Saturday, 13 July 2019

TRAGEDI EVEREST 1996 & DETIK-DETIK TEWASNYA SCOTT FISCHER DAN ROB HALL





Musim pendakian tahun 1996 di Everest, memang dapat dikatakan lebih ramai daripada musim-musim pendakian sebelumnya. Setidaknya ada 13 orang dari tim Taiwan pada musim itu, 21 orang dari Afrika Selatan, dan 9 orang yang merupakan pendaki gabungan dari Eropa (Inggris, Denmark, dan Finlandia). Sementara tim Mountain Madness pimpinan Scott Fischer berjumlah 23 orang (termasuk guide, klien, Sherpa, dan petugas yang lain seperti koki, dokter, dan lain-lain). Kemudian Adventure Consultant milik Rob Hall memiliki anggota tim secara keseluruhan 25 orang, termasuk guide, klien, sherpa dan yang lainnya. Ed Viesturs sendiri saat itu tergabung dalam sebuah tim David Breasher’s IMAX Expedition yang berjumlah 12 orang, misi tim Viesturs saat itu adalah untuk membuat film tentang pendakian Everest.

                Rob Hall yang sebelumnya telah dengan sukses membawa klien hingga sekitar 20-an orang ke Everest, memilih tanggal 10 Mei sebagai hari mereka akan melakukan summit attack (pemuncakan). Berdasarkan pengalaman-pengalaman Rob Hall sebelumnya, tanggal 10 adalah tanggal keberuntungan, dan ia akan memanfaatkan tanggal tersebut untuk melakukan pemuncakan. Sebenarnya pemilihan tanggal 10 Mei bukan hanya berdasarkan pengalaman atau kepercayaan Rob saja mengenai angka keberuntungan, namun juga berdasarkan laporan prakiraan cuaca dari India yang menyebutkan angin badai dan cuaca buruk lainnya berada jauh dari Everest pada hari itu. 

                Namun ternyata tanggal 10 Mei, tidak hanya dipilih oleh Rob Hall sebagai summit day. Scott Fischer pun memilih tanggal yang sama, dan diluar dugaan, tim Taiwan pun memilih hari itu juga. Sehingga pada tanggal 10 Mei itu nantinya, direncanakan ada sekitar 40 orang pendaki gunung dari tiga tim berbeda yang akan berjalan beriringan mencapai Puncak Everest. Dan hal itu bagi beberapa orang nampaknya menjadi sebuah kekhawatiran tersendiri. Sementara itu, berbeda dengan Rob, Fischer, dan juga tim Taiwan, Imax Expeditions pimpinan David Breashers menyepakati bahwa mereka akan melakukan summit attack pada tanggal 9 Mei, atau satu hari sebelum summit attack mayoritas pendaki Everest tahun 1996 tersebut dilakukan. 



Tim Adventure Consultant dalam ekspedisi Everest tahun 1996. Empat orang dari tim ini kemudian tewas, termasuk Rob Hall sang pemimpin Adventure Consultant sendiri.

Sumber foto: Findagrave.com

              
  Pada tanggal 7 Mei 1996, tim IMAX expedition telah berada di Camp III dari Lhotse Face pada ketinggian 7.315 meter. Sementara tim Rob Hall, tim Scott Fischers, tim Taiwan, dan beberapa tim lain yang memutuskan untuk summit pada tanggal 10 Mei, juga telah berada di Camp II, 853 meter dibawah Camp III. Rencana yang telah dipersiapkan oleh tim IMAX adalah besoknya berangkat ke Camp IV, dan pada tanggal 9 Mei, perjalanan akan dilanjutkan menuju Puncak Everest. 

                Akan tetapi pada tanggal 8 Mei keesokan harinya, Ed Viesturs merasa ada sesuatu yang tidak nyaman, untuk itu ia mendiskusikan kembali rencana pemuncakan bersama dengan David Breashers dan Robert Schauer (Schauer juga adalah seorang pendaki gunung besar seperti Viesturs yang merangkap sebagai asisten sutradara dalam ekspedisi itu). Dalam diskusi tersebut ketiga orang itu bersepakat bahwa kondisi memang bagus dan memungkinkan, namun itu bukan waktu yang terbaik. Setelah mempertimbangkan lebih lanjut, tim IMAX Expedition memutuskan untuk turun lebih dulu ke Camp II sambil menunggu waktu dan kondisi yang lebih tepat disana. 

                Pada perjalanan turun ini, tim IMAX sempat berpapasan dengan tim pendaki yang bergerak naik, termasuk juga Rob dan Fischers diantaranya. Viesturs sempat berpelukan dengan kedua guide itu pada saat berpapasan disamping fixed rope. Dalam kesempatan tersebut, salah satu guide ekspedisi yang bergerak naik sempat bertanya kepada Viesturs;

                “Apa yang kalian lakukan (dengan turun seperti ini)?”

                        “Turun, saya hanya merasa tidak begitu nyaman untuk summit besok pagi, kami akan menunggu waktu yang lebih tepat untuk summit di Camp II”

                Guide ekspedisi yang bertanya sempat kaget mendengar jawaban Viesturs, namun di Everest seseorang harus membuat keputusannya sendiri. Meskipun Viesturs adalah pendaki besar berpengalaman dan telah beberapa kali mencapai Puncak Everest sebelumnya, bahkan tanpa tabung oksigen, bukan berarti jika ia mengatakan perasaannya tak enak untuk summit, maka tim lain pun harus berbuat serupa. Jadi para pendaki yang bergerak naik melanjutkan kembali mendaki setelah berpapasan sebentar dengan Ed Viesturs dan tim IMAX lainnya.

                Tanggal 10 pagi hari, cuaca tampak demikian cerah, langit terang menampakkan Puncak Everest yang menjulang tanpa penghalang. Hari yang sesempurna itu tentu saja tak memberikan peluang alasan apapun untuk Rob Hall dan para pendaki yang lain untuk membatalkan rencana summit mereka. Dalam garis iringan yang cukup panjang para pendaki bergerak menuju puncak tertinggi Everest hari itu, dan tak ada sama sekali kekhawatiran akan terjadi badai atau hal buruk lainnya.
 
                Pada pukul 14:00 siang (batasan waktu standar dimana pendaki diharuskan turun dari Puncak Everest), dari teleskop belum tampak para pendaki akan turun. Titik-titik warna merah dan kuning (warna downsuit yang umumnya dipakai para pendaki hari itu) masih tampak bergerombol disekitar Hillary Step untuk bergerak naik. Hal ini telah menjadi alarm peringatan bahwa pergerakan yang macet di Hillary Step juga menjadi salah satu penyebab dari bencana besar yang terjadi beberapa jam kemudian.

                Beberapa pendaki tampak mencapai Puncak Everest dari ujung teleskop, namun lebih banyak lagi yang masih berjalan naik. Sementara jarum menit sudah semakin jauh meninggalkan angka 12, yang artinya para pendaki itu telah melebihi waktu standar untuk turun dari Puncak Everest. Ditengah kegelisahan itu terdengar salah satu suara dari radio, entah itu milik siapa.

                “Guys, kalian akan kemalaman, ini sudah lebih dari jam dua siang, akan memakan waktu tiga atau empat jam lagi sebelum kalian mencapai puncak..”

                Hening, tak ada yang menjawab suara dari radio itu.

                Namun tak lama setelah itu, pertanda malapetaka di Everest mulai muncul. Angin kencang bertiup, puncak hilang ditelan oleh gulungan kabut, teleskop tak dapat melihat apa-apa kecuali semuanya  yang berubah menjadi putih. 

                Badai yang tak kunjung berhenti hingga beberapa jam kemudian membuat semua orang yang ada di Everest saat itu hanyut dalam kekhawatiran yang besar. Semua menunggu kabar dari orang-orang yang berangkat summit, namun hingga pukul 21:00 malam, belum ada informasi yang jelas bagaimana nasib para pendaki yang memutuskan ke puncak pada hari itu. Sekitar jam 22:00, suara Paula (isteri Ed Viesturs) yang ada di base camp terdengar di radio menghubungi suaminya dan anggota tim IMAX lain yang ada di Camp II. 

                “Hanya setengah pendaki yang berangkat dari South Col pagi ini telah kembali, selebihnya masih tidak diketahui nasib mereka”.

                Kekhawatiran semakin menjadi-jadi karena sama sekali tak ada lagi kabar yang dapat diterima dari para pendaki yang masih terjebak di puncak, baik itu dari Rob Hall, Scott Fischer, maupun juga dari tim Taiwan. Malam semakin larut, namun tetap belum ada kabar. Rata-rata para pendaki malam itu tidak bisa memejamkan mata, menunggu kabar selanjutnya mengenai nasib para pendaki yang terjebak badai di Puncak Everest.

                Menjelang pagi, sekitar pukul 05:00 terdengar suara dari radio yang tidak begitu jelas karena transmisinya yang tampaknya mengalami crowded. Namun setelah didengar lebih seksama, jelaslah itu adalah suara dari Rob Hall. Rob berbicara dengan suara yang lemah dan pelan, nada suaranya menandakan ia begitu lelah, namun kalimatnya cukup jelas untuk disimak semua orang yang memasang telinga di pesawat radio mereka saat itu.

                “Saya benar-benar dalam kondisi yang berantakan, saya sekarang ada di South Summit, saya terjebak di sini sepanjang malam, dan Doug sudah pergi”

                Doug Hansen (mungkin sudah banyak dari kita yang mengetahuinya dari film Everest yang sempat ramai di Indonesia tahun 2015 kemarin) adalah seorang petugas pos dari kota Renton, Washington. Di tahun sebelumnya Doug pernah dipandu oleh Rob Hall namun gagal mencapai puncak meskipun ia telah memaksakan diri dengan sepenuh kekuatannya. Ketidaksuksesan itu membuat Rob Hall sebagai guide sedikit kecewa (sepanjang kariernya di Adventure Consultant, Rob Hall mematok angka kesuksesan di 100% dan belum ada yang gagal kecuali Doug Hansen tahun 1995 tersebut). Atas kekecewaan tersebut, Rob menjanjikan diskon yang besar sekaligus garansi untuk mencapai Puncak Everest jika Doug Hansen kembali ikut pada ekspedisi Everest di tahun 1996.

                Dari penuturan Helen Wilton, manajer base camp Adventure Consultant, diketahui bahwa pada tanggal 10 Mei Rob Hall telah mencapai puncak pada pukul 15:00. Di Puncak Rob sempat menunggu kedatangan Doug Hansen yang merupakan orang terakhir dalam timnya yang belum mencapai Puncak. Dan Doug sendiri seperti ditahun sebelumnya, meskipun kelelahan yang amat sangat, tetap berjuang dengan sekuat tenaga untuk mencapai puncak. Hal ini sekaligus tidak menyisakan kekuatan baginya untuk perjalanan turun. 

                Ketika dari kejauhan Rob melihat sosok Doug yang berjalan dengan sangat pelan menuju puncak, Rob turun untuk menjemputnya dan bisa dikatakan kemudian menuntunnya hingga ke Puncak Everest. Kedua orang ini mencapai puncak pada pukul 16.00. Dan itu artinya sudah melebihi dua jam dari batas waktu turun yang menjadi standar pada pendakian Everest. Sayangnya hasrat Rob Hall untuk membantu Doug Hansen mencapai Puncak Everest telah mengaburkan aturan standard yang sebelumnya dipegang sedemikian erat olehnya sendiri.

                Setelah Rob dan Doug berhasil mencapai Puncak Everest, berita kesuksesan itu segera disiarkan Rob melalui radio tangannya ke Helen di base camp, dan itu segera memicu kegembiraan yang besar mengingat kegagalan yang terjadi pada Doug di tahun sebelumnya. Akan tetapi satu jam kemudian, belum habis kegembiraan atas keberhasilan Doug, Rob kembali menghubungi base camp dan mengatakan mereka mengalami masalah dan membutuhkan tabung oksigen dengan segera. Mike Groom, salah satu guide Adventure Consultant yang dalam perjalanan turun mengantarkan klien mereka yang lain mendengar suara Rob dari radio, dan ia tahu ada dua botol tabung oksigen berisi penuh di Puncak Selatan (South Summit). Namun tramsmisi radio Groom yang bermasalah, membuatnya membutuhkan waktu cukup lama hingga dapat menghubungi Rob dan memberitahukan keberadaan tabung oksigen tersebut.   

                Sementara itu Doug Hansen telah ambruk di puncak Hillary Step dan tak mampu meneruskan perjalanan untuk turun walau untuk satu langkah sekalipun. Rob yang tak dapat menurunkan kliennya menuruni tebing Hillary Step tersebut nampaknya bersedia mengambil risiko menemani Doug diatas ketinggian 28.000 kaki yang mematikan, sebuah keputusan yang sangat berani dan memiliki konsistensi tinggi, meskipun hal itu dilakukan dalam kondisi cuaca cerah sekalipun.
 
                Guy Cotter yang juga menjadi salah satu guide di Adventure Colsuntant masuk ke radio dan memohon kepada Rob untuk meninggalkan Doug. Guy mengatakan bahwa Rob harus menyelamatkan dirinya sendiri dulu dan kemudian baru menolong Doug. Guy meminta Rob untuk pergi ke Puncak Selatan dan mengambil tabung oksigen, bernafas dengan normal, sedikit pulih, baru kemudian mengupayakan pertolongan untuk Doug. Dari radio Rob menjawab bahwa ia sendiri bisa ke Puncak Selatan, namun tidak dengan Doug. Akan tetapi hingga lebih dari empat puluh menit berlalu, Rob Hall tidak beranjak dari tempatnya.

                Pada pukul 06:00 sore masih di tanggal 10 Mei, Guy kembali bersuara lewat radio, kali ini dengan kalimat memaksa supaya Rob meninggalkan Doug dan lebih memprioritaskan nyawanya sendiri. Namun sayangnya saran Guy tersebut bukan sesuatu yang ingin didengar oleh Rob Hall saat itu. 

                Sekitar pukul 02:45 tengah malam, terdengar beberapa suara radio dari Rob yang berisi beberapa patah kata, namun suara itu terdengar tidak begitu jelas karena digempur oleh suaran angin badai yang melolong. “Keep moving, keep going” seru Rob diantara gemuruh angin kencang yang terdengar dari speaker radio di base camp Adventure Colsultant. Hal ini menandakan bahwa Rob sejak tadi belum juga mengambil keputusan untuk meninggalkan Doug Hansen. Beberapa orang dalam base camp itu juga berasumsi bahwa Rob tidak sengaja menekan tombol mikrofon pada radio tangannya yang mungkin tersentuh oleh penjepit dibahunya. Pada hakikatnya ia tidak mau mengabarkan kepada base camp bahwa diatas sana ia masih mati-matian mendorong Doug Hansen untuk terus bergerak menuju Puncak Selatan.

                Sepanjang malam tanggal 10 hingga pagi tanggal 11 Mei, tak banyak orang yang mengetahui perjuangan yang Rob Hall lakukan. Akan tetapi pada pukul lima pagi Rob membuka suaranya dengan kalimat yang semakin mengkhawatirkan “Saya benar-benar dalam kondisi yang berantakan, saya sekarang ada di South Summit, saya terjebak di sini sepanjang malam, dan Doug sudah pergi”.

                Hingga menjelang pagi itu, Rob telah bergerak turun sekitar seratusan meter dari Puncak Selatan. Ini tentu adalah sesuatu yang luar biasa tentang bagaimana Rob Hall bisa bertahan tanpa bivak dan perlindungan, dalam gempuran badai  yang mengamuk, diatas ketinggian 8.000 meter gunung Everest. Dalam sejarah pendakian Everest sebelumnya ada dua manusia yang juga mampu bertahan tanpa cidera melewati malam neraka delapan ribu meter Everest ini, mereka adalah Doug Scott dan Dougal Haston. Sedangkan dikemudian hari ada pula sosok Lincoln Hall yang juga pernah mengalami hal serupa. Namun Lincoln meskipun mampu bertahan, mengalami frossbite dan efek cerebral edema yang cukup parah setelah melewati malam di punggungan Everest yang mematikan.

                Pernyataan Rob yang mengatakan Doug sudah pergi memiliki dua implikasi paling tidak saat itu. Efek pertama adalah tentu kesedihan yang mendalam karena satu klien telah tewas dari tim Adventure Colsultant, sesuatu yang belum pernah dialami tim tersebut sebelumnya. Sementara implikasi kedua adalah, teman-teman Rob Hall yang lain (seperti Guy Cotter yang sebelumnya sudah memohon pada Rob untuk meninggalkan Doug) merasa lebih lega, karena Rob Hall sekarang akan lebih berfokus untuk menyelamatkan dirinya sendiri, tidak lagi terbebani oleh Doug Hansen yang telah menghilang. Namun demikian, kata-kata Doug telah pergi yang diucapkan oleh Rob Hall juga menimbulkan pertanyaan lain yang belum terjawab hingga sekarang. Apakah Doug tewas dalam perjalanan turun? apakah karena hipotermia? apakah karena kelelahan? ataukah ia dengan sengaja telah terjun ke jurang Everest? Atau mungkin Doug membeku kedinginan hingga tewas di samping Rob Hall dan kemudian ditimbun oleh badai salju yang tak henti meraung?

                Pagi itu tersiar juga kabar bahwa yang tidak kembali dari puncak bukan hanya Rob Hall dan Doug Hansen, Scott Fischer juga ternyata tidak bisa kembali ke camp terakhirnya. Sementara beberapa guide dan klien dari kedua tim tersebut (Adventure Consultant dan Mountain Madness) seperti pendaki Jepang Yasuko Namba, Beck Weathers, Mike Groom, Neil Beidleman, Klev Schoening (keponakan Pete Schoening dalam The Belay), Charlotte Fox, Tim Madsen, Lene Gammelgaard, dan Sandy Hill Pitman meskipun sudah turun dari Puncak Everest, namun juga sempat terjebak di areal South Col, sekitar 200 meter dari Camp IV. Tetapi menjelang tengah malam (masih ditanggal 10 Mei), badai salju mereda dan pandangan dapat sedikit lebih jelas, para pendaki yang terjebak di Sout Col bisa melihat posisi Camp IV dengan lebih baik. Neil Beidleman, Mike Groom, Klev Schoening, dan Lene Gammelgaard turun guna mencari bantuan, sementara Charlotte Fox dan Tim Madsen menunggu kedatangan penyelamatan bersama beberapa orang yang masih tersisa. 

Tak lama kemudian Anatoli Boukreev (guide dari Mountain Madness) mencapai tempat itu dan berhasil membawa turun Sandy Hill Pittman, Tim Madsen, dan Charlotte Fox menuju ke Camp IV dengan selamat. Keputusan Boukreev untuk memprioritaskan Sandy Hill Pittman, Tim Madsen, dan Charlotte Fox (semuanya dari Mountain Madness) daripada Yasuko Namba dan Beck Weathers (dari Adventure Consultant) telah menuai kritik dan perdebatan yang cukup keras. Boukreev dinilai telah mengambil keputusan yang hanya mempertimbangkan timnya saja, padahal saat itu kondisi Namba dan Weathers lebih membutuhkan penyelamatan. Kritik kepada Boukreev ini diperkuat lagi dengan kenyataan bahwa setelah berhasil menurunkan Sandy Hill Pittman, Tim Madsen, dan Charlotte Fox, Boukreev tidak lagi kembali untuk mencoba menyelamatkan Yasuko Namba dan Beck Weathers. 

Namun kemudian, dalam bukunya The Climb Boukreev menjelaskan bahwa saat itu ia telah melihat bahwa Yasuko Namba sudah sekarat, kecil harapan untuk dapat menyelamatkannya meskipun ia paksakan untuk membawanya turun. Sementara Beck Weathers, Boukreev mengatakan tak melihat sosoknya diantara beberapa tubuh yang ada di area South Col saat itu.

                Seperti yang sudah diketahui secara umum, Yasuko Namba memang benar menjadi salah satu korban tewas dalam pristiwa tragis 1996 di Everest. Akan tetapi Beck Weathers yang sebelumnya dikira  juga sudah tewas, tiba-tiba bangun kembali pada keesokan harinya dan berjalan sendiri menuju Camp IV. Setelah kembali mengalami malam yang buruk di Camp IV, Beck akhirnya bisa diturunkan ke Camp III oleh beberapa pendaki gabungan dari berbagai tim. Selanjutnya dari Camp III Beck dibawa menggunakan helikopter untuk memperoleh penanganan yang lebih baik di rumah sakit (penyelamatan ini tercatat sebagai salah satu penyelamatan tertinggi menggunakan helikopter). Meskipun kehilangan hidung, sebelah wajahnya, jari-jari tangan, namun pada akhirnya Beck selamat. Ia kemudian menceritakan kisahnya di Everest tersebut dalam sebuah buku berjudul Left For Dead: My Journey Home from Everest.

                Beberapa saat kemudian radio kembali berbunyi, suara Rob Hall terdengar kian serak dan lemah “Saya terjebak di sini, tangan saya membeku tak bisa digerakkan, kapan seseorang akan datang membantu saya”.

                Beberapa orang di base camp Adventure Consultant dan tenda lain yang mendengar suara itu merasa terpukul bahkan berurai air mata, terutama para pendaki perempuannya. David Breashers yang mengetahui kedekatan Rob Hall dan Ed Viesturs kemudian meminta Viesturs untuk menghubungi Rob melalui radionya. Viesturs mengatakan beberapa kalimat kepada Rob, namun sekian lama tetap tak ada jawaban. 

                “Setelah semua ini selesai, kita akan pergi ke Thailand, dan saya akan melihat betis putih kurusmu itu untuk pertama kalinya di pantai Thailand”

                Kalimat terakhir Viesturs yang tentu saja bercanda, tiba-tiba mendapat respon dari Rob, ia tertawa lepas dan kemudian berkata “Thanks for that”. 

                Rob Hall memang dikenal sebagai seseorang yang jarang sekali menggunakan celana pendek, meskipun pada cuaca panas sekalipun. Jadi, pada dasarnya Rob Hall tidak pernah menunjukkan betisnya pada semua orang, termasuk Viesturs sendiri yang belum pernah melihat betis Rob Hall. Rob yang tertawa dengan lepas menimbulkan harapan bagi banyak orang yang mendengar percakapan itu di radio. Meskipun demikian, belum ada pergerakan signifikan yang dilakukan oleh Rob.

Rob, ayo kawan, kamu harus bergerak dari sana, kamu tidak bisa hanya duduk dan diam ditempat itu” Viesturs menyambung ucapannya dengan nada yang sedikit keras dan memaksa.

                Selain Viesturs sendiri yang berupaya memotivasi Rob dengan bercanda, memarahi, dan memaksa. Helen yang menjadi manajer base camp Adventure Consultant pun berupaya meng-inspirasi Rob Hall untuk bergerak dengan menyebut jabang bayinya yang masih berusia tujuh bulan dalam kandungan isterinya, Jan Arnold di New Zealand. 

                “Rob, kamu harus memikirkan bayi kecilmu itu, kamu akan segera melihat wajahnya dalam beberapa bulan ke depan”.

                Sementara bujukan, dorongan semangat, paksaan, dan apapun yang diupayakan disampaikan melalui radio kepada Rob belum juga membuahkan hasil, Sherpa Ang Dorje dan Sherpa Lhakpa Chhiri telah memulai menyusuri South Col untuk mengupayakan penyelamatan bagi Rob. Langit sudah cukup cerah, namun angin kencang masih berhembus di wilayah puncak, membuat misi penyelamatan yang dilakukan oleh Ang Dorje dan Lhakpa Chhiri berada dalam wilayah yang sulit dan tidak dapat dipastikan.

Ed Viesturs (memegang radio) dikelilingi oleh para pendaki IMAX Expedition yang berwajah sedih dan murung sedang berbicara dengan Rob Hall dalam tragedi Everest tahun 1996.
Sumber foto: National Geographic


                Rob, bagaimana sekarang, dimana posisimu?” suara Viesturs kembali menggema di frekuensi radio tangan Rob.

                Tak ada jawaban. 

                Sejurus kemudian suara serak dan lemah dari Rob tendengar..

                Saya tak dapat bergerak”.

                Jawaban Rob Hall benar-benar membuat semua orang yang mendengarkannya kehilangan harapan. Jika Rob tidak dapat menggerakkan dirinya sendiri, maka satu-satunya harapan yang ia miliki adalah penyelamatan yang dilakukan oleh Ang Dorje dan Lhakpa Chhiri untuk dapat membawanya turun. Sambil menunggu proses penyelamatan yang diupayakan oleh Ang Dorje dan Lhakpa Chhiri, Viesturs, Breashers, Schauer, Araceli Segarra, dan Veikka Gustafsson juga mendaki menuju Camp III, berniat melakukan apapun yang mereka bisa lakukan untuk membantu proses evakuasi Rob Hall dan Scott Fischer. Namun sekitar beberapa jam kemudian radio tangan yang dipegang oleh David Breashers berbunyi kembali, kali ini pembicaraan antara Ang Dorje dan Helen di base camp Adventure Consultant

                Percakapan antara Ang Dorje dan Helen dari pesawat radio itu kembali membenamkan harapan setiap orang yang mendengarnya. Ang Dorje dan Lhakpa Chhiri mengatakan mereka tak bisa melanjutkan evakuasi untuk mencoba menggapai posisi Rob. Selepas kedua Sherpa itu berangkat dari South Col, badai melolong lagi, membuat keduanya terpaksa memutar langkah untuk kembali.

                Mungkin sudah saatnya kita harus mengucapkan selamat jalan kepada Rob” ucap Breashers diantara isakannya. Viesturs, Schauer dan yang lainnya juga merasakan sesak yang sama. Tak ada yang dapat dilakukan lagi untuk Hall, satu-satunya harapan terakhir ada pada pundak Ang Dorje dan juga Lhakpa Chhiri. Namun sekarang harapan itupun telah lenyap bersama lolongan badai Puncak Everest yang kembali mengamuk.

                Meskipun sudah 36 jam terpapar diatas delapan ribu meter dan tanpa menggunakan tabung oksigen, hebatnya Rob Hall masih bertahan dan tetap hidup.

                Tim IMAX expedition pimpinan David Breashers telah pindah ke Camp III pada tanggal 11 Mei tersebut, dan bersiap untuk membantu apapun yang bisa dilakukan keesokan harinya. Akan tetapi pada pukul 06:20 sore, Guy Cotter berhasil menghubungi Jan Arnold, isteri Rob Hall di Selandia Baru melalui telepon satelit. Percakapan terakhir antara Rob Hall dan isterinya ini adalah salah satu bagian paling menyentuh dalam legenda Everest di tahun 1996, hampir semua pendaki Everest yang mendengar percakapan terakhir antara suami isteri ini tak mampu membendung air mata mereka yang berurai. 

                Sambil mengumpulkan keberanian berbicara kepada Jan, Rob Hall meminta waktu sebentar kepada Guy untuk memakan salju supaya bibirnya basah dengan harapan dapat berbicara dengan lancar kepada Jan Arnold.

“Hai sayangku, aku berharap engkau sedang berbaring di ranjang yang indah dan hangat. Bagaimana kabarmu sekarang?” ucap Rob perlahan.

“Aku tak dapat mengatakan bagaimana aku begitu memikirkan dirimu” jawab Jan diujung telepon “kau terdengar jauh lebih baik dari yang aku kira…, apakah engkau hangat kekasihku…?”

“Saya merasa cukup nyaman di sini”

“Bagaimana dengan kakimu”

“Saya belum melepaskan sepatu boot untuk memeriksanya, tapi saya rasa mungkin akan sedikit terkena frossbite”

                Dari ujung telepon yang terhubung ke radio Rob, Jan tahu ia tak memiliki banyak harapan untuk dapat berjumpa lagi dengan suaminya tersebut. Jan Arnold adalah orang yang juga pernah mencapai Puncak Everest sebelumnya, jadi ia mengerti sepenuhnya apa yang tengah suaminya hadapi saat itu. Akan tetapi ini adalah sebuah percakapan mereka yang bisa jadi terakhir, jadi bagaimanapun juga Jan Arnold tak mau memasukkan unsur kekhawatiran dan kepedihan itu dalam pembicaraannya.

                “Saya sudah tak sabar untuk membuatmu merasa benar-benar lebih hangat saat pulang nanti” ucap Jan kemudian “Saya hanya tahu bahwa engkau akan segera diselamatkan, jangan pernah merasa bahwa engkau hanya seorang diri, saya mengirim semua energi positif yang saya miliki untukmu sayangku..”

                Rob mendengar suara Jan sambil terisak, sebelum isakan itu berubah lebih keras dan terdengar hingga ke New Zealand sana melalui speaker telepon yang dipegang oleh Jan, Rob Hall menutup percakapannya dengan mengatakan kalimat penghabisan.

                “Aku mencintaimu, tidurlah yang nyenyak, kekasihku, tolong jangan terlalu khawatir”.

                Itu adalah kalimat terakhir yang didengar oleh orang-orang dari radio yang dipegang oleh Rob Hall. Ataupun jika ia mengatakan hal yang lebih banyak dari itu, mungkin tidak terdengar oleh orang lain (termasuk Ed Viesturs juga). Mengenai percakapan Rob dan Jan yang bersepakat memberi nama jabang bayi mereka dengan Sarah Hall, sama sekali tak diketahui oleh Viesturs dan para pendaki yang lain, setidaknya mereka mengatakan tak pernah mendengar itu. Jadi sekali lagi, jika memang percakapan mengenai nama anak mereka tersebut memang benar adanya, maka hal itu bisa saja luput dari perhatian Viesturs dan para pendaki yang lainnya (namun kecil kemungkinan hal itu dapat terjadi mengingat begitu banyak pendaki yang berfokus mendengarkan percakapan Rob dan isterinya di radio).

*


                Saking berfokusnya dengan Rob Hall, hampir-hampir saja semua orang luput dengan sosok Scott Fischer yang juga sedang mengalami situasi yang sama. Masalah yang membuat perhatian luput dari Fischer adalah karena ia tak memiliki radio yang berfungsi untuk berkomunikasi, sehingga tidak seorangpun yang dapat menghubungi Fischer secara langsung. Bahkan tidak banyak yang tahu apakah ia masih hidup ataukah juga sudah tewas. Beberapa waktu kemudian, kronologi yang terjadi pada Fischer mulai menemui titik terang, berdasarkan informasi guide dan para pendaki dari Mountain Madness yang ikut menyertainya saat itu.

                Fischer yang mencapai Puncak Everest pada pukul 15:40 sore tanggal 10 Mei 1996 tersebut, sudah lebih dari telat dari waktu standar yang ia tetapkan sendiri (Fischer sama seperti pendaki Everest yang lain juga mematok batasan pukul 14:00 untuk turun dari Puncak). Sherpa Lopsang Jangbu, salah satu pendaki terkuat di Everest saat itu yang juga bertindak sebagai kepala Sherpa (sirdar) dari tim Mountain Madness telah menunggu kehadiran Fischer di puncak untuk beberapa lama.  

                Seperti yang ditulis John Krakauer dalam bukunya Into Thin Air (Krakauer adalah salah satu pendaki yang tergabung dalam tim Adventure Consultant pimpinan Rob Hall pada saat musibah tersebut terjadi), berdasarkan hasil wawancaranya dengan Lopsang Jangbu, Fischer bertahan di Puncak Everest sekitar 15 hingga 20 menit. Saat di puncak tersebut, Lopsang mengatakan bahwa Fischer sempat mengeluh mengenai kondisi kesehatannya “Saya terlalu lelah, saya sakit dan saya membutuhkan obat”. Namun Lopsang menjawabnya sambil memperingatkan Fischer mengenai situasi dan kondisi mereka saat itu “tolonglah Scott, kita harus segera turun dari tempat ini”.

                Saat Lopsang dan Fischer mulai turun, Rob Hall ketika itu masih di puncak menunggu kehadiran Doug Hansen yang masih belum terlihat. Kondisi Fischer nampaknya benar-benar kehilangan konsentrasi, ia tidak dapat melakukan rappelling di undakan bebatuan punggungan yang biasanya dapat dilakukan dengan mudah. Untuk menghindari rangkaian undakan batu tersebut, Fischer memilih untuk meluncur, dan duduk diujung menjelang lerengnya berakhir. Karena tindakannya itu Fischer harus melakukan traversing sejauh 101 meter untuk dapat kembali ke jalur yang benar, melintasi lereng dengan salju setinggi lutut.

                Sekitar pukul enam sore, tepat diatas bahu gunung Everest setinggi 8.413 meter (tempat ini biasanya disebut Balcony), Lopsang yang sempat membantu pendaki lain yang juga bermasalah, berhasil menyusul Fischer. Di Balcony itu Lopsang melihat bahwa Fischer telah melepas masker oksigennya. Lopsang mengambil benda itu dan meletakkan kembali di wajah Fischer, memastikan bahwa ia menghirup oksigen. Namun kemudian Fischer mengucapkan beberapa kata yang dengan jelas menunjukkan situasinya yang kian memburuk “Saya begitu sakit, terlalu lemah untuk dapat turun, saya akan terjun saja”

                “Ia mengatakan hal itu berulang-ulang, dan saya khawatir ia menjadi gila, jadi saya mengikatnya ke tali dengan cepat, sebelum ia benar-benar terjun ke Tibet” kata Lopsang saat itu.

                Sebelum benar-benar ambruk dan tak mampu berjalan lagi, Fischer berhasil dibawa turun sejauh 91 meter dengan dibantu oleh Lopsang. Ketika menyadari ia tak lagi mampu membawa turun Fischer lebih jauh ke bawah, Lopsang dengan kesetiakawanannya yang luar biasa memutuskan untuk menghabiskan malam itu bersama Scott Fischer disana.

                “Lopsang, you go down, you go down”.

                        “No, I stay together with you”.

                Belum lama kedua orang itu terduduk di tempat itu, tiga sosok lain mendekati mereka dari arah puncak. Tiga sosok itu adalah Makalu Gau Ming-Ho dan dua orang sherpa yang menemaninya. Seperti halnya Fischer, Makalu Gau juga mengalami masalah saat perjalanan turun dari Everest, namun dibandingkan dengan Fischer, pemimpin ekspedisi Taiwan itu masih memiliki kondisi kesehatan yang lebih baik. Namun demikian, ketika berjumpa dengan Lopsang dan Fischer, Gau memutuskan untuk tinggal disana, dan membiarkan dua Sherpa yang menemaninya untuk terus turun ke South Col.

Lopsang Jangbu Sherpa menjadi sosok yang menemani detik-detik terakhir Scott Fischer di Everest. Dalam berbagai literatur, ada banyak yang memuji sifat kesetiakawanan Lopsang Jangbu sebelum ia turun meninggalkan Scott Fischer dan Makalu Gau.
Sumber foto: Pinterest


                Selama satu jam di tempat itu, Lopsang mulai menggigil kedinginan, ia dapat merasakan kondisinya yang bugar tiba-tiba mulai melorot. Namun selama itu, Fischer tetap memaksanya untuk turun.
 
                “Lopsang, you go down, kirim Anatoli ke sini”

                Lopsang yang juga mulai merasakan keraguan untuk bisa bertahan hidup jika terus tinggal disana kemudian menjawab “Baiklah, saya akan turun, saya akan mengirim sherpa dan Anatoli secepatnya”.

                Keesokan harinya, kedua Sherpa dari Mountain Madness, Tashi Tshering dan Ngawang Sya Kya (ayah Lopsang) berangkat menuju posisi Fischer dan Makalu Gau untuk melakukan upaya penyelamatan. Meskipun saat itu kondisi masih berbahaya untuk mendaki karena angin yang cukup kencang, namun kedua Sherpa itu memaksakan diri dan akhirnya dapat tiba di tempat Fischer dan Gau berada.

                Di tempat itu Tashi Tshering dan Ngawang Sya Kya menemukan Fischer nyaris sudah tidak bernapas lagi. Matanya menatap tajam, Fischer sama sekali tak merespon ketika kedua Sherpa itu mencoba memberinya oksigen. Kondisi Makalu Gau tak jauh berbeda, hanya saja ia masih bisa bernapas dari botol oksigen yang dibawa Sherpa, dan juga masih mampu minum beberapa tegukan teh yang disodorkan ke mulutnya. Karena gagal dalam upaya untuk membangunkan Fischer, kedua orang Sherpa itu hanya bisa membawa Makalu Gau ke South Col. Seperti yang terjadi pada Beck Weather sebelumnya, penurunan Makalu Gau dari Everest juga dibantu oleh helikopter.

                Scott Fischer dianggap tak akan mampu diselamatkan lagi ketika Tashi Tshering dan Ngawang Sya Kya tak bisa membangunkannya dan membawanya turun ke South Col. Keputusan Tashi Tshering dan Ngawang Sya Kya untuk menyerah itu, karena memang mereka sudah tidak dapat melakukan upaya apa-apa lagi untuk mencoba menyelamatkan Fischer. Akan tetapi, Anatoli Boukreev tak dapat menerima vonis untuk sahabatnya itu begitu saja. Ditengah rasa lelah (Boukreev sebelumnya telah menyelamatkan Sandy Hill Pittman, Charlotte Fox, dan Tim Madsen ke Camp IV) Anatoli berangkat sendiri untuk upaya menyelamatkan Fischer pada jam lima sore, kurang dari satu jam sebelum hari benar-benar menjadi gelap. Sekitar pukul tujuh atau setengah delapan malam, Boukreev baru mencapai tempat dimana Fischer berada. Dan dari sinar headlamp yang ia kenakan, Boukreev tahu bahwa itu sudah benar-benar terlambat.

                “Masker oksigennya masih menempel di wajah, namun botolnya kosong. Dia tidak menggunakan sarung tangan, dan tangannya benar-benar telanjang. Down suitnya tidak dikancing, ditarik lepas dari bahunya, dan satu lengannya ada diluar pakaian. Tidak ada yang dapat saya lakukan lagi, Scott sudah tewas”.

                Anatoli kemudian menutup wajah Fischer dengan tas yang dibawa Fischer sendiri. Dan tak lama kemudian ia turun kembali menuju South Col.


*

                Apa yang terjadi dengan Scott Fischer diketahui sebagai cerebral edema, yakni penumpukan cairan di otak yang menyebabkan kebingungan, kehilangan konsentrasi, halusinasi, dan yang lainnya. Keinginannya untuk terjun ke tebing Tibet supaya lebih cepat sampai Camp IV adalah indikasi paling nyata bahwa Fischer benar-benar telah jatuh dalam tingkat mountain sickness yang parah. Akan tetapi karena Fischer adalah pemimpin ekspedisi sekaligus leader tim dari Mountain Madness, maka tidak seorangpun dalam tim tersebut yang secara posisi dapat mengenali kondisi Fischer dan mengirimnya untuk segera turun. 

                Scott Fischer tak pernah menganggap dirinya terserang edema, ia hanya beranggapan bahwa ia sedang lelah, agak sakit, dan mungkin memang sedang mengalami hari yang buruk dalam catatan pendakiannya. Pada dasarnya dengan kondisi kesehatan sedemikian rupa tidak ada alasan apalagi paksaan bagi Fischer untuk meneruskan pendakian hingga ke Puncak Everest,. Akan tetapi juga tidak terpikirkan oleh Fischer membiarkan kliennya pergi ke puncak tanpa disertai oleh dirinya sendiri. 

                Kenyataan ini bagi beberapa orang telah memunculkan kesimpulan bahwa Scott Fischer secara tidak langsung mungkin telah meremehkan Everest. Dia (Scott Fischer) diketahui pernah bercanda tentang betapa mudahnya jalur pendakian Everest via South Col yang dikatakannya seperti Yellow Brick Road hingga ke puncak (Yellow Brick Road adalah jalan setapak yang disusun dari batu bata berwarna kuning dalam novel fiksi karya L. Frank Baum, buku ini adalah buku klasik cerita dongeng untuk anak-anak). 



Tim Mountain Madness dalam ekspedisi Everest tahun 1996. Beberapa sosok yang signifikan diberi tanda lingkaran dalam tim ini: Scott Fischer (paling bawah berkacamata), Sandy Hill Pitman (tengah berkacamata tanpa penutup kepala), Lene Gammelgard (kiri tanpa kacamata menggunakan baret), dan sang legenda Anatoli Boukreev (atas menggunakan beanie tanpa kacamata).

Sumber foto: Google


                Sementara disisi yang lain dan dengan cara yang mungkin berbeda, Rob Hall pun telah menempatkan Everest pada titik yang sama seperti yang dilakukan Fischer. Setelah kesuksesan besar ekspedisinya pada tahun 1994 (bersama Viesturs juga), Rob Hall dengan sangat percaya diri mengiklankan Adventure Consultant miliknya dengan tingkat keberhasilan 100% di Everest. 

                Kejadian ini mungkin menyimpan pelajaran dan hikmah terbaik yang dapat kita petik, sehebat apapun kita di gunung, berapa kalipun kita berhasil mencapai puncaknya, bukan berarti kita telah berhasil menaklukkannya dan boleh menganggapnya remeh. 

                Seseorang dapat selamat dalam kegiatan mendaki gunung bukan hanya karena pengalaman, kekuatan, ketangguhan, skill dan kemampuannya saja, namun bisa jadi juga karena takdir dan hari naasnya saja yang belum tiba. Aktifitas mountaineering menuntut penghormatan dan sikap menghargai kepada gunung itu sendiri. Ketika rasa hormat kepada gunung telah hilang dari jiwa seorang pendaki, maka gunung yang ia anggap paling mudah sekalipun, dapat saja membuatnya kehilangan nyawa.


*

Pada tanggal 12 Mei 1996, diketahui dengan pasti korban tewas adalah lima orang, empat orang dari Adventure Consultant, dan satu orang dari Mountain Madness. Lima korban tersebut adalah sebagian dari 12 korban total yang meninggal pada musim pendakian 1996. Dari Adventure Consultant yang meninggal adalah Rob Hall, Andy Harris (keduanya guide), Yasuko Namba, dan Doug Hansen (klien), sementara Scott Fischer adalah satu-satunya korban tewas dari tim Mountain Madness.

*


Dikutip dari Buku DUNIA BATAS LANGIT karya Anton Sujarwo, halaman 249-275 dengan sumber utama National Geographic Magazine dan buku No Short Cut to the Top karya Ed Viesturs.



Info dan pemesanan buku Dunia Batas Langit

WA: 081254355648
IG dan BL : arcopodostore

No comments:

Post a comment

Tulisan Terbaru

PEMUNCAKAN DAN TRAGEDI DI GUNUNG PALING SULIT DI DUNIA

Gunung K2 yang merupakan gunung tertinggi ke-2 di dunia dan merupakan satu-satunya gunung 8.000 meter yang belum tersentuh puncaknya pa...