Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2019

KISAH PENCAPAIAN PUNCAK EVEREST UNTUK YANG PERTAMA KALINYA

Inggris kembali mengadakan ekspedisi mereka ke Everest yang ke-sembilan kalinya pada tahun 1953, dipimpin oleh John Hunt, seorang komandan militer dari ketentaraan Inggris. Tidak kurang dari 15 orang pendaki berpengalaman bergabung dalam ekspedisi Inggris tahun 1953 ini, termasuk beberapa diantaranya adalah Charles Evans, Tom Bourdillon, George Band, Alfred Gregory, Michael Westmacott (Inggris), Edmund Hillary, George Lowe (Selandia Baru), serta Sherpa Annullu dan Sherpa Tenzing Norgay dari Nepal.   Seperti pada skema percobaan sebelumnya, John Hunt juga memilih sepasang pendaki pada tiap upaya melakukan pemuncakan. Dalam ekspedisi ini pasangan pertama yang dipilih Hunt adalah Tom Bourdillon dan Charles Evans, dua pendaki yang dianggap sebagai ujung tombak utama ekspedisi. Tanggal 26 Mei 1953 Charles Evans dan Bourdillon melakukan pendakian hingga mencapai ketinggian 100 meter di bawah puncak Everest, namun permasalahan pada tabung oksigen yang digunakan Evans memaksa k

REL PARA PEJUANG

Hanya ada beberapa mililiter air yang tersisa pada botol disamping ransel masing-masing. Air dalam kantong hydropack yang diselipkan pada punggung ransel juga kering, kerena memang dikosongkan sejak mencapai masjid Al Hikmah disisi selatan Danau Rawapening kemarin sore. Memang benar bahwa disekeliling kami ada sawah yang membentang luas, yang tentu saja ada airnya. Namun jika anda melihat warna airnya, tumpukan sampahnya, bau menyengatnya, maka anda butuh benar-benar menjadi nekat untuk berani meminum airnya. Panjang rel kereta api yang membentang ini hampir sejauh lima kilometer. Membujur seperti pita, berkelok menembus luas persawahan yang terletak pada bagian utara danau Rawapening. Sungguh tidak ada dalam benak saya bahwa lintasan terakhir sebelum finish di Jembatan Biru nantinya, adalah titian rel kereta yang panjang dalam pelukan hawa panas tanpa pelindung yang menyengat dan membakar.  Dan ini menjadi semakin sempurna saja kemudian, ketika persediaan air minum yan

MEREKA PRIBADI YANG TANGGUH

Mas Chrisna melewati Jembatan Setan Gunung Merbabu pada perjalanan MMA Trail sebelum memasuki bulan Ramadhan tempo hari.(foto: Ryan Hidayat) O rang-orang menyebutnya sebagai Jembatan Setan, salah satu titik paling berbahaya dan berisiko untuk dilewati pada pendakian Gunung Merbabu. Jembatan Setan adalah lintasan traversing sepanjang sekitar lima meter dengan bagian sisi kanannya adalah tebing, yang walaupun tidak begitu dalam, namun tetap harus dilalui dengan sangat hati-hati.  Bagi para pendaki Gunung Merbabu yang mendaki melalui rute Selo atau Suwanting, mereka tidak akan menemui   Jembatan Setan. Itu karena rute eksotis dan indah ini adalah bagian perjalanan menuju puncak Merbabu yang dimiliki oleh rute pendakian yang berada pada bagian sisi utara gunung. Dalam hal ini, jalur pendakian Wekas, jalur pendakian Kopeng Thekelan, jalur pendakian Cunthel dapat berbangga hati karena memiliki spot yang bernama Jembatan Setan ini.             Sebelumny