Saturday, 21 July 2018

JALAN BUNTU PARA PENDEKAR ES



Denis Urubko dan Simone More, dua pendaki musim dingin gunung delapan ribu meter Himalaya yang terkuat saat ini

Semua gunung delapan ribu meter yang masuk dalam list fourteen eight thousander telah berhasil didaki pada musim dingin, kecuali K2. Chogo Ri atau K2 adalah satu-satunya puncak gunung delapan ribu meter yang belum bisa digapai pada musim dingin hingga detik ini

          Perlombaan untuk menjadi winter first ascent gunung delapan ribu meter adalah sebuah kompetisi yang panas sekaligus sportif. Animo para mountaineer dan pendaki kelas dunia untuk mengikuti kompetisi ini biasanya begitu tinggi, dan pristiwa serupa  mungkin dapat kita lihat contohnya dalam sejarah pendakian musim dingin Nanga Parbat. Sebelum berhasil dimenangkan oleh tim internasional gabungan antara Simone Moro (Italia), Alex Txikon (Spanyol), Hasan Sadpara (Pakistan) dan Tamara Lunger (Italia) pada 26 Februari 2016, perlombaan untuk mencapai puncak Nanga Parbat di musim dingin telah berlangsung sekitar hampir 30 tahun, tepatnya sejak tahun 1988/1989. Jika kita melihat lebih teliti sejarah-sejarah pendakian musim dingin di gunung delapan ribu meter Himalaya, memang ada beberapa negara yang tampaknya memiliki peran dan ketertarikan yang besar di dalamnya. Salah satu dari banyaknya peserta kompetisi winter ascent ini, sebut saja Polandia yang memiliki begitu banyak pendaki gunung yang dapat dikatakan sebagai jawara pendakian musim dingin. Nama seperti Jerzy Kukuczka atau Jurek adalah salah satu yang paling tangguh dari Polandia, dalam tour empat belas puncak delapan ribu meternya Kukuczka menciptakan tiga pendakian first ascent di musim dingin dengan jalur baru, satunya lagi ia lakukan melalui jalur normal. Tak heran, atas kemampuannya ini, Jerzy Kukuczka dinobatkan sebagai salah satu pentolan dari sekumpulan kecil orang-orang hebat yang dijuluki sebagai ‘ice warrior’ atau ‘para pendekar es’.

          Selain Kukuczka, nama Krzysztof Wielicki juga menjadi salah satu pendekar es yang masih eksis hingga sekarang. Meskipun lebih banyak bertindak sebagai pemimpin ekspedisi, Wielicki tak dapat dilupakan dari sejarah dan kemampuan luar biasanya dalam memanjat gunung delapan ribu meter pada musim dingin. Andrzej Zawada juga adalah pendekar es lain dari Polandia yang juga memiliki kemampuan spektakuler dalam pendakian di musim dingin. Kepemimpinan Zawada dalam berbagai ekspedisi di tahun 1990-an membuktikan bahwa gelar ice warrior untuk para pendaki Polandia bukanlah sebutan yang berlebihan. Saat ini Wielicki dapat dibilang adalah sosok pengganti Zawada dalam hal memimpin ekspedisi pendakian puncak tinggi Himalaya pada musim dingin. 

          Dari empat belas puncak delapan ribu meter di Himalaya, sepuluh atau lebih dari setengah pendakian pertama musim dinginnya diraih oleh tim Polandia. First winter ascent Puncak Everest diraih oleh para pendekar es Polandia pada 17 Februari 1980, dilanjutkan dengan first winter ascent Manaslu pada 12 Januari 1984, kemudian first winter ascent Dhaulagiri 21 Januari 1985, first winter ascent Cho Oyu pada 12 Februari 1985, first winter ascent Kangchenjunga pada 11 Januari 1986, first winter ascent Annapurna pada 3 Januari 1987, disusul kemudian oleh first winter ascent Lhotse pada 31 Desember 1988, kemudian first winter ascent Shishapangma pada 14 Januari 2005 (dipuncaki oleh Piotr Morawski dari Polandia dan Simone Moro dari Italia), first winter ascent Gasherbrum I atau Hidden Peak pada 9 Maret 2012, dan yang terakhir adalah first winter ascent Broad Peak pada tanggal 5 April 2013 oleh empat ksatria es Polandia (Maciej Berbeka, Tomasz Kowalski, Adam Bielecki dan Artur Malek. Sayangnya Berbeka dan Kowalski hilang saat perjalanan turun). 

          Sepuluh first winter ascent oleh Polish Team ini selama kurun waktu tahun 1980 hingga 2013 menjadikan tim pendaki musim dingin Polandia diakui atau tidak adalah yang terbaik, terhebat dan terkuat dari semua tim lain di seluruh dunia. Pencapaian-pencapaian fisrt winter ascent sepuluh puncak delapan ribu meter dari parade crown of Himalaya oleh para pendekar es Polandia ini tentu merupakan sebuah bukti dan sekaligus reputasi yang tak bisa diperdebatkan akan keperkasaan tim Polandia dalam kompetisi pendakian musim dingin di Himalaya.

          Namun di K2, keperkasaan para pendekar es Polandia masih menemukan jalan buntu yang belum dapat diselesaikan. Setidaknya sudah tiga kali ekspedisi yang signifikan dilakukan oleh tim Polandia di K2 yang berbuah kegagalan. Bahkan para pendaki terbaik dari Polandia seperti Andrzej Zawada dan Krzysztof Wielicki sudah mencoba kemampuan mereka di K2 beberapa kali, namun puncak K2 di musim dingin tetap tak tersentuh hingga sekarang.

          Pada musim dingin tahun 1987/1988 adalah untuk pertama kalinya tim pendaki es Polandia menjajal kemampuan mereka di K2. Andrzej Zawada yang diserahi tugas untuk memimpin ekspedisi gabungan antara Polandia, Kanada dan Inggris saat itu mengambil sisi Pakistan untuk melakukan pendakian. Total ekspedisi ini berjumlah 24 orang pendaki (tidak termasuk Sherpa dan porter yang mungkin diikutkan), ada 13 pendaki Polandia, 7 pendaki Kanada dan 4 pendaki Inggris. Pada ekspedisi ini Krzysztof Wielicki dan Leszek Cichy berhasil mendaki hingga ketinggian 7.300 meter dan mendirikan Camp 3 di sana. Beberapa hari kemudian Roger Mear dan Jean Francois Cagnon berhasil menyusul Wielicki dan Cichy ke camp 3, namun sebelum empat orang pendaki ini bisa mendaki lebih tinggi lagi, badai dan radang dingin memksa mereka mundur.

          Krzysztof Wielicki kembali lagi ke K2 pada musim dingin tahun 2002/2003 dalam sebuah ekspedisi yang diberi label Netia K2 Polish Expedition. Ada empat belas orang pendaki Polandia yang ikut berpartisipasi dalam ekspedisi ini, ditambah dengan empat orang dari Kazakhstan, Uzbekistan dan Georgia. Ekspedisi pimpinan Wielicki ini mengambil punggungan utara K2 sebagai pilihan jalur naik. Marcin Kaczkan, Piotr Morawski dan Denis Urubko berhasil mencapai ketinggian 7.650 meter  dan membangun camp 4 di sana. Final push atau summit attack direncanakan akan dilakukan oleh Denis Urubko dan Marcin Kaczkan, akan tetapi sebelum rencana ini berhasil dilakukan, camp 4 Denis Urubko dan timnya porak-poranda dihantam badai. Selain itu, cerebral edema yang mulai mempengaruhi Kaczkan membulatkan keputusan Wielicki untuk menarik mundur para pendakinya dari punggungan utara K2 sesegera mungkin.

          Sekitar sembilan tahun setelah ekspedisi Polandia di K2 pimpinan Wielicki, pada musim dingin tahun 2011/2012 giliran sembilan pendaki Rusia yang mencoba keberuntungan mereka di dinding beku K2. Para pendaki dari Negeri Beruang Merah ini berhasil mencapai ketinggian 7.200 meter melalui rute Abruzzi Spur. Namun tak lama kemudian, Vitaly Gorelik, Valery Shamalo dan Nicholas Totmyanin terpaksa harus mundur karena badai yang mengamuk ditambah lagi dengan kedua tangan Gorelik yang terserang radang dingin. Frossbite yang diderita Gorelik sebenarnya tidak memungkinkannya untuk dapat turun dari K2 secara aman, namun pada akhirnya ketiga pendaki Rusia itu berhasil juga mencapai base camp dan bergabung bersama enam teman mereka yang lain. Tim ini menghubungi tim rescue Pakistan untuk meminta bantuan mengevakuasi Gorelik supaya dapat memperoleh perawatan yang lebih tepat, namun helikopter yang dijadwalkan menjemput Gorelik tidak dapat terbang karena badai yang kian memburuk. Ekspedisi Rusia ini akhirnya berakhir tragis dengan kematian Gorelik yang tewas karena serangan jantung  dan pneumonia saat menunggu evakuasi di base camp mereka.

          Para pendekar es dari Polandia kembali lagi ke K2 pada musim dingin tahun 2017/2018 dibawah pimpinan sang legenda Krzysztof Wielicki. Kali ini, Wielicki dan timnya mengambil dua rute pendakian, yakni melalui Abruzzi Spur dan juga Česen Route (Česen Route adalah rute pendakian yang dibuat oleh Tomo Česen secara solo pada tahun 1986). Di Abruzzi Spur para pendaki berhasil mencapai ketinggian 7.400 meter, sementara di Česen Route para ice warrior Polandia hanya bisa mencapai ketinggian 6.300 meter. Denis Urubko yang juga ikut dalam ekspedisi ini melaporkan bahwa percobaan solonya di K2 berhasil mencapai ketinggian sekitar 7.800 meter, sebelum ia akhirnya benar-benar memutuskan untuk mundur karena kebuntuan. Perlu juga disampaikan di sini bahwa pada upaya pendakian musim dingin di K2 oleh para pendaki Polandia dan Kazakhstan dibawah komando Krzysztof Wielicki tahun 2017/2018 ini, sebuah musibah lain di gunung Nanga Parbat sempat memecah konsentrasi timnya. 

Tomasz Mackiewicz adalah salah satu pendaki Polandia yang tak kenal menyerah untuk bisa mencapai puncak Nanga Parbat pada musim dingin. Pada musim dingin tahun 2017/2018 Mackiewicz berpasangan dengan pendaki perempuan Perancis Elisabeth Revol kembali mencoba keberuntungan mereka untuk bisa mencapai puncak Nanga Parbat. Dua pendaki ini, Elisabeth Revol dan Tomasz Mackiewicz sudah cukup sering berpasangan dalam upaya pendakian musim dingin di Nanga Parbat, namun sejauh ini upaya mereka belum membuahkan hasil yang memuaskan. Mackiewicz sendiri bahkan sudah tujuh kali mencoba mendaki Nanga Parbat di musim dingin, tapi langkahnya selalu terhenti pada kisaran ketinggian 6.500–7.500 meter.

Elizabeth Revol dan Tomasz Mackiewicz


Ketika puncak musim dingin Nanga Parbat berhasil dicapai oleh Simone Moro dan timnya di tahun 2016, itu sama sekali tidak menghentikan niat Mackiewicz dan Elisabeth Revol untuk tetap mendakinya di musim dingin. Namun sekitar tanggal 27 Januari 2018, pendakian pasangan Polandia-Perancis ini harus berakhir tragis, Mackiewicz yang terserang radang dingin, snowblind dan juga gejala cerebral edema terpaksa ditinggalkan oleh Revol di ketinggian sekitar 7.200 meter dinding Diamir Face. Sebelumnya kedua pendaki profesional itu telah berhasil mencapai ketinggian 7.400 meter namun badai dan cuaca yang ekstrim menghentikan langkah keduanya untuk bisa mendaki lebih tinggi lagi. Keputusan Revol untuk meninggalkan Mackiewicz juga bukan merupakan pilihan yang mudah, hal itu ia lakukan demi keselamatan nyawanya sendiri.

Kabar tentang Mackiewicz dan Revol yang terjebak di dinding Diamir Face Nanga Parbat segera menggema di seluruh penjuru dunia mountaineering profesional pada akhir Januari 2018. Berbagai respon dari perkumpulan-perkumpulan mountaineering berdatangan untuk menyelamatkan keduanya. Sebuah upaya pengumpulan dana dibuka dengan menargetkan mampu mengumpulkan donasi sebesar $10.000 USD bagi biaya penyelamatan Revol dan Mackiewicz. Respon yang paling tanggap dan menentukan mungkin ada pada Krzysztof Wielicki yang sedang menjadi komando para pendekar es Polandia di gunung K2. Denis Urubko dan Adam Bielecki yang merupakan dua pendaki utama K2 Polish Expedition 2018 segera diarahkan untuk naik helikopter menuju Nanga Parbat dan melakukan upaya penyelamatan terbaik terhadap rekan pendaki mereka yang sedang sekarat di neraka Diamir Face.

Pada ketinggian 6.026 meter Urubko dan Bielecki berhasil menemukan Revol yang dalam kondisi memprihatinkan sedang berusaha turun. Dengan segala susah payah Urubko dan Bielekci akhirnya mampu membawa Revol turun dengan selamat. Sayangnya hal tersebut tidak bisa dilakukan untuk Mackiewicz, badai salju dan cuaca buruk yang parah membuat penyelamatan untuknya tak mungkin dapat dilakukan lagi. 

Setelah melakukan tindakan penyelamatan yang heroik di Nanga Parbat, Adam Bielecki dan Denis Urubko kembali lagi ke K2 untuk melanjutkan misi pendakian musim dingin mereka. Namun seperkasa apapun para pendekar es dari Polandia dan Kazakhstan ini, mereka masih tetap saja menemukan jalan buntu untuk mencapai puncak di musim dingin K2. 

Entah siapa nantinya yang akan menjadi first winter ascent puncak K2, beberapa orang bahkan mengatakan jikapun ada yang berhasil mencapai puncaknya pada musim dingin, maka ia tidak akan bisa turun dengan selamat. Simone Moro yang dianggap sebagai pendaki musim dingin gunung 8.000 meter terkuat saat ini bahkan belum satu kalipun terdengar ikut berkompetisi di K2. Mungkinkah pendakian musim dingin di K2 adalah kemustahilan, ataukah konsistensi dan semangat tak kenal menyerah dari para pendekar es Polandia akan berbuah manis suatu saat nanti?. Kita tunggu saja.

No comments:

Post a Comment

Tulisan Terbaru

PEMUNCAKAN DAN TRAGEDI DI GUNUNG PALING SULIT DI DUNIA

Gunung K2 yang merupakan gunung tertinggi ke-2 di dunia dan merupakan satu-satunya gunung 8.000 meter yang belum tersentuh puncaknya pa...