Sunday, 31 May 2020

Profil Pendaki : Hidup Sehari Sebagai Harimau


Hiduplah pada saat ini sebagaimana yang seharusnya, karena masa lalu telah berlalu dan masa depan mungkin saja tidak akan pernah muncul” 
John Porter
 

Hidup Sehari Sebagai Harimau


Light And Fast

Tahun 1982 menjadi tahun yang berat bagi dunia mountaineering Inggris. Tahun itu menjadi tahun duka cita saat tiga orang legenda pendaki gunung mereka tewas di Himalaya. Nama Peter Boardman dan Joe Tasker yang hilang saat melakukan upaya pemuncakan di areal Three Pinnacle punggungan timur laut gunung Everest sudah mengguncang keras publik mountaineering Inggris. Namun ternyata itu belum cukup, di akhir tahun yang sama, seorang legenda lain dari negeri Britania Raya yang merupakan kiblat utama aktivitas mountaineering saat itu, juga menemui ajalnya di salah satu gunung populer Himalaya lainnya. 

Pendaki gunung Inggris yang satu ini memiliki kharismatik yang sempurna, baik dari segi fisik mau pun juga performa. Ia tampan, pandai bergaul, ramah, serta memiliki sifat-sifat sederhana yang menyenangkan banyak orang. Bahkan rambut gondrongnya yang keriting menjadi salah satu trade mark yang membuat ia kian mempesona bagi banyak orang. Ia adalah Alexander MacIntyre atau yang lebih dikenal dengan Alex MacIntyre. Seorang pendaki gunung Inggris yang bersanding dengan nama besar Voytek Kurtyka dalam urusan pionering pendakian alpine style yang cepat dan ringan di gunung-gunung besar Himalaya dan seantero dunia lainnya. 

Kepopuleran alpine style pada pendakian diberbagai pegunungan besar dunia tidak dapat dilepaskan dari nama-nama seperti Voytek Kurtyka dan Alex MacIntyre, dua nama ini adalah yang dianggap paling berjasa memperkenalkan gaya tersebut. Sumber foto: Peak69

Voytek Kurtyka9.1 adalah legenda besar dari Polandia yang menjadi tokoh utama dalam kepopuleran alpine style di  pegunungan-pegunungan besar dunia. Ia adalah orang yang mengkampanyekan sekaligus mempraktikkan gaya pendakian yang ringan, cepat dan efisien di Himalaya, Alpen, Karakorum, Pamir, Tatras dan lain sebagainya. Ringan dan cepat dalam istilah ini memiliki arti pendakian yang dilakukan hanya dengan tim-tim kecil saja9.2, dibantu oleh porter yang terbatas sebagai pembawa beban ke base camp, lebih sering tanpa sherpa dan bergerak dengan lincah dan cepat dalam upaya mencapai puncak. 

Teknis light and fast ini9.3 yang dicetuskan dan dipopulerkan oleh Voytek Kurtyka, menjadi gaya pendakian yang paling banyak diaplikasikan saat ini. Terutama untuk para pendaki gunung tradisional, atau para pendaki gunung yang bukan komersial. Dalam karier pendakiannya yang mengagumkan, Kurtyka telah mencetak ratusan rekor pendakian yang memukau. Ia pernah mendaki bersama legenda-legenda besar Polandia lainnya seperti Jerzy Kukuczka, Andrzej Zawada dan yang lainnya. 

Salah satu pencapaian Kurtyka yang dianggap paling besar adalah pendakiannya bersama Robert Schauer dari Austria di Tebing Bersinar (Shinning Wall) Gunung Gasherbrum IV pada tahun 1985. Pendakian ini meskipun tidak mencapai puncak, mampu melintasi bagian paling sulit di gunung itu dengan tetap mempertahankan teknik light and fast yang menjadi gagasan Kurtyka. Sehingga atas berbagai pertimbangan, Climbing Magazine mengklaim bahwa pendakian Kurtyka dan Schauer di Shinning Wall adalah pencapaian mountaineering terbaik pada abad ke-20. Sebagai bagian dari penghormatan atas pioneering dan prestasi Kurtyka, tahun 2016 ia dianugrahi Piolet d’Or for lifetime achievement award9.4. Sebuah penghargaan yang juga diberikan kepada nama-nama besar seperti Walter Bonatti, Reinhold Messner, Jeff Lowe dan yang lainnya.

Bersama Voytek Kurtyka dalam merilis gagasan alpine style in the great range, ada sosok Alex MacIntyre yang juga memiliki prestasi tak kalah mengagumkan. Ia pernah beberapa kali mendaki bersama Kurtyka sendiri di Himalaya. Alex MacIntyre dan Voytek Kurtyka adalah sahabat satu visi yang memiliki kedekatan emosional yang kuat. Meskipun berbeda negara dan bahasa, namun mimpi keduanya untuk memkampanyekan pendakian yang light and fast di Himalaya membuat nama mereka tak dapat dipisahkan dalam catatan sejarah pendakian gunung. Kedekatan yang terjalin di antara Kurtyka dan MacIntyre ini kemudian diperkuat dengan sebuah pendakian Gunung Gasherbrum I dan Gasherbrum II pada tahun 1983 yang dilakukan oleh Voytek Kurtyka dan Jerzy Kukuczka dalam rangka mengenang Alex MacIntyre yang menjadi sahabat mereka. 
 
The Shinning Wall atau Tebing Bersinar Gasherbrum IV dimana Voytek Kurtyka dan Robert Schauer membuat pendakian paling mengagumkan abad 20, seperti narasi yang disampaikan Climbing Magazine. Garis hitam pada foto adalah rute dan camp pendakian mereka. Sumber foto: American Alpine Journal

Pendakian dua rute baru yang dibuat oleh Kurtyka-Kukuczka pada saat itu kemudian diberi nama dengan Polis MacIntyre Memorial Expedition. Kehadiran nama Jerzy Kukuczka dan Voytek Kurtyka yang secara khusus melakukan pendakian dua rute baru di dua gunung delapan ribu meter secara single tour merupakan bukti yang kuat bahwa meskipun masih sangat muda9.5, MacIntyre sangat dicintai dan dihormati oleh rekan-rekannya. 

Saat ini teknis dan gaya pendakian light and fast telah memiliki banyak perkembangan, namun secara umum tidak bergeser dari definisi awal yang dipraktikkan oleh orang-orang seperti Alex MacIntyre dan Votyek Kurtyka yang menjadi penggagasnya. Pendakian light and fast akan meninggalkan semua perlengkapan kecuali gear-gear minimum yang memang diperlukan selama perjalanan untuk mencapai tujuan yang diasumsikan. 

Pada praktiknya, gaya light and fast juga harus didukung oleh dua faktor krusial lainnya yaitu; fit and experience. Jadi seorang pendaki gunung yang ingin melakukan pendakian yang cepat dan ringan9.6 harus memiliki dua faktor tersebut sebelumnya; yakni kondisi kesehatan yang prima, dan juga pengalaman yang cukup. Tanpa didukung oleh kesehatan yang fit, pendakian yang paling mudah pun akan terasa sangat berat dan berisiko, paparan cuaca ketinggian akan membuat rentan pendaki yang tidak memiliki fisik yang fit atau prima. 

Sementara tanpa pengalaman, pendakian menjadi sesuatu yang berbahaya meskipun tubuh pendakinya sangat kuat dan prima. Teori dan kenyataan semacam ini senada dengan apa yang disampaikan oleh Anatoli Boukreev saat pendakiannya di Lhotse9.7, bahwa pendaki yang kuat9.8 namun tanpa pengalaman, akan memiliki risiko untuk tewas lebih besar dari para pendaki lemah yang tidak berpengalaman. Sementara ada juga beberapa pendapat yang mengatakan teknik light and fast adalah gaya mendaki yang ‘unsafe’ alias tidak aman. Istilah lain untuk menggambarkan gaya ini adalah ‘cara melakukan pendakian gunung yang mempercepat kematian’.

Alex MacIntyre yang menjadi bagian penting dari lahirnya teknik light and fast dalam mountaineering di gunung-gunung tinggi Himalaya ini, lahir pada tahun 1954 di kota Cottingham, Inggris. Pengalaman pertama MacIntyre mendaki gunung diperolehnya saat bersekolah dasar. Kemudian bakat ini semakin diasahnya ketika bergabung dengan London Mountaineering Club. Saat menjadi mahasiswa di Leeds University, MacIntyre juga bergabung dalam LUMC atau Leeds University Mountaineering Club dan melakukan banyak pendakian di Yorkshire. MacIntyre juga meningkatkan pengalaman dan pengetahuannya tentang winter climbing dan ice climbing dengan mendaki ke Skotlandia. Dan pada tanggal 14 Maret 1975, untuk yang pertamakalinya Alex MacIntyre membukukan sebuah lompatan dalam cikal bakal karir mountaineeringnya dengan mendaki solo dua rute baru (Zero Gully dan Point Five) di gunung Ben Nevis, puncak setinggi 1.345 meter yang merupakan bagian tertinggi dari kepulauan British Isles. 

Sejak menunjukkan kompetensi dan bakatnya yang luar biasa dalam mountaineering, MacIntyre telah menunjukkan tanda-tanda jiwa seorang pioneering. Di saat yang lain masih berkutat dengan pendakian berbasis ekspedisi dengan pergerakan yang lambat, berbiaya besar, dan juga cenderung rumit, MacIntyre mulai melakukan pendakian yang lebih progresif dengan kombinasi pendakian yang lebih kecil, lebih cepat, dan juga efisien. Di antara berbagai inovasi dan pembaharuan yang dilakukan oleh MacIntyre adalah kemahirannya dalam menggunakan crampon model two slanting spikes atau crampon dengan dua cakar di bagian depan sepatu. Crampon model ini memungkinkan para pendaki es memanfaatkan efek konsentrasi ujung crampon dalam gerakan mereka, baik saat naik atau traversing. Dengan begitu seorang pendaki yang menggunakannya dapat bergerak lebih cepat dan juga efisien.
 
Kemampuan MacIntyre terkait dengan aplikasi gaya light and fast dan juga keefektifan penggunaan crampon two front spikes dibuktikannya dengan melakukan pendakian pilar es di Grandes Jorasses hanya dalam waktu satu hari, sesuatu yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Efektifas ini kemudian diteruskan kembali oleh MacIntyre saat ia berhasil melakukan pendakian John Harlin Direct Route di gunung Eiger bersama dengan Tobin Sorenson dari Amerika Serikat. Pendakian MacIntyre dan Sorenson pada tahun 1977 di Eiger North Face ini tercatat sebagai pendakian alpine style pertama menggunakan rute Eiger Direct yang dirintis oleh John Harlin. Sebelumnya rute itu hanya bisa didaki dengan teknis expedition style atau siege team oleh orang-orang yang mengunjunginya.

Dalam penampilannya yang berantakan seperti seorang bintang rock, MacIntyre memiliki seorang teman dekat sesama pendaki dari Inggris yang cukup sering menemaninya dalam berbagai perjalanan dan petualangan gila ke seluruh dunia. John Porter yang di kemudian hari menjadi orang yang menuliskan biografi Alex MacIntyre, menjadi salah satu sahabat dekat yang menemani petualangan dan pioneeringnya dalam mempopulerkan gaya light and fast selain nama Voytek Kurtyka yang lebih terkenal. 

Layaknya anak muda yang penuh adrenalin dan berjiwa penjelajah, MacIntyre dan Porter banyak melakukan petualangan yang menegangkan ke berbagai gunung besar dunia. Keduanya bahkan pernah ditangkap oleh pemerintah Rusia karena menggunakan idenditas palsu saat melakukan pendakian ke Kohe Bandaka di Pegunungan Hindu Kush. 
 
alpine style
Para pendaki masa eksplorasi Himalaya yang konsisten dan teguh mempertahankan konsep alpine style. Dari kiri ke kanan; Voytek Kurtyka, Krzysztof Zurek, John Porter dan Alex MacIntyre. Diantara empat sosok ini, nampaknya MacIntyre dan Kurtyka lebih banyak dikenal. Sumber foto: Pinterest

Alex MacIntyre juga adalah sosok yang siap melakukan apa pun untuk memenuhi obsesinya ke Himalaya. Ia pernah menjual semua barang miliknya9.9 untuk bisa sampai ke pegunungan Karakorum. Bersama dengan John Porter, Alex MacIntyre pernah mendaki berbagai gunung paling berbahaya di dunia, termasuk juga ke Annapurna South Face yang kemudian menjadi gunung terakhir yang dikunjungi MacIntyre.

Di Himalaya ada banyak pendakian Alex MacIntyre yang populer dan terkenal. Ia pernah membuat rute pendakian baru di Everest dalam tekanan suhu minus 50° Celcius, ia juga pernah ke Changabang, Nanda Devi dan yang lainnya. Namun di antara berbagai pendakian signifikan Alex MacIntyre di Himalaya, setidaknya pendakiannya di Dhaulagiri, Changabang, Shishapangma, dan Makalu adalah yang paling terkenal. 

Dhaulagiri dikunjungi oleh MacIntyre pada tahun 1980. Di gunung ini Alex melakukan pendakian bersama dengan Voytek Kurtyka dan Ludwik Wilczyczynski dari Polandia, ditambah satu lagi pendaki muda dari Perancis bernama Rene´ Ghilini. Johh Porter tidak dapat ikut serta dalam ekspedisi pertamakalinya di Wajah Timur Dhaulagiri ini. Sementara Rene´ Ghilini yang bergabung, merupakan undangan dari MacIntyre yang mengenalnya saat pendakian mereka di Grandes Jorasses setahun sebelumnya. Pendakiannya ini sebelumnya sempat terhenti pada ketinggian 7.500 di punggungan tenggara Dhaulagiri pada tanggal 8 Mei 1980. Akan tetapi pada tanggal 18 Mei, keempat pendaki ini berhasil mencapai puncak Dhaulagiri masih melalui Southeast Ridge di Wajah Selatan Dhaulagiri. Sebelum kedatangan MacIntyre dan ketiga rekannya, belum pernah ada pendakian Dhaulagiri South Face sebelumnya. Jadi ini adalah first ascent gunung setinggi 8.167 meter itu melalui sisi bagian tenggara.

Dua tahun sebelum pendakian mereka di Dhaulagiri South Face, Voytek Kurtyka dan Alex MacIntyre datang ke gunung Changabang untuk mencoba melakukan pendakian sisi timur yang menantang dari gunung setinggi 6.864 meter. Dalam pendakian mereka kali ini, John Porter dan seorang pendaki Polandia yang lain bernama Krzysztof ┼╗urek juga ikut serta dalam eskpedisi. 
 
Alex MacIntyre dan John Porter sedang menuruni gigir tajam Gunung Changabang setelah berhasil mencapai puncak dan membuat rute direct first ascent sisi timur gunung tersebut. Sumber foto: Planetmountain.com

Pada dasarnya, pendakian sisi timur Changabang adalah sisi gunung yang paling mudah untuk didaki, sisi ini sebelumnya digunakan Chris Bonington dan timnya saat first ascent pada tahun 1974. Namun pendakian MacIntyre dan Kurtyka pada tahun 1978 di sisi timur Changabang sama sekali berbeda dengan rute tempuh first ascent Bonington empat tahun sebelumnya. Dalam pendakian ini, empat pendaki perintis alpine style light and fast di Himalaya ini memutuskan membuat sebuah rute direttissima atau directly. 

Puncak Changabang berhasil dicapai pada tanggal 27 September 1978 oleh ekspedisi ini. Dan meskipun dilakukan dari sisi yang dianggap paling mudah, namun karena rute yang dibuat adalah rute direct, maka Direct South Face menjadi salah satu rute paling menantang yang ada di gunung Changabang. 

Empat tahun setelah pendakian rute direct di Changabang, atau satu tahun setelah pendakiannya di Dhaulagiri sisi timur, Alex MacIntyre kali ini tergabung dalam sebuah ekspedisi Inggris di gunung Shishapangma. Ekspedisi kecil Inggris yang beranggotakan tiga orang pendaki ini (Alex MacIntyre, Roger Baxter Jones dan Doug Scott) memilih sisi barat daya Shishapangma sebagai jalur naik. Ekspedisi ini sangat efisien dan efektif karena diisi oleh para pendaki besar Inggris yang memang dikenal karena prestasi, kompetensi dan juga konsistensi mereka. Tanggal 28 Mei 1982 puncak utama Shishapangma9.10 berhasil dicapai tiga orang pendaki Inggris ini dengan gaya pure alpine style. Rute yang dibuat oleh Doug Scott, MacIntyre dan Baxter Jones di Shishapangma ini kemudian lebih dikenal dengan sebutan British Route atau kadang juga disebut sebagai Right Hand Couloir.

Pendakian terakhir yang signifikan dilakukan oleh Alex MacIntyre di Himalaya adalah ketika ia bersama Voytek Kurtyka. Jerzy Kukuczka, Piotr Kintow (semua dari Polandia), Con Higgins (Inggris) dan Padam Singh (dari Nepal) mencoba wajah barat Makalu. Dalam pendakian yang berat ini hanya sang legenda Jerzy Kukuczka yang berhasil mencapai puncak seorang diri (solo) dan alpine style, sementara para pendaki lain terhenti pada ketinggian 7.940 meter dan memutuskan untuk turun karena sulitnya medan pendakian. Bahkan pada pendakian ini, Alex MacIntyre hampir saja mendapat celaka ketika sebuah bongkahan es jatuh dan menimpa kepalanya. 

Pelukan Terakhir

"Aku tak mungkin dapat ikut bersama kalian dalam kondisi seperti ini. Aku akan menunggu di base camp untuk memulihkan diri sambil menunggu kalian pulang...” 

John Porter berbicara sambil meringis menahan sakit di perutnya, sekitar tiga hari yang lalu ia terserang disentri yang membuatnya tampak demikian lemah dan pucat. 

“Maafkan kami John, kami harus meninggalkanmu untuk sementara” jawab Rene´ Ghilini dengan logat Perancisnya yang kental. 

“Cuaca hari ini cerah, langit demikian bersih, saya dan Alex tak mungkin melewatkannya” sambung Ghilini lagi. 

“No problem Rene´, aku baik-baik saja, jaga diri kalian” sahut Porter dengan cepat sambil menggeleng.

“Jika aku dan Rene´ belum berhasil mencapai puncak dalam percobaan kali ini, kurasa kau akan memiliki kesempatan untuk mencobanya pada upaya kita selanjutnya John. Tapi sekarang kau istirahatlah, sembuhkan dirimu, masakan Nepal akan bagus untuk perutmu..” 

Kali ini giliran Alex MacIntyre yang berbicara, ia mengepak ranselnya sambil sesekali menggaruk-garuk rambut gondrong keritingnya yang sudah tidak disentuh shampoo berhari-hari.

“Hahaha.. aku akan mendoakan kalian gagal kawan, supaya aku bisa ikut bergabung pada upaya selanjutnya...” Porter menjawab sambil terbahak membalas olok-olokan Alex. 

Walau bagaimanapun ia tak mungkin mendoakan kedua rekannya gagal, itu hanyalah kalimat bercanda. Sama halnya dengan ucapan Alex yang mengatakan masakan Nepal cocok untuk John Porter, karena pada dasarnya Alex tahu bahwa masakan Nepal kadang membuat Porter alergi, alih-alih akan membuatnya cepat pulih.
 
Alex MacIntyre dalam salah satu ekspedisinya di Himalaya. Reinhold Messner bahkan menyebut MacIntyre sebagai pendaki paling murni yang mempertahankan konsep pendakian alpine style di Himalaya. Sumber foto: Daily Mail

Bulan Oktober tahun 1982 telah berlalu beberapa hari, Alex MacIntyre, John Porter dan juga Rene´ Ghilini sudah hampir sebulan berada di base camp Annapurna South Face untuk mencoba mendaki salah satu dinding paling mematikan dari gunung delapan ribu meter di Himalaya ini. Ekspedisi MacIntyre dan dua temannya kali ini benar-benar low budget, mereka hanya memiliki uang sebanyak $5.500 sebagai modal keseluruhan pendakian mereka, termasuk logistik, membayar porter untuk menbawa beban ke base camp, dan lain-lain. 

Alex dan dua temannya mencapai base camp Annapurna South Face pada tanggal 15 September dan memulai proses aklimatisasi yang berat selama berhari-hari. Baru beberapa hari di base camp, Alex MacIntyre tiba-tiba mengalami sakit infeksi jari kaki yang membuatnya tidak dapat melakukan pendakian. Selama Alex sakit, Rene´ Ghilini dan John Porter mencoba mendaki beberapa pitch bagian bawah dari Annapurna South Face. 

Mulanya Ghilini dan Porter mengikuti Pilar Polandia9.11, namun kemudian berbelok ke arah kanan. Akan tetapi upaya Porter dan Ghilini terpaksa berhenti pada ketinggian sekitar 7.000 meter karena medan yang sangat berbahaya. Sinar matahari yang membakar beberapa hari itu telah membuat banyak salju dan es meleleh, membuat pendakian semakin sulit sekaligus memperbesar risiko avalanche dan patahan serac. Porter dan Ghilini memutuskan untuk membuat bivak pada ketinggian 20.000 kaki sebelum akhirnya mundur dan kembali ke base camp. 

Dengan mempertimbangkan cuaca yang lebih baik akan datang, juga sambil menunggu kaki Alex untuk sembuh, ketiga pendaki itu memutuskan untuk meninggalkan dinding selatan Annapurna sementara waktu dan berjanji untuk kembali mencobanya pada pertengahan bulan Oktober mendatang. Namun ketika mereka sudah kembali berada di base camp Annapurna South Face dan berniat melakukan percobaan pendakian lagi, kali ini giliran John Porter yang sakit. Meskipun pada awalnya John tidak begitu memperdulikan masalah perutnya, namun ketika disentri itu mulai membuatnya lesu dan pucat sepanjang hari, ia mulau meragukan kemampuannya sendiri jika tetap memaksakan diri berangkat bersama dengan Alex dan Rene´. 

Sebelumnya baik Alex MacIntyre maupun Rene´ Ghilini sudah sepakat untuk berangkat pada tanggal 10 Oktober, namun mereka mengulur waktu sehari lagi sambil berharap bahwa John Porter akan cukup pulih dan bisa ikut serta. Keberangkatan tanggal 11 Oktober menuju dinding selatan Annapurna ternyata harus ditunda lagi, pasalnya badai mengamuk selama dua hari berturut-turut. Pada tanggal 13 Oktober 1982 barulah kemudian langit bersih dan cuaca cerah di cakrawala Annapurna Selatan. Walaupun John Porter belum juga pulih dari disentrinya, namun bagi Rene´ Ghilini dan Alex MacIntyre, sudah tidak ada alasan lagi untuk menunda upaya pendakian mereka di Annapurna South Face.

“Aku pergi dulu kawan, jaga dirimu baik-baik...” 

MacIntyre berbicara sambil menepuk pundak John Porter lalu beringsut keluar dari tenda base camp, namun belum sampai ia melewati pintu tenda itu ia kembali ke arah Porter dan memeluknya. 

Meskipun agak aneh dengan sikap Alex, namun Porter menganggap itu hanya sebuah cara Alex untuk memberi semangat padanya yang tak bisa ikut bergabung melakukan upaya pemuncakan. Setelah Alex MacIntyre keluar dari tenda, John Porter memaksakan diri untuk keluar dari tenda pula guna melepas dua temannya yang akan berangkat tersebut. 

“Good luck guys!” 

Ucap John Porter melambaikan tanggannya pada sosok Alex MacIntyre dan Rene´ Ghilini yang mulai melangkah meninggalkan tenda-tenda base camp. Keduanya menoleh, balas mengangkat tangan dan melambaikannya kepada Porter, lalu melangkah semakin jauh menuju dinding Annapura South Face. John Porter melepas kepergian kedua rekannya itu sampai tubuh mereka menghilang di balik beberapa bongkah es gletser yang berserakan menghalangi pemandangan.

Dua hari setelah keberangkatan Alex MacIntyre dan Rene´ Ghilini ke dinding selatan Annapurna, John Porter menghabiskan waktunya di base camp dengan pikiran yang tidak bisa tenang. Bagaimana tidak, dua hari ini badai mengamuk sepanjang waktu di Annapurna, angin berkekuatan jet bertiup sepanjang malam. Meskipun perut dan disentri yang dideritanya berangsur mulai pulih, namun Porter lebih mengkhawatirkan kedua temannya. Bayangan kejadian dua belas tahun lalu menghantui pikirannya, ketika senior mereka di Alpinis Inggris, Ian Clough, tewas tempat yang sama. 

Tahun 1970 hari di mana ekspedisi pimpinan Chris Bonington berhasil mencapai puncak Annapurna melalui rute wajah selatan untuk yang pertamakalinya, mereka turun dalam kondisi seperti sekarang, diamuk badai yang parah dan mematikan. Sebuah serac yang runtuh dan patah karena pengaruh badai kemudian menghilangkan euphoria kemenangan ekspedisi Bonington, Ian Clough tak bisa pulang ke Inggris, ia tewas di Annapurna South Face hari itu. 

Kekhawatiran tetap ada di hati Porter meskipun ia tahu bahwa kedua temannya akan baik-baik saja. MacIntyre dan Ghilini adalah pendaki berpengalaman, penuh perhitungan, bergerak cepat dan juga tangguh. Terjebak badai di gunung adalah hal yang biasa bagi keduanya, jadi pada dasarnya tidak ada hal yang perlu terlalu dikhawatirkan oleh Porter. 

Pada sore hari tanggal 15 Oktober 1982, Porter keluar tenda dan seperti biasa memandang kearah dinding putih menjulang di hadapannya menggunakan binokular, mencari-cari tanda keberadaan kedua rekannya. Dan sore ini, “Aha itu mereka”, gunam Porter tersenyum lebar ketika di ujung binokular ia menemukan dua titik kecil yang sedang berjibaku di bawah sebuah tebing overhang. Dari base camp, posisi MacIntyre dan Ghilini berada pada pertengahan dinding selatan Annapurna, dibutuhkan jarak yang sama untuk mereka mencapai puncak mau pun turun ke base camp. Tak lama kemudian dengan segera penglihatan Porter sudah diselimuti gulita, malam mulai menutupi gunung Annapurna, membungkus dinding selatannya yang mematikan dengan kepekatan. 
 
Rene´ Ghilini berpose dengan pegunungan Himalaya di belakangnya. Ghilini adalah rekan pendakian MacIntyre yang cukup dekat selain John Porter dan Voytek Kurtyka. Sumber foto: Google

Keesokan hari saat matahari sudah muncul dan tebing Annapurna South Face sudah cukup jelas untuk ditelisik dengan lensa binokular, John Porter kembali bergegas keluar tenda dan mencari tempat yang lebih tepat untuk meneliti setiap meter tebing Annapurna dengan teropongnya. Dua titik hitam yang kemarin ia lihat sekarang sudah pindah ke arah sebuah rock band setinggi sekitar 100 kaki yang menjadi pemisah antara permukaan tebing yang sangat curam dan ladang es yang besar menuju penopang terakhir puncak Annapurna bagian timur. Dari ujung teropong, Porter melihat kedua temannya mencoba mendaki tebing curam, kemudian pindah lagi ke ladang es yang lebar, tidak lama kemudian pindah lagi ke rock band yang telah mereka lewati sebelumnya. 

Apa yang terlihat dari base camp hanya sebuah penghalang kecil untuk dilewati oleh MacIntyre dan Ghilini, sebenarnya adalah sebuah dinding batu raksasa yang kokoh dan mematikan. Sementara ladang es yang nampaknya tempat sempurna untuk menancapkan kapak es adalah sebuah tempat dengan selubung es yang begitu tipis untuk dapat dijadikan jalur naik. Porter juga tahu bahwa rock band yang mungkin lebih menjanjikan untuk dapat dipanjat oleh MacIntyre dan Ghilini, tak dapat mereka tangani ketika hanya dua anchor batu yang mereka miliki saat itu. 

Tanggal 16 Oktober 1982 sore menjelang malam, dari pengamatan terakhir yang bisa John Porter lakukan, ia menemukan bahwa MacIntyre dan Ghilini bergerak menuruni tebing untuk mendirikan bivak pada sebuah langkan di sana. nampaknya di tempat itulah keduanya akan menghabiskan malam harinya.

Jam 09:30 esok paginya, tanggal 17 Oktober 1982, John Porter kembali memulai kegiatannya untuk menelusuri dinding selatan Annapurna melalui lensa binokular. Pada moment kali ini setidaknya John Porter dapat memandu mereka untuk menemukan rute yang paling aman untuk menyeberangi couloir dan pulang ke base camp. 

Sekitar jam sepuluh pagi, dari ujung binokularnya John Porter dapat melihat dengan jelas kedua titik kecil itu sedang menyeberangi couloir yang merupakan bagian paling berbahaya dari perjalanan pulang ke base camp. Kelegaan dan rasa gembira membuat Porter tersenyum ketika melihat MacIntyre dan Ghilini berhasil melewati couloir tanpa ada kendala yang berarti. Dalam hatinya Porter membatin ia akan memiliki peluang untuk ikut mendaki pada upaya yang ketiga mereka menuju puncak Annapurna. Sesaat kemudian John Porter melihat lagi ke arah tebing, saat ini kedua rekannya sedang bergerak menuju puncak kecil di mana rute menuju base camp berada. 

Porter menurunkan binokular dari tangannya, menghisap beberapa kali rokok yang terselip pada jari-jarinya. Asap putih yang membubung keluar dari mulut Porter mengabur dari kilauan salju Annapurna. Lima menit kemudian Porter kembali mengangkat binokularnya, mengarahkan pandangannya kembali ke arah tebing Annapurna di mana ia melihat dua titik kecil berada sebelumnya. 

Tiba-tiba wajah Porter mendadak berubah pucat, hanya ada satu titik yang ia lihat di ujung binokular! entah apakah itu MacIntyre ataukah Ghilini, yang pasti titik itu seolah membeku sekarang, diam tak bergerak di atas tebing!
 
Selain berasal dari satu negara yang sama, John Porter dan Alex MacIntyre adalah dua sahabar karib yang demikian akrab. Buku One Day As A Tiger yang kemudian ditulis oleh John Porter menjadi satu-satunya sumber biografi paling lengkap sejarah kehidupan dan pendakian yang dilakukan Alex MacIntyre. Sumber foto: Sarah Hawcroft

Menyadari kondisi tersebut, Porter segera dapat menduga apa yang telah terjadi. Ia bergegas berlari ke arah base camp, memgambil perlengkapan darurat dan mengajak serta Sherpa Pinjoo yang ada di base camp saat itu.

“Ada apa, apa yang telah terjadi?” 

Sherpa Pinjoo memanggul ranselnya dengan cepat, di depannya John Porter sedang berusaha memasang crampon dengan tergesa.

“I don’t know, saya hanya melihat salah satu dari mereka tiba-tiba menghilang” 

Porter menjawab sambil berdiri dengan cepat kemudian menyambar kapak esnya dan berlari ke arah tebing Annapurna, di belakangnya Sherpa Pinjoo mengikuti langkahnya dengan tergopoh-gopoh.

Pikiran berkecamuk tak menentu dalam benak John Porter sambil berlari ke arah wajah selatan Annapurna. Butuh waktu berjam-jam setidaknya untuk mencapai kaki gunung itu dari base camp. 

Terbayang lagi di benak Porter pelukan MacIntyre pada hari sebelum mereka berangkat mendaki. Sebenarnya itu terasa aneh, belum pernah MacIntyre melakukan hal serupa selama puluhan kali mereka mendaki bersama. Tapi Porter tak ingin larut dalam kecamuk dugaan yang bukan-bukan, tidak ada yang dapat dipastikan sampai ia dapat mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Titik kecil yang membeku di ujung lensa binokularnya juga tidak dapat ia pastikan, apakah itu Alex ataukah Ghilini. Didorong oleh rasa penasaran dan secepatnya ingin mengetahui apa yang terjadi, John Porter dan Sherpa Pinjoo mempercepat langkah mereka. 

Sekitar tiga atau empat jam kemudian keduanya mencapai sebuah padang salju yang agak landai menjelang kaki wajah selatan Annapurna. Di ujung jalan bergerak sesosok tubuh yang berjalan dengan gontai ke arah mereka. Dari warna pakaian dan ransel yang ia kenakan, John Porter dan Sherpa Pinjoo sudah dapat mengetahui kalau itu adalah Rene´ Ghilini. Porter mempercepat langkahnya, hampir setengah berlari di antara salju bubuk yang membenam sebatas mata kaki, sementara Sherpa Pinjoo yang ada di belakangnya juga mengejar Porter dengan terburu. Sekitar lima belas menit kemudian John Porter dan Sherpa Pinjoo telah berhasil menyongsong Rene´ Ghilini.

“Apa yang telah terjadi, dimana Alex?”

Serbu Porter dengan suara tergesa. Matanya menemukan sebuah semburat duka dan keguncangan di balik tatapan mata Rene´ Ghilini, ia semakin yakin sesuatu yang buruk telah terjadi. 

Rene´ Ghilini yang tiba di hadapan Porter dan Sherpa Pinjoo dengan wajah lelah, muram, shock, terguncang, hanya menjawab pertanyaan John Porter dengan terisak. Sebelum John Porter atau Sherpa Pinjoo sempat bertanya lagi, Rene´ Ghilini terduduk sambil berucap.

“Alex is gone!”

John Porter tercekat, Sherpa Pinjoo pun demikian, badannya lemas tak berdaya, ia pun terduduk di samping Ghilini, sementara Sherpa Pinjoo berusaha menyodorkan air minum kepada Ghilini sebelum ia juga duduk. Tiga orang itu dirundung oleh kedukaan yang begitu mendalam ketika Ghilini yang mulai bisa menguasai dirinya perlahan menuturkan apa yang telah terjadi.

Saat mereka berdua berhasil melewati couloir yang merupakan bagian akhir paling berbahaya dari perjalanan menuju base camp, tiba-tiba sebuah batu yang terjatuh dari tebing di belakang mereka menghantam bagian belakang kepala Alex MacIntyre dengan telak. Rene´ Ghilini yang berada sekitar lima meter di belakang Alex tak mendengar teriakan Alex sama sekali, namun tubuhnya terjatuh sejauh hampir 500 meter ke jurang di bawahnya. Dalam rasa shock dan cemas bukan kepalang, Ghilini turun lebih cepat menuju kearah tubuh Alex terjatuh, berusaha untuk menjangkau Alex dan memberikan pertolongan secepatnya. Namun ketika Ghilini mencapai tempat di mana tubuh Alex MacIntyre berada, ia menemukan temannya sudah tak beryawa. 

Menurut dugaan Ghilini, kemungkinan besar hantaman batu tepat di bagian belakang kepala MacIntyre telah membuatnya tewas seketika. Tak ada yang dapat Ghilini lakukan lagi saat itu, ia tak mungkin dapat membawa tubuh Alex MacIntyre pulang ke base camp. Tubuh MacIntyre terjatuh dalam sebuah bergschrund9.12. Di tengah cuaca buruk, tubuh yang lelah, dan rasa shock yang hebat, tak mungkin Ghilini dapat membawa jenazah MacIntyre ke base camp. 

Dengan mempertimbangkan segala kondisi dan situasi, Ghilini kemudian memutuskan untuk menguburkan tubuh Alex MacIntyre di dalam bergschrund itu. Di bagian kepala makam beku MacIntyre, Ghilini menancapkan sebuah kapak es, sedang ransel Alex ia letakkan di atas makam tersebut. 

Setelah dirasa semuanya cukup, Ghilini kemudian memulai memanjat dinding bergschrund dan meneruskan perjalanannya menuju base camp. Setengah perjalanan menuju base camp, ia berpapasan dengan John Porter dan sherpaa Pinjoo yang berusaha menyusul ke tebing karena menduga sesuatu yang buruk telah terjadi berdasarkan pengamatan Porter dari ujung binokular.
*
John Porter, Ghilini, Sherpa Pinjoo dan beberapa sherpa lain berniat untuk kembali ke bergschrund di mana Ghilini telah menguburkan tubuh Alex. Namun, setelah kejadian itu Annapurna South Face diamuk badai sepanjang hari yang membuat perjalanan ke tempat itu menjadi mustahil. Longsoran salju dan kecamuk salju yang bergemuruh membuat banyak bergschrund tertutup dan seolah menghilang di kaki Annapurna. Setelah menunggu beberapa hari dan cuaca tetap tak memberi kesempatan sedikit pun, akhirnya John Porter dan Rene´ Ghilini memutuskan untuk meninggalkan Annapurna. 

Saat ini, di kaki wajah selatan Annapurna, berdiri sebuah chorten untuk Alex MacIntyre. Di atas tugu itu ditulis sebuah kalimat dari peribahasa Nepal yang artinya kurang lebih adalah; 

“Lebih baik baik menjadi harimau dalam satu hari, daripada menjadi seekor domba dalam seribu tahun”

Ungkapan itu adalah untuk MacIntyre, dialah harimau yang hidup satu hari di Himalaya itu. Dan dalam satu harinya yang singkat ia telah mengukir keberanian, tekad, ketangguhan dan juga pencapaian yang luar biasa.

***
 
Jika saja MacIntyre memiliki umur yang panjang ia akan membuat banyak pendakian penting lainnya di Himalaya. Orang-orang seperti Alex MacIntyre adalah alpinis pilihan dan yang terbaik, dan yang terbaik umumnya mati di gunung, dan itu pula yang terjadi padanya. Sumber foto: Google


Alex MacIntyre popular climb:

  • Pendakian first ascent Wajah Timur Dhaulagiri pada tahun 1980.
  • Pendakian first ascent sisi timur Changabang tahun 1978.

Tribute: 

  • One Day as A Tiger: Alex MacIntyre and the Birth of Light and Fast Alpinism yang ditulis oleh John Porter. 

Footnote:

9.1  Kadang disebut juga dengan nama Wojciech Kurtyka.
9.2 Umumnya 3 sampai 5 orang.
9.3 Yang kemudian lebih dikenal dengan istilah alpine style di Greater Range.
9.4 Penghargaan seumur hidup dari Piolet d’Or.
9.5 Alex MacIntyre berusia 28 tahun saat ia mengalami hari naas di Annapurna.
9.6 Terutama di gunung-gunung besar.
9.7 Saat dimana Vladimir Bashkirov tewas.
9.8 Prima, fit dan tangguh.
9.9 Kecuali peralatan pendakian seperti kapak es dan sepatu.
9.10 Bukan Central Peak yang biasa didaki oleh para pendaki komersial meskipun sama-sama memiliki elevasi diatas 8.000 meter.
9.11 Dibuat oleh para pendaki Polandia setahun sebelumnya.
9.12 Ceruk es yang dalam dan luas, biasanya terdapat pada bagian kaki gunung.
9.13 Tugu yang dibuat sebagai peringatan kematian seseorang.


Tulisan ini dikutip dari buku MAUT DI GUNUNG TERAKHIR karya Anton Sujarwo. Informasi mengenai bukunya dapat dilihat di sini.

Sumber referensi 
  • http://www.dailymail.co.uk/home/books/article-2843136/They-climbed-fast-lived-hard-died-young.html
  • https://en.wikipedia.org/wiki/Alex_MacIntyre
  • https://www.planetmountain.com/en/news/------/one-day-as-a-tiger-the-story-of-alex-macintyre-by-john-porter.html
  • https://www.ukclimbing.com/gear/publications/other_publications/one_day_as_a_tiger_-_alex_macintyre_and_the_birth_of_li-6570
  • http://publications.americanalpineclub.org/articles/12198324100/print
  • http://www.traditionalmountaineering.org/FAQ_Light_Fast.htm
  • http://c498469.r69.cf2.rackcdn.com/1981/45_macintyre_dhaulagiri_aaj1981.pdf
  • http://publications.americanalpineclub.org/articles/12198220701/Asia-Nepal-Makalu-West-Face-Attempts-Pre-and-Postmonsoon-Makalu-II-Kanghungtse-and-Makalu-solo


No comments:

Post a comment

Tulisan Terbaru

PEMUNCAKAN DAN TRAGEDI DI GUNUNG PALING SULIT DI DUNIA

Gunung K2 yang merupakan gunung tertinggi ke-2 di dunia dan merupakan satu-satunya gunung 8.000 meter yang belum tersentuh puncaknya pa...