Sunday, 5 April 2020

Seberapa Penting Arti ‘Gaya atau Style’ Dalam Aktivitas Mendaki Gunung




Hal pertama yang harus dipahami dalam konteks style atau gaya disini adalah; ini bukan tentang pakaian, ini bukan tentang fashion, ini bukan tentang tas bermerek atau pun perlengkapan mahal. Gaya mendaki gunung yang dimaksud di sini adalah teknik mendaki gunung, atau dalam penjabaran yang lebih luas, adalah tentang bagaimana seseorang melakukan pendakian gunung menurut determinasi dirinya sendiri.

Lebih jauh, style atau gaya mendaki gunung pada sebagian besar pendaki gunung dunia, adalah presentasi paling kuat yang menjelaskan siapa diri mereka sebenarnya.

“Dalam mountaineering, gaya itu penting. Meskipun hal ini bukan segalanya, namun gaya yang engkau lakukan akan menggambarkan dirimu yang sesungguhnya”

Kalimat di atas adalah kalimat yang sempat diucapkan oleh salah satu pendaki gunung top dunia, saya lupa namanya, namun diksi yang ia gunakan melekat cukup erat dalam benak saya. Dan sebagai seorang penulis buku-buku mountaineering di Indonesia, saya sepakat dengan pendapat ini. Karena sejauh ini, setelah menulis sembilan buku pendakian gunung yang telah terjual ribuan eksemplar, saya dapat menyimpulkan bahwa style dalam pendakian gunung memegang peranan yang sangat krusial.

Tanpa style atau gaya, mountaineering bisa jadi sangat membosankan untuk diceritakan. Daya tarik penulisan dan penceritaan aktivitas mountaineering kadang bersumber pada gaya yang dilakukan oleh orang-orang yang ada di dalam aktivitas tersebut. Dan ini bukan hanya didorong oleh egoisme superioritas individual semata, pada tatanan yang lebih jauh mengenai style dalam mountaineering, ini juga berarti tentang makna dari mendaki gunung itu sendiri.

Jadi dengan kata lain saya ingin menyampaikan, bahwa style atau gaya dalam pendakian gunung tidak dapat diartikulasikan pada sebuah pemahaman yang sempit. Ini bukan tentang ego, tentang angkuh dan sombong, apalagi tentang gaya berpakaian ala pendaki gunung. Lebih jauh ini adalah sebuah manifestasi dari pemaknaan jiwa-jiwa spiritual dalam pengembaraan mereka di atas gunung-gunung.

Apa Sebenarnya yang Dimaksud Dengan Style Dalam Mountaineering atau Mendaki Gunung?

Style atau gaya pada dasarnya dapat diterjemahkan secara sederhana saja; yakni bagaimana proses sebuah aktivitas mountaineering dilakukan. Atau pada penjelasan yang lebih difokuskan; yakni bagaimana cara seorang pendaki gunung meraih puncak impian mereka. Makna ini kemudian dapat kita perluas lagi penjelasannya karena gaya mendaki gunung sendiri sangat banyak dan memiliki berbagai tingkatan yang menarik.

Sebelum terlalu jauh membahas style atau gaya dalam mendaki gunung, kita mungkin akan kembali dulu pada salah satu esensi dasar dari tujuan aktivitas pendakian gunung itu sendiri. Bagaimana pun juga, tidak dapat ditampik bahwa salah satu tujuan mendaki gunung adalah meraih puncaknya. Beberapa orang boleh berkilah bahwa puncak tidak penting atau puncak adalah bonus, namun sepanjang sejarah, pendakian tidak dapat dianggap sukses jika puncak tidak dicapai.

Contohnya;
Tahun 2010 seorang pendaki perempuan terkuat dari Korea Selatan bernama Oh Eun Sun mengklaim bahwa dirinya telah berhasil memuncaki 14 puncak tertinggi di bumi yang dikenal dengan Mahkota Himalaya atau fourteen eight thousanders. Oh Eun Sun adalah pendaki besar Korea, di kalangan outdoor dunia ia sempat disebut sebagai The Iron Women karena ketangguhannya di atas gunung.

Namun kemudian klaim Eun Sun ini disomasi oleh pendaki perempuan dari Spanyol bernama Edurne Pasaban. Pasaban mengatakan bahwa pendakian Eun Sun di Kangchenjunga yang merupakan puncak tertinggi ketiga di dunia di belakang Everest dan K2, tidak mencapai puncak. Lebih jauh Pasaban juga mengatakan bahwa ia memiliki bukti kuat mengapa somasi ini ia layangkan untuk memprotes pencapaian Eun Sun.

Kontroversi terus berlanjut. Eun Sun melakukan pembelaan, Pasaban pun bertahan dengan pendapatnya. Dan akhirnya, dengan berbagai pertimbangan, ditetapkan bahwa memang nampaknya Eun Sun tidak mencapai puncak di Kangchenjunga.

Dan konsekuensinya; namanya harus dicoret dari tahta pemegang rekor wanita pertama pemegang Mahkota Himalaya.

Oh Eun Sun dari Korea Selatan, sang Wanita Besi yang kemudian harus menelan pil pahit karena status pemuncakannya di Kangchenjunga. (source: Blackyak)


Selain Eun Sun, masih ada ratusan banyaknya kisah lain yang menjadi bukti bahwa puncak bagaimana pun juga mau dinafikan, tetap adalah unsur penting dalam aktivitas mendaki gunung.

Sekarang, jika memang puncak adalah bagian penting dalam mountaineering, lantas bagaimana dengan pilihan cara mencapainya? Atau dalam bahasa yang lebih baik; seberapa penting dan arti sebuah cara mencapai puncak dalam aktivitas pendakian gunung?

Apakah Gaya Dalam Mendaki Gunung Adalah Sesuatu yang Penting?

Pertanyaan seperti ini menarik, tapi mungkin tidak banyak diperdulikan, apalagi di Indonesia. Beberapa orang tak begitu perduli bagaimana gaya dan cara yang dilakukan, yang penting bagi mereka adalah bagaimana bisa berdiri di atas puncak. Anda bisa mendaki dengan cara apa pun yang anda suka, dan selama anda  mencapai puncak, anda memenangkan permainan.

Namun pada sisi yang lebih menarik, untuk kelompok yang lebih kecil, gaya adalah pondasi dasar dalam aktivitas mendaki gunung. Gaya adalah pilihan sekaligus manifestasi dari kesungguhan seorang pendaki gunung dalam pilihan hidup mereka. Gaya adalah ruh atau jiwa dari pendakian yang ia lakukan.

Jika kemudian kita menemui kebingungan dalam memaknai prinsip ini, maka saya akan memberikan beberapa contoh berikut untuk mempermudah kita dalam memahaminya.
  • Paul Preuss dikenang sebagai pendaki free solo paling murni sepanjang sejarah karena gaya yang ia pilih. Ia dijadikan panutan oleh nama-nama besar seperti Walter Bonatti, Reinhold Messner, Kurt Diemberger dan lain sebagainya. Prinsip Preuss dalam menekankan gaya sangat murni dalam mountaineering dianggap sebagai yang paling ‘suci’ sepanjang sejarah. (anda bisa membaca buku saya yang berjudul Maut Gunung Tearkhir jika mungkin tidak mengenal nama Paul Preuss.
Paul Preuss dianggap sebagai 'nabinya' para pendaki gunung sejati karena pilihan gaya yang ia ambil dalam setiap pendakian yang ia lakukan. (source: buku Maut di Gunung Terakhir)

  •  Apa yang membuat nama seperti Reinhold Messner menjadi sangat legendaris sepanjang masa? Itu tentu karena gaya yang ia pilih. Ia orang pertama di dunia yang memutuskan untuk mencoba mendaki Everest tanpa tabung oksigen secara solo setelah kesuksesannya bersama Peter Habeler setahun sebelumnya.
  • Apa yang membuat nama seperti Ueli Steck, Alex Honnold, Silvia Vidal atau yang lainnya sangat populer? Itu juga karena gaya yang mereka pilih. Mereka semua memilih gaya atau style yang berbeda daripada pendaki umum kebanyakan untuk mencapai sebuah puncak. Dan pada akhirnya, pilihan itu pula yang membuat mereka jadi legenda.

Gaya adalah bagian penting dari sebuah aktivitas mountaineering. Gaya menjadikan aktivitas mountaineering tetap asyik untuk ditulis hingga sekarang. Dan tentu saja, itu juga adalah salah satu alasan yang membuat saya sejauh ini tetap merasa nyaman menulis buku dengan tema mountaineering.

Buku terakhir saya yang berjudul DEWI GUNUNG InsyaAllah akan dirilis pada akhir April 2020 ini. Isinya tentang kiprah para pendaki gunung perempuan sepanjang sejarah mountaineering, baik sejarah kehadiran mereka, eksistensi mereka,  sampai kepada kontroversi yang melekat bersama sosok mereka. Dan gaya mereka melakukan pendakian adalah salah satu esensi paling signifikan yang kemudian membuat beberapa nama terbaik juga tampil dalam buku ini, termasuk juga tentu saja seperti Oh Eun Sun, Edurne Pasaban, dan Silvia Vidal.


Sampel pra cetak buku Dewi Gunung yang akan dirilis 30 April 2020 mendatang dan informasi pre ordernya (source: doc.pribadi)


Nah setelah menyimak penjelasan tentang gaya mendaki gunung di atas? Apa pendapat teman-teman tentang pilihan sebuah gaya dalam mendaki gunung?








No comments:

Post a comment

Tulisan Terbaru

PEMUNCAKAN DAN TRAGEDI DI GUNUNG PALING SULIT DI DUNIA

Gunung K2 yang merupakan gunung tertinggi ke-2 di dunia dan merupakan satu-satunya gunung 8.000 meter yang belum tersentuh puncaknya pa...