Sunday, 30 June 2019

REL PARA PEJUANG



Hanya ada beberapa mililiter air yang tersisa pada botol disamping ransel masing-masing. Air dalam kantong hydropack yang diselipkan pada punggung ransel juga kering, kerena memang dikosongkan sejak mencapai masjid Al Hikmah disisi selatan Danau Rawapening kemarin sore. Memang benar bahwa disekeliling kami ada sawah yang membentang luas, yang tentu saja ada airnya. Namun jika anda melihat warna airnya, tumpukan sampahnya, bau menyengatnya, maka anda butuh benar-benar menjadi nekat untuk berani meminum airnya.

Panjang rel kereta api yang membentang ini hampir sejauh lima kilometer. Membujur seperti pita, berkelok menembus luas persawahan yang terletak pada bagian utara danau Rawapening. Sungguh tidak ada dalam benak saya bahwa lintasan terakhir sebelum finish di Jembatan Biru nantinya, adalah titian rel kereta yang panjang dalam pelukan hawa panas tanpa pelindung yang menyengat dan membakar. 

Dan ini menjadi semakin sempurna saja kemudian, ketika persediaan air minum yang kami bawa sudah kosong. Rute rel kereta api adalah bagian yang tidak dipersiapkan menghadapinya. Dan ini kemudian menjadi the last fight sebelum mencapai target yang telah ditetapkan dalam perjalanan MMA Trail ini.

Jika saya tahu bahwa kami kemudian akan menghadapi etape rel kereta api panjang ditengah persawahan yang airnya tidak mungkin diminum secara langsung. Saya akan memasukkan permintaan sebuah alat filter air lifestraw dalam proposal saya kepada Akasaka Outdoor Gear yang menjadi sponsor tunggal making route MMA Trail ini. Dengan lifestraw, setidaknya kami tidak perlu menyedot air yang tertampung dalam pelepah-pelepah daun pisang yang sempat kami temui ditengah perasawahan.

Ini adalah hari kedelapan dalam perjalanan MMA Trail yang cukup melelahkan. Kami telah menyisir lereng barat laut Gunung Merapi, menyusuri jalan aspal yang menyengat dari perbukitan kabupaten Magelang hingga kecamatan Selo di Boyolali, menapaki ladang-ladang dan sabana luas hingga Puncak Merbabu, meniyisir jalan Wekas yang sudah sesak oleh belukar tinggi, menuruni ladang-ladang dengan kombinasi kelompok-kelompok pohon pinus diantaranya hingga mencapai kaki Gunung Andong dan pula mencapai puncaknya. 

Dari Gunung Andong kami kembali melewati ladang menghijau yang terbenam diantara desa-desa menuju Kampung Dalangan Gunung Telomoyo. Merambah pula hutan Telomoyo yang sepi, melirik agak takut pada jejak binatang misterius sepanjang rute pendakian yang menghilang tepat di puncaknya, kemudian terjebak kabut puncak pemancar berpagar tinggi, disambut oleh kidung pujian sang penjaga menara yang membuat bulu kuduk merinding, membelah jalan hancur karena lintasan motor trail liar menuju Kampung Pager Gedog yang asri, lalu meliuk-liuk mengikuti alur jalan desa Sepakung yang sangat panjang berkelok dan turunannya yang membuat kendaraan banyak terjungkir. 

Dan pagi ini sebelum kami mencapai rel kereta tua yang panas menyengat ditengah sawah, kami telah mengitari Danau Rawapening hampir setengahnya. Kami melewati kawasan militer Ambarawa, dimana pria-pria tegap dengan senjata tertenteng berjaga. Kami juga telah demikian lelah memanggul ransel-ransel dipunggung, berpacu langkah dengan deruman suara mesin-mesin kendaraan yang melaju kencang.

Semuanya sangat melelahkan...

Namun entah mengapa saya merasakan bagian inilah yang paling berat? Bagian ketika kami harus meniti besi-besi panas rel kereta berkarat yang diguyur oleh matahari siang yang menyengat. Apakah saya sendiri yang merasakan kepenatan ini? Ataukah mas Ryan dan mas Chrisna yang usia mereka notabene lebih muda dari saya ikut merasakan pula hal yang sama? Apakah ini adalah sebuah perasaan menghadapi tantangan terakhir dimana titik dimana semuanya akan selesai terasa demikian dekat namun tetap menyiksa untuk digapai?

Entahlah...

Menjelang satu kilometer lagi menuju titik finish Jembatan Biru, rel kereta itu melengkung, membelok ke arah tengah danau. Saya terus memompa langkah yang kian berat dan perih. Telapak kaki yang lama terbungkus dalam sepatu serasa sangat perih dan terbakar. Ingin rasanya berhenti, duduk dan meminta minum kepada para pemancing yang duduk berjongkok dan jorannya berjejer ditepian bantalan rel kereta. 

Tapi hati kemudian bertanya; Beginikah kita menyelesaikan tantangan terakhir dari rute yang indah ini? Dengan menyerah, dengan ‘mengemis’ minuman pengusir dahaga, dengan mempertontonkan segala payah lelah karena telah berjalan kaki lebih dari seratus kilometer?

Tidak, tidak!

Kita adalah orang yang menyelesaikan apa yang telah kita mulai. Dengan cara paling baik, dengan gaya paling perkasa. Kita akan terus menyeret kaki yang melepuh luka, kita akan terus memanggul ransel yang kian terasa berat dan penat, dan kita akan tetap berjalan, meskipun tertatih, terjatuh ataupun terseok-seok. 

Tujuan sudah didepan, garis kemenangan sudah ada di ujung jalan, dan kita tak mungkin membiarkan diri kita meraihnya dengan cara yang lemah. Karena kita adalah pejuang. Setiap orang yang datang dan menyelesaikan rute MMA Trail ini hingga ke garis akhir adalah pejuang. Dan para pejuang tak akan pernah surut ke belakang hingga mereka menggenggam menang...





Perjalanan dan pembuatan rute indah MMA Trail ini disponsori penuh oleh Akasaka Outdoor Gear. Temukan berbagai informasi luar biasa mengenai produknya disini: https://akasakaoutdoor.co.id/
 


No comments:

Post a Comment

Tulisan Terbaru

PEMUNCAKAN DAN TRAGEDI DI GUNUNG PALING SULIT DI DUNIA

Gunung K2 yang merupakan gunung tertinggi ke-2 di dunia dan merupakan satu-satunya gunung 8.000 meter yang belum tersentuh puncaknya pa...