Saturday, 7 April 2018

YANG TERSISA DARI SRIKANDI DI PUNCAK DUNIA



Tiga perempuan tangguh yang menjadi pembicara hari itu duduk berdampingan di sebuah kursi sofa berwarna coklat gelap kehitaman, sementara hembusan dari kipas angin berukuran cukup besar yang dipasang dari sudut panggung berkibar-kibar menderu, menngibaskan freon laksana deru angin gunung yang menghamburkan salju ke arah kerumunan peserta. 

Tiga perempuan yang ada di panggung tersebut adalah para pendaki Indonesia yang telah melanglang buana ke berbagai puncak dunia, dengan prestasi dan pencapaian yang beragam yang mengagumkan. Mereka bertiga ada di panggung tersebut sebagai narasumber sebuah acara talk show yang diadakan oleh komunitas Sahabat Alam Indonesia dan Mapala UPN Veteran Yogyakarta. Talkshow ini mengangkat tema “Srikandi di Puncak Dunia”, dan acaranya berlangsung dengan kondusif, sukses dan juga berkesan. 

Hadir sebagai pembicara utama dalam acara talk show tersebut adalah Ibu Clara Sumarwati, pendaki perempuan pertama dari Indonesia yang mencapai puncak Everest tahun 1996, kemudian Ibu Suzanna Saz, pendaki perempuan Indonesia yang pernah mendaki ke beberapa puncak di Himalaya dan juga di Eropa Timur, sementara pembicara ketiga adalah Puteri Handayani, pendaki asal Sumatera Utara dan jebolan fakultas teknik Universitas Indonesia yang menjadi orang indonesia pertama menargetkan tropi The Explorers Grand Slam. Beberapa nama lain yang cukup populer dalam jagad petualangan tanah air yang juga berkesempatan hadir dalam acara talk show tersebut adalah Sabar Gorky, pendaki difabel paling berprestasi di Indonesia, Ibu Aryati, pendaki wanita Indonesia yang meraih puncak Annapurna IV pada tahun 1991, kemudian ada juga Don Hasman, aktivis petualang Indonesia yang aktif pula dalam dunia fotografi.

Secara umum acara talk show tersebut berjalan lancar, dimulai pada pukul satu siang dan berakhir sekitar jam lima sore. Acara juga dimeriahkan dengan penampilan seni tari, band performance, pembagian door price dan lain sebagainya. 

Tema Srikandi di Puncak Dunia dengan menampilkan para pendaki perempuan tanah air berprestasi yang telah membuktikan kapabilitas mereka dalam mountaineering adalah sesuatu yang menarik untuk dibahas, tidak hanya dalam talk show namun juga untuk waktu-waktu setelah talk show berlangsung. Para pendaki perempuan yang mengorbit dalam kancah pendakian gunung tanah air seringkali mendapat tempat yang tidak nyaman dikarenakan diskriminasi yang ada terkait jenis kelamin, beberapa perlakuan yang cenderung unfair seringkali terjadi antara pendaki laki-laki dan pendaki perempuan. Dalam mountaineering global, kita mengenal sosok Wanda Rutkiewicz dari Polandia yang sekuat tenaga berusaha mendobrak perlakuan tidak adil ini dengan melakukan berbagai pendakian mengagumkan yang bahkan jauh melebihi kemampuan pria kebanyakan. Perlakuan yang diterima Wanda selama ekspedisi di Pegunungan Pamir dan Lenin Peak membuatnya muak dengan ketidakadilan yang didasarkan pada jenis kelamin, hal yang kemudian mendorong Wanda untuk melakukan pendakian dengan caranya sendiri dan kemerdekaannya sendiri.

Wanda dalam kiprahnya sebagai mountaineering profesional mampu mendaki delapan puncak delapan ribu meter Himalaya, menjadi wanita Eropa pertama yang mencapai Puncak Everest, mendaki wanita pertama yang mencapai Puncak K2, menjadi wanita pertama yang mencapai puncak Kangchenjunga (jika teori yang mengatakan ia telah mencapai puncak Kangchenjunga sebelum hilang pada tahun 1992 adalah benar). Dari tanah air, saya pikir Ibu Clara Sumarwati adalah sosok yang pantas mendapat lebih banyak perhatian. Apa yang telah dilakukan oleh Ibu Clara pada pendakiannya di Everest adalah sebuah tonggak prestasi yang menjadi momentum besar pembentuk sejarah mountaineering tanah air. 

Tulisan ini juga mungkin dapat menjadi sesuatu yang dinilai sebagai kritik pada beberapa bagian di acara talk show kemarin. Salah satu esensi dasar dari upaya menghadirkan ketiga sosok inspiratif ini ke atas panggung, adalah supaya penjelajahan mereka dan apa yang telah mereka lakukan dapat menjadi stimulan yang sarat nilai yang kemudian dapat menginspirasi generasi yang lebih muda untuk mencapai prestasi serupa atau bahkan lebih tinggi lagi. Secara pribadi, saya kira moderator acara kurang maksimal dalam menggali nilai-nilai yang  berpotensi menjadi nilai inspirasi tersebut, sehingga ketika acara telah usai tetap saja menyisakan berbagai pertanyaan yang belum terjawab secara tuntas dan memuaskan.

Tak dapat disangkal, salah satu ‘misteri’ besar dari pendakian Bu Clara Sumarwati di Everest tahun 1996 adalah statusnya yang undisputed atau diperdebatkan. Dari berbagai media digital dan internet yang banyak memuat sejarah mountaineering tanah air, ekspedisi Bu Clara sebagian dikatakan berhasil mencapai puncak Everest, namun sebagian lain mengatakan bahwa beliau tidak mencapai puncak pada ekspedisi tahun 1996 tersebut. Semestinya talk show kemarin menjadi kesempatan emas bagi Bu Clara untuk menjelaskan hal tersebut kepada publik (khususnya peserta talk show), sebagai bentuk verifikasi bagi berita yang simpang siur terhadap pendakian kontroversialnya puluhan tahun lalu. Akan tetapi moderator acara kurang menggali sisi ini dengan tuntas dan detail, sehingga ketika acara selesai, pertanyaan tentang kasus simpang siur itu tak juga mendapatkan jawaban yang dapat digunakan untuk membantu meluruskan kisah ini berdasarkan bukti-bukti konkret yang mungkin dapat disampaikan oleh Bu Clara.

Bu Suzanna Saz juga berpotensi menjadi sesuatu yang sangat inspiratif jika moderator mampu menampilkannya dengan baik dalam acara tersebut. Gunung Korzhenevskaya yang didakinya (meski belum mencapai puncak) adalah satu dari enam gunung yang menjadi syarat dari grand slam Snow Leopard Award, sebuah award paling bergengsi dalam sejarah mountaineering Uni Soviet, dan masih memegang nilai prestisius tinggi di negara-negara bekas wilayah persemakmuran kekuatan blok timur tersebut hingga sekarang. Hal menarik lain yang dapat digali dari bu Suzanna adalah beliau senantiasa mendaki bersama suaminya. Pendakian bersama pasangan dalam kancah mountaineering global adalah sesuatu yang memiliki nilai unik romantisme tinggi, bukan hanya mengenai tema cinta dan memadu kasih, namun juga tentang pencapaian, kerja sama, keserasian, kekuatan, dan saling support. 

Ibu Suzanna Saz dan suaminya dapat dijadikan sebagai “Nives Meroi dan Romano Benet” nya Indonesia. Seperti kita ketahui bersama, Nives Meroi dan Romano Benet adalah pasangan mountaineering paling berprestasi dalam mountaineering dunia, keduanya berhasil mendaki secara lengkap fourteen eight thousanders secara bersama-sama. Dengan menggali sisi ini lebih dalam, Ibu Suzanna dan suaminya dapat menjadi role model bagi para petualang muda dan peminat mountaineering tanah air, keduanya dapat memberi inspirasi bahwa pendakian gunung couple adalah sesuatu lebih dari sekenar romantisme lawan jenis, namun mampu menjadi sebuah parade yang sarat prestasi, pencapaian, dan juga nilai-nilai luhur.

Sementara Puteri Handayani adalah sosok yang lebih menarik lagi untuk diceritakan, dapat dibilang beliau adalah srikandi sejati dalam ranah mountaineering modern sekarang ini. Misi yang berani dirumuskan oleh Puteri adalah manifestasi dari jiwa pioneering murni, menggabungkan antara pendakian seven summits, south pole dan north pole, dan juga program edukasi yang totalitas. Dengan menargetkan The Adventure Grand Slam sebagai sesuatu yang ingin diraihnya, Puteri menjadi orang Indonesia pertama yang berani memimpikan dan berusaha melakukan hal tersebut.

Salah satu nilai edukasi yang saya kira langsung disampaikan Puteri dalam talk show kemarin adalah bagaimana ia menceitakan kisah transformasinya dari seorang anak tak mampu dari pedalaman Sibolga, memiliki ayah yang pernah terjerat kasus pidana, dianugrahi sosok ibu luar biasa yang memperjuangkan anak-anaknya dengan segenap jiwa raga dan air mata, yang pada akhirnya mampu mengantarkan Puteri menjadi salah satu anak negeri paling berprestasi dalam mountaineering di negeri ini. Moderator acara tak menanyakan hal ini pada Puteri sebenarnya, namun pengalaman nyata dan pelajaran hidup yang begitu kaya dari Puteri, mungkin telah membuatnya secara automatic mampu menyampaikan nilai-nilai tersebut kepada peserta.


Harapan Baru

Beberapa problem yang ada dalam sejarah mountaineering tanah air ini antara lain adalah tidak adanya data yang terintegrasi secara penuh untuk dijadikan sebagai sumber berita bagi masyarakat luas (generasi muda khususnya), kemudian kurangnya dukungan pemerintah terhadap prestasi-prestasi yang terkait dunia petualangan dan penjelajahan, dan selanjutnya adalah minimnya apresiasi dari pemerintah terhadap pencapaian-pencapaian yang telah berhasil dibukukan oleh anak negeri ini.

Ketiga problem ini telah menjadi kabut yang sekian lama menutupi binaran cahaya pencapaian aktivitas petualangan (khususnya mountaineering tanah air). Tidak adanya upaya untuk memperbaiki hal ini telah melahirkan banyak kendala yang kemudian pada perkembangannya menjadi cerminan pada terbentuknya opini bahwa pemerintah tidak begitu memberi perhatian pada aktivitas semacam ini (meskipun pada beberapa kasus pemerintah memiliki andil besar). 

Akan tetapi saat menyimak kata sambutan dari Bapak Teguh Rahardjo dalam acara talk show kemarin, kita mungkin saja memiliki harapan baru. Posisi beliau yang strategis dalam pemerintahan telah memberi peluang bagi pemerintah untuk dapat memperhatikan lebih signifikan akan aktivitas penjelajahan dan petualangan tanah air. Dalam penyampaiannya, pak Teguh menjanjikan akan memberi perhatian dan dukungan lebih besar pada perkembangan aktivitas olahraga petualangan tanah air. Pemerintah dalam keterangan pak Teguh, akan memberi prioritas terhadap jenis olahraga yang kadang tidak begitu dianggap di Indonesia selama ini. 

Dalam pidatonya pak Teguh mengatakan bahwa pemerintah akan mengundang dan memberi apresiasi pada 100 tokoh legenda olahraga Indonesia (termasuk olahraga petualangan juga). Saya kira jika hal ini benar-benar dilaksanakan, maka nama pertama yang harus ada dalam list seratus orang tersebut adalah nama Clara Sumarwati. Pak Teguh mewakili pemerintah harus mengakhiri polemik sejarah pendakian bu Clara di Everest tahun 1996, mengapresiasi pencapaian beliau dengan lebih baik dari sekedar bintang nararya. Seperti yang banyak tertulis dalam sejarah pendakian gunung tanah air mengenai pendakian undisputed bu Clara, maka pemerintah Indonesia sebagai sebuah ororitas negara mampu mengakhiri polemik tersebut dengan menempuh berbagai cara, diantara cara tersebut adalah:
  • Mengkonfirmasi pendakian bu Clara tahun 1996 ke China Tibet Mountaineering Association.
  • Mengkonfirmasi pendakian bu Clara ke The Nepal Mountaineering Association.
  • Bu Clara pada keterangannya mengatakan mencapai puncak Everest dengan ditemani oleh lima orang sherpa, dengan Kaji Sherpa yang bertindak sebagai sirdar. Ini adalah sebuah hal yang dapat ditelusuri lebih jauh, Kaji sherpa dan keempat anggotanya dapat dikonfirmasi lebih detail mengenai moment pemuncakan Everest yang dilakukan oleh bu Clara Sumarwati.
Jika semua langkah pembuktian ini telah dilakukan oleh pemerintah, dan bu Clara memang terbukti berhasil secara meyakinkan mencapai puncak Everest tahun 1996, maka adalah pekerjaan rumah bagi rumah bagi pemerintah untuk mengembalikan nama baik dan reputasi Bu Clara sebagai pendaki gunung indonesia pertama yang meraih puncak Everest. 

Saya kira insan mountaineering Indonesia yang terkumpul dalam berbagai disiplin komunitas dan perkumpulan, baik yang bermain dalam lingkup nasional maupun global, pada perkembangannya wajib menagih janji pak Teguh di kemudian hari. Di sisi lain, pernyataan dukungan yang digaungkan pak Teguh juga seharusnya mampu menjadi sebuah formula yang mampu mendorong para petulang Indonesia untuk berani menetapkan target tinggi dalam petualangan mereka dan berusaha mencapainya dengan semaksimal mungkin upaya yang dapat dilakukan.

Lima puncak gunung dalam grand slam Snow Leopard Award, yang salah satu gunungnya perncah didaki oleh Ibu Suzanna Saz dan suaminya. Foto insert adalah Boris Korshunov, pendaki yang memegang rekor sembilan kali mencapai mencapai puncak masing-masing gunung dalam grand slam Snow Leopard Award.



DUA PERTANYAAN YANG TERSISA

            Selama acara talk show berlangsung, saya mencatat beberapa point yang saya anggap penting. Pada waktu yang sama, saya juga memiliki keinginan untuk menanyakan beberapa hal yang menurut pertimbangan saya juga memiliki nilai krusial untuk ditanyakan kepada para narasumber yang ada. Pada akhirnya pertanyaan ini tak bisa saya sampaikan di acara tersebut, karena waktu yang begitu terbatas. Satu pertanyaan mengenai intervensi sosial media yang dinilai menggerus banyak nilai estetika dalam petualangan juga tak mungkin dijawab lagi, tentu saja sekali lagi, karena keterbatasan waktu.

            Sebelumnya saya telah menyiapkan tiga pertanyaan untuk acara tersebut, namun pertanyaan pertama saya untuk Bu Clara Sumarwati telah saya dapatkan jawabannya (meskipun belum komprehensif) saat mengobrol dengan Bu Clara seusai sesi talk show berlangsung. Insya Allah saya telah mengagendakan pertemuan lebih lanjut kepada bu Clara untuk mendapatkan jawaban yang lebih lengkap dan mendetail lagi mengenai pertanyaan tersebut.

            Dua pertanyaan selanjutnya yang saya siapkan untuk ketiga srikandi sebagai narasumber, baik Bu Clara, Bu Suzanna, maupun Mbak Puteri sendiri. Dan karena pertanyaan ini tidak saya sampaikan pada acara talk show kemarin, maka saya berinisiatif untuk menuliskannya di blog ini, tentu saja dengan harapan dapat dibaca kemudian direspon oleh narasumber.

            Tak dapat ditepis, kehadiran sosok-sosok seperti Bu Clara, Mbak Puteri, Bu Suzan, Ibu Aryati, Mas Sabar Gorky adalah sesuatu yang perlu untuk disorot lebih jauh. Aksi dan pencapaian mereka dalam pendakian gunung dan mountaineering tanah air memiliki nilai yang lebih dari sekedar pencapaian pribadi yang individualis. Dengan berbagai pertimbangan, sosok-sosok ini layak dikatakan sebagai pionir dalam merintis sesuatu yang baru, besar dan juga berani, sehingga pada aplikasinya sudah sangat wajar mereka dijadikan sebagi teladan yang mampu menginspirasi generasi muda Indonesia.

            Sebagai penutup dari tulisan sederhana ini, saya akan menyampaikan dua pertanyaan yang tersisa dari acara kemarin. Selain itu saya juga berharap, acara-acara yang luar biasa bagus seperti ini lebih sering untuk diadakan, agar menjadi salah satu bentuk perhatian kita terhadap pentingnya melanjutkan estafet prestasi-prestasi yang telah ditorehan dengan penuh pengorbanan oleh putera-puteri bangsa Indonesia dalam ranah pendakian gunung dan penjelajahan.

            Terakhir saya ingin menyampaikan ucapan terimakasih kepada Sahabat Alam Indonesia dan juga Mapala UPN Veteran yang telah berhasil membuat acara yang sangat berkualitas dan mendidik ini. 



Salam.



Pertanyaan yang tersisa untuk acara talk show:



  • Tak diragukan bahwa arus perkembangan minat pendakian gunung di tanah air sedang marak-maraknya saat ini. Namun yang cukup disayangkan dari fenomena ini adalah spirit dan arah estetika mountaineering yang nampaknya kian tergerus dari tujuan dasarnya. Anak-anak muda saat ini lebih tertarik untuk menjadikan gunung tak lebih sebagai pengganti studio foto, romantisme yang hadir dalam pendakian gunung tanah air juga cenderung romantisme yang syahwat (ekploitasi ketertarikan pada lawan jenis), bukan romantisme seorang pendaki kepada alam dan gunung-gunung itu sendiri. Sementara itu beberapa prestasi yang tercipta dalam pendakian gunung tanah air juga lebih banyak pada prestasi yang mengekor, artinya sesuatu yang sudah pernah dilakukan orang lain sebelumnya, sedikit sekali anak muda tanah air yang berani dan dapat menempatkan target mereka untuk sesuatu yang baru, kreatif, lebih besar dan juga menantang (seperti yang dilakukan oleh Puteri Handayani dan bu Suzanna). Menyikapi hal ini, apa yang semestinya kita lakukan guna menumbuhkembangkan kembali spirit pioneering dalam aktivitas petualangan generasi muda tanah air?


  • Bagaimana pandangan para narasumber terhadap intervensi sosial media tekait komersialisasi yang oleh sebagian kecil pendaki tradisional dinilai sebagai salah satu momok yang menggerus nilai-nilai estetika yang fundamental dalam pendakian gunung..?






No comments:

Post a comment

Tulisan Terbaru

PEMUNCAKAN DAN TRAGEDI DI GUNUNG PALING SULIT DI DUNIA

Gunung K2 yang merupakan gunung tertinggi ke-2 di dunia dan merupakan satu-satunya gunung 8.000 meter yang belum tersentuh puncaknya pa...