Tuesday, 2 January 2018

AZZIDA, BINTANG BELIA DI JALUR PENUH SEJARAH






Pendaki Balita

Mungkin memang tidak ada orang tua yang begitu ‘gila’ mengajaknya puteranya yang belum genap berusia dua tahun untuk mendaki gunung Merapi dari jalur yang masih menyimpan segudang misteri. 

Jika itu dilakukan melalui rute New Selo yang sudah populer dan sangat aman, (bahkan beberapa orang menyebutnya sebagai jalan tol menuju puncak Merapi) maka mungkin memang tidak ada yang istimewa dan patut diceritakan. Tapi jika dilakukan via rute Babadan, sebuah jalur purba penuh tantangan, dikelilingi oleh mara bahaya, melintasi aliran empat sungai pasir, memotong hampir lima punggungan, melintasi hutan belantara dengan semak setinggi dada, itu baru cerita, dan tampaknya sudah selayaknya untuk kita disimak.

            Adalah Muhammad Zhavier Adis Azzida, anak lelaki berusia 23 bulan 23 hari menjadi ‘pendaki termuda’ yang menjajal ketangguhan rute Babadan tempo hari. Azzida, demikian biasanya anak ini disapa, tampaknya tak mengalami kesulitan yang cukup berarti beradaptasi dengan belantara kaki Merapi. Di tengah gempuran hujan deras yang membahana, melewati rimba belantara, meski sesekali menangis dalam pelukan ayah dan ibunya, sama sekali tak menjadikan hal itu sebagai masalah untuknya.

            Secara umum camp Watu Gelar sebagai camp ground utama pendakian Merapi via Babadan dapat ditempuh empat hingga lima perjalanan dari rumah Mas Gudel yang menjadi base camp sementara pendakian gunung Merapi rute Babadan. Dari rumah Mas Gudel untuk mencapai tepi hutan Pos I Watu Alap-Alap, dibutuhkan hiking sekitar 1 sampai 1,5 jam. Sementara jalur dari Pos I hingga pos III Watu Gelar bisa memakan waktu empat jam pendakian dengan medan tempuh beraneka ragam dari mulai hutan pinus, sabana kecil, sungai pasir, lereng terjal, hingga hutan bersemak. 

            Selain medan yang dapat dikatakan cukup berat, cuaca yang lebih banyak diguyur hujan juga adalah masalah lain yang mesti dihadapi oleh tim Azzida dalam melakukan pendakian. Namun dengan kerjasama tim yang solid, sekitar pukul 17:00 WIB, pendaki cilik Azzida dan para pendampingnya berhasil mencapai Camp Watu Gelar dengan aman.

            Muhammad Azzida adalah putera dari Bapak Subkhan dan Ibu Aryanti, keduanya adalah anggota aktif dari klub pendaki Dhemit Gunung kota Muntilan, Jawa Tengah. Dhemit Gunung sendiri adalah klub yang cukup dikenal di seantero kota Muntilan sebagai kelompok yang menginisiasi untuk dibukanya kembali jalur pendakian Merapi via Kampung Babadan. 

            Sekitar setahun yang lalu saya sempat menulis tentang Nayla, bocah berwajah manis yang juga sempat menjajal rute pendakian Babadan (Nayla juga adalah puteri kerabat dari anggota Corps Dhemit Gunung juga). Dari sisi usia, tentu rekor Nayla dikalahkan oleh Azzida, namun dalam rekor sebagai pendaki yang benar-benar mendaki (dengan kakinya sendiri), Nayla masih memegang rekor tersebut, ini dikarenakan Muhammad Azzida mencapai puncak lebih banyak dalam dekapan dan gendongan ayah bundanya. Karena pada dasarnya memang tidak mungkin membiarkan anak kurang dari dua tahun melewati gigir jurang dan batu-batu tajam tanpa digendong.

            Membawa anak balita bertualang di alam bebas, bukan perkara sederhana yang dapat dilakukan sembarang orang. Dibutuhkan banyak persiapan, kemampuan, dan pengetahuan yang memadai untuk dapat melakukannya. Mendaki gunung adalah sebuah bagian dari petualangan yang saat ini digandrungi oleh generasi muda, tanpa pengetahuan yang memadai, kegiatan ini bukan saja berisiko, namun saja sangat berbahaya, apatah lagi membawa anak balita ke dalamnya. Jadi balita Azzida dibawa naik gunung menyusuri rute purba Babadan, bukanlah keputusan yang dibuat dengan seketika, namun telah dipersiapkan segala sesuatunya oleh kedua orang tuanya yang memang pada dasarnya adalah pegiat alam.

            Ini sekaligus dapat menjadi alarm bagi orang tua lainnya yang mungkin saja tertarik untuk membawa buah hatinya berkelana di alam bebas, baik itu hiking, camping, atau mendaki gunung. Keinginan saja tentu tidak cukup, dibutuhkan kesiapan berupa pengetahuan dan kapabilitas yang cukup untuk melakukannya. Obsesi yang gegabah tanpa persiapan dari orang tua yang hanya terobsesi mengantarkan anak-anak mereka ke gunung dengan tujuan yang dipertanyakan (apalagi dalam usia balita) akan menjadi sebuah bumerang penuh penyesalan jika tanpa dilandasi oleh kesiapan berupa fisik, mental, dan juga knowledge.


Muhammad Zhavier Adis Azzida bersama kedua orang tuanya di Camp Watu Gelar


Status Jalur Babadan

            Rute pendakian gunung Merapi via Babadan adalah rute pendakian purba yang cukup populer, namun belasan tahun lalu terkubur dan dilupakan karena disapu oleh erupsi gunung perkasa Merapi. Wacana untuk kembali membuka rute ini secara resmi masih diperjuangkan oleh teman-teman dari Dhemit Gunung kota Muntilan. Proses persiapan jalur ini telah dilakukan sejak satu tahun yang lalu, namun dikarenakan kurangnya sambutan dari masyarakat kaki gunung (kampung Babadan yang diwacanakan sebagai base camp pendakian) maka proses untuk segera membukanya secara resmi cukup terkendala. 

Namun saat ini, para pemuda Babadan (meski belum semuanya) telah membuka diri dan Insya Allah siap melakukan pengelolaan jalur pendakian melalui kampung halaman mereka. Ini tentu saja menjadi berita yang sangat menggembirakan bagi banyak pihak, terutama orang-orang yang rindu menziarahi Merapi melalui sebuah jalur yang memang memiliki hikayat historikal yang tinggi. Beberapa para pemuda dari Kampung Babadan telah membentuk semacam kelompok bersama (guyub) yang nantinya akan menjadi pengelola pendakian baik dari sisi perizinan, penanggulangan risiko, dan juga pertanggung jawaban terkait konservasi.

Salah satu hal yang menarik dari jalur pendakian Merapi via Babadan ini adalah konsepnya yang mengadopsi adventure dan konservasi dalam sebuah langkah yang berjalan bersama. Jadi, pendakian Merapi rute Babadan yang telah dicanangkan oleh orang-orang ini (Dhemit Gunung, Forum Merapi Merbabu Hijau, Kelompok Pemuda Kampung Badan, dan Arcopodo Club) adalah sebuah pendakian gunung Merapi berbasis konservasi. 

Dalam penerapannya nanti, konservasi dan penghijauan (termasuk didalamnya penanaman, perawatan, dan penjagaan ekosistem) akan menjadi prioritas yang tidak dapat dipisahkan. Para pendaki yang memiliki ketertarikan untuk menjajal pendakian Merapi via rute kuno Babadan akan ‘diwajibkan’ untuk ikut serta dalam misi konservasi. Beberapa ide yang telah diperbincangkan dalam mendukung pelaksanaan ini anatara laina adalah dengan mengajak pendaki jalur Babadan untuk turut serta dalam mengadopsi bibit minimal satu batang dalam pendakian mereka. Bibit pohon akan disediakan di base camp pendakian kampung Babadan, dan para pendaki diberi pilihan, mau ditanam sendiri oleh mereka sambil mendaki, atau diwakilkan kepada tim yang memang telah disediakan untuk itu.

Pada proses penerapannya nanti, para pendaki yang memilih menziarahi Merapi melalui rute Babadan tidak hanya akan menemui pengalaman mendaki yang menantang melalui rute penuh sejarah dan indah, namun juga nama dan tindakan mereka secara aktif akan abadi bersama tumbuh menjulangnya batang-batang pohon yang telah mereka tanam atau wakilkan. Hal ini akan memberi begitu banyak manfaat bagi semuanya, roda perekonomian dan denyut pariwisata Kampung Babadan akan hidup, masyarakat akan memetik hasilnya, para pendaki akan terakomodasi keinginan mereka untuk mendaki Merapi melalui jalur yang paling menantang dan spektakuler, sementara pada jangka panjang, hasil konservasi akan kembali menghadirkan sumber-sumber mata air baru di kaki gunung Merapi, khususnya Babadan.

Tim Dhemit Gunung di  Lintasan Kali Gesik Rute Pendakian Babadan


Jadi saat ini jika ditanya apakah jalur pendakian Merapi via Kampung Babadan sudah resmi, jawabannya adalah belum. Namun proses-proses untuk mengarah kesana telah diupayakan, dan Insya Allah tidak lama lagi akan membuahkan hasil yang diharapkan. Karena kami (termasuk saya sendiri di sini yang tergabung dalam Campala Corps Dhemit Gunung dan Arcopodo Club) yakin dengan sepenuhnya, manfaat yang diberikan dari agenda ini jauh lebih besar daripada kekhawatiran-kekhawatiran yang timbul dan dikemukakan oleh beberapa orang yang memberi pandangan kontras.

            Pro dan kontra adalah sesuatu yang wajar dalam perencanaan apapun, tidak terkecuali dengan plan pembukaan kembali jalur pendakian purba Merapi via Babadan ini. Sejak bulan Desember 2017, beberapa agenda bertemu antara penduduk Babadan, tim Dhemit Gunung, FMMH, Arcopodo Club dan pihak TNGM telah direncanakan, namun karena terkendala oleh beberapa hal (utamanya mengenai pendaki yang sempat hilang di Gunung Merapi bulan Desember tempo hari) terpaksa mengalami penundaan. Dan Insya Allah agenda pertemuan untuk membicarakan hal ini lebih lanjut akan dilakukan pada bulan Januari 2018 ini, dan semoga hal ini akan membawa kebaikan dan manfaat bagi semua pihak terkait.

            Seperti diketahui bersama, hingga saat ini hanya ada dua rute pendakian Gunung Merapi yang menyandang cap resmi, yakni Rute New Selo dari Kabupaten Boyolali dan Rute Sapuangin dari Klaten. Sedangkan kabupaten Magelang yang notabene juga merupakan rumah bagi Gunung Merapi sama sekali belum memiliki akses untuk masuk, dan peluang satu-satunya bagi Magelang adalah melalui Babadan, dan itu sudah semestinya menjadi pertimbangan yang baik bagi banyak pihak. 

Beberapa pertanyaan sebelumnya mengenai Babadan adalah siapa yang akan mengelola jalur itu jika dibuka, sekarang jawabannya sudah ada, tim pemuda Kampung Babadan telah siap dan bertekad menjawab tantangan tersebut. Jadi sudah selayaknya kesempatan dan impian kabupaten Magelang untuk memiliki jalur pendakian gunung Merapi pula (seperti tetangganya Boyolali dan Klaten) dapat segera diwujudkan. Dengan kontribusi dan kerjasama dari banyak pihak, Insya Allah langkah ini akan membawa manfaat yang baik bagi semuanya. 


Aman Sekaligus Berisiko

            Azzida si pendaki balita itu nampak mempermainkan beberapa cangkir dan sendok di Camp Watu Gelar, sementara ibu dan ayahnya sedang membasuh muka di air bening yang mengalir gemericik di antara bebatuan cadas gunung Merapi. Tak ada rasa takut di wajah anak itu, tak ada pula rasa khawatir yang tergambar di matanya karena berada di tengah rimba belantara. Ia hanya bermain ceria, sesekali mungkin menangis karena kehendaknya tak bisa dipenuhi oleh ayah bundanya. Sama sekali tak ada dalam pikiran anak berusia 23 bulan itu, jika ia sekarang berada di sebuah rute paling spektakuler dalam pendakian gunung paling menarik di tanah Jawa.

            Sebagai salah satu orang yang terlibat aktif dalam proses pemetaan dan persiapan jalur ini kembali (saya telah menyambangi rute legendaris ini nyaris sepuluh kali, setengahnya saya lakukan secara solo), saya tahu persis bahwa rute pendakian Babadan adalah rute yang aman sekaligus berisiko. Dikatakan aman karena jalur ini memiliki rute yang jelas, dan jika dilakukan dengan benar, maka Insya Allah akan sangat aman. Dan dikatakan berisiko, karena pada jalur ini pula banyak potensi bahaya mengintai jika para pendaki melewatinya secara ceroboh dan tanpa persiapan yang memadai.

            Kehadiran Azzida yang belum genap dua tahun pada pendakian ini adalah sebuah bukti nyata bahwa jalur ini sangat aman untuk dilewati. Sebelumnya Nayla yang juga masih terhitung belia juga mampu memecahkan rekor sebagai pendaki termuda di jalur ini (meskipun baik rekor Azzida maupun Nayla belum dapat kita katakan sempurna karena keduanya tidak mencapai puncak Merapi). 

Garansi aman dengan kehadiran Azzida dan Nayla di rute ini adalah jawaban yang sangat jelas bagi pertanyaan dan keraguan yang menganggap rute ini terlampau berbahaya untuk dilewati.

Sunset View dari Camp Watu Gelar


            Dikarenakan usianya yang masih belia, tentu saya masih belum bisa berkomunikasi banyak dengan sosok Azzida, namun keriang gembiraan dalam langkah kecilnya di Camp III Watu Gelar cukup memberi jawaban bahwa perjalanan ini tidak menjadi beban baginya. Saya tentu tidak dapat menjelaskan kesan dan pesan filosofis apa yang diperoleh oleh pendaki balita seperti Azzida ini, namun yang jelas kehadirannya di rute purba pendakian Merapi via Kampung Babadan telah memberi banyak orang persepsi lebih baik mengenai pendakian jalur bersejarah tersebut.

            Bagi Azzida mungkin rute Babadan Merapi adalah starting point bagi petualangan selanjutnya. Ia mungkin saja akan diajak berkelana lebih jauh oleh kedua orang tuanya di alam bebas. Namun pendakian Merapi via Babadan, Camp Watu Gelar yang indah, desau angin yang bertiup di antara lembar-lembar daun akasia, bahkan gemuruh hujan yang menemani di lintasan Kali Gesik, akan menjadi sebuah simfoni abadi bagi anak ini, dimana ia mulai dikenalkan dengan sebuah aktifitas mendaki gunung yang menantang lagi penuh nuansa romantisme. 



           

No comments:

Post a Comment

Tulisan Terbaru

PEMUNCAKAN DAN TRAGEDI DI GUNUNG PALING SULIT DI DUNIA

Gunung K2 yang merupakan gunung tertinggi ke-2 di dunia dan merupakan satu-satunya gunung 8.000 meter yang belum tersentuh puncaknya pa...