Sunday, 23 October 2016

Data Lengkap Rute dan Jalur Pendakian Gunung Merapi via Babadan




Sebelum saya merilis data lengkap jalur pendakian gunung Merapi via kampung Babadan ini, sebenarnya saya telah beberapa kali “membocorkan” satu dua informasi mengenai kejutan untuk jalur pendakian gunung khususnya areal Jawa Tengah ini. Bocoran bocoran informasi itu saya publis baik dalam bentuk status di akun facebook saya, mau pun ada yang saya narasikan dalam berbagai sudut pandang dalam tulisan-tulisan sederhana di blog Arcopodojournal.

Sudah banyak rekan sesama pendaki yang bertanya informasi lengkap mengenai jalur pendakian gunung Merapi via kampung Babadan ini, namun karena statusnya yang masih belum resmi, juga kondisinya yang belum layak untuk dipublikasi secara luas, informasi lengkap tentang rute pendakian gunung Merapi via kampung Babadan belum bisa saya bagikan secara luas, untuk sementara hanya beberapa anggota team Dhemit Gunung saja yang mengetahui peta lengkap pendakian jalur ini.

Secara pribadi, saya telah tiga kali menjajal rute ini, dua kali bersama anggota team Dhemit Gunung, sementara untuk yang perdana saya lakukan secara solo.

Sejak awal melihat rute pendakian Babadan ini, saya telah memiliki keyakinan jika jalur ini akan menjadi semacam 'surprise' untuk rute pendakian gunung pulau Jawa, khususnya areal Jawa Tengah. Apa yang dimiliki oleh jalur Babadan sisi barat gunung Merapi sungguh merupakan sesuatu yang tidak pernah saya perkirakan sebelumnya, keindahannya, keasriannya, panoramanya, unsur adventurenya, semuanya seolah lengkap ditumpahkan di atas kanvas jalur Babadan ini. 


Sungguh saya menilainya sebagai sebuah kejutan, menemukan rute memuncaki gunung teraktif di dunia, yang selama ini juga dikenal sebagai salah satu gunung dengan tingkat jumlah pengunjung paling ramai, yang rute resmi satu satunya via New Selo dapat ditempuh hanya dalam waktu tiga jam, bahkan untuk beberapa pendaki dengan fisik super, bisa melakukannya dalam waktu dua jam, ternyata memiliki sebuah sisi lain yang luar biasa menarik dan tidak pernah terbayangkan sebelumnya.

Sebenarnya sejarah rute pendakian gunung Merapi via Babadan telah tertoreh dengan indah sudah sejak dua puluhan tahun yang lalu, bersama jalur Kinahrejo, Jalur Balerante, jalur New Selo, dan jalur Klaten, Babadan juga telah menjadi sebuah jalur akses yang familiar dan eksotis menuju puncak gunung Merapi.

Namun keindahan jalur Babadan ini kemudian dikubur habis oleh keganasan letusan gunung Merapi sekitar lima belas tahun silam, dalam letusan dahsyat yang telah beberapa kali terjadi itu, tiga jalur pendakian lainnya juga terpaksa ditutup, menyisakan New Selo sebagai satu satunya jalur pendakian resmi yang masih berfungsi. Namun seperti sering saya kemukakan dalam berbagai tulisan saya sebelumnya, bahwa seiring dengan meningkatnya minat dan ketertarikan pada aktivitas mendaki gunung, untuk gunung sekelas Merapi yang sangat populer dan familiar, rasanya hanya dengan memiliki satu akses jalur pendakian saja, dirasa masih sangat kurang.

Ada beberapa hal yang menjadi petimbangan mengapa jalur Babadan menurut saya memiliki status 'urgent' untuk segera dibuka secara resmi. Di antara beberapa pendangan tersebut, alasan yang paling mendasar adalah nilai historis yang dimiliki jalur Babadan itu sendiri. 

Babadan seperti yang telah saya sampaikan di awal, merupakan sebuah jalur kuno menuju puncak Merapi, kematian jalur ini disebabkan oleh letusan gunung Merapi yang memutuskan banyak akses jalan dan juga jalur. Namun membiarkan sebuah artefak rute pendakian yang kaya menjadi tidak dikenal seperti saat ini juga bukan merupakan pilihan yang bijaksana. Suguhan panorama gunung Merapi via jalur Babadan sangat eksotis dan elok, di tengah derasnya minat akan olahraga mendaki gunung seperti sekarang ini, pembiaran ini meski pun terasa eksklusif bagi beberapa orang, tetap merupakan sebuah pemubaziran dari sesuatu yang dapat diambil manfaatnya begitu banyak.

Selain nilai historisnya, pembukaan jalur Babadan secara resmi akan pula berdampak pada sosial ekonomi masyarakat sekitarnya. Kita tidak dapat berpura-pura bahwa ini bukan suatu pertimbangan yang penting saat ini, pemberdayaan ekonomi dari sektor wisata pendakian gunung tidak dapat dianggap main-main lagi jika kita lihat dari berbagai bukti yang telah nyata di lapangan.

Pengunjung yang mencapai jumlah ribuan perminggu, tereksposnya berbagai potensi usaha masyarakat sekitar, dan meningkatnya peluang masyarakat sekitar untuk dapat pula memperoleh tambahan penghasilan, bahkan penghasilan utama dari sektor layanan pariwisata mendaki gunung. Belum lagi hal-hal seperti ini sudah barang tentu biasanya memicu pada perbaikan sarana dan prasarana masyarakat sekitar, baik itu akses jalan, dan berbagai fasilitas umum lainnya.

Namun tentu saja di balik banyaknya manfaat dan kebaikan yang bisa diperoleh dengan terbukanya akses resmi pendakian gunung Merapi via kampung Babadan, tentu saja terdapat pula beberapa dampak negatif yang mengikutinya. Dampak-dampak itu bisa berupa pencemaran lingkungan dari sisi sampah, potensi kecelakaan pendaki di jalur Babadan, mengingat jalur ini memiliki banyak tantangan yang butuh ketelitian, dan tentu saja beberapa dampak negatif lainnya.

Akan tetapi dampak-dampak negatif semacam ini, tidak seharusnya menghentikan langkah kita untuk tetap memberdayakan jalur pendakian gunung Merapi via kampung Babadan. Dengan pengelolaan, penanggulangan, dan kontrol yang tepat, Insya Allah, saya yakin dampak-dampak negatif seperti ini bisa ditangani dengan baik.


Rute Lengkap Jalur Pendakian Gunung Merapi Via Babadan


Akses lokasi


Kampung Babadan bisa diakses dari kota Muntilan dengan waktu tempuh hanya sekitar 45 menit hingga satu jam berkendara.

Dari kota Muntilan, perjalanan dimulai menuju Pasar Talun, jika tidak menggunakan kendaraan pribadi, akses menuju Pasar Talun bisa dengan naik angkot atau ojek. 

Dari pasar Talun perjalanan dilanjutkan menuju pasar Soko, jarak kedua pasar sayur ini hanya sekitar 1,5 km, jika naik sepeda motor mungkin hanya memakan waktu 5–7 menit saja. Bagi yang tidak menggunakan kendaraan pribadi, sebaiknya perjalanan menuju kampung Babadan ditempuh dengan naik ojek, dan para pengojeknya bisa didapat di pasar Talun ini, tarifnya berkisar Rp, 15.000 – Rp, 25.000.

Tepat di depan pasar Soko, akan ditemui sebuah pertigaan, kampung Babadan dapat diakses dari sini dengan memilih jalan sebelah kanan jika dari arah pasar Talun, sedangkan dari arah berlawanan dapat mengambil jalan yang sebelah kiri. Sebaiknya kebutuhan logistik dan segala sesuatunya dapat dipastikan di sini, ini adalah pasar terakhir yang bisa ditemui hingga kampung Babadan.

Dari pasar Soko perjalalan dilanjutkan menuju kampung Babadan, dengan medan jalanan desa yang menanjak dan variatif. Ada jalan yang sudah diaspal halus, namun di beberapa titik ada juga yang masih hanya aspal kasar dan cor coran dari beton.

CATATAN PENTING !!!

Pos pendakian Babadan BUKANLAH pos pengamatan gunung Merapi Babadan, ini adalah dua hal yang berbeda. Pos pendakian Babadan dikelola oleh penduduk kampung Babadan, sedangkan pos pengamatan adalah aset penelitian yang dibawahi oleh badan vulkanologi, untuk urusan pendakian dan segala macam tetek bengeknya, pos pengamatan gunung Merapi Babadan sama sekali tidak bisa direpotkan.

Jadi pastikan anda melewati rute yang telah ditetapkan, yaitu via kampung Babadan, bukan pos pengamatan Babadan.

Gerbang masuk terminal kota Muntilan

Kampung Babadan


Ada banyak perkampungan penduduk yang dijumpai sepanjang jalan dari pasar Soko hingga kampung Babadan yang juga direncanakan berfungsi sebagai basecamp pendakian nantinya.

Babadan sendiri adalah sebuah dukuh yang memiliki territorial cukup luas, juga memiliki beberapa dusun dan pengelompokan rumah bermukim bagi penduduknya. Dukuh direncanakan menjadi basecamp pendakian adalah kampung Babadan Satu, yakni sebuah dusun paling atas atau paling akhir ditemui dari arah pasar Soko, di sinilah akan diupayakan disediakan basecamp pendakian, registrasi, dan aneka macam administrasi guna memenuhi keperluan para pendaki gunung Merapi.

Sebenarnya saya mempublish jalur pendakian via Babadan ini juga masih dalam kondisi belum menemui kata acc dan mufakat dari beberapa masyarakat kampung Babadan-nya sendiri. Ada banyak hal yang mungkin perlu mereka bicarakan dan musyawarahkan sebelum benar-benar bersepakat untuk membuka kampung mereka sebagai sebuah destinasi wisata petualangan menuju puncak gunung Merapi.


Rute dan peta pendakian


Setelah melakukan reservasi (sebelum jalur ini diresmikan anda sebaiknya meminta izin kepada kepala dusun/bayan/atau salah satu pejabat desa kampung Babadan), pendakian dapat mulai dilakukan dari kampung Babadan Satu menuju Pos Satu Watu Alap–Alap.

Etape pendakian pembuka ini mungkin akan agak melelahkan, lintasan dari basecamp pendakian, hingga pos satu Watu Alap-Alap adalah jalan penduduk menuju ladang-ladang pertanian mereka. Selain digunakan sebagai jalan umum guna ke ladang, lintasan ini juga digunakan penduduk Babadan dan sekitarnya untuk menyabit rumput di hutan, ada banyak sekali persimpangan di sini, kehati –hatian dalam memilih jalur, juga keterbukaan untuk bertanya kepada penduduk yang mungkin ada di sekitar sangat disarankan.

Jalur dari basecamp pendakian menuju pos satu Watu Alap-alap selain bisa ditempuh dengan hiking atau berjalan kaki, dapat juga ditempuh dengan sepeda motor, dan ini juga sebenarnya merupakan sebuah peluang bagi masyarakat kampung Babadan untuk menjadi usaha sampingan nantinya.Perjalanan hiking dari Basecamp Babadan hingga Watu Alap–alap bisa memakan satu jam bahkan satu setengah jam jika berjalan kaki, namun jika dibantu dengan sepeda motor mungkin hanya akan memakan waktu lima belas menit saja.

Banyak pendaki yang kadang ingin menghemat waktu dan tenaganya sebelum benar-benar terkuras di medan pendakian, dan menempuh lintasan antara basecamp Babadan-Pos Satu Watu Alap-Alap dengan bantuan sepeda motor adalah sesuatu yang bisa dilakukan di sini, dan itu adalah satu peluang lagi bagi warga Babadan untuk menjadi operatornya.

Sekitar satu kilometer sebelum mencapai pos Satu Watu Alap-Alap, lintasan akan memasuki sebuah kawasan hutan pinus yang cukup teduh dan rimbun. Ada yang unik dari hutan pinus di Babadan ini yang berbeda dengan hutan hutan pinus lainnya pada beberapa medan pendakian, sebuah saksi sejarah dan prasasti akan kita temui terpahat pada batang-batang pohon pinus yang gundul merangas dan mati di sini, saksi dan prasasti keganasan letusan gunung Merapi waktu silam.

Pertama kali saya menjelajahi tempat ini, saya sudah merasa takjub dibuatnya, deretan batang-batang pinus yang merangas, mengingatkan ingatan dan pikiran dengan kuat, bahwa kedahsyatan dan keganasan letusan gunung Merapi, bukan sebuah cerita rekayasa, ia nyata di depan mata. 

Hutan pinus yang merangas akibat letusan gunung Merapi belasan tahun silam


Watu Alap–Alap


Sebelum saya tahu nama tempat ini sebagai Watu (batu) Alap–Alap, saat hiking sendirian saya telah memberinya nama dengan sebutan Lembah Alap-Alap. 

Watu Alap–Alap atau lembah Alap–Alap merupakan sebuah jurang menganga dengan kedalaman mencapai lima puluhan meter, persis berada di sebelah kiri lintasan setelah hutan pinus yang rimbun. Kata alap–alap yang menjadi ikon tempat ini berasal dari barisan batu berwarna belang belang hitam yang menjadi dinding jurang bagian seberangnya. Jurang ini sebenarnya kemungkinan besar terbentuk lantaran gempuran dari aliran lahar letusan gunung Merapi, tempo yang lama dan volume material yang berukuran raksasa memungkinkan alam secara alamiah mengguratkan jurang yang dalam di tempat ini.

Jurang Watu Alap Alap

Kawasan Watu Alap-Alap juga telah diagendakan untuk dibuat semacam tempat wisata khusus di jalur Babadan ini, ke depannya akan ada beberapa sarana wisata yang direncanakan untuk dibangun di tempat ini, mulai dari gazebo-gazebo pengunjung, hingga mungkin akan dibuat semacam tempat untuk berfoto selfie dengan latar belakang gunung Merapi dan hutan Babadan yang hijau.


Pos 1 Watu Alap-Alap – Pos 2 Pematang Dhuwur


Selepas dari Watu Alap-Alap, lintasan medan pendakian akan langsung dihadapkan pada sebuah tanjakan yang cukup menguras tenaga. 

Tanjakan ini tidak begitu panjang sebenarnya, namun karena ada dipermulaan jalur pendakian, jadi memang mungkin akan cukup menuras tenaga, finish tanjakan ini ada pada sebuah tempat di mana berdiri sebuah menara pemancar kecil milik Balai Taman Nasional Gunung Merapi resort pengamatan Babadan. Setelah menemui menara kecil tersebut, maju sekitar lima puluh langkah ke depan kita akan mendapati sebuah camp ground yang cukup bagus untuk mendirikan tenda, tempatnya agak tinggi, dan tidak terhalang untuk menikmati gagahnya puncak Merapi jika cuaca sedang tidak tertutup kabut.

Setelah melewati camp ground kecil tadi, jalanan akan sedikit menurun, saya menyebut tempat ini sebagai Lembah Pelana Kuda dikarenakan lokasinya yang diapit dua punggungan hampir sama tinggi, mirip pelana yang biasa dipasang pada punggung seekor kuda tunggangan. 

Di ujung Lembah Pelana Kuda ini, akan ditemui dua buah jalan bercabang, satu mengarah ke kiri, ke arah kali Alap-Alap. Sementara yang satunya agak ke kanan kemudian lurus membelah belantara punggungan di depan lintasan. Jalur yang diambil adalah yang ke kiri, jalur yang menuju badan sungai pasir Alap -Alap yang telah ditandai dengan beberapa pita warna orange dan hijau, sementara jika ke kanan ini adalah menuju Klatakan, sebuah tempat yang juga terdapat sebuah menara kecil pengamatan gunung Merapi seperti sebelumnya.

Sosok puncak Merapi dlihat dari punggungan sebelum Lembah Pelana Kuda

Sangat tidak disarankan untuk mengikuti rasa penasaran kemudian mengambil rute kanan menuju Klatakan. Jalur ini adalah rute terlarang, hanya orang orang tertentu yang boleh mengambil rute ini, saya tidak begitu tertarik dengan hal hal berbau magis dan supranatural, namun di tempat ini pernah kejadian seorang bule tewas dihajar batuan dari puncak Merapi. Saya tidak tahu pristiwa detailnya, beberapa sumber di Babadan menyebutkan kenekatan melanggar aturan dari si bule itulah yang mengantarkannya tewas di tempat itu, Wallahu’alam.

Selepas melewati sebuah bekas aliran sungai tanpa air pada rute kiri setelah Lembah Pelana Kuda, lintasan akan mendatar sepanjang lima puluh meteran, dengan kanopi yang cukup tebal oleh dedaunan pohon akasia dan pinus yang tumbuh rapat sepanjang jalan. Setelah menikmati jalur yang landai, lintasan pendakian akan menanjak tajam menapak menuju punggungan bukit, kabar baiknya adalah meskipun lintasan ini menanjak, jalurnya tetap teduh dan bagian menanjak tajamnya yang pendek.

Perjalananan dilanjutkan terus mengikuti rute menyusuri sebuah punggungan. Di kampung saya di Bengkulu sana, punggungan bukit seperti ini disebut pematang, mengikuti sebutan dari istilah pematang sawah, hanya saja di gunung kiri kanannya adalah jurang menganga, bukan tanaman padi yang menghijau. 

Sekitar 15 hingga 20 menit berjalan mengikuti punggungan dengan naungan teduh pohon Akasia dan pinus, rute akan langsung mengantarkan para pendaki gunung Merapi melalui  satu-satunya jalur pendakian Gunung Merapi via Magelang ini menuju Pos 2 Pematang Dhuwur. Pos ini tidak memiliki tempat camp begitu luas, hanya tersedia sekitar 4 atau 5 tempat datar untuk mendirikan tenda ukuran sedang.

Di Pos 2 Pematang Dhuwur ini juga belum bisa menikmati pemandangan khas pegunungan, karena masih tertutup rapat oleh kanopi hutan gunung Merapi dengan pohon pinus dan akasianya yang teduh. 

Team Dhemit Gunung yang beristirahat di pos 2 Pematang Dhuwur 


Pos 2 Pematang Dhuwur – Pos 3 Tegal Alang


Dari pos 2, perjalanan menuju pos selanjutnya tetap dibuka dengan menyusuri punggungan sekitar 10 hingga 15 menit lamanya, sebelum kemudian lintasan akan menjumpai sebuah tempat yang cukup terbuka dengan kemiringan yang landai.

Sebelum memasuki areal terbuka dengan semak yang tidak begitu rapat ini, sebelumnya lintasan juga akan melewati jalur cukup rata dengan panjang sekitar 50 meteran. Pada beberapa tempat sudah bisa ditemukan rumpun edelweiss hidup di tempat ini, sementara jika ia sedang mekar, beberapa bunga indah berwarna orange terang juga akan menarik perhatian di beberapa tempat sepanjang lintasan ini.

Jika sebelumnya lintasan punggungan yang dilewati tampaknya langsung lurus mengarah ke puncak gunung Merapi, maka sesaat kemudian setelah menemui tempat terbuka dengan semaknya yang tumbuh tidak begitu rapat, jalur pendakian akan berbelok ke arah kiri, menuju sebuah sungai kering berisi pasir dengan batu-batuannya yang cukup besar.

Aliran sungai kering ini dinamakan Kali Apu, lebarnya paling hanya 2 meter hingga 4 meter di beberapa tempat, batuan-batuan gunung yang ada di aliran Kali Apu ini berukuran cukup besar dengan tekstur dan ornamennya khas gunung Merapi. Jika kondisi sedang hujan deras, tentu areal Kali Apu menjadi sangat tidak aman untuk dilewati, tidak disarankan untuk berlama-lama di tempat ini jika cuaca buruk, atau sedang hujan lebat mengguyur puncak Merapi.


Watu Apit dan Zona Waspada Pertama


Selepas menyeberang Kali Apu, jalur akan langsung dihadapkan pada tanjakan yang cukup terjal, berita baiknya, tempat ini teduh dan banyak semak belukar yang bisa menjadi pegangan sambil berjalan. Tak lama kemudian jalur akan kembali berbelok ke arah kiri, namun kali ini akan melipir sisi jurang yang cukup dalam dan berbahaya, dibutuhkan extra kehati-hatian melewati tempat ini.

Sebelum memasuki jalan kecil melipir yang lansung bersanding dengan jurang sebelah kiri yang dalam, akan ditemui sebuah tempat yang diberi nama Watu Apit, yakni sebuah batu di tanjakan yang posisinya menjadi semacam pintu masuk menuju jalan di depannya.

Watu Apit ini berukuran tidak besar, namun space yang disediakan di antara rongga keduanya cukup sempit, jika kita membawa carrier dengan ukuran cukup besar, atau bawaan yang banyak bercantolan di samping kiri kanan carrier, melewati Watu Apit akan terasa lebih merepotkan lagi. Tidak ada jalan untuk menghindari Watu Apit, sebelah kanannya langsung berhadapan dengan tebing yang tidak mungkin dilewati, sementara sebelah kirinya jurang menganga yang siap menelan tubuh jika tidak berhati hati dalam melangkah.

Kali Apu pada jalur pendakian gunung Merapi via Babadan

Setelah watu Apit, sebaiknya para pendaki tidak mengendorkan kehati-hatian, jalur yang menjadi lintasan selanjutnya adalah sebuah jalan setapak kecil yang bersisian langsung dengan jurang di sebelah kirinya. Lintasan ini adalah zona waspada pertama yang mesti menjadi perhatian para pendaki gunung Merapi via jalur Babadan, kadang ada beberapa jalan berlubang yang tertutup oleh semak, yang jika terinjak kemungkinan besar akan mengantarkan kita ke dasar jurang.


Kali Gesik si Fenomenal


Jarak antara Kali Apu dan Kali Gesik sebenarnya tidaklah jauh, bagi para pendaki yang telah terbiasa, mungkin hanya butuh waktu 20 menit hingga 30 menit saja. 

Sebuah hutan dengan tanaman pinus dan akasia yang rimbun akan menjadi tempat yang bagus untuk istirahat sekedar minum dan makan biskuit, sebelum melanjutkan perjalanan kembali menuju arah Kali Gesik. Hutannya yang cukup rindang mungkin hanya sepanjang 50 meteran saja, namun beberapa tempat di bawahnya yang teduh dan bersih, menjadikan tempat ini sebagai salah satu tempat yang menyenangkan untuk beristirahat.

Lintasan yang tadi seolah lurus memotong punggungan, sekarang akan menurun sedikit serong ke kiri, tempatnya cukup terbuka dengan tumbuhan ilalang, dan beberapa semak ukuran tinggi yang tumbuh liar. Kemudian jalan akan terputus di sebuah tebing di sini, terhenti di tepi sebuah jurang bekas aliran lahar gunung Merapi.

Tempat inilah yang disebut Kali Gesik, aliran sungai kering bekas lahar dingin  yang pada beberapa tempat memiliki lebar hingga 20 meteran, juga dengan tinggi tebing kiri kanan juga mencapai 20 meteran di beberapa bagiannya. Di seberang Kali Gesik akan terlihat hamparan punggungan luas dari pasir dan batuan yang luasnya mungkin mencapai 2 hektar lebih, dengan kemiringan yang cukup melelahkan untuk didaki.

Salah satu sudut Kali Gesik

Saat memasuki badan sungai Kali Gesik, akan ditemui sebuah penanda yang memecah jalur menjadi dua arah, satu menurun ke arah hilir sungai, sementara yang satunya berlawanan menuju ke arah hulu sungai, yang juga merupakan puncak gunung Merapi. 

Jika cuaca sedang cerah, Kali Gesik adalah tempat yang sangat fantastis, hamparan sungai pasir yang luas berdinding batu-batu granit berukuran raksasa, dengan latar belakang puncak Merapi yang gagah mengepul, tempat ini sungguh sangat mengesankan. Namun seperti yang pernah saya tulis pada sebuah status di kronologi saya, bahwa pasangan Kali Gesik di pendakian Merapi melalui jalur Babadan ini  adalah kabutnya yang seakan tak mau sirna, jika pun ia menghilang, maka itu tak akan lama, sesaat kemudian tempat ini akan diselimuti kabut kembali yang akan menutupi pandangan mata para pendaki.

Di Kali Gesik ini pula saya pernah mengatakan bahwa rute ini bisa menjadi pilihan alternatif jenis baru dalam olahraga pendakian gunung di Indonesia, yaitu dengan menyusuri bekas aliran laharnya yang langsung berhulu ke puncak Merapi. Saya tak tahu apa nama sebenarnya pendakian dengan metode jenis ini, namun saya menyebutnya dengan istilah Chasm Hike, atau pendakian ngarai rute tembak menuju puncak Merapi. Dan hal terpentingnya adalah, sebaiknya jangan nekad untuk dicoba jika anda merasa belum begitu berpengalaman dalam olahraga pendakian gunung.

Lintasan jalur tembak Chasm Hike di Kali Gesik


Camp Ground Tegal Alang dan Pelawangan Rinjani


Sebenarnya saat saya menulis data lengkap pendakian gunung Merapi via Jalur Babadan yang sahabat pendaki baca ini, Camp Ground Tegal Alang belumlah siap untuk dijadikan areal camp, belum ada juga penanda di jalur persimpangannya saat memasuki badan Kali Gesik sebelumnya.

Namun sepanjang pengamatan saya yang telah tiga kali menyusuri jalur ini, tidak ada tempat yang paling strategis dan memadai untuk dijadikan Camp Ground utama pada pendakian gunung Merapi via Babadan, selain tempat yang kami beri nama Tegal Alang ini.

Ada sedikit kemiripan antara kontur camp ground Tegal Alang ini dengan kontur camp ground Pelawangan di Gunung Rinjani, yakni sama sama berada di sebuah punggungan gunung, dan sama sama memiliki banyak pohon pinus di lintasannya. Namun tentu saja Pelawangan Rinjani lebih tinggi dengan pemandangan Segara Anak dari jalurnya. Di Tegal Alang Merapi, selain badan dan puncak Merapi yang kokoh, pemandangan gunung Merbabu dan hutan tanah Jawa yang telah terkelupas di sana sini menjadi pemukiman, juga menjadi daya tarik yang cukup memikat untuk dilihat.

Akses camp ground Tegal Alang direncanakan dari arah Kali Gesik dengan rutenya yang mengarah ke hilir, atau ke dasar lembah, setelah itu rute akan dibelokkan menuju sebuah sudut hutan pinus yang rapat, yang kemudian akan menanjak langsung menuju punggunggan Camp Ground Tegal Alang. Ini adalah rute yang paling mungkin menuju Tegal Alang, karena rute lainnya, seperti yang telah kami amati sebelumnya, tidak mudah untuk dijangkau karena dihadang dinding jurang vertikal dengan tinggi hampir 30-an meter.

Sekali lagi akses jelas dan mudah menuju Tegal Alang belum ada ketika saya menulis tulisan ini, beberapa kendala birokrasi merintangi kami untuk merealisasikanya dengan cepat. Rute yang saya tulis adalah sesuai pengamatan dan experience di lapangan, itu adalah yang paling mungkin ditempuh sejauh ini.

Wilayah camp ground Tegal Alang (dilingkari biru)

Selain menuju Camp ground Tegal Alang, pendaki dapat juga memilih langsung melanjutkan perjalanan menuju Pasar Bubrah tanpa harus melewati Tegal Alang. Dan ini adalah jalur yang telah dua kali kami susuri.
Rute masuknya adalah mengambil jalur ke hulu Kali Gesik, jadi jika mampir ke Tegal Alang ambil rute menuju hilir, maka pendakian langsung menuju Pasar Bubrah ambil jalur ke arah hulu.

Setelah sekitar 150 meter melangkah menyusuri aliran Kali Gesik menuju Hulu, kita akan menemui sebuah corner atau sudut yang menjadi persimpangan jalur selanjutnya. Jalur ini berada pada sisi sebelah kiri Kali Gesik, persis berada di atas tumpukan pasir dan batuan sebelah kiri yang menggunung paling ujung.

Rute ini akan langsung menanjak terjal dan cukup panjang, cukup menguras tenaga untuk melaluinya. Namun dari tempat ini pemandangan khas pegunungan sudah mulai bisa dinikmati, meskipun kadang tertutup oleh kabut, saat kabutnya tersibak pemandangan dan view dari tempat ini akan cukup mengobati rasa lelah.


Pos 3 Tegal Alang Kali Gesik–Pos 4 Jurang Dhemit


Dalam agenda, jalur dari Camp Ground Tegal Alang dan jalur langsung dari Kali Gesik akan bertemu kembali di punggungan sekitar 30 menit selepas Kali Gesik. 

Areal ini sebenarnya merupakan ekosistem sabana, dengan padang rumput dan beberapa pohon cantigi yang tumbuh di sana sini, namun karena tempat ini merupakan sebuah tebing dengan kemiringan yang cukup terjal, tidak mudah juga menemukan space yang nyaman seumpama ingin bermalam di dekat sini, meskipun panoramanya cukup menawan.

Setelah melewati sabana ini, jalur akan kembali memotong sebuah punggungan gunung, namun kali ini punggungannya dipenuhi oleh belukar yang cukup lebat, tanaman yang mendominasi tempat ini adalah pohon akasia yang tumbuh tidak begitu rapat, dan juga semak-semak yang memenuhi semua permukaan tanah.

Zona Waspada kedua setelah zona pertama di Watu Apit adalah di sini, di jalur sepanjang hampir 300 meter memotong punggungan menuju Watu Gelar. Yang menjadi titik-titik dengan tingkat kerentanan terhadap kecelakaan pendaki di sinilah tempatnya, ada puluhan lobang menganga sepanjang lintasan yang tertutup semak belukar, kedalaman setiap lobang bahkan bisa mencapai 5 meter di beberapa tempat. Jika tidak berhati hati dalam melangkah, tidak menutup kemungkinan akan ada banyak pendaki yang bisa terjerembab ke dalam lobang-lobang ini, sementara di dasar lobang kita tidak tahu apa yang telah menunggu, apakah batu runcing, ataukah binatang berbisa.

Memang sebelum pendakian Merapi via Babadan dibuka secara resmi, saya telah berulangkali menyampaikan, utamanya di intern team Dhemit Gunung, bahwa  jalur Babadan sangat tidak aman jika dijelajahi malam hari apalagi secara solo, dan puluhan lubang dengan kamuflase inilah salah satu alasannya. Sehubungan dengan hal ini saya pun telah mengusulkan untuk MELARANG  adanya pendakian yang dilakukan di malam hari, maupun pendakian yang dilakukan secara solo.

Bisa saja dibuat semacam penutup untuk lobang lobang berbahaya ini, namun ini tentu mengurangi nilai adventure atau petualangannya, salah satu hal yang menjadi nilai lebih mengapa mendaki Merapi via Babadan sangat layak untuk dipertimbangkan.


Watu Gelar


Jika gunung Merapi terkenal sebagai gunung tandus yang kering selama ini, maka hal ini tidak akan berlaku jika melewati rute Babadan, akan ditemui titik titik air yang bahkan bisa digunakan untuk mandi di beberapa tempat, dan semua titik titik air yang melimpah itu ada di sebuah tempat bernama Watu Gelar.

Selain Watu Alap-Alap, Kali Gesik, dan juga Tegal Alang, maka Watu Gelar juga adalah salah satu lintasan yang sangat menarik jika mendaki gunung Merapi via jalur Babadan ini. 

Areal pelataran Watu Gelar

Watu Gelar adalah sebuah areal bebatuan yang terhampar cukup luas, areal bebatuan ini merupakan sebuah jalur aliran air yang berhulu langsung dari puncak Merapi. Jika setelah diguyur hujan, akan sangat mudah menemukan aliran air yang jernih dan segar di sini. Aliran air yang tidak begitu deras dengan alunan suaranya yang gemericik mengalir di permukaan batu-batu yang bersih berwarna putih keabu-abuan ini, sungguh membuat nyaman bagi para pendaki untuk sekedar duduk-duduk dan beristirahat di atasnya. 

Selain banyaknya air jernih yang bisa didapatkan saat hujan di sini, nilai lebih Watu Gelar adalah sebagai salah satu spot yang sangat indah untuk sekedar leyeh-leyeh. Spot terbaik yang benar-benar seperti bebatuan di gelar adalah pada bagian bawah, persis di tepi jurang yang langsung menghadap ke gunung Merbabu bagian timur.  Dengan batuan indah yang luas, ditemani gemericik air jernih yang mengalir, memandang panorama Merbabu dan mayapada tanah Jawa, sementara di ujung sana terlihat puncak Sumbing Sindoro yang berselimut di balik kabut. 

Satu satunya hal yang mengganggu kenyamanan di Watu Gelar ini adalah saat memandang ke bagian bawah jurang, ketika melihat dan mendengar suara mesin-mesin excavator atau bego dalam bahasa Jawa, yang sedang mengeruk pasir-pasir di Kali Belan.

Selain sebagai tempat beristirahat dan spot panorama yang bagus, Watu Gelar juga memiliki potensi lain yang bisa didayagunakan. Potensi lain tersebut adalah sebagai rute Chasm Hike kedua setelah di Kali Gesik, selain sebagai rute Chasm Hike, Watu Gelar dapat juga menjadi tempat untuk melepas kerinduan melakukan panjat tebing. Dengan tekstur bebatuan yang padat dan grip yang banyak, areal Watu Gelar bisa menjadi arena yang aman dan cukup mengasyikkan untuk sekedar sedikit melakukan rock climbing ringan.

Selain sebagai spot untuk rock climbing, jalur Watu Gelar ini sebenarnya dapat dimanfaatkan juga sebagai jalur evakuasi yang paling cepat dari puncak Gunung Merapi. Melihat dekatnya jarak antara puncak Merapi dan areal operasi pengerukan pasir di bagian bawah lembah, saya melihat bahwa jalur air Watu Gelar dapat pula menjadi alternatif yang bagus untuk melakukan evakuasi pendaki seumpama terjadi kecelakaan yang membutuhkan evakuasi cepat dan urgent. Namun tentunya untuk melakukan proses evakuasi melalui jalur ini dibutuhkan skill dan keterampilan vertical rescue yang mumpuni, tanpa itu mustahil progress evakuasi bisa dilakukan.


Ondho Langit


Sebenarnya saya sendiri masih agak bimbang memberi nama terbaik untuk Pos 4 pendakian gunung Merapi via jalur Babadan ini, sempat ada teman yang mengusulkan nama Tanjakan Setan, Watu Dhemit, Edelweis Mati, dan lain lain, namun ketika dirasa-rasa, semuanya belum ada yang pas dan cocok.

Saya secara mandiri akhirnya memilih nama Ondho Langit sebagai nama pos 4 ini, sebagai sebuah apresiasi terhadap nama Dhemit Gunung yang telah berupaya dengan susah payah untuk kembali memetakan jalur ini kembali. 

Lintasan dari jalur Watu Gelar menuju pos 4 Jurang Dhemit

Dari Watu Gelar jalur menuju pos 4 Ondho Langit melalui lintasan berupa punggungan tipis dengan pohon Cantigi dan bebatuan yang berserakan di sana sini. Melangkah di atas punggungan ini pun sangat harus berhati-hati, karena di beberapa bagian ada banyak pijakan labil yang siap melorot saat diinjak. 

Sekitar 300 meter selepas pelataran Watu Gelar tepi jurang tadi, areal aliran Watu Gelar yang menjadi jalur pendakian akan langsung berhadapan pada kemiringan terbuka pasir dan batuan Merapi. 

Jalur pendakian kemudian berbelok ke arah kiri, turun kedasar sungai dengan permukaan batunya yang bersih dan indah. Setelah melewati sungai, kemudian lintasan akan langsung dihadapkan pada tanjakan yang cukup tajam, dan kembali, di sini saya menyebutnya sebagai Zona Waspada Ketiga, ketika kehatian-hatian dalam memilih langkah, benar benar dibutuhkan dalam setiap pijakan.

Seperti pada medan jalur selepas Watu Apit dan Kali Apu sebelumnya, model lintasan menuju pos 4 Ondho Langit juga kurang lebih serupa. Jalur sempit yang bersisian antara tebing dan jurang menganga, menjadikan tempat ini sebagai salah satu tempat yang cukup memiliki potensi bahaya bagi para pendaki.

Setelah melewati tanjakan, jalur akan memasuki sebuah hutan belukar yang cukup rapat, hampir tidak dapat melihat apa-apa saat melewati jalan kecil di tengah belukar ini, kanopi dan rimbunan belukar menghalangi pandangan secara keseluruhan. Untungnya lintasan belukar ini tidak panjang, setelah berjalan sekitar 10 menit kita akan tiba di sebuah tepi jurang yang curam berada di sebelah kanan, sementara puncak Merapi yang menjulang dan beberapa gundukan belerang berwarna kekuningan dengan kupulan asap mengepul tampak dengan jelas dari sini.

Karena dekatnya jarak antara jurang dan jalur yang digunakan sebagai lintasan mendaki, meskipun indah dan mempesona tempat ini juga merupakan sebuah tempat yang berbahaya dan butuh kehati- hatian saat melintasinya. 

Dari bibir jurang menuju Pos 4 Jurang Dhemit sudah tidak jauh, dengan melewati sebuah tanjakan berbatu yang melipir ke kiri dan tak begitu tinggi kita akan tiba di sebuah tempat yang diberi nama Ondho Langit ini.

Ondho Langit sebenarnya adalah sebuah punggungan yang bersisian langsung dengan tebing dengan ekosistem pohon edelweiss mati memenuhi areal sekitarnya. Di pos 4 Ondho Langit ini bisa memuat hingga 6 atau 7 tenda, namun memang dibutuhkan kreativitas dan sedikit kerja keras guna meratakan tanah dan bebatuannya supaya dapat membuat camp ground yang nyaman digunakan.

Berlatar badan puncak Merapi yang kokoh, menjadi daya tarik lintasan setelah pos 4 Ondho Langit

Pemandangan dari Ondho Langit cukup menawan, dengan berlatar menara puncak Merapi yang mengepul, juga yang kadang kadang berselimut kabut, di depannya membentang panorama gunung Merbabu,  dan Sumbing Sindoro di kejauhan.


Pos 4 Ondho Langit – Top Base Pasar Bubrah


Sebenarnya jarak antara Ondho Langit dengan Pasar Bubrah sudah tidak jauh lagi, mungkin hanya butuh 45 menit hingga 1 jam untuk menempuhnya, namun di etape terakhir inilah justru yang paling berat dari rangkaian rute pendakian gunung Merapi via jalur Babadan.


Tanjakan Geger Celeng

Seratus meter setelah lepas dari pos 4, pepohonan edelweiss mati juga belukar dan padang alang-alang masih akan mendominasi lintasan, sementara batu-batuan khas gunung Merapi mulai bertonjolan sepanjang jalur yang akan dilewati.

Tanjakan Geger Celeng atau Tanjakan Punggung Babi ini adalah lintasan terakhir sebelum masuk areal Top Base Pasar Bubrah Gunung Merapi, panjangnya mungkin sekitar 500 meter saja. Sesuai dengan namanya, tanjakan ini dipenuhi dengan batu-batu kehitaman juga pasir yang berhamburan bekas erupsi puncak Merapi, paling tidak mungkin seperti punggung babi, itu perumpamaan kami menyebutnya.

Team Dhemit Gunung berjibaku memilih pijakan menuruni Tanjakan Geger Celeng

Setelah seratus meter melewati pos 4 tidak ada lagi pepohonan, tidak ada lagi tempat berteduh menghindari sinar matahari yang mungkin terasa teduh tapi menyengat. Perubahan cuaca terasa lebih cepat disini, kabut yang datang dan menghilang dalam hitungan menit membuat tempat ini terasa sangat eksotis dan istimewa. 

Jika kabut sedang menghilang dan tabirnya menyingkap puncak Merapi yang menjulang, maka tempat ini sangat layak untuk membayar semua rasa lelah menempuh rute Babadan. Dengan panorama Merapi dan kakinya di sebelah kanan, sementara punggungan jalur New Selo di sebelah kiri, Tanjakan Geger Celeng yang merupakan ujian terakhir di jalur pendakian gunung Merapi via Babadan ini memang sangat layak untuk dicoba dan ditelusuri.

Sebelum memasuki Pasar Bubrah, tampaknya akan benar-benar menjadi ujian pamungkas dan salam perpisahan dari rute Babadan untuk pendaki yang telah meluangkan waktu mendaki dan menjelajahinya. Lintasan sebelum memasuki Pasar Bubrah ini dipenuhi dengan batuan labil dan juga pasir, sangat perlu diperhatikan untuk mengambil pijakan yang solid untuk melewati lintasan ini, alur zigzag pada rombongan pendaki juga disarankan untuk mengantisipasi jatuhan bebatuan karena injakan pendaki yang berjalan di depan.

Beristirahat di punggungan Tanjakan Geger Celeng yang terbuka 

Akhirnya pendakian gunung Merapi via rute Babadan ini akan finish di sudut Pasar Bubrah, tepatnya di sebuah menara pemancar kecil di pojok bagian kiri. Jika anda telah mencapai tempat ini, maka di sinilah rute pendakian Babadan berakhir, selanjutnya rute tempuh menuju puncak Merapi sama seperti jika melalui jalur Selo.

Dikarenakan Top Base pendakian gunung Merapi hanya sampai Pasar Bubrah saat ini, maka saya pada artikel ini tidak akan menuliskan beberapa jalur dan lintasan lain yang dapat digunakan untuk menuju puncak, selain rute resmi di atas Pasar Bubrah. 

Sangat disarankan kepada para pendaki gunung Merapi, baik itu yang melakukannya via jalur regular New Selo atau pun melalui jalur Babadan, untuk tetap patuh pada aturan dan tata tertib pendakian yang telah ditetapkan. Larangan ke puncak, larangan mendekati kawah, dan lain lain, tidak dibuat tanpa dasar dan pertimbangan, semua itu dibuat semata-mata untuk keselamatan dan kebaikan para pendaki gunung Merapi jua.


CAMP GROUND DAN SUMBER AIR


Seperti yang sudah saya tulis pada uraian di atas, lokasi-lokasi yang bisa dijadikan camp ground juga lokasi potensial didapatkan sumber air pada pendakian gunung Merapi via Babadan ada di beberapa tempat, berikut detailnya.


Camp Ground;
  • Pos 1 Watu Alap Alap, dengan daya tampung puluhan tenda, hutan pinus dan rumput perbukitan yang menghijau menjadi daya tarik tempat ini.
  • Sebuah tempat setelah menara pemancar di atas Watu Alap–Alap, bisa menampung hingga 10 tenda ukuran sedang, daya tarik utama bisa menyaksikan gagahnya puncak Merapi secara utuh saat cuaca cerah.
  • Pos 2 Pematang Dhuwur, mampu menampung sekitar 5 atau 6 tenda, kondisi di bawah kanopi hutan pinus dan akasia
  • Pos 3 Camp Ground Tegal Alang, setelah ditata dengan baik, tempat ini bahkan bisa menampung 50 an tenda ukuran sedang, kontur mirip seperti pelawangan pada gunung Rinjani.
  • Areal Watu Gelar, tidak mudah menemukan tempat yang ideal untuk mendirikan tenda di Watu Gelar, namun dengan sedikit usaha dan ketelitian, tempat ini pun menyediakan beberapa tempat yang indah untuk mendirikan camp. Kelebihan tempat ini adalah keindahan dan juga sumber airnya yang melimpah, tentunya pada musim hujan.
  • Pos 4 Ondho Langit, mampu menampung 7 hingga 10 tenda, juga dibutuhkan kerja keras dan kreatifitas untuk membuat areal mendirikan tenda di tempat ini.

Sumber Mata Air



  • 30 meter di atas lintasan jalur Kali Apu, selepas Pos 2. Mata air di sini adalah merupakan tetesan air yang menetes dari celah celah bebatuan, dibutuhkan kesabaran untuk mengumpulkannya.
  • Di aliran Kali Gesik, posisinya di bagian sebelah kanan arah dinding tebing pada jalur menuju hulu aliran badan Kali. Sama seperti di Kali Apu, sumber air di sini juga merupakan tetesan dari celah bebetuan.
  • Watu Gelar, di sini persediaan air sangat melimpah, utamanya setelah hujan mengguyur. Dengan mudah dapat dijumpai air yang mengalir jernih sepanjang pelataran Watu Gelar. Untuk musim kemarau, kemungkinan adanya air yang tergenang di tempat ini juga besar, akan tetapi mungkin dibutuhkan water filter untuk membersihkannya supaya bisa dikonsumsi.


SKEMA PENDAKIAN 


Melihat dari medannya yang cukup menantang dan melelahkan, kemungkinan besar para pendaki gunung Merapi via jalur Babadan nanti akan memilih jalur New Selo sebagai rute turunnya, jadi mendaki via Babadan, dan turun via Selo, atau bisa juga sebaliknya, naik via Jalur Selo dan turun via Babadan.

Namun akan kurang maksimal dalam menikmati indahnya jalur Babadan jika mendaki via Selo dan turun via Babadan, atau pun sebaliknya. Kesan dan rasa secara lengkap dari pendakian gunung Merapi via Babadan ini akan benar benar terasa jika mendaki via Babadan, dan turunnya pun via Babadan. 

Seperti pada gunung-gunung di pulau Jawa lainnya, yang membutuhkan waktu ideal satu malam dua hari saat mendakinya, maka hal itu pun bisa dilakukan di jalur Babadan ini. 

Dikarenakan pendakian malam hari dilarang, maka waktu terbaik mulai mendakinya adalah pagi hari atau siang hari, kemudian menginap di Tegal Alang untuk kemudian melanjutkan ke Pasar Bubrah pada keesokan harinya, dan kemudian turun kembali ke Tegal Alang dan kampung Babadan.


TABEL PERJALANAN
No
Rute
Prediksi Jarak Tempuh
Prediksi Waktu Tempuh
Prediksi Biaya
( Rp, )
Keterangan
1
Terminal Kota Muntilan – Pasar Talun
7 – 8 Km
15 – 20 menit
3.500 – 5.000
Naik angkot atau kopata
2
Pasar Talun – Pasar Soko
1 KM
5 menit
5.000
Via Ojek
3
Pasar Soko – Kampung Babadan Satu
10 Km
20 – 25 menit
20.000
Via Ojek
ATAU RUTE LANGSUNG
1
Terminal Kota Muntilan – Pasar Talun
7 – 8 Km
15 – 20 menit
3.500 – 5.000
Naik angkot atau kopata
4
Pasar Talun – Kampung Babadan Satu
11 KM
30 Menit
25.000
Via Ojek


TABEL PENDAKIAN
No
Rute
Prediksi Jarak Tempuh
Prediksi Waktu
Keterangan
1
Basecamp Kampung Babadan Satu – Pos 1 Watu Alap Alap
2 – 3 KM
1 jam – 1,5 jam
Trekking, atau juga dapat menggunakan jasa ojek dengan biaya Rp, 15.000
2
Pos 1 Watu Alap Alap – Lembah Pelana Kuda
500 meter
15 menit
Trekking, medan menanjak
3
Lembah Pelana Kuda – Pos 2 Pematang Dhuwur
1 KM
30 menit
Trekking, medan variatif
4
Pos 2 Pematang Dhuwur – Kali Apu
500 – 750 meter
15 – 20 menit
Trekking, medan terbuka
5
Kali Apu – Kali Gesik
2 KM
30 menit
Trekking, melipir sisi jurang
6
Kali Gesik – Pos 3 Tegal Alang
2 KM
30 – 45 menit
Jalur masih dalam persiapan
7
Pos 3 Tegal Alang – Watu Gelar
3 km
1,5 – 2 jam
Trekking medan menajak tajam
8
Watu Gelar – Pos 4 Jurang Dhemit
1 Km
30 – 45 Menit
Medan menanjak dan licin jika basah
9
Pos 4 Jurang Dhemit – Top Base Pasar Bubrah
1 Km – 1,5km
45 menit – 1 jam
Medan menanjak panjang melewati tanjakan Geger Celeng
ATAU RUTE LANGSUNG
1
Kali Gesik – Watu Gelar
3 Km
1,5 – 2 jam
Medan menanjak panjang
8
Watu Gelar – Pos 4 Jurang Dhemit
1 Km
30 – 45 Menit
Medan menanjak dan licin jika basah
9
Pos 4 Jurang Dhemit – Top Base Pasar Bubrah
1 Km – 1,5km
45 menit – 1 jam
Medan menanjak panjang melewati tanjakan Geger Celeng


PETA RUTE PENDAKIAN

Peta Rute dan Jalur pendakian gunung Merapi via Babadan



PERINGATAN DAN PERHATIAN !!!

  • BASECAMP PENDAKIAN BABADAN ADALAH DI KAMPUNG BABADAN SATU, BUKAN POS PENGAMATAN GUNUNG MERAPI BABADAN.
  • JALUR MENUJU KAMPUNG BABADAN SATU ADALAH SIMPANG PASAR SOKO.
  • JALUR PENDAKIAN BABADAN SEMENTARA STATUSNYA BELUM RESMI, JADI JIKA ADA YANG MENDAKI SEBELUM STATUSNYA DIRESMIKAN, MAKA SEGALA RESIKO BERKENAAN DENGAN PENDAKIAN DI JALUR INI, DITANGGUNG SENDIRI OLEH PENDAKI.
  • DILARANG MELAKUKAN PENDAKIAN MALAM HARI DAN JUGA SECARA SOLO.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai pendakian gunung Merapi via jalur Babadan, juga kemungkinan jasa guide dan porter untuk pendakian, dapat menghubungi basecamp Dhemit Gunung Indonesia kota Muntilan dengan alamat :


DHEMIT GUNUNG INDONESIA
Jl. Muntilan Talun, Km. 02, Persis Depan Pertigaan Sedayu. Kota Muntilan, Magelang, Jawa Tengah.
Telp / Wa : 081393907987 – 081804090501 – 085642032259
Email : Dhemitgunungindonesia@gmail.com Facebook Page : Dhemit Gunung Indonesia
Blog : dhemitgunung.blogspot.co.id



Dapatkan buku-buku petualangan dan pendakian gunung terbaik hanya di IG:arcopodostore atau WA di nomor: 081254355648









3 comments:

  1. duh pengen daki ke merapi tuh keingetan waktu meletus 2010 lalu ':D

    ReplyDelete
  2. Sangat layak utk dicoba ini..

    Masih menunggu jalurnya diresmikan dulu

    ReplyDelete

Tulisan Terbaru

PEMUNCAKAN DAN TRAGEDI DI GUNUNG PALING SULIT DI DUNIA

Gunung K2 yang merupakan gunung tertinggi ke-2 di dunia dan merupakan satu-satunya gunung 8.000 meter yang belum tersentuh puncaknya pa...