Monday, 9 October 2017

SEBUAH KRITIK UNTUK KOPDAR KEPALA KORWIL MAGELANG OKTOBER 2017





Randu Ijo

Sebuah banner terpampang besar menjadi background open stage acara kopi darat keluarga pecinta alam (Kopdar Kepala) untuk wilayah Magelang dan sekitarnya. Diatas banner dengan gambar view gagahnya Merapi tersebut tertera sebuah kalimat yang dijadikan sebagai slogan kopdar kali ini ;

 :: Menikmati hidup apa yang diberikan Tuhan pada kita, mari kita bersama menjaga, merawat, dan melestarikan. WE ARE STRONG, SOLID, AND RESPECT ::

Disamping banner utama tersebut, beberapa bendera, logo klub, dan logo sponsor tampak juga bergantungan dipajang, sementara bendera merah putih ukuran besar juga ikut menghiasai sebelah kanan banner.

                Kopdar kali ini dilaksanakan di Randu  Ijo, Jurang Jero, Srumbung, Magelang, Jawa Tengah, dari kota Muntilan Jawa Tengah, lokasi ini bisa diakses dengan waktu kurang lebih 30 sampai 45 menit dengan sepeda motor.

                Jurang Jero merupakan sebuah areal lokasi wisata alam  cukup populer di Kabupaten Magelang, ditempat yang merupakan areal hutan cemara ini terdapat berbagai objek yang menarik minat para pengunjung. Selain view gunung Merapi yang begitu mempesona, lokasi Randu Ijo yang merupakan sebuah tempat dalam areal konservasi Jurang Jero merupakan salah satu lokasi favorit untuk camping, baik itu yang sifatnya untuk ceremonial, gathering, ataupun sekedar camping ceria semata. 

                Di lokasi Randu Ijo, terdapat berbagai fasilitas pendukung untuk mengadakan sebuah kegiatan, pendopo yang cukup untuk menampung 40 orang, musholla yang cukup nyaman dan bersih, toilet, juga sarana penerangan dan listrik. Sementara di samping lokasi Randu Ijo, mengalir sebuah sungai kecil berair jernih, sebuah bendungan yang hampir keseluruhannya telah tertutup semak dan pepohonan perdu juga menjadi daya tarik tempat ini.

                Berbagai fasilitas pendukung yang ada ditempat ini memang menjadi sebuah pertimbangan khusus bagi komunitas-komunitas yang berniat mengadakan semacam gathering atau sekedar fun camp, hingga memang hampir setiap akhir pekan tempat ini tak pernah sepi pengunjung, selalu menjadi rumah temu bagi bermacam komunitas disekitar wilayah kabupaten Magelang. 

                Randu Ijo sendiri dikelola oleh sebuah kelompok tani yang menamakan diri mereka dengan Forum Merapi Merbabu Hijau atau disingkat FMMH, kelompok tani diketuai oleh seorang pria yang sangat peduli dengan aktifitas reboisasi dan penghijauan, hingga tak mengherankan, agenda utama dari FMMH adalah melakukan reboisasi, revitalisasi, konservasi, dan penghijauan secara totalitas dikawasan gunung Merapi dan gunung Merbabu.


Kopdar Kepala

                Secara umum kopdar ini berjalan dengan lancar dan sukses, meskipun prosesnya dimulai molor dari jadwal yang tertera pada brosur dikarenakan hujan yang cukup deras pada sore harinya. 

                Peserta kopdar ini ternyata tidak hanya berasal dari kabupaten Magelang saja, bahkan ada juga yang datang dari Klaten, Jogja, Boyolali, bahkan Semarang. Rangkaian kegiatan kopdar malam harinya meliputi sesi perkenalan sesama peserta kopdar, diteruskan dengan pemberian materi oleh para narasumber terpilih, kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab dan sedikit pembekalan motivasi oleh para narasumber.

                Acara yang dimulai sekitar jam 10 malam ini, bahkan baru selesai jam 4 dini hari, sementara pagi harinya acara dilanjutkan dengan perawatan pohon di sekitar Jurang Jero berupa pemberian pupuk dan penanaman beberapa batang pohon sebagai simbolis. Sebelum acara benar- benar ditutup dan selesai, penyelenggara memberikan sesi pemgambilan nomor undian dan pembagian hadiah hiburan yang telah disiapkan sebelumnya, terakhir sesi foto bersama dan pembagian piagam penghargaan oleh panitia kepada semua peserta Kopdar Keluarga Pecinta Alam Korwil Magelang, dan sebelum mendung kian tebal dan rintik hujan mulai turun, sekitar jam 11 siang, acara Kopdar ini secara resmi ditutup.

Sebagian peserta Kopdar Kepala Korwil Magelang Oktober 2017


Sebuah Kritik dan Tinjauan

                Sebuah pepatah mengatakan “ usia bukanlah ukuran seseorang untuk dapat  bertindak dewasa dan bijaksana “, sebagai salah satu peserta kopdar Kepala Regional Magelang kemarin, saya merasa berkepentingan untuk menulis ini, sebagai sebuah koreksi dan tinjauan secara umum, dengan harapan hal yang mungkin dipandang sebagai sesuatu yang uncomfortable dan cacat, tidak akan terjadi lagi pada kopdar-kopdar sejenis, khususnya pada kopdar Keluarga Pecinta Alam regional Magelang edisi selanjutnya.

                Pada bahasan ini, pepatah diatas dapat kita terjemahan sebagai; senioritas dan lamanya seseorang menjadi pencinta alam, tidak dapat pula dijadikan sebagai ukuran kebijaksanan dan kedewasaannya, khususnya dalam intern dunia ke-pecinta alaman itu sendiri.

Apa maksudnya…?

Saya akan bercerita sedikit mengapa saya bisa berpendapat demikian ;

Pada sesi tanya jawab, salah satu narasumber terlihat begitu jumawa, dan menurut pandangan saya secara pribadi lebih kepada sikap over-confidence, bahkan cenderung sedikit arogan. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh para peserta, dijawab semaunya, bahkan pada beberapa bagian saya perhatikan cenderung dipaksakan dengan penekanan bahwa penanya harus puas dengan jawaban yang diberikan, walaupun kadang jawaban yang diberikan terdengar aneh dan ngelantur.

Pertanyaan-pertanyaan ini memang simple pada dasarnya, survival, seputar pertolongan pertama, hyporthermia, bunga edelweiss, dan beberapa pertanyaan sederhana lainnya. 

Meskipun sederhana, menurut saya tidak dapat juga dijawab hanya dengan reka-reka semata, atau dijawab tanpa memiliki landasan analisa yang jelas, baik berupa sebuah teori yang teruji, atau pengalaman yang memang telah terbukti. Sayangnya narasumber cenderung memperturutkan sikap ego dan arogansinya, sehingga atmosfer diskusi sebuah keluarga pecinta alam yang seharusnya solid, hangat, respect, dan bermanfaat, seperti yang ditertulis dibanner acara, tidak dapat terwujud dengan maksimal.

Narasumber berulang kali mengatakan ia telah ke Everest, bahkan sudah enam kali, lahir di Belanda, pernah ke Kilimanjaro, Elbrus, Alpen, menjadi brand ambassador salah satu produk ternama, mendaki gunung keliling Indonesia sejak tahun 1999, bedarah bangsawan sebagai salah satu keturunan sultan ke-7 Keraton Yogyakarta, lulusan Harvard University, yang kesemuanya itu hanya untuk menunjukkan kepada peserta kopdar bahwa ia adalah seorang yang istimewa, dan telah malang melintang di dunia petualangan dengan segudang prestasi dan pengalaman.

Oke, anggaplah semua yang dikatakan itu benar. Tapi saya kira tertalu berlebihan ketika salah satu peserta bertanya, kemudian jawaban yang diberikan tidak cukup memuaskan, kemudian sang penanya kembali lagi kedepan untuk menanggapi, tapi direspon dengan membuka baju oleh narasumber, menunjukkan badannya yang kekar, dihiasi beberapa tattoo yang membuat gemetar, ia memang tidak memukul, menonjok, atau menendang si penanya, tapi gesture dan bahasa tubuh yang ia tunjukkan dengan jelas memperlihatkan ia berupaya mengintimidasi sang penanya.

Begitukah respon seorang alumni Harvard dalam diskusi..?

Begitukah sikap pecinta alam dengan pengalaman belasan tahun menghadapi sebuah pendapat yang berseberangan dengannya..?

Begitukah respon seorang mountaineer dengan rekor enam kali ke Everest, menjelajah perbukitan Alpen, melanglang di Elbrus, ketika menemukan seorang penanya yang tidak merasa puas dengan jawabannya..?


Gunung adalah sekolah, kebijaksanaan adalah buahnya

                Sungguh kedepan, jika acara seperti ini diadakan lagi, saya berharap penyelenggara setidaknya menyeleksi dengan seksama terlebih dahulu para narasumber acara, pilihlah orang-orang yang memang memiliki kompetensi dan kapabilitas, atau setidaknya memiliki pengalaman yang nyata untuk diceritakan. Sungguh sangat disayangkan, para peserta kopdar yang telah berupaya keras datang dari berbagai wilayah, disuguhi dengan hal-hal yang tidak seharusnya, alih-alih mendapatkan sebuah share learning yang bermanfaat.

Edukasi kepada para pendaki muda, memang adalah tugas kita, orang-orang yang menganggap diri mereka sebagai orang yang telah lama menempuh rimba dan belantara. Konsepsi persuasif dan informatif untuk meningkatkan kesadaran pelestarian kepada pada pecinta alam muda telah menjadi amanah dipundak kita semua, meskipun kita tak pernah memintanya, karena itu mari kita melakukannya dengan sebaik mungkin, ditunjukkan dengan sikap, teladan dan karakter, bukan hanya tutur kata lewat pengeras suara belaka.

Usia yang telah banyak, rambut yang mulai ditumbuhi uban, kaki yang telah melangkah ke berbagai puncak, nama yang lebih dulu tercatat sebagai pecinta alam atau pendaki gunung, bukanlah jaminan bahwa seseorang akan menjadi lebih bijaksana. Kita mesti banyak belajar, mesti memikirkan perjalanan pendakian bukan hanya sebagai sebuah ajang eksis dan unjuk kekuatan, tetapi juga sebagai sebuah pembelajaran dan tempaan, untuk menciptakan karakter unggul, berkepribadian, tangguh, rendah hati dan juga sopan.

Semestinya semakin jauh melangkah, semakin rendah hatilah  jiwa seorang pendaki


Akhirnya sebagai salah satu peserta, melalui tulisan ini saya ingin menyampaikan apresiasi yang tinggi untuk panitia yang telah mengupayakan acara kopdar kemarin, tulisan ini saya terbitkan sebagai bentuk rasa respect dan kepedulian, meskipun didalamnya saya menyelipkan kritik, namun itu tentu saja untuk kebaikan kita semua didepan.



Salam.






               

No comments:

Post a comment

Tulisan Terbaru

PEMUNCAKAN DAN TRAGEDI DI GUNUNG PALING SULIT DI DUNIA

Gunung K2 yang merupakan gunung tertinggi ke-2 di dunia dan merupakan satu-satunya gunung 8.000 meter yang belum tersentuh puncaknya pa...