Sunday, 22 May 2016

MENGHILANG DAN KEMATIAN, CERITA USANG DARI PUNCAK GUNUNG





Belum hilang gaung cerita tentang musibah yang terjadi di gunung Rinjani, kini ditambah lagi dengan kabar tidak menyenangkan yang datang dari gunung Semeru.

Jika di Rinjani beberapa waktu yang lalu kabar duka berhembus karena meninggalnya salah satu pendaki perempuan yang berasal dari kota Sumatera Selatan, maka kali ini kota Cirebon yang ikut dibicarakan di gunung Semeru. 

Dua orang pendaki dari kota Cirebon sejak kemarin, 21 Mei 2016 dikabarkan menghilang di sekitar puncak gunung Semeru. Dua orang yang dinyatakan hilang tersebut adalah Supriadi ( 26 tahun ) dan Zirli Gita Ayu Safitri ( 16 tahun ). Mereka mendaki gunung Semeru bersama ke empat temannya yang lain, yaitu Sukron yang bertindak sebagai leader, Achmad Khairudin, Lindianasari, dan Rizatul Rizki.

Dalam kronologi kejadian yang sempat saya baca dibeberapa media online, dituliskan bahwa keenam teman pendaki kita ini mencoba meraih puncak Semeru pada tanggal 19 Mei kemarin. Dua orang diantara mereka dikatakan menghentikan perjalanannya saat tiba di batas vegetasi ( mungkin yang dimaksud adalah areal dibawah Cemoro Tunggal, atau sekitaran Blank 75 diatas Pos Arcopodo ) karena alasan fisik dan kesehatan. Kemudian dua lagi menyerah di sekitaran Watugedhe ( Saya tidak begitu persis tahu lokasi yang dimaksud Watugedhe ini, namun jika medannya masih tidak berbeda saat saya mengunjungi Semeru 2010 silam, maka perkiraan saya lokasi Watugedhe adalah kurang lebih 20 menitan dari puncak Mahameru jika ditempuh dari perjalanan naik).

Kemudian hanya dua orang yang melanjutkan pendakian menuju puncak Mahameru, dan dua orang ini pulalah yang belakangan dikabarkan menghilang. 

Catatan waktu yang ditulis ketika dua orang pendaki ini melanjutkan pendakian menuju puncak adalah jam 08:00 pagi WIB. Dan informasi tambahan mengatakan jika pendakian hanya diperbolehkan hingga Kalimati saja, semua pendaki yang melakukan reservasi melalui pos pendakian Ranupane menandatangi sebuah surat pernyataan di atas materai sebagai bukti menyetujui persyaratan tersebut.

Hingga kini proses pencarian masih terus dilanjutkan, dan untuk sementara gunung Semeru ditutup guna mendukung upaya keras kinerja tim SAR lebih agar lebih fokus dan tidak terganggu oleh hiruk pikuk pengunjung gunung Semeru lainnya.


Semua bisa merasa lebih hebat

Apa yang telah terjadi dengan teman kita tersebut, kedua pendaki dari kota Cirebon itu, dan pula yang terjadi dengan pendaki yang mengalami musibah di gunung Rinjani. Tentu menuai berbagai macam komentar dari masyarakat luas, khususnya yang menaruh minat dan perhatian terhadap dunia pendakian gunung.

Sosial media terutama facebook menjadi ajang komentar yang palng viral dan beraneka ragam, dari sekedar ucapan bela sungkawa, bahkan hingga yang nyinyir dengan segala macam justifikasi dan penghakiman terhadap salah satu pihak. 

Ada yang menyalahkan pendaki yang tidak patuh aturan, ada pula yang cenderung mengkritisi kurangnya penegakan aturan ketat dalam gunung gunung konservasi kita, bahkan ada pula yang cenderung terlihat “berkhotbah”, tampak menggurui, menulis beberapa kata kata yang terlihat bijaksana namun penuh dengan narsisme dan keegoan diri sendiri semata.

Dan kita tak bisa melarang hal itu, ini sosial media, dimana setiap orang merasa memilikinya dan bebas menulis dan mengatakan apa yang mereka mau.

Harus kita akui juga bahwa pengaruh sosial media dalam ekploitasi tempat tempat wisata sungguh besar dampaknya, termasuk juga gunung gunung. Saya pernah menulis menyangkut hal ini dibeberapa postingan sebelumnya, seperti pada postingan : Penganut slogan my trip my adventure perlu belajar dari pemuda ini, atau juga postingan yang berjudul : God News and Bad News ketika demam mendaki gunung berangsur sembuh.

Ketika sebuah musibah di gunung terjadi, seseorang yang bahkan tidak tahu sama sekali tentang gunung bisa berkomentar seolah orang paling berpengalaman dalam urusan pendakian

Intinya selalu ada sisi yang berlawanan pada model perubahan gaya hidup anak muda saat ini, yang erat kaitannya dengan dampak sosial media.

Khusus untuk gunung gunung, dampak posistif dengan semakin ramainya pengunjung tentu kita berharap dapat menggairahkan denyut perekonomian masyarakat sekitar yang lokasinya mendapat animo besar dari sektor pariwitasa dan kunjungan. 

Sedangkan dampak negatif pun tentu juga ada, mulai dari terganggunya keseimbangan ekosistem, pencemaran oleh sampah para pengunjung, hingga pada hal hal yang spesifik lagi semacam lunturnya kultur dan persaudaraan dalam dunia pendakian gunung itu sendiri.


Kabanggaan dan Kehormatan serta resiko yang berimbang

“… Mendaki gunung itu memiliki kelasnya sendiri, sebuah model gaya hidup yang layak untuk diperjuangkan, jika kita mendaki dengan sukses, turun dengan selamat, disambut oleh teman teman dan sanak keluarga, tentu ini sebuah hal yang layak untuk dilakukan. Namun kan kita tau sendiri mendaki gunung tidak begitu, tidak semua orang bisa pulang dengan selamat…”

Anda masih ingat dengan kalimat itu..?

Ya itu kalimat yang diucapkan oleh John Krakauer dalam sedikit narasinya di film Meru saat menerangkan trauma yang melanda Conrad Anker setelah kematian rekan terbaiknya di Annapurna, Alex Lowe.

Begitu juga lebih kurang yang mungkin harus kita aplikasikan untuk melihat banyaknya kasus kecelakaan gunung di negeri kita Indonesia ini. Adalah sesuatu yang wajar bukan, jika semakin banyaknya pengunjung yang berusaha meraih puncak gunung, maka rasio akan tingginya resiko yang akan terjadi pun ikut meningkat..?

Kita mungkin harus pelan pelan mengurangi reaksi “ lebay” ketika memperoleh kabar seperti ini di dinding sosial media kita. Reaksi yang berupa penghakiman, menggurui, merasa diri lebih hebat ada baiknya untuk dikurangi. Sudah merupakan sebuah resiko yang harus dipersiapkan oleh setiap pendaki gunung untuk menghadapi situasi terburuk apa pun yang akan menimpanya di tempat yang ia datangi.

Dibalik itu tentu kita berharap yang terbaik, semoga kejadian kejadian semacam itu tidak berulang, yang hilang semoga segera diketemukan, dan yang meninggal semoga memperoleh ampunan. 

Namun memandang segala bentuk kejadian ini selain harus menggunakan sebuah cara pandang yang ideal, bahwa mendaki gunung adalah kegiatan berisiko tinggi, anda melakukannya artinya anda siap dengan segala resikonya. Juga di samping itu, baiknya dapat dipandang pula dari sudut keyakinan dan religius, bahwa kematian, musibah akan menjumpai seseorang di manapun saja, jika Allah telah mentakdirkannya.

Tidak perduli di gunung, di lembah, di ngarai, di lautan, di tebing, bahkan di tempat tidur sekalipun, jika takdir Allah sudah digariskan, maka hal itu pulalah yang pasti akan berlaku.


Dugaan mis-oriented dan kamera teknologi tinggi

Kembali sedikit ke kasus yang terjadi dengan kedua teman pendaki dari Cirebon yang hilang di gunung Semeru tadi, secara pribadi jika boleh berpendapat, saya menduga kemungkinan besar kedua pendaki mengalami mis – oriented ( saya nggak tahu istilahnya benar atau tidak ). Yang pasti itu semacam kehilangan kemampuan untuk mengenali medan, saya berpendapat begini karena saya pernah mengalaminya, dan itu juga di puncak Mahameru.

Saat itu saya tiba lebih dulu di puncak Mahameru, mendahului tiga rekan saya yang lain yang tiba 15 – 30 menit kemudian. Waktu saat itu sekitar jam 04 : 30 pagi, dataran Mahameru masih temaram dalam semburat fajar.

Karena terlampau gembira tiba dipuncak saya melangkah saja terus ke arah bendera tidak jauh dari papan nama Soe Hok Gie, tanpa menghiraukan keadaan sekeliling.

Kemudian ketika menunggu rekan yang lain terasa begitu lama sampai ke puncak, saya memutuskan untuk melihat mereka ke arah jalur pendakian. 

Namun tahukah apa yang terjadi..? saya lupa darimana saya masuk sebelumnya, semua terlihat sama dalam temaram cahaya yang masih pekat dan dingin pagi itu.

Hal itu terjadi lantaran euphoria yang membuat saya lupa memperhatikan jalan masuk saya, untungnya lah tidak berapa lama kemudian ketiga rekan saya pun tiba juga di puncak, dan Allhamdulillah lagi, sebelum meninggalkan areal Cemoro Tunggal, leader kami, mas Theo menyarankan untuk membuat semacam penanda di jalur, kemudian dilepaskan rain cover  tas berwarna merah menyala kemudian diikat diatas sebuah tongkat kayu di tepi jalur pendakian.

Dan Allhamdulillah lagi, saya membawa binocular saat summit, jadi ketika tim kami turun mendahului rombongan yang lainnya, penglihatan dari binocular membantu memastikan bahwa kami meniti arah yang benar dengan melihat sebuah titik merah kecil dijalur yang kami lewat sebelumnya.

Saya kira mungkin itu pula yang terjadi dengan teman kita tersebut, mereka lupa jalan masuk ke puncak, dan kemudian turun melalui jalan yang lain, yang mereka pikir jalan mereka sebelumnya, karena bentuknya yang sama. 

Sekali lagi itu hanya dugaan saya, bisa saja sangat salah dan keliru, untuk itu saya mohon maaf.


***

Menjadi gunung dan menerima reward di puncak tentu menyenangkan, karena itulah resiko yang menyertainya pun berimbang

Saya ingin menutup postingan kita kali ini dengan kembali mengingatkan bahwa mendaki adalah sebuah olahraga dan gaya hidup dengan resiko tinggi, namun juga sesuatu yang layak untuk diperjuangkan. Melakukannya juga berarti bersiap dengan segala kemungkinan yang akan terjadi. 

Mendaki gunung tidak menjadi cukup jika hanya bermodalkan uang dan kamera teknologi tinggi saja, yang kemudian menambah deretan kebanggaan dengan memposting foto kita disosial media, kita juga butuh dibekali kemampuan, pengetahuan dan rasa hormat kepada gunung itu sendiri.

Sekali lagi kita sebaiknya bertindak bijaksana dan arif saat menyikapi sebuah musibah yang terjadi di gunung, baik itu hilang, terjatuh, atau pun kematian. Kita dituntut untuk pandai dalam menentukan respon, tidak berlebihan, sekaligus juga tidak dengan meremehkannya.

Dari puncak puncak yang kita miliki seperti Semeru, Rinjani, Merapi, Kerinci, Latimojong, hingga Cartenz Pyramid, sudah puluhan nyawa yang telah berakhir di sana. Lebih lebih lagi jika kita mau melihat ke gunung yang lebih serius seperti K2, Everest, Matterhorn, Shisapangma,  Nangaparbat, Eiger, hingga pegunungan Alpen lainnya, maka sudah tak terhitung berapa banyak nyawa melayang dalam usaha mencapai puncaknya.

Pendek kata, cerita kematian dan musibah di gunung adalah sebuah cerita klasik, cerita lama, juga cerita usang, dan kita sungguh diharapkan untuk dapat bijaksana dalam menyikapinya…



Salam.




6 comments:

  1. terus brkarya untuk negri ini mas #salamlestari

    ReplyDelete
  2. Wow...benar2 menginspirasi dan benar2 mengingatkan kita salah satu esensi dasar mendaki ..A great work of journalists. Best Regards

    ReplyDelete
  3. Salam kenal mas... postinganya keren
    . Visit http://bna-backpack.blogspot.com

    ReplyDelete

Tulisan Terbaru

PEMUNCAKAN DAN TRAGEDI DI GUNUNG PALING SULIT DI DUNIA

Gunung K2 yang merupakan gunung tertinggi ke-2 di dunia dan merupakan satu-satunya gunung 8.000 meter yang belum tersentuh puncaknya pa...