Sunday, 21 July 2019

PETAKA SIULA GRANDE: KISAH SURVIVAL PENDAKI GUNUNG DAN PERSAHABATAN DARI SEUTAS TALI




Siula Grande adalah sebuah gunung dengan puncak setinggi 6.344 meter atau 20.814 kaki yang terletak di Cordilerra Huayhuash, wilayah pegunungan Andes di Peru. Huayhuash Cordillera sendiri adalah sebuah rantai punggungan pegunungan yang berada dalam wilayah raksasa pegunungan Andes, dimana Aconcagua menjadi puncak tertinggi yang berdiri di kawasan ini. Selain puncak utama yang memiliki ketinggian 6.344 meter, Siula Grande juga mempunyai anak puncak yang disebut Siula Chico yang tingginya lebih rendah dari Siula Grande, yaitu 6.260 meter. Antara Siula Grande dan Siula Chico dibatasi oleh sebuah Col (celah yang terdapat di antara dua puncak gunung) dengan ketinggian 6.000 meter. Kebanyakan pendaki gunung menganggap bahwa jalan termudah untuk mencapai Puncak Siula Chico adalah melalui col yang mempertemukan kedua puncak ini.

Pendakian pertama ke Puncak Siula Grande pertama kali tercatat dilakukan oleh Arnold Arwezger dan Erwin Schneider dari Austria pada tanggal 28 Juli 1936 melalui punggungan bagian utara. Pendakian selanjutnya yang cukup penting dalam sejarah Siula Grande adalah tahun 1966, dimana Manfred Strum dan dua rekannya membuat first ascent di Siula Chico. Dan pada kesempatan yang sama juga berhasil mencapai Puncak Siula Grande yang kemudian dicatat sebagai pendakian berhasil keempat di gunung tersebut.

Tahun 1985 sisi bagian barat Siula Grande berhasil didaki untuk yang pertama kalinya oleh Simon Yates dan Joe Simpson dari Inggris. Dan pada tahun 1999, Carlos Buhler mengulangi rute yang digunakan Yates dan Shimpson di wajah barat Siula Grande empat belas tahun sebelumnya. Pendakian napak tilas yang dilakukan Buhler ini adalah untuk upayanya memperdalam kesan yang disampaikan legenda Touching The Void di Siula Grande, legenda yang  akan menjadi pokok bahasan kita dalam paragraf-paragraf selanjutnya. 

Setelah kehadiran Buhler, Michel van der Spek, Jay Burbee, dan Jeremy Frimer juga datang ke Siula Grande dan berhasil mencapai puncak melalui sisi bagian selatan pada 13 Juli 2001. Sementara tanggal 3 Juli 2002 Marjan Kovač dan Pavle Kozjek dari Slovenia juga berhasil mencapai puncak melalui sisi timur laut. Rute yang digunakan oleh Kovač dan Kozjek ini kemudian dinamakan Northeast Face Los Rapidos. Dan pendakian terakhir yang dianggap cukup penting di Siula Grande adalah bulan Agustus 2002, dimana Rogier van Rijn dan Eva Oomen membuat sebuah rute pendakian baru lainnya yang diberi nama Mammut Track.

Diantara sekian banyak pendakian penting di Siula Grande itu, pendakian yang dilakukan Simon Yates dan Joe Simpson pada tahun 1985 adalah yang paling fenomenal dan terbit menjadi salah satu kisah mountaineering yang terkenal ke seluruh penjuru dunia. Buku Touching The Void yang ditulis Joe Simpson setelah berhasil kembali dari Siula Grande memenangkan Boardman Tasker Prize for Mountain Literature pada tahun 1989, dan juga memenangkan NCR Book Award di tahun yang sama. (NCR Book Award adalah sebuah penghargaan karya tulis berbentuk buku non fiksi di Inggris yang disponsori oleh sebuah perusahaan IT bernama NCR atau National Cash Register Corporation, penghargaan ini sekarang telah dihentikan dan diganti menjadi Samuel Johnson Prize). 

Film dokumenter yang berjudul Touching The Void juga telah dibuat pada tahun 2003, disutradarai oleh Kevin MacDonald, dan berhasil pula memenangkan Alexander Korda Award untuk Best British Film di BAFTA Awards tahun 2003. Selain itu, film dokumenter Touching The Void juga ditampilkan dalam Sundance Film Festival di tahun 2004.

Adapun secara garis besar, kisah yang menjadi legenda Touching The Void tersebut mungkin dapat kita ringkas sebagai berikut;



Simon Yates (kiri) dan Joe Simpson (kanan) beberapa saat sebelum memulai pendakian mereka di Wajah Barat Siula Grande.

Sumber foto: Google

Tahun 1985, dua anak muda dari Inggris yang haus akan petualangan dan penjelajahan, datang ke Siula Grande di Peru untuk memuaskan dahaga mereka akan sebuah tantangan mountaineering. Keputusan Simon Yates dan Joe Simpson memilih Siula Grande ini merupakan dorongan dari semangat ekplorasi mereka khas jiwa pendaki konservatif yang memuja tantangan, keterasingan, kesunyian, dan misteri. Selain itu, Siula Grande adalah salah satu tempat di bumi yang masih menyisakan ruang first ascent bagi dua pemuda itu, setidaknya sisi barat (west face) gunung ini belum pernah dicoba oleh satu orang alpinis pun. Dan itu adalah sebuah kesempatan yang jika tidak mereka ambil, mungkin akan diambil oleh alpinis lain yang memiliki semangat penjelajahan sama seperti mereka.


                Dalam perjalanan menuju Siula Grande, di Peru Simon Yates dan Joe Simpson bertemu dengan seorang pengelana Eropa lain bernama Richard. Richard bukan seorang pendaki gunung, ia adalah seorang laki-laki yang sama sekali tidak mengetahui tentang apa itu mountaineering dan alpinis. Namun ketika Simpson dan Simon menawarinya untuk ikut ke Siula Grande, Richard tanpa banyak pertimbangan langsung saja mengiyakan. Ketika sampai di tepian sebuah Gletser tak jauh di Siula Grande, ketiga orang itu mendirikan perkemahan. Sementara Yates dan Simpson menyiapkan pendakian mereka, Richard secara sukarela bertugas sebagai tukang masak untuk kedua pendaki itu. Ketika Yates dan Simpson mulai melangkah menyusuri gletser menuju kaki sisi barat Siula Grande, Richard kembali bertugas sebagai penjaga bagi tenda dan barang-barang mereka. Dan untuk alasan itulah sebenarnya mengapa Simon Yates dan Joe Simpson mengajak Richard dalam pendakian mereka itu.


                Pendakian dua pemuda Inggris itu kemudian berlangsung dengan lancar menuju Puncak Siula Grande. Meskipun menemui beberapa kesulitan dihadang oleh tebing-tebing yang sulit, dan sempat pula bermalam di sebuah goa salju, Yates dan Simpson pada akhirnya berhasil mencapai puncak dengan selamat. 


                Setelah berhasil mencapai Puncak Siula Grande melalui sisi barat yang belum pernah didaki sebelumnya, Joe Simpson dan Simon Yates memulai perjalanan turun. Dikarenakan medan yang mereka pilih adalah North Ridge yang tentunya berbeda dengan jalur naik sebelumnya, terdapat beberapa tebing yang tidak mereka prediksi, sehingga menuntut lebih banyak kewaspadaan dan kehati-hatian dalam melewatinya. Pada sebuah kesempatan, setelah berkali-kali berhasil turun rappelling dengan suskes menuruni beberapa dinding es, Simpson yang berada didepan tiba-tiba merasa canggung dan mendarat dengan keliru. Pendaratan yang keliru dan ragu-ragu dari Simpson itu berujung malapetaka, kaki kanan Simpson patah, dan ini membuat perjalanan turun menemui keadaan yang kian buruk.


Proses pendakian ini sendiri telah melewati batas pendakian yang dijadwalkan sebelumnya. Kesulitan yang dihadapi pada saat mendaki membuat dua orang ini menghabiskan waktu lebih banyak di gunung. Dan itu artinya juga menghabiskan perbekalan mereka lebih cepat dari yang seharusnya. Bahan bakar untuk menyalakan kompor guna mencairkan es dan salju untuk diminum telah habis, perbekalan makanan juga hanya tersisa sangat sedikit. Dan sekarang ditambah dengan kaki Simpson yang patah membuat penderitaan kian terasa lengkap. Peluang untuk segera sampai di gletser kaki gunung dan pulang ke tenda nampaknya kian tidak mudah untuk diramalkan hasilnya.


Setelah kaki Simpson patah, maka tak ada jalan lain baginya untuk menuruni tebing Siula Grande kecuali dengan cara dibelay oleh Yates. Simon Yates bediri di atas tebing dengan posisi biasanya duduk, dibantu oleh beberapa pijakan dan tumpuan yang ia buat supaya lebih kokoh saat menurutkan tubuh Simpson. Satu dua penurunan berjalan lancar, namun ditengah keletihan, rasa lapar, dan juga badai yang mulai mengamuk di Siula Grande, proses penurunan itu terasa kian sulit. Tidak hanya oleh Simpson yang kakinya patah, namun juga oleh Yates yang dalam buku Simpson dikatakan “tidak banyak berkata, namun jelas menunjukkan wajah yang sangat letih”.


Tali yang digunakan dalam proses belaying ini adalah dua utas tali sepanjang 45 meter yang disambung menjadi satu sehingga memiliki panjang sekitar 90 meter kurang lebih. Karena talinya disambung maka salah satu ujungnya membentuk sebuah simpul yang tidak muat melewati plate belay dalam keadaan kencang. Dalam proses penurunan, Simpson perlu berdiri diatas kakinya untuk sementara waktu guna memberi kesempatan  kepada Yates memindahkan plate belay ke sambungan tali selanjutnya, dan hal tersebut hanya bisa dilakukan jika talinya dalam kondisi kendur. 


Ditengah keadaan yang kian buruk, badai dan gelap kian membungkus mereka, Simon Yates secara tidak sengaja menurunkan Simpson disebuah tebing yang cukup curam. Karena posisi Yates yang duduk lebih tinggi diatas gunung, ia tidak dapat melihat ataupun mendengar suara Simpson. Dan begitupun sebaliknya, Joe Simpson tak bisa mendengar dan melihat Simon Yates. Satu-satunya yang menjadi alat komunikasi kedua pendaki itu adalah tali yang menghubungkan mereka. Dan memang telah disepakati sebelumnya bahwa jika Simpson menyentakkan ujung tali dari bawah, itu artinya ia telah sampai di dasar tebing, dan Yates dapat menarik tali tersebut kemudian melanjutkan proses belaying untuk dirinya sendiri.


Setelah sekian lama menurunkan Simpson, sentakan tali yang ditunggu-tunggu tidak kunjung muncul. Namun Yates merasa bahwa bobot tali tidak berkurang, yang menandakan bahwa Simpson masih ada di ujung sana. Tanpa sepengatahuan Simon, Joe Simspon ternyata terjebak di ujung tali, ia menggantung di sebuah tebing yang dalam kondisi gelap tak terlihat seberapa jauh dasarnya. Sebelumnya ia mencoba naik kembali untuk memberi kode sentakan tali pada Yates, namun tangannya yang membeku dihajar radang dingin sama sekali tak mampu untuk digerakkan. Bahkan upaya untuk membuat simpul perusiking yang ia lakukan malah menjatuhkan tali pendek berukuran lebih kecil yang ia bawa.


Pasangan pendaki ini terjebak dalam kondisi yang sangat buruk. Simpson tidak bisa memanjat tali karena tangannya membeku dan tali perusikingnya juga terjatuh. Di sisi lain, Yates juga tidak bisa menarik tubuh Simpson kembali. Tebing terlalu tinggi untuk menurunkan Simpson lebih jauh, sementara simpul tali tidak bisa melewati plate belay dalam kondisi kencang seperti itu. Dan kondisi kian buruk karena keduanya tidak bisa saling berkomunikasi. Yates dan Simpson tertahan dalam kondisi seperti itu sekian lama, bahkan dalam bukunya Simpson mengatakan ia sempat tertidur (karena letih). Namun ketika lubang salju yang menjadi tempat duduk dan tumpuan Yates mulai bergerak, hal itu membutuhkan sebuah pengambilan keputusan yang segera.


Jika salju itu terus bergerak dan melorot karena pembenanan tubuh Simspon, maka keduanya akan mati karena mereka terhubung oleh sebuah tali yang sama. Dalam kondisi genting dan dilematis ini, Yates harus membuat keputusan cepat. Dan memotong tali yang kencang itu dengan sebilah pisau kecil yang ia bawa, nampak baginya sebagai sebuah keputusan yang paling baik, paling bijak, dan yang terpenting paling mudah untuk dilakukan. Dengan terputusnya tali tersebut, ia memiliki kesempatan untuk menyelamatkan nyawanya sendiri. Sementara di sisi lain, Simpson yang tidak mengirim reaksi sejak lama juga tidak perlu lagi sekarat terpapar badai dan angin beku Siula Grande. Putusnya tali itu akan mempermudah kematian Simpson (jikapun ia masih hidup).  Dan kematian yang cepat tanpa perlu menderita lebih panjang, layak untuk diberikan kepada Simpson. 


Dan atas pertimbangan itu semua, Simon Yates menarik pisaunya, dan memotong tali tersebut dengan mudah...


Ketika Yates memotong tali, tubuh Simpson meluncur jatuh ke sebuah ceruk es yang cukup dalam. Sementara Yates yang kelelahan dan juga terserang hipotermia, menggali sebuah gua salju untuk berlindung dari badai yang terus mengamuk malam itu. 



Keesokan harinya, Yates melanjutkan perjalanan turun dari gunung Siula Grande sendirian. Dan ketika sampai di ceruk, ia baru menyadari apa yang telah terjadi kepada Simpson saat ia memotong talinya. Setelah memanggil Simpson berulang-ulang dan tak mendapatkan jawaban apapun, Yates berasumsi bahwa Simpson telah tewas dan tak ada lagi yang bisa ia lakukan selain terus menuruni gunung itu seorang diri.


Joe Simpson, bagaimana pun juga keadaannya, ternyata masih hidup. Setelah tali terpotong tubuhnya jatuh sejauh 50-an meter ke dalam crevasse (ceruk es) dan mendarat di atas sebuah langkan (pinggiran) di dalam ceruk tersebut. Ketika ia tersadar kembali dari pingsannya, ia menemukan bahwa tali yang ia gunakan telah dipotong, dan itu artinya Simon Yates menyangkanya telah tewas. Karena itu, Simpson harus berusaha menyelamatkan nyawanya sendiri. Yates tidak akan kembali, apalagi tim SAR (lelucon macam apa itu), juga tidak akan ke gunung itu, karena menyangka dirinya telah mati. 


Simpson tidak mungkin mendaki crevasse itu dengan kondisi kaki yang patah dan tangan yang menbeku. Selain itu bagian atas crevasse juga membentuk sebuah permukaan overhang, yang membuat opsi naik menjadi semakin mustahil. Satu-satunya pilihan yang dimiliki Simpson saat itu adalah turun lebih jauh ke dalam crevasse dan berharap menemukan jalan keluar yang langsung menuju gletser Siula Grande, tempat ia dan Yates sebelumnya memulai pendakian. 


Pilihan ini sebenarnya adalah sebuah pertaruhan bagi Simpson. Turun lebih jauh ke dalam ceruk es itu akan membuatnya kian dalam terkubur, dan jika ia tak menemukan jalan keluar menuju gletser di bawah sana, maka itu akan membuatnya dirinya mati dan benar-benar hilang. Namun Simpson berpikir, apalagi pilihan yang ia miliki? Ia disangka sudah mati oleh Yates dan tak ada yang akan mencari dirinya sejauh ini ke Siula Grande, lebih baik mati dalam berjuang, daripada tewas dalam keadaan berdiam diri. Dengan semua pertimbangan itu, Simpson membulatkan tekadnya untuk turun lebih jauh ke dalam crevasse.


Setelah berhasil turun, Simpson menemukan pilihannya terbukti tidak keliru. Sebuah pintu masuk kecil menuju gletser melalui lereng yang curam terbuka didepan matanya, menjadi jalan baginya untuk dapat keluar dari kuburan crevasse tersebut. Dari tempat itu, Joe Simpson menghabiskan tiga hari tanpa makanan dan nyaris juga tanpa air, merangkak dan kadang berdiri menyeret kaki patahnya melintasi gletser dan labirin crevasse yang membingungkan. Dalam kondisi sedemikian rupa, Simpson juga harus menemukan arah yang benar untuk dapat kembali ke tenda mereka yang jauhnya sekitar lima mil. Disamping itu, dibutuhkan juga keterampilan dirinya untuk mampu menemukan rute yang tepat melewati ceruk-cerus di gletser tersebut yang berjumlah ratusan banyaknya. 


Merangkak dengan kaki patah, tanpa makanan dan minuman, melintasi gletser sejauh delapan setengah kilometer tentu bukan perkara yang mudah dan menyenangkan untuk dilakukan, namun demikianlah yang harus Simpson lakukan jika ingin tetap hidup.


Akhirnya dalam kombinasi kelelahan, kelaparan, mengigau, dan halusinasi, Simpson mencapai basecamp mereka, membuat kekagetan sekaligus kegembiraan luar biasa bagi Simon Yates dan Richard yang sudah bersiap-siap untuk meninggalkan tempat itu dalam beberapa jam lagi.



*

Secara umum kisah survival yang dilakukan Joe Simpson di Siula Grande ini dianggap sebagai salah satu legenda mountaineering yang paling mengagumkan. Meskipun demikian, Simon Yates sempat dikritik secara luas mengenai keputusannya memotong tali saat itu. 


Akan tetapi, Joe Simpson selalu tampil dan memberikan pembelaan terhadap rekannya. Keputusan Yates saat itu sama sekali tak dapat dihujani dengan kritik. Simpson mengatakan, ia pun akan melakukan hal serupa jika ia berada pada posisi Simon. 


Touching The Void di Siula Grande tidak pernah merusak kedekatan antara Simon Yates dan Joe Simpson, dan persahabatan antara kedua orang ini terus bertahan hingga sekarang.





Dikutip dari buku Dunia Batas Langit karya Anton Sujarwo halaman 206-215



Pemesana buku Dunia Batas Langit dapat dilakukan melaui kontak berikut
WA: 081254355648
IG dan BL : arcopodostore
 


No comments:

Post a Comment

Tulisan Terbaru

PEMUNCAKAN DAN TRAGEDI DI GUNUNG PALING SULIT DI DUNIA

Gunung K2 yang merupakan gunung tertinggi ke-2 di dunia dan merupakan satu-satunya gunung 8.000 meter yang belum tersentuh puncaknya pa...