Sunday, 4 September 2016

MERAPI RUTE BABADAN, SURGA DALAM EKSOTISME YANG TERLUPAKAN







Rute yang terlupakan

Salah satu sahabat pernah berujar mengenai jalur Babadan gunung Merapi ini ;

“…untuk mencapai puncak gunung Merapi, para pelancong dan pendaki gunung umumnya akan memilih rute New Selo, namun para petualang yang sesungguhnya, mereka akan memilih rute Babadan…”

Dan ternyata itu benar juga,

Sekitar satu bulan yang lalu saya pernah mengunjungi rute Babadan ini seorang diri, karena kurangnya kesiapan dan pengetahuan maka acara solo hiking ini hanya terhenti sekitar tiga atau empat kilometer saja selepas pos Pengamatan Gunung Merapi Babadan, saya memutar langkah untuk kembali sebelum azan sholat Jum’at berkumandang dari masjid masjid di kaki gunung teraktif di dunia ini.

Dan kemarin saya berkesempatan lagi untuk menapak tilas jalur silam pendakian Merapi via Babadan ini, dan kali ini saya tidak sendiri.

Bersama teman teman pendaki yang tergabung dalam Dhemit Gunung kota Muntilan saya kembali menyusuri tapak demi tapak rute kuno Babadan, dan jika ditanya bagaimana kesan yang saya peroleh setelah melakukan hiking ini, maka jawaban saya adalah,  fantantis !.

Rute babadan adalah sebuah rute pendakian gunung Merapi yang spektakuler dengan keindahan dan eksotisme alam berkali lipat lebih indah dari jalur New Selo. Perbandingan ini tidak hanya dari bentang alam dan panorama selama perjalanan saja, namun juga termasuk jarak tempuh yang lebih jauh, alur track yang lebih gila, tantangan yang membutuhkan lebih banyak nyali, hingga kepada lintasan lintasan spektekuler yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya.

Saya memiliki analogi sendiri dalam membandingkan rute pendakian gunung Merapi via New Selo dan Babadan.

Analoginya begini ; jika gunung Merapi kita anggap sebagai sebuah tiang atau tembok, maka melaui New Selo kita seolah telah disuguhi tangga hingga tanpa bersusah payah sudah bisa langsung mencapai hampir pinggang gunung setelah memarkir kendaraan di basecamp New Selo. Namun melalui Babadan tidak ada tangga disana, kita harus berjalan kaki membelah jalur yang sebagian sudah tertutup rerumputan dan semak belukar untuk mencapai kaki gunung dan mulai mendakinya.

Jadi secara sederhana, kesimpulannya adalah mendaki Merapi via jalur Babadan memiliki tingkat kesulitan yang lebih tinggi dibandingkan via New Selo, namun dalam kesulitan itu sekaligus memiliki pesona dan charming yang lebih eksotis, yang lebih memukau, dan lebih memanjakan mata dan pikiran.

Pada mulanya, rute Babadan merupakan sebuah rute resmi pendakian gunung Merapi, namun sekitar 15 atau 13 tahun lalu saat Merapi menyemburkan awan panas juga wedus gembel yang membuat hangus babadan dan sekitarnya, rute ini ditutup dan jarang sekali dilewati, kecuali untuk akses penduduk yang mencari buah mandingan gunung, sejenis buah mirip buah petai yang tumbuh pada punggungan punggungan tinggi gunung Merapi.

Dengan segala misteri yang menyelimutinya, sepinya minat peziarah untuk menguaknya kembali, maka jalur Babadan seolah menjadi terlupakan. Tak banyak yang ingin menyambangi surga tersembunyi ini, selimut kabut yang sering menutupi lintasannya, ditambah dengan pokok pokok batang pinus mati yang seakan menjadi prasasti keganasan Erupsi Merapi, ditambah lagi dengan banyaknya cerita mistis dan kegaiban yang menghiasi setiap lembahnya, semuanya menjadi cover yang sempurna untuk menutupi bahwa jalur ini sesungguhnya adalah surga yang sangat mempesona.

Lembah Sungai Gesik di Jalur Pendakian Merapi via Babadan


Dhemit di sarang siluman.

Ini adalah tulisan perdana saya secara resmi di blog www.arcopodojournal.com tentang Babadan Merapi, sebelumnya saya pernah memposting sebuah status di facebook mengenai ini. 

Dan pada kesempatan tulisan pertama mengenai Babadan Merapi di blog ini, saya tidak akan membahas detail mengenai jalur dan lintasan, prediksi waktu dan jarak tempuh, akses permit, lokasi sumber air, camp ground yang sempurna, serta akses dan informasi konkret lainnya. Tulisan ini hanya sebagai pembuka saja tentang betapa indah dan menariknya pendakian Merapi via jalur Babadan.

Ada beberapa alasan mengapa belum saatnya publikasi secara detail saya lakukan, dan alasan yang paling mendasar adalah karena ini merupakan jalur yang sedang dipersiapkan oleh teman teman dari Dhemit Gunung kota Muntilan bekerjasama dengan otoritas kampung Babadan, bekerjasama juga dengan dinas pariwitasa dan budaya, yang tersinkronisasi dengan banyak element terkait, yang memperjuangkan supaya jalur kuno ini bisa dibuka kembali dengan statusnya yang resmi.

Saya belum lama mengenal secara dekat team Dhemit Gunung ini, namun beberapa hal dari mereka harus saya akui, membuat saya kagum dan angkat topi secara respect.

Ada banyak hal yang seharusnya membuat kita menaruh respect dengan sepak terjang mereka ini, tujuan dan upaya mereka yang mulia untuk ikut andil dalam memajukan perekonian warga Babadan melalui geliat wisata pendakian gunung, tentu ini merupakan sebuah langkah yang stategis dan berani, mengingat tidak semua juga warga kampung Babadan yang mendukung dibukanya jalur kuno tersebut, belum lagi dengan urusan birokrasi yang akan membuat sakit kepala dalam setiap prosesnya.

Saya bukan anggota team Dhemit Gunung, saya orang luar, petualang, suka naik gunung, dan kebetulan juga penulis lepas. Namun ada beberapa hal yang Insya Allah bisa saya share dari perkumpulan Dhemit Gunung yang sederhana ini, yang tidak saya temui pada beberapa perkumpulan lainnya.

Dalam perkumpulan Dhemit Gunung kita tidak akan banyak menemui pajangan peralatan komplit dengan gear bermerek dan harga selangit, beberapa anggotanya bahkan kadang mendaki dengan sandal jepit dan bertelanjang kaki. Kita tidak akan menemukan carrier branded seharga jutaan, tenda terbaru dengan teknologi paling mutakhir, atau alas kaki berkilat dari negara Eropa atau Amerika. 

Jika kita mencari benda dan gear bermerek, seperti apa yang telah banyak seolah menjadi patokan petualang dan pendaki gunung di Indonesia sekarang ini, saya katakan kita tidak akan menemukannya di perkumpulan Dhemit Gunung. Namun jika kita mencari persaudaraan yang tulus, kekeluargaan yang erat, dan keanggotaan yang solid serta militant, yang memiliki mental juang tangguh, mungkin tampaknya kita perlu belajar dari perkumpulan ini.

Bahkan pengertian Dhemit Gunung memiliki sebuah filosofi tersendiri yang erat kaitannya dengan makrifat kepada Allah SWT, saya tidak tahu apakah hal ini benar benar mereka ilhami dari setiap langkah dan perjalanan mereka, ataukah hanya sebuah pilihan kata yang memiliki perpanjangan kalimat dalam kata singkat mengandung sensasi…? Saya tidak tahu..

Secara harfiah dalam bahasa Jawa, Dhemit memiliki makna hantu, siluman, memedi, atau yang lain sejenisnya. 

Jadi ketika mereka mengajak saya untuk ikut menapak jalur silam Babadan yang memang terkenal banyak kisah mistis dan keangkerannya, saya tak ragu sama sekali untuk berkata bahwa ini akan menjadi hal yang menarik, sebuah perkumpulan pendaki yang bernama Dhemit di medan yang dikenal penuh misteri, ini akan seperti Dhemit di sarang siluman, cukup menarik untuk ditulis dan didengar.

Team Dhemit Gunung kota Muntilan di Watu Alap Alap, berbeda dengan namanya team ini sebenarnya jauh dari kesan menyeramkan


Perjalanan Nama Nama

Karena ini adalah perjalanan pertama, maka tentu saja sepanjang lintasan merupakan tempat yang asing dan otomatis  belum memiliki nama, belum ada pos dan shelter, jadi perjalanan kemarin saya bersama team Dhemit Gunung menjadi sebuah perjalanan yang juga para anggota diberi kesempatan untuk menyumbangkan ide mengenai nama sebuah tempat dan lokasi.

Jika jalur Babadan nanti resmi telah di buka, maka akan ditemui nama nama seperti Watu Alap – Alap, Simpang Manjian, Lembah Pelana Kuda, Kali Apu, Krekep, Pematang Dhuwur, Sungai Gesik ( pasir ),  dan lain lain.

Setiap tempat yang beri nama merupakan sebuah tempat yang memiliki karakteristik dan keunikan masing masing, atau merupakan sebuah shelter untuk pemberhentian perjalanan. 

Misalnya Watu Alap Alap merupakan sebuah tempat indah berupa lembah yang terbentang diantara hutan pinus dan padang rumput, dibelakangnye berlatar dinding dinding batu putih yang indah. Sementara Lembah Pelana Kuda adalah sebuah punggungan rendah dengan kiri kanan jurang, serta depan belakang punggungan yang lebih tinggi sehinga mirip seperti kontur pelana kuda.

Sementara itu Sungai Gesik adalah sebuah kali raksasa yang menganga berisi pasir dan batuan bekas muntahan puncak Merapi, lebar sungai pasir mencapai 20 meter di beberapa tempat, dan tinggi dindingnya bisa mencapai 10 – 15 meter pula, dan tempat ini menjadi tempat yang paling sering diselimuti kabut, membuat jarak pandang tersisa hanya beberapa meteran saja jadinya.

Sementara itu Krekep menjadi sebuah harta karun dalam pendakian Gunung Merapi via Babadan karena disinilah kita bisa menjumpai beberapa kolam kecil sisa air hujan yang tertampung dalam celah bebatuan, kita tahu bahwa Merapi terkenal dengan gunung Kering yang sama sekali tak memiliki sumber air sepanjang lintasan di rute New Selo, namun di Babadan ini memiliki cerita yang berbeda, ada beberapa tempat yang telah teridentifikasi memiliki potensi sumber air, khususnya untuk kondisi kondisi survival atau kritis.

Dilain tempat dan etape, antara Kali Apu dan Sungai Gesik kita akan melalui sebuah lintasan yang cukup eksotis mulai dari melipir jurang, memasuki celah batuan, hingga kepada mendapati dalam hutan yang teduh dan rimbun. 

Hampir setengah etape rute Babadan adalah melipir sisi jurang yang sangat indah


Bersiaplah..

Pada akhir tulisan perdana mengenai Babadan ini saya hanya ingin menyampaikan kepada pada pendaki sekalian, bersiaplah untuk menyambut kembali Rute Babadan. Insya Allah sebulan kedepan jalur ini sudah bisa dibuka untuk umum, dan itu artinya eksotisme dan sisi lain gunung Merapi akan segera bisa anda jelajahi.



Salam.




No comments:

Post a comment

Tulisan Terbaru

PEMUNCAKAN DAN TRAGEDI DI GUNUNG PALING SULIT DI DUNIA

Gunung K2 yang merupakan gunung tertinggi ke-2 di dunia dan merupakan satu-satunya gunung 8.000 meter yang belum tersentuh puncaknya pa...