Thursday, 12 December 2019

Indonesia Menuju Puncak Hkakabo Razi




2020 mendatang, beberapa pendaki profesional Indonesia akan melakukan sebuah ekspedisi besar menuju Gunung Hkakabo Razi di Myanmar. Terus terang sebagai salah satu penulis buku mountaineering di Indonesia, saya sangat antusias mendengarnya. Ini dalam sudut pandang saya, jauh lebih penting dan krusial daripada ekspedisi menuju Everest. Jika pendakian ini berhasil, ini akan membuat sejarah. Bahkan lebih jauh secara kompetensi dan keberuntungan, ini nampaknya juga mengalahkan beberapa pendaki gunung terbaik di dunia yang pernah mencobanya, dan gagal.

Para pendaki Indonesia dalam persiapan menuju Hkakabo Razi, sebuah kebanggaan luar biasa bagi khazanah mountaineering bangsa ini jika kemudian mereka berhasil mencapai puncak gunung tertinggi di Asia Tenggara tersebut. 
(sumber foto:industry.co,id)

Apa alasan saya mengatakan pendakian ini sangat penting bagi sejarah mountaineering Indonesia?

Ada beberapa hal sebenarnya yang cukup signifikan sebagai alasan. Salah satunya bahwa Hkakabo Razi adalah gunung yang dalam buku The World of the Limit Sky (Dunia Batas Langit) dianggap sebagai salah satu pengganti Everest dari sisi petualangan, tradisional, keterasingan dan juga nilai estetika. Dengan catatan sejarah dan kisah pendakian di atasnya, Hkakabo Razi adalah gunung yang sangat istimewa.

Dan berikut kutipan lengkap tentang Hkakabo Razi yang tertulis dalam buku Dunia Batas Langit. Oya, buku Dunia Batas Langit mudah-mudahan akan diterjemahkan dalam bahasa Inggris dalam waktu dekat. Dan sebuah syukur mendalam ada penulis Indonesia tema mountaineering yang karyanya bisa dibaca hingga luar negeri.


>>>

Hkakabo Razi dengan ketinggiannya yang hanya 5.881 meter tentu sangat jauh jika ingin disandingkan dengan Everest, akan tetapi proses pencapaian gunung yang merupakan puncak tertinggi Asia Tenggara ini (Hkakabo Razi terletak di Myanmar) cukup menarik untuk disimak lebih jauh.


Tahun 1996, pendaki Jepang bernama Takashi Ozaki dan Nyima Gyaltsen mengklaim berhasi; mencapai Puncak Hkakabo Razi sebagai first ascent. Dalam pendakian tersebut, Ozaki dan Gyaltsen tidak membawa GPS dan altimeter untuk mengukur ketinggian secara akurat. Ketika Gamblang Razi (puncak lain yang dekat dengan Hkakabo Razi) berhasil diukur pada ketinggian 5.870 meter di tahun 2013 (menggunakan GPS yang lebih canggih), yang memungkinkannya menjadi puncak tertinggi Myanmar, juga Asia Tenggara, Ozaki tiba-tiba mengklaim bahwa Puncak Hkakabo lebih tinggi dengan menyebutkan angka 5.881 meter, meskipun sebelumnya ia mengatakan tidak membawa GPS pada pendakian first ascentnya di Hkakabo Razi.


Bulan Agustus tahun 2014, dua orang pendaki Burma dikabarkan mencapai Puncak Hkakabo Razi (Ko Aung Myint Myat dan Ko Wai Yan Min Thu) pada tanggal 31 Agustus. Akan tetapi kontak kepada dua pendaki Burma ini terputus karena keduanya kahabisan battery untuk berkomunikasi. Sebelum kontak hilang keduanya mengklaim telah mencapai puncak, memasang bendera Myanmar dan juga meletakkan sebuah patung budha kecil di titik tertinggi Hkakabo Razi. Dua pendaki Burma yang hilang ini tak pernah ditemukan, bahkan sebuah helikopter  yang berupaya mencari keduanya pada bulan Oktober 2014 juga mengalami kecelakaan, menewaskan satu orang pilot dan memaksa satu pilot lainnya beserta para tim penyelamat (sebagian besar pendaki gunung) melakukan survival selama 11 hari mencari jalan pulang.  

Karena dua pendaki Burma yang dikonfirmasi mencapai Puncak itu hilang (kemungkinan besar sudah tewas), maka ketinggian yang sebenarnya dari Hkakabo Razi masih dipertanyakan (GPS yang dibawa kedua pendaki Burma itu ikut hilang bersama mereka). Sejauh ini belum ada yang menganulir pencapaian fisrt ascent Ozaki dan Gyaltsen, namun juga belum ada yang secara resmi dan meyakinkan mendukung klaim mereka (utamanya dari kalangan pendaki gunung).

Kisah Hkakabo Razi ini semakin menarik ketika tahun 2014 bulan Nopember sebuah tim dari National Geographic Society berkolaborasi dengan The North Face mensponsori sebuah ekspedisi besar menuju Puncak Asia Tenggara tersebut. Dalam ekspedisi ini, tim menggunakan alat pengukur ketinggian yang sama dengan yang digunakan oleh tim Burma saat mengukur ketinggian Gamlang Razi. Ekspedisi ini dipimpin oleh Hilaree O’Neil dengan anggotanya antara lain Mark David Jenkins, Cory Richards, Renan Ozturk, Emily Harrington dan juga Taylor Rees (nama-nama ini tentu tidak asing, karena sebagian besar adalah atlit utama dari  merek The North Face).

Dalam pendakian ini, Ozturk, Jenkins dan Richards melakukan upaya terakhir untuk mencapai puncak namun terhenti pada ketinggian 5.742 meter. Menariknya menurut Ozturk, Richards dan juga Jenkins, ketinggian Hkakabo Razi masih menjulang sekitar 240 meter lagi, dan ini artinya secara tidak langsung juga menggugurkan klaim ketinggian yang disebutkan oleh Ozaki (Ozaki menyebutkan ketinggian 5.881 meter. Jika kemudian dugaan Ozturk cs benar maka klaim Ozaki akan terpaut sekitar 100 meter lebih rendah dari ketinggian gunung yang sebenarnya).

Gunung Hkakabo Razi pada musim dingin dengan puncak utamanya yang masih menyimpan misteri.
Sumber foto: Myanmar Business Today

Menarik membahas bagaimana ekspedisi sekelas National Geographic Society berkolaborasi dengan The North Face bisa menemui kebuntuan di Hkakabo Razi. Untuk urusan dukungan sumberdaya, baik itu yang berbentuk perlengkapan (tim ini juga membawa sekitar 3 buah drone canggih), data, porter, guide, dan juga logistik tentu tak akan kurang. Sementara nama-nama pendaki yang ikut juga adalah orang-orang dengan karier mountaineering yang dikenal secara global, lalu bagaimana mungkin mereka bisa gagal?.

Dibutuhkan waktu satu bulan menembus hutan tropis untuk mencapai gunung ini, kita bahkan bisa mati terserang malaria sebelum berhasil melihat kaki gunungnya” tutur Mark Jenkins menyampaikan salah satu alasan ‘keistimewaan Hkakabo Razi’.

Kesuksesan sebuah ekspedisi mountaineering kadang lebih banyak bukan ditentukan oleh kecanggihan gear, kelengkapan fasilitas ataupun pula oleh nama besar. Ada banyak ekspedisi yang diisi oleh orang-orang besar dengan dukungan super yang berujung pada kegagalan, ekspedisi Hkakabo Razi oleh National Geograhic Society dan The North Face bukanlah satu-satunya.

Menyimak keterangan ini dan juga membandingkannya dengan kisah upaya pencapaian Puncak Everest sebelum tahun 1954, Hkakabo Razi jelas memiliki kelayakan untuk menjadi the next Everest, khususnya dalam hal pendakian yang menekankan gaya tradisional. Hkakabo Razi terpencil, terisolasi, lokasi terdekat untuk mencapai kakinya membutuhkan satu bulan berjalan kaki menembus hutan tropis, puncaknya masih misteri, rutenya juga belum jelas. Bagi seorang pendaki tradisional ini adalah seperangkat kesempurnaan yang selama ini ia cari-cari. Dari sudut pandang sebuah ekspedisi mountaineering dengan segala tantangan dan originalitasnya, mungkin tak ada yang mengalahkan Hkakabo Razi saat ini. Dan jika dilihat lebih jauh dari sisi ini, Hkakabo Razi sudah jelas pantas menjadi ‘pengganti’ Everest.

Hilaree O’Neil, pemimpin ekspedisi National Geographic Society dan The North Face ke gunung Hkakabo Razi tahun 2014. Kegagalan mencapai puncak saat itu membuat beberapa pendaki menangis, termasuk pula Hilaree.
Sumber foto: google

Sebagai salah satu bagian dari Asia Tenggara, Indonesia seharusnya ambil bagian dalam hal ini, mengukir sejarah mountaineering secara global dengan mengirim para pendakinya ke Hkakabo Razi. Urusan menembus hutan hujan tropis yang lebat bukan masalah buat anak negeri kita. Para pendaki Indonesia telah terbiasa dengan hal itu. Indonesia juga memiliki banyak pendaki berbakat yang memiliki talenta luar biasa. Dan memberi mereka kesempatan untuk menorehkan nama bangsa dalam kancah mountaineering dunia adalah sebuah hal yang harus diupayakan.

Sebagai salah satu anak bangsa yang besar ini, saya secara pribadi sangat berharap Indonesia ikut serta, dan adalah sesuatu yang tidak mustahil jika nanti sang dwiwarna merah putihlah yang akan berkibar dengan jaya sebagai yang  pertama di Puncak Asia Tenggara tersebut.





1 comment:

Tulisan Terbaru

PEMUNCAKAN DAN TRAGEDI DI GUNUNG PALING SULIT DI DUNIA

Gunung K2 yang merupakan gunung tertinggi ke-2 di dunia dan merupakan satu-satunya gunung 8.000 meter yang belum tersentuh puncaknya pa...