Friday, 13 October 2017

INDONESIAN Piolet d'Or, Upaya Menggugah Penghargaan Bagi Para Penjelajah Tanah Air





Sekilas tentang Piolet d’Or

Bagi kawan-kawan yang telah terbiasa dengan dunia mountaineering (baik sebagai pegiat, maupun hanya sebagai peminat dan penggemar), istilah Piolet d’Or tentu bukan hal yang asing untuk didengar, akan tetapi, beberapa sahabat yang lain mungkin saja belum mengetahui istilah ini lebih jauh.

Piolet d’Or adalah sebuah penghargaan tahunan yang diberikan kepada insan-insan pelaku pendakian gunung. Dalam bahasa Perancis, Piolet d’Or diartikan sebagai Kapak Es Emas, yang merupakan sebuah perwujudan penghargaan tertinggi kepada para alpinis yang telah berhasil melakukan sesuatu yang mengagumkan serta berharga dalam dunia mountaineering.

Perancis Montagnes dan The Groupe De Haute Montagne (GHM) adalah dua majalah yang memprakarsai Piolet d’Or ini sejak tahun 1991, pada pelaksanaannya Piolet d’Or tidak hanya menjadi sebuah ajang kompetisi antara alpinis Perancis saja, namun arus perkembangannya malah membuat Piolet d’Or menjadi semacam award tertinggi untuk para alpinis dari seluruh dunia, dan justru kemudian orang-orang yang berdiri di podium Piolet d’Or lebih banyak bukan dari Perancis, namun menyebar dari seluruh penjuru negeri, mulai Rusia, Austria, Italia, Jerman, hingga Amerika Serikat.

Seperti halnya penghargaan –penghargaan sejenis dalam bidang lain, seperti Ballon d’Or untuk sepakbola, Oscar untuk perfilman, maka Piolet d’Or juga memiliki tahta dan kriterianya tersendiri dalam kancah alpinisme dunia. Seorang alpinis yang dinobatkan sebagai pemenang Piolet d’Or bukan hanya dinilai dari prestasinya yang luar biasa, namun juga terpenuhinya beberapa unsur lain yang menjadi sebuah nilai-nilai dasar dalam penetapan podium Piolet ‘dOr.

Dewan juri Piolet d’Or adalah pemimpin redaksi Montagnes, president direktur GHM, editor Montagnes, pemenang tahun sebelumnya, dan beberapa juri kehormatan lain yang diundang. Adapun kriteria yang ditetapkan antara lain sebagai berikut ;

Yang pertama adalah tingkat konsistensi dan komitmen teknis yang tinggi dalam dunia alpinis, yang sesuai dengan nilai-nilai awal yang diusung oleh Montagnes dan GHM. Hal kedua yang menjadi dasar pertimbangan adalah, originalitas dalam memilih objek pendakian, yang meliputi tujuan, motivasi, dan teknis yang digunakan dalam pendakian, hal ini juga sebagai sebuah pertimbangan akan perubahan dunia alpinisme yang abadi, sesuatu yang masa dulu dianggap mustahil untuk dilakukan, saat ini bisa menjadi sesuatu yang biasa dan lumrah.

Persyaratan ketiga dan yang paling fundamental adalah menghormati dan respect terhadap gunung, antusiasme dalam dunia alpinisme disertai semangat melestarikan yang tinggi, seorang yang melakukan pendakian sulit namun merusak lintasan pendakiannya, tidak memenuhi syarat untuk dijadikan pemenang dalam Piolet d’Or.

Meskipun demikian ajang Piolet d’Or bukanlah tanpa kontroversi, beberapa alpinis menilai ajang ini sebagai persaingan para alpinis semata, absurdnya pengertian akan alpinisme, penghormatan terhadap gunung menjadi pokok dasar biasnya penilaian bagi seorang pemenang. Pada perkembangannya, kontroversi ini diperparah lagi dengan banyak para alpinis yang mendaki dengan Heavy Rock Style, sebuah istilah untuk gaya – gaya berat, sulit, dan berbahaya dalam pendakian gunung, juga banyaknya peralatan yang tertinggal sebagai jejak kotor dalam sebuah lintasan pendakian.  

Rolando Garibotti mungkin adalah nama yang paling tenar mengenai kontroversial ini, pendakiannya disisi utara Cerro Torre yang diklaim sebagai sebuah first ascent tidak dapat dimasukkan dalam  kriteria penghargaan Piolet d'Or, dan Garibotti cs pun dengan penuh rasa hormat menarik nominasinya, karena pendakian mereka di Cerro Torre yang meninggalkan banyak bekas berupa bolt, lebih lanjut Garibotti juga meminta dewan juri untuk tidak mempertimbangkan keberhasilannya dan Colin Haley melakukan traverse yang pertama di dinding Cerro Torre.

Nama lain yang cukup mengesankan berkenaan dengan tahta Piolet d’Or adalah Marko Perzelj dan Marmier, yang secara tegas menolak piala bergengsi itu, dan mengatakan dengan berani bahwa Piolet d’Or adalah sebuah persaingan di alpinisme, tak ada garis finish dalam persaingan tersebut, selain membuat para alpinis semakin jauh dari konsep penghormatan terhadap gunung.
 
Rolando Garibotti, sosok leader dalam first acent The North Face of Cerro Torre

Penghargaan Untuk Petualang Nusantara

                Menarik bagi saya untuk mengulas hal ini dan memikirkan sebuah gagasan mengenai adanya semacam penghargaan tertinggi dalam lingkup nasional terhadap para penjelajah tanah air yang dinilai pantas mendapatkannya. 

                Pemikiran ini memang berangkat dari ide semacam Piolet d’Or, National Geographic adventure of the years atau penghargaan dengan deskripsi sejenis, namun selain memang sebagai sebuah bentuk penghargaan kepada para petualang yang memiliki dedikasi tinggi dari tanah air Indonesia, ide untuk menciptakan sebuah penghargaan serupa untuk para petualang nusantara berangkat pula karena kekhawatiran akan tumbuh kembang dunia petualangan itu sendiri.
Mengapa demikian…?

                Kekhawatiran Marko Perzelj dan Marmeir memang beralasan disatu sisi, apalagi untuk medan tempur Alpinis dengan kontur khas pendakian gunung es, memang tampaknya beberapa hal sudah mencapai titik sangat jauh, sehingga untuk mengarah ke titik yang lebih jauh lagi, sebagian besar orang masih belum memiliki gambaran bagaimana rinciannya, hanya sekilas diketahui bahwa perlombaan para alpinis di Piolet d’Or adalah untuk menciptakan rekam pendakian yang lebih sulit, lebih berbahaya, ataupun lebih bombastis (viral) secara effect media, itu setidaknya pendapat yang dikemukakan Duane Raleight, salah satu professional rock climber dari Amerika Serikat.

                Namun khusus di tanah air Indonesia, mungkin kita dapat memperhatikan bersama, bahwa tidaklah banyak (jika tidak mau mengatakan tidak ada) inovasi, gebrakan, gagasan, dan rekam jejak baru dalam dunia petualangan dan penjelajahan. Para petualang yang ada, yang tampil dari berbagai disiplin bidang masing –masing cenderung lebih banyak menjadi follower ketimbang menjadi pionir dalam menciptakan rute baru, orisinalitas objek baru, atau inovasi baru dalam teknis aplikasinya. 

                Dan ini bukanlah sebuah kabar yang menyenangkan, ketika melihat generasi muda kita dari Indonesia cenderung lebih banyak menjadi follower saja daripada memilih untuk menjadi perintis, meskipun pada permukaannya, dunia pendakian gunung, dunia petualangan, penjelajahan, dan outdoor tanah air tampak begitu semarak, yang ini dapat kita lihat dengan meningkat pesatnya peminat dari kalangan muda yang menjadikan media sosial sebagai etalase kegiatan mereka. 

Akan tetapi euphoria semacam ini tidak jauh beda seperti buih ditengah lautan, atau fatamorgana semu ditengah gurun pasir yang gersang, ketika sangat sedikit bahkan nyaris tidak ada dari para aktivis penjelajahan ini yang mengambil inisiatif baru, gagasan baru, dan lebih jauh mengambil resiko dalam menciptakan sebuah pencapaian orisinalitas baru dalam dunia penjelajahan dan petualangan tanah air.

                Kita mengingat bersama bahwa kita pernah memiliki seorang sosok bernama Norman Edwin, sosok yang memberi nuansa baru dalam atmosfer dunia pendakian gunung tanah air pada masanya. Antusiasmenya, konsistensinya, keberaniannya untuk menetapkan sebuah target baru jauh diatas standard kebiasaan selama ini patut menjadi nilai teladan bagi kita semua. Meskipun raksasa Aconcagua telah menelan dua petualang terbaik Indonesia masa awal, Norman Edwin dan Didiek Syamsu, namun semangat dan upaya mereka telah menjadi inspirasi dunia pendakian Bangsa Indonesia, dan spirit itu seharusnya tetap terjaga hingga saat ini.

                Dan kenyataan ini menjadi salah satu pertimbangan mengapa ide dan gagasan mengenai pentingnya sebuah award tahunan semacam Piolet d’Or khusus bagi penjelajah dan petualang Indonesia memiliki skala cukup urgent untuk segera ditetaskan. Award ini nanti, apapun nama dan sebutannya, diharapkan mampu menjadi sebauh motivasi, menjadi sebuah daya dorong bagi para penjelajah tanah air untuk memilih, melakukan, dan mencapai sebuah tonggak baru dalam khazanah dunia penjelajahan nusantara.

                Selain sebagai sebuah rangsangan, kehadiran award tahunan secara kontinyu untuk para penjelajah Indonesia akan juga memiliki efek positif lain, perkembangan kreatifitas para petualang, inovasi dalam memilih objek, juga sebagai sebuah pupuk untuk mendidik generasi muda (khususnya yang memiliki minat dalam dunia petualangan, apapun jenisnya) untuk lebih berani dalam mengambil resiko sebagai pionir dan inovator, alih-alih hanya menjadi seorang follower semata-mata. 

                Disamping itu juga, award ini juga nantinya akan menjadi sebuah kebanggaan, sebuah podium pencapaian yang mengesankan, serta pada beberapa bagian dapat saja menjadi sebuah standar baru dalam dunia penjelajahan dan petualangan Nusantara. Kebanggaan ini tidak hanya ada pada pemenang award, namun juga pada bangsa Indonesia karena berhasil menelurkan para penjelajah yang kreatif, berani, dan berjiwa leader. Pun karena secara territorial asean, hal ini juga belum pernah ada, maka award ini pun akan menjadi pendongkrak kebanggaan bangsa Indonesia sebagai pencetus, bahkan kita adalah yang pertama di Asean yang memiliki sebuah award untuk memberi penghormatan kepada para petualang.

Norman Edwin, salah satu sosok petualang Indonesia yang memiliki jiwa pioneering


Mekanisme dan Kriteria

                Kita mungkin tidak dapat memimpikan award petualang nusantara akan sama seperti Piolet d’Or, terutama dari sisi penyelenggara dan kepanitiannya. Indonesia belum benar- benar memiliki sebuah media yang sungguh-sungguh concern dibidang petualangan dan penjelajahan, memang pernah ada media bulanan semacam Wanadri, Jayagiri, dan beberapa yang lain, yang mendedikasikan kehadirannya untuk berbagi manfaat dan pengetahuan mengenai alam dan penjelajahan, namun beberapa tantangan dan hambatan, membuat media-media ini tidak dapat diterbitkan lagi, dan sebagai salah satu pembaca setianya, hal ini sungguh sangat saya sayangkan.

                Jadi jika gagasan tentang award ini bisa benar –benar terealisasikan, boleh saja nanti penyelenggara bukanlah sebuah bonafit company atau semacamnya, disamping memiliki tantangannya sendiri, hal ini juga memberi keleluasaan dan kemerdekaan dalam memberikan keputusan bagi para dewan juri nantinya, karena tidak terikat dengan nilai-nilai wajib dari wadah penyelenggara (stake holder). Akan tetapi, kenyataan seperti ini dapat saja juga menjadi celah untuk melakukan tindakan nepotisme dalam penetapan pemenang award bagi dewan juri yang mungkin saja kurang memiliki nilai keadilan dan objektivitas. 

                Selain mengadopsi kriteria-kriteria penilaian seperti yang diterapkan Piolet d’Or, seperti penghormatan terhadap gunung (alam), orisinalitas dalam memilih medan jelajah, manuver dan inovasi pada upaya eksplorasi (pendakian), konsistensi dan komitmen yang tinggi dalam dunia petualangan, para penyelenggara Indonesia Exploring Award dapat juga menetapkan nilai-nilai lain sebagai sebuah standard penilaian, dan yang terbayang dalam benak saya adalah memasukkan nilai edukasi dan manfaat dalam list penilaian, jadi seorang pemenang tidak hanya dinilai dari kriteria seperti Piolet d’Or saja, akan tetapi juga, dari seberapa influence (berpengaruhkah) penjelajahan yang ia lakukan terhadap nilai-nilai edukasi anak bangsa, dan lebih jauh seberapa bermanfaatkah apa yang ia lakukan dalam pengabdian kepada alam dan masyarakat sekitar.

                Jika award ini dapat terwujud dalam waktu dekat, mungkin kita telah mengantongi beberapa nama yang bisa dijadikan sebagai nominator peraih award, diantaranya mungkin adalah Tedy Ixdiana yang konsen dalam dunia panjat tebing, dan ekspedisinya dalam membangun jembatan gantung untuk negeri didaerah-daerah yang terisolasi, kemudian ada nama Sofyan Arief Fesa, seorang mounataineer jebolan Mahitala Unpar, seorang seven summiter pertama Indonesia, yang juga konsen dalam dunia pendakian gunung, dan membentuk sebuah agensi ekspedisi puncak –puncak dunia (seven summit khususnya), mungkin juga ada nama Williem Tasiam, seorang hiker yang beberapa kali memecahkan rekor dirinya sendiri dengan mendaki gunung-gunung pulau Jawa, Bali, Sumbawa, Sumatra secara estafet dalam kurun waktu yang ditetapkan.

                Kemudian masih banyak nama-nama lain lagi yang belum bisa kita tulis satu persatu, berkenaan dengan hal lain, penetapan nominator dan pemenang juga memiliki pekerjaan rumahnya sendiri, yaitu kepopuleran di media tidak dapat dijadikan sebagai acuan dasar seleksi . Penilaian dan penetapan nominator tidak dapat didasarkan saja pada kepopuleran sang nominator di media, tetapi harus juga melihat secara seksama mengenai kriteria-kriteria seperti yang telah disebutkan sebelumnya.

                Akhirnya saya sungguh berharap ide tentang award ini mendapat sambutan yang baik khususnya dari kalangan sesama pegiat dan pemerhati dunia petualangan dan penjelajahan di Indonesia. Prosesnya kedepan, baik berupa mekanisme lanjutan, kriteria lengkap, hingga kepada aneka macam metode penilaian dan konsepsi, dapat kita lanjutkan melalui diskusi dan dialog interaktif yang berkesinambungan.

                Kita adalah generasi Indonesia, kita tidak boleh merasa puas hanya dengan menjadi seorang follower semata, kita harus terpanggil menjadi generasi yang mampu mempersembahkan yang terbaik untuk tanah air kita, apapun bidangnya. 

Dan jika kita memilih bidang sebagai petualang atau penjelajahan, maka kitapun harus memberikan yang terbaik untuk tanah tumpah darah kita ini, semoga ide award untuk hal tersebut, mampu menjadi salah satu pelecut bagi semangat kita semua.



Salam







               




No comments:

Post a Comment

Tulisan Terbaru

PEMUNCAKAN DAN TRAGEDI DI GUNUNG PALING SULIT DI DUNIA

Gunung K2 yang merupakan gunung tertinggi ke-2 di dunia dan merupakan satu-satunya gunung 8.000 meter yang belum tersentuh puncaknya pa...