Monday, 15 July 2019

KEMATIAN TRAGIS & DRAMATIS DI EIGER NORTH FACE




Tahun 1935, tiga tahun sebelum first ascent wajah utara gunung Eiger, dua orang pendaki Jerman dari kota Bavaria bernama Karl Mehringer dan Max Sedlmeyer pernah mencoba peruntungan mereka di Eiger North Face. 

Ketika kedua pendaki ini (Mehringer dan Sedlmeyer) tiba di stasiun kereta Eigerwand, mereka tidak dapat segera mendaki tebing utara Eiger dikarenakan cuaca buruk yang terus menerus terjadi. Cukup lama mereka menantikan cuaca membaik. Dan beberapa hari kemudian ketika tampaknya cuaca sudah mulai cerah, awan gelap yang menutupi gunung Eiger sudah mulai tersibak, dua Bavarian ini memutuskan untuk memulai pendakian mereka.

        Hari pertama Mehringer dan Sedlmeyer membuat bivak sedikit lebih tinggi dari pada Stasiun Eigerwand, keesokan harinya dikarenakan menghadapi kesulitan teknis yang lebih besar, dua pendaki ini hanya mampu menambah sedikit ketinggian dan membuat bivak mereka yang kedua untuk melewati malam di wajah utara Eiger. Pada hari ketiga, tantangan yang dihadapi dua pendaki Jerman ini lebih sulit lagi, selain medan vertikal yang nyaris tak bisa dipanjat (dilihat pada peralatan dan asumsi rata-rata pendaki zaman itu), cuaca buruk juga mulai menemani pendakian Mehringer dan Sedlmeyer. Malam harinya lebih buruk lagi bagi kedua pendaki pemberani itu, sebuah angin badai mengamuk di dinding utara Eiger, membuat keduanya hilang tertutup kabut yang cukup pekat. Tidak cukup sampai disitu, hujan salju juga mulai menghujani bivak Mehringer dan Sedlmeyer, sementara awan tebal seolah tak mau beringsut menutupi wajah utara dan juga puncak Eiger. Dua hari kemudian ketika badai reda dan awan menyibak sedikit di Eiger North Face, sepasang pendaki Jerman itu tampak beranjak sedikit lebih tinggi dilihat melalui binokular dari Kleine Scheidegg, mereka terlihat sedang mempersiapkan bivak kelima mereka. 

                Cuaca cerah ternyata tak bertahan lama  untuk kemudian kabut kembali turun lagi dan menyembunyikan sosok Mehringer dan Sedlmeyer dari penglihatan kaca teropong. Beberapa hari kemudian, ketika cuaca sepenuhnya cerah, dan Eiger North Face tampak terlihat dengan wujud aslinya yang penuh pesona, sosok Sedlmeyer dan Mehringer ditemukan tewas membeku pada ketinggian 3.300 meter. Saat ini lokasi bivak dimana mereka ditemukan tewas disebut sebagai Death Bivouac atau Bivak Kematian.

                Pemanjatan di wajah utara gunung Eiger, selain menghadirkan sebuah jenis pemanjatan yang penuh skill, keberanian, dan mentalitas. Juga menyajikan persembahan yang tidak dapat ditemukan di gunung-gunung lainnya. Di Eiger North Face, aksi para pemanjat langkah demi langkah dapat disaksikan secara langsung melalui bantuan kaca teropong dari Kleine Scneidegg. Kleine Scneidegg sendiri adalah nama sebuah dataran tinggi indah berumput hijau yang terletak di bawah dinding utara Eiger. Dari Kleine Scneidegg, para pria berdasi, memakai topi khas pria Eropa tahun 90-an, didampingi oleh wanita-wanita cantik bergaun lebar, sambil meminum whiskey atau teh panas, dan sesekali diselingi dengan menghisap rokok, dapat dengan detail menyaksikan para pendaki yang memanjat tebing utara Eiger yang berjibaku melawan maut, gravitasi, dan juga longsoran batu. 

                Pergerakan dari para pemanjat yang lincah adalah sebuah tontonan dan atraksi yang menarik banyak penonton di Kleine Scneidegg, dan musibah serta kematian yang kadang tertangkap melalui kaca teropong mungkin adalah bagian yang paling ‘dinantikan’ dari pertunjukan itu. Kenyataan ini memang tampak kontras dan dilematis, ketika di satu sisi ada orang-orang sambil duduk santai memakan roti berlapis keju dan coklat, sementara di ujung teropong mereka, sekelompok manusia lain sedang berusaha setengah mati supaya tidak terjatuh pada kematian mereka, meskipun usaha itu kadang berbuah kegagalan. Walaupun tak ada larangan untuk menghentikan hal tersebut dan memang hakikatnya tak dapat dilarang. Kenyataan kontras semacam ini kadang menimbulkan kritik dari orang-orang yang tampaknya lebih jauh memikirkan hal itu dari sisi kemanusiaan. Salah satu sosok besar yang ikut menyampaikan kegelisahannya mengenai perlombaan semacam ini, yang hal itu kadang begitu dinikmati oleh orang lain (bahkan secara live pada Eiger North Face) adalah pendaki Perancis bernama Gaston Rébuffat.  

                Rébuffat mengkritisi kenyataan semacam ini, menganggapnya sebagai sebuah proses yang sudah keluar dari jalur yang seharusnya. Namun kritik Rébuffat ini justru kadang menjadi bumerang untuk dirinya sendiri, seperti yang disampaikan sebelumnya, kompetisi dan perlombaan adalah ruh dari mountaineering, ini tak bisa dihadang, meskipun oleh orang sekaliber Rébuffat sekalipun. Hanya saja apa yang disampaikan Rébuffat ini adalah sebuah kebenaran yang harus diambil hikmahnya, apalagi ketika perlombaan dunia mountaineering sudah mengarah kepada hal yang sudah tidak sehat dan sportif lagi. Contoh nyata hal itu dapat dilihat pada sikap tega dan sampai hati Achille Compaqnoni dan Lino Lacedelli yang membiarkan secara sengaja Walter Bonatti dan Amir Mehdi yang nyaris tewas dalam pristiwa first ascent di gunung K2 (sudah diceritakan pada pristiwa first ascent gunung K2).


 
                Tahun 1936, setahun setelah kematian Karl Mehringer dan Max Sedlmeyer di Eiger North Face, sepuluh orang pendaki Jerman–Austria kembali datang ke Grindelwald dan berkemah di kaki gunung Eiger. Sebelum pendakian yang sebenarnya dimulai, satu di antara kesepuluh pemuda pendaki itu tewas saat pendakian latihan di kaki tebing Eiger yang membuat pendakian itu terasa kecut bahkan sebelum dimulai sama sekali. Pada musim panas tahun 1936 itu cuaca memang sangat buruk, beberapa hari para pendaki itu menunggu cuaca membaik, namun sama sekali tidak terlihat sedikitpun bahwa keadaan akan berubah menjadi lebih baik. Hal ini kemudian membuat sebagian besar dari pendaki memutuskan untuk meninggalkan tim eskpedisi dan mengurungkan niat mereka mencoba mendaki Eiger North Face musim itu. Setelah ditinggal oleh sebagian besar anggota tim yang sebelumnya berjumlah sepuluh orang, hanya tersisa empat orang yang masih memiliki tekad untuk tetap mencoba mendaki wajah utara Eiger. Empat orang pendaki yang tersisa itu adalah dua orang berasal dari Bavaria bernama; Andreas Hinterstoisser dan Toni Kurz, sementara dua orang lagi berasal dari Austria yaitu; Willy Angerer dan Edi Rainer.

                Ketika cuaca nampaknya mulai membaik, empat orang pendaki ini segera memulai pendakiannya di kaki tebing Eiger. Sebelum pendakian berjalan lebih jauh, sebuah musibah lain menimpa tim ini, Hinterstoisser jatuh sejauh 37 meter, namun ajaibnya ia tidak terluka sedikitpun. Pendakian dilanjutkan dengan cepat oleh empat pendaki Austria–Jerman, namun keesokan harinya setelah bivak mereka yang pertama, cuaca tiba-tiba berubah, kabut dan awan tebal turun menutupi para pendaki itu yang terlihat dari bidikan teropong para pengamat di Kleine Scneidegg. Para pendaki tidak dapat melanjutkan pendakian pada hari itu, dari ujung teropong para pengamat, keempat pendaki itu hanya terlihat sesekali saja, ketika awan dan kabut tebal yang menutupi mereka tersibak sebentar ditiup angin. 

                Pada esok harinya, para pendaki ini terlihat kembali melalui teropong, namun kali ini mereka terlihat dalam perjalanan turun. Diketahui kemudian, kelompok pendaki ini memang tidak memiliki pilihan selain turun karena kendala yang mereka hadapi di lapangan. Willy Angerer telah terluka cukup serius karena tertimpa oleh batuan jatuh, sementara mereka juga terjebak tak bisa melewati Hinterstoisser Traverse (tebing yang sebelumnya dilewati Hinterstoisser dengan traversing dan berayun dengan seutas tali), karena tali yang mereka gunakan sebelumnya, telah mereka lepaskan ketika mereka berhasil melewati celah tersebut.

Kondisi keempat pendaki ini kemudian berubah semakin buruk, ketika dua hari selanjutnya cuaca Eiger kembali berubah menjadi muram. Untuk membuat situasi semakin buruk sebuah longsoran salju menyapu tebing Eiger tepat dijalur pendakian dimana keempat pendaki Bavaria-Jerman berada. Sapuan longsoran ini menghempaskan tiga orang pendaki dan menyisakan seorang saja lagi yang bertahan yaitu Toni Kurz, yang berhasil bertahan karena bergantung pada seutas tali. Menyaksikan kondisi yang mengerikan ini, tiga orang pemandu gunung Eiger segera merencanakan sebuah penyelamatan yang sangat berbahaya guna menolong  para pendaki yang tampaknya sedang sekarat tersebut. Meskipun gagal mencapai posisi keempat pendaki tersebut, namun para pemandu itu terkejut menemukan Toni Kurz yang tergantung di tali, dan lebih kaget lagi mendengarkan penuturan Kurz yang nyaris membeku karena terlalu lama tergantung. Kurz menjelaskan nasib teman-temannya dengan cukup jelas, meskipun kondisinya sendiri sangat memprihatinkan; seorang pendaki telah jatuh ke dasar tebing disapu longsoran salju, seorang pendaki yang lain mati membeku di atasnya, sementara satu lagi yang lain, menurut penuturan Kurz telah memecahkan kepalanya sendiri ketika terjatuh di atas bebatuan tebing Eiger North Face dan menemui kematiannya saat menggantung di tali seperti yang ia lakukan.

Keesokan harinya, tiga pemandu ini kembali lagi ke tebing Eiger untuk menyelamatkan Toni Kurz, mereka menyeberang sebuah permukaan tebing dari lobang yang ada di Eigerwand, berusaha menjangkau Kurz meskipun itu mempertaruhkan keselamatan mereka sendiri di bawah potensi longsoran salju yang sedang gencar. Tim penyelamat ini menemukan Kurz masih hidup, namun tampaknya sudah sekarat, satu tangannya sudah benar-benar membeku tak bisa digerakkan lagi. Kurz memutuskan tali yang menghubungkan dirinya dan teman-temannya yang sudah tewas lebih dulu, dan berusaha untuk kembali mencapai permukaan tebing dan bergerak mendekati lokasi para penyelamat. Namun baik Kurz yang sekarat, maupun para pemandu yang berusaha menyelamatkannya sama-sama tak bisa berbuat banyak di depan sebuah tebing overhang (tebing menjorok yang membentuk semacam atap) yang memisahkan posisi mereka.

Para penyelamat itu berhasil melemparkan seutas tali yang cukup panjang untuk Kurz yang dapat digunakan untuk mengikatnya secara bersama, namun tangan Kurz yang membeku tidak dapat mengaitkan simpul tali itu ke carabiner miliknya, meskipun ia mencobanya berkali-kali. Kurz mencoba berjam-jam untuk mencapai tim penyelamat yang hanya berjarak beberapa meter dibawahnya, namun usaha itu tampaknya selalu berbuah sia-sia. Pendaki malang itu kemudian mulai kehilangan kesadarannya, ia mulai tak memberi respon lagi dengan segala seruan para penyelamat yang terus berupaya menjangkaunya. Salah satu dari tim penyelamat memanjat bahu temannya yang lain dan berhasil menyentuh crampon Kurz dengan kapak esnya. Sayangnya itu adalah batas usaha maksimal yang mereka bisa lakukan, tim penyelamat itu tidak dapat bergerak lebih tinggi lagi. Di sisi lain Kurz pun demikian, ia tak dapat turun lebih jauh lagi supaya dapat dijangkau tim penyelamat, radang dingin, membeku, dan keletihan membuatnya tak dapat bergerak lebih banyak. Situasi itu kemudian terus berlanjut karena tak ada yang bisa dilakukan lagi, Kurz tewas dengan perlahan didepan mata para penyelamat yang tak bisa berbuat apa-apa lagi untuknya.

Situasi pendakian tragis tahun 1936 ini diceritakan secara apik dalam sebuah film berjudul North Face yang diproduksi tahun 2008. Adegan-adegan yang diceritakan cukup akurat meskipun tentu saja ditambah sedikit dengan bumbu romanstisme untuk membuat filmnya lebih menarik.


>>>


Dikutip dari buku MAHKOTA HIMALAYA halaman 437-444 karya Anton Sujarwo.




Informasi kontak dan pemesanan buku Mahkota Himalaya.
WA: 081254355648
IG dan BL : arcopodostore
 


No comments:

Post a comment

Tulisan Terbaru

PEMUNCAKAN DAN TRAGEDI DI GUNUNG PALING SULIT DI DUNIA

Gunung K2 yang merupakan gunung tertinggi ke-2 di dunia dan merupakan satu-satunya gunung 8.000 meter yang belum tersentuh puncaknya pa...