Thursday, 25 July 2019

KEMATIAN DAN KEBOHONGAN FIRST ASCENT PUNCAK PATAGONIA



Cerro Torre adalah sebuah gunung runcing setinggi 3.128 meter yang terletak dibagian selatan padang es Patagonia, Amerika Selatan. Posisi Cerro Torre sebenarnya berdiri dalam region wilayah yang seringkali diperdebatkan antara Argentina dan Peru. Dibagian barat Cerro Torre berdiri gunung lain yang juga cukup dikenal yakni Cerro Chaltén, atau yang lebih akrab dengan sebutan Fitzroy atau Fitz Roy. Diantara puncak-puncak sekitarnya (Torre Egger, Punta Herron, dan Cerro Standhart), Cerro Torre merupakan puncak yang paling tinggi dan paling sulit untuk dicapai. Tiupan angin yang konstan seringkali membuat bagian tertinggi dari Cerro Torre tertutup oleh jamur es raksasa, yang tentunya semakin mempersulit upaya pendakian menuju puncaknya.

                Sebenarnya banyak hal yang menjadi kemelut kontroversi di Cerro Torre ini, bukan hanya kisah first ascentnya saja yang penuh dengan dilema. Pendakian yang dilakukan oleh Hayden Kennedy dan Jason Kruk pada tahun 2012 juga memiliki buntut yang cukup ruwet. Sementara itu pendakian David Lama dari tim Red Bull juga menuai banyak kritik pada tahun 2010. Kontroversi ini jika kita ikuti lebih jauh akan semakin terasa lebih ruwet dan membingungkan, apalagi dengan beragamnya perbedaan standard dan cara pandang dalam meletakkan model pendakian yang ideal dalam khazanah mountaineering. Akan tetapi untuk sementara kita akan berfokus membahas kontroversi first ascentnya saja, kontroversi mengenai hal yang terjadi kemudian akan kita singgung pula sedikit dalam pembahasan ini.

Kontroversi first ascent ini bermula pada tahun 1959 ketika seorang alpinis sekaligus penulis dari Italia bernama Cesare Maestri mengklaim dirinya telah berhasil mencapai Puncak Cerro Terro bersama seorang pendaki Austria bernama Toni Egger.

 Pada awalnya, perjalanan ke salah satu puncak Amerika Selatan itu terdiri dari tiga orang. Yang pertama Maestri sendiri, lalu Toni Egger yang merupakan guide Swiss yang direkrut oleh Maestri, dan orang ketiganya adalah Cesarino Fava, seorang pendaki Italia yang sama seperti Maestri. Ketiga orang itu datang ke Patagonia untuk mencoba mendaki puncak Cerro Torre melalui punggungan timur laut yang hingga saat itu belum pernah tercapai, meski telah beberapa orang mencoba menaklukkannya. 

Skenario yang disampaikan Maestri ke publik mengenai klaim keberhasilannya di Cerro Torre adalah sebagai berikut: Mereka bertiga mendaki sebuah sudut curam dibawah Col of Conquest, yang terletak antara kaki Cerro Torre dan Torre Egger. Pada titik ini menurut keterangan Maestri, Cesarino Fava berbalik mundur, meninggalkan dirinya dan Toni Egger yang tetap yakin untuk melanjutkan pendakian menuju puncak. Enam hari kemudian, Fava menemukan Maestri nyaris terkubur dalam tumpukan salju dikaki Cerro Torre dalam posisi telungkup. Keduanya kembali ke base camp. Maestri mengklaim bahwa ia dan Toni Egger telah mencapai puncak tertinggi Cerro Torre, namun malangnya Egger tersapu longsoran salju saat turun dan mayatnya menghilang (jenazah Egger ditemukan pada tahun 1974 kemudian, lima belas tahun setelah pristiwa tersebut).

Jika kita perhatikan dengan seksama, ditemukan sedikit kesamaan klaim Maestri ini dengan klaim serupa yang dilakukan oleh Frederick Cook untuk puncak Gunung Denali. Perbedaannya adalah, Cook mengatakan bahwa patner mendakinya mundur saat itu dengan bermacam pertimbangan, sedangkan Toni Egger yang menjadi mitra Maestri, oleh Maestri dikatakan meninggal karena dihantam avalanche. Kehilangan partner mendaki yang dapat menjadi saksi kunci seperti ini memang memunculkan keraguan publik terhadap klaim Maestri pada saat itu. Apalagi tanpa didukung oleh teknologi peralatan pendakian seperti sekarang ini, klaim Maestri memang terasa begitu berlebihan.

Pencapaian puncak yang tidak dilengkapi dengan data-data meyakinkan, baik berupa foto, deskripsi jalur yang detail, kesaksian partner pendakian baik guide maupun sesama pendaki, memang menimbulkan kesangsian. Zaman sekarang, ketika teknologi sudah semakin maju, perangkat pendukung bukti pencapaian ini bertambah komplit dengan adanya GPS Track yang dilengkapi pula dengan altimeter recorder yang umumnya dibawa oleh para pendaki. Dan semakin mudah dan efisien lagi ketika benda pendukung seperti camera, altimeter recorder, dan GPS ini dapat ditanam pada perangkat kecil seperti jam tangan yang begitu mudah untuk dibawa oleh para alpinis ke puncak gunung. Kelengkapan bukti semacam ini membuat klaim pendakian, baik berupa pencapaian puncak, penggunaan rute, serta waktu tempuh menjadi lebih valid dan meyakinkan.

Karena klaim Maestri saat itu hanya didukung oleh pernyataannya sendiri dan juga Fava, serta beberapa lembar foto (dikemudian hari foto yang diambil Maestri digunakan balik oleh Rolando Garibotti sebagai sanggahan atas klaim Maestri sendiri), maka mau tidak mau, klaim Maestri meskipun dipercaya oleh beberapa orang, tetap tak dapat menepis keraguan yang lainnya. Yang mungkin berpikir lebih kritis dan skeptis.
 
Keraguan ini sama sekali bukan didasarkan pada sosok Cesare Maestri, ia dikenal sebagai salah satu pemanjat tebing besar dari Italia. Maestri bahkan mengulangi banyak rute terkenal di Dolomites secara solo. Bahkan julukan ‘spider of Dolomites’ yang disematkan untuknya adalah karena kemampuannya mebuat jalur-jalur sulit di pegunungan tersebut. Sejak tahun 1952, Maestri juga menjadi seorang guide pendakian, membawa kliennya mendaki Civetta, Marmolada, dan juga punggungan Matterhorn pada musim dingin.

Akan tetapi, seperti yang disampaikan oleh Garibotti, meskipun sosok Maestri adalah salah satu pendaki fenomenal dan pemikir bebas yang berkelas, hendaknya hal tersebut tidak menghalangi kita (maksud Garibotti adalah publik mountaineering) untuk meneliti kembali klaim Maestri terhadap first ascent Cerro Torre berdasarkan data-data dan fakta yang lebih akurat dan meyakinkan. Keraguan dan rasa skeptis terhadap klaim Maestri yang mengaku berhasil mencapai Puncak Cerro Torre tahun 1959 ini semakin meningkat ketika melihat betapa sulitnya rute pendakian yang ia klaim tersebut meskipun dilakukan dengan dukungan alat pendakian gunung modern setelahnya. Keberhasilan Maestri menaklukkan lintasan-lintasan berat Cerro Torre pada saat itu dengan alat pendakian yang ‘jadul’ semakin lama dianggap hanya sebagai sebuah pengakuan (jika tidak ingin menggunakan kata bualan) yang nampaknya terlampau berlebihan.

Diantara orang-orang yang meragukan klaim Maestri tersebut, termasuk pula diantaranya adalah alpinis-alpinis ternama seperti Carlo Mauri (yang pernah mencoba memanjat Cerro Torre pada tahun 1958 dan 1970 namun berakhir dengan kegagalan, Mauri juga adalah orang yang bersama dengan Walter Bonatti menjadi first ascent Puncak Gasherbrum IV). Kemudian Reinhold Messner, Ermanno Salvaterra (yang sebelumnya membela klaim Maestri namun mengubah pendapatnya setelah mencoba sendiri jalur yang kira-kira mirip dengan itu pada tahun 2005 bersama Rolando Garibotti dan Alessandro Beltrami). 

Dari Inggris kritik untuk klaim Maestri ini datang pula dari Ken Wilson, pendaki, penulis, sekaligus editor Mountain Magazine. Pada umumnya beberapa hal yang menjadi point utama dari kritik tentang klaim keberhasilan Maestri pada first ascent Cerro Torre yang pertama adalah tentang kapabilitas perlengkapan pendakian yang digunakan. Peralatan ice climbing dan rock climbing pada tahun 1959, tahun dimana Maestri mengklaim keberhasilan first ascentnya di Cerro Torre, dilihat dari berbagai macam standar dan ukuran, tetap dinilai tidak akan memadai (bahkan lebih jauh disebut imposible) untuk dapat menaklukkan kesulitan tebing Cerro Terro. Para alpinis papan atas yang mengkritik klaim Maestri dapat menilai dengan jelas bahwa kemampuan panjat tebing Maestri dan Toni Egger, sehebat apapun mereka saat itu, diyakini tetap tidak akan mampu melewati berbagai kesulitan medan vertikal atau overhang yang ada di Cerro Torre saat itu. Ketika peralatan yang mereka gunakan tidak mendukung mereka untuk melakukannya.

Hal kedua yang mengundang kritik bagi Maestri adalah deskripsinya tentang detail rute pemanjatan yang ia lakukan hingga menjelang Puncak Cerro Torre yang ternyata jika diteliti lebih lanjut, berada pada tempat yang lebih rendah daripada tempat dimana Cesarino Fava memutuskan untuk mundur. Sehingga menimbulkan bukti yang terlihat kontradiktif. Namun hal itu tidak mungkin dibuktikan secara jelas dan dilacak jejaknya setelah pendakian dilakukan. 

Selanjutnya point ketiga yang menjadi objek kritik untuk Maestri adalah mengenai jejak pendakian yang ia lakukan. Dengan melakukan pemanjatan di gunung Cerro Torre yang rencananya telah dipersiapkan jauh-jauh hari, tentunya Maestri, Fava, dan Egger akan membawa dan memasang perlengkapan berupa fixed rope, bolt, pitons, dan lainnya. Menjadi sesuatu yang sangat mengherankan kemudian ketika tidak ditemukan jejak-jejak bekas adanya peralatan tersebut pada jalur yang disampaikan Maestri. Lebih tidak mungkin lagi untuk memperkirakan bahwa Maestri dan Egger mencabut piton, bolt, dan fixed rope sambil melakukan perjalanan turun saat itu.

Ketika rasa sangsi dan keraguan atas pendakiannya tahun 1959 belum menguap, Cesare Maestri kembali lagi ke Patagonia tahun 1970 bersama dengan sebuah tim baru yang beranggotakan Ezio Alimonta, Daniele Angeli, Claudio Baldessari, Carlo Claus, dan Pietro Vidi. Dalam pendakiannya yang kedua di Cerro Torre ini, Maestri dan timnya memilih rute tenggara untuk melakukan pemanjatan. Dan mereka berhasil. Akan tetapi yang menjadi objek kontroversial terbesar dalam ekspedisi kedua Maestri ini adalah ‘persenjataan’ yang ia gunakan, Maestri membekali timnya dengan sebuah bor compressor bertenaga bensin dengan bobot sekitar 135kg, ratusan bolt, ribuan meter fixe roped, dan perlengkapan lainnya.

Tidak tangung-tanggung, sepanjang jalur pendakian dari bawah sampai menjelang mushroom (bagian dimana jamur es yang seringkali menyelimuti Puncak Cerro Torre berada), Maestri dan timnya menanam sekitar 400 buah bolt ke permukaan tebing Cerro Torre. 

Pada pendakiannya kali ini, Maestri juga tidak mencapai puncak tertinggi Cerro Torre yang ditutupi es, ia beralasan bahwa mushroom bukanlah bagian dari puncak gunung. Dan karena itu ia memutuskan untuk menghentikan pendakian tepat di bawah puncak dimana tepian jamur es berada. Sementara untuk compressor yang dibawanya, digantung pada bolt tertinggi jalur tersebut, dan kemudian ditinggalkan begitu saja. Dan atas alasan itu pulalah jalur pemanjatan ini kemudian lebih dikenal dengan nama Rute Kompresor atu Compressor Route.

Rute Compressor Maestri segera menjadi kontroversial dan menuai lebih banyak lagi kritik daripada keraguan first ascent yang diklaim Maestri pada tahun 1959. Penggunaan bor tangan untuk memasang baut di permukaan tebing yang tidak memiliki tempat perlindungan (tidak memiliki, lubang, crack atau celah, atau apapun yang memungkinkan untuk dipasangi anchor berupa pitons, camp, nut dan yang lainnya sebagai pengaman sementara yang dapat dilepas kembali dengan mudah tanpa merusak permukaan tebing), memang secara umum telah diterima dalam praktik mountaineering. Namun ini menjadi masalah serius dan tampaknya keluar dari logika akal sehat jika menggunakan compressor  seberat 135kg, jumlah baut yang berlebihan, dan penempatan baut yang ditanam di areal tebing yang sembarangan. Dalam artian dekat dengan tempat untuk memasang alat proteksi sementara (piton, camp, nut, dan lain-lain).

Menyikapi kejadian ini, Mountain Magazine menerbitkan sebuah artikel yang khusus membahas rute compressor Maestri dengan judul Cerro Torre: A Mountain Desecrated (Cerro Torre: Gunung Yang Ternoda). Reinhold Messner juga terdorong untuk menulis sebuah esai serupa yang kemudian ia beri judul, The Murder of the Imposible. Werner Herzog juga mengemukakan ekspresi kritiknya dengan membuat sebuah film dramatisasi yang berjudul Scream of Stone yang diterbitkan pada tahun 1991.
 
Hujan kritik yang melanda Cesare Maestri ini benar-benar menjungkir balikkan reputasinya sebagai salah satu alpinis besar Italia. Sikap ‘unfair’ yang ia tunjukkan di Cerro Torre telah mencoreng nama baiknya sepanjang masa. Bagi asumsi beberapa orang, apa yang dilakukan oleh Maestri dengan mengebor sepanjang jalur tenggara ini adalah bentuk dari ‘obsesi butanya’ akan penaklukan Cerro Torre. Yang secara tidak langsung memberi kesimpulan lain bahwa klaimnya pada tahun 1959 dengan jelas dapat dilihat bahwa puncak itu belum dapat ia capai. Dengan kata lain, fisrt ascent yang ia klaim tak lebih dari sekedar bualan.

Cesare Maestri dan mesin compressor seberat 135kg yang ia tinggalkan di tebing tenggara Cerro Torre. Obsesi dan semangat Maestri akan penaklukan Cerro Torre patut untuk ditiru, namun tindakan tidak sportifnya dengan membawa sebuah compressor sama sekali tidak bisa dimaklumi.

Sumber foto: Google

Tahun 2015, Rolando Garibotti (pendaki Argentina Amerika yang tahun 2005 bersama Ermanno Salvatera dan Alessandro Beltrami memanjat Cerro Torre melalui jalur yang diklaim first ascent oleh Maestri) bersama Kelly Cordes (editor senior dari American Alpine Journal) menulis sebuah artikel yang menunjukkan bukti yang cukup konkret bahwa foto yang diambil oleh Maestri tahun 1959, bukanlah di tebing Cerro Torre, namun di sebuah tempat yang bernama Perfil de Indio. Dalam artikel tersebut, Garibotti dan Cordes mendeskripsikan dengan sangat jelas perbandingan antara foto yang diambil Maestri dan foto yang mereka ambil di Perfil di Indio. Kedua fotonya memang nampak identik. 

Selain itu artikel tersebut dilengkapi pula dengan penandaan spot khusus yang memberi mereka kesimpulan bahwa klaim Maestri adalah sebuah kebohongan. Dan lebih jauh Garibotti menulis, bahwa kematian Toni Egger yang tubuhnya ditemukan tahun 1974, adalah ‘hutang’ Maestri untuk menjelaskan detail pristiwanya secara lebih jujur. 


*
Kontroversi di menara Patagonia ini tidak hanya berhenti pada nama Maestri saja, tahun 2010, pendaki muda blasteran Austria-Nepal bernama David Lama juga menuai kecaman besar atas pendakiannya di Cerro Torre. 

 Tahun 2010, David Lama dengan ditemani oleh beberapa guide diantaranya adalah Peter Ortner dan Markus Pucher, datang ke Cerro Torre sebagai sebuah tim yang akan mencapai puncak. Misi ini sepenuhnya berada dalam area yang disponsori oleh Red Bull, sebuah brand besar dalam industri minuman berenergi. David Lama sebagai brand ambassador sekaligus sebagai salah satu atlit utama Red Bull dijadwalkan akan memanjat tebing Cerro Terro dengan teknis free climbing (free climbing adalah jenis pemanjatan yang menggunakan peralatan hanya sebagai alat pengaman jika terjadi jatuh, dalam teknis ini pengaman tidak dibenarkan jika digunakan sebagai pegangan atau alat untuk menambah ketinggian). 

Meskipun mencapai puncak dengan sukses, namun pendakian David Lama dan tim Red Bull-nya ini menambah sekitar 30 bolt baru di rute compressor, beberapa diantaranya dipasang tidak jauh dari areal yang sebenarnya dapat digunakan sebagai anchor alami. Selain itu, dikarenakan cuaca yang memburuk, sekitar 30-an bolt baru itu, dan juga fixed rope ratusan meter, juga beberapa perlengkapan lainnya, ditinggalkan begitu saja di dinding tebing Cerro Torre. Dan hal inilah kemudian yang membuat geram beberapa pendaki dan komunitas yang perduli. Meskipun fixed rope, bolt, dan beberapa peralatan lain bekas pendakian David Lama telah disingkirkan oleh pendaki lokal, namun bukan bearti kecaman dan kritik untuk tim itu selesai.

Salah satu yang paling vokal mengkritik kejadian ini adalah Kelly Cordes. Cordes secara terang-terangan mengirim email kepada pihak Red Bull dan mengutarakan keberatannya atas tindakan mereka di Cerro Torre. Cordes mengibaratkan apa yang dilakukan tim Red Bull di Cerro Torre adalah persis seperti yang dilakukan British Petroleum di Teluk Meksiko (BP mencemari laut dengan massif saat kilangnya terbakar beberapa tahun lalu), yang hanya mengejar keuntungan dan komersialisasi, tanpa memperdulikan dampaknya terhadap lingkungan. Lebih jauh Cordes juga mengatakan bahwa perbuatan yang legal belum tentu adalah sebuah kebenaran. Memasang bolt dan fixed rope di Cerro Torre saat melakukan pemanjatan tentu saja memang boleh, tapi itu bukan sesuatu yang benar jika dilakukan tanpa mengindahkan kaidah dan semangat alpinisime yang sejati.

 Mendapat hujan kritik yang sedemikian rupa, David Lama secara pribadi telah menyampaikan permohonan maaf dan penyesalan yang dalam. Red Bull sebagai pihak utama yang bertanggung jawab juga telah menyampaikan hal yang sama. Namun menurut Kelly Cordes lagi, permohonan maaf itu semestinya diikuti oleh langkah pasti untuk memperbaikinya.

David Lama dalam pemanjatannya yang populer di Cerro Torre. Meskipun seorang atlit muda yang sangat bersinar, aksi David Lama di Cerro Terro lebih banyak menuai kritik.

Sumber foto: google

Tanggal 16 Januari 2012, terjadi hal menarik lainnya di Cerro Torre. Hari itu seorang pendaki Amerika bernama Hayden Kennedy, ditemani oleh seorang pendaki Kanada bernama Jason Kruk, membuat pendaian fair-means pertama di tebing Cerro Torre melalui jalur yang tidak jauh dari rute compressor. Fair-means adalah sebuah istilah yang disematkan untuk penggunaan bolt yang masuk akal untuk keselamatan dan nilai estetika, sebuah praktik yang memang sudah sejak lama dapat diterima dalam pendakian di pegunungan Patagonia. Dalam perjalanan turun setelah mencapai Puncak Cerro Torre, Hayden dan Kruk melepas sekitar 125 bolt di rute compressor. Aksi ini juga menuai banyak diskusi dan silang pendapat. Namun secara umum Hayden dan Kruk dianggap telah membuat sebuah kontribusi yang nyata dalam upaya mengembalikan jalur sisi tenggara Cerro Torre ke dalam ranah petualangan yang murni.

Diantara sekian banyak alpinis dan mountaineer yang mengkritik pristiwa-pristiwa yang terjadi di Cerro Torre Patagonia, perumpamaan yang disampaikan Pavel Shabalin mungkin memiliki kalimat yang paling menarik untuk kita simak. Shabalin adalah salah satu alpinis besar dari Rusia yang secara khusus diminta oleh Christian Beckwith (editor American Alpine Journal) untuk menulis artikel yang khusus membahas tentang fenomena komersialisasi dalam pendakian gunung modern. Dalam esainya yang berjudul Barbie in the Mountains, Pavel Shabalin menulis sebuah kalimat yang cukup memukau, yang secara bebas, kalimat Shabalin itu mungkin dapat kita terjemahkan sebagai berikut;

“Pendakian gunung adalah sesuatu yang luar biasa dan sakral karena ia tertutup bagi masyarakat luas. Dan sekarang mountaineering dan alpinisme menemukan dirinya dalam situasi historis yang sama dengan cinta. Saat cinta itu berbentuk puisi, maka ia menjadi sakral, tinggi, dan juga memiliki nilai yang luar biasa. Akan tetapi ketika masyarakat meletakkan sebuah cinta di televisi, majalah, koran, dan media massa lainnya, maka hal itu akan lebih banyak berubah menjadi pornografi”

*




Dikutip dari buku DUNIA BATAS LANGIT halaman 234-246 karya Anton Sujarwo





No comments:

Post a Comment

Tulisan Terbaru

PEMUNCAKAN DAN TRAGEDI DI GUNUNG PALING SULIT DI DUNIA

Gunung K2 yang merupakan gunung tertinggi ke-2 di dunia dan merupakan satu-satunya gunung 8.000 meter yang belum tersentuh puncaknya pa...