Monday, 23 May 2016

SYNDROME ANTI - EVEREST DITENGAH KECAMUK PENDAKI GUNUNG




Bukan hanya dinegara kita Indonesia tercinta saja yang tiba tiba anak anak selfish dengan berbagai atribut eksistensi menyerbu puncak gunung.

Jika kita mengikuti beberapa portal media outdoor luar negeri, tidak jauh jauh dulu, Malaysia lah yang juga masih hitungan satu kawasan dengan kita, demam outdoor dan adventure juga menjangkit dengan hebat disana.  

Saya kebetulan mengikuti sebuah group facebook yang nama dan anggotanya merupakan dominansi kawan kawan dari Malaysia, dan jika diperhatikan dari hari hari, kronologi timelinenya juga tidak jauh berbeda dengan kondisi kita saat ini, saat hampir semua orang begitu tertarik untuk go in wild, bertualang ke alam bebas, menjejakkan kaki di puncak gunung, menyemplungkan diri di danau, menyelam di pinggiran pantai, masuk di antara semak semak hutan, Yang kesemuanya itu tampak jelas terbukti dengan antusiasmenya mereka meng-upload aktivitas tersebut di sosial media, dan mungkin bisa saja, tanpa sosial media, inti dari semua jerih payah yang mereka lakukan akan terasa hambar dan tidak berarti.

Itu mungkin saja.,

Sebenarnya demam ini tidak hanya terjadi di negara kita Indonesia, negara tetangga kita Malaysia, dan yang lainnya di kawasan Asia Tenggara. 

Jauh lebih ke atas, hal ini juga juga marak terjadi di lokasi lokasi terfavorit adventurer dunia, sebut saja Everest, sebagai puncak tertinggi di dunia. Tempat prestisius ini pun tidak selamat dari jangkauan orang orang yang pada awal mulanya sama sekali tidak tertarik dengan dunia mountaineering dan pendakian gunung.

Bahkan si Dewa gunung Reinhold Messner pernah menunjukkan kekhawatiran terkait hal ini

“… Semua sudah sangat jauh berubah, Everest tidak seperti dulu lagi, sekarang tidak ubahnya seperti areal taman bermain untuk anak anak…, uang dan bisnis jauh lebih mendominasi daripada atmosfer pendakiannya sendiri…”

Jika itu pendapat dari Reinhold Messner, maka coba sekarang kita dengar juga apa komentar dari Conrad Anker, kapten The North Face, yang juga melejit namanya saat berhasil menemukan mayat dua orang mayat pendaki pertama gunung Everest, Mallory dan Irving.

“… Saya sering ke Everest, banyak menghabiskan waktu di sana, namun itu total karena bisnis, karena jika ingin mendaki saya  tidak ke sana, saya menantang lagi kemampuan saya di Meru…”


Lahirnya syndrome anti – Everest

Istilah syndrome anti – everest ini sebenarnya lahir dari ucapan John Krakauer saat ikut berpartisipasi dalam pembuatan film Meru besutan Jimmy Chin

Dalam majalah Alpinis Magazine kalau saya tidak salah ingat, Jimmy Chin pernah ditanya ;

“ ..Manurut anda sebenarnya apa maksud dari istilah anti – everest ini, John Krakauer mengatakan hal itu dalam film anda ..?”

Jimmy Chin adalah sosok yang pandai dan bijak, ia menjawab hal tersebut sembari balik bertanya ;

“.. Untuk menjawab pertanyaan ini, kita juga perlu bertanya, pernahkah anda mendaki Everest..? dan saya sudah mendaki gunung ini dalam empat atau lima kesempatan, dan mencapai puncaknya sebanyak dua kali. Tentu orang orang yang memiliki jiwa explore sejati seperti Conrad, mendiang Dean Potter, Krakauer, dan yang lainnya, tidak dapat menyebut ini sebuah tantangan yang menantang lagi..”

“.. Jadi apa maksudnya..?”

“.. Anti–everest menurut saya menjadi sebuah istilah yang dapat digunakan sebagai ungkapan kekecewaan pada kondisi Everest saat ini sekaligus juga menjadi ungkapan model petualangan dalam dunia mountaineering yang masih memuja tingkat kesulitan dan tantangan…”

“.. Seperti yang anda, Conrad, dan Renan lakukan di Meru…? “

“.. John Krakauer menganggapnya demikian…”

Penuh sesak di jalur Everest, beberapa orang menganggap ini sebagai sebuah momok

 
Benih kekecewaan

Sebelum saya sempat membaca tentang istilah syndrome anti-everest ini, saya juga sempat membaca sebuah expedisi yang dilakukan oleh Renan Osturk, Emily Harrington dan beberapa teman mereka yang lainnya, Ekspedisi ini bertujuan untuk mendaki puncak Hkakabo Razi yang  merupakan puncak tertinggi Asia Tenggara.

Tentang Expedisi Hkakabo Razi ini sahabat bisa membacanya dalam tulisan saya sebelumnya di sini : Puncak tak terkalahkan dan pertarungan pendaki gunung gaya lama.

Dalam tulisan Renan Osturk untuk majalah National Geographic ini ia sempat menyinggung kondisi Everest saat ini yang tampaknya memang menyemai benih kekecewaan pada sebagian orang, termasuk orang orang seperti Renan.

Dengan banyaknya pengunjung yang membludak, panjang antrian di jalur yang melewati batas kewajaran, mendaki puncak tertinggi menjadi tidak begitu menarik lagi. 

Orang orang yang menganggap Everest sebagai rumah mereka merasa terganggu, ketenangan dan keheningan gigir Himalaya seakan mengepul dalam kebisingan dan hiruk pikuk, mereka tidak lagi merasa nyaman untuk tinggal di sana.

Sebenarnya saya juga tidak merasa nyaman menulis semacam ini, saya bukan orang berpengalaman dalam hal ini, saya bahkan belum pernah melihat Everest secara langsung. Namun Allhamdulillah saya banyak membaca berbagai sumber berita, dan tentang gunung merupakan sebuah informasi yang menarik bagi saya. 

Tentu saya tidak ingin dicap sok tahu dengan menulis seperti ini, pengalaman dan pengetahuan saya masih jauh sekali, saya baru mulai belajar berkenalan dengan gunung mulai tahun 2000, ketika legenda legenda kita seperti Norman Edwin, Didiek Syamsu, Soe Hok Gie, dll telah mencetak segunung prestasi dalam petualangan mereka. 

Namun berbagi, sekecil apa pun itu, menjadi sesuatu yang menyenangkan dan membahagiakan,  berbagi sedikit apa yang kita ketahui kepada orang lain tanpa bermaksud menggurui adalah sesuatu yang layak untuk dilakukan.

Jadi jika ada sahabat pembaca yang menilai penulis blog ini sok tahu, maka saya sunggu memohon maaf.


Kehilangan rumah karena kebanyakan tamu

Sebagai seorang yang juga suka mendaki gunung, mungkin saya adalah orang yang menggangap gunung sebagai suatu tempat yang sakral, yang damai, dan yang ikut memberi dampak positif khususnya dalam hal spiritulitas, yang mesti dijaga, dan juga harus dipelihara dengan sepenuh hati. 

Jadi kekecewaan seperti yang dirasakan oleh Reinhold Messner, Renan Osturk, Conrad Anker, Jimmy Chin, dan yang lainya karena merasa kehilangan Everest, juga sebenarnya bisa dirasakan oleh kita kita yang mungkin merasa kehilangan Semeru, kehilangan Rinjani, kehilangan Merapi, Kehilangan Kerinci, Sumbing, Sindoro, Slamet, Gede Pangrango dan kehilangan puncak puncak lainnya.

Kita tidak bisa menemukan lagi kedamaian saat mendakinya, kita tidak dapat menemukan lagi ketenangan saat menziarahinya, dan hal itu tentu membuat sebagian orang yang menganggap gunung sebagai sesuatu yang saya sebut rumah, akan merasakan kekecewaan.

Ketika puncak gunung telah penuh dipenuhi oleh para pendaki, ketenangan mungkin hanya sekedar mimpi


Jadi apa yang bisa kita lakukan untuk melawan arus ini…?

Tidak ada, tidak ada yang bisa kita lakukan. Meskipun kita menganggap gunung sebagai rumah, namun itu bukan jenis kata yang memiliki arti kata sebenarnya, yang didukung dengan sertifikat hak milik, sehingga kita bisa membatasi siapa saja yang boleh memasuki rumah tersebut.

Gunung dan alam raya adalah milik Allah SWT, semua orang merasa boleh melakukan apa pun padanya, bahkan oleh orang orang yang tidak mengenal Pemiliknya sekalipun. 

Tidak semua orang menyadari, bahwa semua perbuatan akan selalu ada konsekuensinya, akan selalu ada permintaan pertanggung jawabannya, bahkan, meskipun perbuatan itu dilakukan pada sebuah gunung. 

Jadi siapa pun kita, semoga kita hanya melakukan hal hal yang baik dan mulia saat mengunjungi dan mendaki gunung.


Salam.





2 comments:

  1. Mungkin klo di jawa ada istilah anti mahameru klo di lombok ada anti rinjani bukan bermaksud mengintimidasi tpi ya itu sebuah rasa kekecewaan

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mungkin mas Michail ya..

      Terimakasih notenya mas

      Delete

Tulisan Terbaru

PEMUNCAKAN DAN TRAGEDI DI GUNUNG PALING SULIT DI DUNIA

Gunung K2 yang merupakan gunung tertinggi ke-2 di dunia dan merupakan satu-satunya gunung 8.000 meter yang belum tersentuh puncaknya pa...