (Anatoli) dalam keadaan hidup”

Dunia mountaineering begitu berduka telah kehilangan salah satu ksatria sejati dalam sejarah alpinis modern. Pencapaiannya, pemikirannya, aksi dan tindakannya tertanam lekat dalam benak orang-orang yang ada di dekatnya. Anatoli Boukreev adalah pendaki gunung dengan semangat alpinisme tradisional yang sejati. Di Himalaya ia membuat aktivitas pendakian gunung tetap bertumbuh dan berkembang, sesuatu yang dianggap pesimis oleh beberapa pendaki besar lainnya.

Anatoli yang sembilan bulan sebelumnya telah memperoleh firasat mimpi akan detail kematiannya, pada akhirnya harus mengakui bahwa mimpinya adalah pertanda yang benar. Hanya saja yang menjadi pertanyaan dalam mimpi tersebut adalah di gunung yang manakah pendakian terakhirnya nanti akan terukir

Dan tepat pada hari natal, sembilan bulan setelah mimpi tersebut dihadirkan, sekarang  pertanyaan Anatoli telah terjawab, gunung itu ternyata adalah Annapurna...

***

 Artikel ini dikutip secara utuh dari buku MAUT DI GUNUNG TERAKHIR karya Anton Sujarwo. Informasi lengkap tentang buku-buku mountaineering karyanya dapat dilihat di sini.

anatoli boukreev pendaki
 “Gunung bukanlah gelanggang di mana saya dapat mencapai ambisi saya untuk mencapai puncaknya, mereka adalah katedral (tempat ibadah) di mana saya bisa menjalankan agama dan keyakinan saya” Kalimat tersebut adalah quote yang diucapkan Anatoli dan kemudian diukir di atas chortennya di base camp Annapurna. Sumber Foto: Wikipedia

 

Anatoli Boukreev popular climb:

  • Solo first ascent Lenin Peak tahun 1987
  • First traversing Kangcenjunga Massif tahun 1989
  • Speed record pendakian Denali melalui rute West Rib tahun 1990
  • Speed record pendakian Dhaulagiri tahun 1995
  • Speed record pendakian Lhotse secara solo tahun 1996
  • Pendakian Everest tahun 1996, menjadi guide Mountain Madness dan berhasil menyelamatkan nyawa beberapa pendaki yang terjebak badai di South Col.

·Tribute and legacy

  • The Climb: Tragic Ambition on Everest, ditulis oleh Anatoli Boukreev dan Gary Weston DeWalt
  • Above the Clouds: The Diaries of a High Altitude Mountaineer, ditulis oleh Anatoli Boukreev dan diedit oleh Linda Wyllie.

Footnote:

  • Tertinggi diantara semua guide Mountain Madness yang lain saat itu.
  • Atas izin dari Scott Fischers juga.
  • Aconcagua 1992, Denali 1992, Vinson Massif 1993, Elbrus 1993, Kilimanjaro 1993, Kosciuszko 1994 dan Puncak Jaya pada 1995.
  • Seperti kasus Hermann Buhl yang bertahan dibawah puncak Nanga Parbat pada pristiwa first ascent. Atau kasus Dougal Haston dan Doug Scott yang bertahan 30 meter dibawah puncak Everest dalam bivak darurat yang berakhir tanpa cidera.
  • Pendaki gunung dari Italia yang juga ikut menjadi tim Anatoli pada pendakian di Lhotse saat Vladimir Bashkirov tewas.
  • Tempat di mana Vladimir Bashkirov tewas.
  • Khususnya di Amerika.
  • Terutama pada musim dingin.
  • Cornice yang patah.

 

 


No comments:

Post a comment

Tulisan Terbaru

PEMUNCAKAN DAN TRAGEDI DI GUNUNG PALING SULIT DI DUNIA

Gunung K2 yang merupakan gunung tertinggi ke-2 di dunia dan merupakan satu-satunya gunung 8.000 meter yang belum tersentuh puncaknya pa...