Monday, 24 June 2019

MEREKA PRIBADI YANG TANGGUH




Mas Chrisna melewati Jembatan Setan Gunung Merbabu pada perjalanan MMA Trail sebelum memasuki bulan Ramadhan tempo hari.(foto: Ryan Hidayat)

Orang-orang menyebutnya sebagai Jembatan Setan, salah satu titik paling berbahaya dan berisiko untuk dilewati pada pendakian Gunung Merbabu. Jembatan Setan adalah lintasan traversing sepanjang sekitar lima meter dengan bagian sisi kanannya adalah tebing, yang walaupun tidak begitu dalam, namun tetap harus dilalui dengan sangat hati-hati. 

Bagi para pendaki Gunung Merbabu yang mendaki melalui rute Selo atau Suwanting, mereka tidak akan menemui  Jembatan Setan. Itu karena rute eksotis dan indah ini adalah bagian perjalanan menuju puncak Merbabu yang dimiliki oleh rute pendakian yang berada pada bagian sisi utara gunung. Dalam hal ini, jalur pendakian Wekas, jalur pendakian Kopeng Thekelan, jalur pendakian Cunthel dapat berbangga hati karena memiliki spot yang bernama Jembatan Setan ini.

            Sebelumnya tidak ada tali yang terpasang sebagai pegangan saat melewati Jembatan Setan. Para pendaki yang traversing diatasnya harus mencengkram batu-batu sebagai pegangan. Namun sekarang seutas tali  yang kuat telah terpasang untuk membantu para pendaki melewati tempat ini, dan ini sangat mempermudah prosesnya. Walau pada sisi yang lain, kita telah melihat pula berkurangnya nilai orisinalitas yang sebelumnya dihadirkan secara utuh oleh Jembatan Setan Gunung Merbabu ini.

            Pada perjalanan MMA Trail tempo hari, kami melewati Jembatan Setan ini dengan mudah. Meskipun harus bergantian dan satu persatu, tapi secara umum tak ada kendala bagi saya, mas Chrisna, dan mas Ryan untuk melewatinya. Kejadian tak terduga justru terjadi ketika kami sudah beberapa saat meninggalkan tempat yang indah itu.

            Selepas melewati bagian pangkal dari puncak Syarif, kabut turun dengan pekat memenuhi udara. Semua memutih, tertutup oleh kabut yang tiba-tiba datang dan membuat pemandangan indah yang sebelumnya terhampar luas, kini tak lebih dari tirai uap  yang tebal.  Saya berjalan paling depan, disusul oleh mas Chrisna dan mas Ryan. Jarak antara saya dan mas Chrisna mungkin sekitar 50 meter kurang lebih. Sementara mas Chrisna dan mas Ryan berjalan beriringan.

            Tiba disebuah punggungan yang agak nyaman untuk tempat istirahat, saya meletakkan ransel warna biru tosca tipe Ceeta 50 + 5 yang merupakan salah satu produk terbaru dari brand Akasaka. Di tempat itu saya memutuskan untuk menunggu mas Ryan dan mas Chrisna, untuk kemudian melanjutkan kembali perjalanan menuju Base Camp Wekas yang menjadi target perjalanan kami pada hari ketiga MMA Trail tersebut.

            Hampir lima belas menit kemudian baru saya melihat sosok mas Chrisna muncul dari balik rimbunan kabut pada sebuah sadel yang menghubungkan punggungan Puncak Syarif menuju tempat dimana saya beristirahat. Beberapa saat kemudian mas Chrisna juga sudah sampai ditempat saya duduk, dan meletakkan pula ransel Akasaka Ceeta 50 + 5 warna merah yang menempel dipunggungnya.

            “Mana mas Ryan?” tanya saya setelah mas Chrisna minum beberapa teguk air dari botol merah transparan yang ia ambil dari samping ranselnya.

            “Dibelakang...” jawabnya sambil mengatur napas yang memburu karena kelelahan.

            Sambil menunggu kedatangan mas Ryan, saya dan mas Chrisna mengobrol membahas perjalanan yang telah kami lewati sejauh ini. 

Lima belas menit berlalu, namun belum ada tanda-tanda mas Ryan terihat pada sadel punggungan, sementara itu kabut kian pekat saja. Jika sesaat ada jendela kabut tersibak saya memanfaatkan sebaik mungkin itu melihat posisi mas Ryan. Namun sejauh ini fotografer perjalanan pembuatan rute MMA Trail itu belum juga terlihat.

            Dua puluh menit selanjutnya berlalu lagi, dan masih juga belum ada tanda-tanda ataupun suaranya. Terus terang ini membuat saya mulai dihinggapi rasa agak khawatir.  Kondisi kabut yang tebal, jalanan berbatu yang terjal menghadirkan berbagai pikiran skenario buruk yang bisa saja terjadi pada mas Ryan. 

Suara saya dan mas Chrisna mulai menggema diseantero sadel antara Puncak Syarif dan punggungan dimana kami beristirahat. Tak ada jawaban sama sekali. Kami berteriak memanggil, meniup peluit yang memang sudah built in pada strap dada ransel Akasaka Ceeta yang masing-masing kami kenakan. Dan hasilnya tetap saja, tidak ada sahutan ataupun suara peluit balik dari Mas Ryan. 

Hal ini semakin membuat beberapa kekhawatiran yang terbersit dalam pikiran berlanjut. Jangan-jangan mas Ryan terjatuh dan dia tidak bisa berteriak meminta tolong? Jangan-jangan mas Ryan tidak bisa menyahuti panggilan kami karena dia pingsan karena tergelincir kemudian menghamtam batu-batu yang cadas dan tajam itu? Atau jangan-jangan ia salah memilih jalan turun? Atau ada apa sebenarnya yang telah terjadi?

“Saya susul mas Ryan ke atas mas ya, mas Chrisna tunggu disini saja...” ujar saya kemudian sambil bersiap-siap untuk mendaki lagi ke arah persimpangan Puncak Syarif, dimana mas Chrisna terakhir kali berjalan beriringan dengan mas Ryan.

Namun sebelum saya benar-benar berangkat menyusul, saya dan mas Chrisna masih menyempatkan diri untuk berteriak memanggil beberapa kali lagi.

“Mas Ryaaan!!!”

“Yaaan..!!!”

Dan sesaat kemudian terdengar suara balasan dari atas sadel punggungan.

“Ndisek’0!!!”

‘Ndisek’o’ adalah kosa kata bahasa jawa yang artinya ‘duluan saja!’.
 
Sialan! pikir saya dalam hati. Apa mas Ryan tidak tahu saya dan mas Chrisna sempat sangat mengkhawatirkannya barusan. Namun Allhamdulillah, tidak ada hal yang buruk terjadi padanya, seperti yang sempat terlintas dalam benak saya. Dan itu adalah yang terpenting.

“Darimana? Kenapa kok nggak jawab dipanggil-panggil?” tanya saya dan mas Chrisna begitu mas Ryan sampai ditempat kami yang menunggunya.

Mas Ryan tersenyum cengengesan sambil duduk diatas sebuah batu.

“Nggak apa-apa, saya tadi naik dan ambil foto di Puncak Syarif..” katanya kemudian.

“Kok nggak jawab dipanggil-panggil?”

“Nggak apa-apa. Males aja”

Jangkrik dah! Ini anak nggak tau apa jika orang mengkhawatirkan dia. Jawabannya ngeri-ngeri sedap lagi. Namun demikianlah mas Ryan, salah satu pendaki gunung dan petualang yang saya kenal, dan saya pikir memiliki banyak bakat bagus. Hanya saja untuk beberapa hal ia tentu masih harus banyak belajar guna mengalahkan perasaan, ego, dan emosi dalam dirinya sendiri.

Saya sempat agak jengkel dan ‘memarahinya’ dengan keputusannya untuk tidak menyahut panggilan saya dan mas Chrisna. Dan setelah menyadari kesalahannya, mas Ryan segera meminta maaf. Dan ini adalah salah satu sikap dan hal yang saya kagumi pada para petualang muda seperti mas Ryan dan mas Chrisna ini. mereka dengan cepat meminta maaf jika merasa membuat kesalahan. Walau pada beberapa kesempatan, justru sebenarnya tidak ada kesalahan yang mereka lakukan.

Sekitar lima belas menit setelah itu, kami kembali melanjutkan perjalanan. Saya sekarang berada di tengah, mas Ryan didepan, dan mas Chrisna di belakang. 

Pada punggungan menjelang bertemunya antara rute Wekas dan rute Thekelan terdapat beberapa cabang jalan setapak kecil ke kiri dan ke kanan. Jalan-jalan setapak kecil ini adalah jalan yang digunakan para pendaki untuk menuju sumber air atau menuju kawah-kawah belerang kecil yang ada ditempat itu.

Pada sebuah turunan yang tidak terlalu curam selepas punggungan dimana sebuah tenda milik satu-satunya tim pendaki yang kami temui dari Wekas berdiri. Saya dan mas Ryan duduk-duduk mengobrol sambil menunggu mas Chrisna yang seharusnya datang belakangan. Namun entah mengapa setelah seperempat jam kemudian, sosok mas Chrisna juga tak kunjung muncul. Padahal saat terakhir melihatnya, saya memastikan mas Chrisna hanya berjarak sekitar 35 meter dibelakang saya.

“Mas Chrisnaaa!!!” 

“Kaaang!!!”

Dan seperti mas Ryan sebelumnya, ini juga sama sekali tidak ada sahutan.

Saya mengulang kembali drama sebelumnya, memanggil, berteriak dan meniup peluit. Jika sebelumnya yang menjadi objek panggilan dan teriakan adalah mas Ryan, maka sekarang objeknya berganti menjadi mas Chrisna. Dan bagaimanapun respon keduanya juga sama, sepi dan hening. Hanya ada kabut berarak diantara tiupan angin Merbabu yang lengang. 

“Biar saya susul ke atas Bang...” usul mas Ryan yang meletakkan ranselnya dan langsung naik lagi ke punggungan tebing setengah berlari.

Kali ini saya sendiri lagi menghabiskan waktu menunggu dua petualang muda itu. Cukup lama juga saya duduk dan menantikan mereka sampai kemudian saya merasa bosan dan memutuskan untuk ikut menyusul. Ketika saya menyusul dan nyaris mencapai punggungan dimana sebuah tenda milik tim pendaki dari rute Wekas berada, mata saya menangkap sosok mas Ryan yang bergerak ke arah saya. Mas Ryan telah mengambil alih ransel merah dipunggung mas Chrisna. Sementara mas Chrisna berjalan dibelakangnya dengan ekspresi nampak sangat lelah.

“Ada apa?” tanya saya.

“Nyasar bang...” jawab mas Ryan sambil terus berjalan melewati saya menuruni punggungan yang sebelumnya sudah kami lewati.

“Nyasar?”

“Saya ambil simpangan kiri tadi bang, ternyata jalannya buntu. Dan saya naik lagi setelah sadar kalau sudah kesasar...” jelas mas Chrisna sambil terus berjalan dengan perlahan mengikuti langkah mas Ryan didepannya.

Dua kejadian yang kami alami barusan membuat kami melakukan evaluasi dalam hal ritme dan susunan hiking. Selanjutnya diputuskan mass Chrisna berjalan paling depan, kemudian disusul oleh mas Ryan, dan saya paling belakang. Kami tidak hanya kelelahan dan kehilangan waktu hampir dua jam dari jadwal, namun entah mengapa rasanya situasi ini benar-benar membuat kami ditekan secara emosional. Rasa lapar, haus, dan juga kelelahan telah membuat kami melangkah dengan rasa berat dan penat. Sungguh tidak sabar rasanya ingin tiba di pos Wekas yang mata airnya melimpah itu.

Kerjasama, sinergi, setia kawan adalah bagian-bagian penting dalam sebuah tim. Dan semua ini hanya bisa dicapai jika setiap anggota tim sadar dan mampu menyesuaikan diri untuk membaur guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Menghadapi kesulitan bersama-sama, menuai keberhasilan dan riang gembira juga bersama. Sebuah tim yang baik akan senantiasa bekerjasama dengan penuh integritas dan tanggung jawab. 

Pada perjalanan making route MMA Trail ini, mas Ryan dan mas Chrisna telah menunjukkan bakat yang luar biasa. Selain bakat fisik dan ketahanan, karakterlah yang paling menentukan segalanya. 

Dan ketika mas Ryan juga mas Chrisna sama-sama meminta maaf saat merasa membuat salah hingga menyebabkan jadwal hiking menjadi terlambat, saya pikir mereka telah menunjukkan karakter yang kuat. Tidak semua orang memiliki keberanian untuk meminta maaf, meskipun pada dasarnya mereka tidak bersalah. Dan jika ada yang melakukan hal tersebut dangan lapang dan lantang, mereka layak untuk dijadikan teman perjalanan yang panjang. Mereka akan sabar dan teguh hingga titik akhir. Saya pikir mereka pribadi yang tangguh!



Note:
Proses perjalanan MMA Trail dan pembuatan rute selama sembilan hari kemarin didukung sepenuhnya oleh Akasaka Outdoor Gear. Profil, informasi, produk dan lain sebagainya dari Akasaka dapat dilihat melalui link berikut: https://akasakaoutdoor.co.id/




No comments:

Post a Comment

Tulisan Terbaru

PEMUNCAKAN DAN TRAGEDI DI GUNUNG PALING SULIT DI DUNIA

Gunung K2 yang merupakan gunung tertinggi ke-2 di dunia dan merupakan satu-satunya gunung 8.000 meter yang belum tersentuh puncaknya pa...