Wednesday, 7 September 2016

BABADAN DAN NGARAI BERKABUT DARI LERENG MERAPI







Jalur Piknik Dari New Selo

Dalam upaya menziarahi kembali jalur pendakian gunung Merapi via kampung Babadan pada hari Minggu lalu, banyak sekali kami, secara pribadi saya khususnya menemukan hal hal yang baru dan menarik sepanjang trek pendakian ini. 

Berbeda 180 derajat dengan mendaki Merapi via New Selo, ternyata rute Babadan menyimpan begitu banyak pesona yang membuat saya kaget, kagum, dan juga senang. 

Hampir semua pendaki yang mendatangi puncak gunung Merapi pada sepuluh tahun terakhir ini kurang lebih, pasti mendakinya melalui jalur New Selo, sebuah jalur tol menuju Pasar Bubrah dan puncak gunung Merapi. Memang sebagaimana kita ketahui bersama, bahwa New Selo adalah satu satunya jalur pendakian gunung Merapi yang resmi saat ini, sekaligus juga sebagai rute yang paling singkat dan tercepat, untuk pendaki yang sudah terbiasa turun naik gunung, mungkin hanya dibutuhkan dua hingga tiga jam saja untuk bisa tiba di pasar Bubrah dan mulai mendirikan tenda. Sedangkan para pendaki pemula pun tidak menemukan banyak kesulitan mencoba jalur ini, akses, rute, shelter, dan segala faktor penunjang lainnya telah ada disini, bahkan sekitar dua bulan lalu sebuah pondok wisata di atas pos New Selo baru saja didirikan dan telah dikunjungi ratusan pelancong.

Pondok wisata yang diberi nama omah bamboo New Selo ini dibuat hampir seratus persen menggunakan material dasar bambu, dengan berbagai ornament dan kelengkapan yang cantik, tempat ini telah menjadi salah satu magnet kuat bagi para pelancong untuk mengunjungi kaki gunung Merapi. Pondok pondok untuk rest area, dua menara untuk selfie ( selfie mungkin telah menjadi semacam kebutuhan pokok dewasa ini, dan ini dibaca dengan baik oleh pengelola omah bamboo ), sebuah café kecil, didesain sedemikian rupa untuk memanjakan para pengunjung sekaligus memuaskan dahaga narsisme mereka, berlatar badan Merapi yang kokoh, dengan panorama Merbabu yang mempesona, sungguh tempat ini sangat menggoda untuk didatangi oleh siapa saja.

Kondisi New Selo yang sudah sedemikian ramai dengan predikat sebagai trek yang mudah untuk mencapai puncak Merapi, ditambah lagi dengan kehadiran tempat wisata Omah Bamboo yang pengunjungnya membludak dari hari ke hari, semakin memantapkan citra bahwa jalur pendakian gunung Merapi via New Selo adalah jalur milik hampir semua jenis orang, baik ia pendaki atau bukan, baik ia petualang atau bukan, baik ia sungguh sungguh merindukan menyatu dengan alam, atau ia yang hanya menginginkan ikut dalam laju paradigma pergaulan zaman.

Dengan kata lain saya mungkin harus menyampaikan bahwa jalur pendakian gunung Merapi via New Selo semakin jauh dari unsur unsur dan nilai petualangannya, dan semakin jauh juga dari kriteria sebagai tempat yang dapat membantu mengasah jiwa para pendaki yang semestinya memang menyukai tantangan, keheningan, dan menyatunya jiwa dan alam dalam sebuah langkah di alam bebas. Keramaian, keriuhan, hiruk pikuk, dan trek yang terlampau mudah menjadikan pendakian gunung Merapi via New Selo tak banyak berbeda seperti perjalanan wisata dan piknik semata, nilai nilai petualangan sudah tidak mudah lagi ditemukan didalamnya.

Melihat puncak Merapi yang menjulang dari lembah Pelana Kuda jalur Babadan 


Menara di Jantung Pulau Jawa

Jika saja gunung Merapi ini berdiri di ujung Aceh sana, atau dipedalaman Kalimantan sana, atau di belantara Papua sana, atau jauh di tengah tengah pulau Maluku sana, maka jalur New Selonya, atau jalur pendakiannya yang seperti New Selo bukanlah menjadi sesuatu yang dapat membuat kita gelisah. Karena lokasinya sendiri yang berada di Aceh, atau ada di Papua, atau ada di Kalimantan merupakan sebuah tantangan tersendiri untuk mendatanginya, yang tentu tidak semua orang memiliki kesempatan dan kemampuan untuk mengunjunginya.

Namun kita tahu gunung Merapi yang juga menyandang gelar sebagai gunung teraktif di dunia tidaklah berada di Kalimantan, di Papua, di Aceh, atau pun di Maluku, gunung yang kadang kadang berubah menjadi pemarah ini ada di jantung pulau Jawa, ada di jantung pulau yang memiliki kepadatan penduduk paling tinggi di seantero Indonesia, memiliki jumlah kunjungan yang selalu tinggi dari hari ke hari. 

Ini sebenarnya menjadi semacam kebutuhan para pendaki yang memang mencari keheningan dan tantangan, saya juga pernah menuliskan tema terkait dalam sebuah bahasan yang menyebutkan mengapa banyak para pendaki gunung yang menganut faham gaya lama berangsur angsur meninggalkan Everest karena kekecewaan mereka akan kondisinya sekarang yang lebih menonjol dari sisi komersialisme, mengesampingkan banyak unsur lain, yang hal tersebut dipandang sebagai sebuah ketidaknyamanan oleh para pendaki gunung gaya lama, yang lebih banyak mengedepankan unsur adventure, misterius, tantangan, serta keterasingan.

Dan hal ini juga terbaca dalam kancah dunia petualangan tanah air, khususnya dalam dunia pendakian gunung Indonesia. Beberapa waktu terakhir semenjak geliat back to nature yang seolah menjadi pandemic dan wabah pada sebagian style anak muda Indonesia, ada sebagian orang orang yang merasa hal ini tidak saja berdampak baik, namun juga seperti dua sisi mata uang, juga memiliki dampak yang kurang menyenangkan pada sisi lainnya. 

Semeru yang telah berubah menjadi pasar setiap akhir pekan, Rinjani yang telah berubah menjadi antrian panjang di jalur jalurnya, Merapi yang telah membludak, Merbabu yang telah menjadi arena narsisme, Kerinci yang telah menjelma lokasi wisata biasa, dan banyak gunung lain juga yang mengalami hal serupa, pada kenyataannya hal ini juga menimbulkan kekecewaan mendalam pada sebagian besar pendaki. Kekecewaan ini juga yang akhirnya melecut rasa nelangsa juga kehilangan akan rumah dan tempat bermain mereka selama ini.

Didasari oleh rasa kehilangan itulah yang kemudian membuat orang orang ini mencari tempat tempat bermain baru yang masih mewakili gaya yang mereka dambakan, penuh tantangan, misterius, juga terasing dan jauh dari hiruk pikuk kebisingan. Sehingga kemudian banyak yang mulai mengumpulkan uang untuk bisa menziarahi puncak Binaiya di jantung pulau Maluku, Bukit Raya di jantung pulau Kalimantan, Latimojong di jantung pulau Sulawesi, serta tempat tempat dan puncak tersembunyi lagi yang jauh lainnya. 

Sedangkan untuk pengobat hati di menara menara pulau Jawa, hadir juga beberapa jalur baru yang harapannya dapat menjadi pelipur lara untuk para petualang, pendaki gunung, dan peziarah yang masih mencari keheningan alam raya ini. Seperti Merbabu yang membuka diri dengan jalur Grendennya yang menjadi rute paling berat saat ini, kemudian Raung yang notabene sebagai gunung paling sulit didaki di pulau Jawa, juga mulai ramai kedatangan pendaki, serta gunung gunung di pulau Jawa lain yang mulai juga ramai bermunculan jalur jalur baru yang diklaim lebih sulit, lebih ekstrem, dan lebih menantang untuk disambangi.

Ngarai berkabut di jalur Babadan 


Jawaban Dari Lereng Merapi

Bagi para pendaki di pulau Jawa yang memiliki kantong tebal dan financial mapan mungkin tak mengalami kesulitan untuk memilih destinasi medan pendakian luar pulau yang mereka suka, mereka dapat dengan mudah mengepak ransel dan melangkah menuju Leuser, mereka dapat dengan mudah pula melipat sleeping bag dan mulai memesan tiket menuju Carstenz Pyramid dan Puncak Jaya Wiyaya, dan mereka sama sekali tak menemui kesulitan saat membereskan seperangkat cooking set kemudian melangkahkan menuju pesawat terbang yang akan mengudara menuju pulau Maluku.

Namun bagaimana dengan para pendaki gunung dan peziarah di pulau Jawa yang belum memiliki kemapanan seperti itu, akankah mereka hanya bisa diam dalam kecewa, memendam keinginan untuk menjelajah puncak puncak tinggi Nusantara, memendam kekecewaan karena Merapi telah terlampau ramai, Merbabu terlampaui berisik, Gede Pangrango terlalu kisruh, Lawu yang terlampau hingar bingar, hingga kepada Slamet, Sumbing, Sindoro, dan Semeru yang telah menjelma menjadi arena bermain  alias play ground untuk semua orang.

Untuk alasan demikianlah saya pikir, kita perlu menemukan jalur jalur baru pendakian gunung yang ada diseantero pulau Jawa, sebuah jalur yang fresh, yang segar, yang masih sepi, yang masih memiliki banyak nilai misterius, yang memiliki beragam macam tantangan, dan yang juga terasing dari hiruk pikuk para pelancong.
Dengan hadirnya jalur jalur baru tersebut kita harapkan para pendaki gunung yang masih menjunjung tinggi hakikat pendakian gaya lama, tetap memiliki tempat untuk menjadikan mereka senantiasa segar, keinginan mereka tersalurkan, harapan mereka mendaki dengan segala unsur pendukung yang penuh tantangan tetap bisa dilakukan, tanpa harus keluar dari pulau Jawa ini.

Saya telah menyusuri rute Grenden, jalur terbaru gunung Merbabu yang digadang gadang sebagai yang terberat diantara lainnya, saya menyusuri Grenden saat bulan Ramadhan kemarin bahkan ketika jalur tesebut belum dibuka untuk umum. Kemudian kemarin saya bersama teman teman dari group Campala Dhemit Gunung kota Muntilan juga berkesempatan menelisik kembali jalur kuno Merapi via Babadan, dan saya kira, juga saya yakin ini adalah jawaban yang disodorkan Merapi untuk para pecinta sejatinya yang dilanda gulana lantaran rute New Selo yang sudah terlalu penuh hiruk pikuk.

Pendakian gunung Merapi dari jalur Babadan adalah sebuah jawaban terhadap keresahan dan kegelisahan pada pendaki yang masih mengharapkan Merapi dapat dikunjungi seperti dulu, masih hening, sepi, indah, misterius, dan penuh dengan nilai petualangan.

Hutan pinus yang merangas bekas terpapar awan panas saat erupsi Merapi di jalur Babadan 


Tresno alam manunggal kelawan Gusti

Apa yang saya dan teman teman dari Dhemit Gunung temui sepanjang lintasan Babadan adalah sebuah jawaban yang menyenangkan mengenai harapan ini, mulai dari rimba yang masih rimbun, menyusuri jalur bekas aliran lahar dingin yang curam, menyisir sisi lereng yang berbatasan langsung dengan jurang, mendaki arena sabana kemuning dalam hembusan angin pegunungan yang gemulai, pun juga menikmati sisa sisa air yang mulai mengering diantara batu batu cadas punggung Merapi. Semua ini tampaknya akan menjadi parade sempurna untuk mengobati kerinduan para pecinta sejati Merapi untuk kembali mencumbunya dalam sisi lain yang masih rahasia dan misterius.

Saya melangkah menapak diantara batuan dan pasir yang bergelut bersama kabut minggu kemarin, membayangkan betapa indah dan kayanya rute pendakian ini, betapa eksotis dan cantiknya sisi lain Merapi dari sini, dan membayangkan betapa bahagianya jiwa jiwa pendaki yang merindukan alam raya dalam keheningan dan petualangan akan terobati di tempat ini.

Kabut di Sungai Gesik Babadan mendesis untuk kemudian mulai menghilang tersibak oleh cahaya matahari siang. 

Namun kemudian tidak lama, kabut itu kembali hadir lagi menutupi pandangan, namun kemudian hilang lagi, dan kemudian muncul kembali, berkali kali kejadian itu terulang, membuat saya mengambil kesimpulan bahwa Sungai Gesik di jalur Babadan ini, sebuah bekas aliran sungai besar berisi pasir dan batuan ini, memang memiliki pasangan dan ikatan yang erat dengan kabut yang datang, kehadiran dan kepergian kabut yang hanya dalam hitungan menit menang telah menjadi semacam janji diantara keduanya, janji antara Sungai Gesik dan Kabut Merapi, tak mungkin mengharapkan mereka berpisah dalam waktu yang lama.

Batu batu besar yang dingin, butiran pasir lembut yang masuk kedalam celah celah sepatu, air sapuan embun yang menetes di ujung daun juga di celah celah lumut, tak lupa beberapa tangkai bunga berwarna orange terang yang juga bermekaran di pinggir jalan seolah mennyayikan sebuah bisikan merdu yang mengalun dalam ayunan langkah.

Persaudaraan pendaki Dhemit Gunung, perkumpulan orang orang yang berupaya bermakrifat kepada Allah dengan jalan menyatu dengan alam

Saya semakin optimis dengan segala sesuatu yang ditawarkan jalur kuno Babadan Merapi ini, panorama dan mistisme jalur ini seakan menyerupai sebuah jalan kembali, jalan kembali bagi sang pendaki yang masih rindu mengembara bersama kabut, yang masih ingin merasakan betapa indahnya persatuan antara jiwa dan alam raya yang akan menghadirkan rasa syukur kepada Allah SWT dalam setiap langkah. Irisan irisan ngarainya yang berkabut di jalur Babadan ini seumpama sebuah langkah yang sungguh sungguh menuntun kita pada sebuah ungkapan dan pengertian akan tresno alam manunggal kelawan Gusti, sebuah motto dan semboyan dari Dhemit Gunung, klub pendaki yang menemani saya dalam perjalanan kali ini…



Salam.


7 comments:

  1. TRISNO ALAM MANUNGGAL KELAWAN GUSTI artinya MENCINTAI ALAM BERSATU DENGAN TUHAN YME DHEMIT GUNUNG artinya DHEMi Tuhan GUsti kaNg agUNG
    CAMPALA Comunitas Anak Muda Pecinta ALAm itu artinya CAMPALA CORPS DHEMIT GUNUNG jargonnya TRISNO ALAM MANUNGGAL KELAWAN GUSTI

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tanya om dhemit sekrenya dimana ya? Hehe ada cp yg bisa dihub kah?

      Delete
    2. Basecamp Dhemit Gunung ada di Jl. Muntilan - Talum Km. 02 mas Pitoyo, contact personnya bisa di : 081393907987 atau 081804090501

      Delete
  2. Artikelnya bagus mas..seneng bacanya..

    ReplyDelete
  3. Manteb om anton artikelnya..membuat pengin melangkah via babadan

    ReplyDelete
  4. Keren paman anton artikelnya..

    ReplyDelete

Tulisan Terbaru

PEMUNCAKAN DAN TRAGEDI DI GUNUNG PALING SULIT DI DUNIA

Gunung K2 yang merupakan gunung tertinggi ke-2 di dunia dan merupakan satu-satunya gunung 8.000 meter yang belum tersentuh puncaknya pa...