Monday, 25 May 2020

Profil Lengkap Junko Tabei : Pendaki Perempuan Pertama yang Mencapai Puncak Everest


Junko Tabei

Teknik dan kemampuan saja tidak akan membuat anda mencapai puncak; tekad dan kemauan adalah yang paling penting untuk melakukannya. Dan tekad serta kemauan tidak dapat dibeli dengan uang atau diberikan oleh orang lain, ia harus terbit dari dalam hatimu sendiri... 

Junko Tabei

 

Bagaimana pun juga, Everest sebagai puncak gunung tertinggi di muka bumi adalah podium paling kuat yang menarik nama Junko Tabei sebagai salah satu pendaki gunung perempuan paling populer dan menginspirasi sepanjang sejarah. Ini akan membuat sebuah perspektif yang sedikit berbeda di mana Tabei yang adalah asli orang Jepang, berhasil mendahului mencapai puncak gunung tertinggi di dunia. Sedangkan para pendaki perempuan Eropa dan Amerika, yang lebih dulu akrab dengan budaya dan petualangan mountaineering, belum bisa mencapai puncak gunung itu lebih dulu.

Nama lahir Junko Tabei adalah Ishibashi Junko. Ia dilahirkan di Miharu, sebuah kota pertanian kecil yang berada di Fukushima. Junko merupakan anak kelima dari 7 bersaudara. Ketertarikan Junko kecil pada mountaineering terjadi pada usianya yang ke-10 tahun, ketika guru sekolahnya mengajaknya hiking ke Gunung Nasu. Gunung Nasu sendiri adalah sebuah gunung yang terletak di Taman Nasional Nikko di Fukushima. Kesan mendaki gunung dan melangkah di alam bebas merasuk dalam benak Junko, dan sejak itu ia mulai jatuh cinta pada dunia pendakian gunung.

Jika kita membaca sejarah salah satu legenda pendaki gunung Jepang yang lain, Naomi Uemura. Maka kita akan menemukan persamaan masa kecilnya dengan masa kecil Junko Tabei. Baik Naomi mau pun Junko, dalam banyak literatur dan sumber disebutkan sebagai anak yang lemah dan pemalu saat kecil. Akan tetapi kepercayaan diri mereka tumbuh dan berkembang dengan pesat setelah aktif dalam kegiatan mountaineering. Dan yang lebih mengesankan dari kisah dua pendaki gunung legendaris Jepang ini adalah, baik Junko maupun Naomi ketika sudah populer dengan prestasi dan pencapaian, mereka tetap saja rendah hati dan sama sekali tidak menunjukkan sikap arogansi.

Ini menjadi sebuah bahan pertimbangan dan fortopolio yang bagus untuk kita cermati bersama. Bagaimana sebuah kegiatan bertualang di alam bebas (dalam hal ini mountaineering), dapat memberi stimulan yang demikian baik untuk anak-anak seperti Junko dan juga Naomi. Sifat mereka yang sebelumnya dianggap lemah dan tidak percaya diri, tumbuh berkembang menjadi sosok optimis, tangguh, percaya diri, sekaligus pula tanpa kehilangan kepribadian sebagai jiwa-jiwa yang rendah hati. Mountaineering telah menumbuhkan semangat untuk menjadi kuat dalam diri mereka, dan di sisi yang lain, hal ini juga tidak mengalahkan pribadi yang santun dan lembut mereka sebagai salah satu generasi terbaik Jepang,

Setelah melakukan pendakian ke Gunung Nasu pada usia sepuluh tahun, Junko mulai merasakan ketertarikan yang besar dalam mountaineering. Akan tetapi ia bukanlah anak orang kaya, sehingga keluarganya tidak dapat mendukung hobi Junko yang mahal tersebut. Karena alasan biaya  itulah kemudian, pada kisaran usia sekolah menengah di Jepang, Junko hanya mendaki beberapa gunung Jepang yang tidak begitu signifikan.

Pada tahun 1958 hingga tahun 1962, Junko mempelajari pendidikan bahasa Inggris dan juga sastra di Showa Women’s University. Di universitas ini Junko bergabung dalam klub pendaki gunung (seperti MAPALA dalam istilah yang dikenal di Indonesia). Akan tetapi, salah satu keinginan Junko adalah bergabung dengan Alpine Club sekolah itu yang berisi hampir seluruhnya pria. Dan pengalaman bagaimana ia disambut dan diperlakukan dalam klub inilah yang kemudian membakar semangat Ishibashi Junko untuk menjadi seorang pendaki gunung yang kompeten dan berdedikasi.


Joshi Tohan Mountaineering Club

Selama bergabung dengan klub-klub pendaki gunung itu, kehadiran Junko kerapkali ditafsirkan buruk. Bagi beberapa pria yang juga ikut bergabung dalam klub, masuknya Junko ke dalam klub mountaineering atau pun alpine hanyalah kedoknya untuk mencari suami. Karena itulah beberapa pria menolak mendaki bersama Junko. Sebagai seorang wanita di masa ketika mountaineering belum begitu populer di negeri tersebut, terutama bagi pendaki gunung perempuan, pilihan Junko memang sangat berani. Keputusannya untuk masuk dalam hegemoni para pria yang menganggap diri mereka sebagai penguasa dunia pendakian gunung, telah menempatkan Junko dalam berbagai situasi yang menyulitkan dirinya sendiri.

Namun bukan Ishibashi Junko namanya jika menyerah dengan keadaan seperti ini. Justru perlakuan diskiriminasi inilah yang kemudian ikut memompa semangatnya untuk terus mendaki dan menggoreskan sejarah mountaineering. Dilandasi oleh semangat dan tekad yang kuat untuk membuktikan jika para perempuan juga bisa berprestasi dalam dunia penjelajahan dan pendakian, maka pada tahun 1969 setelah lulus dari sekolah, Junko mendirikan sebuah klub mountaineering.

Oleh Junko klub pendakian gunung itu diberi nama Joshi Tohan Mountaineering Club. Dalam istilah yang lebih umum klub ini merupakan klub pendaki gunung khusus wanita. Atau dalam bahasa Wikipedia disebut sebagai Ladies Climbing Club: Japan (LCC). Konsentrasi dari klub ini tentu saja mengorbitkan para pendaki gunung perempuan dalam pencapaian-pencapaian di atas gunung. Kepemimpinan dan obsesi yang mengkristal dalam benak Junko untuk menunjukkan kualitas para perempuan yang tidak kalah dari para laki-laki, telah menumbuhkan semangat pembelaan dan perjuangan gender yang kuat dalam klub tersebut. Bukan dengan cara tampil sebagai musuh yang melawan para pria, namun menginginkan pendakian dengan semangat perlakuan yang setara dan sama, tanpa diskriminasi.

Sebelum tahun 1969 di mana Joshi Tohan Mountaineering Club berdiri, Junko telah berkeliling seluruh Jepang untuk memanjat semua gunung-gunungnya, termasuk juga Gunung Fuji yang meruapakan gunung tertinggi di Jepang. Untuk membiayai hobi mendaki gunungnya yang membutuhkan banyak biaya ini, Junko kemudian bekerja sebagai seorang editor untuk jurnal ilmiah sekaligus juga sebagai seorang guru piano dan bahasa Inggris.

Pada masa-masa ini, Junko berjumpa dengan calon suaminya, Masanobu Tabei, seorang pendaki gunung pula. Mereka bertemu dan menemukan petikan cinta dalam hati masing-masing ketika mendaki bersama-sama di Gunung Tanigawa. Hubungan Junko dan Masanobu sempat mendapat penolakan dari ibu Junko lantaran Masanobu yang dianggapnya tidak berpendidikan karena tidak pernah kuliah seperti Junko. Namun penolakan ibu Junko tidak menghalangi cinta keduanya. Baik Junko mau pun Masanobu, telah menemukan teman berbagi semangat dan cita-cita pada diri masing-masing. Dan atas dukungan dari sang suami pula, satu tahun kemudian Ishibashi Junko Tabei memutuskan berhenti dari pekerjaannya untuk lebih berfokus pada mountaineering.

Mount Tanigawa di Jepang, tempat yang menjadi tumbuhnya kisah cinta pertama kali antara Ishibashi Junko dan Masanobu Tabei. Perhatikan kontur dan gigir Gunung Tanigawa ini, ia memiliki persamaan yang banyak dengan gunung-gunung Indonesia.Sumber foto: Mountain-Forecast.com

Setelah Joshi Tohan berdiri, klub  ini menjadi satu-satunya klub pendaki gunung di Jepang yang anggota keseluruhannya adalah perempuan. Sementara Junko Tabei sang founder telah diakui secara luas di Jepang sebagai pendaki gunung yang capable pada tahun 1972. Apalagi setelah ia juga berhasil mencapai Puncak Matterhorn di Swiss sebelum itu.

Joshi Tohan sendiri mendapat banyak kritik dan rintangan saat mereka berusaha menunjukkan kemampuan dan prestasi. Klub ini dianggap sebuah perkumpulan yang telah menentang tatanan konvensional wanita Jepang. Karena saat itu, budaya dan latar belakang masyarakat Jepang menganggap bawa peran wanita adalah di rumah, bukan di luar, apalagi di atas gunung. Kehadiran Junko Tabei dengan idenya bahwa wanita layak untuk mendapat kesempatan yang sama dalam mountaineering telah menempatkan sebuah persepsi bahwa Junko telah membawa budaya yang buruk bagi kehidupan tradisional para perempuan Jepang.

Motto dari Joshi Tohan pada saat itu adalah “Let’s go on an overseas expedition by ourselves.85.1 Motto ini tentu saja menjadi sebuah refleksi pemberontakan yang dibawa oleh Junko terhadap perlakuan dan anggapan terhadap perempuan Jepang saat itu. Semangat pendakian gunung yang dihembuskan Junko dalam klub, telah merumuskan sebuah tekad besar dalam klub tersebut untuk membuat pencapaian-pencapaian mountaineering di dunia dengan cara mereka sendiri. Atau dalam bahasa yang lebih tegas mereka ingin menunjukkan bahwa mereka juga bisa tanpa harus bergantung kepada para pria.

            “Sudah menjadi tradisi masyarakat untuk memukul paku yang menonjol...”

Ungkap Junko Tabei suatu ketika saat menceritakan perjalanan hidupnya dan juga berbagai kontroversi yang ia hadapi saat Joshi Tohan baru berdiri. Terkait dengan komitmen mereka untuk mandiri dan melawan hegemoni para pendaki gunung pria yang persepsinya sudah terbentuk secara tradisional. Maka Junko harus menerima cukup banyak konsekuensi. Misalnya ia yang tidak mudah menemukan sponsor yang bersedia membiayai ekspedisi mountaineeringnya.                                                

Tahun 1970, Junko bersama dengan klub yang digagasnya membuat sebuah terobosan dengan memilih Annapurna III di Nepal sebagai tujuan ekspedisi. Annapurna III sendiri adalah sebuah puncak gunung setinggi 7.555 meter yang terletak dalam wilayah Pegunungan Annapurna. Dalam rangking ketinggian gunung dunia, Annapurna III menempati peringkat ke-42. Fisrt ascent puncak gunung ini terjadi pada tahun 1961 oleh sebuah ekspedisi mountaineering dari India yang dipimpin oleh Mohan Singh Kohli melalui sisi timur laut.

Junko dan timnya adalah ekspedisi kedua yang berhasil mencapai Puncak Annapurna III, sekaligus tim perempuan pertama yang melakukan hal itu. Bertarung dengan suhu minus yang membuat film dalam kamera rusak, perlengkapan berat yang harus diangkut, serta ancaman penyakit ketinggian yang menyerang anggota ekspedisi,  tim pimpinan Junko kemudian berhasil mencapai puncak. Pada tanggal 19 Mei 1970, Junko Tabei dan rekannya, Hiroko Hirakawa, dengan ditemani oleh dua orang sherpa tiba di Puncak Annapurna III. Mereka bertahan sekitar setengah jam di tempat itu, sebelum suhu yang melorot memaksa mereka turun lebih cepat.

 

Perempuan Pertama di Puncak Everest

Setelah membuat sejarah besar dengan pencapaian Annapurna III, kini Joshi Tohan Mountaineering Club atau yang Ladies Climbing Club (LCC) membidik gunung Everest sebagai target mereka. Ini adalah sebuah keberanian yang besar dari LCC dengan membentuk sebuah kepanitiaan yang mereka sebut sebagai Japanese Women’s Everest Expedition (JWEE). Tahun 1975 belum ada perempuan yang mendatangi Everest untuk mendakinya. Jadi dengan keseluruhannya anggotanya yang perempuan, Junko dan timnya memang telah membuat sebuah tujuan yang sangat signifikan sekaligus riskan.

Permintaan izin untuk mendaki Everest bagi ekspedisi perempuan Jepang sebenarnya telah diajukan Junko setelah mereka sukses dengan pendakian di Annapurna III tahun 1970. Namun kesulitan mengumpulkan dana untuk pendakian membuat ekspedisi itu tertahan hingga lima tahun. Sebuah persepsi bahwa ‘wanita seharusnya tinggal di rumah dan mengurus anak-anak’ adalah bagian yang tidak mudah ditaklukkan sehingga banyak sponsor yang menolak untuk ikut membiayai ekspedisi tersebut. Namun pada detik-detik terakhir menjelang keberangkatan, Yomiuri Shimbun85.2 dan Nippon Television bersedia ikut membiayai ekspedisi tersebut.

Meskipun demikian, para anggota tim ini juga harus berjibaku untuk mencari kekurangan biaya lainnya. Mereka harus merogoh saku dalam-dalam untuk membantu biaya ekspedisi menuju Everest. Selain itu untuk menghemat biaya, beberapa perlengkapan seperti sleeping bag, sarung tangan, dan kantong tahan air dibuat sendiri menggunakan bahan-bahan kursi daur ulang, bulu angsa dari China, dan yang lainnya. Dan karena beberapa anggota ekspedisi ini adalah seorang guru, maka murid-murid mereka yang baik hati juga mengumpulkan kantong-kantong tak terpakai untuk dibawa guru mereka menuju Gunung Everest.

Total pendaki yang ikut dalam JWEE adalah 15 orang, sebagian besar perempuan. Mereka datang dari berbagai latar belakang profesi. Ada yang seorang guru, programer komputer, bahkan seorang konseling remaja. Namun dengan semangat dan tujuan yang sama, yakni membuktikan bahwa wanita dapat melakukan sesuatu yang lebih besar dari yang dipersepsikan masyarakat selama ini. Dan mountaineering dengan Puncak Everest sebagai tujuannya, adalah jalan yang dipilih untuk melakukan pembuktian tersebut.

Pada beberapa bagian dari kisah ekspedisi JWEE dengan Junko Tabei sebagai tokoh kuncinya ini, kita akan melihat persamaan dengan ekspedisi yang kemudian dilakukan oleh Arlene Blum saat memimpin ekspedisi Annapurna I pada tahun 1978. Dari pendanaan yang sulit, sponsor yang menolak karena persepsi gender, hingga upaya funding yang sangat historical dan dramatis85.3. Selain itu motivasi dan juga tekad yang dibawa dua ekspedisi ini tidak jauh berbeda yakni perjuangan untuk kesetaraan gender antara lelaki dan perempuan, terutama dalam dunia mountaineering. Entah apakah Arlene Blum belajar dari ekspedisi Jepang ini yang sukses dengan dua kali terobosan85.4. Namun yang jelas, Junko Tabei dan tim pendaki perempuan Jepangnya memang membuat sejarah signifikan dalam catatan mountaineering Himalaya.

Setelah menghabiskan masa latihan yang panjang, JWEE kemudian memulai ekspedisi pada tahun 1975. Rute yang mereka pilih adalah sama denga rute yang digunakan oleh Edmund Hillary dan Tenzing Norgay pada tahun 1953. Namun pada ketinggian 6.300 meter, tim perempuan ini sempat dikubur oleh longsosan salju. Junko sendiri sempat terkubur selama enam menit dan pingsan sebelum para sherpa berhasil menggali tubuhnya dan menariknya keluar dari timbunan salju.

Akan tetapi dua belas hari kemudian, tepatnya tanggal 16 Mei 1975, Junko dan seorang sherpanya bernana Ang Shering, telah berjalan jauh di punggungan terakhir menuju puncak Everest. Di tempat itu Junko dan Ang Shering harus menyeberangi gigir tipis yang membeku sedingin es dengan panjang sekitar 15 meter. Jika terjatuh dari tempat itu keduanya akan menggelinding sejauh 6.400 meter ke jurang Kangshung  yang ada di bawah sana.

Ini benar-benar perjuangan yang berat. Kita harus berhenti membayangkan pada pendakian Junko saat itu dilengkapi dengan ultralight gear seperti sekarang, kacamata anti ultra violet atau pun kapak es berbahan carbon. Bahkan menurut penuturan Junko pada The Japan Times kemudian, ia harus merangkak dengan mencengkram ujung gigir punggungan sembari menancapkan kuku cramponnya dalam-dalam ke tebing es. Namun bagaimana pun juga akhirnya, beberapa jam kemudian ia ditemani dengan Ang Tsering, telah berdiri di Puncak Everest dan menjadi perempuan pertama di dunia yang berhasil melakukannya. Junko Tabei dari kota Fukushima telah membuat sejarah!

Junko Tabei di Puncak Everest pada 16 Mei 1975 sebagai wanita pertama yang berhasil mencapai puncak gunung tertinggi di dunia. Sumber foto: The Guardian

                                                              

Dengan Ang Tsering mengawal di belakangnya, Junko Tabei mengangkat kapak esnya tinggi-tinggi sebelum mencapai base camp dan disambut gembira oleh rekan-rekan ekspedisinya yang lain. Sumber foto: Fotolibra

  

Seven Summits

Ada dua prestasi signifikan yang membuat dunia mengenal seorang Junko Tabei. Prestasi pertama tentu saja adalah karena ia merupakan wanita pertama di dunia yang mencapai puncak Gunung Everest yang merupakan gunung tertinggi di muka bumi. Pencapaian monumental tersebut seperti yang barusan saja kita ulas terjadi pada tanggal 16 Mei 1975. Bersama dengan Ang Tsering, Ishibashi Junko Tabei menjadi pendaki perempuan pertama di dunia yang menjadi seorang Everest Summiter.

Sementara untuk prestasi monumentalnya yang kedua adalah karena Junko menjadi pendaki perempuan pertama di dunia yang berhasil menyelesaikan pendakian Sirkuit Seven Summits. Prestasi yang prestisius ini dicapai Junko saat ia berhasil menyelesaikan pendakian grand slamnya dengan memuncakinya puncak Gunung Carstensz Pyramid di Indonesia.

Dengan dua prestasi yang sangat signifikan ini, menjadi wajarlah kemudian nama Junko Tabei dielu-elukan di banyak tempat. Ia menjadi demikian terkenal dan populer. Namun ketenaran ini bukannya membuat Junko Tabei bahagia, malahan ia menjadi risih dan tidak nyaman. Ia bukan tipe pendaki gunung yang gemar diperhatikan dan dipuja-puja. Meskipun pencapaiannya bukan saja telah melampai impiannya untuk menunjukkan sesetaraan pendaki gunung perempuan dan laki-laki, tapi juga telah membungkam mulut orang-orang yang selama ini meremehkan dirinya karena ia seorang wanita. Namun walau bagaimana pun juga, ketika segala ketenaran dan popularitas itu ditumpahkan di atas kepalanya, Junko Tabei tetap tidak dapat menikmatinya.

Ada sebuah nilai teladan yang dapat kita petik dari kisah hidup seorang Junko Tabei ini. Ia adalah pribadi yang lengkap dan berdedikasi tinggi, ia rendah hati dan penuh tanggung jawab, ia juga konsisten dan pantang menyerah. Semangat dan tekadnya untuk menunjukkan bahwa wanita juga mampu mengukir prestasi di atas gunung, ditunjukkannya dengan menjadi the first woman standing on the top of Everest, dan juga dengan menjadi the fisrt woman completed seven summits. Dan yang lebih mengesankan lagi, Ishibashi Junko Tabei tetap rendah hati ketika mahkota ratu mountaineering itu diletakkan di atas kepalanya. Ia benar-benar memiliki pribadi yang menawan.

Pada masa-masa akhir hayatnya Junko lebih banyak berkonsentrasi pada sosial dan lingkungan. Ia terkenal dengan kepedulian dan keprihatinannya terhadap banyaknya jumlah sampah yang ditinggalkan oleh para pendaki Everest. Ia juga kemudian menjadi pemimpin dari Himalayan Adventure Trust of Japan, sebuah organisasi global yang berkonsentrasi pada ekosistem lingkungan gunung.

Pernikahan Junko dengan Masanobu Tabei dianugrahi dua orang anak perempuan, yaitu Noriko Tabei dan Shinya Tabei. Junko sendiri meninggal akibat kanker peritoneal pada tahun 2016 di Rumah Sakit Kawagoe.

 

Pencapaian dan Warisan      

  • Wanita pertama di dunia yang mencapai puncak Mount Everest
  • Wanita pertama di dunia yang berhasil menyelesakian sirkuit pendakian seven summits
  • Buku Honouring High Places: The Mountain Life of Junko Tabei yang ditulis oleh Junko Tabei sendiri. Buku ini dirilis secara anumerta pada tahun 2018 dan sempat jadi nominasi Boardman Taskes Prize for Mountain Literature tahun 2018.


Footnote:

  1. 85.1 “Mari membuat ekspedisi ke luar negeri secara mandiri (kita sendiri, tanpa bantuan para pria)”
  2. 85.2 Yomiuri Shimbun adalah surat kabar (koran) utama Jepang saat itu. Terbit di berbagai kota besar seperti Tokyo, Osaka, Fukuoka dan kota besar lainnya.
  3. 85.3 Ekspedisi Annapurna III tahun 1970 dan Ekspedisi Everest tahun 1975.
  4. 85.4 Tim Japanese Women’s Everest Expedition harus membuat sarung tangan dan lain-lain dari kursi daur ulang, dan tim Arlene Blum mencari dana dengan berjualan kaos.

 


Artikel ini dikutip dari buku Dewi Gunung karya Anton Sujarwo. Mengenai referensi dan sumber penulisan dapat dilihat pada bukunya langsung.

 

 

 


No comments:

Post a comment

Tulisan Terbaru

PEMUNCAKAN DAN TRAGEDI DI GUNUNG PALING SULIT DI DUNIA

Gunung K2 yang merupakan gunung tertinggi ke-2 di dunia dan merupakan satu-satunya gunung 8.000 meter yang belum tersentuh puncaknya pa...