Monday, 12 June 2017

KONSEP MMA TRAILS, PILIHAN BARU PARA PENDAKI GUNUNG DI JANTUNG PULAU JAWA



             


                Bagi beberapa orang penggemar olahraga mendaki gunung dan hiking, kondisi dan situasi puncak-puncak gunung di Indonesia saat ini bisa jadi sangat membosankan sekaligus mengecewakan, Pengunjung membludak, jalur –jalur pendakian penuh sesak, sampah berserak, ekosistem dan citarasa pendakian yang penuh khusyu’ dan hening, terasa seolah telah begitu rusak.

                Ditengah segala dampak trend mendaki gunung yang tak terbendung seperti itu, tentu dibutuhkan sebuah solusi yang paling tidak dapat mengobati kekecewaan para pendaki konservatif yang sekarang seolah terpinggirkan ini, dan solusi tersebut haruslah memenuhi persyaratan untuk dijadikan sebagai obat, tidak hanya sebuah solusi yang pada hakikatnya hanya sebagai sebuah pelarian semata.

                Ada banyak orang yang menyodorkan solusi, diantaranya adalah dengan menyarankan mendaki gunung-gunung di luar Indonesia, dan Himalaya adalah yang paling populer. Namun tentu saja tidak bisa sesederhana itu, biaya dan akomodasi mengunjungi pegunungan Nepal tidaklah bisa dibilang murah, tidak setiap orang bisa melakukannya, bahkan jika mau jujur, hanya sedikit sekali pendaki Nusantara yang memiliki kesempatan untuk kesana, dan saya berasumsi, biaya adalah hal paling dasar yang menjadi kendalanya.

                Jangankan Himalaya yang populer itu, untuk bisa ke puncak Cartenz di Papua saja membutuhkan biaya yang tidak sedikit, dan itu cukup menjadi aral besar bagi banyak orang yang secara skill dan kemampuan sebenarnya capable untuk dapat memuncakinya.

                Ada juga yang menyodorkan solusi yang unik untuk problem ini, yaitu dengan beralih bidang hobi. Misalnya dari mendaki gunung diubah menjadi mancing, bermain airsoft gun, berburu, sepeda gunung, dan lain-lain. Saran semacam ini seumpama meminta Valentino Rossi, pembalap moto gp yang terkenal itu, untuk beralih saja menjadi pembalap sepeda onthel, memang pada hakikatnya sama-sama balapan, sama sama menunggangi sepeda beroda dua, tapi kan tetap memiliki perbedaan yang signifikan untuk dapat diterima.

                Jadi intinya solusi yang ditawarkan itu paling tidak haruslah memenuhi beberapa syarat, diantaranya  murah dan terjangkau, baik dari sisi jarak maupun biaya, tidak memakan waktu yang terlalu lama, tetap memiliki value menantang dan adventure, serta tetap berada dalam koridor olahraga hiking dan pendakian gunung.

               
Konsep MMA Trails.

                Sebagai jawaban dari kebutuhan solusi tersebut, dilatar belakangi juga dengan kegemaran saya mendaki gunung, dan juga sedikit rasa kecewa dengan perkembangan dunia naik gunung di nusatara hari ini, khususnya areal pulau Jawa, maka saya menyodorkan sebuah konsep MMA Trails, konsep yang saya harapkan dapat menjadi obat dan pilihan baru bagi insan pegiat olahraga mendaki gunung dan hiking, khususnya diareal Jawa Tengah.

                Konsep MMA Trails ini sebenarnya terinspirasi juga dari beberapa film bercerita long distance hiking yang pernah saya tonton, sebutlah diantaranya Track, Wild, The Way, The Way Back, dan lain-lain. Film-film tersebut memberi kesan yang sangat baik untuk saya, salah satunya adalah bahwa pada banyak realitanya sebuah perjalanan trail yang panjang, selain mengantarkan orang pada tempat tujuan lain di muka bumi ini, juga banyak menjadi moment yang tepat untuk mengantarkan orang menjadi pribadi yang lebih baik, hal ini oleh para hiker di PCT (Pacific Crest Trail) sering disebut sebagai ungkapan “This trail can change people..”.

                Akan tetapi, untuk dapat mengaplikasikan long distance trail di Indonesia, tentu bukan perkara yang mudah, menemukan rute dan medannya sendiri adalah tantangan awal yang mungkin bisa saja yang paling sulit. Beberapa rute dapat saja direkomendasikan sebagai jalur trail karena memiliki nilai historis yang familiar, seperti rute gerilya Jendral besar Sudirman misalnya, namun dari sisi adventure, landscape, explore, bisa jadi juga, rute tersebut kurang mendukung.

                Disamping menemukan rute hiking yang membutuhkan waktu berbulan bulan seperti PCT, AT, atau El Camino di Spanyol, bukanlah perkara gampang di Indonesia. Rute dengan estimasi waktu tempuh lama itu juga tampaknya kurang tepat untuk menjadi solusi dari permasalahan yang telah kita sebutkan di awal.

        Dan MMA Trails semoga bisa menjadi solusinya..

                MMA Trails adalah sebuah singkatan dari Merapi Merbabu Andong Hiking Trails, meskipun pada pelaksanaannya rute ini memasukkan juga gunung Telomoyo dan danau Rawapening dalam rute, namun nama MMA Trails rasanya lebih gampang untuk diingat.

                MMA Trails ini menempuh jarak hampir 100km (hanya perkiraan belum diukur secara pasti), terbentang melewati lima kabupaten di Jawa Tengah, yaitu Klaten (jika start dari jalur Sapuangin Merapi), Boyolali, Magelang, Salatiga, dan Ambarawa, mendaki empat gunung yaitu Merapi, Merbabu, Andong, dan Telomoyo, semua dilakukan single tour alias sekali jalan.

                Dengan kecepatan yang stabil dan sedang seorang hiker dapat menyelesaikan keseluruhan trail ini dalam waktu lima sampai satu enam hari, sementara jika hiker memiliki fisik yang prima dan dilakukan ngebut, maka mungkin trail ini dapat kelar hanya dalam tiga atau empat hari saja.

Jadi MMA Trails adalah perjalanan pendakian lintas yang mengambil rute gunung Merapi, Merbabu, Andong, Telomoyo, dan danau Rawapening di Jawa Tengah. Sebelum dibukanya jalur Sapu Angin di Klaten, titik start pendakian lintas MMA Trails ini saya letakkan di Pos Pengamatan Babadan, kecamatan Dukun, Magelang. Akan tetapi dengan dibukanya rute Sapu Angin gunung Merapi di Klaten, bukan menjadi masalah jika ada yang ingin menjadikannya pula sebagai titik start lintasan.


Hari pertama MMA Trails di jalur kuno Babadan Merapi (Foto by : Ryan)


Daya Tarik MMA Trails

Semua persyaratan yang saya sebutkan untuk solusi di awal –awal tadi, Insya Allah dapat dipenuhi semuanya oleh konsep MMA Trails yang saya tawarkan ini, untuk lebih jelasnya berikut kita rincikan satu demi satu ;

Biaya dan lokasi yang murah dan terjangkau

Gunung Merapi, Merbabu, Andong, adalah gunung yang sangat ramai dan populer, Telomoyo meskipun tidak seramai ketiga gunung tersebut, tetap menjadi destinasi yang ramai didatangi para hiker juga, walaupun akses mobil sudah bisa hingga ke puncaknya.

Rute trails yang dipilih ini berada tepat dijantung pulau Jawa, mudah diakses darimana saja, dan juga tentu saja murah dari sisi biaya. Hiker yang memiliki kendaraan pribadi bisa langsung menuju kaki gunung Merapi baik dari sisi Babadan maupun Sapu Angin, jika ingin lebih leluasa dapat menggunakan angkutan umum, dan alternatif itu pun tersedia, utamanya ojek motor yang bisa diminta untuk mengantar hingga ke pos pendakian.

Tidak memerlukan waktu lama

El Camino, PCT, dan AT adalah rute rute hiking trail populer dunia yang memerlukan waktu tempuh hingga berbulan-bulan untuk menyelesaikannya, dan hal itu, kita belum dapat mengaplikasikannya disini.

MMA Trails ini hanya membutuhkan maksimal waktu satu minggu untuk diselesaikan, dari titik awal hingga finish, dan itu tentu bukan waktu yang terlalu lama.

Memiliki value adventure dan tantangan yang juga istimewa

Memuncaki gunung Merapi, Merbabu, Andong, dan Telomoyo dan berkunjung ke Rawa Pening, tentu adalah suatu hal yang biasa, namun jika hal ini dilakukan secara sekaligus dalam rentetan waktu dan teknis tertentu, sudah pasti akan memiliki kesan yang istimewa.

Apalagi salah satu “aturan” dasar yang ditetapkan dalam konsep MMA Trails ini adalah harus dilakukan pure dengan hiking alias berjalan kaki, jadi tidak dibenarkan jika disambung dengan  naik kendaraan meskipun itu dari basecamp ke basecamp (seperti base camp New Selo Merapi – menuju base camp Selo Merbabu). Namun tentu saja aturan dasar ini bukanlah sebuah hal yang mutlak, pendaki dan hiker yang mungkin saja mengalami kendala dalam perjalanannya, atau memiliki waktu yang lebih sempit, tentu boleh saja jika harus menggunakan kendaraan.

Selain itu, tantangan ini akan menjadi lebih menarik jika mengambil titik start dari kampung Babadan, rute pendakian Merapi via Babadan yang memiki nilai historis tinggi dengan medan tempuh yang tidak mudah akan menjadi daya tarik tersendiri bagi para petualang dan pesintas di MMA Trails.


Uji Coba MMA Trails

Dua minggu sebelum masuk bulan Ramadhan kemarin, saya sempat mencoba konsep MMA Trails yang saya tulis ini, dan kesannya, luar biasa, sangat menyenangkan..

                Bersama Mas Ryan, salah satu hiker muda yang cukup antuasias, saya mencoba jalur ini selama empat hari tiga malam, dimulai dari Pos Pengamatan gunung Merapi Babadan pada hari Selasa pagi, dan finish pada Jum’at sore di lereng gunung Andong, tempatnya kampung Gogik. Pada uji coba yang pertama ini memang target kami hanya finish di Andong, belum melanjutkan hingga ke Telomoyo dan danau Rawa Pening.

                Dan kesan yang didapatkan sungguh diluar prediksi, MMA Trails ternyata sungguh-sungguh sebuah tantangan yang tidak cukup mudah juga untuk bisa ditaklukkan dengan gampang.

                Di lintasan Babadan menjelang Pasar Bubrah, saya dan Mas Ryan bahkan sempat kehilangan rute tempuh yang telah saya tandai sekitar tujuh bulan sebelumnya, saat memetakan kembali jalur pendakian kuno Babadan. Untuk bisa keluar dan melanjutkan perjalanan hingga Pasar Bubrah, saya terpaksa membuka jalur baru, menebas semak belukar yang lebat hampir sepanjang 100 meter.

                Perjalanan hiking dari base camp New Selo Merapi menuju base camp Selo Merbabu juga tidak bisa dibilang enteng, jalanan yang menanjak tanpa banyak pohon pelindung, disengat oleh sinar matahari siang yang cukup terik, membuat lintasan yang tampaknya remeh ini juga membutuhkan banyak perjuangan untuk melewatinya.

                Menuruni puncak Merbabu melalui jalur Wekas juga membutuhkan usaha yang serius, ketika rasa lelah sudah mulai membuat penat, sengatan matahari siang yang menyengat, kesalahan kecil yang kita lakukan diareal Jembatan Setan dan sekitarnya dapat saja mengantarkan kita pada kecelakaan yang lebih buruk. 

Hari ketiga uji coba MMA Trails, menuruni puncak gunung Merbabu via jalur Wekas (Foto by :Ryan)

                Perjalanan dari base camp Wekas gunung Merbabu menuju base camp Sawit gunung Andong justru memberi kesan yang sebaliknya, perjalanan yang sebelumnya saya kira akan sangat melelahkan dan membosankan, ternyata sangat menyenangkan. Berjalan dipagi hari yang sejuk, melewati perkebunan penduduk, menyaksikan matahari pagi yang menanjak perlahan, sangat indah untuk dinikmati, belum lagi jika kita telah mencapai etape jalan yang mempertontonkan landscape sangat indah, gugusan gunung Sumbing, Sindoro, Ungaran berdiri diseberang sana, sementara Andong, Telomoyo, dan kilauan danau Rawa Pening  yang menjadi lintasan trails dan  tujuan perjalanan, juga tampak dengan sangat jelas didepan mata.

                Setelah selesai menunaikan sholat Jum’at di masjid kampung Sawit yang teduh, saya dan Mas Ryan meneruskan trail, berjalan mendaki, menyibak kabut gunung Andong, kurang dari dua jam kemudian di puncak, dan sekitar jam empat sore kami sudah tiba di kampung Gogik, yang sekaligus mengakhiri uji coba pertama MMA Trail ini.

                Secara keseluruhan rute MMA Trail sangat menjanjikan untuk dijadikan pilihan lain ditengah hiruk pikuk kegiatan mendaki gunung saat ini. ke depan, jika ide untuk membuat semacam stempel di setiap base camp atau pos yang dilewati, juga memberi semacam piagam bagi para hiker yang bisa menyelesaikan trail hingga finish, benar benar bisa direalisasikan, maka saya semakin optimis bahwa MMA Trails ini akan menjadi sebuah opsi hiking dan olahraga mendaki yang sangat menarik di jantung pulau Jawa.



Salam.





               

No comments:

Post a Comment

Tulisan Terbaru

PEMUNCAKAN DAN TRAGEDI DI GUNUNG PALING SULIT DI DUNIA

Gunung K2 yang merupakan gunung tertinggi ke-2 di dunia dan merupakan satu-satunya gunung 8.000 meter yang belum tersentuh puncaknya pa...