Tuesday, 16 July 2019

APAKAH SAYA TELAH MELAKUKAN PLAGIAT?

 
 
Bismillahirrohmannirrohim...

Beberapa hari terakhir saya sering memposting status di akun facebook saya dengan mengutip draff buku yang saya tulis sendiri. Buku ini adalah bagian dari buku yang akan saya terbitkan pada bulan Agustus mendatang (Insya Allah). Temanya masih tentang mountaineering. 

Dan keseluruhan draff buku yang sudah selesai saya tulis panjangnya kira-kira 1200 halaman ukuran kertas 14 x 21 cm. Karena terlalu panjang untuk diterbitkan dalam satu buku, maka Insya Allah akan dibagi dalam tiga bagian dengan judul yang berbeda, namun tema pokoknya sama.

Buku ini membahas tentang para pendaki terbaik dunia yang tewas diatas gunung. Ide dasarnya saya peroleh saat menulis buku Mahkota Himalaya dan Dunia Batas Langit yang telah dirilis lebih dulu. Selain menarik untuk ditulis, tema ini saya nilai juga memiliki berbagai inspirasi dan motivasi didalamnya, yang pada akhirnya mudah-mudahan mampu sedikit memberi warna dan stimulan pada dunia mountaineering di Indonesia.

Lebih dari 100 nama kemudian yang berhasil saya himpun sebagai kerangka awal dari buku tersebut. Untuk membuatnya lebih ringkas, saya kemudian menyeleksi nama-nama tersebut. Beberapa nama yang saya nilai tidak signifikan, saya sisihkan. Setelah disortir secara ketat kemudian saya memperoleh hampir 60 nama para pendaki gunung terbaik yang menjadi pokok inti dari buku yang akan ditulis.

Untuk mendapatkan sebuah kisah yang utuh dari seorang pendaki (disini saya ambil contohnya Jerzy Kukuczka dari Polandia), saya harus mencari sumbernya kesana kemari. Tentu hampir 95% sumber tersebut saya peroleh dari internet. Karena jika memaksakan sumbernya dari buku yang ada di Indonesia misalnya, maka ini akan sangat minim. Kita tahu sendiri, buku tentang mountaineering untuk pembahasan global sangat terbatas yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Bahkan saya yakin banyak para pendaki gunung tanah air yang mungkin saja tidak tahu siapa itu Kukuczka, Paul Preuss, Jean Lafaille, Gaston Rebuffat dan lain sebagainya. Padahal sama halnya dengan Machiavelli, Plato, Socrates dan lainnya dalam dunia politik, nama-nama itu juga memiliki pengaruh kuat dalam dunia mountaineering terkait aksi dan pemikiran mereka.

Dan setahu saya, belum ada juga penulis lokal yang secara spesifik membahas dunia pendakian gunung global. Jadi secara umum, memang internet adalah satu-satunya jalan yang paling efisien dan efektif sebagai sumbernya.

Kembali kepada contoh sebelumnya, guna memahami konsep utuh tentang pendakian Jurek (panggilan Jerzy Kukuczka), saya setidaknya harus membaca sumber-sumber berikut secara leseluruhan:




Setelah memperoleh kisah garis besar tentang Jurek secara lengkap, terutama mengenai pendakiannya yang berujung pada kematian, juga pendakian signifikannya yang lain. Saya kemudian merumuskan sebuah konsep tulisan yang lebih familiar dan akrab dengan pembaca tanah air. Umumnya setiap tulisan saya bagi dalam tiga bagian besar yaitu profil, pendakian signifikan, dan pendakian terakhir yang kemudian berujung pada tewasnya sang pendaki itu (dalam contoh ini adalah Jurek).

Jika dalam sebuah sumber disebutkan bahwa Jurek tewas karena terjatuh di Dinding Selatan Gunung Lhotse saat sedang berupaya menciptakan rute fisrt ascent ditempat itu bersama Ryszard Pawlowski karena tali bekas yang ia gunakan terputus. Maka saya kemudian harus mendeskripsikan itu secara detail dengan mencari pula sumber yang mengungkapkan garis pendakian yang ia lakukan di Lhotse, berapa ketinggian ia terjatuh, mengapa talinya bisa putus, berapa ukuran tali itu hingga ia putus, dan lain sebagainya. Bahkan saya juga kadang menggunakan google map untuk dapat menambah imajinasi saya bahwa sebenarnya dimana Jurek terjatuh, dan over hang mana yang sedang ia panjat saat itu.

Dan ini mungkin adalah bagian yang perlu digaris bawahi; Bahwa untuk membuat penceritaan lebih menarik dan lebih mudah untuk difahami pembaca yang memiliki keragaman latar belakang, saya kemudian menambahkan beberapa point berdasarkan imajinasi saya dalam mencernai dan melihat layar cerita yang disampaikan oleh sumber. 

Namun saya menjamin bahwa penambahan ini sama sekali tidak akan mengubah, membelokkan, atau mengaburkan alur cerita sebenarnya yang saya rumuskan dari berbagai sumber tersebut. Penambahan ini sifatnya hanya deskripsi, sub detail dan daya tarik. Dan pada banyak kisahnya, umumnya saya menambahkan dialog yang terjadi dalam cerita tersebut. Dialog tersebut sifatnya untuk memperkuat kesan dari data yang disampaikan oleh sumber. Sehingga tercipta pemahaman yang konkret dan utuh dari pembaca, selain tentu saja membuat jalan ceritanya menjadi lebih dramatis.

Misalnya ambil contoh lagi tentang salah satu penulisan sumber yang mengatakan: Sebelum melakukan upaya pemuncakan ke Puncak Makalu, Jean Christophe Lafaille sempat menelpon isterinya di Perancis. Lafaille mengatakan bahwa ia kesal karena alarm pada gelang ditangannya tidak berbunyi hingga ia terlambat dari jadwal, dan berjanji akan menelpon Katia (isterinya) lagi setelah ia mencapai Frenc Couloir.

            Dalam penjabarannya pada buku yang saya tulis, saya mendeskripsikan semua ini dalam drama percakapan telepon yang dilakukan oleh Lafaille dan Katia. Semua keterangan yang disebutkan sumber dalam kalimat tersebut, kemudian saya imajinasikan, saya lukiskan kembali dalam sebuah penjelasan berupa dialog. 

Saya gambarkan kira-kira bagaimana seorang pendaki berpengalaman yang konsisten dan penuh pencapaian merasa kesal karena alarm ditangannya tidak berfungsi sehingga jadwalnya jadi kacau. Saya gambarkan kira-kira bagaimana pula seorang suami yang sedang berusaha mencapai puncak gunung tertinggi kelima di dunia pada musim dingin secara solo berbicara kepada isterinya melalui telepon menjelang hari pemuncakan yang telah ia tunggu hampir selama dua bulan. Saya perkirakan apakah pendaki seperti itu akan bertanya tentang kondisi anak mereka di rumah. Saya kemudian juga mengimajinasikan prihal sang isteri, kira-kira apa yang akan ia sampaikan kepada suaminya menjelang saat yang menentukan tersebut. Apakah ia khawatir, apakah ia mendorong dan memberi semangat dan semacamnya.

            Sekali lagi saya tegaskan bahwa penambahasan unsur fiksi dalam kisah-kisah yang saya angkat ini hanya bersifat deskriptif alias penjelasan, sama sekali tidak bersifat data yang berdiri sebagai tonggak bagian utama cerita semacam statistik, demografis atau data unsur utama lainnya.


Melihat gaya bercerita semacam ini saya kemudian menemukan benang merah yang memiliki persamaan dengan buku (misalnya) Strategi Hideyoshi karya Tim Clark dan Mark Cunningham. Tokoh Jiro, Gensuke, Gonzaemon, percakapan yang terjadi diantara mereka, sekolah dan puri tempat mereka belajar, semua adalah berdasar pada imajinasi sang penulis untuk menjelaskan nilai-nilai kehidupan yang kemudian dilekatkan kepada tokoh utama yang diceritakan, yaitu Toyotomi Hideyoshi. Artinya percakapannya adalah fiksi, namun pesannya realitas. Bahwa nama lakonnya adalah fiksi, namun sifat yang diajarkan, nilai yang disampaikan, makna hidup yang dituturkan adalah sebuah realitas yang merupakan ciri pribadi besar seorang Hideyoshi, sang pemersatu Jepang.

Lalu kita ambil lagi benang merah dari buku lain, misalnya Jengis Khan karya penulis besar Inggris, John Mann. Ada banyak dialog dalam buku tersebut, ada banyak asumsi dalam buku tersebut yang didasarkan pada imajinasi dan logika seorang John Mann. Namun tentu sebagai penulis dengan reputasi internasional beliau juga tetap menjaga bahwa semua asumsinya, semua imajinasinya untuk menggambarkan seorang penguasa abad pertengahan dari Mongol bernama Jengis Khan disandarkan pada sumber-sumber ia jadikan referensi mahakaryanya tersebut.

Dengan memperhatikan cara penulisan yang saya lakukan untuk buku saya yang Insya Allah akan terbit bulan Agustus 2019 ini nanti (jilid pertama). Dengan melihat saya menyusul puzzle-puzzle dari berbagai sumber untuk mendapatkan sebuah konsep kisah yang utuh dan dapat diceritakan sesuai dengan gaya membaca di tanah air. Dengan melihat bahwa saya telah memasukkan unsur imajinasi saya sendiri untuk memperkuat pesan dan kesan cerita didalamnya tanpa membelokkan, mengubah atau mengaburkan fakta yang bersifat tiang-tiang dalam cerita itu sendiri. Maka pertanyaan saya adalah; apakah saya telah melakukan pelanggaran plagiarisme? Apakah saya telah melakukan sebuah tindakan penjiplakan? Jika ia maka sumber mana yang saya jiplak, mengingat ada banyak sumber yang saya gunakan untuk dapat merumuskan konsep cerita sebelum dapat memulai penulisan secara menyeluruh? 

Jika kemudian ini disebut penyaduran, maka kemudian pertanyaan juga sama. Sumber mana yang saya sadur, mengingat sumber adalah potongan-potongan lego yang harus saya kumpulkan, saya analisa terlebih dahulu, sebelum dapat dibentuk sebuah kerangka cerita yang tepat dan otentik? Karena dalam pengetahuan saya yang terbatas, umumnya penyaduran hanya bersumber pada satu tulisan utama. 

Kemudian jika metode penulisan saya ini disebut sebagai sebuah kesalahan, maka apakah saya telah berada dibelakang nama-nama besar seperti John Mann, Mark Cunningham, Tom Clark dan penulis lainnya karena mungkin metode pengumpulan dan penceritaanya memiliki kesamaan?

Terus terang saya membutuhkan bimbingan untuk dapat menulis dengan baik dan benar, tentu saja. Karena saya sendiri belajar menulis secara otodidak, secara mandiri, pelajaran Bahasa Indonesia yang saya terima terakhir kali adalah saat berumur delapan belas tahun, ketika saya kelas tiga Madrasah Aliyah di Bengkulu. Dan itu sekaligus adalah pendidikan formal terakhir yang saya tempuh. 

Saya sungguh menghargai kritik. Kritik yang jujur selalu akan membawa perbaikan jika disikapi dengan bijak. Berbeda dengan pujian yang kadang malah dapat menjerumuskan kedalam kealpaan dan kelenaan. Namun meskipun saya suka kritik, saya sama sekali tidak senang berdebat, apalagi di sosial media. Perdebatan kadang lebih banyak menguras emosi dan waktu. Alih-alih mencapai mufakat yang membawa manfaat.

Demikian saya menjelaskan ini untuk menjawab salah satu kritik yang berkomentar tentang mengapa saya tidak mencantumkan sumber dalam beberapa status saya di timeline akun facebook saya yang status tersebut adalah kutipan dari draff buku yang sudah saya tulis. Dan sekarang dalam proses penerbitan. 

Semoga penjelasan ini dapat membantu.
           

           

           


Informasi kontak dan pemesanan pre order buku Maut di Gunung Terakhir:
WA: 081254355648
IG dan BL : arcopodostore
 

No comments:

Post a Comment

Tulisan Terbaru

PEMUNCAKAN DAN TRAGEDI DI GUNUNG PALING SULIT DI DUNIA

Gunung K2 yang merupakan gunung tertinggi ke-2 di dunia dan merupakan satu-satunya gunung 8.000 meter yang belum tersentuh puncaknya pa...