Tuesday, 4 April 2017

PARA PENDAKI SOSIAL MEDIA, BANYAK GAYA, MISKIN PRESTASI, BENARKAH ???




Sudah hampir dua bulan ini saya libur mendaki gunung.

Terakhir saya sempat menziarahi jalur misteri Babadan Merapi, bulan Desember 2016 silam, dan hingga bulan Maret awal saat ini, saya belum ada lagi mendekati kaki gunung manapun, utamanya gunung Merapi Merbabu, yang notabene merupakan “halaman rumah” untuk saya sekarang ini.

Jika tidak salah, belakangan ini ada sekitar tiga kali saya pernah mengepak ransel buat mendaki lagi, namun begitu selesai sholat subuh keesokan harinya, tiba-tiba keinginan mendaki itu sirna, tersapu rasa enggan melawan kekhawatiran yang tidak jelas. 

Pun pula di Minggu pagi yang cerah di kota Muntilan ini, kemarin saya telah mempersiapkan beberapa perlengkapan untuk mendaki jalur Merapi via Klatakan, sebuah jalur tebing murni yang belum tersentuh kaki para pendaki dari sisi selatan, namun seperti sebelumnya, tiba-tiba pagi ini saya merasa enggan saja, raga seolah menolak keinginan menyisir hutan pinus terbakar di lereng Babadan sebelum masuk pintu rute Klatakan.

Apa yang aneh..?, apakah raga yang mungkin saja telah memasuki masa separuh usia, atau tekad saja yang belum sungguh-sungguh bulat untuk melakukannya, atau mungkin alasan cuaca dan hujan deras yang sering mengguyur, yang menjadikan mengapa semangat untuk berjalan ini seolah dengan mudah dapat ditekan begitu saja…?

Sebagai seseorang yang terbiasa menekan diri hingga titik terjauh yang bisa digapai, saya berkesimpulan apa yang terjadi ini sebagai sebuah gambaran masih kurangnya tekad dan semangat untuk melakukan sesuatu yang sebelumnya begitu saya inginkan, jadi bukan karena cuaca, bukan pula karena usia, namun tekad yang belum sepenuhnya membaja-lah yang menjadi penyebab sesungguhnya. Dan hal ini jauh lebih mengkhawatirkan daripada badai gunung yang mengamuk, juga lebih berbahaya dari gigir jurang yang meluruhkan batu batu, kehilangan tekad juga semangat, adalah sesuatu yang lebih buruk daripada kedua hal itu.

Kadang saya jadi merenung juga dengan kondisi seperti ini, bertanya kedalam diri, jangan-jangan saya juga telah masuk jauh kedalam perangkap pesakitan sosial media, ketika melakukan sesuatu bisa menjadi tidak bermakna, jika tidak meng-upload dan memamerkannya disosial media.

Saya masih ingat beberapa tahun lalu, mungkin sekitar lima belasan tahun silam, saya menjelalahi rimba raya Bukit Barisan Sumatera sendirian, dengan perlengkapan dan logistik seadanya, bukan dengan gear-gear bermerek berharga lumayan menguras kantong, yang beberapa diantaranya Allhamdulillah dapat saya miliki saat ini. 

Tak ada rasa takut saat itu, tak ada ragu, just do it, seperti slogan merek Nike, saya melangkahkan kaki membelah hutan Bukit Barisan yang rapat, tidur dalam tenda ala kadarnya, ditengah ladang perburuan banyak babi hutan,  melakukan susuatu yang bagi saya sangat menyenangkan, namun bagi sebagian besar orang justru dianggap sebagai sebuah perbuatan bodoh. Menyaksikan mayapada pulau Sumatera, kampung halaman saya, dari tempat-tempat yang tinggi dan jarang terjamah, adalah sesuatu yang terasa sangat spektakuler, sangat mendamaikan, tidak perduli orang lain mau berkata apa.

Anehnya sekarang, segala sesuatu yang berhubungan dengan petualangan, baik itu mendaki gunung, jelajah hutan, dan lain sebagainya, tampaknya akan terasa hambar jika hal tersebut tidak dibagikan ke sosial media. Padahal dulu tidak ada sosial media, tidak ada yang namanya facebook, twitter, istagram, dimana kita bisa memamerkan foto paling keren yang kita punya. Hanya ada petualangan di alam liar dulunya, go in wild, and find the way.

Saya jadi takut juga, jangan-jangan saya juga sudah tertular virus pesakitan sosial media ini, khususnya yang berkenaan dengan kegiatan bertualang dan mendaki gunung, dua kegiatan yang telah menjadi  jalan yang sangat saya senangi sejak belasan tahun silam. Padahal  untuk saat ini semestinya saya dapat lebih leluasa menyalurkan hasrat saya mendaki gunung, saya tinggal di jantung pulau Jawa saat ini, belakang rumah saya ada Merapi dan Merbabu, diseberang jalan sana ada gunung Sumbing Sindoro, jika ditambah yang kecil-kecil, ada gunung Andong, Bukit Menoreh, Prau, dan yang lainnya. Semuanya menunggu untuk dijelajahi dan dicumbui dari sudut-sudut yang jarang bagi orang lain untuk menjamahnya.


Generasi Para Pioneer

                Belum lama ini, ada sebuah kabar cukup menyenangkan saya baca, bahwa ada salah satu sahabat di Jawa Timur sana, merilis sebuah rute pendakian gunung Argopuro via jalur Semeru, it’s something, kalau kata Syahrini, ini baru sesuatu. Ketika orang-orang hanya sibuk menjadi follower dengan menambah ramainya antrian gunung Semeru, Gede Pangrango, Merapi, Merbabu, dan Argopuro itu sendiri, sahabat dari kota Surabaya malah membukukan sebuah terobosan dengan merilis jalur yang lebih menantang.

                Pada dasarnya, memang agak sedikit miris sih, membiarkan diri dan team berjibaku dalam medan-medan berbahaya guna menemukan sebuah spot baru yang lebih memiliki nilai-nilai menantang dalam petualangan, namun kemudian karya tersebut dengan cepat dilupakan dan dipinggirkan. Akan tetapi, kurangnya apresiasi dari khalayak pendaki gunung, tidak semestinya menyulutkan semangat dan jiwa pioneer seorang penjelajah.

                Mungkin memang generasi para pionir telah lama berlalu, generasi ketika Norman Edwin memprakarsai dan memulai debut seven summit untuk Indonesia, generasi ketika pegunungan Leuser di Aceh dijelajahi hingga berminggu-minggu oleh Mapala dari Banda Aceh untuk menemukan rute ke puncaknya, atau generasi ketika orang-orang muda dengan ransel butut, celana gunung, dan rambut gondrongnya berjibaku dalam alar liar guna mencari dunia baru yang pantas untuk dijadikan taman surga bertualang.

                Mungkin saja era generasi tersebut telah berlalu…

                Namun semestinya ini juga tidak menjadikan kita sebagai generasi petualang yang hanya hobby copy paste saja, generasi petualang yang hanya mengikuti jejak aman, tanpa terinspirasi untuk menciptakan jejak – jejak sejarah yang baru. Meskipun dunia mendaki gunung hiruk pikuk oleh para pendaki, meskipun hutan menjadi gemuruh oleh sorak sorai para petualang, tetapi, jika generasi ini menjadi generasi yang hanya melakukan repeat rute saja, hanya menjadi sekumpulan penerus yang tidak berani mengambil resiko lebih jauh, tampaknya dunia bertualang kita terasa miskin dan sepi.

                Yang menjadi tampak kontras dan terasa miris juga adalah, ketika ribuan gambar, caption, kata-kata bijak, dan sederet puisi berbahasa langit yang dibingkai dalam suasana petualangan diupload ke sosial media setiap harinya, ketika itu pula prestasi prestasi penjelajahan, tonggak tonggak baru dalam dunia petualangan, sepi terkubur oleh gaya gaya selfish yang haus pujian dan pengakuan.

               
Naluri seorang perintis

                Usia saya sudah jauh dari kata belia, bahkan jika saya menyandarkan kepala saya diatas pangkuan isteri saya, maka beliau dengan mudah dapat menemukan lembar lembar uban yang telah menyerbak dikepala saya.

                “… Jika saya tidak melakukan ini, mungkin saya akan menyesal sepanjang hidup…” pernah saya mengucapkan kalimat tersebut kepada isteri saya, berkenaan dengan niat dan keinginan untuk memanjat scrambling tebing selatan gunung Merapi secara solo, isteri saya tak menjawab, hanya mengangguk saja, karena ia tahu, saya keras kepala, tak mudah melarang sesuatu yang saya inginkan, meskipun itu berbahaya.

Para petualang yang sesungguhnya jutru menemukan kedamaian di alam liar yang masih penuh misteri dan murni.

                Passion dalam bertualang kadang dapat menjadi sebuah langkah besar yang mesti diambil, dan akan meninggalkan penyesalan mendalam jika hanya diabaikan. Passion ini kadang menjadi ajang pembuktian diri, dan kadang pula menjadi sebuah batasan titik aman untuk meng-upgrade keberanian dan kemampuan seseorang. Menjadi sebuah pilihan pada akhirnya, apakah seseorang tersebut mengikuti passionnya, atau hanya akan menjadikan hal itu sebagai bunga diantara khayalannya semata.

                Kegagalan saat mencoba sesuatu yang diinginkan, jauh lebih baik daripada membiarkan keinginan tersebut hanya sebagai pelengkap mimpi. 

                Jadi, jika saat ini banyak para petualang sosial media yang memiliki naluri mengembara sungguh sungguh hebat seperti puisi langit yang biasa mereka tulis di dinding istagram atau facebooknya, semua itu akan menjadi hampa dan kurang bermakna, jika hanya memilih titik-titik gunung cuma sebagai spot untuk bergaya di depan kamera saja.

                Sekali-kali ikutilah naluri yang sesungguhnya, naluri seorang perintis, naluri sang petualang, naluri sang pengembara…


Salam

               
Note : Catatan ini sebagian besar ditulis sekitar dua bulan yang lalu.
               
               
               
               

               






15 comments:

  1. Ngena banget tulisannya Mas, suka cara penyampaiannya..
    Mudah2an banyak yg baca dan bisa merenungkan..

    ReplyDelete
  2. Merasa terwakili dengan tulisan ini, terimakasih banyak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih kembali Mas.

      Mohon maaf jika ada yang kurang berkenan.

      Delete
  3. sedikit kritik dan saran,
    Nggak nyambung bro antara tittle dan isi blognya... Bila memang ingin mengangkat tema sesuai tittle.. sebaiknya isinya juga diarahkan ke pembahasan yang sama..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oya terimakasih banyak Mas, sudah berkenan memberi saran juga kritik...

      Iseng doang Mas, tulisan lama.

      Mohon maaf jika kurang berkenan..

      Delete
  4. saya termasuk yg miskin dalam hal pendakian jgunung

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yang Pro biasanya memang sering merendah...

      Terimakasih sudah merespon Mas, mohon maaf jika kurang berkenan.

      Delete
  5. Saya kurang setuju soal membuka jalur mas. Membayangkan semakin banyak jalur pendakian dibuka dan dampaknya pada ekosistem sekitaran gunung.

    Saya lebih pro terhadap edukasi pendaki dan perbaikan jalur menjadi lebih pro lingkungan seperti misalnya di apalachian trail :)

    Btw, tulisan yg menggugah mas, nice sharing thx.

    contoh: https://en.wikipedia.org/wiki/Appalachian_Trail

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih atensi dan pendapatnya Mas Indra...

      iya juga Mas ya, jika berpikir lebih jauh, malah lebih besar berpotensi merusak lingkungan jika munculnya jalur jalur baru..

      Sekali lagi, terimakasih Mas Indra

      Delete
  6. Setuju dengan om kelana, btw sifat yang bagus mas untuk seorang petualang nice share.

    ReplyDelete
  7. Alhamdulilah bener-bener menyampaikan apa yg ada dipikiran saya saat ini karena masih duduk di bangku SMA. Beryukur bisa baca artikel di blog ini. Nambah ilmu dan wawaasan saya ..salut deh !!! Top !

    ReplyDelete
  8. Setuju sekali perjalanan yang sesungguhnya adalah proses pengenalan diri sebagai Manusia,sebelum berproses menuju pengenalan yang lainnya,
    "Ketika engkau mendaki dengan banyak orang maka kamu tidak membutuhkan banyak hal,namun ketika kamu berjalan sendiri nilai manusiamu akan sadar bahwa kamu kekurangan banyak hal
    Seorang penanjak yang baik adalah mereka yang dibesarkan di Alam bebas,tidak dibesarkan di media sosial..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Keren bang tulisannya banyak pelajaran yang bisa diambil , salam dari saya anak muda 18th yang baru mulai mengenal gunung ✌💪

      Delete
  9. Keren tulisannya bang saya anak mudah umur 17tahun yang baru mau mengenal gunung , manfaat bangat tulisannya respect buat abang 💪✌

    ReplyDelete
  10. Artikel yang bagus sekali pak, salut. Akhir th 2017 kemarin saya juga baru saja bernostalgia merapi via sapuangin setelah kurang lebih 16th lalu pernah turun lewat jalur ini yg dulu cuma kami jadikan jalur evakuasi. Tapi betul kata sampean pak Anton, disinipun saya menyadari betapa melemahnya diri saya secara fisik dan mental, hanya selalu menjadi penggiat yg bisa melakukan segala sesuatu sendirian untuk ketenangan, meskipun sekarang ada adik2 yg mengikuti jejak saya. Terus berkarya pak, salam gremat gremet slamet

    ReplyDelete

Tulisan Terbaru

PEMUNCAKAN DAN TRAGEDI DI GUNUNG PALING SULIT DI DUNIA

Gunung K2 yang merupakan gunung tertinggi ke-2 di dunia dan merupakan satu-satunya gunung 8.000 meter yang belum tersentuh puncaknya pa...