Saturday, 23 February 2019

KISAH TRAGIS DARI EIGER



Tahun 1936, setahun setelah kematian Karl Mehringer dan Max Sedlmeyer di Eiger North Face, sepuluh orang pendaki Jerman–Austria kembali datang ke Grindelwald dan berkemah di kaki gunung Eiger. Sebelum pendakian yang sebenarnya dimulai, satu di antara kesepuluh pemuda pendaki itu tewas saat pendakian latihan di kaki tebing Eiger yang membuat pendakian itu terasa kecut bahkan sebelum dimulai sama sekali. Pada musim panas tahun 1936 itu cuaca memang sangat buruk, beberapa hari para pendaki itu menunggu cuaca membaik, namun sama sekali tidak terlihat sedikitpun bahwa keadaan akan berubah menjadi lebih baik. Hal ini kemudian membuat sebagian besar dari pendaki memutuskan untuk meninggalkan tim eskpedisi dan mengurungkan niat mereka mencoba mendaki Eiger North Face musim itu. Setelah ditinggal oleh sebagian besar anggota tim yang sebelumnya berjumlah sepuluh orang, hanya tersisa empat orang yang masih memiliki tekad untuk tetap mencoba mendaki wajah utara Eiger. Empat orang pendaki yang tersisa itu adalah dua orang berasal dari Bavaria bernama; Andreas Hinterstoisser dan Toni Kurz, sementara dua orang lagi berasal dari Austria yaitu; Willy Angerer dan Edi Rainer.

Ketika cuaca nampaknya mulai membaik, empat orang pendaki ini segera memulai pendakiannya di kaki tebing Eiger. Sebelum pendakian berjalan lebih jauh, sebuah musibah lain menimpa tim ini, Hinterstoisser jatuh sejauh 37 meter, namun ajaibnya ia tidak terluka sedikitpun. Pendakian dilanjutkan dengan cepat oleh empat pendaki Austria–Jerman, namun keesokan harinya setelah bivak mereka yang pertama, cuaca tiba-tiba berubah, kabut dan awan tebal turun menutupi para pendaki itu yang terlihat dari bidikan teropong para pengamat di Kleine Scneidegg. Para pendaki tidak dapat melanjutkan pendakian pada hari itu, dari ujung teropong para pengamat, keempat pendaki itu hanya terlihat sesekali saja, ketika awan dan kabut tebal yang menutupi mereka tersibak sebentar ditiup angin. 

Pada esok harinya, para pendaki ini terlihat kembali melalui teropong, namun kali ini mereka terlihat dalam perjalanan turun. Diketahui kemudian, kelompok pendaki ini memang tidak memiliki pilihan selain turun karena kendala yang mereka hadapi di lapangan. Willy Angerer telah terluka cukup serius karena tertimpa oleh batuan jatuh, sementara mereka juga terjebak tak bisa melewati Hinterstoisser Traverse (tebing yang sebelumnya dilewati Hinterstoisser dengan traversing dan berayun dengan seutas tali), karena tali yang mereka gunakan sebelumnya, telah mereka lepaskan ketika mereka berhasil melewati celah tersebut.

Kondisi keempat pendaki ini kemudian berubah semakin buruk, ketika dua hari selanjutnya cuaca Eiger kembali berubah menjadi muram. Untuk membuat situasi semakin buruk sebuah longsoran salju menyapu tebing Eiger tepat dijalur pendakian dimana keempat pendaki Bavaria-Jerman berada. Sapuan longsoran ini menghempaskan tiga orang pendaki dan menyisakan seorang saja lagi yang bertahan yaitu Toni Kurz, yang berhasil bertahan karena bergantung pada seutas tali. Menyaksikan kondisi yang mengerikan ini, tiga orang pemandu gunung Eiger segera merencanakan sebuah penyelamatan yang sangat berbahaya guna menolong para pendaki yang tampaknya sedang sekarat tersebut. Meskipun gagal mencapai posisi keempat pendaki tersebut, namun para pemandu itu terkejut menemukan Toni Kurz yang tergantung di tali, dan lebih kaget lagi mendengarkan penuturan Kurz yang nyaris membeku karena terlalu lama tergantung. Kurz menjelaskan nasib teman-temannya dengan cukup jelas, meskipun kondisinya sendiri sangat memprihatinkan; seorang pendaki telah jatuh ke dasar tebing disapu longsoran salju, seorang pendaki yang lain mati membeku di atasnya, sementara satu lagi yang lain, menurut penuturan Kurz telah memecahkan kepalanya sendiri ketika terjatuh di atas bebatuan tebing Eiger North Face dan menemui kematiannya saat menggantung di tali seperti yang ia lakukan.

Keesokan harinya, tiga pemandu ini kembali lagi ke tebing Eiger untuk menyelamatkan Toni Kurz, mereka menyeberang sebuah permukaan tebing dari lobang yang ada di Eigerwand, berusaha menjangkau Kurz meskipun itu mempertaruhkan keselamatan mereka sendiri di bawah potensi longsoran salju yang sedang gencar. Tim penyelamat ini menemukan Kurz masih hidup, namun tampaknya sudah sekarat, satu tangannya sudah benar-benar membeku tak bisa digerakkan lagi. Kurz memutuskan tali yang menghubungkan dirinya dan teman-temannya yang sudah tewas lebih dulu, dan berusaha untuk kembali mencapai permukaan tebing dan bergerak mendekati lokasi para penyelamat. Namun baik Kurz yang sekarat, maupun para pemandu yang berusaha menyelamatkannya sama-sama tak bisa berbuat banyak di depan sebuah tebing overhang (tebing menjorok yang membentuk semacam atap) yang memisahkan posisi mereka.

Para penyelamat itu berhasil melemparkan seutas tali yang cukup panjang untuk Kurz yang dapat digunakan untuk mengikatnya secara bersama, namun tangan Kurz yang membeku tidak dapat mengaitkan simpul tali itu ke carabiner miliknya, meskipun ia mencobanya berkali-kali. Kurz mencoba berjam-jam untuk mencapai tim penyelamat yang hanya berjarak beberapa meter dibawahnya, namun usaha itu tampaknya selalu berbuah sia-sia. Pendaki malang itu kemudian mulai kehilangan kesadarannya, ia mulai tak memberi respon lagi dengan segala seruan para penyelamat yang terus berupaya menjangkaunya. Salah satu dari tim penyelamat memanjat bahu temannya yang lain dan berhasil menyentuh crampon Kurz dengan kapak esnya. Sayangnya itu adalah batas usaha maksimal yang mereka bisa lakukan, tim penyelamat itu tidak dapat bergerak lebih tinggi lagi. Di sisi lain Kurz pun demikian, ia tak dapat turun lebih jauh lagi supaya dapat dijangkau tim penyelamat, radang dingin, membeku, dan keletihan membuatnya tak dapat bergerak lebih banyak. Situasi itu kemudian terus berlanjut karena tak ada yang bisa dilakukan lagi, Kurz tewas dengan perlahan didepan mata para penyelamat yang tak bisa berbuat apa-apa lagi untuknya.

Situasi pendakian tragis tahun 1936 ini diceritakan secara apik dalam sebuah film berjudul North Face yang diproduksi tahun 2008. Adegan-adegan yang diceritakan cukup akurat meskipun tentu saja ditambah sedikit dengan bumbu romanstisme untuk membuat filmnya lebih menarik.



Dikutip dari buku Mahkota Himalaya, halaman 441-444
Profil Buku
Judul : MAHKOTA HIMALAYA
Penulis : Anton Sujarwo
Tebal : 550 halaman
Genre : Mountaineering
Penerbit : Phoenix Publishers
Ukuran : 14 x 21 cm
Cover : Emboss
Kertas : Bookpaper
Harga : Rp, 128.000


No comments:

Post a comment

Tulisan Terbaru

PEMUNCAKAN DAN TRAGEDI DI GUNUNG PALING SULIT DI DUNIA

Gunung K2 yang merupakan gunung tertinggi ke-2 di dunia dan merupakan satu-satunya gunung 8.000 meter yang belum tersentuh puncaknya pa...