Tuesday, 28 March 2017

TIGA HAL YANG SEMESTINYA DILAKUKAN SEORANG PENDAKI GUNUNG


 


                “… Banyak orang menyebut diri mereka sebagai seorang pendaki gunung sejati, tapi sepanjang hidup yang mereka jalani, mereka hanya mengikuti jalan tol yang telah dibuat oleh para pendahulunya, saya tak tahu lebih jauh, namun buat saya, hal ini tidaklah dapat disebut sebagai kesejatian jiwa seorang pendaki gunung…”.

Duane Raleigh, Profesional American Rock Climber.

***

                Membahas dunia pendakian gunung saat ini, terasa tak ada habisnya, terutama jika melihat geliat minat olahraga bidang ini ditanah air, tumbuh subur dan melimpah ruah. 

                Hampir semua gunung di Indonesia tiba-tiba saja ramai luar biasa sekarang ini, ada ribuan gambar-gambar indah mempesona tentang panorama pegunungan Indonesia yang diupload setiap harinya. Di istagram saja, jika kita ketik kata pendaki gunung, akan muncul hampir 30.000-an gambar yang berkaitan dengan itu, sungguh sebuah lompatan yang spektakuler untuk olahraga pendakian gunung Indonesia, mungkin kita bisa ikut bangga dengan fenomena ini.

                Berkaitan dengan ini, saya ingin membagikan sebuah tulisan yang sebenarnya terinspirasi dari tulisan ringkas Duane Raleigh tentang kesejatian seorang rock climber. Raleigh menuliskan opininya tersebut dalam laman Rock And Ice Magazine, salah satu majalah terkemuka percaturan outdoor dunia. Disana, Raleigh menuliskan ada enam hal yang berkenaan dengan dunia rock climbing yang semestinya dilakukan seorang climber sejati, dan pandangan tersebut dititikberatkan pada pengalaman dan karirnya sendiri sebagai seorang rock climber professional.

                Jika diadaptasikan dalam euphoria dunia pendakian gunung di tanah air, ada beberapa kesesuaian yang saya pikir cukup menarik jika saya tulis dan bagikan, terlepas dari apakah pendapat ini disetujui atau tidak nantinya.

                Ada sebuah area pembauran yang begitu abstrak saat ini, ketika semua orang yang pernah menggendong carrier dan tidur di tenda menyebut diri mereka pendaki gunung. Disamping menggelembungnya berbagai macam kelompok, perkumpulan, club, dan aneka ragam gaya mendaki gunung, hal ini juga menjadikan orang-orang yang selama ini menjadikan gunung sebagai tempat bersemedi seolah-olah merasa terusir pergi. 

                Para pendaki yang selama ini menganggap diri mereka sebagian penganut faham konservatif merasa seolah-olah tidak punya tempat lagi dalam hiruk-pikuk gejolak naik gunung yang membludak. Orang-orang yang mendaki gunung dengan tujuan narsisme, spiritual, atau hanya sebagai refreshing semata, bercampur baur dalam gelombang kelompok besar orang-orang yang memikul ransel dan berbondong-bondong ke punggung  gunung, semua tampak sama saja, tidak ada bedanya.

                Untuk itu, ada tiga hal yang dapat lakukan untuk menjadi semacam pembuktian pada diri sendiri bagi kawan-kawan yang memang benar-benar ingin disebut sebagai pendaki gunung sejati, baik kawan yang selama ini menganggap naik gunung hanya sebagai refreshing semata, atau yang selama ini menjadikan naik gunung sebagai areal narsisme, atau yang mungkin menjadikan gunung dan lembah sebagai ladang untuk menemukan jati diri dan nilai spiritualisme. 

Dimanapun kawan-kawan berada selama ini, tiga hal ini menjadi layak untuk dicoba dan menjadi tonggak pembuktian bahwa sebutan pendaki gunung yang selama ini disematkan, menjadi sesuatu yang sungguh-sungguh pantas dan layak untuk kawan-kawan dapatkan.

Sekali lagi hal ini hanya opini pribadi saya semata, bisa saja ada yang sepakat, namun tentu saja ada yang tidak sependapat, dan itu bukan hal yang perlu untuk diributkan.

Dan inilah hal pertama yang harus anda lakukan,


Menjajal Solo Hiker

                “… Bagaimana anda bisa merasakan cinta yang mendalam kepada gunung, jika anda selalu mendatanginya dengan beramai-ramai..”

                Sesekali ada baiknya anda mencoba mendaki gunung secara solo, alias seorang diri. Dengan melakukan pendakian secara solo, ada banyak waktu yang tersedia buat kita bercengkerama secara intens dengan alam dan diri sendiri. 

                Seorang yang mendaki gunung secara solo dituntut lebih waspada, lebih siap, dan lebih siaga dalam prosesnya. Dan menurut saya pribadi, hal yang paling berat dari sebuah pendakian solo bukanlah medannya yang sulit, tanjakannya yang curam, atau lintasannya yang mungkin saja tersohor sebagai sarang dhemit dan memedi, bukan itu semua. Akan tetapi hal yang paling berat saat berusaha untuk melakukan pendakian secara solo adalah kemampuan kita dalam menghadapi kesunyian dan kesendirian.

                Ketika kita ingin melucu, tidak akan ada teman yang tertawa. Ketika kita melihat sebuah panorama atau objek yang luar biasa, tak ada teman yang akan bisa kita ajak untuk mengaguminya, dan ketika pula kita menghadapi keadaan yang berbahaya, diri sendirilah yang menjadi benteng untuk melewatinya, tak ada orang lain yang bisa diajak untuk sharing.

                Keadaan yang semacam ini sedikit banyak perlahan akan mengasah diri juga karakter sang pendaki, kedekatan yang intens kepada alam juga akan membentuk sebuah hubungan yang spesial antara dirinya dan alam. 

                Bagi yang berniat untuk mencoba solo hiker, sebaiknya memulainya dengan memilih jalur yang ramai, atau merupakan jalur umum pendaki, hal ini merupakan sebuah langkah antisipatif andaikata dalam perjalanannya nanti membutuhkan pertolongan pendaki lain. Seiring waktu, seiring pula dengan bertambahnya pengalaman, persiapan, dan  mental, kegiatan solo hiking dapat ditambah gradenya dengan mencoba jalur –jalur sepi pendaki, ataupun memilih waktu pendakian yang jauh dari kepadatan pendakian.


First Ascent

                Hal kedua yang semestinya dilakukan seorang pendaki gunung adalah first ascent, alias pendakian pertama / rintisan. 

                Sejarah hampir-hampir tidak pernah mencatat seseorang yang melakukan pendakian kedua, sedangkan pendaki saat ini lebih banyak melakukan pendakian repeat /ulangan, dan hal itu mungkin tidak dapat diingat secara monumental. Tak ada satupun yang mengingat orang kedua yang menjejakkan kakinya di bulan, atau mengingat team kedua di puncak Everest setelah kesuksesan Edmund Hillary + Tenzing Norgay.

                Meletakkan sebuah tonggak rute baru dalam pendakian gunung akan memberi kita sebuah bagian dari keabadian, dan jika kita masih hidup, ini akan membuat kita begitu menghargai sebuah upaya sungguh-sungguh dan kerja keras dari sebuah pencapaian first ascent. Jika kemudian rute rintisan ini berubah, menjadi kotor misalnya, menjadi lebih komersial, atau mendapat penamaannya yang kurang sesuai, kita mungkin saja  akan dapat dengan mudah memahaminya.

                Sedangkan melakukan pendakian ulangan, atau mengikuti jalur yang sudah ada itu seperti menjadi seorang penumpang mobil saja layaknya, jika kita tidak menyukai jalur yang telah dibuat, maka kita hanya memiliki pilihan untuk keluar dari mobil dan ditinggalkan.

                Untuk di Indonesia memang tidak mudah untuk menemukan sebuah gunung yang benar-benar pure belum didaki, selain hal itu sudah langka, hal tersebut juga tentunya akan memakan biaya yang tidak sedikit. Bayangkan seumpama kita ingin melakukan first ascent sebuah gunung jauh dipedalaman pulau Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, Maluku, NTT, atau Papua sana, bayangkan sendiri sudah berapa banyak biaya yang harus kita keluarkan untuk mewujudkannya.

                Namun hal ini bukan berarti kita tidak memiliki jalan keluar untuk melakukan fisrt ascent, solusinya dapat saja dengan merintis jalur baru pada gunung-gunung yang sudah populer saat ini. 

                Umpamanya seperti Semeru yang kita ketahui hanya memiliki jalur via populer Ranupane, Kalimati, maka seorang yang berjiwa pendaki dapat saja melakukan pendakian ke puncak Mahameru melalui jalur lain, yang baru, dan belum pernah dilakukan sebelumnya.  

Tebing Selatan gunung Merapi menunggu untuk digapai First Ascent 



Try To Get Lost 

                Hal ketiga yang dapat dilakukan seorang pendaki gunung untuk mempererat ikatannya dengan alam adalah, cobalah sesekali untuk “tersesat” di alam atau gunung. 

                Yang saya maksud tersesat disini, bukanlah bermaksud dengan tersesat yang dilanda kepanikan, namun sebuah situasi tersesat yang terukur secara resiko dan tindakan. 

                Dilanda rasa lapar dan lelah karena salah mengambil jalur, ketidaknyamanan yang bercampur dengan penyesalan, serta usaha dan upaya kuat untuk menemukan jalan pulang, akan menggulirkan kita pada sebuah keadaan dimana rasa syukur akan nikmat keselamatan kian dapat dirasakan.

                Percobaan untuk try to get lost tidak dapat dilakukan secara serampangan dan tak terukur, kemampuan, kekuatan, dan skill bertahan hidup dialam bebas paling tidak dasar-dasarnya sudah diketahui sebelum mencoba hal yang satu ini.

                 Pelajaran dan hikmah dari sebuah perjalanan yang tidak sesuai rencana kadang lebih banyak mengajarkan kita pengalaman daripada sebuah journey yang persis sesuai rencana, hal ini bukan berarti saya menganjurkan kawan-kawan untuk sengaja menyasarkan diri saat melakukan pendakian, namun ketika sebuah perjalanan dialam bebas berlangsung tidak sesuai rencana, kuasailah keadaan, dan ambillah pengalaman berharga dari hal tersebut.


Salam

***


               

No comments:

Post a Comment

Tulisan Terbaru

PEMUNCAKAN DAN TRAGEDI DI GUNUNG PALING SULIT DI DUNIA

Gunung K2 yang merupakan gunung tertinggi ke-2 di dunia dan merupakan satu-satunya gunung 8.000 meter yang belum tersentuh puncaknya pa...