Wednesday, 26 July 2017

HANTU DARI PUNCAK LAWU




“… Mas njenengan beneran ketemu sama orang yang rambutnya kribo dipuncak kemarin…?” Suara mas Agus terdengar dari ujung telepon, menggugah saya yang masih terkantuk kantuk.

“… Beneran mas Agus, ada apa mas ya..?” suara masih serak saya balik bertanya ke mas Agus.

“… Lho njenengan nggak lihat berita to, orang itu hilang dan sekarang proses pencarian oleh tim SAR…”

Baru saya kaget setelah mendengar kalimat mas Agus selanjutnya, beliau, mas Agus, adalah salah satu volunteer gunung Lawu, iya juga tergabung dalam team SAR yang biasanya mengevakuasi para pendaki yang mengalami musibah di gunung yang terkenal dengan puncak Hargo Dumilah tersebut. Saya berkenalan dengan mas Agus, sekitar satu minggu yang lalu, ketika saya melakukan pendakian ke gunung Lawu, saya menitipkan sebagian barang bawaan saya di rumah sekaligus warung milik beliau, karena rumah mas Agus berada persis di samping sebelah kiri pintu gerbang pendakian gunung Lawu melalui jalur Cemoro Sewu.

Sungguh bukan pilihan yang bijaksana, mendaki gunung yang indah kebanggaan kota Tawangmangu dan warga daerah Magetan ini pada bulan Januari, ketika hujan dan kabut turun nyaris setiap hari. Pun saat saya melakukan hal tersebut, sepanjang jalan hujan gerimis dan kabut yang memutih tak pernah sirna. Hingga pun saat ini, saya tidak tahu dimanakah spot spot spektakuler pada banyak foto super menakjubkan yang banyak beredar di internet tentang gunung Lawu, karena selama saya berada digunung tersebut, dari mulai naik hingga saya turun kembali, saya tidak mendapatkan banyak hal kecuali perjalanan yang memutih dan basah dikelilingi oleh kabut dan rintik hujan.

Ada rasa janggal saat itu, ketika saya membuka mata dari dalam bungkusan kantong tidur dibawah atap rumah warung Mbok Yem di puncak Hargo Dalem, lapat lapat saya mendengar suara biduan bernyanyi lagu dangdut, kemudian iklan shampoo, kemudian iklan odol, dan acara khas tv lainnya. Aneh saja rasanya ditempat setinggi dan sejauh ini, tayangan layar kaca bisa terdengar.

Saya menemukan dua orang sedang bercengkrama di depan sebuah pesawat tv sambil terbungkus sarung dan dua gelas kopi hitam didepan mereka. Sedang menikmati acara dangdutan dari sebuah program tv yang ternyata memang ditenagai oleh mesin genset yang terdengar tidak jauh dari rumah Mbok Yem. Saya tidak terlalu memperdulikan mereka, yang pastinya salah satu dari dua orang terbungkus sarung itu berambut kribo, itu yang saya ingat.

Setelah mengisi perut dengan gorengan dingin dan mie goreng buatan Mbok Yem, saya kembali masuk sleeping bag. Si rambut kribo dan rekannya masih asyik menonton tv.

Baru kemudian sekitar jam 03: 40 dini hari saya terbangun lagi, dan suasana sudah sepi, tidak ada suara tv, rambut kribo dan rekannya juga sudah tidak ada lagi, saya tidak tahu mereka kemana.

Tidak ada yang aneh sampai mas Agus volunteer gunung Lawu itu menelpon saya dan mengkonfirmasi hilangnya pendaki gunung dengan ciri rambut kribo di gunung tersebut. Saya hanya bercerita apa adanya tentang yang saya temukan. Sedikit dramatis adalah saya berjumpa orang berambut kribo itu pada malam Senin, sedangkan pendaki kribo yang dikabarkan hilang itu, telah mendaki sejak hari Rabu dan jadwalnya sudah kembali turun pada hari Sabtu. Dan ketika hingga hari minggu ia belum juga turun gunung, asumsi bahwa ia mengalami musibah itu pun segera muncul, dan kabarnya memang hingga saat Mas Agus menghubungi saya, si pendaki kribo itu belum juga ditemukan.

Saya tidak tahu, apakah yang saya temui di warung mbok Yem itu adalah si pendaki kribo yang hilang ataukah orang lain, saya tidak dapat memastikannya. 

Namun belakangan yang membuat saya lega adalah, ketika saya mendengar kabar kalau mbok Yem juga memiliki anak laki laki dewasa, yang konon juga memiliki rambut yang cukup lebat dan keriting ekstrem.

Dan saya hanya ingin menduga jika yang saya temui adalah anak Mbok Yem, bukan “hantu” pendaki kribo yang hilang itu, melainkan anak Mbok Yem sendiri.


RESPECT

Gunung memang sebuah tempat eksotis yang saat ini menjelma menjadi destinasi utama tujuan petualangan anak-anak muda, banyak spot-spot indah dan luar biasa fantastis dapat kita temui dalam perjalanan mendaki gunung. Akan tetapi meskipun demikian, kisah-kisah seram dan mengandung unsur supranatural banyak pula ditemui dalam setiap perjalanan mendaki gunung, sebagian pendaki menganggap serius hal ini, sebagian yang lain malah tidak terlalu mengacuhkannya.

Saya secara pribadi lumayan sering ditanya juga mengenai hal ini, apakah saya pernah bertemu hantu atau tidak saat mendaki gunung, apakah saya pernah menjumpai kejadian aneh atau tidak saat perjalanan menggapai puncak sebuah gunung. 

Dan jawaban yang saya berikan selalu sama ;

“… Allhamdulillah tidak pernah, semoga Allah SWT menjaga saya dari hal-hal seperti itu…”

Saya memang pernah beberapa kali tersasar dan salah jalan saat mendaki gunung di Sumatera, di Kalimantan, dan juga di gunung Merapi di Jawa Tengah ini, namun menemukan sebuah kejadian yang dapat saya simpulkan sebagai kejadian aneh, dan ada unsur ‘makhluk halusnya’, Allhamdulillah belum pernah saya alami, dan sekali lagi, semoga Allah menjaga saya dari hal demikian.

Saya mengambil sikap tengah-tengah untuk menjawab fenomena semacam ini dalam ruang lingkup hiking dan mendaki gunung di Indonesia. Kita tinggal di Indonesia yang penuh dengan adat budaya kental yang beragam, memiliki masyarakat yang memiliki akar sejarah pada kepercayaan animisme dan dinamisme, tak bisa kita hindari, pengaruh pemikiran dan kepercayaan yang telah berakar kuat ini sangat erat kaitannya dengan fenomena-fenomena yang disebut sebagai keikut sertaan makhluk halus dalam berbagai aktifitas kehidupan masyarakat.

Meskipun demikian, sebagai seorang muslim memang sudah sepatutnya kita untuk memiliki sikap yang bijaksana dalam melihat hal semacam ini. eksistensi dan hakikat keberadaan makhluk alam lain yang ada disekitar kita tidak dapat kita nafikan, selain ini juga merupakan sebuah landasan dasar rukun iman seorang muslim, ada banyak bagian dalam hidup yang tidak dapat dijelaskan hanya dengan mengandalkan alasan ilmiah dan logika semata, yang seyogyanya fenomena tersebut dapat menjadi acuan dalam berpikir bahwa manusia dan mahkluk hidup kasat mata lainnya, bukanlah jenis satu-satunya hamba Tuhan yang bersemayam dalam mayapada ini.

Oleh karena itu, sikap utama yang harus kita kedepankan dalam melihat hal semacam ini adalah respek, itu menurut pemikiran saya. Respek dalam artian kita menghormati mereka (makhluk dari dimensi tak kasat mata dan kegaiban ini) sebagai sesama makhluk Allah SWT, Tuhan Yang Maha Khalik, Tuhan Yang Maha Menciptakan aneka purwarupa kehidupan semesta, baik yang dapat kita mengerti secara logika, maupun yang hanya dapat kita fahami dari sudut pandang iman dan keyakinan semata.

Pada implementasinya, sikap respek ini menjadi sebuah prinsip yang dapat kita pegang erat, dimanapun bumi kita pijak, dimanapun langit kita junjung, tak terkecuali digunung-gunung tempat kita mendaki. Sikap respek akan menjaga kita dari perasaan takut yang berlebihan kepada ‘mereka’, dan disisi lain juga tidak menjadikan kita takabbur dengan seolah meniadakan kehadiran mereka disekitar kita, utamanya di gunung-gunung dan lembah-lembah, medan petualangan yang sering kita datangi..


Salam...

No comments:

Post a comment

Tulisan Terbaru

PEMUNCAKAN DAN TRAGEDI DI GUNUNG PALING SULIT DI DUNIA

Gunung K2 yang merupakan gunung tertinggi ke-2 di dunia dan merupakan satu-satunya gunung 8.000 meter yang belum tersentuh puncaknya pa...