Monday, 29 June 2020

Clara Sumarwati: Dewi Gunung Indonesia Yang Menembus Batas

arcopodojournal

Untuk mendapatkan pengakuan, seorang pendaki gunung perempuan harus bekerja lebih keras daripada kebanyakan pendaki pria -Alison Jane Hargreaves

 

Artikel ini dikutip dari buku berjudul DEWI GUNUNG karya Anton Sujarwo. Informasi bukunya dapat dilihat disini.

 

Meskipun usia saya dan Clara Sumarwati terpaut hampir dua puluh tahun, saya lebih senang memanggil beliau dengan panggilan Mbak. Walaupun banyak orang memanggilnya dengan sebutan ibu, bunda, atau yang lain, namun saya merasa memanggil beliau dengan sebutan Mbak lebih tepat. Hal ini sama seperti saya memanggil Syamsirwan Ichien (salah satu tokoh senior MAPALA UI) dengan sebutan Mas, walau mungkin dari sisi usia, ia jauh lebih tinggi daripada saya dan banyak orang yang sudah memanggilnya dengan sebutan Om.

Cara memanggil seperti ini bagi saya lebih nyaman, lebih menyiratkan bahwa semangat petualangan dan gunung tidak akan pernah menua di dalam raga orang-orang yang mendekapnya. Usia boleh bertambah, raga boleh bertambah renta, namun semangat kepada gunung selalu muda, membara dan tetap menyala.

Saya sejauh ini sudah tiga kali bertemu dan ngobrol langsung dengan Mbak Clara. Pertama ketika ada acara talkshow tentang Srikandi yang diadakan oleh UPN Veteran, yang kedua saat saya bertamu ke rumah beliau dan, yang ketiga adalah saat saya memenuhi undangan beliau untuk menghadiri launching bukunya (Indonesia Menjejak Everest),  yang kesemuanya bertempat di Yogyakarta.

Lalu dengan tiga pertemuan ini apa yang bisa saya sampaikan tentang Mbak Clara? Sebenarnya belum banyak, namun saya ingin mengatakan dengan lugas dalam buku ini bahwa Mbak Clara Sumarwati adalah sosok penting dalam sejarah mountaineering di Indonesia, dan pencapaiannya di Everest pada tahun 1996 adalah kebenaran yang sejati.

>>> KLIK TAUTAN INI UNTUK MENDAPATKAN BUKU-BUKU PENDAKIAN GUNUNG TERBARU & TERPOPULER DI INDONESIA <<<

Dalam setiap pertemuan dengan Mbak Clara, saya kadang selalu menyelipkan satu dua pertanyaan yang pernah saya tanyakan dalam pertemuan sebelumnya. Dan jawaban yang beliau sampaikan selalu konsisten, bahkan hingga detailnya sekali pun. Hal ini menjadi catatan menarik bagi saya untuk memperkuat lagi argumentasi bahwa beliau adalah sosok yang benar-benar mencapai puncak dalam ekspedisi Everest tahun 1996. Sementara beberapa pendapat yang masih meragukan pencapaian beliau, saya sarankan untuk membaca buku Indonesia Menjejak Everest yang merupakan buku yang berisi fakta-fakta orisinilitas pendakian mbak Clara yang dihimpun dari berbagai media massa kala itu.

Mbak Clara adalah sosok pendaki gunung berprestasi, ia pernah mengikuti ekspedisi Annapurna dan Aconcagua, selain tentu saja di Everest. Namun bagaimana pun juga, pencapaian tertinggi seorang Clara Sumarwati adalah memang ada di Everest tahun 1996 itu. Ada banyak hal yang istimewa terkait dengan pencapaian ini, bukan hanya sekedar pencapaian titik tertinggi bumi oleh srikandi ibu pertiwi.

Secara umum, apa yang Clara Sumarwati capai di Everest tahun 1996 melingkupi beberapa hal sebagai berikut;

  • Orang Indonesia pertama yang mencapai puncak Everest.
  • Wanita pertama dari Indonesia yang mencapai puncak Everest.
  • Pendaki gunung dari Asia Tenggara pertama sekaligus wanita dari Asia Tenggara pertama yang mencapai puncak Everest.
  • Wanita ke-37 di dunia yang mencapai puncak Everest secara keseluruhan.
  • Pendaki gunung ke-837 yang mencapai puncak Everest baik dari kategori pria maupun wanita.
  • Pendaki wanita ke-6 secara keseluruhan yang mencapai puncak Everest melalui sisi utara yang terkenal lebih teknis.

Apa yang telah dibukukan oleh Mbak Clara dalam pencapaiannya ini adalah sebuah prestasi monumental yang sangat luar biasa. Sebelum kedatangan Mbak Clara, baru ada 36 orang perempuan yang telah berhasil menjejakkan kaki mereka di Everest, dari Junko Tabei sampai Catherine O’Dowd.

arcopodojournal
Catherine O'Dowd menjadi pendaki gunung wanita pertama di dunia yang memuncaki Everest dari dua sisi sekaligus, Utara dan Selatan. Tahun pendakian 1996, Catherine juga datang ke Everest. Bahkan Bruce Herrod, rekannya, tewas di Everest tahun itu. Dan kita tahu, tahun 1996 juga tahun yang penting bagi Indonesia, karena Clara Wati juga mencapai puncak Chomolungma pada tahun tersebut. (source-Google image)

Ini jika kita perhatikan lebih lanjut merupakan masa dimana para pendaki perempuan di dunia sedang ada dalam kancah kompetisi untuk menjadi yang pertama dari negara mereka masing-masing. Lihat saja nama Aracelli Segarra Roca yang ada pada posisi 812 secara keseluruhan yang juga merupakan pendaki wanita pertama dari Spanyol yang mencapai puncak Everest. Atau pada nomor 831 dimana nama Catherine O’Dowd bertengger, ia juga ia adalah pendaki perempuan pertama dari Afrika Selatan yang mencapai puncak Everest.

Atau jika agak mundur sedikit lagi pada urutan 684 secara keseluruhan, atau nomor 31 untuk pendaki perempuan, kita akan menemukan nama besar Alison Jane Hargreaves. Sementara nama lain seperti Charlotte Fox, Lene Gammelgard, dan juga Yasuko Namba akan mengisi daftar 32, 33 dan juga 34 dalam list summiter perempuan di Everest ini. Bukankan nama-nama itu tadi sangat familiar di dunia mountaineering, terutama terkait dengan musibah yang terjadi tanggal 10 Mei 1996 dimana Rob Hall dan Scott Fischer juga tewas di Everest.

Lalu apa yang ingin saya sampaikan dengan mengumbar nama-nama dan data ini? Apa hubungannya dengan Mbak Clara Sumarwati dari Indonesia?


Sebenarnya tidak ada relevansi apa-apa. Akan tetapi dengan menyebutkan data-data ini saya ingin mengatakan bahwa pencapaian Mbak Clara pada tahun 1996 itu, adalah pencapaian yang besar, yang fantastis, yang masa itu masih merupakan periode kompetisi mountaineering yang masih ‘menggila’ di Everest. Kompetisi first ascent dalam ukuran negara di Everest untuk kaum perempuan masih berkecamuk, bahkan Spanyol dengan banyak para pendaki terbaik di dunia, baru berhasil mengantarkan pendaki gunung perempuan pertama mereka pada tahun yang sama dimana Mbak Clara mencapai Everest.

Jadi yang paling ingin saya soroti adalah semangat pioneering Mbak Clara yang luar biasa. Dengan segala keterbatasan dan rintangan, ia tetap maju berjibaku dalam kompetisi para pendaki perempuan dunia untuk bisa mencapai puncak Everest sebagai yang pertama mewakili negara mereka masing-masing, dalam konteks ini tentu saja adalah Indonesia. Dengan kata lain saya ingin menyampaikan pula bahwa semangat pioneering untuk mengibarkan sang merah putih di kutub ketiga dunia yang dimiliki oleh Mbak Clara, mungkin jauh lebih besar dari pencapaian itu sendiri.

Prestasi mbak Clara ini semakin menarik ketika kita meihat bahwa ia menggunakan rute North Col atau sisi Tibet. North Col secara teknis berada di atas South Col atau sisi Nepal. Dan karena alasan itu, sebelum kehadiran mbak Clara hanya ada 5 orang perempuan yang sukses melalui rute itu hingga ke puncak Everest yakni; Phanthog dari China tahun 1975, Sharoon Wood dari Kanada tahun 1986, Guisang dari China tahun 1990, Hsiu Chen Chiang dari Taiwan tahun 1995, dan Alison Jane Hargreaves dari Inggris, juga tahun 1995.

Dari nama-nama ini memang hanya Alison Jane yang melakukan pendakiannya secara solo, tanpa tabung oksigen dan juga tanpa sherpa. Sementara yang lain, termasuk Mbak Clara sendiri, menggunakan segala support itu dalam pendakian mereka.

Penulis bersama Clara Sumarwati saat mengunjungi kediamannya di Jogjakarta pada tahun 2019.

Prihal Kontroversi

Menerangkan hal yang sama berulang-ulang tentu saja bukan hal yang menyenangkan untuk dilakukan. Oleh karena itu kita mungkin akan mendengar hal yang sama terkait dengan banyak kontroversi yang terjadi di dunia ini. Jawaban lelahnya menjelaskan kontroversi, akan di dengar baik dari Oh Eun Sun mau pun dari Edurne Pasaban, saat keduanya diminta menjelaskan siapa perempuan pertama yang berhasil mencapai 14 puncak tertinggi di muka bumi pertama kali. Walau tidak begitu sama permasalahannya, saya kira Mbak Clara juga sama lelahnya menjawab pertanyaan orang-orang yang masih penasaran tentang status pendakian yang ia lakukan di Everest pada tahun 1996 tersebut.

Namun bagaimana pun juga dalam membahas sosok mbak Clara, prihal kesangsian dan kontroversi ini harus disampaikan juga. Bahwa memang ada sebuah masa sulit yang dialami oleh mbak Clara dimana orang-orang meragukan pencapaian yang ia lakukan. Masa sulit ini tidak mudah baginya, dan bisa jadi merupakan noktah bagi sejarah mountaineering tanah air. Adanya orang-orang yang meragukan pencapaian yang ia lakukan karena ia adalah seorang wanita tentu saja sangat kita sesalkan. Tapi memang tidak pula dapat kita nafikan bahwa, wanita dalam banyak sisi kehidupan, mengalami dilematik dan tantangan yang tidak mudah.

Point utama keraguan terhadap pencapaian Mbak Clara adalah karena ia tidak memiliki foto puncak Everest yang dapat dijadikan hujjah otentik pencapaiannya. Hal ini membuat orang-orang yang mungkin memang tidak berharap ia sebagai orang pertama dari Indonesia yang mencapai puncak dunia, melayangkan tuduhan bahwa Mbak Clara telah mengklaim pemuncakan yang tidak benar. Dalam bahasa yang lebih kejam, hal ini seperti sedang menuduh Mbak Clara membuat pengakuan palsu tentang puncak gunung yang sebenarnya tidak ia raih.

Lalu, benarkah demikian? benarkah ketiadaan foto summit itu adalah bukti bahwa tuduhan itu memiliki alasan?

Dalam catatan mountaineering sepanjang sejarah, khususnya tahun-tahun masa pendakian Mbak Clara di Everest (1990-an), memang ada dua alat bukti paling otentik untuk memverifikasi pencapaian seseorang di puncak gunung. Alat bukti yang pertama adalah foto, dan alat bukti yang kedua adalah saksi mata.

Jika kedua bukti ini lengkap, maka paripurnalah pencapaiannya, dalam hal ini berarti diakui dan dibenarkan. Sementara jika salah satu buktinya kurang, itu juga tidak begitu dipermasalahkan selama satu bukti yang ia miliki memiliki kekuatan yang tinggi. Akan tetapi jika bukti yang dimiliki tidak ada di antara dua ini, maka pemuncakan memang layak untuk dipertanyakan keabsahannya.9.1

Kisah pemuncakan tanpa saksi mata dapat dengan mudah kita temui pada berbagai catatan pendakian solo pada masa-masa itu. Alison Hargreaves tahun 1995, atau yang paling familiar Reinhold Messner tahun 1980. Sementara pemuncakan dengan saksi mata dan tanpa foto misalnya  dapat pula kita lihat pada peristiwa first ascent Gasherbrum II tahun 1956 oleh tim Austria yang terdiri dari Fritz Moravec, Joseph Larch dan, Hans Willenpart.

Dari ketiga pendaki ini, hanya Moravec yang tidak memiliki foto saat di puncak sehingga muncul kemudian pertanyaan yang meragukan apakah ia sampai puncak atau tidak. Dan keraguan ini baru tuntas pada tanggal 23 September 1995, atau 39 tahun setelah pendakian itu sendiri dilakukan. Moravec menuntaskan keraguan itu dengan sebuah pidato detail pemuncakannya di hadapan forum Himalayan Mountaineering di kota Wina.9.4

fritz moravec
Fritz Moravec (tengah), pendaki Austria yang juga sempat diragukan pencapaian first ascentnya di Gasherbrum II karena tidak memiliki foto saat summit. (pinterest)

Jika kita perhatikan ini lebih jauh, kasusnya mirip dengan apa yang menimpa Mbak Clara Sumarwati. Moravec memiliki saksi mata tapi ia tidak memiliki foto. Saksi matanya adalah Joseph Larch dan Hans Willenpart, rekan mendakinya sendiri. Clara Sumarwati pun demikian, ia mungkin memang tidak memiliki foto di puncak yang diinginkan orang-orang, tapi ia memiliki saksi mata.

Siapa saksi mata itu? Tidak tanggung-tanggung, ada 5 sherpa yang menemani Mbak Clara saat itu, dan salah satunya adalah Kaji Sherpa yang sekaligus bertindak sebagai sirdar. Dan dalam berbagai kesempatan, juga tertera dengan sangat lengkap dalam bukunya9.3, Kaji Sherpa memverifikasi bahwa Clara Sumarwati dari Indonesia pada tanggal 26 September 1996, benar-benar telah mencapai puncak Everest. Bagi sahabat pembaca yang masih tetap menyimpan keraguan tentang hal ini, saya sarankan untuk memiliki dan membaca buku putih Clara Sumarwati tersebut.

Saya pribadi masih memiliki ‘hutang’ kepada Mbak Clara untuk menuliskan pendakian beliau dalam bahasa biografi yang lebih bebas, yang lebih bergaya novel sehingga lebih mudah untuk dicerna semua kalangan. Mudah-mudahan dalam waktu dekat saya bisa mulai menuliskannya.

Bagi saya, pioneering Mbak Clara dalam aktvitas mountaineering di Indonesia memiliki arti yang sangat bernilai. Ia tidak hanya mampu menembus batas keterbatasan, namun juga mampu mengukir keteladanan dan ketangguhan seorang perempuan Indonesia. Untuk semua dedikasinya ini, untuk keteladanan semangat juang yang ia miliki, tidak ada sosok yang lebih pantas berada di daftar teratas srikandi merah putih buku ini, selain nama beliau.

 

Pencapaian dan Warisan

  • Orang Indonesia pertama, perempuan Indonesia pertama, pendaki gunung Asia Tenggara pertama yang mencapai puncak Everest pada 26 September 1996.
  • Mencapai puncak Aconcagua pada tahun 1993 bersama Aryati dan Jonetje Wanbrau.

Buku

  • Indonesia Menjejak Everest (kumpulan kliping dan berita) di susun oleh Furqon Himawan, rilis tahun 2019.

 


Footnote:

9.1     Saat ini alat bukti ini bisa dilengkapi lagi dengan altimeter atau pun GPS track record yang dapat dibawa hanya pada jam tangan sang pendaki.

9.2     Kisah dan sejarah lengkap first ascent Gasherbrum II dapat dibaca pada buku saya yang berjudul Mahkota Himalaya.

9.3     Indonesia Menjejak Everest

 

 



No comments:

Post a Comment

Tulisan Terbaru

PEMUNCAKAN DAN TRAGEDI DI GUNUNG PALING SULIT DI DUNIA

Gunung K2 yang merupakan gunung tertinggi ke-2 di dunia dan merupakan satu-satunya gunung 8.000 meter yang belum tersentuh puncaknya pa...