Saturday, 11 June 2016

JALUR BARU GUNUNG MERBABU DAN PENDAKI SWISS YANG HILANG DI SEMERU




Rutinitas di Jum'at pagi yang sakral

Hari Jumat pekan yang lalu, sekedar untuk melepas kangen jalan di pegunungan, saya memutuskan untuk hiking di kaki gunung Merbabu, melalui jalur di Kampung Sobleman. 

Jika teman teman pendaki tidak tahu Sobleman bukan masalah, karena Sobleman memang merupakan sebuah jalur yang tidak populer untuk mencapai puncak Merbabu, tidak seterkenal jalur pendakian Selo, Suwanting, Wekas, Thekelan atau pun yang lainnya. 

Karena perjalanan ini hanya semacam relaksasi saja, saya tidak meniatkan diri untuk benar benar mendaki hingga puncak, maka setelah berjalan sekitar satu sampai satu setengah jam, melewati belantara hutan cemara lereng Merbabu, saya memutuskan kembali memutar langkah untuk pulang ke arah kampung Sobleman.

Saya memang telah beberapa kali melakukan hal semacam ini semenjak saya pindah ke pulau Jawa, tepatnya di kota Muntilan. Jarak yang tidak begitu jauh antara rumah dengan kaki gunung Merapi Merbabu, merupakan alasan utama yang sering melakukan perjalanan pagi semacam ini. Sekitar satu jam setelah sholat subuh, atau sekitar jam 05:30 waktu Jawa Tengah, saya biasanya langsung berangkat menuju kaki gunung Merapi atau pun Merbabu, dan jika tidak ada kendala, Insya Allah sekitar satu jam kemudian saya sudah akan berada di salah satu kampung terdekat dengan gunung Merbabu atau pun Merapi.

Karena perjalanan ini semacam jalan jalan pagi saja, bukan one day adventure, maka saya sering tidak membawa makanan untuk sangu ( bekal ). Hanya dengan sepasang walking stick, pisau, serta jaket sudah cukup bagi saya untuk mulai menyusuri lereng lereng kaki gunung Merbabu dalam cerahnya sinar mentari pagi. Ini adalah sebuah perjalanan yang menyenangkan, saya pikir, saya masih akan sering melakukannya.

Hal ini hampir selalu saya lakukan pada hari Jum’at pagi, namun memilih hari Jum’at sebagai saat yang tepat untuk melakukannya bukan merupakan sesuatu yang memiliki alasan magis, atau ada faktor supranaturalnya. Pemilihan hari Jum’at hanya kebetulan saja, dikarenakan pada hari Jum’at pagilah saya biasa menginap di rumah Mbah Uti Islamedina ( Mbah Uti atau Mbah Puteri berarti nenek dalam bahasa Jawa ). Dan dari rumah Mbah Uti Medina, yang posisinya agak ke kampung, menuju kaki gunung lebih dekat jaraknya, jika dibandingkan dari rumah yang kami tempati di pusat kota Muntilan saat ini. 

Memang semenjak anak saya Islamedina meninggal dunia tiga bulan yang lalu, setiap kamis sore selalu kami sempatkan untuk berziarah ke makamnya, di desa Randukuning, tidak jauh dari rumah Mbah Utinya. Kesempatan ini juga kami gunakan sebagai waktu untuk menginap di rumah Mbah Uti Medina, sekaligus membiarkan Mbah Uti melepas kangen kepada cucunya, Aqsha, adik dari Islamedina.

Jika pada Jum’at pekan lalu saya menyusuri kaki gunung Merbabu melalui kampung Sobleman, maka pada hari Jum’at kemarin, dua hari yang lalu , saya kembali seorang diri menyusui kaki Merbabu, namun kali ini melalui kampung Grenten. Dan menyusuri gunung Merbabu melalui jalur Grenten ini mungkin akan menjadi sesuatu yang menarik untuk sedikit saya ceritakan.

Setelah kepopuleran jalur pendakian gunung Merbabu melalui Suwanting, melalui Selo, melalui Wekas, atau pun melalui Kopeng, maka jalur selanjutnya akan populer untuk menggapai puncak Merbabu menurut dugaan saya adalah jalur Grenten ini. Pendakian gunung Merbabu melalui Grenten saat ini sedang dipersiapkan akomodasinya oleh penduduk kampung Grenten, utamanya yang berkenaan dengan jalur dan lintasan pendakian, saat kemarin saya hiking ke sana, saya mengikuti jalur yang sudah dibuat sekitar satu atau dua minggu sebelumnya, dan  saya secara pribadi menyukainya.

Sayangnya saya belum bisa bercerita banyak tentang jalur pendakian Merbabu via Grenten ini, karena saya belum menjajalnya hingga puncak, semoga setelah lebaran ini nanti Allah SWT memberi saya kesempatan untuk mencobanya, dan menceritakannya kepada para sahabat pendaki semua. 

Saat bercakap cakap dengan sepasang suami isteri yang sedang menyabit rumput tak jauh dari lintasan, saya diberitahu bahwa selain menuju puncak Kenteng Songo dan Kenteng Syarif, jalur Grenten ini juga akan disiapkan untuk dapat mencapai kawah gunung Merbabu, sesuatu yang selama ini jarang diekploitasi. 

Ada banyak kegiatan outdoor yang mungkin akan sering dilakukan disini selain hiking dan mendaki gunung.

Bagi para pecinta motor trail dan sepeda gunung, sebuah track yang cukup menantang  juga sudah di buat, bagi yang ingin camping keluarga maka hutan cemara selepas kampung Grenten, juga akan menjadi sebuah lokasi yang menyenangkan. Apalagi sekitar satu atau dua jam selepas kampung Grenten, kita akan menemukan sebuah lokasi landai dengan latar belakang dinding gunung Merbabu, sebelah kiri akan mendapati gagahnya si Merapi, dan sebelah kanan, ada gunung Andong yang tampak sangat lembut menggoda, sementara jika menoleh ke belakang ada Sumbing Sindoro yang terlihat seolah mengapung diatas samudra awan. 

Saya menduga ini akan menjadi salah satu camp favorit untuk para pendaki nantinya.

Sumbing Sindoro dilihat dari jalan menuju desa Grenten


Gunung Alpen memang membunuh, Namun Semeru juga tak kalah mematikan

Selain ingin menceritakan sedikit tentang jalur Grenten gunung Merbabu tadi, pada postingan ini juga saya sebenarnya ingin sedikit memberi pendapat tentang apa yang barusan yang terjadi di gunung Semeru. Mungkin sahabat sudah lebih dulu mengetahui berita yang mengatakan salah satu pendaki warga negara asing ( WNA ) yang dikabarkan hilang di Semeru.

Pendaki ini, sesuai dengan kabar yang saya dengar adalah warga negara Swiss bernama Lionel De Creaux ( mohon maaf jika penulisan namanya tidak tepat ). De Creaux dan teman wanitanya Alice Guignard mulai mendaki gunung Semeru pada tanggal 03 Juni lalu, jika Alice berhasil selamat karena ditemukan seorang guide lokal dari salah perhimpunan pecinta alam, maka nasib si De Creaux masih menjadi tanda tanya hingga saat ini, ia dinyatakan masih hilang, dan masih terus diupayakan pencariannya.

Yang menjadi menarik dari kasus De Creaux ini adalah mereka melakukan pendakian ke Semeru secara illegal alias tanpa izin. Begitu tiba di Ranupane mereka langsung saja menuju Ranu Kumbolo dan Kalimati, alih alih mendaftar kepada petugas pos penjagaan Ranupane terlebih dahulu. Dan ini tentu tidak bisa dianggap enteng, apalagi buntutnya malah merepotkan para ranger dan tim SAR gunung Semeru juga.

Tentu kita berharap si penyintas, survivor, De Creaux ini bisa segera ditemukan di temukan dalam keadaan selamat. Namun tentu kasus ini juga seyogyanya dapat memberi pelajaran yang berharga untuk para pendaki lainnya, kita kita semua yang mengetahui kejadian ini. 

Saya tidak tahu alasan De Creaux dan Alice mengacuhkan masalah perizinan gunung Semeru, namun tidak bisa tidak, hal ini dari beberapa sudut pandang terlihat seolah menyepelekan, bisa menyepelekan aturan pendakian di Indonesia, bisa juga menyepelekan belantara gunung Semeru, dan yang terakhir tentu lebih berbahaya, De Creaux telah membuktikannya, ia masih hilang hingga saat ini.

Sebagai seorang traveler dan adventurer sudah semestinya menjunjung tinggi sebuah hikmah dan makna pribahasa yang mungkin sering kita dengar ;

Dimana bumi di pijak, disitu langit dijunjung..”

Dimana pun kita berada, kemana pun kita menjelajah, hendaknya tidak meremehkan sebuah budaya, aturan, dan kearifan lokal. Selain sikap ini merupakan sebuah pedoman demi kelancaran proses perjalanan, sikap menghormati nilai nilai kearifan lokal juga menjadi cerminan pengertian, juga semacam bentuk kebijaksanaan dari si petualang itu sendiri.

Kemarin, sewaktu saya mengobrol dengan sepasang suami isteri yang menyabit rumput di lereng Merbabu, sekitar satu jam dari kampung Grenten, saya sempat di ingatkan ;

“.. Nyuwun dingapunten mas, nek njenengan ajeng naik, mboten nopo nopo. Tapi dingapunten, niki dino Jum’at legi, sebelum jam sedoso, njenengan sebaiknya segera turun, nek ono kancane kulo yo mboten khawatir, tapi njenengan kan piyambakan mawon, biasane pangling jalan bali…” 

Jika diartikan bahasa Indonesia, artinya kurang lebih sebagai berikut ;

“ Mohon maaf mas, kalau masnya mau naik, tidak apa apa, tapi mohon maaf, hari ini hari Jum’at Legi, sebelum jam sepuluh siang sebaiknya mas segera turun. Kalau ada temannya saya sih tidak khawatir, tapi mas sendirian saja, biasanya banyak kejadian lupa jalan pulang…”

Secara prinsip tentu saya tidak terlalu mempercayai hal hal yang berhubungan dengan supranatural, mistisme, penanggalan dan lainnya, ini bertentangan dengan aqidah ketauhidan kepada Allah SWT. Namun saya mematuhi nasehat bapak tersebut dengan tiga alasan, yang pertama menghormati kearifan lokal, dan yang kedua karena saya sedang berpuasa, jadi tidak kuat jalan jauh tanpa bekal, dan yang ketiga ini hari Jum’at, saya harus bersiap sholat Jum’at sebelum waktunya tiba, dan itu artinya jam sepuluh siang saya memang sudah harus segera pulang.

Kearifan lokal seperti ini, bagi beberapa orang mungkin terlihat sepele dan tidak perlu ditaati, namun saya kira mengunjungi sebuah tempat, kemudian kita menabrak semua aturannya, bukanlah sebuah sikap yang bijaksana.

Selain tekad dan perbekalan, kesungguhan untuk menghormati alam adalah syarat lain untuk mendaki gunung


Sekali lagi kita berdoa semoga De Creaux segera dapat ditemukan dalam kondisi selamat, dan ia dapat belajar dari kekeliruannya. Latar belakang negara tempat ia berasal mungkin membuat ia sedikit tidak terlalu menaruh perhatian pada Semeru, Swiss memang negara dengan dinding dinding gunung Alpen yang berbaris, salju yang memutih, dan rumah dari beberapa pendaki pendaki terbaik dunia, seperti mungkin yang paling tangguh saat ini, si Swiss Machine, Ueli Steck, yang merajai puncak puncak dunia dengan kecepatan mendakinya yang tak terkalahkan.

Namun alangkah bijaksananya jika Creaux dan Alice juga menyadari sebelum ia mendaki Semeru tanpa izin tempo hari, bahwa memang benar salju dan pegunungan Alpen sangat membunuh, tebing tebingnya membuat nyawa menggigil, tetapi juga jangan lupa, gunung gunung Indonesia, belantara Semeru dan lainnya, juga tak kalah mematikan, mereka juga bisa menjadi tempat terakhir untuk orang orang yang tak menghormatinya.


Salam..




6 comments:

  1. Bilang aja takut

    ReplyDelete
  2. boleh nanya ni...?
    jalur ke desa granten naik kendaraan umumnya gmn y...? mungkin boleh dijelaskan...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sementara naik ojek saja mungkin mas yang paling gampang, dari terminal Muntilan ke arah Ketep Pass, dari ketep Pass lanjut sekitar 15 menit lagi ke arah Kopeng, Salatiga.

      Desa Grenten di pinggir jalannya mas...

      Delete

Tulisan Terbaru

PEMUNCAKAN DAN TRAGEDI DI GUNUNG PALING SULIT DI DUNIA

Gunung K2 yang merupakan gunung tertinggi ke-2 di dunia dan merupakan satu-satunya gunung 8.000 meter yang belum tersentuh puncaknya pa...