Friday, 5 May 2017

KEMATIAN UELI STECK DAN TAHTA KOSONG RAJA HIMALAYA



               


 “ Kematian hanyalah masalah waktu, tempat, dan cara. Semua orang akan mati kawan, kematian bukanlah hal yang penting, namun apa yang kita lakukan sebelum kita mati, itulah yang terpenting…”

                Kalimat Kareem Nasheer (Vertical Limit) dalam misi penyelamatan para pendaki gunung K2 kembali terngiang, ketika beberapa hari yang lalu saya melihat postingan Melisha Arnot di timeline istagram yang memuat posenya bersama Ueli Steck, dengan keterangan caption dibawahnya, RIP my friend.

                Terkejut dan kaget juga mendengarnya, saya pun mencari berita ini dibeberapa tempat lain, utamanya ditimeline dedengkot-dedengkot outdoor dan adventure dunia, semacam Conrad Anker, Simone Moro, Jimmy Chin, Alex Honnold, atau yang lebih muda seperti Sasha Digiulian dan yang lainnya, semua memposting gambar senada, Ueli Steck dan ucapan belasungkawa untuknya.

                Belum puas dengan itu, saya stalking akun resmi Mountain Hardwear, The North Face, Rock and Ice, The Himalayan Time, Climbing Magazine, dan beberapa media lain, barulah rasa tak percaya itu mulai terkalahkan oleh kenyataan yang terjadi, He was really gone, Ueli Steck benar –benar telah meninggal.

                Belum ada berita yang diturunkan secara resmi dari media manapun, yang menyebutkan sebab musabab kematian Steck, hanya tergelincir dan jatuh saat mencoba aklimatisasi untuk projek Everest – Lhotse yang sedang ia lakukan, hanya itu sebagian besar yang ditulis oleh media – media tersebut. 

                Satu hari setelahnya, atau sekitar tanggal 01 Mei 2017, sebuah pernyataan dirilis oleh sepertinya pihak keluarga Ueli Steck, mengkonfirmasi bahwa benar Steck telah meninggal di Himalaya, dan meminta semua orang, media pada khususnya untuk tidak membuat spekulasi –spekulasi terlebih dahulu mengenai kematiannya, karena hal itu tentu akan lebih menyakiti perasaan keluarga dan kerabat yang ditinggalkan.

***
                Informasi lebih jauh menyebutkan, Everest – Lhotse Project yang dilakukan Ueli Steck dan rekannya, Tenji Sherpa, adalah sebuah project pendakian Everest dan Lhotse yang bisa dibilang hampir mustahil untuk dilakukan, mengambil sebuah rute sulit yang tidak pernah dilakukan lagi sejak tahun 1963, rute ini direncanakan melalui Hornbein Colour – puncak Everest – turun jalur normal – lanjut ke puncak Lhotse – dan turun lurus ke Camp 2, dan semuanya dilakukan tanpa sumplemental oksigen.

                Saat Steck ditanya apakah project yang ia ambil itu mungkin untuk dilakukan, ia menjawab ;

                “ .. Saya kira mungkin saja, tapi kan kita tidak tahu, bisa atau tidak, dan karena itulah hal ini disebut tantangan…”

                Dan pada akhirnya tantangan yang ia ambil itu pulalah, yang menjadi penutup perjalanan hidup dan petualangan besar seorang Ueli Steck.


Raja Dari Alpen Sampai Himalaya

                Umum diketahui oleh para penggemar olahraga mendaki gunung, baik itu yang professional, amatir, kaliber global, maupun lokal, bahwa disepakati atau tidak, diakui ataupun tidak, sosok Ueli Steck menempati tempat tersendiri dalam kancah mountaineering dan alpinis dunia. 

                Ia adalah seorang atlet gunung professional dengan kelasnya sendiri, dan tidak ada yang pernah ada ditempat itu sebelumnya, bahkan mungkin saja setelah kematiannya ini. 

                Pada babak-babak awal dunia mountaineering, hampir semua pendaki ternama, menjadi terkenal karena kemampuannya dalam pioneering, karena kesuksesan mereka dalam menjadi yang pertama mencapai puncak-puncak tertinggi dunia. Akan tetapi, ketika masa ini telah lewat, hampir semua puncak tinggi telah dijejak oleh tapak kaki manusia, maka kompetisi first ascent mulai tidak se-heroik masa –masa sebelumnya, sudah tidak begitu banyak puncak populer tersisa untuk diperjuangkan dan menjadi yang pertama diatasnya.

                Kemudian saat Ueli Steck muncul, ia menemukan sendiri kelasnya, sebagai yang tercepat, yang terkuat, yang full power, push to human limitation, melewati medan-medan sulit secepat kilat. Hingga atas kemampuannya ini, dunia mountaineering sepakat menyematkan julukan “ The Swiss Machine “ untuk dirinya.

                The Swiss Machine membukukan begitu banyak prestasi dan rekor baru, dari pegunungan Alpen hingga ke Himalaya, ia menjadi rajanya. Tidak ada dan belum pernah ada sebelumnya, pendaki gunung dengan pencapaian seperti apa yang dilakukan oleh Steck, tiga kali meraih Piolet D’Or sebagai apresiasi tertinggi dalam dunia mountaineering, menjadi Adventures Of The Year versi National Geographic, adalah beberapa pembuktian bahwa totalitas Steck sebagai pendaki gunung professional benar-benar sebuah pencapaian yang spektakuler.

                Eiger North Face mungkin adalah salah satu tebing yang paling sering didatangi Steck dalam mencatat rekor- rekornya. Percobaan pertamanya digunung yang telah merenggut hampir seratus nyawa sepanjang sejarah usaha mencapai puncaknya ini, membukukan durasi 9 jam, sudah cukup lumayan mengingat waktu tempuh normal gunung ini adalah empat hari pendakian.

                Steck masih jauh dari puas, ia melakukannya lagi, dan kali ini mencatat rekor 2 jam 47 menit, sebuah rekor yang mengejutkan dunia alpinis, sekaligus sebuah pancang yang mengibarkan namanya sebagai pendaki papan atas dunia. Dhani Arnold, rekan senegara Steck pernah memecahkan rekor Steck ini dengan mencatatkan waktu 2 jam 45 menit, namun itu tak berlangsung lama, Ueli Steck kembali lagi ke Eiger tahun berikutnya, dan membuat dirinya kembali menjadi raja dengan waktu pendakian 2 jam 41 menit, dan itu rekor yang bertahan hingga saat ini.

                Kemudian tak tercatat lagi banyaknya rekor-rekor menakjubkan yang dilakukan Steck, namun beberapa yang populer antara lain adalah mendaki trilogy Eiger, Jungfrau, dan Matterhorn sekaligus dalam waktu 25 jam, Solo ascent di Annapurna via South Face dengan waktu 28 jam, mendaki 82 puncak pegunungan Alpen dalam waktu 62 hari, dan aksi yang terakhir, adalah yang sekaligus juga merenggut nyawanya, Everest – Lhotse Project.

Ueli Steck dan map Everest - Lhotse Project yang menjadi petualangan terakhirnya


Tahta Kosong

                Dua tahun belakangan memang cukup muram untuk dunia outdoor dan petualangan dunia, awal 2016 silam, Dick Bass si pelopor seven summit menutup usianya, kemudian menyusul Dean Potter, tokoh rock climbing modern paling menginspirasi, yang juga tewas saat base jumping di Yosemite, kemudian di penghujung tahun, petualang kawakan sekaligus founder brand outdoor paling prestisius, The North Face, Douglas Tomskin juga menemui kematiannya saat berkayak di sebuah danau di region Patagonia. 

                Dan menjelang pertengahan tahun ini, Ueli Steck, seorang real adventurer yang tidak akan mudah menemukan gantinya, juga berakhir di tebing maut Himalaya.

                Sang juara datang dan pergi, akan tetapi seorang legenda, akan tetap abadi. 

                Kalimat itu mungkin sangat tepat jika dialamatkan untuk seorang Ueli Steck, meskipun ia telah menjuarai 3 kali Piolet D’Or dengan segala pencapaianya yang hampir selalu dilakukan solo, namun sosok Steck tidak hanya seorang juara, ia lebih dari sekedar juara, ia adalah seorang legenda puncak-puncak dunia.

                Kini setelah kepergian Steck, nyaris dapat dipastikan bahwa tempat yang ia tinggalkan akan kosong, bahkan banyak kalangan mountaineer dan alpinis yang mengatakan bahwa tempat yang ditinggalkan Steck selamanya akan kosong, tak ada yang akan bisa menggantikannya. Para pendaki dengan prestasi seven summiter sudah ratusan banyaknya, para pendaki dengan prestasi Fourteen Eight Thousanders juga sudah hampir dua puluhan orang se-seantero dunia, namun para pendaki seperti Ueli Steck hanya ada satu, dan dialah satu-satunya.

Memang menjumpai seorang pendaki dengan kemampuan, kekuatan, enthusiasm, dan passion sehebat dan sedahsyat Steck, bukanlah sebuah perkara yang mudah. Banyak yang kuat, banyak yang cepat, banyak yang berani menetapkan target-target yang besar, namun apakah mereka sekuat Steck, secepat si Swiss Machine, dan seberani Steck dalam push into limit menggapai target-target yang sebelumnya hanya terlihat sebagai sebuah khayalan belaka.

Dunia berduka dengan kepergian sang legenda, secara pribadi saya juga sangat mengidolakan sosok Steck, ia seorang pendaki penuh inspiratif, sosok pendaki yang selalu muncul dengan ide-ide dan gagasan-gagasan besar yang out of the box. Menjadi follower dengan berpikir kaku sebagai pendaki repeater rute bukanlah gaya Steck, ia selalu muncul dengan jalur-jalur baru yang spektakuler dan mengagumkan, atau jika ia melakukan repeat rute, ia melakukannya dengan waktu dan gaya yang selalu memecah rekor.

Sekarang, sang legenda telah pergi, ia telah tiada, namun bayang-bayang wajahnya akan selalu abadi, akan senatiasa menjadi jelaga kabut indah yang terus menyelimuti puncak- puncak Alpen dan Himalaya. Dan ide serta gagagan inpiratifnya juga akan terus mengayun dilangkah orang-orang yang mengaguminya, terus berjalan menyusuri medan medan petualangan diseantero dunia.

Selamat jalan Sang Legenda…

               





















No comments:

Post a comment

Tulisan Terbaru

PEMUNCAKAN DAN TRAGEDI DI GUNUNG PALING SULIT DI DUNIA

Gunung K2 yang merupakan gunung tertinggi ke-2 di dunia dan merupakan satu-satunya gunung 8.000 meter yang belum tersentuh puncaknya pa...