Monday, 18 July 2016

GRENDEN, SURGA RIMBA DI RUTE TERBERAT PENDAKIAN GUNUNG MERBABU







Menyingkirkan Suwanting

Jika  anda pernah mendaki gunung Merbabu via Suwanting dan merasa itu adalah rute terberat yang dimiliki Merbabu, maka sepertinya anda harus mengepak ransel dan perlengkapan kembali dan menjajal rute terbaru yang baru saja dibuka di arah barat daya gunung Merbabu, sebuah rute yang akan segera menyingkirkan nama Suwanting sebagai predikat rute terberat pendakian menuju puncak gunung Merbabu.

Rute terbaru ini adalah rute Grenden, sebelumnya saya pernah mengulas sedikit tentang jalur ini pada postingan sebelumnya, namun selain datanya belum lengkap karena saya belum mencobanya secara tuntas, tulisan saya sebelumnya itu juga keliru mencantumkan nama Grenden dengan ejaan Grenten. 

Pada tulisan ini Insya Allah saya akan bercerita data lengkap pendakian ke puncak Merbabu melalui jalur Grenden, sekaligus juga merivisi kekeliruan penulisan nama yang saya tulis pada tulisan yang pertama, karena ternyata nama GRENTEN yang saya tulis sebelumnya adalah keliru, dan yang benar adalah GRENDEN, bukan huruf T yang digunakan, tetapi huruf D.

Allhamdulillah pada hari Sabtu dan minggu kemarin saya berkesempatan mencoba jalur pendakian Grenden ini secara langsung , jadi Insya Allah tulisan tentang jalur Grenden ini fresh dan aktual, karena saya pun menuliskannya sembari memijit mijit kaki yang masih terasa pegal karena lelah berjalan.

Jalur Grenden adalah jalur baru gunung Merbabu, dibuka belum cukup sebulan yang lalu, jadi tentu belum banyak pendaki yang telah mencobanya. Hingga kemarin saya berkunjung kesana, hanya ada sekitar delapan nama yang telah tercatat mengunjungi jalur ini, empat orang tim pendaki dari kota Semarang, dan empat orang lagi dari daerah Blabak, Magelang. Nama saya menjadi yang kesembilan dalam list tersebut, bedanya kedelapan orang tersebut memulai pendakian pada hari Jum’at, maka saya memulai langkah di jalur Grenden pada hari keesokan harinya.

Seperti pada beberapa perjalanan hiking dan pendakian sebelumnya, saya melakukan pendakian Merbabu via Grenden ini juga secara solo atau sendirian ( mungkin karena masih suasana lebaran, belum banyak teman yang bisa diajak untuk naik gunung, smile ). 

Saya memulai pendakian pada jam 07 :05 pagi hari, dari tempat saya tinggal sekarang di Kota Muntilan, hanya butuh sekitar satu jam perjalanan berkendara untuk sampai ke kampung Grenden ini, jadi dari rumah saya bisa memulai perjalanan ini sekitar jam 06 : 00 pagi. 

Saya tiba di basecamp pendakian gunung Merbabu di kampung Grenden pada pukul 06 : 45 pagi kurang lebih, disambut dengan keramah-tamahan yang hangat oleh penduduk dan pemilik rumah yang sementara dijadikan basecamp, segelas teh hangat disuguhkan buat saya sembari mengobrol tentang jalur baru ini. Karena ini jalur baru, persiapan di basecamp pendakian masih terbilang sederhana, sambil mengisi formulir pendakian, saya mendengar beberapa penduduk yang bercengkerama tentang pekarangan mana yang mau dijadikan lahan parkir motor, rumah siapa yang bisa dijadikan tempat penitipan sepeda motor, bahkan hingga obrolan tentang nama seseorang yang minta jatah honorer dari tiket masuk pengunjung dan pendaki. 

Saya bisa mengerti apa yang mereka bicarakan tersebut karena saya mengerti bahasa Jawa, meskipun saya sendiri tidak bisa mengucapkannya.


Surga Rimba Antara Pos 2 Dan Pos3

Salah satu daya tarik jalur Grenden ini adalah keasriannya, sebuah daya tarik yang juga sekaligus menjadi ketakutan tersendiri buat saya. 

Sepanjang jalur khusunya antara pos 2 dan Pos 3, alamnya sungguh masih sangat murni. Diantara belukar dan pepononan yang menjulang tinggi, jika beruntung kita akan bersua dengan sekawanan monyet yang asyik berlompatan dari dahan ke dahan. Sementara itu ada aneka macam dan ragam burung yang beterbangan dari ranting ranting juga bersiul siul bersahutan. 

Keasrian seperti ini akan benar benar terasa jika kita melakukan pendakian pada pagi hari, sehingga saat kita mencapai areal hutan antara Pos 2 dan Pos 3, nuansa pagi dalam hutan alam rimba masih akan kita rasakan auranya. Karena jika sudah agak siang, meskipun hutannya masih tetap teduh oleh kanopi pepohonan, namun kicauan burung juga lengkingan monyet tidak akan mudah kita temui lagi.

Hal menarik lainnya dalam etape antara Pos 2 dan Pos 3 ini adalah medannya yang sangat teduh dan beragam. Sekitar lima belas menit selepas pos 2 kita akan tiba disebuah tempat bernama Cemoro Kembar, tempat ini teduh sekali sangat nyaman untuk beristirahat dan leyeh leyeh melepas lelah mendaki. 

Jika anda pernah mengunjungi gunung Latimojong di Sulawesi, maka di jalur Grenden Merbabu ini kita akan menemukan setidaknya sedikit aroma jalur menuju Rantemario pada balutan lumut yang memenuhi pepohonan menjelang Pos 3. Meskipun tidak setebal di Latimojong yang sepenuhnya berlumut mulai dari lantai hutan, batuan, hingga batang pohon dan dahannya, namun lumut yang menutupi pada hampir semua batang pohon di jalur Grenden ini cukup mengingatkan kita pada dunia lumut menjelang Pos 7 di gunung Latimojong.

Tidak hanya itu, pada jalur antara Pos 2 dan Pos 3 ini juga, kita akan melewati semacam tunnel ( terowongan ), jelasnya sebuah jalur sempit yang hanya muat satu orang berdinding tanah setinggi dua meteran di kiri dan kanan jalan. Meskipun panjang tunnel hanya sekitar 30 meteran saja, namun ini cukup mengingatkan kita pada jenis jalur serupa yang ada pada salah satu jalur pendakian gunung tertinggi kedua di Indonesia, yaitu gunung Kerinci, yang terletak di pulau Sumatera.

Lumut yang menutupi batang pohon menjelang pos 3


Sumber Air dan Dilema Etika

Salah satu hal juga yang saya khawatirkan nantinya, seiring meningkatnya kunjungan pendaki gunung Merbabu melalui jalur Grenden ini adalah masalah air, karena hampir sepanjang jalur sejak base camp di kampung Grenden bahkan, hingga menjelang pos 4, kita akan selalu berjalan bersisian dengan pipa aliran air minum penduduk. Hal ini disamping merupakan sebuah nikmat tersendiri dengan sumber air yang melimpah dan banyak, juga merupakan jenis jalur yang rawan pengrusakan oleh oknum pendaki pendaki alay yang kadang tidak bertanggung jawab.

Saya tidak ingin menuding siapa siapa mengenai hal ini, namun ketika saya mendaki hingga Pos 3 pada pertengahan bulan puasa lalu yang infonya sempat saya publikasikan di blog ini, saya sungguh sungguh menikmati keasrian dan kemurnian suguhan alam yang indah dan menyejukkan.  

Akan tetapi kemarin, pada perjalanan turun hari minggu kemarin saya telah menemukan beberapa “jejak” pendaki yang seharusnya tidak perlu terjadi, mulai dari menoreh dan mengukir tulisan pada batang pohon di Pos 2 dan Pos 3, beberapa sampah yang tidak dibawa turun, hingga pada kegaduhan berupa teriakan teriakan yang tentunya sangat mengganggu  fauna yang hidup di sepanjang jalur ini.

Tentu sebagai pendaki kita merasa sangat senang dengan air yang begitu mudah didapat sepanjang jalur, sehingga kita tidak perlu bersusah payah membawa air yang berat sejak dari bawah. Namun kemudahan ini juga jangan sampai membuat para pendaki berkelakuan melampaui batas, seumpama dengan memotong pipa air, menginjaknya hingga pecah, atau pun melakukan hal lain yang dapat mengakibatkan terganggunya aliran air menuju kampung Grenden dan kampung Citran, dua kampung yang memasang pipa air dari puncak Merbabu ini.


Tidak Ada Bonus, Tidak Ada Belas Kasihan

Saya dulu pernah membaca sebuah quote salah pendaki gunung dunia, isinya simple sekali, Di atas 5000 meter, tidak ada belas kasihan, begitu katanya. 

Tentu jauh sekali lah jaraknya jika melakukan perbandingan antara gunung 5000 Mdpl dengan Merbabu yang masih masuk hitungan daily hiking saja, namun tidak ada salahnya saya menggunakan istilah itu pada tulisan saya tentang jalur Grenden ini. 

Jangan mengharap bonus di jalur ini khususnya selepas Pos 2, hingga tiba di puncak Kendi Kencono dengan bendera yang berkibar diatasnya kita tidak akan menemukan satupun jalur menurun, bahkan landai atau rata sekalipun. 

Rute paling menguras energi dan kesabaran adalan dari pos 3 menuju pos 4, ini adalah sebuah rute menanjak yang panjang, dikelilingi oleh batang batang pohon Edelweis yang menghitam bekas terbakar, tanpa ada tempat beteduh dari panas dan hujan, medan ini cukup sempurna untuk menguji ketabahan tekad dan semangat para pendaki yang ingin mencoba jalur Grenden ini. 

Dalam perjalanan di sini juga saya sempat berjumpa dengan empat orang rekan pendaki dari kota Semarang yang mendaki satu hari sebelumnya, mereka camp di pos 3, dan memutuskan turun lagi ke tenda mereka sebelum mencapai puncak Kendi Kencono.

“… Jalurnya tidak jelas, kami bahkan belum ketemu pos 4…” 

Kata salah satu dari mereka sewaktu berpapasan dengan saya yang sedang mendaki.

“… Kita juga keburu waktu nih nggak bisa terus, nanti mas saja yang tulis referensi jalurnya, biar saya baca dimana gitu…”tambahnya.

Saya tersenyum kecut mendengarnya diantara buruan nafas yang tersengal

“… Iya edan banget jalurnya, hampir mati kita dibuatnya…” jawab saya diantara nafas kelelahan, beberapa orang diantara mereka tampak tertawa mendengar ucapan saya.

Dan mungkin tulisan ini juga bisa menjadi jawaban atas permintaan teman tersebut, saya tulis referensi jalur Grendennya di blog yang sederhana ini.

Sebelumnya saya juga telah berpapasan dengan empat orang rekan pendaki dari kota Blabak tidak jauh dari lokasi Cemoro Kembar, melihat mereka yang bisa turun sepagi itu, saya juga yakin mereka telah memutar arah sebelum mencapai pos 4.

Tidak ada belas kasihan sepanjang pos 3 hingga puncak Kendi Kencono, semuanya menanjak memaksa kita untuk terus mendongak hormat diantara batang Edelweis yang terbakar, dibutuhkan banyak kesabaran dan ketabahan untuk memaksa kaki tetap melangkah ditempat ini, apalagi jika melakukannya seorang diri, seperti yang saya lakukan kemarin.

Selain itu juga, panorama adalah hal yang mahal jika mendaki gunung Merbabu via jalur Grenden ini. Kita tidak akan disuguhi pemandangan apa apa, sebelum mencapai Pos 4, jadi meskipun kita telah merasa bersusah payah menanjak sejak dari basecamp, kita tak akan melihat apapun kecuali kanopi daun pinus juga atap hutan yang tebal hingga di atas Pos 3. Mirip mirip seperti Latimojong yang tidak memberikan view apa apa sebelum pos 7, maka Merbabu via Grenden pun demikian, pemandangan hanya bisa dinikmati jika kita telah mencapai pos 4.

Taman edelweis mati menuju pos empat

Hanya yang tabah yang bertahan

Setelah mencoba dan merasakan sendiri jalur Grenden ini, mungkin dapat saya simpulkan bahwa jalur ini tidak cocok untuk pemula, khususnya pendaki pemula yang bercita cita untuk sampai ke puncak. Namun jika hanya sekedar hiking hiking semata, tanpa ada target untuk mencapai puncak, maka pendaki pemula tak ada salahnya mencoba jalur baru ini.

Dengan pertimbangan waktu pendakian yang sempit, seumpama weekend, atau jenis mendaki tik tok seperti yang sering dilakukan banyak orang di pulau Jawa, maka dapat saya katakan, di jalur Grenden ini, bukan yang tercepat yang akan mencapai puncak, bukan pula yang terkuat, tetapi hanya pendaki yang memiliki tekad dan ketabahan yang Insya Allah akan meraih puncak.

Namun jika mendaki dengan anggaran waktu yang lebih banyak, seumpama tiga atau empat hari, Insya Allah mencapai puncak bukan hal yang sulit dilakukan. Akan tetapi sekali lagi, jika mendaki dengan model berangkat malam hari, sampai puncak pagi hari, kemudian turun lagi dihari yang sama. Tampaknya hal tersebut tidak mudah dilakukan di jalur Grenden, kecuali anda memiliki fisik dan stamina yang memang luar biasa.

Dilihat dari puncak, lembah menganga antara jalur Grenden dan jalur Thekelan

Cobalah..,

Terakhir, untuk yang merasa penasaran dengan jalur baru gunung Merbabu ini, maka saran saya adalah, cobalah..

Selain mendaki gunung, kampung Grenden juga telah mulai berbenah untuk menjadi semacam kampung wisata daerah Magelang. Dengan didukung oleh alam yang indah, latar gunung Merbabu yang menjulang, hutan pinus yang sejuk, sumber air yang segar, arena outbound yang luas, kemungkinan besar kedepannya, Grenden akan menjadi semacam destinasi baru untuk wisata alam kabupaten Magelang.

Jadi, jika anda masih penasaran, kepaklah ransel dan datanglah kesana. 


Salam.


***

Pada halaman berikut akan saya tuliskan secara lengkap rute,  jarak tempuh, sumber air, camp ground, skema pendakian terbaik dalam menjajal jalur terberat gunung Merbabu ini.




7 comments:

  1. nah, ketemu juga catatan masnya yang kemaren .. congrats mas ketemu sma puncaknya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Allhamdulillah mas Suryabudi,,

      Yang penting sabar naik lewat jalur ini mas...

      Delete
  2. Besok saya ulang mas, udah tanggung banget kmaren sampe atas bendera plastik

    ReplyDelete
  3. rencana sih awal oktober lewat jalur ini

    ReplyDelete

Tulisan Terbaru

PEMUNCAKAN DAN TRAGEDI DI GUNUNG PALING SULIT DI DUNIA

Gunung K2 yang merupakan gunung tertinggi ke-2 di dunia dan merupakan satu-satunya gunung 8.000 meter yang belum tersentuh puncaknya pa...