Sunday, 26 August 2018

HARI BERKABUNG PARA PENDAKI GUNUNG



          Hari Jum’at, tanggal 24 Agustus kemarin, menjadi hari yang cukup kelabu dalam dunia mountaineering Amerika. Sebenarnya tidak hanya Amerika, publik internasional yang memiliki perhatian terhadap mountaineering juga merasakan hal yang sama, kehilangan mendalam. Rasa kehilangan ini disebabkan oleh dua kematian sekaligus dari dua legenda pendaki besar Amerika yang sangat berpengaruh pada zamannya. Kedua legenda ini telah memperkaya wajah dan pengertian bagi dunia mountaineering secara umum, baik dari sisi filosofi, teknik, pencapaian, maupun peralatan.

          Kematian pertama menjemput Tom Frost di rumah sakit Oakdale, California. Frost menderita kanker yang sudah cukup lama dan membuatnya terpaksa lebih sering mengunjungi rumah sakit untuk menjalani pengobatan. Setelah kematian Tom Frost, beberapa jam kemudian berita duka kembali memenuhi langit para pendaki gunung Amerika dengan meninggalnya Jeff Lowe di kediamannya di Colorado. Jeff Lowe seperti yang telah lama diketahui, mengalami kelumpuhan yang sudah cukup lama yang secara umum disebabkan oleh kerusakan syaraf yang spesifiknya tidak pernah diketahui. Lowe telah menghabiskan tahun-tahun terakhir hidupnya di atas kursi roda. Baik Frost maupun Lowe meninggal dalam usia yang cukup jauh terpaut, Jeff Lowe berusia 67 tahun, sementara Frost 81 tahun.


TOM FROST (1937–2018)

          Tom Frost adalah sosok yang bersahaja dalam kenangan para pendaki Amerika. Ia berteman baik dengan beberapa legenda abad 20 dari alpinist Amerika terkemuka. Frost sering melakukan pendakian bersama dengan Royal Robbins (pendiri brand outdoor Royal Robbins yang juga pernah membuat rute American Direct di Petit Dru bersama dengan John Harlin), Frost juga menjadi sahabat dekat Yvon Chouinard (pemilik brand Patagonia dan salah satu perintis pendakian di Yosemite), Tom Frost juga menjadi mitra yang dekat bagi Chuck Pratt, John Salathe dan Edmund Hillary, sang penakluk Everest tahun 1953. Dikalangan teman-temannya, Tom Frost dikenal sosok yang sederhana dan rendah hati, ia adalah salah satu orang Amerika yang sangat sopan dalam berbicara, jarang sekali keluar makian dari mulutnya, bahkan ketika ia sedang marah. 

          Selain karena kesederhanaannya, Frost juga dikenal karena filosofi dan kegigihan sikapnya dalam mempertahankan gaya mendaki tradisional yang clean dan penuh rasa hormat. Frost secara umum mengkritisi gaya pendakian yang menggunakan terlalu banyak peralatan yang kemudian akan mengotori tebing, Frost juga menekankan sebuah pendakian (panjat tebing) yang lebih mengedepankan unsur estetis dan respect. Berkenaan dengan prinsip filosofinya dalam rock climbing, Frost setidaknya menentang lima hal utama yang ia anggap sebagai sebuah gaya yang keliru dalam pendakian gunung modern. Lima hal tersebut adalah; Keegoisan, pemberian nama kembali pada jalur yang sudah ada, kurangnya manajemen diri, salah pendidikan dan juga kurangnya rasa hormat, baik kepada gunung maupun kepada sesama pendaki gunung.

          Selain terkenal dengan revolusi dan filosofinya, Tom Frost juga memiliki kemampuan yang sangat bagus dalam hal mendesain berbagai peralatan rock climbing. Ia menjadi insinyur andalan Yvon Chouinard ketika mendirikan Chouinard Equipment (cikal bakal merek Patagonia). Kemampuan Frost dalam mendesain berbagai perlengkapan panjat tebing membantu Yvon untuk memproduksi gear yang berkualitas pada masa itu. Frost terus membantu Chouinard sampai brand Chouinard Equipment kemudian terpecah menjadi dua saat brand itu nyaris bangkrut karena tuntutan hukum yang menimpa mereka terkait dengan sertifikasi produk dan perlindungan konsumen. Secara umum kemudian diketahui bahwa semua peralatan panjat tebing yang diproduksi oleh Chouinard Equipment diakuisisi oleh brand Black Diamond Equipment, sementara untuk produk yang sifatnya non teknis (termasuk apparel, sleeping bag, tas, dll) diteruskan kembali oleh Yvon Chouinard produksinya dengan berganti nama menjadi Patagonia.

          Dalam dunia pendakian gunung dan rock climbing, Tom Frost setidaknya populer dengan berbagai pendakian fisrt ascent yang signifikan. Diantara banyak pendakian yang ia lakukan tersebut, beberapa yang paling populer adalah; pendakian di Salathé Wall, El Capitan, Lembah Yosemite, tahun 1961 bersama dengan Royal Robbin dan Chuck Pratt. Pendakian sisi timur laut dari Dissapointment Peak di Grand Teton Range, Wyoming tahun 1962 bersama dengan Yvon Chouinard. Dan pendakian North American Wall, El Capitan, tahun 1964 bersama dengan Chuck Pratt, Royal Robbin, dan juga Yvon Chouinard.

 Pembicaraan tentang filosofi pendakian gunungan antara dua legenda beda zaman, Tom Frost dan Alex Honnold saat mengobrol di bawah El Capitan


JEFF LOWE (1950-2018)

          Legenda kedua dalam mountaineering yang meninggal akhir Agustus yang kelabu ini terkenal dengan gaya alpine stylenya. Jeff Lowe dikenal sebagai salah satu pendaki gunung yang sangat konsisten memngkampanyekan pendakian alpine style sebagai salah satu filosofi terkemuka dalam pendakian gunung dunia. Menurut Lowe, cara terbaik dan paling elegan dalam mendaki gunung adalah dengan membawa perlengkapan seminimal mungkin (bukan ultralight yang marak akhir-akhir ini), dengan tim yang kecil dan efisien dan kompeten, lalu mencapai puncak dengan cepat lalu turun kembali. 

          Alpine style yang dikampanyekan oleh Jeff Lowe pada dasarnya tidak memiliki perbedaan yang signifikan dengan gaya serupa yang diserukan oleh Voytek ‘Wojciech’ Kurtyka dan Alex MacIntyre. Seperti yang kita ketahui bersama, Alex MacIntyre dan Voytek Kurtyka adalah dua orang yang secara global dianggap sebagai pioneering dalam penerapan alpine style di pegunungan besar semacam Himalaya, Karakoram dan juga Tatras. Filosofi utama dari alpine style yang ditekankan baik oleh Alex maupun Voytek adalah ‘light and fast’, sebuah pendakian yang ringan, cepat, tim kecil, efisien dan juga memiliki kompetensi dan determinasi maksimal. Dalam bahasa yang lebih sederhana kita mungkin dapat mengatakan bahwa Jeff Lowe adalah tokoh alpine style di Amerika, sementara Alex MacIntyre dan Voytek Kurtyka di Himalaya.

          Jeff Lowe dalam kampanye alpine stylenya yang populer, telah mencapai sebuah prestasi yang sangat luar biasa. Lowe telah membuat lebih dari 1000 first ascent di seluruh dunia, dan beberapa diantaranya sangat monumental dan sangat berkelas. Pembuatan rute Metanoia di Eiger North Face tahun 1991 adalah salah satu yang paling signifikan dalam karier pendakian profesional Jeff Lowe. Metanoia Route dibuat oleh Jeff Lowe pada musim dingin, secara solo dan tanpa bolts sama sekali. Rute ini kemudian dikenal sebagai salah satu rute yang paling sulit di wajah utara gunung Eiger, bersanding dengan rute-rute fantantis lain seperti John Harlin Route dan lainnya. 

          Selain Metanoia yang fantantis, Jeff Lowe juga membuat pendakian yang signifikan di Latok I melalui punggungan utara pada tahun 1978. Meskipun saat itu pendakiannya bersama dengan Jim Domini dan Michael Kennedy tidak berhasil mencapai puncak, namun punggungan utara Latok I yang didaki oleh Jeff Lowe cs dianggap sebagai salah satu dari pendakian gunung tersulit di dunia. 

          Puncak Latok I melalui North Ridge baru berhasil dicapai beberapa hari yang lalu oleh tiga pendaki berpengalaman dari Inggris dan Slovenia (Tom Livingstone, Alés Cesen dan Luka Strazar), meskipun menurut Livingstone sendiri rute yang mereka ambil tidak 100% North Ridge, karena pada beberapa titik menjelang puncak, tiga orang itu terpaksa melakukan traversing untuk menemukan rute pendaki yang lebih mungkin dilakukan. 

          Selain Metanoia di Eiger North Face dan North Ridge of Latok I, pendakian signifikan Jeff Lowe lainnya adalah; Tahun 1990 mendaki Trango Nameless Tower bersama denga Catherine Destivelle, tahun 1979, mendaki solo di Ama Dablam, tahun 1972 first winter ascent di Grand Teton west face bersama dengan saudaranya Greg Lowe, tahun 1982 bersama dengan David Breashers sisi utara Kwangde Ri, Nepal, dan masih banyak yang lainnya. Tahun 2017 Jeff Lowe dianugrahi Piolet d’Or lifetime achievement award sebagai penghormatan atas karier mountaineeringnya yang outstanding sepanjang masa.

          Dalam industri perlengkapan pendakian gunung, Jeff Lowe juga menjadi salah satu co founder dari brand besar Lowe Alpine. Brand ini dirintis oleh Jeff Lowe bersama dengan dua saudaranya yang lain yaitu Greg Lowe dan Mike Lowe. Namun karena lebih fokus pada urusan petualangan dan pendakian gunung, sebagian besar bisnis Lowe Alpine dikendalikan oleh Mike Lowe.

Potret epik dari Jeff Lowe pada salah satu pendakiannya yang monumental


KANG OGUN (1958-2018)

          Ketika saya sedang menulis artikel prihal kematian Jeff Lowe dan Tom Frost diatas, sebuah kematian datang lagi menyapa dunia petualangan, dan kali ini di Nusantara. Muhammad Gunawan alias Kang Ogun, sosok yang dikenal sebagai salah satu pendaki dan petualang tangguh dari Wanadri, menghembuskan nafas terakhirnya pada hari Minggu kemarin. Kang Ogun meninggal dunia dirumahnya di daerah Menteng, Jakarta Pusat. Sebelumnya memang Kang Ogun sudah mengidap kanker nasofaring sejak tahun 2015, sebuah penyakit yang kemudian malah melecut semangatnya untuk terus berkarya.

          Kang Ogun adalah salah satu sosok inspiratif tanah air, manifestasi sempurna dari selaksa semangat pantang menyerah. Tahun 1997 ia adalah salah satu dari para pendaki amatir yang tergabung dalam Ekspedisi Everest Indonesia yang dikomandoi oleh Kopassus. Ketika Asmujiono mencapai puncak Everest bersama dengan Anatoli Boukreev dan Vladimir Bashkirov yang menjadi guidenya mendaki melalui sisi selatan, Kang Ogun dan lima pendaki lainnya bersama Richard Pavlowski mencoba melalui jalur Tibet. Tim Tibet ini kemudian terpaksa mundur beberapa ratus meter sebelum mencapai puncak Everest, cuaca buruk dan badai yang mulai melolong membuat mereka terpaksa menghentikan pendakian. 

          Gagal mencapai puncak Everest pada tahun 1997 sama sekali tidak menghilangkan keinginan Kang Ogun untuk menginjakkan kakinya di puncak tertinggi dunia itu. Bahkan setelah divonis menderita kanker nasofaring stadium 4 pada tahun 2015, semangat Kang Ogun untuk mencapai puncak Everest tak pernah surut sedikitpun. Ia malah kemudian membuat sebuah perencanaan yang sistematis untuk mewujudkan mimpinya dalam sebuah slogan yang biasa disebut dengan ORTE atau Ogun Road To Everest, misi ini dijadwalkan pada tahun 2018, tahun yang juga kemudian menjadi tahun terakhir bagi kehidupan Kang Ogun.

Kang Ogun pada sebuah kesempatan di Alun-Alun Suryakencana

*

          Baik Kang Ogun, Jeff Lowe dan Tom Frost, semuanya memiliki arti dan filosofi yang dalam pada dunianya masing-masing. Mereka memiliki karateristik jiwa yang tangguh, semangat baja, dan tekad yang luar biasa. Dalam tatanan mountaineering dunia, mungkin nama Jeff Lowe memang memiliki pengaruh yang lebih besar daripada dua nama lainnya. Akan tetapi, dalam lingkup yang lebih internal, tiga nama ini adalah pahlawan bagi banyak orang, mereka adalah lambang sebuah kekuatan dan cara menjalani hidup penuh dengan keberanian dan ketangguhan.

          Memang benar jika ada yang mengatakan setengah dari pendaki gunung terbaik akan mati di gunung, tewas ditempat yang menjadi kastil bagi jiwa-jiwa mereka. Akan tetapi, ada juga para pendaki gunung yang kemudian telah ditakdirkan untuk rihlah (kembali) kepada Yang Maha Kuasa diatas tempat tidur mereka, bukan karena mereka tidak layak mendapat ‘kehormatan’ mati di gunung, namun karena itulah cara yang dipilihkan Tuhan untuk menghormati mereka. Dan Kang Ogun, Tom Frost, juga Jeff Lowe telah mendapat kehormatan itu..

Selamat jalan para legenda...


Foto source :Google






No comments:

Post a comment

Tulisan Terbaru

PEMUNCAKAN DAN TRAGEDI DI GUNUNG PALING SULIT DI DUNIA

Gunung K2 yang merupakan gunung tertinggi ke-2 di dunia dan merupakan satu-satunya gunung 8.000 meter yang belum tersentuh puncaknya pa...