Monday, 25 July 2016

ADIK KANDUNG PUNCAK EVEREST DAN MAHKOTA PENDAKIAN GUNUNG DUNIA





Tahta Lain si Adik Kandung

“… sebuah longsoran salju besar menyapu dengan hebat tadi malam, camp 2 dan camp 3 hilang sepenuhnya. Syukurnya semua pendaki selamat, sementara perlengkapan lain seperti tenda, bivak, tabung oksigen, tali temali, seluruhnya hilang terbawa longsoran…”.

Saya membaca sebuah postingan dari Madison mountaineering pada akun istagram milik mereka kemarin. Pada postingan terlihat sebuah gunung besar dengan bekas longsoran salju yang masih tampak jelas di dindingnya.

Saya mulai mengikuti akun istagram milik Garret Madison, si empunya jasa guide gunung kelas dunia, Madison Mountaineering, ketika membaca sebuah artikel yang ditulis di National Geographic Adventure pada halaman mereka, yang menampilkan ikon gunung K2 yang disinyalir akan menjadi pengganti Everest. 

Tentu kita semua tahu sendiri bahwa K2 adalah gunung dengan predikat adik kandung Everest, atau memiliki tinggi yang persis di bawah Everest, jika Everest berdiri di atas elevasi 29.029 ft, maka K2 ada persis dibawahnya dengan ketinggian 28.251 ft atau 8611 mdpl. 

Persaudaraan kakak beradik antara puncak Everest dan K2 telah berlangsung sejak lama, sejak manusia mulai mengenal aktifitas pendakian gunung dan juga mulai mengukur ketinggian sebuah puncak gunung. Namun selama ini seperti kita tahu sendiri, bahwa yang populer dan yang sangat familiar adalah Everest, entah sudah berapa ribu orang yang telah mengunjunginya, dan juga entah berapa ribu orang yang telah berhasil  menjejakkan kaki di puncaknya.

Bukan apa apa sehingga nampaknya puncak K2 jadi terlupakan, bukan apa apa pula yang membuat pendaki Everest berpuluh kali lipat banyaknya dari orang orang yang mencoba masuk areal kaki gunung K2. Problema di K2 bukan hanya karena statusnya yang hanya adik bagi Everest, bukan hanya karena K2 tidak memegang rekor puncak tertinggi dunia.

Lebih daripada itu semua, yang membuat K2 lebih sunyi adalah karena predikatnya yang menyandang sebagai gunung tersulit didaki di dunia. Everest boleh saja lebih tinggi, Everest boleh saja memiliki jumlah pengunjung lebih banyak, dan Everest  boleh saja lebih banyak disebut dan lebih populer dalam jagad pendakian gunung dunia, namun dari tingkat kesulitan dan medan tempur, Everest tidak dapat mengalahkan K2, puncak K2 adalah rajanya.

Jadi jika Everest memegang mahkota puncak tertinggi dunia dengan jumlah pendakinya yang kian membludak dari waktu ke waktu, maka K2 memiliki jenis mahkota yang lain, memiliki sebuah tahta yang lain, yaitu sebagai puncak gunung tertinggi yang paling sulit untuk didaki, hanya para pendaki dengan passion tinggi, pengalaman yang cukup, keberanian besar, juga skill yang mumpuni yang berani melangkahkan kaki menuju tempat dimana raksasa K2 berdiri.


Mungkin Akan Pindah Kiblat

Seiring dengan laju perkembangan minat dunia pendakian gunung yang kian berkembang, besar kemungkinan bahwa mahkota Everest sebagai gunung prestisius dengan segenap daya upaya dan berbagai macam pengorbanan mencapai puncaknya, akan digantikan oleh K2, setidaknya wacana itu yang saya temukan saat membaca tulisan hasil wawancara National Geographic Adventure dan Madison Mountaineering.

Dalam tulisan yang diberi judul “ Is K2 The Next Everest ? “, topik mengenai kemungkinan K2 akan menjadi destinasi pendaki gunung dunia dalam upaya pencapaian tertinggi mereka yang tidak hanya diukur dari angka elevasi, namun juga kesulitan dan pengorbanan. Pada dasarnya topik ini mengembang dilatar belakangi oleh keresahan mendalam yang tampaknya jamak dialami oleh para pendaki gunung yang menganut faham gaya lama. Yang menganggap dan menempatkan sebuah aktifitas mendaki gunung bukan sekedar perjalanan wisata semata, namun juga sebagai sebuah journey yang dilakukan dengan menghormati banyak prinsip dan aturan tidak tertulis.

Beberapa prinsip dan aturan tidak tertulis tersebut diantaranya adalah nilai kesulitan medan tujuan yang akan menjadikannya sebagai sebuah tempat yang prestisius, yang tidak sembarang orang bisa melakukannya. Disamping itu pula, prinsip prinsip lain semacam tantangan, isolasi, dan pertaruhan juga menjadi tolak ukur mengapa tampaknya K2 lebih pantas untuk mengenaikan mahkota mountaineering itu saat ini.

Tanpa bisa dihentikan, Everest telah menjadi sebuah destinasi wisata besar besaran, dengan uang dan sedikit kemampuan, orang orang yang bahkan tidak pernah menyentuh pegunungan sudah berdatangan kesana, mencoba untuk mencapai puncaknya, dan ironisnya, hampir semua dari mereka yang melakukan hal tersebut berbuah keberhasilan. Dan hal ini tentu saja menuai keresahan dan kekhawatiran bagi orang orang yang selama ini menempatkan Everest sebagai tempat suci, yang tidak banyak orang mampu menggapainya.

Dengan dilatar belakangi keresahan dan beberapa pertimbangan tersebutlah, kemungkinan K2 akan menjadi puncak dengan mahkota prestisius mountaineering terbuka sangat lebar. Dan kemungkinan tersebut, yang juga menjadi sebuah peluang bisnis menjanjikan, langsung saja di eksekusi oleh Garett Madison dan kawan kawan, dengan merilis Madison Mountaineering, mereka menjadi pioneer yang secara terang terangan mengakomodasi perjalanan menuju puncak K2 untuk yang pertama kalinya.
 
The Summit, K2 Sirene Of Himalayas, Vertical Limit, adalah beberapa film dan dokumenter yang bercerita tentang keganasan K2



Kekhawatiran Berjamaah

Pada dasarnya keresahan dan kekhawatiran hilangnya gunung sebagai tempat “ beribadah dan bermuhasabah “ ini tidak hanya terjadi di Everest, di Indonesia, di tanah air kita sendiri pun keresahan ini dengan jelas dapat terbaca.

Coba kita lihat, dengan berubahnya Semeru jadi pasar dadakan pada saat saat tertentu dan selalu saja ramai pada setiap weekend, beberapa orang yang selama ini memujanya, perlahan lahan mulai merasa terusir dan berusaha mencari tempat “ semedi “ yang baru. Hingga tidak sedikit juga diantara orang orang yang merasa kehilangan Semeru atau gunung lainnya ini, mencari  gunung gunung lain di Nusantara yang masih asing, masih susah dijamah, dan masih sulit untuk digapai puncaknya.

Atau dengan hal tersebut, bermunculan juga jalur jalur baru pada gunung yang sama yang tingkatan kesulitannya lebih berat, sehingga membutuhkan lebih banyak pengorbanan untuk mencapainya.

Pada dasarnya semua fenomena ini adalah sebuah pelarian dari orang orang yang memiliki kekhawatiran berjamaah lantaran hilangnya sebuah suasana dan eksistensi dari suatu tempat yang selama ini mereka sangat cintai, sedangkan mereka tidak memiliki cara apa apa untuk mencegah ataupun sekedar membendungnya.

***

Kemudian jika K2 benar benar akan menjadi next Everest, sebagai pemegang mahkota puncak dunia, maka ini akan menjadi sesuatu yang menarik untuk kita ikuti.

Dan semuanya tidak akan mudah, pasti tidak akan mudah, hanya orang orang yang memiliki kebulatan tekad, passion, menghormati gunung, dan juga diberkahi keberuntungan yang akan berhasil mencapai puncak K2. Seperti yang saya kutip pada awal tulisan singkat ini, meski pun para kliennya selamat, camp 2 dan camp 3 tim Madison habis tersapu longsor, dan hal itu baru salah satu rintangan untuk mencapai puncak K2, masih akan ada banyak rintangan lain yang akan menghadang setiap pendakinya.

Dan gunung dengan kategori kesulitan luar biasa seperti K2 ini, memangnya tampaknya lebih layak menjadi Everest baru, dimana hanya orang orang “hebat” yang mampu mencapai puncaknya.



Salam.



No comments:

Post a comment

Tulisan Terbaru

PEMUNCAKAN DAN TRAGEDI DI GUNUNG PALING SULIT DI DUNIA

Gunung K2 yang merupakan gunung tertinggi ke-2 di dunia dan merupakan satu-satunya gunung 8.000 meter yang belum tersentuh puncaknya pa...