Tuesday, 31 December 2019

Pengertian, Konsep, dan Ide Dasar MMA Trail






Dalam buku Wajah Maut Mountaineering Indonesia (WMMI), saya sebenarnya telah mengulas ide tentang sebuah rute hiking yang ada di Jawa Tengah ini. Dalam buku itu saya sudah cukup banyak menjelaskan seluk beluk dan konsep dasar dari munculnya ide yang kemudian saya sebut sebagai MMA Trail, atau Merapi Merbabu Andong Hiking Trail. Awalnya ide ini hanya mengambil tiga point utama saja sebagai rute tujuan, yakni Gunung Merapi, Gunung Merbabu dan Gunung Andong. 

Meskipun eksotisme ketiga gunung ini sudah sangat populer di kalangan para peminat aktivitas hiking tanah air, khususnya Pulau Jawa, namun untuk dijadikan sebagai sebuah destinasi rute hiking yang memberi penawaran nuansa bertualang yang berbeda, itu nampaknya belum cukup. Telah banyak orang yang melakukan pendakian Double M (Merapi-Merbabu), dan itu bukanlah sesuatu yang spesial lagi meskipun tentu saja masih sangat menarik. Untuk dapat dijadikan sebagai sebuah sirkuit baru yang berbeda dan istimewa, MMA Trail belum cukup untuk ditawarkan jika hanya dengan format demikian saja.

Saya kembali melihat peta propinsi Jawa Tengah, untuk melihat apa yang dapat dikembangkan lagi supaya bisa menjadi sesuatu yang lebih menarik sebagai bagian dari ide MMA Trail. Saya kemudian melihat Danau Rawapening di Ambarawa, Gunung Telomoyo dengan dua bagian puncaknya yang cantik, sebuah kawasan sentral wisata bernama Sepakung kaki Gunung Telomoyo yang juga penuh dengan daya tarik. Jadi kemudian muncullah ide untuk menyambungkan konsep MMA Trail sebelumnya1.1 dengan beberapa destinasi lain1.2 yang lebih kompleks. 

Dengan masuknya Gunung Telomoyo, Desa Sepakung, dan Danau Rawapening sebagai bagian dari konsep MMA Trail, maka sirkuit ini dengan berbagai pembenahan saya kira cukup menarik dan memenuhi syarat untuk kemudian dijadikan sebagai salah satu pilihan baru destinasi berpetualang.

Jika pada konsep MMA Trail sebelumnya hanya diperlukan waktu 3 sampai 5 hari perjalanan untuk diselesaikan1.3, maka waktu ini bertambah nyaris dua kali lipat setelah konsep disempurnakan. Dan untuk ukuran para peminat aktivitas pendakian gunung atau pun hiking di Indonesia jika kita lihat secara garis besar, sebuah perjalanan mendaki selama satu minggu hingga sepuluh hari, sebenarnya sudah cukup dikatakan lama. 

Apalagi jika selama perjalanan waktu tersebut, semuanya dilakukan dengan berjalan kaki. Atau sama sekali tidak menggunakan moda kendaraan apa pun. Dan konsep seperti ini dengan berbagai penambahan ‘aksesoris’ yang dibenahi kemudian, akan menjadi sebuah gaya bertualang yang menyenangkan di tengah kebosanan para pegiat alam Indonesia yang mendaki gunung dengan ritme dan model yang begitu-begitu saja.

Buku MMA Trail yang sudah dirilis dilengkapi peta, jurnal perjalanan, novel, serta informasi open trip MMA Trail. Buku ini bisa didapatkan disini.

MMA Trail dalam konsep yang saya pikirkan akan menjadi sebuah model hiking enchainment yang menyenangkan dan menantang. Setiap orang yang melakukan MMA Trail akan menyusuri jalan hampir sejauh 150 kilometer dengan kontur medan dan bentang alam yang sangat beragam. Konsep hiking ini menawarkan mendaki empat gunung sekaligus dengan vertical gain nyaris mencapai 9000 meter, serta menyusuri jalan setapak dan medan tempuh yang sangat variatif. Kontur dan pemandangan alam yang ditawarkan oleh Gunung Merapi, Gunung Merbabu, Gunung Andong, Gunung Telomoyo, Desa Sepakung dan juga Danau Rawapening akan menjadi sebuah parade yang sangat menyegarkan untuk dinikmati.

Secara garis besar konsep MMA Trail ini tak jauh berbeba dengan multi days hiking pada umumnya.Konsep ini adalah sebuah perjalanan mendaki gunung dan menyusuri danau secara beruntun atau berturut-turut dengan metode full hiking, atau berjalan kaki secara total. Pada skala yang lebih besar metode dan konsep ini sama seperti yang ada pada rute hiking kelas dunia semacam Pacific Crest Trail (PCT), Appalachian Trail (AT), Continental Devine Trail (CDT),  El Camino,dan lain semacamnya. 

Hanya saja MMA Trail tentu saja memiliki ukuran yang lebih kecil dan singkat, baik dari sisi waktu mau pun rute yang ditempuh. Meskipun demikian, ini sama sekali bukan berarti MMA Trail tidak menarik untuk dilakukan. Kita akan lihat nanti, justru jarak yang tidak terlampau jauh dan waktu yang tidak terlalu lama ini lah yang menjadi salah satu daya tarik utama dari perjalanan dan konsep MMA Trail.

Pada rute-rute hiking kelas dunia dengan waktu tempuh yang lama dan jarak yang sangat jauh (LDHT atau Long Distance Hiking Trail), satu rute hiking kadang bisa memakan waktu hingga berminggu-minggu bahkan bisa juga berbulan-bulan. Hal ini tentu saja menjadi sebuah kesulitan tersendiri bagi orang yang mungkin tidak memiliki cukup banyak waktu lantaran kesibukan dan aktivitas mereka. 

Selain waktu tempuh yang lama, kesulitan lain adalah tentu saja keharusan memiliki kondisi tubuh yang sangat prima dan kuat untuk dapat menyelesaikan sebuah rute hiking yang waktunya lebih dari satu bulan berjalan kaki. Meskipun tentu saja, tekad dan niat yang teguh serta konsisten adalah kunci utama dari kesuksesan menyelesaikan rute hiking mana pun.

Pada MMA Trail, waktunya adalah pendek dan singkat jika dibandingkan dengan rute-rute raksasa semacam AT dan PCT. Namun jika dibandingkan dengan gaya mendaki gunung Indonesia yang umum1.4, maka MMA Trail dapat digolongkan sebagai sebuah pilihan yang cukup serius. Dan jika dibandingkan dengan rute hiking lain yang memakan waktu selama satu pekan sampai sepuluh hari, maka MMA Trail ini mungkin dapat kita setarakan. Setidaknya dari durasi waktu tempuh, dan juga jauh jarak yang dilalui. 

Jadi dengan melihat tiga perbandingan sederhana ini, kita mungkin dapat menempatkan MMA Trail sebagai sebuah rute hiking yang ideal dan sedang. Dan lantaran itulah ia akan sangat menarik untuk dilakukan setiap orang.

Ide dasar saya menggagas dan kemudian membuat rute MMA Trail ini tentu saja tidak jauh datangnya dari rute-rute hiking serupa yang sudah mendunia dan populer. Saya pernah menonton film Wild yang dibintangi oleh Reese Whitherspoon yang menceritakan perjalanan kisah nyata seorang Cheryl Strayed menyusuri PCT yang kemudian mengubah pemikiran dan juga cara pandangnya terhadap kehidupan. Saya pernah menonton film berjudul The Way yang dibintangi oleh Martin Sheen yang menyusuri rute El Camino di Spanyol dalam upaya menapaki jejak-jejak anak lelakinya yang tewas di sana. Saya juga pernah menonton film Track yang dibintangi oleh Mia Wasikowska yang mengisahkan petualangannya membelah padang gurun nan luas di Australia bersama unta-untanya. 

Sementara pada bacaan dan literasi saya menemukan lebih banyak lagi kisah-kisah petualangan menyusuri rute yang panjang di antara kerimbunan alam raya yang indah dan penuh pengajaran. Meskipun tidak sepopuler film-fim yang disebutkan di atas, namun bacaan-bacaan tersebut telah membekas dan membuat jejak inspirasi dalam kepala saya.

Lintasan terakhir rute MMA Trail menuju garis finish di Jembatan Biru, Danau Rawapening.

Terinspirasi dari konsep perjalanan Martin Sheen di El Camino, terbayang pula dengan segala kondisi yang dihadapi oleh Cheryl di PCT, terpengaruh pula oleh tekanan dan segala depresi yang melanda Mia bersama unta-untanya, saya kemudian memikirkan sebuah ide yang sama untuk dilakukan di Indonesia. Mengapa tidak kita buat sebuah rute hiking yang sama di Indonesia? Yang indah, yang menantang, yang populer, dan yang juga mungkin akan memberi sedikit ‘pencerahan point of view’ bagi seseorang yang menjalaninya?

Memang MMA Trail tidak akan setara dengan rute-rute hiking raksasa tersebut, namun bukankah MMA Trail juga tetap sebuah rute hiking yang butuh dilalui berhari-hari untuk menyelesaikannya? Dan yang paling penting mungkin adalah kita akan memiliki sebuah pilihan destinasi baru cara bertualang di Indonesia. Dengan lokasi-lokasi yang memang sudah populer, pemandangan melankolis yang sangat romantis, hospitality masyarakat yang sangat humanis, saya yakin MMA Trail akan menjadi salah satu rute hiking yang sangat menginspirasi untuk dilakukan.

Jadi dapat saya simpulkan di sini, bahwa ide MMA Trail itu hadir dari pengaruh banyak hal, termasuk film-film dan buku yang saya saksikan dan saya baca. Film Track, Wild,dan The Way jelas memiliki pengaruh yang besar dalam menginspirasi saya menggagas rute MMA Trail. Sementara bacaan-bacaan tentang profil LDHT dan hiker-hiker yang menelusurinya juga menjadi bagian penting dari referensi saya dalam  memikirkan kemudian menggagas ide tentang MMA Trail ini.

Baca juga: Apa saja sih yang membuat konsep MMA Trail menjadi sangat menarik?


Foot note:
1.1      Merapi, Merbabu dan Andong.
1.2     Gunung Telomoyo, Desa Sepakung, dan Danau Rawapening.
1.3      Berdasarkan waktu rata-rata yang dibutuhkan oleh para pendaki, baik yang cepat mau pun yang bergerak lebih santai.
1.4     Mendaki malam hari untuk mengejar sunrise kemudian turun pada pagi atau siang harinya. Atau mungkin yang lebih lama dari itu semacam dua atau tiga hari pendakian.

No comments:

Post a comment

Tulisan Terbaru

PEMUNCAKAN DAN TRAGEDI DI GUNUNG PALING SULIT DI DUNIA

Gunung K2 yang merupakan gunung tertinggi ke-2 di dunia dan merupakan satu-satunya gunung 8.000 meter yang belum tersentuh puncaknya pa...