Sunday, 14 July 2019

'BRUTALKAH', RESCUE HIPOTHERMIA DENGAN 'MENYETUBUHI'?





Bahasan menarik dan sejujurnya agak miris mendapati beberapa timeline populer akun aktivis pegiat olahraga pendakian gunung di Indonesia hari ini ramai memberitakan pertanyaan dan pernyataan dari seseorang mengenai hipothermia.


Menyetubuhi (mohon maaf bahasanya vulgar, sesuai dengan kata yang digunakan dalam pertanyaan tersebut) korban hyphotermia dengan tujuan mengembalikan panas tubuhnya kembali mungkin bagi beberapa orang termasuk langkah yang ekstrim dan brutal. Ada banyak cara dapat dilakukan sebelum masuk ke hal yang terlampau jauh semacam itu. 


Dan berikut adalah kutipan novel MERAPI BARAT DAYA dengan alur dan setting cerita yang hampir sama namun ditangani dengan cara berbeda. Seorang pendaki wanita mengalami hipothermia parah kemudian diselamatkan oleh pendaki pria. Meskipun ini adalah kisah fiksi, namun beberapa langkah yang dilakukan jauh lebih ‘bermoral’ dan logis dari pada menjatuhkan pilihan pada kata menyetubuhi. 


Bagaimana caranya, berikut kisahnya....


>>>






Tatras membutuhkan waktu hampir satu setengah jam untuk melakukan pendakian traversing dari tebing barat daya Merapi sampai ke kaki Watu Moncong. Rute yang licin ditengah guyuran gerimis, malam yang pekat dengan cahaya bulan separuh yang temaram membuat ia harus ekstra hati-hati dalam memilih pijakan. Jika ia tidak mau menggelinding seperti bola dan berakhir di ujung tebing yang jauhnya ratusan meter ditepi hutan sana. 

Jika saja ia tak membawa serta crampon dan kapak es bergagang lancip miliknya, Tatras yakin ia bisa saja membutuhkan waktu lebih dari empat jam untuk mencapai Watu Moncong. Tidak mudah untuk melakukan traversing dimalam hari seperti ini. Couloir-couloir kecil Merapi masih dialiri oleh air hujan yang tersisa. Ini sama sekali bukan pekerjaan untuk coba-coba, dan untunglah Tatras sudah lebih dari selusin kali melakukan petualangan seperti ini di Dinding Merapi. Namun untuk dilakukan dimalam hari, harus ia akui ini adalah yang pertama kalinya.

                “Oh ternyata yang longsor tadi itu tebing ini, pantasan bunyinya dahsyat betul” 

                Tatras mendongak dan kemudian mengedarkan pandangannya ke hamparan berserakan batuan dan pasir Merapi yang berhamburan tak karuan. Berjarak sekitar 100 meter dari lokasi Tatras berdiri nampak sebuah bagian tebing Merapi agak ke barat dari Pasar Bubrah yang telah terpotong karena longsoran. Besar tebing yang sudah hilang itu hampir sebesar gedung empat lantai. Dan setelah diteliti lebih lanjut, Tatras tertegun, ternyata yang longsor bukan hanya tebing disebelah darat Pasar Bubrah yang besar itu, namun juga punggungan tipis yang menjadi satu-satunya akses menuju Watu Moncong. 

                Batuan material longsoran nampak berserakan disana sini. Batu-batu besar berhamburan memenuhi setiap celah disekitar situ. Dan Tatras yakin juga banyak yang terjun berhamburan ke kaki tebing yang jauhnya hampir dua kilometer dibawah sana. Dengan runtuhnya punggungan utama yang menjadi satu-satunya akses menuju ke Watu Moncong, maka tempat itu sekarang terisolasi. Tatras berpikir keras bagaimana ia dapat mencapai tempat tersebut secepatnya dan seaman mungkin. 

                Karena akses utama berupa punggungan dari arah Pasar Bubrah sudah runtuh, maka jalan menuju ke Watu Moncong sekarang menyisakan dua opsi. Opsi pertama melakukan pemanjatan langsung dari bawah teras goa Cula Malaikat yang tingginya sekitar 20 meteran dengan kemiringan nyaris 90°. Sebenarnya bukan masalah memanjat tebing seperti itu bagi Tatras, ia sudah pernah melakukannya sebelumnya. Namun situasinya sekarang berbeda, selain kondisi malam yang dan licin karena habis diguyur hujan lebat, Tatras juga dituntut untuk bergerak lebih cepat.

                Opsi untuk memanjat tebing didepan teras Cula Malaikat dalam kondisi seperti sekarang memiliki risiko yang sangat tinggi. Tebing itu secara umum memang tidak terlalu teknis. Namun kombinasi gelap malam dan licin bebatuannya yang ada akan membuat risikonya jadi maksimal. Bagaimana mungkin ia bisa membantu survivor jika nanti ia sendiri terjatuh sebelum mencapai bibir lereng dari Watu Moncong?

                Atas dasar berbagai pertimbangan itu, Tatras kemudian mengambil opsi kedua yang secara umum risikonya lebih ringan dari yang pertama. Opsi kedua ini adalah ia harus turun sekitar 20 meteran untuk kemudian kembali traversing memutar ke bagian sebelah kanan Watu Moncong. Dari bagian sebelah kanan Watu Moncong ia perlu naik lagi sekitar tiga puluh meter, kemudian dari tempat itu ia dapat melakukan pendakian scrambling menuju bagian atas dari Cula Malaikat, tepat sekitar beberapa meter dari punggungan utama yang sudah terputus karena longsoran magrib tadi. 

                Tatras sangat bersyukur dengan keingintahuannya yang berlebihan beberapa bulan lalu, ketika ia mengeksporasi hampir setiap meter dari punggungan utama Watu Moncong. Saat itulah ia mendapat kesimpulan bahwa akses tebing utama dibawah teras goa Cula Malaikat bisa dipanjat dengan aman tanpa tali jika kondisinya kering dan disiang hari. Dan bagian sisi kanan punggungan Watu Moncong adalah akses alternatif yang bisa digunakan dengan risiko yang lebih rendah daripada harus memanjat tebing teras bagian depan. Namun diantara keduanya, punggungan utama dari Pasar Bubrah adalah yang paling aman dan mudah untuk dilalui. Akan tetapi karena pintu masuk mudah itu sekarang sudah runtuh digoyang gempa, maka pilihan yang tersisa hanya ada dua, dan Tatras harus memilih salah satunya. 

                Scrambling disisi kanan Watu Moncong ternyata tidak sesukar dugaan Tatras sebelumnya. Ia membutuhkan waktu kurang lebih sekitar lima belas menit untuk memanjat tebing dengan kemiringan 70 derajat tersebut, itupun sambil membawa ransel yang bobotnya hampir 12kg. Banyaknya pegangan dan pijakan disisi kanan Watu Moncong yang nampak berundak-undak memudahkan proses scrambling yang dilakukan oleh Tatras.

                Udara dingin mulai mencucuk tulang, tiupan angin yang seolah ingin membekukan darah membuat Tatras yang tiba diatas Watu Moncong mengigil kedinginan. Merapi memang tidak tinggi, bahkan tidak mencapai 3000 meter pasca runtuhnya Puncak Rajawali beberapa tahun yang lalu karena erupsi. Namun karena kontur gunung ini yang tinggi menjulang dengan gundukan pasir dan batuan sebagai formasi utama, membuat paparan angin ketinggian bertiup tajam karena tak memiliki penghalang semacam pepohonan atau sejenisnya.

                Tepat pukul sebelas malaam lebih empat puluh lima menit cahaya lampu senter kepala milik Tatras menyapu bagian teras goa Cula Malaikat, dan tak ada siapa-siapa ditempat itu. Hampir saja putus asa Tatras karena menyangka dugaannya salah. Namun ketika ia melangkah lebih dekat ke arah gua, kali ini cahaya headlamp dikepalanya membentur sesosok tubuh yang sedang duduk meringkuk dan menggigil dibagian dalam sudut goa! 

                Sosok itu berjaket merah muda dengan beberapa list putih dibagian pundaknya. Ia menggunakan celana bahan sofshell yang tidak begitu tebal warna krem. Baik celana maupun jaketnya dalam keadaan basah kuyup. Tatras mendekatkan kembali senternya, dan sekarang ia dapat melihat dengan jelas jika sosok itu adalah seorang perempuan. Parasnya yang jelita terlihat sangat pucat, bibirnya nampak membiru, giginya bergemeletukan menggigil karena dingin, sementara disudut keningnya, Tatras melihat ada bercak darah yang mulai mengering. 

                Memperhatikan sosok yang meringkuk didepannya sekarang, Tatras yakin bahwa perempuan inilah yang bernama Elya, pendaki perempuan dari Jakarta yang dikabarkan hilang pasca gempa dan longsoran sore tadi.

                “Mbak Elya...” sapa Tatras dengan hati-hati sambil mendekati tubuh meringkuk yang menggigil itu.

                Perempuan yang meringkuk itu tidak bereaksi, hanya gerakan menggigilnya saja yang seolah terhenti beberapa saat.

                Tatras melepaskan ranselnya, meletakkan benda itu dibagian mulut goa. Sementara crampon dan kapak es yang sudah lebih dulu dilepaskannya saat scrambling disisi kanan Watu Moncong juga diletakkannya disamping ransel.

                “Anda yang bernama Elya..?” Tatras mendekati sosok yang masih meringkuk, mengulangi kembali sapaannya. Sejenak wajah perempuan itu terangkat, matanya nampak menyipit beradu dengan cahaya headlamp dikepala Tatras.

                “Anda yang bernama Elya..?” ulang Tatras sekali lagi.

                Perempuan itu mengangguk, bunyi giginya bergemeletukan menahan dingin yang hebat.

                Tatras nampak agak lega mendapat respon dari Elya. Sebenarnya walau bagaimanapun ia sudah tahu bahwa wanita itu adalah Elya yang dikabarkan hilang. Namun Tatras hanya ingin memastikan bahwa pendaki malang dari kota Jakarta itu masih sadar dan dapat diajak berkomunikasi.

                “Baik mbak Elya, nama saya Tatras, saya kesini untuk menolongmu...”

                Tatapan mata Elya berkedip berusaha untuk menggantikan anggukannya yang lemah. Bibirnya yang membiru belum bisa berucap apa-apa selain bergetar menahan dingin.

                Tatras bergerak cepat, ia segera melepaskan jaket hijau yang ia kenakan, meletakkan benda itu dimulut goa dekat dengan crampon dan kapak es. Kemudian ia membongkar ranselnya dengan cepat mengeluarkan beberapa perlengkapan yang ia butuhkan untuk membantu Elya.

                 “Pakaian mbak Elya basah kuyup, kita harus menggantikannya dengan yang kering. Mbak akan sampai pada tahap hipotermia yang parah jika kita tak menggantinya..”

                “Mbak Elya bisa ganti sendiri atau perlu saya bantu...” tanya Tatras agak ragu. Itu pertanyaan bodoh sebenarnya, bagaimana mungkin Elya bisa mengganti bajunya sendiri sementara ia dalam kondisi hampir tidak bisa bergerak karena dingin.

                Elya menggigil menatap Tatras, bibirnya masih tak bersuara. Hanya saja ia menggangguk, menyetujui apa yang Tatras katakan.

                Dari dalam ranselnya Tatras mengeluarkan sebuah thermal blanket berwarna silver, sebuah selimut survival yang ia persiapkan untuk keadaan darurat. Selain thermal blanket, Tatras juga mengambil sebuah handuk microfibre warna kuning. Sementara lampu headlamp ia letakkan dilantai goa yang dingin, ia mendekati tubuh Elya yang masih meringkuk tak bergerak.

                “Maaf mbak Elya ya...” 

                Dengan telaten Tatras membantu melepaskan jaket hijau muda yang basah kuyup dari tubuh Elya. Elya yang nampaknya sudah sangat lemah dan kedinginan mengikuti saja arahan dari Tatras untuk melepaskan jaketnya. 

                Setelah jaket terlepas, Tatras merasa ragu dan gugup jika harus melepaskan baselayer dan celana softshell krem milik Elya. Ia merasa tak mungkin melakukan itu, ia menghormati Elya, ingin menolong perempuan itu untuk segera terbebas dari hipotermia. Namun untuk mencopoti baju Elya, walaupun berniat untuk menggantikannya dengan yang kering, ia merasa sangat sungkan. Karena itulah ia kemudian mengambil thermal blanket, membuka benda itu dan menyelimuti tubuh Elya dengan rapat.

                “Jaket mbak Elya berbahan tebal dan menyerap air. Ini adalah penyebab utama mbak menggigil” Tatras berucap sambil mengencangkan selimut thermal di tubuh Elya, memastikan bahwa panas tubuh Elya yang telah begitu banyak terkuras bisa dikembalikan lagi oleh benda itu. 

                Setelah memastikan badan Elya terbungkus dengan erat dan panas tubuhnya yang telah terkuras banyak tidak lagi keluar, Tatas mengambil handuk microfibre dan mulai mengeringkan rambut Elya yang basah kuyup. Setelah selesai ia kemudian mengeringkan pula jemari kaki Elya yang berkerut kaku karena dingin. Tatras memijit-mijit pelan tapak dan jemari kaki Elya, berusaha mengembalikan panas tubuh Elya serta memperlancar peredaran darah dikaki gadis malang itu.

                “Sekarang sambil menunggu kondisi mbak Elya agak baikan dan bisa ganti baju sendiri. Saya akan membuatkan bubur hangat untuk mbak Elya...” tanpa menunggu jawaban dari Elya, Tatras beringsut membuka ranselnya kembali, mengeluarkan peralatan masak dengan cepat. 

                Angin dingin tengah malam di Merapi bertiup dengan pelan, membuat nyala api kompor Tatras bergoyang-goyang. Untung baginya membawa kompor lapangan yang dilengkapi dengan windshield sehingga panas dan nyala api tetap terfokus pada panci meskipun ditiup oleh angin. Tak seberapa lama kemudian, air didalam panci itu mulai beriak-riak pertanda akan mendidih. Sambil menunggu air mendidih, dengan cekatan Tatras menyiapkan satu buah mangkok kecil. Ia membuka satu buah sachet kemasan bubur instan, menuangkan dalam mangkok kemudian menyiramnya dengan air panas yang sudah mendidih. 

                Air mendidih yang masih ada didalam panci dituangkan lagi oleh Tatras dalam sebuah mangkok lain yang lebih besar. Sambil menggoyang-goyangkan benda itu supaya panasnya cepat berkurang, Tatras menuangkan lagi sisa air dari botol minumnya kedalam panci yang diatas tungku kompor yang masih menyala.

                Sekitar tiga menit kemudian panas air dalam mangkok besar sudah berkurang dengan cepat dan sudah dapat diminum. Tatras menyodorkan benda itu kepada Elya. Elya berusaha menyambut mangkok namun tangannya yang terlilit dalam thermal blanket nampak masih menggigil kedinginan. Mengetahui Elya belum bisa memegang mangkoknya sendiri, Tatras membantu memegangkan mangkok tersebut untuk memudahkan Elya meminum air hangat dari dalamnya.

                Setelah merasa cukup, Elya mengangguk pelan. Menggigilnya sudah berkurang sekarang, meskipun bibirnya masih membiru karena dingin. Tatras meletakkan mangkok bersisi air hangat itu, kemudian mengambil mangkok lain berisi bubur instan yang baru saja ia buat. 

                “Mohon maaf mbak Elya, ini rasanya mungkin tidak seenak gambar dibungkusnya. Tapi mbak Elya harus makan supaya panas tubuh mbak Elya bisa segera pulih..”

                Sebuah senyum agak berat tersungging dibibir Elya yang masih membiru. Ia merasa lucu juga dengan kalimat yang barusan diucapkan Tatras. Namun untuk merespon lebih banyak, ia masih belum memiliki kekuatan. 

                “Setelah makan bubur ini izinkan saya memeriksa kondisi kepala mbak Elya yang terluka. Kita harus mengobatinya..” 

                Karena tangan Elya yang masih gemetar dan menggigil, maka ia pun masih membutuhkan bantuan untuk makan bubur yang ada ditangan Tatras. Dengan telaten Tatras menyuapi bubur hangat itu kemulut Elya sedikit demi sedikit. Ada sedikit perasaan agak malu dan sungkan terpancar dari mimik wajah Elya sebelum ia membuka mulutnya dan menerima suapan sendok berisi bubur yang disodorkan Tatras padanya.

                Kondisi darurat seperti yang dialami oleh Tatras dan Elya memang kadang menimbulkan sebuah dilematis sendiri. Ada beberapa norma dan aturan yang mesti dilanggar untuk menyelamatkan nyawa Elya. Baik bagi Tatras, maupun bagi Elya, tidak terpikirkan oleh mereka bagaimana Tatras akan membantu melepas jaketnya, memegangkan cangkir minuman untuknya, atau menyuapinya dengan bubur hangat ditengah malam diketinggian Merapi sekarang ini. Akan tetapi ini adalah kondisi darurat yang memiliki konsekuensi nyawa dan keselamatan. Jika Tatras tidak melepas jaket Elya dan menyelimutinya dengan thermal blanket, ada kemungkinan nyawa Elya tidak tertolong karena drop oleh hipotermia. 

                Sebenarnya Tatras menyadari cara yang lebih cepat dan ampuh lagi dalam membantu mengembalikan panas tubuh Elya adalah dengan melepas semua pakaian basah yang masih melekat dibadannya, kemudian menggantinya dengan yang kering lalu memasukkannya dalam sleeping bulu angsa hangat yang ia bawa. Namun bagaimanapun juga, Tatras merasa tidak bisa melakukan itu. Meskipun dibenarkan oleh alasan kondisi darurat dan emergency, namun ada beberapa batasan dalam prinsip hidupnya yang tak mungkin ia langgar. Selain itu, berdasarkan pengetahuan yang dimiliki Tatras, panas tubuh Elya tetap dapat kembali ditingkatkan dengan cara apa yang baru saja ia praktikkan, meskipun secara waktu itu berjalan agak lamban. 

                Hampir setengah bubur dalam mangkok itu sudah masuk kedalam tubuh Elya sebelum ia memberi isyarat kepada Tatras bahwa sudah cukup. Tatras yang segera mengerti maksud Elya segera meletakkan mangkok bubur dilantai kemudian kembali membongkar ransel miliknya mengambil beberapa peralatan yang ia butuhkan.

                Peralatan pertama yang diambil oleh Tatras adalah sepasang baju dan celana polar hangat yang biasa ia gunakan jika beristirahat didalam tenda. Kemudian perlengkapan kedua yang dikeluarkan oleh Tatras adalah sebuah kantong kecil berwarna merah yang berisi peralatan P3K. Ia kemudian juga menggelar mattras lipat warna kuning yang terselip dibagian bawah carriernya. Lalu sambil meletakkan kembali ransel didekat kapak es dan crampon di mulut goa, Tatras mengambil satu buah jaket berwarna hitam berbahan sofshell yang kemudian ia kenakan sendiri melapisi baselayer biru tipis yang sekarang ia gunakan.

                “Terimakasih bang…”

                Tiba-tiba sebuah suara lembut agak terbata terdengar dari mulut Elya. Tatras yang sedang merapikan barang-barang yang barusan ia keluarkan dari dalam ransel menoleh. Ia melihat sebuah senyum indah dari wajah Elya yang perlahan berkurang pucatnya. Bibir Elya juga sudah tidak sebiru tadi. Sementara tubuhnya yang sebelumnya masih sering menggigil nampak sudah lebih tenang sekarang.

                “Allhamdulillah, mbak sudah baikan. Bagaimana, apakah sudah lebih hangat mbak Elya?” Tatras menjawab sambil tersenyum, ia lega melihat Elya sudah bisa bersuara.
                Elya mengangguk disertai senyum

                “Iya, terimakasih bang…” Elya bergerak seolah mau membuka thermal blanket yang membungkus tubuhnya, namun gerakannya ditahan oleh Tatras.

                “Jangan dibuka dulu mbak Elya, biarkan hangatnya maksimal. Sekarang saya akan memeriksa luka dikepala mbak Elya..”

                Tatras beringsut kearah Elya yang masih meringkuk disudut goa selebar 2 meter persegi itu. Elya diam saja ketika Tatras membuka kantong kecil berisi obat-obatan dan mulai memegangi kepalanya.

                “Mohon maaf mbak ya…”

                Elya hanya mengangguk.

                Tatras kemudian mulai membersihkan bercak darah dikening Elya, ia menyibak rambut Elya yang masih basah oleh air hujan meskipun tadi sudah coba ia keringkan dengan handuk microfibre, mencari-cari apakah ada luka lain selain sebuah goresan bekas benturan dikeningnya.

                Elya meringis menahan sakit sesaat kemudian ketika Tatras membersihkan lagi lukanya dengan cairan antibiotik. Tak lama berselang luka dikening Elya sudah dibalut perban berwarna putih.

                Abang dari tim SAR Merapi ya?” suara Elya kembali terdengar perlahan dan berat karena. Tatras menoleh memperhatikan wajah Elya, ia tersenyum kemudian menggeleng.

                “Bukan mbak...

                Elya mengerenyit seolah tak mengerti mendengar jawaban Tatras. Kemudian Tatras menyambung jawabannya sebelum Elya lebih jauh dilanda kebingungan.

                “Saya pendaki seperti mbak juga. Kebetulan saja saya ada dekat sini saat gempa sore tadi terjadi”

                Jawaban Tatras nampaknya tidak melegakan bagi Elya, ada banyak hal yang ingin ia tanyakan pada pemuda yang menolongnya. Tentang bagaimana kabar teman-temannya? apakah mereka selamat? bagaimana para pendaki yang lain di Pasar Bubrah? apakah ada tewas atau terluka? dan banyak pertanyaan lainnya. Namun sebelum semua pertanyaan itu sempat ia ajukan, Tatras yang nampaknya mengerti dengan kebingungan Elya segera berkata.

                “Mbak Elya, sebaiknya pakaian basah yang mbak pakai sekarang diganti dengan ini. Setelah itu nanti mbak bisa istirahat..” Tatras menyodorkan jaket dan celana berbahan polar yang tadi ia ambil dari dalam ransel. Sleeping bag berbahan bulu angsa berwarna meran marun itu juga ia sodorkan kepada Elya.

                “Yang penting sekarang mbak Elya pulih dulu. Para pendaki yang lain tidak perlu mbak risaukan, mereka semua sudah dievakuasi dan selamat…” Tatras seolah tahu apa yang berkecamuk dalam kepala Elya.

                “Saya akan memeriksa bagian atas tempat ini, apakah kita bisa melaluinya besok untuk menunggu penjemputan tim SAR. Sekarang mbak Elya sebaiknya mengganti bajunya dengan yang kering ini…” 

                Tanpa menunggu jawaban dari Elya, Tatras segera beranjak menuju mulut ceruk. Sebenarnya ini hanya dalih Tatras saja untuk memberikan kesempatan kepada Elya mengganti bajunya yang basah. Karena saat mengitari Watu Moncong sebelum scrambling dari sisi kanan tadi, Tatras sudah tahu bahwa tidak ada opsi lain bagi mereka untuk turun besok pagi kecuali melalui tebing curam depan mulut goa atau scrambling lagi melalui sisi kanan Watu Moncong. Namun Tatras hanya tidak ingin Elya merasa risih dengan kahadiran dirinya saat mengganti baju. Jadi dengan berbekal headlamp, Tatras melangkah keluar dari mulut ceruk, naik ke bagian atas Watu Moncong.
 
Elya juga hanya mengangguk sambil mengambil handuk microfibre yang tergeletak diatas matras kuning yang dibentangkan oleh Tatras. Gerakan masih terlihat sangat lemah. Cahaya bulan separuh dan pelita kecil bertenaga powerbank yang ditinggalkan Tatras diatas lantai goa membantu Elya untuk menggantikan pakaiannya yang basah dengan pakaian kering yang diberikan Tatras.

                Angin dingin Merapi masih berhembus dengan tajam diluar Watu Moncong. Sementara cahaya bulan separuh kian benderang. Gerimis sama sekali sudah berhenti saat itu. Diluar goa Tatras berdiri memperhatikan dinding sebelah darat daya Merapi yang menjadi rute pendakiannya sore tadi. Ada sebuah rasa nelangsa karena rencananya untuk memanjat tebing couloir selatan terpaksa dibatalkan. Namun rasa nelangsa itu segera berganti menjadi perasaan syukur yang dalam, ketika ia mengingat ada seorang gadis cantik yang allhamdulillah baru saja selamat dari hipotermia dan juga kemungkinan akan kematian karena tindakan yang ia lakukan. Entah apa yang akan terjadi jika Tatras tetap memutuskan untuk turun sebelumnya. 

Tatras sama sekali tak berniat untuk tampil sebagai pahlawan. Namun bagaimanapun juga, tindakannya kali ini telah mencerminkan nilai kepahlawanan. Baik ia mengakuinya atau tidak.
*
 


Dikutip dari buku MERAPI BARAT DAYA karya Anton Sujarwo 91-107.





Info dan pemesanan buku Merapi Barat Daya

WA: 081254355648

IG dan BL : arcopodostore

No comments:

Post a Comment

Tulisan Terbaru

PEMUNCAKAN DAN TRAGEDI DI GUNUNG PALING SULIT DI DUNIA

Gunung K2 yang merupakan gunung tertinggi ke-2 di dunia dan merupakan satu-satunya gunung 8.000 meter yang belum tersentuh puncaknya pa...