Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2020

Gunung Kuburan Para Pemberani

  Dalam buku Maut di Gunung Terakhir, saya menguraikan kisah 10 pendaki gunung terbaik dunia yang tewas di atas gunung. Sepuluh nama para pendaki gunung ini saya bagi dalam sembilan kisah yang dianggkat. Dibuka dengan kisah Anatoli Boukreev di Annapurna South Face, dan ditutup pula dengan kisah Alexander MacIntyre yang juga tewas di Annapurna South Face. Di antara dua kisah pembuka dan penutup jilid pertama buku One Last Climb tersebut, ada kisah luar biasa dari yang lain, misalnya; George Mallory dan Irvine Andrew yang hilang di Everest, kisah Jerzy Kukuczka yang terjatuh di Lhotse South Face, Kisah Jean Christophe Lafaille yang lenyap di Makalu, kisah Tomaz Humar yang terjebak di Langtang Lirung, dan lain sebagainya. Karena ditulis serangkai, maka gaya bercerita buku Gunung Kuburan Para Pemberani ini tidak begitu banyak perbedaannya dengan Maut di Gunung Terakhir. Dengan penyesuaian data yang bersumber pada referensi terpercaya, saya membuat sebuah master atau major kisahnya. Sel

Clara Sumarwati: Dewi Gunung Indonesia Yang Menembus Batas

Untuk mendapatkan pengakuan, seorang pendaki gunung perempuan harus bekerja lebih keras daripada kebanyakan pendaki pria - Alison Jane Hargreaves   Artikel ini dikutip dari buku berjudul DEWI GUNUNG karya Anton Sujarwo. Informasi bukunya dapat dilihat disini.   Meskipun usia saya dan Clara Sumarwati terpaut hampir dua puluh tahun, saya lebih senang memanggil beliau dengan panggilan Mbak. Walaupun banyak orang memanggilnya dengan sebutan ibu, bunda, atau yang lain, namun saya merasa memanggil beliau dengan sebutan Mbak lebih tepat. Hal ini sama seperti saya memanggil Syamsirwan Ichien (salah satu tokoh senior MAPALA UI) dengan sebutan Mas, walau mungkin dari sisi usia, ia jauh lebih tinggi daripada saya dan banyak orang yang sudah memanggilnya dengan sebutan Om. Cara memanggil seperti ini bagi saya lebih nyaman, lebih menyiratkan bahwa semangat petualangan dan gunung tidak akan pernah menua di dalam raga orang-orang yang mendekapnya. Usia boleh bertambah, raga boleh bertamba

Elizabeth Hawley, Nenek Tua Penguasa Dunia Mountaineering Himalaya

Dalam ukuran keabadian, pena dan tulisan tentu saja lebih kuat daripada pedang, lebih kokoh daripada batu, dan lebih berpengaruh daripada kekuasaan. Sebagai bagian terakhir dari daftar utama Dewi Gunung saya akan menempatkan satu nama dengan sosok yang menarik dan unik. Ia mungkin saja tidak pernah mencapai puncak gunung mana pun, tidak pernah memasang crampon di bawah tapak sepatunya, tidak pernah melingkarkan harness pada pinggangnya, dan juga tidak pernah mengayunkan kapak es untuk mendaki gunung-gunung populer di dunia. Lantas jika demikian, apa istimewanya ‘perempuan tua’ dengan barisan buku-buku tebal di belakangnya itu? >>> KLIK TAUTAN INI UNTUK MENDAPATKAN BUKU-BUKU PENDAKIAN GUNUNG TERBARU & TERPOPULER DI INDONESIA <<< Dalam dunia pendakian gunung atau mountaineering di Himalaya, pena Elizabeth Hawley jauh lebih ‘tangguh’ dari pada kapak es mana pun.   Pulpen dan kertas yang menemani hari-harinya adalah canvas sang legenda ini dala

Pendaki Gunung Penakluk Para Raksasa

Lionel Terray lahir pada 25 Juli 1921 di kota Grenoble, Perancis. Sebelum tumbuh menjadi salah satu pendaki gunung Perancis yang paling produktif dan legendaris, Terray pernah ikut berpartisipasi membela negaranya dalam kecamuk perang dunia kedua melawan Jerman. Dalam tugasnya sebagai seorang prajurit ini, Lionel bertemu dengan Gaston Rebuffat, legenda alpinisme lain dari Perancis yang disebut-sebut sebagainya ‘sufinya para pendaki gunung dunia’. Terray dan Rebuffat bertugas dalam sebuah resimen yang khusus berperang di pegunungan Alpen bernama Jeunesse et Montagne , sebuah resimen yang menekankan kemampuan pendakian gunung yang baik dalam pelaksanaan tugasnya. >>> KLIK TAUTAN INI UNTUK MENDAPATKAN BUKU-BUKU PENDAKIAN GUNUNG TERBARU & TERPOPULER DI INDONESIA <<< Setelah perang usai dan Jerman kemudian menyerah pada sekutu, Lionel Terray pindah ke Chamonix di mana kemudian ia berteman dengan Louis Lachenal, orang yang kemudian menjadi salah satu sahabat baiknya