Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2016

MENYALA SEPERTI NAYLA, PENDAKI BELIA DI JALUR YANG TERLUPAKAN

Sangat meragukan, Itu yang pertama terlintas dalam pikiran saya ketika memperhatikan gadis kecil berwajah hitam manis ini yang tampak kelelahan sekali, padahal saat itu proses hiking baru saja dimulai, jangankan setengah etape, sepersepuluhnya saja belum terlewati, wajah Nayla, gadis kecil hitam manis, usia 9 tahun itu sudah memerah dengan mimik kelelahan yang tampak amat memelas. “… minumnya jangan langsung banyak mbak Nayla, sedikit sedikit tapi teratur…” Saya menegur cara minum Nayla yang tampaknya begitu terburu lantaran haus dan kelelahan, seakan seisi botol air mineral itu ingin diteguknya sekali minum. Saya bukan yang paling ekspert dalam perjalanan pendakian kali ini, namun pengalaman sedikit banyak mengajarkan saya bagaimana mengatasi, mencegah, mempersiapkan, juga mengatur kondisi fisik saat melakukan sebuah perjalanan pendakian gunung, dan ritme serta cara minum juga merupakan salah satu yang sangat perlu untuk diperhatikan. Minum dengan terbur

POTENSI JENIS PENDAKIAN GAYA BARU DARI SISI BARAT MERAPI

Bangkitnya dua jalur silam Ketika saya menelisik jalur pendakian kuno gunung Merapi dari kampung Babadan sekitar tiga minggu lalu, saya sempat membaca sebuah potensi pendakian dengan gaya yang berbeda dan mungkin akan menjadi satu – satunya, yang juga memiliki kans untuk populer yang dapat dilakukan dari sini. Seperti kita ketahui bersama, gunung Merapi mungkin menjadi satu satunya gunung yang paling terkenal di seantero Nusantara, bukan karena ketinggiannya, bukan pula karena keindahannya, namun karena keganasannya yang seringkali memuntahkan amarah dalam kurun waktu tertentu. Meskipun demikian, minat para peziarah, petualang, dan pendaki gunung tidak pernah berkurang untuk mengunjungi puncak yang dianggap keramat oleh sebagian kalangan ini, setiap tahun, terhitung puluhan ribu pendaki yang berusaha menjejakkan kakinya di puncak Merapi. Selama ini, seperti yang kita ketahui bersama pula, satu satunya akses rute resmi untuk mencapai puncak Merapi hanyalah melal

BABADAN DAN NGARAI BERKABUT DARI LERENG MERAPI

Jalur Piknik Dari New Selo Dalam upaya menziarahi kembali jalur pendakian gunung Merapi via kampung Babadan pada hari Minggu lalu, banyak sekali kami, secara pribadi saya khususnya menemukan hal hal yang baru dan menarik sepanjang trek pendakian ini.  Berbeda 180 derajat dengan mendaki Merapi via New Selo, ternyata rute Babadan menyimpan begitu banyak pesona yang membuat saya kaget, kagum, dan juga senang.  Hampir semua pendaki yang mendatangi puncak gunung Merapi pada sepuluh tahun terakhir ini kurang lebih, pasti mendakinya melalui jalur New Selo, sebuah jalur tol menuju Pasar Bubrah dan puncak gunung Merapi. Memang sebagaimana kita ketahui bersama, bahwa New Selo adalah satu satunya jalur pendakian gunung Merapi yang resmi saat ini, sekaligus juga sebagai rute yang paling singkat dan tercepat, untuk pendaki yang sudah terbiasa turun naik gunung, mungkin hanya dibutuhkan dua hingga tiga jam saja untuk bisa tiba di pasar Bubrah dan mulai mendirikan tenda. Sed