Sunday, 18 September 2016

POTENSI JENIS PENDAKIAN GAYA BARU DARI SISI BARAT MERAPI






Bangkitnya dua jalur silam

Ketika saya menelisik jalur pendakian kuno gunung Merapi dari kampung Babadan sekitar tiga minggu lalu, saya sempat membaca sebuah potensi pendakian dengan gaya yang berbeda dan mungkin akan menjadi satu – satunya, yang juga memiliki kans untuk populer yang dapat dilakukan dari sini.

Seperti kita ketahui bersama, gunung Merapi mungkin menjadi satu satunya gunung yang paling terkenal di seantero Nusantara, bukan karena ketinggiannya, bukan pula karena keindahannya, namun karena keganasannya yang seringkali memuntahkan amarah dalam kurun waktu tertentu. Meskipun demikian, minat para peziarah, petualang, dan pendaki gunung tidak pernah berkurang untuk mengunjungi puncak yang dianggap keramat oleh sebagian kalangan ini, setiap tahun, terhitung puluhan ribu pendaki yang berusaha menjejakkan kakinya di puncak Merapi.

Selama ini, seperti yang kita ketahui bersama pula, satu satunya akses rute resmi untuk mencapai puncak Merapi hanyalah melalu New Selo, sebuah rute terpendek dan tercepat menuju puncak Merapi dari kabupaten Boyolali. Jalur pendakian Kinah Rejo yang dulu populer dari arah teritori Daerah Istimewa Yogyakarta, hangus dan hancur tak bersisa disapu erupsi mematikan gunung Merapi pada tahun 2010 silam, bahkan dalam tragedi ini, salah satu ikon tokoh dari gunung Merapi yang familiar, yaitu mbah Maridjan, pun ikut menjadi korban.

Sementara dua jalur lain yang juga sempat populer dalam pendakian gunung Merapi, yaitu jalur sisi timur dari Klaten, dan jalur Babadan dari sisi barat, juga sudah lama tidak digunakan lagi, dan semua ini memiliki alasan penutupan yang sama, tersapu oleh erupsi Merapi yang ganas.

Dan sekarang, ada sebuah harapan yang kian bersinar, bahwa kedua jalur kuno ini akan dibuka kembali, baik itu jalur sisi timur di Klaten, maupun jalur sisi barat dari Babadan, Magelang. Untuk jalur dari sisi timur sendiri saya belum bisa banyak bercerita, namun menurut informasi terakhir yang saya dapatkan, kemungkinan besar beberapa waktu ke depan rute ini akan segera dibuka, dan saat ini sedang pada proses persiapan.

Sementara untuk jalur pendakian sisi barat, yaitu melalui kampung Babadan, Magelang, Insya Allah saya dapat bercerita lebih banyak. 

Yang membuat saya bisa bercerita lebih banyak mengenai rute pendakian sisi barat ini adalah karena saya secara pribadi ikut aktif dalam proses persiapan pembukaannya. Ada beberapa hal yang kami lakukan guna berupaya membuka kembali jalur dari Babadan ini, mulai dari penelusuran jejak lama, mapping sederhana, penandaan rute, hingga pun kepada menetapkan beberapa lokasi yang rencana kedepannya akan dijadikan pos atau pun shelter.

Saya sendiri sudah dua kali mencoba jalur sisi barat yang legendaries  ini, pertama saya melakukannya secara solo, berbekal hanya rasa penasaran dan sedikit cerita dari masyarakat setempat, perjalanan ini berakhir hanya sekitar tiga atau empat kilometer selepas dari kampung Babadan. Saya menyebut tempat saya memutar langkah untuk kembali saat itu sebagai Lembah Pelana Kuda, sebuah lembah yang dijepit dua punggungan menghadap langsung ke arah sosok merapi yang perkasa.

Barulah kemudian pada perjalanan kedua yang saya lakukan bersama tim solid Dhemit Gunung Campala Corps kota Muntilan, kami bisa mencapai mungkin hampir 75% rute, menurut perhitungan saya ketika itu, dibutuhkan sekitar satu sampai satu setengah jam lagi untuk mencapai pasar Bubrah, namun waktu yang sedikit memaksa kami untuk segera bertolak pulang kembali ke kampung Babadan.

Gunung Merapi dilihat dari puncak Triangulasi Merbabu


Sinar dari balik petaka

Kemudian pada perjalanan yang kedua ini pulalah saya melihat secercah harapan untuk bisa mencoba, atau di kemudian hari, lebih tepatnya mungkin berupaya memperkenalkan, mempublikasikan kepada khalayak pendaki gunung Indonesia tentang sebuah gaya baru yang bisa kita lakukan pada jalur sisi barat pendakian gunung Merapi ini.

Pada beberapa wilayah, khususnya negara, mungkin saja jenis pendakian ini sudah lebih lama dikenal dan dilakukan, namun di Indonesia, sepengetahuan saya hal ini belum begitu dikenal, apatah lagi populer untuk dilakukan. Mungkin hanya ada beberapa orang saja di Nusantara yang telah akrab dengan jenis pendakian model ini.

Yang saya maksud jenis pendakian gaya baru yang bisa kita coba lakukan di sisi barat gunung Merapi adalah pendakian yang dilakukan melalui bekas jalur aliran lahar dingin. Jadi simplenya hal ini seperti extreme sport Canyoning, namun tanpa ada adegan lompatan lompatan dalam air. Saya pernah membaca bahwa hal ini pernah marak dilakukan dalam pendakian gunung di Jepang, yaitu mendaki puncak gunung melalui jalur sungai atau aliran airnya, alih alih melintasi punggungan – punggungan gunung yang indah dengan view yang luas.

Saya lupa apa sebutan trend untuk jenis pendakian semacam ini, namun yang jelas gaya ini memiliki hubungan yang kuat dengan type Canyoning, Scrambling, dan juga Rock Climbing sekaligus.

Pada rute sisi barat gunung Merapi dari jalur Babadan, saya melihat setidaknya ada empat jalur yang bisa dilakukan untuk menjajal model pendakian gunung gaya ini. Dua merupakan rute aliran lahar dingin yang cukup besar, kaya dengan batuan batuan besar, pasir, dinding vertical, dan juga tebing tebing cadas. Sementara dua rute lainnya merupakan jenis bekas jejak aliran air hujan yang tidak kalah menantang, batu besar, jalur yang licin, permukaan permukaan yang sulit dijamah, menjadi jenis challenge tersendiri untuk dicoba dan dilakukan.

Diantara keempat rute tersebut ada satu rute yang paling berpotensi untuk diexplore sebagai jalur pendakian model ini, pada lintasan jalur Babadan normal saya menyebutnya sebagai Sungai Gesik atau Kali Gesik. 

Kali Gesik merupakan sebuah jalur aliran lahar dingin raksasa, jika sedang dipenuhi air lumpur bercampur pasir dan batuan, tempat ini akan menjadi sangat mengerikan, dengan kekuatan energi luncuran yang mampu menghancurkan segala sesuatu dihadapannya, juga dentuman batuan beradu yang menciutkan nyali. 

Namun jika sedang kosong dari aliran lahar dingin, tempat ini sangat memukau, guratan guratan alam dalam bebatuan dan hamparan pasirnya sangat mempesona, dan sangat menarik untuk dijelajahi.

Lebar Kali Gesik pada beberapa tempat memiliki bentang hingga dua puluh meteran, tinggi dinding cadas kiri dan kanan pada beberapa bagian pun demikian, bahkan pada beberapa lokasi bisa menjadi lebih tinggi lagi. Batu batuan yang berukuran super besar berhamburan sepanjang aliran Kali ini, belum lagi dibeberapa tempat dinding vertical menghadang langkah, dan membutuhkan teknik dan keterampilan khusus untuk dapat melewatinya.

Kemudian jika dilihat dari citra google earth, tampak sekali jalur dari sungai gesik ini akan langsung menuju puncak Merapi, dan jelas ini merupakan sebuah tantangan tersendiri untuk dapat menyusurinya hingga tuntas.

Kali Gesik adalah jalur aliran lahar yang paling berpotensi untuk diexplore pada model pendakian ini dari sisi barat diantara keempat potensi jalur sejenis yang ada. 

Jadi dari sisi barat Merapi, muncul sinar harapan untuk melakukan jenis pendakian gunung dengan model yang berbeda, yang bisa kita lakukan dengan menjejaki bekas aliran petaka sebuah keganasan gunung Merapi yang tak pernah ingkar janji.

Saya pikir, ini akan menjadi sesuatu yang sangat menarik untuk dilakukan.

Ngarai Kali Gesik berpotensi sebagai jalur pendakian baru


Resiko dan namanya

Tentu memilih sebuah jenis olahraga apapun mengandung resiko, tinggal besar kecilnya saja. Dan mendaki gunung, hiking, juga mengandung resiko yang tentu saja tidak dapat dipandang enteng, ada beragam resiko dan bahaya potensial yang mengintai setiap pendaki gunung.

Dan sekarang jika siapapun diantara kita yang memutuskan untuk mencoba jenis pendakian Ngarai Lahar ini nantinya di gunung Merapi, tentu saja juga sudah harus memperhitungkan dengan matang segala bentuk resiko dan juga konsekwensinya.

Hiking di punggungan pun sudah memiliki resiko yang bisa fatal jika tidak diprepare dengan serius, apatah lagi nanti di Ngarai Lahar Kali Gesik ini, batu batu cadas, dinding dinding terjal, pasir dan air yang bisa menghambur tiba tiba jika terjadi hujan di puncak, merupakan seperangkat resiko pasti yang diwajibkan kita untuk mempersiapkan diri menghadapinya.

Jadi jika nanti jalur sisi barat gunung Merapi melalui kampung Babadan ini telah sungguh sungguh diresmikan, kita harus benar benar mempertimbangkan dengan cermat untuk memilih jalur ngarai lahar Kali Gesik sebagai rute naik, saya sungguh yakin nantinya akan ada sosok sosok penasaran dengan jiwa petualangan yang membuncah yang akan berani memilih rute Kali Gesik ini sebagai jalurnya menuju puncak Merapi, dan sebelum hal itu terjadi, saya harapkan siapapun sosok itu nantinya, sudah faham dan mengerti akan apa yang akan dihadapinya.

Selalu ada resiko dalam setiap jenis petualangan yang dipilih

Untuk nama pendakian model ini, yang mendaki melalui ngarai lahar, saya sendiri belum menemukan istilah yang tepat, pada beberapa tulisan sebelumnya saya sempat menyebutnya dengan istilah Chasm Hike, namun saya kira itu bukan sebutan yang paling tepat.

Apapun sebutannya nanti, apapun istilah yang akan dipakai, yang jelas sisi barat pendakian gunung Merapi dari kampung Babadan akan menawarkan nuansa mendaki Merapi tersendiri yang berbeda dan tidak akan pernah anda temukan di jalur lainnya, salah satunya ya ini, mendaki melalui ngarai cadas aliran lahar dingin..

Semoga anda mau mencobanya…




Salam.


No comments:

Post a Comment

Tulisan Terbaru

PEMUNCAKAN DAN TRAGEDI DI GUNUNG PALING SULIT DI DUNIA

Gunung K2 yang merupakan gunung tertinggi ke-2 di dunia dan merupakan satu-satunya gunung 8.000 meter yang belum tersentuh puncaknya pa...